PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN  MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF DI SMPN 2 RANTAU SELAMAT

 Oleh :

ZAINUDDIN, S.Pd.

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR

DINAS PENDIDIKAN

2011

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa Laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang berjudul :

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN  MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF DI SMPN 2 RANTAU SELAMAT

  Disusun oleh :

ZAINUDDIN, S. Pd

NIP. 19700301 200012 1  003

Kepala Dinas Pendidikan

Kabupaten Aceh Timur,

 

 

AGUSSALIM, SH, MH

Pembina Utama Muda

NIP. 19630821 199101 1 001

 

KATA PENGANTAR

                   Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas materi penelitian Tindakan Sekolah pada Diklat Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah  Lembaga Penjamin di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Bangunan dan Listrik (P4TK BBL) Medan.

Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan, khususnya kualitas pengelolaan kelas sangat ditentukan oleh penguasaan kompetensi secara memadai oleh guru. Untuk meningkatkan kompetensi guru antara lain dapat ditempuh melalui peningkatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menerapkan model-model pembelajaran.

Untuk itulah, maka melalui Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah, setiap peserta wajib membuat karya ilmiah dan untuk kepala sekolah diwajibkan melakukan Penelitian Tindakan Sekolah pada saat On the Job Learning.  Untuk melaksanakan kegiatan “Penelitian Tindakan Sekolah”, maka pada pelaksanaannya Kepala Sekolah berkolaborasi dengan guru.

Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Selanjutnya penulis mohon adanya perbaikan atas laporan ini, karena penulis menyadari, bahwa dimungkinkan terdapat sejumlah kekuarangannya, semoga saja laporan penelitian Tindakan Sekolah ini mendapatkan perhatian dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak yang berkompeten.

 

 

 Penulis,

Zainuddin, S.Pd

 

ABSTRAK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU DALAM MENERAPKAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN  MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF DI SMPN 2 RANTAU SELAMAT

 

OLEH

ZAINUDDIN S.Pd

Nip. 19700301 200012 1 003

KEPALA SMP NEGERI 2 RANTAU SELAMAT

 Dalam melaksanakan proses pembelajaran disekolah seorang guru hendaknya pandai memilih model pembelajaran yang sesuai dengan materi pembelajaran.  Pada umumnya guru jarang mengunakan model pembelajaran dalam setiap proses pembelajaran karena kurangnya pemahaman guru tentang model-model pembelajaran yang dapat memudahkan guru dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas.

Sebenarnya ada banyak model pembelajaran yang bisa dipakai oleh setiap guru dalam proses pembelajaran yang model pembelajara ini juga mudah diterapkan yaitu disesuaikan dengan bahan ajar dan materi yang akan disampaikan oleh guru tersebut.  Dengan mengunakan model-model pembelajaran yang sesuai ini siswa dapat termotivasi dalam belajar untuk meningkatkan prestasinya khususnya pada ujian blok.

Dengan penelitian ini rumusan masalahnya apakah motivasi guru untuk menerapan model-model pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan mengajar guru pada SMP Negeri 2 Rantau Selamat.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa menggunakan model-model pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan motivasi mengajar guru dan belajar siswa.  Ini terbukti pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap.  Jika dipersentasekan, 56%.   orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan  3 (kurang baik dan baik), tiga orang  mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar  ……………………………….……………………………………………………………………………. i

Abstrak  ……………………………………………………………………………………………………………….  ii

Daftar Isi ………………………………………….…………………………………………………………………………. iv

BAB I  PENDAHULUAN  ….…………………………………………..…………………………………………………. 1

  1. Latar Belakang  Masalah  ……………………………………………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah …………………………………………………………………………………………….. 2
  3. Tujuan Penelitian ………………………………..…………………………………………………………….. 3
  4. Mamfaat Penelitian …………………………………………………………………………………………… 3

BAB II KAJIAN PUSTAKA  ……………………………………….………….………………………………………….. 4

  1. Kajian Teori dan Hasil Penelitian Yang Relevan …………………………………………………… 4
  2. Penyelesaian Masalah ……………………………..………..……………………………………………… 6

BAB III METODE PENELITIAN ………………………………….…………………………………..……………….. 4

  1. Subyek, Lokasi, dan Waktu Penelitian. …………………………………………………………………. 4
  2. Prosedur Penelitian ………………………………………………………………………………………… 7
  3. Teknis Pengumpulan Data ……………….…………………………………………………………………. 7
  4. Teknis  Analisi Data ………………….………………………………………………………………………… 8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN ……………………………………………………………. 10

  1. Kondisi Awal …………………………………………………………………………………………………… 10
  2. Siklus 1  ………………………………….……………………………………………………………………….. 11
  3. Siklus 2  ……………………………………………………………………………………………………  12
  4. Pembahasan  ……………………………………………………………………………………………  13

 

 

BAB V Simpulan Dan Saran  ………………………………………………………………………………….   18

  1. Simpulan  …………………….…………………….……………………………………….………………….. 18
  2. Saran  ………………………….………………………………………………………………………………….. 18

Daftar Pustaka  ………………………….……………………………………………………………………………….. 19

LAMPIRAN  ………………………………………………………………………………………………………..  20

 

BAB   I   PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri.  Salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru.

Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif ( datang, duduk, nonton, berlatih, …., dan lupa). Guru memberikan konsep, sementara siswa menerima bahan jadi. menurut Erman Suherman, ada  hal yang menyebabkan siswa tidak menikmati (senang) untuk belajar, yaitu kebanyakan siswa tidak siap terlebih dahulu dengan (minimal) membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, siswa tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya nanti.

Berdasarkan pengamatan penulis di SMPN 2 Rantau Selamat, terdapat beberapa kendala pada pembelajaran selama ini antara lain :

  1. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep.
  2. Siswa kurang aktif / siswa pasif dalam proses pembelajaran.
  3. Siswa belum terbiasa untuk bekerja sama dengan temannya dalam belajar.
  4. Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
  5. Hasil nilai ulangan / hasil belajar siswa pada pembelajaran rendah.
  6. KKM tidak tercapai.
  7. Pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa.
  8. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran.

Sebagai pendidik, penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung mengedepankan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru untuk menerapkan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat dengan menyusun berbagai perangkat pembelajaran yang dibutuhkan seperti : RPP, alat peraga, teknik pengumpulan data, dan instrumen yang dibutuhkan untuk membantu guru dalam mengelola kelas dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.

 

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Apakah penerapan model-model  pembelajaran   melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 2 Rantau Selamat.”

Secara operasional rumusan masalah di atas dapat dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Apakah penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 antau Selamat dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 2 Rantau Selamat?
  2. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi guru dalam penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboaratif di SMPN 2 Rantau Selamat?
  3. Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat pada pembelajaran di kelas VII, VIII, IX ?

C. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan dengan harapan memberikan manfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah.

a. Manfaat bagi siswa :

  1. Memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.
  2. Meningkatkan aktivitas siswa di dalam belajar.
  3. Meningkatkan penguasaan konsep.
  4. Menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat dalam kelompok/ membiasakan bekerja sama dengan teman.

b. Manfaat bagi guru:

  1. Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
  2. Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru untuk peningkatan mutu pembelajaran.

c. Manfaat bagi sekolah :

  1. Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademis.
  2. Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru.

 

 

 

BAB  II    KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

Pada bagian ini, penulis bermaksud mengemukakan beberapa hal yang berhubungan dengan teori dan pengertian untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan PTS ini, sebagai gambaran yang tentu ada kaitannya dengan materi pembahasan. Isinya berupa teori-teori yang diambil dari berbagai sumber.

Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar ( Udin Winataputra, 1994,34).

Banyak model-model pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru dalam proses kegiatan belajar mengajar yang pada prinsipnya pengembangan model pembelajaran bertujuan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang efetif dan efisien, menyenangkan, bermakna, lebih banyak mengaktifkan siswa.

Dalam pengembangan model pembelajaran yang mendapat penekanan pengembangannya terutama dalam strategi dan metode pembelajaran. Untuk masa sekarang ini perlu juga dikembangkan system penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar bisa saja mengembangkan model pembelajaran sendiri dengan tujuan proses pembelajaran lebih efektif dan efisien, lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreasi, sehingga siswa lebih aktif.

Berikut ini adalah pengertian model pembelajaran menurut pendapat para tokoh pendidikan antara lain:

  1. Agus Suprijono : pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
  2. Mills : “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”
  3. Richard I Arends : model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan di dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.

Kompetensi dasar

Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

 

Supervisi Klinis

Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Beberapa alasan mengapa supervisi klinis diperlukan, diantaranya:
• Tidak ada balikan dari orang yang kompeten sejauhmana praktik profesional telah memenuhi standar kompetensi dan kode etik
• Ketinggalan iptek dalam proses pembelajaran
• Kehilangan identitas profesi
• Kejenuhan profesional (bornout)
• Pelanggaran kode etik yang akut
• Mengulang kekeliruan secara masif
• Erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan prajabatan (PT)
• Siswa dirugikan, tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya
• Rendahnya apresiasi dan kepercayaan masyarakat dan pemberi pekerjaan

Secara umum tujuan supervisi klinis untuk :
• Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.
• Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
• Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
• Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan maslah yang ditemukan dalam proses pembelajaran
• Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Pendekatan Kolaboratif

Suhartian ( 2000 ) menjelaskan pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non direktif menjadi cara pendekatan yang baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kreiteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Dengan demikian pendekatan dalam supervisi berhubungan pada  arah. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Perilaku supervisi sebagai berikut: ( 1) Menyajikan (2) Menjelaskan ( 3 ) Mendengarkan (4) Pemecahan masalah (5) Negosiasi.

B. Penyelesaian Masalah

Berdasarkan kajian teori di atas, maka dengan melalui kegiatan penerapan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat kepala sekolah  dapat meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat.

 

 

 

 

 

BAB  III   METODE PENELITIAN

 

A. Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian

 

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan di SMPN 2 Rantau Selamat terhadap  sembilan orang guru di SMPN 2 Rantau Selamat.  Waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dimulai  30 Mei sampai dengan 1 September 2011.

 

B. Prosedur Penelitian

Penelitian ini tergolong penelitian tindakan sekolah, dengan empat langkah pokok yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi, dengan melibatkan sembilan orang guru SMPN 2 Rantau Selamat. Penelitian dilakukan  tahapan secara berkelanjutan selama 3 bulan. Indikator kinerja yang ditetapkan adalah meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model-model  pembelajaran melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru SMPN 2 Rantau Selamat dalam menerapkan model-model  pembelajaran, interaksi siswa dengan guru dalam proses belajar mengajar, interaksi dengan siswa dengan siswa dalam kerja sama kelompok, dan aktivitas siswa dalam diskusi kelompok.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi berupa hasil karya penyusunan KTSP, wawancara dan instrument analisis penilaian.

1. Perencanaan Tindakan

a) Pemilihan topik
b) Melakukan review silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selanjutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
c) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
d) Merencanakan penerapan pembelajaran
e) Menentukan indikator yang akan dijadikan acuan
f) Mempersiapkan kelompok mata pelajaran
g) Mempersiapkan media pembelajaran.
h) Membuat format evaluasi
i) Membuat format observasi
j) Membuat angket respon guru dan siswa

2. Pelaksanaan Tindakan
Menerapkan tindakan sesuai dengan rencana, dengan langkah-langkah:

  1. Setiap guru yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara guru lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
  2. Guru yang ditunjuk menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.
  3. Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan kelas untuk mendapatkan umpan balik.

3. Pengamatan (observasi)

  1. Observer melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar observasi
  2. Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.
  3. Pada tahap ini seorang guru melakukan implementasi rencana pembelajaran yang telah disusun, guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan. Selain itu dilakukan pemotretan yang meng-close up kejadian-kejadian khusus selama pelaksanaan pembelajaran.

D. Teknis Analisis Data

Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila :

 

  1. Peningkatan nilai rata-rata siswa kelas VII, VIII, IX, Peningkatan nilai rata-rata 6,5.
  2. Tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar :
    Tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dinilai berhasil apabila masing-masing aktivitas yang menunjang keberhasilan belajar persentasenya di atas 70 %.
  3. Keterlaksanaan langkah-langkah dalam proses belajar mengajar ≥ 80 %.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

 

A. Kondisi Awal

 

Dari hasil wawancara terhadap sembilan orang guru, peneliti memperoleh  informasi bahwa semua guru (sembilan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP dengan menerapkan model-model pembelajaran, hanya seorang yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya  orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP yang menerapkan model-model pembelajaran didalamnya, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dengan menerapkan model-model pembelajaran dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP yang menerapkan model-model pembelajaran secara lengkap.

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap sembilan RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-subkomponen RPP penerapan model pembelajaran tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban).  Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.

Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran dari Siklus ke Siklus

 

B. Siklus I (Pertama)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi seperti berikut ini.

1. Perencanaan ( Planning )

1         Membuat lembar wawancara

2         Membuat format/instrumen penilaian RPP penerapan model-model pembelajaran

3         Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP penerapan model-model

pembelajaran siklus I dan II

4         Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP penerapan model-model

pembelajaran dari siklus ke siklus

 

2. Pelaksanaan (Acting)

Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP penerapan model-model pembelajaran belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti.  Hal itu dibuktikan  dengan masih adanya komponen RPP penerapan model-model pembelajaran yang belum dibuat  oleh guru.  Sebelas komponen RPP penerapan model-model pembelajaran yakni:  1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11)  penilaiaan hasil belajar ( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban).

3. Pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini:   Pengamatan dilaksanakan Senin, 30 Mei 2011, terhadap sembilan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP penerapan model-model pembelajaran tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi.  Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

–  Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.

–  Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman

penskoran, dan kunci jawaban.

–   orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.

–  Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.

–  Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

 

C. Siklus II (Ke)

Siklus ke juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Hasil pengamatan pada siklus ke dapat dideskripsikan berikut ini:

Pengamatan dilaksanakan Selasa, 12 Juli 2011, terhadap sembilan orang guru.  Semuanya menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi.  Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut:

 

–   Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.

–   Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang

dipilih.

–   Satu orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.

–   Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

 

 

D.  Pembahasan

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Negeri 2 Rantau Selamat Kabupaten Aceh Timur yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus negeri, terdiri atas sembilan guru, dan dilaksanakan dalam  siklus. Kesembilan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP dengan penerapan model-model pembelajaran.

Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP dengan penerapan model-model pembelajaran, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.

1.     Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

2.     Komponen Standar Kompetensi

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya.  orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

 

 

3.     Komponen Kompetensi Dasar

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik).

Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya.  orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

4.    Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%.  orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

5. Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik),  orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.

6.    Komponen Materi Ajar

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik),  orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan  orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.

7.    Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajaran penerapan model-model pembelajarannya dengan alokasi waktu).  Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

8.    Komponen Metode Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%.  orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),  lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

 

9.     Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran).  Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang  mendapat skor 3 (baik).  Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.

 10.  Komponen Sumber Belajar

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya (melengkapi RPP penerapan model-model pembelajarannya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus ke kesembilan  guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya.  orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik).  Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus pertama semua guru (sembilan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap.  Jika dipersentasekan, 56%.   orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan  3 (kurang baik dan baik), tiga orang  mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus ke kesembilan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP penerapan model-model pembelajarannya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP penerapan model-model pembelajaran. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP penerapan model-model pembelajaran 69%,  pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP penerapan model-model pembelajaran 83%, terjadi peningkatan 14%.

Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP penerapan model-model pembelajaran, dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran dari Siklus ke Siklus SMP Negeri 2 Rantau Selamat.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A.     Kesimpulan

Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.

Bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.

Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan  dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan  kompetensi guru dalam menyusun  RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan 14% dari siklus I.

B.    Saran

Telah terbukti bahwa dengan  bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan  motivasi  dan  kompetensi guru dalam menyusun RPP penerapan model-model pembelajaran. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP penerapan model-model pembelajaran hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .

RPP penerapan model-model pembelajaran yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP penerapan model-model pembelajaran  secara lengkap dan baik karena RPP penerapan model-model pembelajaran  merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.

Dokumen  RPP penerapan model-model pembelajaran hendaknya dibuat  minimal  rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

 

Erman Suherman, (2009). Model-model Pembelajaran

http ://re-searchengines.com/1207trimo1.html Penelitian Tindakan Sekolah

Iim Waliman, dkk. 2001. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Bandung : Dinas

__________Pendidikan Provinsi Jawa Barat

S Syaodih Nana, (2006). Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah(konsep,prinsif,

_______  dan instrumen). Bandung : Aditama.

Sudrajat Akhmad. Pendekatan Pembelajaran

Udin Winataputra,( 1994,34), Model pembelajaran

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan ________Nasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan ________Dasar dan Menengah.

Piet, A. Sahertian. Frans Mataheru, Prinsip Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya, Usaha ________Nasional, 1981

 

Lampiran 1.  Gambar kegiatan sosialisasi dan pengarahan tentang penerapan model-model

         pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2.  Gambar kegiatan  proses KBM dengan penerapan salah satu model pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: