Metodologi Belajar-Mengajar Aktif

 

Bahan Pelatihan

Metodologi Belajar-Mengajar Aktif

 

Buku II:

METODIK UMUM PENDEKATAN BELAJAR AKTIF

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

JAKARTA, 2010

 

KATA PENGANTAR

Pendekatan belajar aktif telah dirintis secara serius oleh Balitbang Depdiknas sejak tahun 1979 dengan proyek yang dikenal sebagai Proyek Supervisi dan CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) Cianjur, Jawa Barat. Hasil-hasil proyek ini kemudian direplikasi di sejumlah daerah dan disebarkan melalui penataran guru ke seluruh Indonesia. Upaya yang dimulai pada tingkat sekolah dasar ini kemudian mendorong penerapan pendekatan belajar aktif di tingkat sekolah menengah. Hasil-hasil upaya ini secara bertahap kemudian diintegrasikan ke dalam Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, dan Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, yang dilanjutkan dengan Standar Isi yang lebih dikenal dengan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006.

Dari segi dokumen, muatan kurikulum yang berlaku saat ini telah memuat gagasan-gagasan belajar aktif untuk menumbuhkembangkan beragam kompetensi dalam diri peserta didik. Pendekatan yang dituntut dalam implementasi kurikulum ini pun adalah pendekatan belajar aktif. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa pendekatan ini telah diterapkan pada sejumlah sekolah, namun secara keseluruhan realisasi pendekatan ini belum memenuhi harapan. Karena itu, pendekatan ini perlu didorong dan digalakkan dengan melibatkan berbagai stakeholders, yaitu para guru, kepala sekolah, pengawas, Tim Pengembang Kurikulum (TPK) provinsi/kabupaten/kota dan pengambil keputusan pada tingkat dinas pendidikan kabupaten/kota dan provinsi hingga ke tingkat unit-unit utama pusat.

Upaya ini penting dan strategis guna mendidik peserta didik kita agar mampu berpikir dan bertindak secara kreatif. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah harapan bahwa implementasi pendekatan belajar aktif akan mendorong tumbuhkembangnya kreativitas dan semangat kewirausahaan, sekaligus mendorong cita-cita pendidikan budaya dan karakter bangsa di arena pendidikan di tanah air. Tujuan ini akan berhasil dicapai jika para pendidik menitikberatkan motivasi belajar dalam diri peserta didik.

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang seyogianya diterapkan adalah pendekatan yang memotivasi peserta didik agar dapat belajar bagaimana belajar. Namun, para guru tidak akan mampu melaksanakan tugas seperti yang diharapkan jika mereka tidak dilatih mempraktikkan pendekatan belajar aktif. Sebubungan dengan niat itu, implementasi belajar aktif tidak akan kokoh dan tidak akan mampu bertahan jika tidak diterapkan manajemen berbasis sekolah yang andal. Karena itu, gagasan pendekatan belajar aktif hendaknya selalu dikaitkan dengan pembinaan manajemen berbasis sekolah (MBS).

Buku ini disusun oleh Balitbang Diknas sebagai pedoman yang dapat dipakai untuk membina para guru, kepala sekolah, pengawas dan TPK serta komponen unit utama terkait melalui beragam cara, seperti training of trainers (TOT), penataran, kegiatan KKG dan MGMP, inhouse training (pendampingan), studi banding, dan magang.

Buku ini merupakan salah satu dari beberapa buku yang ditulis mengenai pendekatan belajar aktif, yaitu:

  1. Buku I: Panduan Pengembangan Pendekatan Belajar Aktif
  2. Buku II: Metodik Umum Pendekatan Belajar Aktif
  3. Buku III A : Peta Kompetensi dan Paket Pelatihan SD
  4. Buku III B : Peta Kompetensi dan Paket Pelatihan SMP
  5. Buku III C : Peta Kompetensi dan Paket Pelatihan SMA

Beragam bentuk pembinaan ini akan efektif jika bertumpu kepada pembinaan pada tingkat akar rumput, pembinaan di tingkat sekolah yang dikenal dengan istilah inhouse training. Melalui strategi inhouse training akan diperoleh guru fasilitator, kepala sekolah, pengawas dan tim pengembang kurikulum (TPK) yang potensial yang mampu berperan sebagai tutor dan fasilitator dalam berbagai bentuk pembinaan tersebut.

Semoga buku ini bermanfaat dalam upaya kita mendinamisasi pelaksanaan pendekatan belajar aktif.

Jakarta, 11 Januari 2010

Kepala Balitbang Diknas,

Prof. Dr. H. Mansyur Ramly

NIP 195408261981031001

Daftar Isi

Kata Pengantar

i

Daftar Isi

Pendahuluan

iii

1

Unit 1.

Belajar Aktif: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?

8

   

Unit 2. Pertanyaan Tingkat Tinggi

20

 

Unit 3.

Pembelajaran Kooperatif

45

   

Unit 4. Pemanfaatan Lingkungan dan Berbagai Sumber Belajar

70

   

Unit 5.

Pengorganisasian Kelas

79

   

Unit 6.

Pajangan

94

   

Unit 7.

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

104

   

Unit 8.

Mendorong Perubahan di Kelas

118

Catatan:

  1. Unit 1-8 digunakan untuk pelatihan fasilitator
  2. Unit 1-6 untuk pelatihan guru
  3. Unit 1, 7, dan 8 untuk kepala sekolah dan pengawas

PENDAHULUAN

Keberhasilan kegiatan peningkatan mutu di sekolah tergantung pada kemampuan mereka yang berkait erat dengan kegiatan belajar-mengajar serta pengelola sekolah, yakni kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan tokoh masyarakat, serta pejabat yang terkait dengan bidang pendidikan.

Guna menjembatani kesenjangan tersebut maka pemahaman dan pengertian para praktisi tentang belajar aktif perlu lebih diperdalam dan persepsi mereka juga perlu disamakan melalui pelatihan. Pelatihan merupakan salah satu usaha pengembangan kapasitas yang telah lama dikenal dan dilaksanakan dalam rangka peningkatan mutu belajar-mengajar. Pelatihan juga merupakan salah satu forum untuk mengenalkan sesuatu pendekatan yang baru, baik itu pendekatan belajar-mengajar maupun pengelolaan sekolah. Di samping bahan pelatihan yang harus disiapkan secara baik, yang tidak kalah pentingnya daripada pelatihan itu sendiri ialah program atau kegiatan pendampingan yang harus senantiasa ditindaklanjuti setelah pelatihan selesai.

Bahan pelatihan ini disiapkan untuk praktik-praktik yang baik dalam pendekatan belajar aktif. Di mana unit-unit yang dikembangkan tersebut merupakan praktik yang baik yang diidentifikasi dari unsur-unsur belajar aktif. Pelatihan unsur belajar aktif tersebut bertujuan untuk meningkatkan kemampuan professional tenaga kependidikan.

Dalam bahan pelatihan ini pada tiap pelajaran / sesi, digunakan satu kerangka yang amat sederhana, yang disebut ICARE. Sistem ICARE mencakup lima elemen kunci suatu pengalaman belajar yang baik untuk peserta didik, orang muda, maupun orang dewasa). ICARE adalah singkatan dari: Introduction, Connection, Application, Reflection, dan Extension. Penggunaan sistem ICARE memastikan bahwa para peserta pelatihan memiliki kesempatan mengaplikasi  apa yang telah mereka pelajari.

Dalam buku ini terdapat delapan unit belajar aktif yang dikembangkan dengan unsur-unsur belajar aktif, yaitu:

  1. Belajar Aktif: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?
  2. Pertanyaan Tingkat Tinggi
  3. Pembelajaran Kooperatif
  4. Pemanfaatan Lingkungan dan Berbagai Sumber Belajar
  5. Pengorganisasian Kelas
  6. Pajangan
  7. Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)
  8. Mendorong Perubahan di Kelas

Bahan pelatihan ini akan memberikan dasar pengetahuan dan pengalaman tentang kedelapan komponen tersebut sehingga mereka yang langsung terlibat dapat menerapkan pengetahuan dan konsep-konsep baru dalam pengelolaan kelas dan sekolah mereka dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.

Kedelapan bahan pelatihan ini nantinya merupakan suatu acuan yang akan digunakan dalam kegiatan pelatihan bagi para pelatih (TOT), baik tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota serta KKG dan MGMP dalam mengembangkan belajar aktif

 

Semua unsur yang terlibat dalam pendidikan akan diberi pelatihan yang sama, walaupun kadar kedalaman pembahasannya akan disesuaikan menurut jenis tugas peserta pelatihan dari unsur tersebut. Unsur-unsur tersebut antara lain ialah LPMP, P4TK, dinas pendidikan provinsi/kab/kota, kepala sekolah, guru, pengawas, komite sekolah, tokoh masyarakat serta jajaran pemerintah daerah.

Dalam pelaksanaan pelatihan, para peserta yang terdiri atas berbagai pihak ini  bisa  dijadikan dalam satu kelompok ataupun dipisah secara tersendiri-sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Namun, satu hal yang dipentingkan adalah adanya pengertian dan pemahaman di antara mereka. Untuk lebih menghayati tugas masing-masing, mereka akan memperoleh persepsi mereka tentang tugas mereka serta harapan mereka terhadap belajar dan ini akan didiskusikan bersama. Dengan demikian tidak ada lagi sifat eksklusifisme. Mereka akan mengerti keterbatasan dan tugas masing-masing kelompok sehingga diharapkan mereka lebih tahu tugasnya serta akan terjadi saling pengertian yang lebih baik tentang tugas masing-masing dalam menyikapi belajar aktif.

Tujuan

Setelah mengikuti pelatihan, para peserta diharapkan mampu:

  1. belajar tentang pelaksanaan belajar aktif.
  2. belajar tentang belajar aktif  yang mengembangkan tentang konsep belajar aktif, pengorganisasian kelas, belajar kooperatif, dan yang memperhatikan  keragaman individu, misalnya laki-laki/perempuan, cepat belajar/ lambat belajar, atau sosial ekonomi tinggi/rendah, kerja kelompok, teknik bertanya, penempatan pajangan
  3. mengenali karakteristik utama belajar aktif.
  4. memahami pentingnya belajar aktif bagi peningkatan kualitas peserta didik.
  5. mengevaluasi pelaksanaan belajar aktif serta mengidentifikasi hambatan/kesulitan dalam mengembangkan belajar aktif.
  6. meningkatkan peran serta komite sekolah dan masyarakat untuk mendukung belajar aktif.
  7. pelibatan masyarakat untuk membantu peserta didik belajar aktif.

Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan professional guru adalah melalui pelatihan. Untuk keperluan pelatihan tersebut dikembangkanlah modul pelatihan dengan nama “Metodik Umum”. Semua unit dalam modul pelatihan ini dapat digunakan oleh fasilitator pada setiap tingkatan pelatihan (Pelatihan untuk pelatih/TOT Nasional, TOT Provinsi, dan Pelatihan untuk guru di Kabupaten/Sekolah). Khusus unit 1, 7, dan 8 selain dapat digunakan dalam TOT Nasional dan TOT Provinsi juga dapat digunakan untuk pelatihan kepala sekolah dan pengawas.

Unit 1: Belajar Aktif: Apa, Mengapa, dan Bagaimana? 

Unit ini mengajak peserta untuk memahami konsep Belajar Aktif. Sesuai judulnya, peserta akan memperoleh pemahaman tentang belajar aktif, alasan perlunya pendekatan belajar aktif diterapkan, dan bentuk nyata apa yang harus terjadi dalam pembelajaran yang menerapkan pendekatan belajar aktif. Pemahaman akan diperoleh melalui kegiatan dan diskusi, bukan mendengarkan paparan.

Unit 2: Pertanyaan Tingkat Tinggi

Melalui unit 2 ini, peserta akan dilatih bagaimana merumuskan pertanyaan tinggkat tinggi, yaitu pertanyaan yang mendorong siswa untuk melakukan analisis, evaluasi, dan kreasi; bukan pertanyaan yang hanya menuntut siswa untuk mengingat. Pertanyaan ini dimaksudkan untuk memperlengkapi guru terutama dalam mendorong siswa untuk berpikir, melakukan penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah selama proses pembelajaran; bukan untuk mengetes siswa di akhir pembelajaran. Kemampuan guru untuk mengajukan pertanyaan yang berkualitas sangatlah penting bila tujuan utama mengajar adalah ‘mengembangkan berpikir siswa’ daripada ‘menyampaikan informasi’

Unit 3: Pembelajaran Kooperatif

Hasil belajar siswa akan baik bila terjadi interaksi di antara mereka maupun antara mereka dan gurunya. Siswa duduk berkelompok merupakan suatu upaya agar interaksi siswa meningkat. Namun demikian, kenyataan sering menunjukan bahwa banyak siswa yang tidak berinteraksi walaupun duduk mereka sudah berkelompok. Pembelajaran kooperatif merupakan suatu upaya untuk ’memaksa’ siswa berinteraksi satu sama lain. Melalui unit 3 ini peserta akan belajar bagaimana mengaktifkan semua anggota kelompok ketika mereka belajar.

Unit 4: Pemanfaatan Lingkungan dan Berbagai Sumber Belajar

Sering ada keluhan bahwa guru kekurangan sumber belajar; dan dalam hal ini dimaksudkan adalah kekurangan buku. Dominasi buku sebagai sumber belajar dan terkungkungnya belajar siswa di dalam kelas sering menjebak guru pada suatu keadaan ’Mengajar kekurangan sumber belajar’. Padahal di luar kelas banyak hal yang dapat dijadikan sumber belajar. Unit ini membukakan wawasan guru pada pemanfaatan berbagai hal sebagai sumber belajar.

Unit 5: Pengorganisasian Kelas

Untuk meningkatkan interaksi siswa dan siswa, siswa dan guru (interaksi), meningkatkan kemudahan siswa mengakses alat bantu maupun sumber belajar (aksesibilitas), mudah bergerak dari satu titik ke titik lain (mobilitas), kemudahan penerapan kegiatan yang beragam (fleksibilitas)

serta untuk menciptakan suasana pembelajaran yang terkesan tidak didominasi guru, tetapi didominasi siswa, ruang kelas khususnya susunan meja-kursi perlu diatur sedemikian rupa sehingga tercipta keadaan seperti di atas. Unit ini membelajarkan peserta dalam hal pengaturan susunan meja-kursi yang dapat menciptakan suasana tersebut dan dalam hal mengidentifikasi jenis pengelolaan siswa (individual, berpasangan, kelompok, klasikal) yang cocok dengan jenis kegiatan belajarnya (berdialog, berceritra, melakukan percobaan, pengamatan, dan sebagainya).

Unit 6: Pajangan

Salah satu cara melihat kemampuan siswa sebagai hasil belajar adalah melalui hasil kerja/karyanya. Hasil karya siswa akan bercerita banyak tentang kemampuan apa yang telah dan belum dikuasi siswa. Oleh karena itu, pemajangan hasil karya siswa akan sangat bermanfaat baik bagi guru sebagai media untuk melihat kemampuan siswa maupun bagi siswa sebagai media untuk unjuk kerja dan saling belajar di antara mereka. Hasil karya siswa juga menjadi sumber refleksi guru tentang mengajarnya. Hal lain, pemajangan hasil karya siswa memberikan kesan bahwa sekolah tersebut sedang mengembangkan generasi produktif dan kreatif. Unit ini akan membahas terutama apa saja yang perlu dipajangkan, berapa lama hasil karya siswa dipajangkan, apa manfaat pemajangan, dan bagaimana cara memajangkan hasil karya siswa.

Unit 7: Manajemen Berbasis Sekolah

Penerapan pendekatan belajar aktif di sekolah akan berjalan pincang bila tidak didukung dengan manajemen sekolah yang baik. Melalui unit ini peserta akan memahami prinsip-prinsip MBS, tujuan penerapan MBS termasuk alasan mengapa MBS perlu diterapkan, dan mengenal ciri-ciri sekolah yang menerapkan MBS. Penerapan MBS di sekolah dapat juga dipandang sebagai pemberian peluang bagi pengembangan kreativitas di tingkat manjemen sekolah: Sekolah diberi kesempatan untuk mengatur dirinya dan menciptakan hal-hal yang mendukung peningkatan mutu pembelajaran.

Unit 8: Mendorong Perubahan di Kelas. Guru yang telah mendapat pelatihan memerlukan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya agar mereka lebih berani menerapkan hasil pelatihannya. Kepala Sekolah dan Pengawas merupakan dua unsur lain kunci pembaharuan di sekolah, selain guru. Unit ini khusus diperuntukkan bagi Pengawas dan Kepala Sekolah dan menawarkan bagaimana kiat mendorong, memicu, bahkan memacu perubahan positif di sekolah. Perubahan merupakan peralihan dari suatu keadaan ke keadaan lain dan hal ini mengandung resiko gagal/salah. Oleh karena itu, unit ini memperkenalkan semangat perubahan ’Membuat Kesalahan Baru’ (’Make New Mistakes’) dengan kisah seorang kepala sekolah yang berkata: “Saya tidak ingin melihat pelajaran yang sempurna. Saya hanya ingin melihat Anda melakukan sesuatu yang baru dan mengalami kesalahan. Tidak perlu takut dengan kesalahan itu. Yang paling penting adalah apa yang bisa kita petik dari melakukan sesuatu yang baru tersebut”.

Modul ini menggunakan pendekatan pembelajaran orang dewasa. Metode pembelajaran interaktif yang digunakan modul ini tidak hanya untuk memotivasi peserta dalam pelatihan, namun juga untuk menyediakan model berbagai metode yang dapat digunakan oleh guru di dalam kelas. Suasana pelatihan yang banyak mengaktifkan peserta juga dimaksudkan memberi pesan bahwa suasana seperti itulah yang diharapkan terjadi di kelas/sekolah nanti.

Penyusunan pembelajaran di tiap sesi modul ini menggunakan kerangka ICARE.  Kerangka ini meliputi lima unsur kunci dari pengalaman pembelajaran yaitu Introduction (Kenalkan/Pendahuluan), Connection (Hubungkan), Application (Terapkan), Reflection (Refleksi), dan  Extension (Kegiatan Pengayaan). Kerangka ini hanya digunakan selama pelatihan. Kerangka pembelajaran yang digunakan oleh guru di dalam kelas tidak harus menggunakan kerangka ini.

UNIT 1

BElajar Aktif:

Apa, Mengapa, DAN Bagaimana?

 Pendahuluan

“Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”

(Permen Diknas Nomor 41, tahun 2007: Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah)

Sejalan dengan hal itu, Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam Temu Nasional di Jakarta, 29 Oktober 2009, mengatakan:

“Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar-mengajar yang ada selama ini. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah jangan hanya gurunya yang aktif , tetapi harus mampu membuat siswanya juga aktif”

Akal sehat pasti tidak akan menyangkal pesan dari kedua pernyataan di atas mengingat pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan kemampuan berimajinasi. Kedua hal tersebut merupakan ‘bahan dasar’ bagi tumbuh kembangnya kreativitas yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya agar bertahan; dan kedua hal tersebut hanya mungkin tumbuh subur dan berkembang dalam suasana pembelajaran seperti yang dipesankan oleh kedua pernyataan di atas.

Keinginan kita untuk melahirkan generasi yang kritis, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab hampir mustahil diwujudkan selama pembelajaran di sekolah lebih bersifat proses ‘pemberitahuan’ guru kepada siswa. Guru menceramahkan ilmunya, dan siswa mencatat, menghafal, dan mengatakannya kembali pada saat ulangan/uijian.

Sebaliknya, pembelajaran aktif lebih menciptakan suasana belajar yang mengembangkan berbagai potensi siswa antara lain rasa ingin tahu dan berimajinasi untuk selanjutnya berbuah kreativitas.

 Tujuan

Setelah mengikuti sesi ini, peserta mampu:

  1. memahami pengertian belajar aktif;
  2. mengidentifikasi ciri-ciri atau komponen belajar aktif;
  3. mengidentifikasi kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa;

Pertanyaan Kunci

Apa saja ciri atau komponen belajar aktif?

Apa saja contoh kegiatan belajar aktif sesuai komponen tersebut?

  Petunjuk Umum

Kegiatan dilaksanakan secara pleno, namun peserta duduk berdasarkan kelompok mata pelajaran (untuk SLTP/SLTA).

Sumber dan Bahan

Handout  Peserta 1.1: Dasar Hukum Belajar Aktif

Handout Peserta 1.2: Komponen Belajar Aktif

Video pembelajaran

 

Waktu

Waktu yang digunakan untuk unit ini adalah 75 menit.

ICT

Proyektor LCD

Laptop atau personal computer untuk presentasi

Layar proyektor LCD

Fasilitator harus tetap siap dengan persiapan alternatif apabila peralatan yang diharapkan tidak tersedia.

 

Ringkasan Sesi

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction (5 menit)

(1)      Fasilitator menjelaskan bahwa sesi Pendekatan Belajar Aktif ini disajikan dengan menggunakan kerangka ICARE;

(2)      Fasilitator menayangkan pernyataan Presiden SBY dan menanyakan “Pernyataan siapakah ini?” (Pernyataan ini bisa menjadi salah satu alasan perlunya penerapan Belajar Aktif dalam pembelajaran);

(3)      Fasilitator menjelaskan latar belakang dan tujuan sesi dengan menggunakan informasi dari bagian pendahuluan dan tujuan.

Connection (30 menit)

 

Ungkap Pengalaman – 5’

(1)  Fasilitator meminta peserta untuk mengungkapkan pengalamannya tentang Belajar Aktif, dengan bertanya:

  1.       i.    Apa sajakah ciri-ciri Pembelajaran Aktif?

(2)  Fasilitator menuliskan jawaban peserta pada papan tulis/kertas lebar (apa pun jawabannya).

Jawaban peserta tidak perlu dikomentari, biarkan terpampang pada papan tulis/kertas lebar.

Selanjutnya siapkan mereka untuk menyimak tanyangan video pembelajaran.

 

Menyimak  Tayangan Video Pembelajaran – 15’

 

(1)      Jelaskan kepada peserta bahwa sebentar lagi peserta akan menyimak tayangan video pembelajaran selama lebih kurang 15 menit; dan peserta akan diminta untuk menuliskan secara perorangan,

  • Apa sajakah yang dilakukan guru maupun siswa yang dianggap sebagai tanda Belajar/Pembelajaran Aktif?

(2)      Peserta menyimak tayangan video pembelajaran selama 15 menit.

(3)      Mintalah peserta secara perorangan untuk menuliskan,

  • Apa sajakah kegiatan siswa maupun guru yang dianggap sebagai tanda Belajar/Pembelajaran Aktif?

(4)      Urun gagasan tentang apa saja:

  • kegiatan GURU, dan
  • kegiatan SISWA

yang dianggap sebagai ciri belajar/pembelajaran aktif

(5)      Fasilitator menayangkan power point komponen/unsur-unsur belajar aktif.

(6)      Fasilitator membagikan handout peserta1.1 dan 1.2

Application (35 menit)

 

Kegiatan 1: Mengidentifikasi Kegiatan Belajar Aktif ( 20 menit)

(1)      Peserta mengidentifikasi berbagai kegiatan belajar yang merupakan kegiatan belajar aktif berpandu pada Komponen Belajar Aktif (lihat diagram pada power point):

  • Berbuat           : Kegiatan belajar apa saja yang termasuk berbuat?
  • Mengamati      : Kegiatan belajar apa saja yang termasuk mengamati?
    • Berinteraksi     : Kegiatan apa saja yang perlu diciptakan guru agar siswa

berinteraksi satu sama lain?

  • Merefleksi       : Kegiatan apa saja yang perlu diciptakan guru agar siswa

melakukan refleksi?

Kegiatan 2: Bertukar Hasil Kerja (15 menit)

(3)      Peserta saling bertukar hasil kerja dan saling memberikan komentar tertulis terutama menyoroti apakah kegiatan-kegiatan yang ditulis betul-betul mendorong siswa untuk berbuat, mengamati, berinteraksi, dan melakukan refleksi.

Reflection (5 menit)

Fasilitator menanyakan kepada peserta:

  1. Apakah tujuan sesi ini sudah tercapai?
  2. Hal apa saja yang masih membingungkan?

Extension

Peserta diminta untuk berlatih merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengandung unsur Belajar Aktif (Melakukan, Mengamati, Interaksi, dan Refleksi)

 Handout Peserta 1.1:

Dasar Hukum Belajar Aktif/PAKEM

 Handout Peserta 1.2:

Komponen Belajar Aktif/PAKEM

 

Presentasi Unit 1

 

 


 UNIT 2

Pertanyaan tingkat Tinggi

 Pendahuluan

Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajaran di dalam kelas.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji peserta didiknya.  Selain itu, apabila dicermati, jenis-jenis pertanyaan yang dilontarkan baru sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut belum memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir kreatif, kurang menuntut peserta didik untuk mengemukakan gagasannya sendiri.

Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir peserta didik.  Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan peserta didik pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar peserta didik. Pertanyaan atau tugas yang memicu peserta didik untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih peserta didik untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.

Tujuan

Setelah mengikuti sesi ini, peserta mampu merumuskan pertanyaan/tugas yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi.

Pertanyaan Kunci

Apa saja jenis pertanyaan/tugas yang dapat memicu peserta didik berpikir tingkat tinggi?

Bagaimana merumuskan pertanyaan/tugas yang mendorong peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi?

  Petunjuk Umum

Kegiatan dilaksanakan secara pleno, namun peserta duduk berdasarkan kelompok mata pelajaran.

Sumber dan Bahan

Handout  Peserta 2a.1: Tugas Mengidentifikasi Pertanyaan

Handout Peserta 2a.2: Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Handout Peserta 2a.3: Contoh Jenis Pertanyaan /Tugas berdasarkan Taksonomi Bloom

Handout Peserta 2a.4: Daftar Kata Kerja untuk Membuat Pertanyaan/Tugas

Spidol, kertas flipchart (kertas plano), kertas HVS: hijau, kuning, merah; gunting, lem, selotip.

Pita kertas (Kertas HVS dibagi sama besar menjadi 12 bagian – arah panjang)

Waktu

Waktu yang digunakan untuk unit ini adalah 90 menit.

ICT

Proyektor LCD

Laptop atau personal computer untuk presentasi

Layar proyektor LCD

Fasilitator harus tetap siap dengan persiapan alternatif apabila peralatan yang diharapkan tidak tersedia.

 

Introduction

5 menit

Menjelaskan latar belakang, tujuan sesi, dan pertanyaan kunci

Extension

Berlatih merumuskan pertanyaan/ tugas berdasarkan Taksonomi Bloom

 

Reflection

5 menit

Pertanyaan/ tugas tingkat manakah yang sulit dirumus-kan? Mengapa?

 

Ringkasan Sesi

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction – Pendahuluan (5 menit)

(4)      Fasilitator menjelaskan latar belakang dan tujuan sesi dengan menggunakan informasi dari bagian pendahuluan dan tujuan.

(5)      Fasilitator menyiapkan peserta untuk mengikuti kegiatan berikutnya.

Connection – Pengkaitan (10 menit)

 

Ungkap Pengalaman

(7)      Fasilitator menampilkan tayangan pertanyaan berikut satu per satu, dan mintalah peserta untuk menyampaikan gagasan mereka secara lisan.

  • Apa yang ingin Saudara ketahui dengan bertanya kepada peserta didik?
  • Proses berpikir apakah yang terpicu oleh pertanyaan Saudara?
  • Apa tujuan Saudara mengajukan pertanyaan kepada peserta didik?
  • Jika Saudara mengharapkan jawaban benar, bagaimana kemungkinan peserta didik berani menjawab bila mereka tidak yakin jawabannya benar?

(Beri peserta waktu beberapa menit untuk menjawab tiap pertanyaan)

1

Catatan untuk Fasilitator

Yang ingin diketahui dengan bertanya kepada peserta didik:

  • pengetahuan peserta didik?
  • proses berpikir peserta didik?

Proses berpikir yang terpicu oleh pertanyaan yang Saudara ajukan:

  • peserta didik mengulang gagasan yang Saudara telah kemukakan?
  • peserta didik membangun gagasan sendiri?

Tujuan mengajukan pertanyaan

  • mengharapkan jawaban benar?
  • merangsang peserta didik berpikir?

Application – Penerapan (70 menit)

Kegiatan 1: Mengidentifikasi 3 Tingkat/Jenis Pertanyaan (20 menit)

(2)      Fasilitator memberi bacaan yang dilengkapi dengan pertanyaan (Handout Peserta 2a.1). Dalam kelompok mata pelajaran, peserta membaca teks kemudian mengidentifikasi pertanyaan yang ada dalam bacaan, manakah yang termasuk:

  • pertanyaan yang menuntut peserta didik menganalisis
  • pertanyaan yang menuntut peserta didik mengevaluasi
  • pertanyaan yang menuntut peserta didik mengkreasi

(3)      Fasilitator memberikan Handout Peserta 2a.2: Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom dan Handout Peserta 2a.3: Contoh Jenis Pertanyaan/Tugas Berdasarkan Taksonomi Bloom. Kelompok (pasangan) memeriksa kembali apakah hasil identifikasi mereka sudah tepat.

2

Catatan untuk Fasilitator

Langkah Tambahan sebelum peserta dibagi handout 2a.3 (Jika diperlukan)

  1. Bagilah tiap peserta 3 kartu: warna merah (berarti mengkreasi), kuning (berarti mengevaluasi), dan hijau (berarti menganalisis);
  2. Tayangkanlah beberapa pertanyaan satu per satu dan mintalah peserta menentukan jenis pertanyaan tersebut dengan cara mengangkat kartu yang sesuai. (Usahakan pertanyaan mewakili semua jenis dan semua mata pelajaran. Pertanyaan dapat diambil dari Handout Peserta 2a.3).

(4)      Fasilitator menyatakan bahwa:

  • pertanyaan yang menuntut ‘menghafal’ digolongkan sebagai pertanyaan tingkat rendah;
  • pertanyaan yang menuntut berpikir ‘memahami’ dan ‘menerapkan’ sebagai pertanyaan tingkat sedang ; dan
  • pertanyaan yang menuntut berpikir menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi sebagai pertanyaan tingkat tinggi.

(5)      Fasilitator memberi penegasan tentang ciri singkat ketiga jenis pertanyaan :

  • Menganalisis — ada proses menghubung-hubungkan ;
  • Mengevaluasi — ada proses membandingkan sesuatu dengan kriteria tertentu ; dan
  • Mengkreasi — ada proses membangun/membentuk gagasan baru.

Kegiatan 2 : Merumuskan Pertanyaan (50 menit)

(1)         Fasilitator memberikan Handout Peserta 2a.4: Daftar Kata Kerja untuk Membuat Pertanyaan/Tugas dan peserta membacanya secara perorangan (10 menit).

(2)         Setiap peserta, masih dalam kelompok mata pelajaran, membuat  3 pertanyaan/ tugas (menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi) sesuai dengan mata pelajaran masing-masing. Setiap pertanyaan ditulis pada kertas kecil.  Setelah itu, semua pertanyaan dikumpulkan di bagian tengah meja;

(3)         Ketua kelompok  memimpin diskusi untuk menggolongkan semua pertanyaan ke dalam 3 tingkatan: menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi). Setelah selesai peserta meninjau kembali hasilnya kemudian menetapkannya;

(4)         Pertanyaan/tugas hasil setiap kelompok ditempel pada kertas HVS hijau (‘menganalisis’), kuning (‘mengevaluasi’), dan merah (‘mengkreasi’); dan

(5)         Selanjutnya semua kelompok diminta untuk saling mencermati hasil kerja kelompok lain. Mereka diberi kesempatan untuk saling berdiskusi dan memberi masukan.

Catatan untuk Fasilitator

  1. Diskusi difokuskan pada: “Apakah pengelompokan pertanyaan sudah tepat mana pertanyaan ‘menganalisis’, ‘mengevaluasi’, dan ‘mengkreasi’?”
  2. Pertanyaan yang dibahas di sini dimaksudkan terutama untuk digunakan guru sebagai alat dalam membelajarkan bukan mengetes peserta didik.

 

Reflection – Refleksi (5 menit)

Fasilitator menanyakan kepada peserta:

(1)           Pertanyaan atau tugas tingkat manakah (menganalisis, mengevaluasi, atau mengkreasi) yang sukar dirumuskan? Mengapa?

(2)           Apakah ada cara lain yang lebih mudah merumuskan pertanyaan-pertanyaan tersebut?

Extension – Pengayaan

Peserta mempelajari lagi bahan bacaan “Taksonomi Bloom” dan berlatih terus merumuskan pertanyaan tingkat tinggi sesuai mata pelajarannya.

Pesan Utama

Guru harus selalu melengkapi pembelajarannya dengan pertanyaan tingkat tinggi (menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi) walaupun merumuskannya tidak mudah. Kemampuan merumuskan pertanyaan yang baik, antara lain pertanyaan tingkat tinggi, merupakan salah satu kemampuan kunci bagi guru untuk mengembangkan potensi peserta didik.

 Handout Peserta 2a.1

Tugas Mengidentifikasi Pertanyaan

 

Sampah

Apa yang dimaksud dengan sampah? Semua barang yang tidak kita inginkan lagi dan akan dibuang kita sebut sebagai sampah. Coba perhatikan barang-barang di sekitarmu. Adakah barang-barang yang ingin kamu buang? Barang itu kamu sebut sebagai sampah. Demikian pula barang yang sudah kita buang tentu saja bisa kita sebut sebagai sampah.

Benda yang kita sebut sebagai sampah belum tentu dianggap sampah oleh orang lain. Misalnya, kalau kamu tidak memakai lagi suatu buku dan ingin membuangnya, maka buku itu adalah sampah bagimu. Tapi bisa jadi adik kelasmu atau orang lain memerlukannya sehingga bagi mereka buku itu bukan sampah.

Sampah dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok, yaitu sampah organik dan sampah anorganik.

1. Sampah organik

Sampah organik adalah sampah yang bisa membusuk secara alami. Sampah ini biasanya berasal dari tumbuhan dan hewan. Kalau kamu mengubur tikus mati atau sayuran yang tidak terpakai di dalam tanah, maka sampah itu akan terurai dan membusuk.  Sampah yang sudah terurai atau membusuk itu bisa dimanfaatkan untuk pupuk kompos. Selain sampah dapur, yang termasuk sampah basah adalah sisa-sisa masakan, nasi, buah, dan lain-lain.

2. Sampah anorganik

Sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat membusuk secara alami. Kalau kamu mengubur plastik selama bertahun-tahun dan kemudian menggalinya, plastik itu akan tetap menjadi plastik tidak bisa menjadi tanah. Selain plastik, benda-benda yang termasuk sampah kering adalah logam, besi, kaca, dll.

Se  Setiap hari kita bisa menghasilkan sampah dalam jumlah yang besar. Di Jakarta saja, dalam setahun jumlah sampahnya bisa mencapai 170 kali besar candi Borobudur. Banyak sekali, bukan? Sampah-sampah yang kita hasilkan akan diangkut dan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Apa yang akan terjadi di sini? Sampah-sampah ini akan ditumpuk. Semakin lama tumpukannya akan semakin tinggi. Bila sudah terlalu tinggi, sampah-sampah itu akan dibakar. Tentu saja hal itu tidak baik bagi lingkungan. Asap yang dihasilkan akan mengotori udara.

Untuk mengatasi masalah sampah, pemerintah menyediakan tempat sampah di pinggir-pinggir jalan. Untuk sampah organik, disediakan tempat sampah berwarna biriu. Untuk sampah anorganik, disediakan tempat sampah berwarna jingga.

Cara lain untuk mengatasi sampah adalah kegiatan daur ulang. Daur ulang adalah pemanfaatan kembali sampah menjadi barang yang berguna. Sampah organik yang terkumpul bisa diolah kembali atau didaur ulang menjadi pupuk. Pupuk hasil daur ulang ini bisa membuat tanaman tumbuh subur. Sampah anorganik yang terkumpul bisa didaur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat. Ban bekas, misalnya, bisa dijadikan pot bunga atau tempat sampah yang indah. Kaleng-kaleng bekas bisa diolah lagi di pabrik menjadi kaleng baru.

Kalau kita ingin  sehat, maka kita harus memiliki cara hidup yang baik. Beberapa cara hidup yang baik adalah tidak boleh membuang sampah sembarangan supaya sampah tidak tersebar dan lingkungan menjadi bersih. Lingkungan yang kotor penuh dengan kuman yang bisa membuat kita sakit.  Selain itu kita juga harus berhemat dengan barang sehingga tidak mudah menghasilkan sampah. Sampah yang dibuang harus ditempatkan di tempat yang benar. Yang tidak kalah penting adalah kita juga perlu belajar cara memanfaatkan kembali sampah-sampah kita supaya kita bisa membantu mengurangi jumlah sampah.

Tugas:

  1. Apakah yang dimaksud dengan sampah organik dan anorganik?
  2. Amati keadaan di dalam dan di sekitar rumah, kelas, dan sekolahmu. Tuliskan sampah-sampah yang kamu jumpai. Kemudian golongkanlah sampah-sampah tersebut menjadi dua golongan sampah yang telah kamu ketahui. Sebutkan alasanmu dalam menggolongkan sampah-sampah tadi.
  3. Perhatikan sampah-sampah yang telah kamu golongkan tadi. Dari golongan sampah anorganik, ambil salah satu jenis sampah. Pikirkanlah bersama kelompokmu bagaimana cara memanfaatkan kembali barang yang telah dianggap sampah tersebut.
  4. Perhatikan cara hidupmu dan anggota kelompokmu. Apakah kelompokmu termasuk banyak menghasilkan sampah atau tidak? Diskusikan apa sajakah yang biasanya kalian lakukan terhadap sampah. Apakah kelompokmu   sudah memiliki cara hidup yang termasuk menjaga lingkungan tetap sehat atau tidak? Berikan alasan kalian.

 

 Handout Peserta 2a.2

Tingkatan Berpikir Taksonomi Bloom

Sering kita mengamati guru yang mengajukan banyak pertanyaan dalam proses pembelajarannya di dalam kelas.  Pertanyaan-pertanyaan tersebut terkadang sangat banyak sehingga terkesan bahwa guru itu sedang menguji peserta didiknya.  Namun, apabila dicermati, jenis-jenis pertanyaan yang dilontarkan hanya sebatas pertanyaan yang membutuhkan jawaban ‘ya’ atau ‘tidak’, atau pertanyaan yang membutuhkan hanya satu jawaban tertentu. Pertanyaan tersebut sama sekali tidak memberi kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir kreatif, yaitu kurang menuntut peserta didik untuk mengemukakan gagasannya sendiri.

Jenis pertanyaan yang diajukan atau tugas yang diberikan oleh guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir peserta didik.  Pertanyaan/tugas tersebut bukan hanya untuk memfokuskan peserta didik pada kegiatan, tetapi juga untuk menggali potensi belajar mereka. Pertanyaan atau tugas yang memicu peserta didik untuk berpikir analitis, evaluatif, dan kreatif dapat melatih peserta didik untuk menjadi pemikir yang kritis dan kreatif.

Kondisi di atas akan terjadi apabila guru cukup selektif dalam menggunakan jenis pertanyaan yang dapat meningkatkan keterampilan berpikir peserta didik.  Pada tahun 1950, Benjamin S. Bloom memperkenalkan konsep tingkatan dalam berpikir.  Tingkatan berpikir tersebut dapat dipakai guru dalam menyusun pertanyaan atau tugas yang akan diberikan kepada peserta didik. Berikut adalah tingkatan berpikir Bloom versi perbaikan.

Mengkreasi

Menghasilkan ide-ide baru, produk, atau cara memandang terhadap sesuatu.
Kegiatan: mendisain, membangun, merencanakan, menemukan.

Mengevaluasi

Menilai suatu keputusan atau tindakan.
Kegiatan: memeriksa, membuat hipotesa, mengkritik, bereksperimen, memberi penilaian.

Menganalisis

Mengolah informasi untuk memahami sesuatu dan mencari hubungan.
Kegiatan: membandingkan, mengorganisasi, menata ulang, mengajukan pertanyaan, menemukan.

Menerapkan

Menggunakan informasi dalam situasi lain.
Kegiatan: menerapkan, melaksanakan, menggunakan, melakukan.

Memahami

Menerangkan ide atau konsep.
Kegiatan: menginterpretasi, merangkum, mengelompokkan, menerangkan.


Mengingat

Kegiatan: mengenali, membuat daftar, menggambarkan, menyebutkan.

 Handout Peserta 2a.3

Contoh Jenis Pertanyaan /Tugas berdasarkan Taksonomi Bloom

Matematika

Bangun 3 Dimensi

 

Mengkreasi

Rancanglah suatu bangun baru yang memiliki bagian-bagian yang berasal dari bangun yang kamu pilih tadi. Beri nama untuk bangun barumu dan namailah bagian-bagiannya.

Mengevaluasi

Menurutmu, apakah bangun tersebut tepat digunakan di tempat kamu menemukannya tadi? Mengapa?

Menganalisis

Terangkan mengapa bangun tadi digunakan di tempat dimana kamu menemukannya.

Menerapkan

Gambarlah bangun yang kamu pilih tadi.

Memahami

Carilah benda-benda yang memiliki bentuk yang sama dengan bangun yang kamu pilih tersebut.

Mengingat

Sebutkan ciri-ciri dari bangun yang kamu pilih.

Ilmu Pengetahuan Alam

Serangga

 

Mengkreasi

Buatlah jenis serangga baru dari bagian-bagian tubuh serangga yang ada.  Gambar dan beri nama bagian-bagian tersebut.

Mengevaluasi

Kalau kamu ingin menjadi serangga, serangga apa yang jadi pilihanmu?  Sebutkan alasannya, paling sedikit lima alasan.

Menganalisis

Pilih dua macam serangga, bandingkan. Tulislah hasil perbandinganmu.

Menerapkan

Wawancarailah 10 orang untuk mengetahui serangga yang paling  tidak disukai.  Buatlah grafik dari hasil wawancara tersebut dan simpulkan hasilnya.

Memahami

Pilihlah satu nama serangga. Buatlah 10 pernyataan tentang serangga tersebut.  5 pernyataan tentang fakta dari serangga tersebut dan 5 lainnya merupakan opini.  Tulis di atas kertas yang berbeda.  Berikan kepada temanmu dan minta temanmu untuk memeriksa pekerjaanmu.

 

Mengingat

Buatlah daftar nama-nama serangga, kelompokkan berdasarkan jenis serangga yang membahayakan dan tidak membahayakan.

Ilmu Pengetahuan Sosial

Pasar

Mengkreasi

Buatlah usulan perubahan/perbaikan yang dapat membuat pasar di sekitar rumahmu menjadi lebih baik.  Kirimkan surat itu kepada pemerintah setempat.

 

Mengevaluasi

Setujukah kamu apabila semua pasar tradisional diganti dengan pasar modern?  Mengapa?

Menganalisis

Bandingkan kondisi beberapa jenis pasar, carilah apa saja kekuatan dan kelemahan masing-masing jenis pasar?

Menerapkan

Misalkan kamu adalah salah seorang anggota Panitia Peringatan Kemerdekaan RI di sekolahmu dan merencanakan untuk membuat pesta.  Buatlah daftar barang-barang yang kamu butuhkan dan putuskan di pasar jenis apa kamu akan membelinya.  Berikan alasanmu.

Memahami

Cari nama-nama pasar yang kamu ketahui dan kelompokkan menurut jenisnya.

Mengingat

Sebutkan jenis-jenis pasar yang kamu ketahui dan ciri-cirinya.

                                                                  


Bahasa Indonesia

 

Sempurna

Kau begitu sempurna

Di mataku kau begitu indah

Kau membuat diriku

Akan selalu memujamu

Di setiap langkahku

ku kan selalu merindukan dirimu

Tapi satu bayangkan hidup tanpa cintamu

Janganlah kau tinggal diriku

Ku tak akan mampu semua

Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku

Kau adalah jantungku

Kau adalah hidupku

Engkau di diriku, oh sayangku

Engkau begitu sempurna

Dinyanyikan oleh: Gita Gutawa

Mengkreasi

Tulislah sebuah puisi tentang seseorang yang kamu kirimi surat!

Mengevaluasi

Selama ini sikap baik apa yang sudah kamu lakukan kepada seseorang yang kamu kirimi surat?

Menganalisis

Bandingkan perasaanmu antara kepada temanmu dengan kepada seseorang yang kamu kirimi surat!

Menerapkan

Tulislah surat untuk seseorang, mungkin ibu atau gurumu yang sesuai dengan isi lagu tersebut!

Memahami

Rangkumlah isi lagu tersebut!

Mengingat

Temukan dua kata yang bermakna kias!

 


 

Bahasa Inggris

Kancil and Crocodile

Kancil was a clever mousedeer. He had many enemies. One of them was Crocodile. Crocodile lived in a river in the forest.

Now, one day, Kancil went to the river. It was a very hot day, and he wanted to have a bath. Kancil bathed and splashed about in the water.

Crocodile saw Kancil. “A nice meal,” he thought. Then, he crawled behind Kancil and grabbed him. He caught one of Kancil’s legs.

Kancil was terrified. Then, he had an idea. He saw a twig floating near him. He picked it up and said, “You stupid fool! So you think you’ve got me. You’re biting a twig – not my leg. Here, this is my leg.”

And with that, he showed Crocodile the twig. Crocodile could not see well. He was a very stupid creature, too. He believed the cunning mouse­deer. He freed the mousedeer’s leg and snapped upon the twig. Kancil ran out of the water immediately.

“Ha! Ha!” he laughed. “I tricked you!”.

 

Mengkreasi

 

            Compose a letter of apology from Kancil to Crocodile.

 

Mengevaluasi

 

Do you think Kancil has done the right thing? Why?

 

 

Menganalisis

 

In what ways are Kancil and Crocodile different?

 

Menerapkan

 

Change the sentences in one of the paragraphs into the present tense.

 

Memahami

 

What examples from the story show that Kancil was a cunning animal?

 

Mengingat

 

Why did Kancil go to the river?

 Handout Peserta 2a.4  

Daftar Kata Kerja untuk Membuat Pertanyaan/Tugas

 

Pertanyaan tingkat rendah: Mengembangkan kemampuan mengingat

 

Tujuan Kata kerja yang biasa dipakai
Tujuan: mengembang-kan kemampuan peserta didik untuk mengingat. Pertanyaan jenis ini menugaskan peserta didik untuk menghafal, mengingat kembali, atau menceritakan kembali informasi / pengetahuan yang telah dipelajari. Jawaban atas pertanyaan ini biasanya sudah ada di buku atau catatan peserta didik sehingga peserta didik tinggal menghafal dan mengeluarkannya ketika ditanya.
  • Kapan terjadinya ….

(Kapan terjadinya peristiwa penangkapan Pattimura / Di manakah Pattimura ditangkap oleh Belanda?/ Siapa pelaku-pelaku dalam cerita?)

  • Definisikan / artikan ….

(Apa arti metamorfosa?)

  • Berikan contoh-contoh ….

{Berikan contoh – contoh kenampakan alam  dan kenampakan buatan. (Jawaban bisa dicari di dalam teks).

  • Hafalkan ….

( Hafalkan alat-alat pencernaan manusia.)

  • Ceritakan kembali ….

(Ceritakan kembali dongeng Batu Badaun yang telah kamu dengarkan.)

  • Pasangkan ….

Pasangkan istilah-istilah berikut ini dengan maknanya.

  • Urutkan ….

Urutkan gambar planet – planet sesuai dengan urutan tata surya yang benar.

  • Beri nama ….

Berilah nama   gambar bagian-bagian bunga  ini dengan istilah yang tepat.

Yang dilakukan guru:

  • berceramah / menerangkan
  • mengarahkan
  • menunjukkan
  • menguji
  • melatih mengingat/ drill
  • memberi contoh
  • mengevaluasi kemampuan mengingat
Yang dilakukan peserta didik:

  • mendengarkan
  • meyerap informasi
  • mengingat kembali
  • menghafal
  • mengurutkan
  • mengartikan / mendefinisikan
  • menyebutkan kembali
  • memberi nama
  • menceritakan kembali

Peran peserta didik dalam kegiatan belajar yang banyak menggunakan pertanyaan tingkat rendah adalah sebagai peserta belajar yang menerima informasi secara pasif. Pertanyaan / penugasan jenis ini biasanya hanya memiliki satu jawaban benar.

Pertanyaan tingkat sedang : Mengembangkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan

Tujuan Kata kerja yang biasa dipakai
Tujuan: Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menggunakan atau menerapkan informasi / pengetahuan yang dipelajarinya.

Pertanyaan tingkat sedang ini sudah memasuki ranah kemampuan berpikir dengan tingkat yang lebih tinggi dan lebih menantang dari pada hanya menghafal.

  • Hitunglah ….

Hitunglah soal-soal perkalian di bawah ini.

Berapakah luas atau keliling kelas kita ini.

  • Lakukan  ….

Lakukan drama satu babak tentang peristiwa penculikan Bung Karno hingga pembacaan teks Proklamasi.

  • Buatlah ….

Buatlah model-model gunung berapi di Indonesia.

  • Terjemahkan….

Terjemahkan paragraf berikut ini.

  • Operasikan ….

Operasikan penggunaan pesawat telepon ini.

  • Tunjukkan / demonstrasikan/peragakan ….

Peragakan dengan gerakan kelompokmu urutan dan pergerakan planet-planet beserta satelitnya dalam sistim tata surya kita.

  • Praktikkan ….

Praktikkan bagaimana cara memperkenal diri dengan Bahasa Inggris dalam situasi formal dan tidak formal.

  • Tuliskan ….

Tulislah surat e-mail perkenalan untuk teman baru yang kamu temukan di website friendster.

  • Ubahlah ….

Ubahlah gambar lingkungan yang kumuh ini menjadi   lingkungan yang sehat dan beri keterangan.

  • Golongkan ….

Golongkan sampah-sampah di sekolah ini menurut klasifikasi sampah yang kamu kenal.

  • Memecahkan masalah ….

Pecahkanlah masalah …. / Cari jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Yang dilakukan guru:

  • menunjukkan
  • memfasilitasi
  • mengamati
  • mengorganisasi
  • mengevaluasi kinerja peserta didik
Yang dilakukan peserta didik:

  • memecahkan masalah
  • mendemonstrasikan / menunjukkan penggunaan pengetahuan
  • menghitung
  • mempraktikkan
  • meragakan
  • menerapkan pengetahuan

Dalam kegiatan belajar dengan pertanyaan jenis kedua ini peserta didik menjadi peserta pembelajaran yang aktif mencoba dan mempraktikkan pengetahuan mereka.

Pertanyaan tingkat tinggi: Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengkreasi dan memberikan pendapat / penilaian pribadi

Tujuan

Kata kerja yang biasa dipakai

Mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menciptakan hal-hal baru (gagasan/ide, informasi, produk, cara pandang) dengan menggunakan pengetahuan yang telah mereka pelajari sebelumnya.
  • Buatlah ….

Ayo membuat gambar kue ulang tahun yang indah seindah yang kalian inginkan.

  • Rancanglah ….

Rancanglah beberapa menu sehat untuk 3 hari.

  • Kembangkan ….

Kembangkan sebuah rencana kampanye anti penggunaan narkoba (narkotik dan obat-obatan terlarang) beserta jinggle anti narkoba.

  • Karang ….

Karanglah sebuah cerita persahabatan dengan latar belakang perselisihan antar suku.

  • Ciptakan ….

Ciptakanlah sebuah rancang bangun kendaraan untuk akhir abad 21.

  • Tulis ….

Dengan memakai sudut pandang Malin Kundang, tulislah

sebuah surat yang menceritakan konflik antara si Malin

dengan ibunya.

Yang dilakukan guru:

  • o memfasilitasi
  • o memberi kesempatan
    • o mendorong
    • o mengevaluasi
Yang dilakukan peserta didik:

  • mendisain
  • membangun/membuat/mencipta
  • mengusulkan
  • menyempurnakan
  • mengambil resiko (karena menciptakan hal baru)
  • mengemukakan sudut pandang baru

Tujuan

Kata kerja yang biasa dipakai

mengembangkan kemampuan peserta didik untuk membuat keputusan ber-dasarkan refleksi / perenungan, kritik, dan penilaian yang sungguh-sungguh dari peserta didik sendiri.
  • Ramal  ….(berdasarkan data / informasi / pengetahuan yang dimiliki)

Hutan di desa diubah menjadi ladang jagung. Apa saja yang mungkin terjadi karena perubahan itu (Peserta didik membuat dugaan / ramalan: Jika hujan turun deras terus menerus, maka bukit akan longsor karena ….)

  • Tentukan ….

Tentukan alat ukur manakah yang lebih cocok untuk mengetahui berat sebutir buah jeruk. Berikan alasanmu.

  • Simpulkan….

Amatilah semua bagian sekolah ini. Simpulkan apakah para guru dan peserta didik di sekolah ini telah menjalankan ajaran “kebersihan adalah sebagian dari iman”. Berikan penjelasan untuk kesimpulan kalian.

  • Nilailah (menilai) ….

Menurut penilaianmu, apakah Malin Kundang satu-satunya yang bersalah dalam peristiwa tersebut? Mengapa?

  • Usul….

Jajanan apakah yang bisa kamu usulkan ke pengelola kantin supaya kantin menjual makanan yang lebih sehat?

Yang dilakukan guru:

  • mendengarkan
  • menerima
  • mengklarifikasi
  • membimbing
Yang dilakukan peserta didik:

  • memberikan pendapat, berbeda pendapat, mempertahankan pendapat, berdebat, menerima/mengubah pendapat
  • membandingkan
  • mengkritik, mempertanyakan
  • membuat kesimpulan / rekomendasi /usulan
  • menilai
  • memberikan justifikasi (memberikan alasan untuk pembenaran)
  • menjadi peserta aktif dalam pembelajaran

 

Presentasi Unit 2

 


Unit 3

PEMBELAJARAN KOOPERATIF

 Pendahuluan

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada peserta didik untuk saling berinteraksi. Peserta didik yang saling menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya sebenarnya sedang mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa memberikan hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia mendengarkan penjelasan guru.

Pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengembangkan beberapa kecakapan hidup yang disebut sebagai kecakapan berko­munikasi dan kecakapan bekerja sama. Kecakapan ini memiliki peranan penting dalam kehidupan nyata.

Pembelajaran kooperatif juga dapat dipakai sebagai sarana untuk menanamkan sikap inklusif, yaitu sikap yang terbuka terhadap berbagai perbedaan yang ada pada diri sesama peserta didik di sekolah. Pengalaman bekerja sama dengan teman yang memiliki per­bedaan dari segi agama, suku, prestasi, jenis kelamin, dan lain-lain diharapkan bisa membuat peserta didik menghargai perbedaan tersebut.

Sayangnya, dalam pembelajaran sehari-hari pembelajaran kooperatif sering dipahami hanya sebagai duduk bersama dalam kelompok. Peserta didik duduk berkelompok tapi tidak saling berinteraksi untuk saling membelajarkan; mereka be­kerja sendiri-sendiri.

Penerapan pembelajaran kooperatif akan memberikan hasil yang efektif kalau mem­perhatikan dua prinsip inti berikut. Pertama adalah adanya saling ketergantungan yang positif. Semua anggota dalam kelompok saling bergantung kepada anggota yang lain dalam mencapai tujuan kelompok, misalnya menyelesaikan tugas dari guru. Prinsip yang kedua adalah adanya tanggung jawab pribadi (individual accountability). Di sini setiap anggota kelompok harus memiliki kontribusi aktif dalam bekerja sama. Karena itu penting bagi kita mempelajari beberapa bentuk pembelajaran kooperatif dan pene­rapan yang sebenarnya supaya kesalahpahaman tentang belajar kelompok/kooperatif dalam pembelajaran dapat dihindari.

Tujuan

Di akhir sesi, peserta mampu:

(1)    Melaksanakan salah satu bentuk pembelajaran kooperatif, yaitu jigsaw;

(2)    Mengenal beberapa bentuk pembelajaran kooperatif;

(3)    Mengidentifikasi prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif; dan

(4)    Menentukan bentuk pembelajaran kooperatif yang sesuai dengan mata pelajaran tertentu.

Pertanyaan Kunci

(1)  Bagaimanakah melaksanakan pembelajaran kooperatif, khususnya ‘jigsaw’

(2)  Apa sajakah prinsip-prinsip pembelajaran kooperatif?

(3)  Apa sajakah jenis-jenis pembelajaran kooperatif?

  Petunjuk Umum

Dalam pelaksanaan pelatihan unit 3 ini peserta dikelompokkan dalam kelompok campuran semua mata pelajaran. Pada tahap penerapan (’application’) peserta dikelompokkan menurut mata pelajaran.          

Sumber dan Bahan

Handout Peserta 3.1: Bacaan tentang Pemanasan Global

Handout Peserta 3.2: Pembelajaran Kooperatif

Handout Peserta 3.3: Lembar Pengamatan untuk Pembelajaran Kooperatif

Kertas flipchart atau kertas plano, spidol, dan selotip kertas.

Waktu

Waktu yang digunakan untuk unit ini adalah 120 menit. Perincian penggunaan waktu untuk sesi ini dapat dilihat pada ringkasan sesi.

ICT

Penggunaan TIK dalam sesi ini sifatnya pilihan dan tergantung pada peralatan yang tersedia. Beberapa kemungkinannya adalah:

(1)  Proyektor LCD

(2)  Laptop untuk presentasi

  Ringkasan Sesi

 

 

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction – Pendahuluan (10 menit)

(1)   Fasilitator menjelaskan sepintas tentang apa itu pembelajaran kooperatif. Penje­lasan yang terdapat di Pengantar dapat dikembangkan sebagai bahan tayangan yang dapat digunakan dalam sesi ini.

(2)   Fasilitator menyampaikan tujuan sesi ini.

Connection – Pengaitan (50 menit)

Kegiatan 1: Pemodelan Pembelajaran Kooperatif

(1) Fasilitator sebagai model menyajikan contoh pembe­lajaran kooperatif model Jigsaw. (Model jigsaw perlu dimodelkan karena pengelolaan kelasnya lebih menantang daripada yang lain).

(2) Peserta dibagi ke dalam Kelompok Pengamat dan Kelompok peserta didik.

(3)   Kelompok Pengamat. Kelompok yang terdiri atas 4 orang dibentuk dan ditugaskan untuk menjadi pengamat. Kelompok ini bertugas mengamati perilaku para peserta yang berperan menjadi peserta didik dengan menggunakan handout 3.2. (Kelompok ini hanya dibutuhkan untuk kepentingan pelatihan. Pada penerapan yang sebenarnya di sekolah kelompok ini tidak dibutuhkan).

(4)    Kelompok peserta didik: Buatlah beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri atas empat   orang. Tiap anggota kelompok diberi nama A, B, C, D. Pada tahap ini kelom­pok disebut kelompok asal /induk (home group).

(5)    Fasili­tator menginformasikan bahwa tiap anggota kelompok akan mendapat tugas mendalami bagian-bagian tertentu dari bacaan karena mereka harus menjadi ahli dalam bagian/topik tersebut:

  • A  mempelajari Penyebab pemanasan global (bagian A)
  • B  mempelajari Dampak Pemanasan Global (bagian B)
  • C  mempelajari Dampak Sosial Politik Pemanasan Global (bagian C)
  • D  mempelajari Pengendalian Pemanasan Global (bagian D)

(6)   Dengan demikian, di dalam setiap kelompok induk (home group) terdapat beberapa ahli, yaitu A ahli tentang penyebab pemanasan global, B ahli tentang dampak pemanasan global, C ahli tentang dampak juga, dan D ahli tentang pengendalian pemanasan global.

(7)   Fasilitator membagikan Handout Peserta 3.1: Bacaan tentang Pemanasan Global pada setiap kelompok. Perhatikan cara membagi teks.  Distribusikan bagian pengantar yang membahas pengertian pemanasan global kepada semua peserta. Bagian pengantar ini memberikan pengetahuan latar supaya diskusi tentang subtopik lancar. Kemudian  bagikan sub-sub topik kepada kelompok-kelompok ahli sesuai dengan bagian topik masing-masing (baca langkah  5 dan 6). Peserta diminta untuk membaca bagian pengantar saja. (Kelompok Pengamat bisa mendapatkan teks lengkap).

(8)   Fasilitator membagi peserta ke dalam kelompok berikutnya (kelompok ahli.) Mintalah A berkumpul dengan A, B berkumpul bersama B, C dengan C, D dengan D, Pada tahap ini kelompok tersebut disebut kelompok ahli (expert group).

(9)   Setelah berkumpul dalam kelompok ahli, tiap kelompok membaca dan mendiskusikan bagiannya. Fasilitator memberi tugas pada masing-masing kelompok ahli untuk membahas dan membuat ringkasan tentang topik masing-masing antara lain dapat dalam bentuk diagram/bagan alir (flow chart) yang bisa menjelaskan   isi topik masing-masing dengan jelas pada orang lain. Tiap anggota harus aktif karena dalam kelompok ini mereka harus menjadi ahli dalam menjawab pertanyaan tentang topiknya.

(10)     Setelah tugas kelompok ahli selesai dilaksanakan, fasilitator meminta peserta berkumpul lagi ke kelompok asal (home group).

(11)     Fasilitator meminta setiap anggota kelompok asal untuk saling bertukar hasil bacaannya kemudian menyiapkan presentasi tentang pemanasan global dengan menggunakan diagram alur atau cara lain yang dianggap lebih komunikatif. Ringkasan yang telah dibuat tiap anggota ketika berada di kelompok ahli dimanfaatkan setelah dimodifikasi sesuai kesepakatan dalam kelompok asal. Fasilitator menambahkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

  1.   Kebiasaan hidup apa saja yang kalian lakukan di rumah dan di sekolah yang mungkin ikut  menyebabkan terjadinya pemanasan global?
  2. Apa saja dampak pemanasan global yang telah kalian rasakan di sekitar lingkungan rumah dan sekolah?
  3. Apa saja yang bisa kalian lakukan di lingkungan rumah dan sekolah untuk mengurangi dampak pemanasan global?

(12)     Fasilitator meminta kelompok asal memajangkan hasil kerjanya.

Kegiatan 2: Diskusi Hasil Pengamatan

  1.   i.    Fasilitator memberi kesempatan kepada pengamat untuk menyampaikan hasil pengamatannya, baik tentang kelancaran penerapan jigsaw maupun  potensi jigsaw dalam mengembangkan kecakapan personal dan sosial peserta didik.
  2.  ii.    Fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan hasil pengamatan terkait dengan dampak pembelajaran kooperatif terhadap pengembangan kecakapan sosial dan kecakapan hidup lainnya.

Application – Penerapan (50 menit)

(1)    Fasilitator menyatakan bahwa terdapat banyak bentuk pembelajaran kooperatif yang bisa dipilih sesuai dengan kebutuhan tujuan pembelajaran. Fasilitator membagikan Handout Peserta 3.3: pembelajaran Kooperatif.

(2)    Fasilitator meminta peserta untuk membaca handout  tersebut dan mendiskusikan secara singkat tingkat kemungkinannya untuk digunakan di kelas yang cocok dengan karakteristik mata pelajaran masing-masing.

(3)    Fasilitator meminta peserta untuk mendiskusikan hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjamin efektifitas proses pembelajaran kooperatif sehingga  tidak hanya sekedar menjadi kumpulan peserta didik yang duduk berkelompok tapi tidak ada interaksi saling membelajarkan di antara mereka.

(4)    Fasilitator memimpin secara pleno dan meminta setiap kelompok menyampaikan setidaknya satu atau dua hal penting yang perlu dilakukan untuk membuat pembelajaran kooperatif efektif.

Karena penerapan pembelajaran kooperatif dimaksudkan untuk mengaktifkan semua peserta didik, maka pendapat peserta perlu ‘diuji’:

  • Apakah butir-butir yang dikemukakan (Hasil langkah 3) betul-betul membuat setiap peserta didik aktif?

(5)    Fasilitator menyajikan tayangan tentang prinsip-prisip pembelajaran kooperatif yang efektif untuk memperkuat hasil diskusi peserta.

(6)    Fasilitator membagikan Informasi Tambahan 3.1: Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif.

Reflection – Refleksi (10 menit)

Peserta melakukan evaluasi diri dengan memikirkan sejauhmanakah tujuan kegiatan yang telah disebutkan di awal dapat dicapai.

Extension – Pengayaan

Peserta membaca sekali lagi bahan bacaan tentang pembelajaran kooperatif dan mencoba satu persatu jenis-jenis pembelajaran kooperatif yang disebutkan. Mereka bisa pula saling bertukar ide dengan peserta lain tentang bentuk-bentuk pembelajaran kooperatif yang lain.

 

Pesan Utama

Pembelajaran kooperatif yang dirancang dengan benar akan dapat mengembangkan kecakapan personal dan sosial peserta didik.

 Handout Peserta 3.1

Pemanasan Global (Untuk SMA)

Pengantar

Pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi.

Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia”melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C  antara tahun 1990 dan 2100.  Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.

‘Ahli’ A:

Penyebab pemanasan global

Efek rumah kaca

Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut berbentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini tiba permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini berwujud radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbon dioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Keadaan ini terjadi terus menerus sehingga mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat.

Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana gas dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya.

Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.

Efek umpan balik

Unsur penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara sampai tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya berdampak secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer.

Efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan kembali radiasi infra merah ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya menghasilkan pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat.

Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.

Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif.

Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.


‘Ahli’ B:

Dampak Pemanasan Global (1)

 

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

Iklim Mulai Tidak Stabil

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Peningkatan Permukaan Laut

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm  pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm  akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun.

Suhu Global Cenderung Meningkat

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.


‘Ahli’ C

 

Dampak Pemanasan Global (2)

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

 

Gangguan Ekologis

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Dampak Sosial Dan Politik

Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (Waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Seperti meningkatnya kejadian Demam Berdarah karena munculnya ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak. Dengan adamya perubahan iklim ini maka ada beberapa spesies vektor penyakit (eq Aedes Agipty), Virus, bakteri, plasmodium menjadi lebih resisten terhadap obat tertentu yang target nya adala organisme tersebut. Selain itu bisa diprediksi kan bahwa ada beberapa spesies yang secara alamiah akan terseleksi ataupun punah dikarenakan perubahan ekosistem yang ekstreem ini. hal ini juga akan berdampak pada perubahan iklim yang bisa berdampak kepada peningkatan kasus penyakit tertentu seperti ISPA (kemarau panjang / kebakaran hutan, DBD Kaitan dengan musim hujan tidak menentu)

Gradasi Lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernafasan seperti asma, alergi, coccidiodomycosis, penyakit jantung dan paru kronis, dan lain-lain.

 ‘Ahli’ D

 

Pengendalian pemanasan global

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.

Menghilangkan karbon

Cara yang paling mudah untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.

Gas karbon dioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.

Salah satu sumber penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20, energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan tren penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila dibandingkan dengan batubara. Walaupun demikian, penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan keselamatan dan limbahnya yang berbahaya, bahkan tidak melepas karbon dioksida sama sekali.

Persetujuan internasional

Kerjasama internasional diperlukan untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah kaca. Di tahun 1992, pada Earth Summit di Rio de Janeiro, Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untuk menterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Pada tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal dengan Protokol Kyoto.

Pada suatu negara dengan kebijakan lingkungan yang ketat, ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon dioksida.

Setelah tahun 1997, para perwakilan dari penandatangan Protokol Kyoto bertemu secara reguler untuk merundingkan isu-isu yang belum terselesaikan seperti peraturan, metode dan hukuman yang wajib diterapkan pada setiap negara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca. Para negoisator merancang sistem di mana suatu negara yang memiliki program pembersihan yang sukses dapat mengambil keuntungan dengan menjual hak polusi yang tidak digunakan ke negara lain. Sistem ini disebut perdagangan karbon. Sebagai contoh, negara yang sulit meningkatkan lagi hasilnya, seperti Belanda, dapat membeli kredit polusi di pasar, yang dapat diperoleh dengan biaya yang lebih rendah.

Diadaptasi dari Wikipedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Pemanasan_global. Diakses pada tanggal 25 Desember 2008.

 Handout Peserta 3.2

Lembar Pengamatan untuk Pembelajaran Kooperatif

Petunjuk:

  1. Amatilah  tindakan peserta didik (peserta) dalam kelompoknya.
  2.  Baca dan tambahkan tindakan yang dilakukan peserta didik pada kolom 1.
  3. Berikan centang pada kolom 2 sesuai dengan tindakan yang  teramati.
  4. Tuliskan nomor butir-butir kecakapan sosial (lihat daftar) yang mungkin berkembang karena tindakan-tindakan tersebut.

Daftar Butir Kecakapan Hidup Sosial

  1. Bekerjasama
  2. Menunjukkan tanggung jawab sosial
  3. Mengendalikan emosi / mengatasi perasaan
  4. Berinteraksi dalam masyarakat.
  5. Mengelola konflik
  6. Berpartisipasi
  7. Membudayakan sikap sportif, disiplin, dan hidup sehat
  8. Memimpin

 

Kecakapan hidup lain (personal dan akademik)

  1. Kecakapan berkomunikasi
  2. Mengambil keputusan
  3. Percaya diri
  4. Merumuskan masalah
  5. Berpikir rasional
  6. Bersikap ilmiah
  7. Berpikir strategis
  8. ………………………
  9. ………………………
  10. ………………………

1

2

3

Tindakan yang dilakukan peserta didik YA TDK Butir Kecakapan Hidup yang dikembangkan
1. Mendengarkan dengan empati /perhatian
2. Menyampaikan gagasan dengan jelas
3. Menyela dengan santun
4. Membuat kesepakatan
5. Meyakinkan orang lain
6. Memimpin diskusi
7. Membuat aturan main
8. Mengatur pembagian tugas
9.
10.
11.
12.
13.
14.
 15.
 16.
 17.
18.

 Handout Peserta 3.3

Pembelajaran Kooperatif

Pengantar

Belajar kooperatif merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan pembelajaran yang ak­tif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Belajar kooperatif memberikan kesempatan pada peserta didik untuk saling berinteraksi. Peserta didik yang saling menjelaskan pengertian suatu konsep pada temannya sebenarnya sedang mengalami proses belajar yang sangat efektif yang bisa memberikan hasil belajar yang jauh lebih maksimal daripada kalau dia mendengarkan penjelasan guru.

Pembelajaran kooperatif juga bisa dipakai sebagai sarana untuk menanamkan sikap inklu­sif, yaitu sikap yang terbuka terhadap berbagai perbedaan yang ada pada diri sesama peserta didik di sekolah. Pengalaman bekerja sama dengan teman yang memiliki perbedaan dari segi agama, suku, prestasi, jenis kelamin, dan lain-lain diharapkan bisa membuat peserta didik menghargai perbedaan tersebut.

Selain itu pembelajaran kooperatif juga memberikan kesempatan pada peserta didik untuk men­gembangkan beberapa kecakapan hidup yang disebut sebagai kecakapan berkomunikasi dan kecakapan bekerja sama. Kecakapan ini memiliki peranan penting dalam kehidupan nyata.

Sayangnya, dalam pembelajaran sehari-hari pembelajaran kooperatif sering dipahami hanya sebagai duduk bersama dalam kelompok. Peserta didik duduk berkelompok tapi tidak sa­ling berinteraksi untuk saling membelajarkan. Peserta didik dalam duduk berkelompok bekerja sendiri-sendiri.

Penerapan pembelajaran kooperatif akan memberikan hasil yang efektif kalau memperha­tikan dua prinsip inti berikut. Yang pertama adalah adanya saling ketergantungan yang po­sitif. Semua anggota dalam kelompok saling bergantung kepada anggota yang lain dalam mencapai tujuan kelompok, misalnya: menyelesaikan tugas dari guru. Prinsip yang kedua adalah adanya tanggung jawab pribadi (individual accountability). Di sini setiap anggota kelompok harus memiliki kontribusi aktif dalam bekerja sama. Kalau ada anggota kelompok yang tidak berkontribusi maka tujuan kelompok tidak akan tercapai. Karena itu penting bagi kita mempelajari beberapa bentuk pembelajaran kooperatif dan penerapannya yang sebenar­nya supaya kesalahpahaman tentang belajar kelompok/kooperatif dalam pembelajaran da­pat dihindari.

Beberapa jenis pembelajaran kelompok/kooperatif

1. Jigsaw

Langkah-langkah:

  1. Peserta didik dibagi dalam kelompok–kelompok. Tiap kelompok beranggotakan 4 s/d 5 orang. Sebaiknya kelompok terdiri atas peserta didik dengan beragam latar belakang, mi­salnya dari segi prestasi, jenis kelamin, suku, agama, status sosial dll. Kelompok ini disebut kelompok asal
  2. Tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda. Misalnya, untuk topik sistem pencernaan, ada subtopik tentang mulut; lambung; usus halus; usus besar, poros, dan dubur dibagitugaskan pada tiap anggota dalam kelompok.
  3. Setiap peserta didik yang mendapat subtopik mulut berkumpul bersama membentuk tim ahli mulut. Peserta didik lain yang mendapat subtopik lambung juga berkumpul bersama membentuk tim ahli lambung. Begitu seterusnya. Tim ahli membahas subtopik ma­sing-masing dan menjadi ahli dalam topik itu.
  4. Setelah selesai berdiskusi dalam tim ahli, tiap anggota kembali ke kelompok asal masing-masing. Kemudian secara bergantian, tiap peserta didik yang telah menjadi ahli mengajar teman satu tim mereka tentang subtopik yang mereka kuasai.
  5. Kelompok asal mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya, atau membuat rangkuman tentang, misalnya sistem pencernaan pada manusia. Guru bisa juga memberikan tes pada kelompok. Tapi pada saat mengerjakan tes peserta didik tidak boleh bekerja sama.

Bagan pengelolaan peserta didik dalam pembelajaran kooperatif model Jigsaw.

I.

II

III

Keterangan:

I dan III: kelompok asal

II : kelompok ahli

 

 

 

 

2. STAD (Student Teams Achievement Divisions)

Langkah-langkah:

  1. Peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok beranggotakan 4 s/d 5 orang.  Sebaiknya kelompok terdiri atas peserta didik dengan beragam latar belakang, mi­salnya dari segi prestasi, jenis kelamin, suku, agama, dll
  2. Guru membahas topik pembelajaran, misalnya: sistem pencernaan manusia.
  3. Guru Guru memberi tugas kepada kelompok untuk mengerjakan latihan / membahas sua­tu topik lanjutan bersama-sama. Di sini anggota kelompok saling bekerja sama.
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan/tes kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  5. Hasil tes diskor. Skor tiap peserta didik ditentukan berdasarkan skor/perbaikan tiap anggo­ta kelompoknya.

3. Menulis Cerita Kelompok

  1. Setiap anggota kelompok memilih sebuah topik yang menarik untuk membuat ceri­ta secara berkelompok, misalnya gempa bumi atau banjir di suatu daerah, bermain di sungai, pengalaman pertama berkemah, semua menteri pemerintah dikejutkan oleh penyakit serius yang misterius, dan lain-lain.
  2. Setiap anggota kelompok menulis judul cerita yang mereka pilih serta tiga kalimat pertama untuk mengawali cerita.
  3. Anggota kelompok memutar cerita mereka ke arah kiri mereka. Setiap anggota yang menerimanya harus melanjutkan cerita. Setiap anggota memiliki waktu dua menit untuk membaca dan menulis. Kertas diputar hingga beberapa kali putaran dan pada akhirnya setiap anggota mendapatkan kembali kertasnya.
  4. Jika sudah selesai, kelompok berbagi cerita dan memilih salah satu cerita untuk dibacakan di kelompok. Kemudian, anggota-anggota kelompok menyunting cerita tersebut untuk meningkatkan kualitas cerita.
  5. Alternatif lain: tiap anggota kemudian mengembangkan kalimat-kalimat yang sudah ada menjadi cerita yang runtut.

4. Menemukan yang Salah

Setiap peserta didik menuliskan tiga pernyataan yang terdiri atas dua pernyataan benar dan satu pernyataan salah. Di dalam kelompok seorang peserta didik membacakan pernyataannya dengan suara keras. Kelompok kemudian berdiskusi untuk menemukan pernyataan yang salah. Setelah itu peserta didik lain membacakan pernyataannya dan didiskusikan. Demi­kian seterusnya sampai semua peserta didik dalam kelompok mendapat giliran membacakan pernyataan yang telah ditulisnya.

Langkah-langkah:

  1. Semua peserta didik menulis tiga pernyataan: 2 pernyataan benar dan 1 pernyataan sa­lah
  2. Peserta didik dibagi dalam kelompok-kelompok
  3. Satu orang peserta didik membaca pernyataan
  4. Kelompok mendiskusikan pernyataan mana yang salah dan membetulkannya
  5. Satu orang peserta didik membaca pernyataan lagi
  6. Kelompok mendiskusikan pernyataan mana yang salah dan membetulkannya, dstnya.

5. Di Dalam dan di Luar Lingkaran

Semua peserta didik berdiri membentuk dua lingkaran. Lingkaran yang kedua mengelilingi lingkaran yang pertama. Kedua lingkaran harus memiliki jumlah peserta didik yang sama sehingga peserta didik bisa saling berhadapan. Guru mengumumkan atau memberikan sebuah topik atau pertanyaan, dan peserta didik membahasnya dengan pasangan yang berada di depannya. Kemudian kedua lingkaran berotasi sehingga peserta didik terpasangkan dengan peserta didik lain untuk membahas topik atau pertanyaan berikutnya yang diberikan guru.

Langkah-langkah:

  1. Peserta didik membentuk lingkaran
  2. Peserta didik membahas topik / pertanyaan dari guru dengan pasangannya
  3. Guru memberi aba-aba pada peserta didik untuk berotasi
  4. Jika memungkinkan, kegiatan akan lebih lancar kalau dilaksanakan di luar kelas
  5. Posisi yang dirotasi sebaiknya diragamkan, dan pergerakan rotasi kadang-kadang dibalikkan arahnya

6. Berpikir-Berpasangan-Berbagi dengan Kelas / B3K (Think-Pair-Share)

Pembelajaran kooperatif model B3K ini sangat populer karena mudah pengelolaan kelasnya.

  1. Guru memberikan suatu permasalahan / pertanyaan pada kelas. Misalnya, guru bertanya,” Apa yang dimaksud dengan pemanasan global? Mengapa isu pemanasan global sedang ramai dibicarakan orang? Adakah tanda-tanda terjadinya pemanasan global di kota kita ini?”
  2. Setiap peserta didik secara individual diminta untuk merenungkan kemungkinan jawabannya terlebih dahulu. Guru memberikan waktu yang cukup. Tahap ini disebut tahap Berpikir / Think.
  3. Setelah peserta didik mencari / memikirkan jawaban atau tanggapan sendiri-sendiri, guru kemudian meminta peserta didik secara berpasangan mendiskusikan jawaban mereka. Pada kesempatan ini mereka bisa saling bertukar pikiran dan argumentasi tentang permasalahan yang disampaikan oleh guru. Tahap ini tahap berdiskusi berpasangan / in pairs
  4. Setelah diskusi berpasangan dirasakan cukup, guru mengundang tiap peserta didik / pasangan peserta didik untuk berbagi jawaban atau komentar secara pleno kelas terhadap permasalahan yang diajukan guru. Tahap ini disebut berbagi / share.

 


7. Berpikir-Berpasangan-Berempat/B3 (Think-Pair-Square) 

Jenis pembelajaran kooperatif ini juga praktis pengelolaannya. Peserta didik tidak perlu berpindah dari tempat duduknya.

Tahapan pembelajaran kooperatif model B3 ini sama dengan tahapan B3K di atas kecuali pada langkah d. Untuk B3 langkah d diubah menjadi berdiskusi atau bertukar pendapat dan argumentasi dengan empat orang. Dengan demikian peserta didik berpikir/bekerja individual, kemudian berpasangan, setelah itu berempat.

 

8. Anggota Bernomer Bekerja Bersama / AB3 (Numbered-Heads together)

  1. Bentuklah kelompok-kelompok peserta didik yang terdiri atas empat anak.
  2. Setiap anggota kelompok mendapat nomor 1, 2, 3, dan 4.
  3. Guru (atau peserta didik atau kelompok) memberikan pertanyaan berdasarkan teks yang dibaca. Misalnya: Bagaimanakah proses terjadinya efek umpan balik dalam pemanasan global?  Guru juga bisa memberikan bentuk tugas yang lain.
  4. Semua peserta didik dalam kelompok masing-masing bekerja sama mencari dan membahas jawaban / pemecahan atas pertanyaan/masalah yang diberikan. Kelompok memastikan bahwa setiap anggota menguasai jawaban/ jalan keluar atas masalah yang diberikan.
  5. Setelah diskusi di dalam kelompok di rasa cukup, guru memanggil peserta didik dengan nomor-nomor tertentu untuk menjawab atau melaporkan. Misalnya, jika guru memanggil nomor 4, itu berarti bahwa semua peserta didik bernomor 1 harus siap untuk terpilih memaparkan jawaban atas permasalahan yang diberikan guru.
  6. Guru meneruskan proses pembelajaran dengan memanggil nomor-nomor yang lain.

9. Bertukar Pasangan

Karakteristik bertukar pasangan pada pembelajaran kooperatif ini adalah jumlah anggota kelompoknya dua orang.

Langkah-langkah:

a. Peserta didik dibagi dalam tim (kelompok) yang saling berpasangan.

b. Setiap pasangan diberi tugas dan mengerjakannya.

c. Setelah selesai, setiap pasangan bertukar dengan pasangan lainnya.

d. Pasangan baru berdiskusi saling menanyakan dan mengukuhkan jawabannya

e. Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan disampaikan kepada pasangan semula.

 Informasi Tambahan 3.4

Prinsip-prinsip Pembelajaran Kooperatif

Agar efektif, pembelajaran kooperatif perlu memenuhi ketentuan berikut:

1. Adanya saling ketergantungan yang positif (positive interdependence): semua anggota dalam kelompok saling bergantung dalam mencapai tujuan kelompok.  Tugas kelompok hanya bisa diselesaikan melalui kerja semua anggota kelompok;

2. Adanya tanggung jawab pribadi (individual accountability) yang terwujud dalam kontribusi aktif tiap anggota kelompok;

3. Ada tagihan kerja kelompok dan tagihan kerja individual;

4. Komposisi anggota dalam kelompok heterogen meskipun kadang-kadang peserta didik boleh membentuk kelompok sesuai pilihan sendiri;

5. Bentuk pembelajaran kooperatif harus cocok dengan jenis tugas.

Presentasi Unit 3

 

UNIT 4

 PEMANFAATAN LINGKUNGAN

DAN BERBAGAI SUMBER BELAJAR

PENDAHULUAN

Lingkungan belajar sangat berperan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Lingkungan yang dikelola dengan baik dapat dimanfaatkan, baik sebagai media maupun sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan dalam proses belajar-mengajar dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dan efektivitas belajar. Karena itu, pengelolaan lingkungan belajar merupakan bagian yang penting dalam proses belajar-mengajar. Atas dasar pertimbangan itu, lingkungan perlu ditata kembali.

Menata lingkungan belajar di kelas berkaitan erat dengan keadaan fisik kelas, seperti suhu, sirkulasi udara, dan interior. Hal-hal seperti itu biasanya sudah terstandar dan tidak mudah diatur kembali, kecuali merawat dan menjaga kebersihannya. Karena itu, kita perlu alihkan perhatian kepada hal-hal yang relevan guna menunjang proses belajar-mengajar, seperti  pengaturan ruangan, pengelolaan lingkungan, dan pemanfaatan sumber belajar yang ada di lingkungan.

Pada umumnya sumber belajar saat ini terbatas pada guru dan buku pelajaran. Padahal banyak sumber lain baik di dalam maupun luar kelas.

Lingkungan sekolah meliputi lingkungan alam, sosial, dan budaya. Lingkungan alam di sekitar sekolah menyediakan beragam sumber

belajar seperti air, tanah, dan udara serta dilengkapi berbagai jenis makhluk hidup dan beragam benda. Lingkungan sosial dan budaya di sekitar sekolah dapat berupa masyarakat dengan kegiatan manusia, tata-cara, dan adat -istiadat. Di samping itu, pada era informasi anak-anak juga akrab dengan media cetak dan elektronik yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber belajar.

Dalam pelaksanaan kurikulum, guru juga perlu mempertimbangan peristiwa atau fenomena yang aktual di masyarakat yang patut dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Ketika terjadi peristiwa luar biasa tsunami di Aceh jarang sekali sekolah-sekolah di Indonesia yang membahas Tsunami, padahal sekolah-sekolah lain di mancanegara mengangkatnya sebagai tema, topik, atau pokok bahasan dalam proses belajar-mengajar.

TUJUAN

Setelah kegiatan pembahasan  sesi ini, diharapkan peserta mampu:

  • Menjelaskan apa yang dimaksud dengan lingkungan.
  • Mengidentifikasi benda, kegiatan, fenomena, dan peristiwa di lingkungan sekolah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar.
  • Memberi contoh pemanfaatannya dalam proses belajar-mengajar.

Pertanyaan Kunci

  1. Apa sajakah hal-hal dari lingkungan yang dapat dijadikan sumber belajar?
  2. Apa sajakah kegiatan belajar yang dapat dilakukan dari suatu sumber belajar di lingkungan?

SUMBER DAN BAHAN

Pada sesi ini kegiatan perlu dilengkapi dengan:

  • Gambar dan foto dari media cetak dan elektronik.
  • Lembar kerja untuk setiap peserta agar diskusi dalam kelompok semua peserta memahami lingkup dan tujuan pembahasan.
  • Handout untuk memperkaya wawasan peserta.
  • ATK: kertas plano dan spidol.

WAKTU

Waktu yang disediakan untuk kegiatan dalam sesi ini adalah 90 menit. Fasilitator perlu disiplin memanfaatkan waktu agar peserta dapat membahas LK yang disediakan secara tuntas.

ICT

Untuk mendukung kegiatan sesi ini perlu disediakan:

  • Komputer (laptop atau desktop)
  • Proyektor LCD
  • Layar proyektor LCD

LANGKAH KEGIATAN

Perincian langkah-langkah kegiatan.

Introduction – Pendahuluan (10 menit)

  1. Fasilitator membahas isu-isu tentang sumber belajar dan pelaksanaan pemanfaatan lingkungan di sekolah, misalnya:
  • Sumber belajar yang paling sering digunakan dalam proses belajar-mengajar.
  • Contoh-contoh jenis pemanfaatan lingkungan yang pernah dimanfaatkan dalam proses belajar-mengajar.

2.  Fasilitator menyampaikan tujuan sesi kepada peserta bahwa setelah kegiatan sesi ini peserta diharapkan mampu:

  • Menjelaskan apa yang dimaksud dengan lingkungan.
  • Mengidentifikasi benda, kegiatan, fenomena, dan peristiwa di lingkungan sekolah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar.
  • Memberi contoh pemanfaatannya dalam proses belajar-mengajar.

Connection – Pengaitan (10 menit)

Ungkap Pengalaman

Fasilitator mengundang partisipasi peserta untuk menyampaikan pengalaman dalam melaksanakan pemanfaatan lingkungan di sekolah sendiri, misalnya dengan mengajukan pertanyaan, antara lain sbb:

  1. Apa sajakah dari lingkungan yang pernah dimanfaatkan sebagai sumber belajar dan untuk kegiatan apa saja?

Application Penerapan (60 menit)

  1. Fasilitator menayangkan foto-foto pemanfaatan lingkungan di sekolah untuk berbagai kegiatan belajar peserta didik;
  2. Fasilitator membagikan lembar kerja kepada setiap kelompok (yang sudah dibentuk sebelumnya), untuk mendiskusikan hal-hal sbb:
  • Mengidentifikasi benda, kegiatan, fenomena, dan peristiwa di lingkungan sekolah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar.
  • Memberi contoh pemanfaatannya dalam proses belajar-mengajar.
  1. Fasilitator meminta semua hasil diskusi kelompok dipajang di dekat tempat duduk kelompok. Salah seorang anggota kelompok ditunjuk untuk menjaganya. Anggota kelompok lain diminta berkunjung ke kelompok lain untuk memberikan tanggapan, pertanyaan, masukan, dan saran. Tiap 3 menit fasilitator meminta tiap kelompok untuk berpindah berkunjung ke kelompok lain.

Penguatan

  1. Fasilitator menayangkan salah satu atau dua hasil kerja kelompok kemudian memberikan komentar bersama peserta, khususnya ketepatan kegiatan belajar untuk suatu sumber belajar tertentu.

Reflection – Refleksi (10 menit)

  1. Fasilitator meminta kepada peserta untuk mengajukan pertanyaan apa yang masih membingungkan.
  2. Pada akhir kegiatan, peserta dipersilahkan untuk merefleksikan bagian mana tujuan sesi ini yang belum tercapai.

ExtensionPengayaan

Peserta diminta menerapkan pengetahuannya agar mengatur pemanfaatan lingkungan hasil karya peserta yang diproduksi selama pelatihan. Yang lebih penting fasilitator menganjurkan kepada peserta bahwa mengingat pentingnya pemanfaatan lingkungan dalam proses belajar-mengajar dan dampaknya terhadap peserta didik, peserta perlu merencanakan untuk mempraktikkannya di kelas/sekolah masing-masing.

LEMBAR KERJA

Tentukan sumber belajar dan berikan contoh kegiatan belajar yang bisa dilakukan oleh peserta didik

Sumber Belajar

Contoh

Kegiatan Belajar Peserta didik

 

Benda konkret tunggal

Ekosistem empang

Mengamati, menggambar, mendeskripsikan komponen ekosistem empang

Benda konkret dua jenis

Jagung dan tomat

Mengidentifikasi persamaan

………………………………………

Benda konkret sejenis dan banyak jumlahnya

Sekeranjang tomat

Mengamati, menggambar, mendeskripsi ciri-cirinya.

Mengklasifikasi berdasarkan kriteria tertentu (berat, garis tengah, warna, dsb.)

Kegiatan manusia

Bertani

Menyusun daftar pertanyaan, melakukan dan melaporkan hasil wawancara

Wawancara dan pelaporan tentang pekerjaan

Kegiatan masyarakat

Pasar

…….

Peristiwa alam

Gempa bumi

…….

…….

…….

…….

Media cetak

Arikel flu burung

…….

Media elektronik

VCD tentang proses Pembuahan

…….

 

Informasi Tambahan

Pemanfaatan Sumber Belajar

Pada umumnya sumber belajar saat ini terbatas pada  guru dan buku pelajaran. Padahal, banyak tersedia dan terjangkau sumber belajar lain, baik di dalam maupun di luar kelas, yang meliputi lingkungan alam, sosial, dan budaya. Berikut ini dikemukakan contoh-contoh di mana lingkungan sekolah dan peristiwanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Di samping itu, media cetak dan elektronik juga perlu dimanfaatkan sebagai sumber belajar.

Presentasi Unit 4


 

UNIT 5

Pengorganisasian Kelas

 Pendahuluan

Pengorganisasian kelas sangat berperan dalam menciptakan suasana yang mendorong peserta didik untuk belajar. Pengorganisasian kelas meliputi (1) pengaturan fisik kelas seperti pengaturan meja-kursi peserta didik, penataan sumber dan alat bantu belajar, dan penataan pajangan hasil karya peserta didik; serta (2) Pengaturan kerja peserta didik dalam belajar: Kerja individual, kerja berpasangan, atau kerja kelompok.

Penataan meja-kursi peserta didik paling sedikit memenuhi 4 hal: 1) Mobilitas, memudahkan peserta didik untuk bergerak dari satu pojok ke pojok lain, 2) Aksesibilitas, memudahkan peserta didik mengakses sumber dan alat bantu belajar, 3) Interaksi, memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan sesama teman dan gurunya, dan 4) Fleksibilitas, memudahkan peserta didik melakukan berbagai  kegiatan yang beragam, misal berdiskusi, melakukan percobaan, dan presentasi.

Penataan sumber dan alat bantu belajar hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga sumber belajar mudah diakses oleh peserta didik maupun guru. Misal penempatan alat bantu belajar di tengah ruangan memungkinkan semua peserta didik memiliki jarak yang relatif sama dalam mengaksesnya daripada alat tersebut ditempatkan di salah satu pojok ruangan.

Penataan pajangan hasil karya peserta didik selain perlu memenuhi aspek estetika (keindahan) juga perlu diatur sedemikian rupa sehingga berada dalam jangkauan pandang/sentuh peserta didik agar mereka benar-benar memperoleh manfaat dari pemajangan hasil karya tersebut.

Pengaturan kerja peserta didik dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan individual sekaligus kecakapan sosial peserta didik. Pengaturan kerja peserta didik dalam belajar mereka harus disesuaikan dengan jenis tugas sehingga tidak terjadi tugas yang semestinya dikerjakan secara individual dikerjakan secara berkelompok yang berakibat pada kurang berkembangnya kemampuan individual peserta didik.

Tujuan

Para peserta menyadari pentingnya pemanfaatan lingkungan kelas sebagai sumber belajar yang efektif untuk pembelajaran. Setelah mengikuti sesi ini, peserta pelatihan diharapkan mampu:

Mengatur letak meja-kursi kelas yang kondusif untuk belajar aktif;

Menentukan jenis pengelolaan peserta didik (individual, berpasangan, berkelompok, atau klasikal) sesuai dengan jenis kegiatan belajarnya (mengarang, berdiskusi, melakukan percobaan, membuat laporan, dsb).

Pertanyaan Kunci

Bagaimana menata fisik kelas sehingga menunjang belajar aktif peserta didik?;

Apa saja jenis pengorganisasian kegiatan (individual, berpasangan, kelompok, atau klasikal) yang sesuai dengan jenis kegiatan belajar peserta didik (mengarang, berdiskusi, melakukan percobaan, membuat laporan, dsb).?

Sumber dan Bahan

Kertas flipchart, Spidol, Plester

Handout Peserta 5.1: Pengaturan Perabotan untuk Mendorong Pembelajaran Kooperatif.

Potongan-potongan kertas yang melambangkan meja peserta didik lengkap dengan denah ruang kelas dengan perbandingan ukuran yang sesuai dengan ukuran kelas rata-rata (Ukuran ruang kelas: 8 m x 7 m dan jumlah peserta didik 40 orang, ukuran meja: 110 x 55 cm). Potongan kertas tersebut dimasukkan kedalam sebuah amplop.

Waktu

Waktu yang digunakan untuk menyampaikan sesi ini adalah selama 90 menit. Perincian alokasi penggunaan waktu tersebut dapat dilihat pada setiap tahapan dari sesi ini.

ICT

Berikut ini adalah peralatan ICT yang harus disediakan, namun apabila tidak bisa ditemukan di tempat pelatihan, fasilitator dapat menggantikannya dengan OHP atau kertas flipchart.

Proyektor LCD

Komputer desktop atau laptop.

Layar proyektor LCD

Energizer

Anda dapat menggunakan energizer berikut ini pada awal sesi, yaitu permainan Persegi. Caranya peserta diminta menyebutkan jumlah persegi yang dapat mereka lihat dari tayangan power point atau gambar di papan tulis. Jawaban peserta akan bervariasi sesuai dengan persepsi masing-masing, Bila ada yang menjawab jumlahnya 16, maka mereka berarti tidak berani keluar dari 16 seperti orang pada umumnya melihat.

Pesan utama dari Energizer ini adalah guru dalam mengajar sering berkutat pada hal-hal yang biasa terjadi atau masuk zona aman termasuk dalam hal mengatur lingkungan kelas. Guru tidak  berani mencoba sesuatu yang inovatif, keluar dari kebiasaan.

(Kunci, lihat catatan fasilitator – 1)

  Ringkasan sesi

Penyajian unit 5 ini dilaksanakan secara pleno dengan rincian sebagai berikut:

60’

Application

  • Penyusunan Alternatif Pengaturan Meja-kursi kelas
  • Identifikasi jenis pengelolaan peserta didik dan jenis pengelolaan kegiatan
  • Diskusi
  • Kaji hasil kerja

 

 

 

5’

Reflection

Periksa ketercapaian tujuan sesi

Ungkap hal yg membingungkan

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction – Pendahuluan (5 menit)

(6)      Jelaskan latar belakang yang menjadi alasan pembahasan topik ini, yaitu:

  1. Pengaturan meja-kursi peserta didik sering kurang menunjang mobilitas peserta didik dan guru;
  2. Pemilihan jenis pengelolaan peserta didik sering tidak cocok dengan jenis kegiatan belajar.

(7)      Jelaskan tujuan sesi ini, yaitu setelah sesi ini berakhir peserta mampu:

  1. Merumuskan kriteria pengaturan meja-kursi peserta didik sehingga menunjang belajar aktif;
  2. Menemukan berbagai kemungkinan letak meja-kursi peserta didik yang menunjang belajar aktif;
  3. Mengidentifikasi jenis pengelolaan peserta didik yang cocok dengan jenis kegiatan belajar.

Connection – Pengaitan  (20 menit)

(1)    Gunakan energizer untuk mendorong peserta melakukan inovasi (pembaharuan) berkaitan dengan pengaturan meja-kursi peserta didik dan identifikasi jenis kegiatan dan jenis pengelolaan peserta didik.

1

 

 

Catatan untuk Fasilitator

Waktu untuk ’enegizer’ tersedia maksimal hanya 3 menit.

Kunci Jawaban

Persegi 1 x 1 ada 16

Persegi 2 x 2 ada   9

Persegi 3 x 3 ada   4

Persegi 4 x 4 ada   1

Jadi total ada 30 persegi.

(2)    Curah pendapat dengan mengajukan pertanyaan kepada peserta:

  • Apa saja kriteria pengaturan meja-kursi peserta didik agar menunjang Belajar Aktif?
  • Apa saya kegiatan belajar yang cocok untuk klasikal, kelompok, pasangan, atau individual?

Tuliskan jawaban peserta pada kertas flipchart.

Application – Penerapan (40 menit)

Kegiatan 1a: Merancang Tata-letak Meja Kursi

(8)      Peserta secara berkelompok (4 – 6 orang):

  1. merancang berbagai tata-letak meja-kursi yang menunjang belajar aktif;
  2. Menuliskan kriteria tata letak meja-kursi tersebut;
  3. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan masing-masing tata letak meja-kursi tsb;

(Hasil ditulis pada kertas flipchart dan dipajangkan di dinding)

 

2

 

 

Catatan untuk Fasilitator

Tata-letak Meja-kursi peserta didik: Saat ini sebagian besar ruang kelas disusun secara klasikal. Anak duduk berbaris sehingga terkondisikan untuk mendengarkan guru berceramah. Untuk belajar aktif pengelolaan meja-kursi harus sedemikian rupa sehingga memenuhi kriteria/prinsip: fleksibilitas/luwes (untuk berbagai variasi kegiatan), mobilitas (kemudahan peserta didik-guru bergerak), aksesibilitas (kemudahan peserta didik untuk mengakses sumber/alat bantu belajar, dan interaksi (memudahkan peserta didik untuk berinteraksi terutama dengan temannya).

Kegiatan 1b: Diskusi Kelas dan Penguatan

(9)      Fasilitator memimpin diskusi kelas untuk membahas kriteria penyusunan meja-kursi berpandu pada pertanyaan:

a. Apa saja kriteria susunan meja-kursi yang menunjang belajar aktif?

(Hasil diskusi ditulis di papan tulis/kertas flipchart sehingga semua peserta melihatnya)

(10)   Fasilitator menayangkan ’power point’ kriteria susunan meja-kursi yang menunjang belajar aktif;

 

3

 

 

Catatan untuk Fasilitator

Kriteria Susunan Meja-kursi:

1. Mobilitas, memudahkan peserta didik untuk bergerak dari satu pojok ke pojok lain.

2. Interaksi, memudahkan peserta didik untuk berinteraksi dengan sesama teman dan gurunya.

3. Fleksibilitas, memudahkan peserta didik melakukan berbagai  kegiatan yang beragam,  misal berdiskusi, melakukan percobaan, dan presentasi.

4. Aksesibilitas, memudahkan peserta didik mengakses sumber dan alat bantu belajar.

(11)   Peserta saling berkunjung mengamati dan memberikan komentar terhadap hasil kerja kelompok lain berpandu pada pertanyaan:

  • Sejauhmana konfigurasi susunan meja-kursi memenuhi kriteria fleksibilitas, aksesibilitas, mobilitas, dan interaksi;

(Tiap kelompok menempatkan wakil yang menunggui hasil kerjanya).

 

Kegiatan 2a: Mengidentifikasi Jenis Kegiatan Belajar – Jenis Pengelolaan Peserta didik.

(1) Peserta secara berkelompok (4-6 orang) mengidentifikasi jenis kegiatan belajar yang cocok untuk masing-masing jenis pengelolaan peserta didik (kerja individual, kerja berpasangan, kerja kelompok, klasikal). (Gunakan handout 5. 1: Jenis Kegiatan Belajar – Jenis Pengelolaan Peserta didik).

 

(2) Peserta saling mengamati dan memberikan komentar terhadap hasil kerja dengan cara menyerahkan hasil kerjanya ke kelompok lain. Komentar berfokus pada:

  • sejauhmana kesesuaian jenis pengelolaan peserta didik dengan jenis kegiatan belajarnya.

Kegiatan 2b: Diskusi Kelas dan Penguatan

(3) Fasilitator memimpin diskusi kelas untuk membahas kecocokan antara jenis pengelolaan peserta didik dan jenis kegiatan belajar.

(Hasil diskusi ditulis di papan tulis/kertas flipchart sehingga semua peserta melihatnya)

(4) Fasilitator menayangkan ‘power point’ Kegiatan Belajar – Jenis Pengelolaan Peserta didik.

Reflection – Refleksi (5 menit)

(1)      Fasilitator meminta peserta untuk mengecek apakah tujuan dari sesi ini telah tercapai atau belum.

(2)      Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menuliskan hal-hal yang masih membingungkan.

 

Extension – Pengayaan

Peserta mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan pengaturan meja-kursi tertentu kemudian melakukan perubahan untuk mengurangi kelemahan;

Peserta menidentifikasi berbagai alternatif lain paduan antara jenis pengelolaan peserta didik (individual, berpasangan, kelompok, atau klasikal)  dan jenis kegiatan belajar peserta didik (mengarang, berdiskusi, melakukan percobaan, membuat laporan, dsb).

Pesan Utama

  1. Pengaturan meja-kursi peserta didik sejauh mungkin memenuhi kriteria fleksibilitas, aksesibilitas, mobilitas, dan interaksi;
  2. 2.     Pemilihan jenis pengelolaan peserta didik harus cocok dengan jenis kegiatan belajarnya.
     Tambahan Informasi

 

Berbagai Pengaturan Meja-Kursi di Kelas

ontoh letak meja-kursi untuk 40 peserta didik yang biasanya digunakan di kelas-kelas.

Contoh pengaturan kelas tradisional

Contoh letak meja-kursi untuk 40 peserta didik yang menunjang belajar aktif

Contoh letak meja-kursi yang menunjang belajar aktif

 Handout 5.1

Jenis Kegiatan Belajar – Jenis Pengelolaan Peserta didik

 

Jenis Pengelolaan peserta didik

 

Jenis Kegiatan Belajar

Klasikal
Kelompok
Berpasangan
Individual


Presentasi Unit 5


 


 

UNIT 6

pajangan

PENDAHULUAN

Pajangan (display) adalah pameran hasil karya peserta didik. Dalam pelaksanaan belajar aktif, diharapkan peserta didik dapat menghasilkan buah karya. Hasil karya tersebut memuat gagasan peserta didik yang diungkapkan baik secara lisan atau tulisan dengan kata atau kalimat sendiri. Sebagai hasil belajar, hasil karya dapat berbentuk dua dimensi  (karangan, laporan, puisi, naskah drama, naskah pidato, naskah cerpen, laporan observasi, dan laporan percobaan) atau tiga dimensi ( miniatur, model, peta timbul, kerajinan tangan, model pesawat, dan sirkuit listrik).

Semua hasil karya peserta didik perlu dipamerkan sebagai salah satu bentuk akuntabilitas sekolah kepada publik  bahwa sekolah telah membelajarkan peserta didiknya dengan hasil-hasil seperti yang diekspressikan dalam hasil karya peserta didiknya. Alasan lain pajangan dilakukan adalah untuk keperluan pedagogis, misalnya untuk memotivasi peserta didik agar lebih bersemangat dalam belajar, sebagai ajang kreativitas dan komunikasi, agar peserta didik dapat melakukan penilaian diri (self asessment) dan mendapat umpan balik dengan membandingkan hasil karya sendiri dengan karya temannya

TUJUAN

Setelah kegiatan pembahasan “Pajangan”, diharapkan peserta mampu:

  • Menjelaskan apa yang dimaksud dengan pajangan
  • Mendeskripsikan manfaat pajangan
  • Menentukan apa saja yang harus dipajang dan tidak perlu dipajang
  • Merumuskan kriteria hasil kerja yang akan dipajang
  • Menetapkan cara memajangkan hasil kerja peserta didik
  • Menentukan berapa lama / kali pajangan harus diganti

SUMBER DAN BAHAN

Pada sesi ini kegiatan perlu dilengkapi dengan:

  • Handout 6.1: Pajangan
  • ATK: kertas plano, spidol, selotip kertas.

WAKTU

Waktu yang disediakan untuk kegiatan dalam sesi “Pajangan” adalah 90 menit. Fasilitator perlu disiplin memanfaatkannya waktu yang ada sehingga peserta dapat membahas LK yang disediakan secara tuntas.

ICT

Untuk mendukung kegiatan sesi ini perlu disediakan:

  • Computer (laptop atau desktop)
  • Proyektor LCD
  • Layar proyektor LCD

Fasilitator harus siap dengan alat pengganti bila peralatan di atas tidak diperoleh.

LANGKAH KEGIATAN

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction Pendahuluan (10 menit)

1.  Fasilitator membahas isu-isu dan pengelolaan pajangan di sekolah, misalnya:

  • Pajangan yang membuat sekolah menjadi kotor dan kumuh
  • Pajangan tidak pernah diganti, cenderung hanya ingin menunjukkan ke dunia luar bahwa sekolah sudah menerapkan pajangan.
  • Yang dipajang sebagian besar berupa hasil ulangan/tes dan karya guru hasil KKG/MGMP, tidak banyak yang berupa hasil karya peserta didik.
  • dan sebagainya.

2.  Fasilitator menyampaikan tujuan sesi kepada peserta yaitu setelah kegiatan sesi ini peserta diharapkan mampu:

  • Memahami apa yang dimaksud dengan pajangan
  • Menjelaskan pengertian dan manfaat pajangan
  • Menentukan apa saja yang harus dipajang dan tidak perlu dipajang
  • Merumuskan kriteria hasil kerja yang akan dipajang?
  • Menetapkan cara memajangkan hasil kerja peserta didik?
  • Menentukan berapa lama/kali pajangan harus diganti?

Connection Penerapan (10 menit)

  1. Fasilitator meminta peserta untuk menyampaikan pengalaman dalam mengelola pajangan di sekolah sendiri atau hasil kunjungan di sekolah lain, misalnya dengan mengajukan pertanyaan antara lain sbb:
  • Hasil karya peserta didik apa saja yang Saudara pernah pajangkan?
  • Apa tujuan Saudara memajangkan hasil karya peserta didik?

Application Penerapan (60 menit)

  1. Fasilitator menayangkan foto-foto pajangan hasil karya peserta didik di sekolah dan melontarkan pertanyaan, misalnya:
  • Apa sebetulnya fungsi pajangan?

Biarkan peserta menanggapi apa fungsi pajangan dan tidak perlu ditanggapi. Dalam kerja kelompok berikut peserta diberi kesempatan membahas secara terfokus hal-hal yang berkaitan dengan pajangan.

  1. Peserta secara berkelompok (4 – 6 orang) mendiskusikan hal-hal berikut:

a)     Apa fungsi/manfaat pajangan?

b)    Apa saja yang harus dipajang dan tidak perlu dipajang?

c)    Hasil kerja anak mana saja (pandai, sedang, kurang) yang akan dipajang?

d)    Bagaimana cara memajangkan dan kriteria apa yang digunakan untuk memajangkan hasil kerja anak.

e)    Berapa lama/kali pajangan harus diganti?

  1. Fasilitator meminta salah satu kelompok mempresentasikan di depan kelas dan kelompok lain menanggapi untuk perbaikan. Fasilitator memandu diskusi agar penanggap tidak perlu mengemukakan hal yang sama atau melaporkan hasil kerja kelompok sendiri.

Reflection Refleksi (5 menit)

Fasilitator meminta kepada peserta untuk:

  1. memeriksa sejauhmana tujuan sesi ini tercapai?
  2. mengungkapkan hal yang masih belum dipahami

ExtensionPengayaan

Peserta diminta mempraktikkan pengetahuan tentang pajangan (hakikat, kreteria, dan fungsi pajangan) di sekolah masing-masing.

 Handout Peserta 6.1: Pajangan

Amatilah pajangan berikut kemudian diskusikanlah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini.

  1. Apa fungsi/manfaat pajangan?
  2. Apa saja yang harus dipajang dan tidak perlu dipajang?
  3. Hasil kerja anak mana saja (pandai, sedang, kurang) yang akan dipajang?
  4. Bagaimana cara memajangkan dan kriteria apa yang digunakan untuk memajangkan hasil kerja anak.
  5. Berapa lama/kali pajangan harus diganti?

Bahan untuk Fasilitator dan Peserta

Pajangan Hasil Karya Peserta didik

  1. 1.    Apa manfaat pajangan?
  • Membuat kelas lebih menarik
  • Anak mudah mendapat gagasan dari apa yang dipajangkan
  • Yang dipajangkan kadang-kadang dipilih contoh yang baik untuk diikuti atau ditiru oleh anak lainnya.
  • Pajangan memotivasi anak yang pekerjaannya dipajangkan dan juga memotivasi anak yang lain untuk mengerjakan hal yang sama.
  1. 2.    Apa saja yang harus dipajang?
  • Hasil kerja anak apa saja yang akan dipajang?
  • Tulisan anak seperti cerita, karangan, puisi, laporan, buku yang dibuat oleh anak, model, grafik, gambar, dan hasil kerajinan atau kesenian.
  • Hasil pekerjaan anak yang menunjukkan ada unsur kreativitas dan menarik untuk dilihat dan dibaca sebaiknya dipajangkan.
  • Contoh-contoh hasil kerja anak yang baik untuk dipajangkan
  • Sering pula hasil kerja anak yang lambat (slow learners) perlu dipajangkan untuk memotivasi mereka
  • Selain itu, apa saja yang bisa dipajang?
  • Gambar, chart, diagram, dan benda-benda yang relevan dengan kegiatan yang sedang dibahas di kelas.
  • Buku untuk anak yang harus dibaca dan dilihat
  • Bahan, sumber belajar, dan peralatan yang sedang digunakan untuk kegiatan belajar.
  1. 3.    Apa yang seharusnya tidak dipajang?
  • Latihan rutin
  • Hasil kerja yang kurang benar atau tidak bagus untuk contoh, misalnya tidak rapi, terlalu banyak kesalahan dan/atau tidak dikerjakan dengan hati-hati.


  1. 4.    Bagaimana cara memajangkan hasil kerja anak?
  • Mudah dibaca oleh anak (tidak terlalu tinggi)
  • Pekerjaan anak hendaknya dipajangkan secara individual dengan demikian dapat dibaca dengan mudah. Pajangan sebaiknya tidak bercampur dengan yang lain atau tidak dalam bundelan.
  • Yang dipajangkan hendaknya dalam keadaan bersih, rapi, dan menarik.
  • Benda yang dipajangkan dapat ditempel di dinding, digantung di langit-langit ruangan, atau diatur di atas meja pamer.
  1. 5.    Kriteria apa yang digunakan untuk memajangkan hasil kerja anak.
  • Apakah menarik bagi yang lain untuk dibaca?
  • Apakah mendorong peserta didik lain belajar dari contoh yang baik?
  • Apakah mendorong orang untuk memperhatikannya?
  1. 6.    Berapa lama/kali pajangan harus diganti?
  • Ketika sudah tidak menarik lagi
  • Telah menjadi kotor atau tidak berfungsi lagi sebagai sumber belajar

 

Catatan: Tempat pajangan tidak perlu dikhususkan (diberi label) untuk mata pelajaran tertentu. INI TAK PERLU KARENA MEMBATASI GURU

Presentasi Unit 6

 


UNIT 7

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

PENDAHULUAN

Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan di tingkat pendidikan dasar tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

(i)    Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.

(ii)   Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi.

(iii)  Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peran serta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.

Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management).

TUJUAN

Setelah mengikuti sesi ini,  peserta mampu:

  1. Memahami pengertian manajemen berbasis sekolah (MBS);
  2. Memahami tujuan MBS dikembangkan;
  3. Memahami prinsip-prinsip MBS
  4. Memahami unsur-unsur MBS
  5. Mengidentifikasi ciri-ciri sekolah yang menerapkan MBS

SUMBER DAN BAHAN

Sumber dan bahan yang diperlukan dalam sesi ini adalah:

  1. Handout peserta 6.1: Informasi MBS
  2. Bahan Bacaan untuk Peserta “Manajemen Berbasis Sekolah”
  3. Kertas flipchart, spidol, selotip kertas, gunting/cutter

WAKTU

Waktu yang disediakan untuk kegiatan dalam sesi ini adalah 90 menit.

ICT

Untuk mendukung kegiatan sesi ini perlu disediakan:

  • Computer (laptop atau desktop)
  • Proyektor LCD
  • Layar proyektor LCD

Fasilitator harus siap dengan alat pengganti bila peralatan di atas tidak diperoleh.

LANGKAH KEGIATAN

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction Pendahuluan (5 menit)

(1) Fasilitator menyampaikan uraian singkat tentang kebijakan Pemerintah khususnya tentang perubahan kebijakan dari “Sentralistik/Terpusat” ke “Desentralistik”;

(2) Fasilitator menyampaikan latar belakang mengapa topik ini dibahas, tujuan sesi, dan pertanyaan kunci (Lihat power point).

Connection Pengaitan (20 menit)

Fasilitator meminta peserta untuk menyampaikan pengalaman/pengetahuan mereka berkaitan dengan manajemen berbasis sekolah (MBS) berpandu pada pertanyaan:

  1. a.  Apa pengertian tentang manajemen berbasis sekolah (MBS)?
  2. b.  Apa saja prinsip-prinsip MBS?
  3. c.  Apa contoh tindakan manajemen sekolah yang selaras dengan salah satu prinsip

MBS?

Application Penerapan (60 menit)

(1)  Peserta membaca handout 6.1: Informasi MBS dan bahan bacaan “Manajemen Berbasis Sekolah”

(2)  Dari bacaan tersebut pada butir (1), peserta mengidentifikasi:

  1. Komponen MBS
  2. Prinsip MBS
  3. Tujuan MBS

(3)  Fasilitator menayangkan komponen MBS, prinsip-prinsip MBS, dan tujuan MBS;

(4)  Peserta secara berkelompok (4 – 6 orang) merumuskan/mengidentifikasi tindakan-tindakan manajemen sekolah berkaitan dengan prinsip-prinsip MBS;

(5)  Peserta saling mengkaji dan memberikan komentar terhadap hasil kelompok lain dengan cara: a) mengunjungi/mengmati hasil kerja kelompok lain, b) menyerahkan hasil kerja kelompoknya ke kelompok lain, atau c) menyajikan hasil kelompoknya di depan kelas;

(6)  Fasilitator menayangkan hasil kerja salah satu atau dua kelompok dan membahas/memberikan komentar bersama peserta sebagai penguatan. (Usahakan yang ditampilkan mewakili hasil yang sudah tepat maupun yang belum tepat).

Reflection Refleksi (5 menit)

Peserta memeriksa sejauhmana tujuan sesi ini telah tercapai dan mengungkapkan apa saja materi dari sesi ini yang masing membingungkan.

ExtensionPengayaan

Peserta mengidentifikasi lagi tindakan manajemen sekolah yang cocok dengan prinsip-prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS): otonom, partisipatif, akuntabel, dan transparan (‘OPAT’)
Handout Peserta

7.1 Informasi MBS

MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH (MBS)

Pengantar

Telah banyak usaha peningkatan mutu pendidikan di tingkat pendidikan dasar tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan. Dari berbagai studi dan pengamatan langsung di lapangan, hasil analisis menunjukkan bahwa paling tidak ada tiga faktor yang menyebabkan mutu pendidikan tidak mengalami peningkatan secara merata.

(iv)  Pertama, kebijakan penyelenggaraan pendidikan nasional yang berorientasi pada keluaran pendidikan (output) terlalu memusatkan pada masukan (input) dan kurang memperhatikan pada proses pendidikan.

(v)   Kedua, penyelengaraan pendidikan dilakukan secara sentralistik. Hal ini menyebabkan tingginya ketergantungan kepada keputusan birokrasi dan seringkali kebijakan pusat terlalu umum dan kurang menyentuh atau kurang sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah setempat. Di samping itu segala sesuatu yang terlalu diatur menyebabkan penyelenggara sekolah kehilangan kemandirian, insiatif, dan kreativitas. Hal tersebut menyebabkan usaha dan daya untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu layanan dan keluaran pendidikan menjadi kurang termotivasi.

(vi)  Ketiga, peran serta masyarakat terutama orangtua peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan selama ini hanya terbatas pada dukungan dana. Padahal peran serta mereka sangat penting di dalam proses-proses pendidikan antara lain pengambilan keputusan, pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas.

Atas dasar pertimbangan tersebut, perlu dilakukan reorientasi penyelengaraan pendidikan melalui Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management).

Faktor Pendorong Perlunya Desentralisasi Pendidikan

Saat ini sedang berlangsung perubahan paradigma manajemen pemerintahan[1]. Beberapa perubahan tersebut antara lain,

(i)    Orientasi manajemen yang sarwa negara ke orientasi pasar. Aspirasi masyarakat menjadi pertimbangan pertama dalam mengolah dan menetapkan kebijaksanaan untuk mengatasi persoalan yang timbul.

(ii)   Orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian ke demokrasi. Pendekatan kekuasaan bergeser ke sistem yang mengutamakan peranan rakyat. Kedaulatan rakyat menjadi pertimbangan utama dalam tatanan yang demokratis.

(iii)  Sentralisasi kekuasaan ke desentralisasi kewenangan. Kekuasaan tidak lagi terpusat di satu tangan melainkan dibagi ke beberapa pusat kekuasaan secara seimbang.

(iv)  Sistem pemerintahan yang jelas batas dan aturannya seakan-akan menjadi negara yang sudah tidak jelas lagi batasnya (boundaryless organization) akibat pengaruh dari tata-aturan global. Keadaan ini membawa akibat tata-aturan yang hanya menekankan tata-aturan nasional saja kurang menguntungkan dalam percaturan global.

Fenomena ini berpengaruh terhadap dunia pendidikan sehingga desentralisasi pendidikan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Tentu saja desentralisasi pendidikan bukan berkonotasi negatif,  yaitu untuk mengurangi wewenang atau intervensi pejabat atau unit pusat melainkan lebih berwawasan keunggulan. Kebijakan umum yang ditetapkan oleh pusat sering tidak efektif karena kurang mempertimbangkan keragaman dan kekhasan daerah. Disamping itu membawa dampak ketergantungan sistem pengelolaan dan pelaksanaan pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat (lokal), menghambat kreativitas, dan menciptakan budaya menunggu petunjuk dari atas. Dengan demikian desentralisasi pendidikan bertujuan untuk memberdayakan peranan unit bawah  atau masyarakat dalam menangani persoalan pendidikan di lapangan. Banyak persoalan pendidikan yang sepatutnya bisa diputuskan dan dilaksanakan oleh unit tataran di bawah atau masyarakat. Hal ini sejalan dengan apa yang terjadi di kebanyakan negara. Faktor-faktor pendorong penerapan desentralisasi[2] terinci sbb.:

  • tuntutan orangtua, kelompok masyarakat, para legislator, pebisnis, dan perhimpunan guru untuk turut serta mengontrol sekolah dan menilai kualitas pendidikan.
  • anggapan bahwa struktur pendidikan yang terpusat tidak dapat bekerja dengan baik dalam meningkatkan partisipasi peserta didik bersekolah.
  • ketidakmampuan birokrasi yang ada untuk merespon secara efektif kebutuhan sekolah setempat dan masyarakat yang beragam.
  • penampilan kinerja sekolah dinilai tidak memenuhi tuntutan baru dari masyarakat
  • tumbuhnya persaingan dalam memperoleh bantuan dan pendanaan.

Desentralisasi pendidikan, mencakup tiga hal, yaitu;

  1. manajemen berbasis lokasi (site based management).
  2. pendelegasian wewenang
  3. inovasi kurikulum.

Pada dasarnya manajemen berbasis lokasi dilaksanakan dengan meletakkan semua urusan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Pengurangan administrasi pusat adalah konsekwensi dari yang pertama dengan diikuti pendelegasian wewenang dan urusan pada sekolah. Inovasi kurikulum menekankan pada pembaharuan kurikulum sebesar-besarnya untuk meningkatkan kualitas dan persamaan hak bagi semua peserta didik. Kurikulum disesuaikan benar dengan kebutuhan peserta didik di daerah atau sekolah. Pada kurikulum 2004 yang akan diberlakukan, pusat hanya akan menetapkan kompetensi-kompetensi lulusan dan materi-materi minimal. Daerah diberi keleluasaan untuk mengembangkan silabus (GBPP) nya yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan daerah. Pada umumnya program pendidikan yang tercermin dalam silabus sangat erat dengan program-program pembangunan daerah. Sebagai contoh, suatu daerah yang menetapkan untuk mengembangkan ekonomi daerahnya melalui bidang pertanian, implikasinya silabus IPA akan diperkaya dengan materi-materi biologi pertanian dan hal-hal lain yang berkaitan dengan pertanian. Manajemen berbasis lokasi yang merujuk ke sekolah, akan meningkatkan otonomi sekolah dan memberikan kesempatan kepada tenaga sekolah, orangtua, peserta didik, dan anggota masyarakat dalam pembuatan keputusan.

Berdasarkan hasil-hasil kajian yang dilakukan di Amerika Serikat, Site Based Management merupakan strategi penting untuk meningkatkan kualitas pembuatan keputusan-keputusan pendidikan dalam anggaran, personalia, kurikulum dan penilaian. Studi yang dilakukan di El Savador, Meksiko, Nepal, dan Pakistan menunjukkan pemberian otonomi pada sekolah telah meningkatkan motivasi dan kehadiran guru. Tetapi desentralisasi pengelolaan guru tidak secara otomatis meningkatkan efesiensi operasional.  Jika pengelola di tingkat daerah tidak memberikan dukungannya, pengelolaan semakin tidak efektif. Oleh karena itu, beberapa negara telah kembali ke sistem sentralisasi dalam hal pengelolaan ketenagaan, misalnya Kolombia, Meksiko, Nigeria, dan Zimbabwe[3].

Misi desentralisasi pendidikan adalah meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan, meningkatkan pendayagunaan potensi daerah, terciptanya infrastruktur kelembagaan yang menunjang terselengaranya sistem pendidikan yang relevan dengan tuntutan jaman, antara lain terserapnya konsep globalisasi, humanisasi, dan demokrasi dalam pendidikan. Penerapan demokratisasi dilakukan dengan mengikutsertakan unsur-unsur pemerintah setempat, masyarakat, dan orangtua dalam hubungan kemitraan dan menumbuhkan dukungan positif bagi pendidikan. Kurikulum dikembangkan sesuai dengan kebutuhan lingkungan. Hal ini tercermin dengan adanya kurikulum lokal. Kurikulum juga harus mengembangkan kebudayaan daerah dalam rangka mengembangkan kebudayaan nasional.

Proses belajar mengajar menekankan terjadinya proses pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran lingkungan yaitu memanfaatkan lingkungan baik fisik maupun sosial sebagai media dan sumber belajar, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan alat pemersatu bangsa[4].

Konsep Dasar MBS

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakikatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok kepentingan (stakeholder) yang terkait dengan sekolah secara langsung dalam proses pengambilan keputusan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan mutu sekolah atau untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Apabila manajemen berbasis lokasi lebih difokuskan pada tingkat sekolah, maka MBS akan menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dan tanggap terhadap kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada. Ciri-ciri MBS, bisa dilihat dari sudut sejauh mana sekolah tersebut dapat mengoptimalkan kinerja organisasi sekolah, pengelolaan SDM, proses belajar-mengajar dan sumber daya sebagaimana digambarkan dalam tabel berikut:

Ciri-ciri sekolah yang melaksanakan MBS

Organisasi Sekolah

Proses Belajar mengajar

Sumber Daya Manusia

Sumber Daya dan Administrasi

Menyediakan manajemen/organisas/ kepemimpinan transformasional *) dalam mencapai tujuan sekolah. Meningkatkan kualitas belajar peserta didik Memberdayakan staf dan menempatkan personel yang dapat melayani keperluan peserta didik Mengidentifikasi sumber daya yang diperlukan dan mengalokasikan sumber daya tsb. sesuai dengan kebutuhan
Menyusun rencana sekolah dan merumuskan kebijakan untuk sekolahnya sendiri Mengembangkan kurikulum yang cocok dan tanggap terhadap kebutuhan peserta didik dan masyarakat Memilih staf yang memiliki wawasan MBS Mengelola dan sekolah secara efektif dan efisien.
Mengelola kegiatan operasional sekolah Menyelenggarakan pembelajaran yang efektif Menyediakan kegiatan untuk pengembangan profesi pada semua staf Menyediakan dukungan administratif

Organisasi Sekolah

Proses Belajar mengajar

Sumber Daya Manusia

Sumber Daya dan Administrasi

Menjamin adanya komunikasi yang efektif antara sekolah dan masyarakat Menyediakan program pengembangan yang diperlukan peserta didik Menjamin kesejahteraan staf dan peserta didik Mengelola dan memelihara gedung dan sarana
Menggerakan partisipasi masyarakat Berperanserta dalam memotivasi peserta didik Menyelenggarakan forum / diskusi untuk membahas kemajuan kinerja sekolah
Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung-jawab kepada masyarakat dan pemerintah

Dikutip dari Focus on School: The Future Organization of Education Service for Student, Department of Education, Queensland, Australia

*) Pada dasarnya kepemimpinan transformasional memiliki tiga karakter, yaitu:

  • memiliki kharisma yang didalamnya termuat perasaan cinta antara KS dan staf secara timbal-balik sehingga memberikan rasa aman, percaya diri, dan saling percaya dalam bekerja;
  • memiliki kepekaan individual yang memberikan perhatian setiap staf berdasarkan minat dan kemampuan staf untuk pengembangan profesionalnya;
  • memiliki kemampuan dalam memberikan simulasi intelektual terhadap staf. KS mampu mempengaruhi staf untuk berfikir dan mengembangkan atau mencari berbagai alternatif baru[5].

Dengan demikian, MBS yang akan dikembangkan merupakan bentuk alternatif sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, yang ditandai dengan adanya otonomi luas di tingkat sekolah, partisipasi masyarakat yang tinggi tapi masih dalam kerangka kebijakan pendidikan nasional. Tetapi semua ini harus mengakibatkan peningkatan proses belajar mengajar. Sekolah yang menerapkan prinsip-prinsip MBS adalah sekolah yang harus lebih bertanggungjawab (high responsibility), kreatif dalam bertindak dan mempunyai wewenang lebih (more authority) serta dapat dituntut pertanggungjawabannya oleh yang ber-kepentingan/tanggung gugat (public accountability by stake holders).

Secara ringkas perubahan pola manajemen pendidikan lama (konvensional) ke pola baru (MBS) dapat digambarkan sebagai berikut:

Pergeseran pola manajemen

Pola Lama

Berubah ke

Pola MBS

Sentralistik Desentralisasi
Subordinasi Otonomi
Pengambilan keputusan terpusat Pengambilan keputusan partisipatif
Pedekatan birokratik Pendekatan profesional
Pengorganisasian yang hirarkis Pengorganisasian yang setara
Mengarahkan Memfasilitasi
Dikontrol dan diatur Motivasi diri dan saling mempengaruhi
Infromasi ada pada yang berwenang Informasi terbagi
Menghindari risiko Mengelola risiko
Menggunakan dana sesuai anggaran sampai habis Menggunakan uang sesuai kebutuhan dan seefisien mungkin.

Diharapkan dengan menerapkan manajemen pola MBS, sekolah lebih berdaya dalam beberapa hal berikut:

  • menyadari kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan bagi sekolah tersebut
  • mengetahui sumberdaya yang dimiliki dan “input” pendidikan yang akan dikembangkan
  • mengoptimalkan sumber daya yang tersedia untuk kemajuan lembaganya
  • bertanggungjawab terhadap orangtua, masyarakat, lembaga terkait, dan pemerintah dalam penyelengaraan sekolah
  • persaingan sehat dengan sekolah lain dalam usaha-usaha kreatif-inovatif untuk meningkatkan layanan dan mutu pendidikan.

 

Hasil rumusan yang dihasilkan peserta kemungkinan sangat banyak dan bervariasi. Pada akhir diskusi, fasilitator bersama-sama peserta mencoba mengklasifikasi dan menggabungkan rumusan yang sejenis sehingga diperoleh ciri-ciri Manajemen Berbasis Sekolah. Misalnya:

  • Upaya meningkatkan  peran serta Komite Sekolah, masyarakat, DUDI (dunia usaha dan dunia industri) untuk mendukung kinerja sekolah
  • Program sekolah disusun dan dilaksanakan dengan mengutamakan kepentingan proses belajar mengajar (kurikulum), bukan kepentingan administratif saja.
  • Menerapkan prinsip efektivitas dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya sekolah (anggaran, personil dan fasilitas)
  • Mampu mengambil keputusan yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi lingkungan sekolah walau berbeda dari pola umum atau kebiasaan.
  • Menjamin terpeliharanya sekolah yang bertanggung jawab kepada masyarakat.
  • Meningkatkan profesionalisme personil sekolah.
  • Meningkatnya kemandirian sekolah di segala bidang.
  • Adanya keterlibatan semua unsur terkait dalam perencanaan program sekolah (misal: KS, guru, Komite Sekolah, tokoh masyarakat,dll).
  • Adanya keterbukaan dalam pengelolaan anggaran pendidikan sekolah.

Presentasi Unit 7

UNIT 8

 

MENDORONG PERUBAHAN DI KELAS

 Pendahuluan

Dalam banyak kesempatan, ide-ide perubahan pembelajaran telah dikenalkan. Akan tetapi, ide tersebut seakan-akan hanya menjadi milik peserta pelatihan dan tidak diterapkan di dalam kelas. Uang, tenaga, dan waktu yang tak ternilai harganya hanya disia-siakan saja. Pembelajaran tetap tidak tersentuh perubahan, dan berjalan seperti semula sebelum guru mengikuti suatu pelatihan.

Untuk mendorong terjadinya perubahan, kehadiran seorang pemimpin sangat diperlukan. Pemimpin yang baik mampu menumbuhkembangkan keberanian orang yang dipimpin untuk mencobakan ide tanpa takut salah. Pemimpin yang baik juga mampu menciptakan suasana kolegialitas dan persaudaraan yang baik di sekolah.

Di negeri seberang, ada seorang Kepala Sekolah yang mengembangkan program “Make New Mistakes”. Dengan kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna, dia mendorong guru-gurunya melakukan sesuatu yang baru dan melakukan kesalahan. Dia mengungkapkan kata-kata berikut: “Saya tidak ingin melihat pelajaran yang sempurna. Saya hanya ingin melihat Anda melakukan sesuatu yang baru dan mengalami kesalahan. Tidak perlu takut dengan kesalahan itu. Yang paling penting adalah apa yang bisa kita petik dari melakukan sesuatu yang baru tersebut”. Akibatnya, sungguh luar biasa. Guru-guru di sekolah itu termotivasi melakukan hal-hal baru sehingga inovasi pembelajaran seakan berlangsung tiada henti. Sekolah yang dahulunya berstatus “terbelakang” berubah menjadi sekolah yang maju.

Di negeri sendiri, seorang Kepala Sekolah mengembangkan berbagai program antara lain: Siapa Aku, Kolaborasi Atas Bawah, Fleksidi, dll. Tujuannya hanya satu, yaitu tumbuhnya kesejawatan yang mendorong terjadinya perubahan dalam pembelajaran di sekolah. Hasilnya juga sungguh menakjubkan. Proses belajar mengajar berubah dari biasanya. Pembelajaran menjadi bermutu. Sekolah yang semula “tidak terdengar” berubah menjadi sekolah rujukan.

Karena itu, pada sesi ini, para kepala sekolah, pengawas, dan para pemimpin lainnya di sekolah, perlu memiliki kiat-kiat kepemimpinan yang mampu mendorong terjadinya perubahan proses belajar mengajar di kelas. Untuk itu, di dalam sesi ini, para peserta diharapkan menggali berbagai ide yang mampu mendorong terjadinya perubahan dalam proses belajar mengajar di kelas.

Tujuan

Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan mampu mendorong terjadinya perubahan. Secara khusus, peserta pelatihan diharapkan mampu:

Mengidentifikasi ucapan, tingkah laku, atau program yang mendorong perubahan proses pembelajaran di kelas

Menyusun program yang bisa mendorong terjadinya perubahan pembelajaran di kelas.

Pertanyaan Kunci

Beberapa pertanyaan kunci yang perlu mendapatkan jawaban dari kegiatan ini antara lain:

Ucapan dan tingkah laku yang bagaimana yang harus ditampilkan Kepala Sekolah/ Kepala Madrasah (Fasilitator, Pengawas, Pimpinan Dinas Pendidikan/Departemen Agama) kepada para guru agar guru mau melakukan perubahan secara konsisten

Tradisi apa yang harus diadakan di sekolah/madrasah agar Kepala Sekolah/Kepala Madrasah, Fasilitator, Pengawas, Pimpinan Dinas Pendidikan/Departemen Agama mampu menampilkan ucapan/tindakan yang mendorong perubahan.

Petunjuk Umum

Agar pelaksanaan sesi ini dapat berjalan baik, berikut disampaikan beberapa petunjuk umum.

Hendaknya dicari nara sumber (Kepala Sekolah) yang memang sudah terbukti mendorong terjadinya perubahan di sekolahnya.

Fasilitator hendaknya mendorong peserta untuk aktif menyimak pengalaman para pemimpin (nara sumber) yang telah mampu mendorong perubahan di kelas dan menemukan aspek positif yang memotivasi perubahan.

Fasilitator hendaknya mendorong peserta untuk mengeluarkan pendapatnya secara objektif sehingga menghasilkan pemikiran yang tepat sasaran.

Sumber dan Bahan

Handout Peserta 8.1:  Identifikasi Hal Positif dari Program “………..” yang Mendorong Perubahan Pembelajaran di Kelas

Handout Peserta 8.2: Kiat-kiat Mendorong Perubahan di Kelas

Handout Peserta 8.3: Program Sekolah Untuk Mendorong Terjadinya Perubahan Pembelajaran di Kelas

Kertas Flipchart, spidol, pulpen, kertas ‘post it’ berwarna, kertas catatan, penempel kertas, lem, dan gunting.

Waktu

Waktu yang disediakan untuk kegiatan ini adalah 90 menit. Perincian alokasi waktu dapat dilihat pada setiap tahapan penyampaian sesi ini.

ICT

Penggunaan TIK untuk mendukung sesi ini bukan merupakan keharusan tetapi kalau memungkinkan dapat disediakan:

Proyektor LCD

Laptop atau personal computer untuk presentasi

Layar proyektor LCD

Namun demikian, fasilitator harus tetap siap apabila peralatan yang diharapkan tidak tersedia. Fasilitator harus menyiapkan presentasi dengan menggunakan OHP atau dengan menggunakan kertas flipchart.

Ringkasan Sesi

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction – Pendahuluan (5 menit)

(8)      Fasilitator menyampaikan isyu-isyu yang terkait dengan tradisi pelatihan dan pasca pelatihan (perubahan seringkali berhenti hanya sampai di tempat pelatihan saja, tidak sampai ke kelas. Murid tidak tersentuh oleh perubahan)

(9)      Fasilitator menyampaikan tujuan dan hasil yang diharapkan dari kegiatan sesi ini

Connection – Pengaitan (20 menit)

(12)   Dengan panduan dari fasilitator, nara sumber menjelaskan langkah-langkah yang telah diambil dan terbukti berhasil mengakibatkan terjadinya perubahan di sekolah. (Pada setiap pelatihan, panitia diharapkan menyediakan dua atau tiga orang nara sumber, yaitu Kepala Sekolah yang terbukti berhasil melakukan perubahan/pembaharuan di sekolahnya)

Application Penerapan ( 60 menit)

(1)      Identifikasi Hal-Hal Positif dari Presentasi Nara Sumber (15 menit).

Fasilitator mendorong peserta berdiskusi untuk mengidentifikasi hal-hal positif yang disajikan oleh nara sumber dalam mendorong gurunya melakukan perubahan dalam pembelajaran (gunakan HANDOUT 8.1)

(2)      Membaca Kiat-kiat Mendorong Perubahan di Kelas (10 menit)

Fasilitator mempersilakan para peserta untuk membaca kiat-kiat mendorong terjadinya perubahan (bagikan HANDOUT 8.2)

(3)      Kerja Kelompok Merumuskan Program Untuk Mendorong Perubahan. (20 menit)

Fasilitator meminta kelompok peserta berdiskusi untuk merumuskan program dalam rangka mendorong terjadinya perubahan pembelajaran di kelas. (gunakan HANDOUT 8.3)

(4)      Berbagi Hasil Karya Antar Kelompok. (15 menit)

Fasilitator memfasilitasi sharing program antar kelompok sekolah dengan model kunjung karya (dilakukan dalam 2 atau tiga kali putaran), dan diakhiri dengan memajangkan karya tersebut di dinding.

Reflection – Refleksi (5 menit)

(1)      Fasilitator  meminta peserta untuk memeriksa apakah tujuan sesi sudah tercapai.

(2)      Fasilitator meminta peserta untuk mengungkapkan hal-hal yang masih belum dipahami.

ExtensionPengayaan

Fasilitator mendorong peserta untuk membaca Bahan Bacaan tentang program-program yang dikembangkan oleh Kepala Sekolah untuk mendorong perubahan pembelajaran di kelas di internet atau di tempat lain.

Pesan Utama

Perubahan tidak boleh berhenti hanya di tingkat pelatihan. Hal yang paling penting adalah “Terjadinya Perubahan Pembelajaran di Kelas”. Peserta didik harus mengalami perubahan pembelajaran yang berarti. Pimpinan harus sigap dengan hal itu dan mampu mengembangkan program yang mendorong guru melakukan perubahan. Kata-kata, tingkah laku, dan program yang tepat merupakan pemicu utama terjadinya perubahan pembelajaran di kelas.

 

 Handout Peserta 8.1

Identifikasi Hal Positif yang Membuat Guru Terdorong Melakukan Perubahan di Kelas

Hal Positif

Sumbangannya terhadap motivasi melakukan perubahan

Tindakan yang paling penting untuk Ditampilkan di Sekolah Anda

Sikap tidak takut salah Perubahan mengandung resiko salah/gagal. Sikap tidak takut salah mendorong guru untuk melakukan perubahan.
  • Tidak mengejek apalagi ‘menghukum’ guru yang gagal dalam mencobakan gagasan baru pada pembelajaran.
  •  …………………………………………..
  •  …………………………………………..
  •  …………………………………………..
  •  …………………………………………..
  •  …………………………………………..
  •  ……………………………………………
………………………………..
  • ………………………………………………….
  • ………………………………………………….
  • ………………………………………………….
  • Dst.

(Format ini hanya untuk panduan. Menulis sebaiknya pada kertas flipchart)

 Handout 8.2.

 

 

KIAT-KIAT MENDORONG PERUBAHAN DI KELAS

 

Kepala Sekolah merupakan kunci keberhasilan usaha-usaha sekolah. Kepala Sekolah merupakan penentu bagi terciptanya iklim sekolah yang lebih kondusif untuk meningkatnya mutu pendidikan. Kepala Sekolah tidak hanya dituntut mahir mengelola sarana, prasarana – dimana orang awam pun bisa, tetapi juga harus memiliki kiat-kiat menarik yang mendorong guru-gurunya mau secara ikhlas dan penuh percaya diri meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya. Karena itu, kiat-kiat yang dilakukan oleh seorang Kepala Sekolah di Kabupaten Probolinggo – Jawa Timur berikut layak untuk dijadikan pelajaran bagi kita bersama.

Berikut beberapa kiat kepala sekolah tersebut.

  • Supervisi Klinis

Kegiatan ini dilakukan dengan cara Kepala Sekolah melakukan supervisi atau pengamatan terhadap guru-guru/kelas maupun terhadap aktivitas sekolah secara keseluruhan. Hasil temuan baik positif maupun negatif dibahas dalam pertemuan/rapat dewan guru. Jika dalam pertemuan/rapat tersebut masalah tidak dapat diatasi, maka kepala sekolah segera mengambil inisiatif untuk mencari bantuan pemecahan ke luar sekolah. Misalnya guru kelas 1 sulit untuk membuat pembelajaran tematik. Dalam pertemuan/rapat dewan guru tidak ada yang bisa memberi contoh. Satu-satunya jalan yaitu mendatangkan fasilitator atau nara sumber kelas awal. Tetapi sekolah tidak memiliki dana untuk mendatangkan nara sumber dan mengadakan pelatihan, maka jalan keluarnya adalah mengadakan kerja sama dengan beberapa sekolah untuk mendatangkan fasilitator tersebut. Masalah pendanaan sudah barang tentu dipikul bersama-sama.

 

  • Curhat Nonformal

Curhat nonformal adalah mencurahkan isi hati atau uneg-uneg yang dilakukan secara nonformal. Waktu dan tempat sudah barang tentu tidak terikat. Waktu bisa dilakukan pada jam-jam santai atau waktu luang. Masalah tempat bisa di sekolah maupun di luar sekolah. Topik bahasannya berkisar aktivitas sekolah. Jika kepala sekolah ingin menyampaikan ide-ide tentang model pembelajaran atau aktivitas sekolah, kepala sekolah tidak langsung menyampaikannya pada pertemuan/rapat resmi dewan guru. Tetapi kepala sekolah dapat melakukan lobi-lobi ke beberapa guru untuk didiskusikan terlebih dahulu.

 

  • Kolaborasi Atas-Bawah

Kolaborasi ‘Atas – Bawah’ merupakan model kerja sama antara kepala sekolah selaku supervisor dan guru selaku yang disupervisi. Bentuk kerja sama itu contohnya adalah jika ada salah satu guru mengalami kesulitan dalam menerapkan pendekatan PAKEM/CTL pada materi tertentu, maka kepala sekolah bersama-sama membuat skenario pembelajaran. Setelah selesai, skenario tersebut dijalankan secara bersama-sama oleh guru dan kepala sekolah. Jika sekali pelaksanaan ternyata belum cukup bagus, maka perlu dilakukan kolaborasi sekali lagi sampai diperoleh hasil yang bagus.

 

  • Siapa Aku

Jika kepala sekolah dalam melakukan supervisi melihat ada beberapa guru telah berhasil menerapkan pendekatan Belajar Aktif/PAKEM/CTL dan manajemen kelas yang kreatif, kepala sekolah segera memberitahu kepada guru tersebut bahwa kelasnya akan dijadikan sasaran studi banding antarkelas. Dalam acara studi banding antar kelas tersebut para pengunjungnya adalah teman-temannya sendiri. Setelah harinya disepakati, guru yang menjadi sasaran studi banding tersebut menjelaskan berbagai hal yang telah dilakukan, baik itu tentang model pembelajarannya, skenario pembelajarannya, manajemen kelasnya, dan hasil karya anak, terutama yang dilakukan selama satu minggu sebelumnya.  Selain itu, guru tersebut diminta untuk menyampaikan berbagai hal dan ide-ide satu minggu ke depan. Masalah-masalah atau kendala-kendala yang dihadapinya juga turut disampaikan pada acara tersebut. Dalam acara ini kepala sekolah posisinya sebagai pendamping guru yang menjadi sasaran studi banding. Tetapi pembicaraan hak penuh guru tersebut.

  • Fleksidi

Hampir jarang dilakukan oleh kebanyakan guru adalah melakukan refleksi diri setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Cara untuk melakukan refleksi diri ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Misalnya, jika sekolah memiliki perangkat keras seperti handy cam, kepala sekolah dapat mengambil gambar beberapa kegiatan guru, khususnya dalam melakukan pembelajaran. Setelah itu, hasil rekaman tersebut diamati bersama-sama. Hal-hal apa saja yang seharusnya perlu dilakukan dan hal-hal yang tidak perlu dilakukan, biar guru yang bersangkutan yang merefleksi dirinya sendiri. Guru-guru yang lain mencoba membahas hal-hal positif saja yang dapat diadopsi dan diterapkan di kelasnya.

 

  • Kontes Hasil Karya Peserta didik dan Kelas

Untuk memotivasi agar guru-guru dan para peserta didiknya kreatif maka dalam setiap minggu sekolah perlu mengadakan kontes. Macam-macam kontes di antaranya adalah lomba pidato, bercerita, drama, menggambar, mengarang, menyanyi/karaoke, kerapian dan kebersihan kelas, dan display atau pameran hasil karya peserta didik. Para pemenang dapat diumumkan pada saat upacara bendera hari Senin.

 

  • Kultum Bergilir

Dalam setiap pertemuan/rapat dewan guru atau kegiatan apa saja selalu diawali kegiatan santapan rohani atau dinamakan kultum (kuliah tujuh menit). Orang yang menyampaikan kultum tersebut tidak harus guru agama atau guru senior. Kultum ini disampaikan siapa saja secara bergilir, baik guru senior maupun junior. Tujuannya agar semuanya dapat belajar atau mendidik diri sendiri sebelum memberitahu orang lain. Materi kultum bebas, bisa masalah agama, rumah tangga, sekolah, pekerjaan, dan kehidupan lainnya.

 

  • Go Public atau Open School

Untuk memperkuat dan mendorong guru-guru agar mau berbuat lebih baik lagi, kepala sekolah dapat bekerja sama dengan sekolah lain. Artinya sekolah lain diminta untuk mengadakan kunjungan ke sekolahannya. Tapi ingat: guru-guru tidak perlu diberitahu strategi ini, karena ini merupakan rahasia strategi kepala sekolah dengan kepala sekolah lain. Mereka diharapkan melakukan kunjungan, khususnya berkunjung ke kelas mengamati model PAKEM/CTL yang diterapkan oleh guru-gurunya. Dengan demikian guru-guru yang akan dikunjungi akan berbenah diri, karena mereka akan dikunjungi oleh sekolah lain.

  • Retreat

Makan biasanya dilakukan di rumah pada tempat dan situasi yang sama. Suatu saat dilakukan di tempat lain dengan suasana lain pula. Jika perlu dilakukan dengan seluruh anggota keluarga (anak dan istri/suami mereka). Di sini biasanya muncul ide-ide segar dan fresh. Retreat merupakan wisata di waktu liburan yang dilakukan kepala sekolah, guru, dan staf lainnya di suatu tempat. Di sana mereka melakukan refleksi/perenungan tentang apa yang telah dilakukan kemudian merancang suatu kegiatan yang lebih baik tentang pendidikan di sekolah sambil berlibur.

  • Napak Tilas

Sekolah dan kelas sering mendapat kunjungan guru-guru hampir di seantero nusantara. Suka duka telah banyak dialami guru-guru dan warga sekolah lainnya. Kecapekan dan kebosanan kadang-kadang menghantui guru-guru dan warga sekolah lainnya. Mengapa tidak? Karena hampir setiap saat mereka dituntut harus menemukan berbagai hal inovasi dalam pembelajarannya. Hal ini tampak di saat awal tahun pelajaan baru tiba. Guru-guru seakan tampak tidak bergairah lagi untuk berinovasi, seakan kehabisan daya kreativitas lagi. Maka kepala sekolah di saat-saat inilah sangat dibutuhkan daya kreativitasnya. Melalui diskusi kelompok, guru-guru diajak untuk mengingat kembali berbagai inovasi dan hal-hal positif yang dulu pernah sukses dilakukannya. Lalu mereka membuat kesepakatan untuk pengembangan inovasi dan bahkan mencoba inovasi baru lagi. Hasilnya sungguh luar biasa. Guru-guru bergairah kembali, karena mereka merasa tersuntik dan termotivasi kembali untuk melakukan tugasnya.

Perlu ditanamkan dan diingatkan terus menerus kepada para guru bahwa kita berbuat yang terbaik jangan karena akan disupervisi, dikunjungi, atau dinilai orang lain. Hal ini akan menyebabkan kita berhenti berbuat baik ketika tidak ada orang lain. Tanamkan, kita berbuat yang terbaik karena MEMANG PERLU.
 Handout Peserta 8.3

 

Program Sekolah untuk Mendorong Terjadinya Perubahan dalam Proses Pembelajaran di Kelas

NO

PROGRAM

DESKRIPSI PELAKSANAAN PROGRAM TERSEBUT DALAM KENYATAAN

1
2
3
4
5

Presentasi Unit 8


[1] Miftah Thoha, Ph.D. “Desentralisasi Pendidikan”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 017, Tahun Ke-5, Juni 1999.

[2] NCREL, 1995, Decentralization: Why, How, and Toward What Ends? NCREL’s Policy Briefs, report 1, 1993 dalam  Nuril Huda “Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 017, Tahun Ke-5, Juni 1999.

[3] Gaynor, Cathy (1998) Decentralization of Education: Teacher management. Washington, DC, World Bank dalam  Nuril Huda “Desentralisasi Pendidikan: Pelaksanaan dan Permasalahannya”, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, No. 017, Tahun Ke-5, Juni 1999.

[4]Donoseputro, M (1997) Pelaksanaan Otonomi Daerah Dalam Upaya Pencapaian Tujuan Pendidikan: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan Alat Pemersatu Bangsa, Suara Guru 4: 3-6.

[5] Burns, J.M (1978) Leadership Harper & Row, New York dalam Rumtini (1977) Transformational and Transactional Leadership Performance of Principals of Junior Secondary School in Indonesia, unpublished thesis.

UNIT 1

BElajar Aktif:

Apa, Mengapa, DAN Bagaimana?

 Pendahuluan

“Pelaksanaan kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik”

(Permen Diknas Nomor 41, tahun 2007: Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah)

Sejalan dengan hal itu, Presiden Susilo Bambang Yudoyono dalam Temu Nasional di Jakarta, 29 Oktober 2009, mengatakan:

“Saya minta Menteri Pendidikan Nasional untuk mengubah metodologi belajar-mengajar yang ada selama ini. Sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah jangan hanya gurunya yang aktif , tetapi harus mampu membuat siswanya juga aktif”

Akal sehat pasti tidak akan menyangkal pesan dari kedua pernyataan di atas mengingat pada dasarnya anak memiliki sifat rasa ingin tahu dan kemampuan berimajinasi. Kedua hal tersebut merupakan ‘bahan dasar’ bagi tumbuh kembangnya kreativitas yang dibutuhkan manusia dalam hidupnya agar bertahan; dan kedua hal tersebut hanya mungkin tumbuh subur dan berkembang dalam suasana pembelajaran seperti yang dipesankan oleh kedua pernyataan di atas.

Keinginan kita untuk melahirkan generasi yang kritis, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab hampir mustahil diwujudkan selama pembelajaran di sekolah lebih bersifat proses ‘pemberitahuan’ guru kepada siswa. Guru menceramahkan ilmunya, dan siswa mencatat, menghafal, dan mengatakannya kembali pada saat ulangan/uijian.

Sebaliknya, pembelajaran aktif lebih menciptakan suasana belajar yang mengembangkan berbagai potensi siswa antara lain rasa ingin tahu dan berimajinasi untuk selanjutnya berbuah kreativitas.

Tujuan

Setelah mengikuti sesi ini, peserta mampu:

  1. memahami pengertian belajar aktif;
  2. mengidentifikasi ciri-ciri atau komponen belajar aktif;
  3. mengidentifikasi kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa;

Pertanyaan Kunci

Apa saja ciri atau komponen belajar aktif?

Apa saja contoh kegiatan belajar aktif sesuai komponen tersebut?

  Petunjuk Umum

Kegiatan dilaksanakan secara pleno, namun peserta duduk berdasarkan kelompok mata pelajaran (untuk SLTP/SLTA).

Sumber dan Bahan

Handout  Peserta 1.1: Dasar Hukum Belajar Aktif

Handout Peserta 1.2: Komponen Belajar Aktif

Video pembelajaran

 

Waktu

Waktu yang digunakan untuk unit ini adalah 75 menit.

ICT

Proyektor LCD

Laptop atau personal computer untuk presentasi

Layar proyektor LCD

Fasilitator harus tetap siap dengan persiapan alternatif apabila peralatan yang diharapkan tidak tersedia.

 

Ringkasan Sesi

Perincian Langkah-langkah Kegiatan

Introduction (5 menit)

(1)      Fasilitator menjelaskan bahwa sesi Pendekatan Belajar Aktif ini disajikan dengan menggunakan kerangka ICARE;

(2)      Fasilitator menayangkan pernyataan Presiden SBY dan menanyakan “Pernyataan siapakah ini?” (Pernyataan ini bisa menjadi salah satu alasan perlunya penerapan Belajar Aktif dalam pembelajaran);

(3)      Fasilitator menjelaskan latar belakang dan tujuan sesi dengan menggunakan informasi dari bagian pendahuluan dan tujuan.

Connection (30 menit)

 

Ungkap Pengalaman – 5’

(1)  Fasilitator meminta peserta untuk mengungkapkan pengalamannya tentang Belajar Aktif, dengan bertanya:

  • Apa sajakah ciri-ciri Pembelajaran Aktif?

(2)  Fasilitator menuliskan jawaban peserta pada papan tulis/kertas lebar (apa pun jawabannya).

Jawaban peserta tidak perlu dikomentari, biarkan terpampang pada papan tulis/kertas lebar.

Selanjutnya siapkan mereka untuk menyimak tanyangan video pembelajaran.

 

Menyimak  Tayangan Video Pembelajaran – 15’

 

(1)      Jelaskan kepada peserta bahwa sebentar lagi peserta akan menyimak tayangan video pembelajaran selama lebih kurang 15 menit; dan peserta akan diminta untuk menuliskan secara perorangan,

  • Apa sajakah yang dilakukan guru maupun siswa yang dianggap sebagai tanda Belajar/Pembelajaran Aktif?

(2)      Peserta menyimak tayangan video pembelajaran selama 15 menit.

(3)      Mintalah peserta secara perorangan untuk menuliskan,

  • Apa sajakah kegiatan siswa maupun guru yang dianggap sebagai tanda Belajar/Pembelajaran Aktif?

(4)      Urun gagasan tentang apa saja:

  • kegiatan GURU, dan
  • kegiatan SISWA

yang dianggap sebagai ciri belajar/pembelajaran aktif

(5)      Fasilitator menayangkan power point komponen/unsur-unsur belajar aktif.

(6)      Fasilitator membagikan handout peserta1.1 dan 1.2

Application (35 menit)

Kegiatan 1: Mengidentifikasi Kegiatan Belajar Aktif ( 20 menit)

(1)      Peserta mengidentifikasi berbagai kegiatan belajar yang merupakan kegiatan belajar aktif berpandu pada Komponen Belajar Aktif (lihat diagram pada power point):

  • Berbuat          : Kegiatan belajar apa saja yang termasuk berbuat?
  • Mengamati     : Kegiatan belajar apa saja yang termasuk mengamati?
    • Berinteraksi   : Kegiatan apa saja yang perlu diciptakan guru agar siswa

berinteraksi satu sama lain?

  • Merefleksi     : Kegiatan apa saja yang perlu diciptakan guru agar siswa

melakukan refleksi?

Kegiatan 2: Bertukar Hasil Kerja (15 menit)

(3)      Peserta saling bertukar hasil kerja dan saling memberikan komentar tertulis terutama menyoroti apakah kegiatan-kegiatan yang ditulis betul-betul mendorong siswa untuk berbuat, mengamati, berinteraksi, dan melakukan refleksi.

Reflection (5 menit)

Fasilitator menanyakan kepada peserta:

  1. Apakah tujuan sesi ini sudah tercapai?
  2. Hal apa saja yang masih membingungkan?

Extension

Peserta diminta untuk berlatih merancang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengandung unsur Belajar Aktif (Melakukan, Mengamati, Interaksi, dan Refleksi)

 Handout Peserta 1.1:

Dasar Hukum Belajar Aktif/PAKEM

 

 Handout Peserta 1.2:

Komponen Belajar Aktif/PAKEM

 

Presentasi Unit 1

 

Iklan
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: