BERGERAK ATAU MATI

Pernah merasa termenung seorang diri dengan pikiran melayang kemana-mana tanpa melakukan pekerjaan apapun? Terasa dunia begitu hampa dan sunyi, kemudian pikiran melayang pada bayang-bayang masa lalu yang kelam, terlintas pula gambaran masa depan yang terasa sulit dan belum pasti, sehingga diri begitu tenggelam dalam kesedihan dan rasa ketidakberdayaan? Berhati-hatilah, mungkin pada saat itu virus bernama “kematian” tengah melanda Anda. Kematian dari keproduktivitasan Anda. Orang yang hanya diam tanpa produktivitas sama halnya seperti mayat hidup.

Mengapa kita harus bergerak?

Ada sebuah cerita, seorang pendaki gunung sedang terperangkap dalam badai salju, ia terpisah dari rombongannya, sementara cuaca semakin tidak bersahabat. Ia merasakan tamparan udara dingin makin menyesakkan dadanya, kakinya dan badannya mulai merasa beku, dan ia merasa tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan hingga puncak gunung guna menyusul kawan-kawannya.  Pada saat itu, ia merasa putus asa dan tidak ingin bergerak, rasanya ia hanya bisa diam untuk menunggu ajal menjemputnya. Namun, saat itu logikanya masih dapat berjalan, badannya mungkin memintanya untuk menyerah tetapi semangatnya menggerakannya untuk tetap berjalan. Ia menyadari ia akan mati jika ia tidak bergerak, dengan bergerak ia dapat menjaga suhu tubuhnya terjaga, paling tidak sampai ia dapat menemukan teman-temannya. Sekitar 2 jam berjalan, ia ditemukan oleh tim SAR dan dapat segera diselamatkan.

Apa yang bisa dimaknai dari cerita di atas? Ya, bergerak, untuk bertahan hidup.

Bergerak merupakan simbol kehidupan. Namun, terkadang kita lupa untuk bergerak. Dalam sehari, kadang waktu terbuang percuma karena lamunan dan pekerjaan sia-sia  (terutama di saat-saat lenggang, waktu luang, dan liburan).  Ketika kita termenung dan pikiran kosong, saat itulah setan menari-nari dalam kepala kita, membisikan pikiran negatif pada telinga kita. Sehingga yang ada adalah perasaan sedih dan hari akan berlalu dengan percuma.

Aidh Al-Qarni dalam bukunya La Tahzan bertutur mengenai kesia-sian dalam menghadapi hari. Jika datang pagi, maka janganlah menunggu tibanya sore. Anda hidup pada hari ini, bukan hari kemarin yang berlalu dengan segala kebaikan dan kejelekannya, dan bukan pula hari esok yang belum tentu datang. Hari ini dengan mataharinya yang menyinari Anda, adalah hari Anda. Bayangkan umur Anda hanya sehari, karena itu anggaplah rentang kehidupan Anda adalah hari ini juga, seakan-akan Anda dilahirkan pada hari ini dan akan mati pada hari ini juga. Saat itulah Anda hidup!

Jangan terikat pada gumpalan masa lalu dengan segala keresahannya. Jangan pula terikat pada ketidakpastian yang belum terjadi. Hanya untuk hari ini sajalah Anda mencurahkan perhatian, kepedulian, dan kerja keras. Seperti layaknya pepatah yang mengatakan beribadahlah layaknya engkau hanya hidup hari ini dan menuntut ilmulah layaknya engkau hidup selamanya. Kedua tindakan tersebut menyiratkan suatu pergerakan tiada henti.

Memang mungkin mengawali suatu gerakan memang dapat menjadi sesuatu yang sulit. Akan tetapi coba kita melangkah walaupun hanya satu langkah. Langkah kecil inilah yang nanti akan menuntun kita kedalam suatu perubahan. Janganlah kita tidak terjebak dalam kehidupan yang datar atau statis. Teruslah melangkah dan bergerak. Demi hidup! Dan demi perubahan yang lebih baik!

 

 

Perubahan

Orang bijak bilang “Tidak ada yang abadi di dunia kecuali perubahan itu sendiri”. Memang benar, dunia ini selalu dinamis dengan segala perubahan-perubahannya. Ironisnya, justru tidak banyak orang yang suka akan perubahan, perubahan dipandang sebagai sesuatu yang menyulitkan dan kebanyakan orang tidak tahu bagaimana cara menghadapinya.

Ada yang berkata, “Kita menolak perubahan karena kita takut berubah” atau, “Kita tidak ingin berubah saat terjadi perubahan”.

Sama halnya seperti kita yang selalu mengalami perubahan tiap waktunya namun tidak siap untuk menghadapinya. Saat baru memasuki dunia SMA, kita cemas menghadapi lingkungan yang sudah beranjak dewasa, dimana kita dihadapkan untuk menentukan pilihan kita sendiri. Saat memasuki dunia perkuliahan, kita gugup menghadapi perubahan kebebasan sebagai mahasiswa yang tidak selalu dituntun oleh dosen dan kita dituntut untuk mandiri. Setelah lulus kuliah, lebih banyak lagi tantangan yang dihadapi, apakah itu dalam dunia kerja, melanjutkan pendidikan, maupun dalam pernikahan. Semuanya adalah perubahan yang selalu terjadi, suka ataupun tidak.

Berikut ilustrasi menarik tentang perubahan:

Suatu hari profesor bijak mengajak para mahasiswanya untuk mengamati suatu proses alami, yaitu proses metamorfosis seekor ulat dalam kepompong menjadi seekor kupu-kupu. Pada saat mengamati proses metamorfosis, mereka menyaksikan bagaimana sang ulat berjuang antara hidup dan mati melalui sebuah lubang jarum agar bisa keluar dari kepompongnya.

Menyaksikan perjuangan dan penderitaan sang ulat, para mahasiswa merasa kasihan dan meminta salah seorang rekan mereka untuk membantu sang ulat keluar dari kepompongnya. Mahasiswa tersebut kemudian mengambil gunting operasi dan menggunting sedikit lubang tersebut agar mempermudah jalan bagi sang ulat.

Namun apa yang terjadi ketika ulat tersebut akhirnya berhasil keluar dari kepompongnya? Dia menjadi seekor kupu-kupu yang aneh dengan sayap yang seperti sayap lebah dan tubuhnya besar serta lemas-lalu akhirnya mati.

Hikmahnya adalah untuk menjadi kupu-kupu yang indah, ternyata sang ulat harus keluar melewati lubang jarum pada kepompongnya melalui penderitaan dan perjuangan. Dengan demikian, seluruh cairan tubuhnya dapat diperas dan tubuhnya dapat dibentuk menjadi kupu-kupu yang indah.

Sama seperti kupu-kupu tersebut, kita sebagai manusia juga harus melewati proses perjuangan dan penderitaan untuk menjadi lebih baik. Namun, banyak di antara kita yang tidak menyadarinya. Proses perjuangan inilah yang dapat membentuk kepribadian kita, mendewasakan kita, dan membuat kita semakin tegar dalam menghadapi kehidupan.

Menghadapi Perubahan

Ada satu buku menarik mengenai perubahan yang mungkin sudah tidak asing bagi kita. Buku tersebut berjudul Who Moved My Cheese? karya Spencer Johnson. Dalam buku ini diangkat sebuah perumpamaan sederhana mengungkap kebenaran tentang perubahan. Buku ini menceritakan kisah karakter dan sikap empat tokoh dalam menghadapi perubahan. Keempat tokoh tersebut adalah dua ekor tikus bernama “Sniff” dan “Scurry”, serta dua kurcaci bernama “Hem” dan “Haw”. Keempat tokoh tersebut hidup dalam “Labirin” dan mencari “Cheese” untuk mempertahankan hidup dan membuat hidup mereka bahagia. “Labirin” merupakan perumpamaan sebagai tempat dimana kita mencari apa yang kita inginkan. Ini dapat berupa -perusahaan dimana kita bekerja, keluarga, masyarakat di sekitar kita, dan lain-lain. Sedangkan “Cheese” melambangkan hal-hal yang kita inginkan dalam hidup-pekerjaan yang baik, hubungan yang harmonis, kekayaan, kesehatan, maupun ketenangan batin.

Dikisahkan keempat tokoh tersebut menghadapi “perubahan” yang tidak terduga sebelumnya, yaitu hilangnya “Cheese” di stasiun Cheese mereka. “Perubahan” disini menggambarkan krisis kehidupan yang terjadi seperti kehilangan pekerjaan, perceraian, kematian keluarga yang kita cintai, permasalahan kesehatan, dan sebagainya. Dalam kisah ini, “Sniff” dan “Scurry” mampu mengatasi kehilangan “Cheese” dengan sikap positif. Mereka tidak heran akan perubahan yang terjadi karena mereka sudah mempersiapkan diri akan kehilangan “Cheese”. “Sniff” dapat mencium perubahan dengan cepat, sedangkan “Scurry” segera bergegas mengambil tindakan.

Sedangkan kedua kurcaci bertindak sebaliknya,. mereka sibuk menganalisis mengapa “Cheese” mereka hilang, mengomel, dan teremenung-menung. “Hem” menolak dan mengingkari adanya perubahan karena takut perubahan akan mendatangkan sesuatu yang buruk, sedangkan “Haw” baru mulai beradaptasi saat melihat perubahan mendatangkan sesuatu yang lebih baik. Dengan bergerak ke arah yang baru, dia akan menemukan “Cheese” baru.
Keempat karakter tersebut dapat dianalogikan dengan diri kita. Karakter manakah yang merupakan diri kita saat menghadapi perubahan? Diri sendirilah yang tau jawabannya.

Aribowo Prijosaksono dalam bukunya Create Your Own Cheese malah mengatakan kita bisa lebih dari sekedar menyiasati perubahan untuk kemudian menikmati perubahan tersebut, kita bahkan memiliki kemampuan untuk menciptakan realitas baru seperti yang kita inginkan dari setiap episode perubahan. Bagaimana caranya? Salah satunya adalah dengan mengatasi ketakutan. Ketika kita mengalami krisis atau perubahan, satu hal yang kita takutkan adalah ketidakpastian. Namun, yang pasti adalah kita tidak akan keluar dari krisis jika kita tetap diam. Maka kita harus tetap bergerak. Ketika mulai melangkah, kita harus yakin bahwa ada harapan di depan sana. Jika kita sudah tidak punya pengharapan dan akhirnya tidak melakukan apa-apa, sama artinya kita sudah mati. Sama seperti tokoh “Hem”, ia terlalu takut untuk bergerak dan selalu memikirkan kesulitan apa yang terjadi jika ia keluar untuk bergerak, akhirnya ia bisa “mati kelaparan”.

Maka, kita bisa memilih jalan kita sendiri jika perubahan menghampiri kita. Tetap diam sampai kehancuran datang pada kita atau terus bergerak untuk mengatasinya dan menjadikan perubahan tersebut batu loncatan untuk menjadi lebih baik? Bagaimanapun perubahan adalah kesempatan kita untuk tumbuh dan menjadi manusia seutuhnya.

“Orang sukses adalah orang-orang yang dapat membangun fondasi dari batu-batu yang dilemparkan oleh orang lain kepadanya” (David Brinkley, jurnalis senior dan komentator televisi di Amerika Serikat).

Iklan
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: