Individu Sebagai Insan Tuhan Yang Maha Esa

Individu Sebagai Insan Tuhan Yang Maha Esa

 

Dalam pembahasan tentang materi individu sebagai insan Tuhan Yang Maha Esa, difokuskankepada individu sebagai warga negara yang menganut agama. Setiap ajaran agama menuntutuntuk berperilaku baik yang diaplikasikan dalam kehidupan secara horizontal, disamping mengabdidalam bentuk ibadat ritual vertikal sesuai dengan keyakinannya.Masing-masing agama memiliki kewajiban ibadat yang ritual yang bersifat vertikal yaitu untukmengabdi kepada Tuhan sebagai pencipta misalnya umat islam melaksanakan ibadat ritualnya diMesjid, umat katolik dan protestan beribadat di Gereja, umat Hindu beribadat di Kelenteng danumat Budha beribadat  di Pura. Ketika umat Hindu melaksanakan kewajiban ibadatnya  diKelenteng, tentu umat beragama yang lainnya harus bersikap toleran dan menghormatinya. Jikasikap ini dimiliki oleh setiap umat beragama, tentu kehidupan rukun antar umat beragama akanterjalin.

Agama Islam mengajar bahwa belum sempurna iman seseorang, kalau kasih sayang kepada orangbelum sama dengan kasih sayang kepada dirinya. Bahkan agama Islam mengajarkan salah satuciri orang yang beriman adalah orang itu mencintai negaranya.Agama  Kristen  Katholik  mengajarkan  bahwa  tujuan  Tuhan  menciptakan  manusia  untukkebahagiaan manusia, dosa menhancurkan kebahagiaan manusia, dan Yesus Kristus pembebasmanusia dari dosa.Dalam agama Hindu dikenal dengan ajaran yang tersirat dalam Sloka Moksartham jagat hitaca itidharma artinya tujuan agama (dharma) ialah tercapainya kesejahteraan dunia (jagat hita) dankebahagiaan spritual (moksa). Selanjutnya dirinci menjadi empat yaitun yang disebut CaturPurusa Artha yaitu empat tujuan hidup manusia yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa.Dalam agama Budha dikenal dengan ajaran Catur Paramita yaitu empat sifat luhur di dalam hatinurani manusia yaitu, Metta atau Maitri, Karuna, Mudita, dan Upekha.Kelangsungan kegiatan keagamaan dijamin oleh perundang-undangan seperti pada Pembukaandan batang tubuh UUD 1945, dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana serta pada perundang-undangan yang lainnya.

 

Individu Sebagai Makhluk Sosial

 

Tuhan menciptakan manusia tidak secara langsung, akan tetapi melalui proses jalinan cinta kasihdua orang manusia yaitu Ibu dan Ayah, maka lahirlah seorang anak manusia. Hanya denganpertolongan dan jasa pemeliharaan orang tua, kita menjadi besar dan hingga menjadi dewasasekarang ini. Dari proses itu kita dapat mengatakan bahwa manusia dengan ketidak berdayaanketika lahir, hingga sekarang menjadi dewasa secara naluriah manusia tidak dapat hidupmenyendiri, sehingga memerlukan bantuan orang lain.Sehingga dapat dikatakan bahwa berkeluarga merupakan kebutuhan manusia, dalam hal iniesensinya manusia memerlukan orang lain atau berkelompok. Untuk menjalin hubungan satusama lain memerlukan aktivitas komunikasi. Karena kecenderungan manusia berkeinginan untukhidup serasi sebagai timbal balik satu sama lain karena manusia mempunyai dua hasrat yaituberkeinginan untuk menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya, dan berkeinginan untukmenjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya, (Soerjono Soekanto, 1990).Menurut Soerjono Soekanto untuk dapat menghadapi dan menyesuaikan diri dengan kedualingkungan tersebut di atas, manusia mempergunakan pikiran, perasaan dan kehendaknya. Dalammenghadapi alam sekelilingnya seperti udara yang dingin, alam yang kejam, maka manusiamembuat rumah, dan pakaian. Manusia harus makan agar badannya tetap sehat, merekamengambil makanan sebagai hasil alam sekitarnya. Dengan menggunakan akalnya. Dari dampakkondisi dan situasi lingkungan alam, merupakan faktor motivasi untuk bekerjasama dengan oranglain. Secara modern dorongan tersebut menimbulkan kelompok sosial dalam kehidupan manusiaini, karena manusia tak mungkin hidup sendiri. Kelompok sosial tersebut merupakan himpunanatau  kesatuan  manusia  yang  hidup  bersama.  Dalam  kehidupan  berkelompok  dan  dalamhubungannya dengan manusia yang lain, pada dasarnya setiap manusia menginginkan beberapanilai. Harold Lasswell memerinci ada delapan nilai yang terdapat dalam masyarakat yaitu:a. kekuasaanb. pendidikan/penerangan (enlightenment)c. kekayaan (wealth)d. kesehatan (well-being)e. keterampilan (skill)f. kasih sayang (affection)g. kejujuran (rectitude) dan keadilan (rechtschapenheid)h. keseganan, respek (respect).Dengan adanya nilai-nilai ini, dan manusia menginginkan untuk terpenuhinya kebutuhan tersebut,maka manusia (individu) menjadi anggota dalam beberapa kelompok. Sehingga masyarakatlah   yang mencakup semua hubungan dan dalam kelompok di dalam sesuatu wilayah. Apa yangdisebut dengan masyarakat? Menurut Robert Mac Iver adalah Society means a system of orderedrelations, maksudnya adalah suatu sistem hubungan-hubungan yang ditertibkan.Sedangkan menurut Harold J. Laski, A society is a group of human beings living together anf working together for the satisfaction of their mutual wants. Maksudnya, masyarakat adalahsekelompok  manusia  yang  hidup  bersama  dan  bekerjasama  untuk  mencapai  terkabulnyakeinginan-keinginan mereka bersama. Maksud dari definisi ini, bahwa jika manusia dibiarkanmengejar kepentingan masing-masing dan bersaing tanpa batas, maka akan timbul keadaan yangpenuh  pertentangan  yang  dapat  merugikan  masyarakat  secara  keseluruhan.  Dalam  hidupkerjasama sebetulnya terdapat nilai atau norma yang perlu disepakati secara kolektif, yangberfungsi untuk menghindarkan terjadinya pertentangan yang tidak saling menguntungkan. Dalamkehidupan bermasyarakat ada beberapa norma yang perlu ditaati yaitu norma agama, kesusilaan,kesopanan, dan hukum. Bangsa Indonesia yang terkenal dengan kemajemukannya baik sukubangsa, suku bahasa, budaya dan agama. Dalam kondisi seperti ini diperlukan nation characterbuilding agar perbedaan itu bukan merupakan faktor pemisah, akan tetapi merupakan kekayaanbangsa serta serta dipupuk rasa kebersamaan dan persatuan yang semakin kokoh.

 

Individu Sebagai Warga Negara Indonesia

 

Ada beberapa pengertian negara, pertama, negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayahyang mempunyai kekuasaan tertinggi yang sah dan yang ditaati oleh rakyatnya. Kedua, negaraadalah alat (agency) atau wewenang (authority) yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan bersama, atas nama masyarakat. Ketiga, negara adalah suatu masyarakat yangdiintegrasikan karena mempunyai wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebihagung daripada individu atau kelompok yang merupakan bagian dari masyarakat itu. Keempat,negara adalah suatu masyarakat yang mempunyai monopoli dalam penggunaan kekerasan fisiksecara  sah dalam  suatu  wilayah. Kelima, negara  adalah  asosiasi yang menyelenggarakanpenertiban di dalam suatu masyarakat dalam suatu wilayah dengan berdasarkan sistem hukumyang diselenggarakan oleh suatu pemerintah yang untuk maksud tersebut diberi kekuasaanmemaksa.UUD’45 yang berhubungan dengan hak dan kewajiban warga negara adalah pasal 26, 27, 28, 29,30, 31 dan 34.Menurut Cogan, (1998), mengelompokkan warga negara kedalam 5 kategori, yaitu: a sense of identify, the enjoyment of certain rights, the fulfilment of corresponding obligations, a degree of interest and involvement in public affairs, and an acceptance of basic societal values. Maksudnyaadalah warga negara harus memiliki identitas atau jati diri, warga negara memiliki hak-haktertentu, warga negara memiliki kewajiban-kewajiban yang menjadi keharusan, sehingga selalumenjaga keseimbangan antara kepentingan privat dengan kepentingan publik serta memiliki sikaptanggung  jawab,  warga  negara  memiliki  sikap  tanggung  jawab  untuk  berpartisipasi  demikepentingan umum, sehingga merasa terpanggil untuk ikutserta dalam kegiatan-kegiatan yangbersifat  kepentingan  umum,  warga  negara  memiliki  sikap  menerima  nilai-nilai  dasarkemasyarakatan, sehingga mampu menjalin dan membina kerjasama, kejujuran dan kedamaianserta rasa cinta dan kebersamaan.Dalam menghadapi kehidupan abad 21, warga negara perlu memiliki karakteristik, keterampilandan kompetensi tertentu agar dapat mengahadapi dan mengatasi kecenderungan yang tidakdiinginkan serta dapat menumbuh kembangkan kecenderungan-kecenderungan yang diinginkan.Cogan (1998) mengidentifikasi 8 karakteristik yang perlu dimiliki warga negara yaitu sebagaiberikut: ability to look at and approach problems as a member of a global society, ability to workwith others in a cooperative way and to take responsibility for one’s roles/duties within society,ability to understandi, accept, and tolerance cultural differences, capacity ti think in a critical andsystematic way, willingness to resolve conflict in a non-violent manner, willingness to change one’slifestyle and consumption habits to protect the environment, ability to be sensitive towards and todefend human rights (eg., rights of women, ethnic minorities, etc), willingness and ability toparticipate in politics at local, national, and internasional levels. Maksudnya adalah agar warganegara memiliki kemampuan: Pertama, mendekati masalah atau tantangan sebagai anggotamasyarakat global. Kedua, memiliki kehendak dan kemampuan untuk bekerjasama dengan oranglain dan memikul tanggung jawab atas peran dan kewajibannya dalam masyarakat. Ketiga, mampu memahami, menerima dan toleran terhadap perbedaan budaya. Keempat, mampu berpikirkritis dan sistimatis. Kelima, mampu untuk menyelesaikan konflik tanpa kekerasan. Keenam, pekaterhadap  hak azasi manusia. Ketujuh, mampu untuk merubah gaya hidup dan kebiasaankonsumtif guna melindungi lingkungan. Kedelapan, berpatisipasi dalam politik pada tingkat lokal,nasional dan internasional.

Pembelajaran Individu Sebagai Insan Tuhan, Makhluk Sosial dan Warga NegaraIndonesia

Paradigma  baru  pendidikan  kewarganegaraan  yaitu:  rekonseptuaisasi  jati  diri  pendidikankewarganegaraan atas dasar kajian teoritik dan empirik, perumusan asumsi programatik tentang:masyarakat madani Indonesia, warga negara Indonesia, pendidikan untuk warganegara, dantantangan masa depan Indonesia, Perumusan kompetensi kewarganegaraan Indonesia atas dasarasumsi  programatik,  Pengembangan  paradigma  baru  pendidikan  kewarganegaraan  dalammasyarakat-bangsa dan negara Indonesia, Pengidentifikasian sarana pendukung yang diperlukanuntuk mewujudkan paradigma baru pendidikan kewarganegaraan.Dalam pembelajaran materi individu sebagai Insan Tuhan, Makhluk Sosial dan Warga negara,tentunya tidak bisa lepas dari strategi, metode, media dan evaluasi. Salah satu pembaharuandalam PPKn 1999/PKn baru ialah strategi pembelajarannya siswa tidak hanya mempelajari materipelajaran, tetapi mempelajari materi dan sekaligus praktek, berlatih dan mampu membakukan diribersikap dan berperilaku sebagai materi yang dipelajari. Kosasih Djahiri (1999) memberikanpenjelasan dalam sebuah seminar CICED (Center for Indonesian Civic Education) bahwa strategiyang harus digelar guru hendaknya sebagai berikut: membina dan menciptakan keteladan, baikfisik dan materiil (tata dan asesoris kelas/sekolah), kondisional (suasana proses KBM) maupunpersonal  (guru,  pimpinan  sekolah  dan  tokoh  unggulan),  membiasakan/membakukan  ataumempraktekan apa yang diajarkan mulai di kelas-sekolah-rumah dan lingkungan belajar, danmemotivasi minat/gairah untuk terlibat dalam proses belajar, untuk kaji lanjutan dan mencobakanserta membiasakannya.Ketiga strategi di atas dapat dioperasionalkan melalui berbagai metoda yang sering digunakanoleh guru dalam ceramah bervariasi tanya jawab, diskusi, problem solving, percontohan, permainperan, VCT, kerja lapangan, karya wisata, observasi reportasi dan dramatisasi.Pendekatan yang perlu diterapkan agar mencapai sasaran, maka kelas PKn dan sekolah harusdijadikan sebagai laboratorium masyarakat, bangsa dan negara. Tentu dalam proses pembelajaranmemerlukan media, fungsinya adalah untuk memberi kemudahan kepada siswa dalam memahamimateri yang diajarkan. Yang dimaksud dengan media, Kosasih Djahiri (1999) mengatakan adalahsesuatu yang bersifat materiil-imateriil ataupun behavioral atau personal yang dijadikan wahanakemudahan, kelancaran serta keberhasilan proses hasil belajar. MacLuhan menyatakan bahwa Themedium is the message yaitu media mewakili isi pesannya. Jika demikian berarti guru PKn adalahsalah  satu  media  pembelajaran  harus  menampilkan  figur  sebagaimana  pesan  PendidikanKewarganegaraan. Artinya dia harus menjadi igur teladan bagi siswanya yaitu sebagai warganegara yang baik, jujur, demokratis, taat beragama dan sebagainya. Media dalam PKn yaitu: yangbersifat materiil, misalnya, buku, model pakaian, bendera, lambang, Yang bersifat imateriil,misalnya contoh kasus, ceritera, legenda, budaya, Yang bersifat kondisional, misalnya suasanasimulasi yang diciptakan sebelum atau pada saat Proses belajar berlangsung di kelas atau ditempat kejadian, Yang bersifat personal , misalnya nama atau foto atau gambar tokoh masyarakatatau pahlawan, gambar atau foto atau nama presiden, raja.Dalam proses pembelajaran biasanya akan diakhiri dengan evaluasi. Bagaimana evaluasi dalampembelajaran pendidikan kewarganegaraan? Mungkin sumatif kalau diakhir, pra evaluasi kalau diawal, formatif jika berada dalam proses diagnostik atau di tengah proses pembelajaran. KosasihDjahiri menganjurkan, karena evaluasi merupakan bagian dari proses belajar, maka evaluasi tidakhanya dilakukan dua kali saja (formatif dan sumatif) tetapi mestinya dilakukan pra dan sepanjangproses KBM melalui berbagai model alat serta kegiatan secara terarah-terkendali. Pola evaluasiinilah yang dinamakan evaluasi portofolio atau penilaian yang kontinyu berkesinambungan.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: