PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN PKn DALAM MENERAPKAN MODEL-MODEL PEMBELAJARAN SESUAI KOMPETENSI DASAR MATA PELAJARAN PKn MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF DI SMPN 2 RANTAU SELAMAT
Oleh :
ZAINUDDIN, S.Pd.
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR
DINAS PENDIDIKAN
2011
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri. Salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru.
Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif ( datang, duduk, nonton, berlatih, …., dan lupa). Guru memberikan konsep, sementara siswa menerima bahan jadi. menurut Erman Suherman, ada dua hal yang menyebabkan siswa tidak menikmati (senang) untuk belajar, yaitu kebanyakan siswa tidak siap terlebih dahulu dengan (minimal) membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, siswa tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya nanti.
Berdasarkan pengamatan penulis di SMPN 2 Rantau Selamat, terdapat beberapa kendala pada pembelajaran selama ini antara lain :
- Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep.
- Siswa kurang aktif / siswa pasif dalam proses pembelajaran.
- Siswa belum terbiasa untuk bekerja sama dengan temannya dalam belajar.
- Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
- Hasil nilai ulangan / hasil belajar siswa pada pembelajaran rendah.
- KKM tidak tercapai.
- Pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa.
- Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran.
Sebagai pendidik, penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung mengedepankan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru mata pelajaran PKn untuk menerapkan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat dengan menyusun berbagai perangkat pembelajaran yang dibutuhkan seperti : RPP, alat peraga, teknik pengumpulan data, dan instrumen yang dibutuhkan untuk membantu guru dalam mengelola kelas dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Apakah penerapan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 2 Rantau Selamat.”
Secara operasional rumusan masalah di atas dapat dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
- Apakah penerapan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 antau Selamat dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 2 Rantau Selamat?
- Apa saja kendala-kendala yang dihadapi guru dalam penerapan model-mmodel pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboaratif di SMPN 2 Rantau Selamat?
- Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat pada pembelajaran di kelas VII, VIII, IX ?
C. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan dengan harapan memberikan manfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah.
a. Manfaat bagi siswa :
- Memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.
- Meningkatkan aktivitas siswa di dalam belajar.
- Meningkatkan penguasaan konsep.
- Menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat dalam kelompok/ membiasakan bekerja sama dengan teman.
b. Manfaat bagi guru:
- Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
- Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru untuk peningkatan mutu pembelajaran.
c. Manfaat bagi sekolah :
- Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademis.
- Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru.
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan
Pada bagian ini, penulis bermaksud mengemukakan beberapa hal yang berhubungan dengan teori dan pengertian untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan PTS ini, sebagai gambaran yang tentu ada kaitannya dengan materi pembahasan. Isinya berupa teori-teori yang diambil dari berbagai sumber.
Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar ( Udin Winataputra, 1994,34).
Banyak model-model pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru dalam proses kegiatan belajar mengajar yang pada prinsipnya pengembangan model pembelajaran bertujuan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang efetif dan efisien, menyenangkan, bermakna, lebih banyak mengaktifkan siswa.
Dalam pengembangan model pembelajaran yang mendapat penekanan pengembangannya terutama dalam strategi dan metode pembelajaran. Untuk masa sekarang ini perlu juga dikembangkan system penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar bisa saja mengembangkan model pembelajaran sendiri dengan tujuan proses pembelajaran lebih efektif dan efisien, lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreasi, sehingga siswa lebih aktif.
Berikut ini adalah pengertian model pembelajaran menurut pendapat para tokoh pendidikan antara lain:
- Agus Suprijono : pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
- Mills : “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”
- Richard I Arends : model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan di dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.
Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.
Beberapa alasan mengapa supervisi klinis diperlukan, diantaranya:
• Tidak ada balikan dari orang yang kompeten sejauhmana praktik profesional telah memenuhi standar kompetensi dan kode etik
• Ketinggalan iptek dalam proses pembelajaran
• Kehilangan identitas profesi
• Kejenuhan profesional (bornout)
• Pelanggaran kode etik yang akut
• Mengulang kekeliruan secara masif
• Erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan prajabatan (PT)
• Siswa dirugikan, tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya
• Rendahnya apresiasi dan kepercayaan masyarakat dan pemberi pekerjaan
Secara umum tujuan supervisi klinis untuk :
• Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.
• Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
• Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
• Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan maslah yang ditemukan dalam proses pembelajaran
• Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan.
Pendekatan Kolaboratif
Suhartian ( 2000 ) menjelaskan pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non direktif menjadi cara pendekatan yang baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kreiteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Dengan demikian pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Perilaku supervisi sebagai berikut: ( 1) Menyajikan (2) Menjelaskan ( 3 ) Mendengarkan (4) Pemecahan masalah (5) Negosiasi.
B. Penyelesaian Masalah
Berdasarkan kajian teori di atas, maka dengan melalui kegiatan penerapan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat kepala sekolah dapat meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran PKn dalam menerapkan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata Ppelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat.
BAB III METODE PENELITIAN
A. Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan di SMPN 2 Rantau Selamat terhadap dua orang guru mata pelajaran PKn di SMPN 2 Rantau Selamat. Waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dimulai 30 Mei sampai dengan 1 September 2011.
B. Prosedur Penelitian
Penelitian ini tergolong penelitian tindakan sekolah, dengan empat langkah pokok yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi, dengan melibatkan 2 orang guru SMPN 2 Rantau Selamat. Penelitian dilakukan dua tahapan secara berkelanjutan selama 3 bulan. Indikator kinerja yang ditetapkan adalah meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran PKn dalam menerapkan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru SMPN 2 Rantau Selamat dalam menerapkan model-model pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn, interaksi siswa dengan guru dalam proses belajar mengajar, interaksi dengan siswa dengan siswa dalam kerja sama kelompok, dan aktivitas siswa dalam diskusi kelompok.
C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi berupa hasil karya penyusunan KTSP, wawancara dan instrument analisis penilaian.
1. Perencanaan Tindakan
a) Pemilihan topik
b) Melakukan review silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selanjutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
c) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
d) Merencanakan penerapan pembelajaran
e) Menentukan indikator yang akan dijadikan acuan
f) Mempersiapkan kelompok mata pelajaran
g) Mempersiapkan media pembelajaran.
h) Membuat format evaluasi
i) Membuat format observasi
j) Membuat angket respon guru dan siswa
2. Pelaksanaan Tindakan
Menerapkan tindakan sesuai dengan rencana, dengan langkah-langkah:
- Setiap guru yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara guru lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
- Guru yang ditunjuk menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.
- Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan kelas untuk mendapatkan umpan balik.
3. Pengamatan (observasi)
- Observer melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar observasi
- Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.
- Pada tahap ini seorang guru melakukan implementasi rencana pembelajaran yang telah disusun, guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan. Selain itu dilakukan pemotretan yang meng-close up kejadian-kejadian khusus selama pelaksanaan pembelajaran.
D. Teknis Analisis Data
Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila :
- Peningkatan nilai rata-rata siswa kelas VII, VIII, IX, Peningkatan nilai rata-rata 6,5.
- Tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar :
Tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dinilai berhasil apabila masing-masing aktivitas yang menunjang keberhasilan belajar persentasenya di atas 70 %. - Keterlaksanaan langkah-langkah dalam proses belajar mengajar ≥ 80 %.
PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
UPAYA MENINGKATKAN EVALUASI GURU PADA PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
DI SMP NEGERI 1 INDRA MAKMU
TAHUN 2011
Disusun oleh :
SYAIFUL JAMAL, S. Pd
NIP. 19681027 199512 1 001
DINAS PENDIDIKAN
HALAMAN PENGESAHAN
Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa Laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang berjudul :
UPAYA MENINGKATKAN EVALUASI GURU PADA PENYUSUNAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA
DI SMP NEGERI 1 INDRA MAKMU
TAHUN 2011
Disusun oleh :
SYAIFUL JAMAL, S. Pd
NIP. 19681027 199512 1 001
Kepala Dinas Pendidikan
DAFTAR ISI
Halaman Judul ………………………………………………………………….. i
Lembar Pengesahan………………………………………………………………………… ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………………….. iii
Kata Pengantar………………………………………………………………………………. iv
Daftar Lampiran…………………………………………………………………………….. v
Ringkasan……………………………………………………………………………………… vi
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………. 1
- Latar Belakang…………………………………………………………………….. 1
- Identifikasi Masalah…………………………………………………………….. 5
- Pembatasan Masalah…………………………………………………………….. 6
- Rumusan Masalah………………………………………………………………… 6
- Pemechan Masalah……………………………………………………………….. 6
- Tujuan Penelitian…………………………………………………………………. 7
- Manfaat Penelitian……………………………………………………………….. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………….. 10
- Pengertian Guru…………………………………………………………………… 10
- Standar KompetensiGuru……………………………………………………… 11
- Rencana Pelaksanaan Pembelajaran………………………………………… 14
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………….. 20
- Setting Penelitian…………………………………………………………………. 20
- Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah…………………………………… 21
- Subjek Penelitian…………………………………………………………………. 21
- Sumber data………………………………………………………………………… 21
- Teknik Dan Alat Pengumpulan Data………………………………………. 21
- Prosedur Penelitian………………………………………………………………. 22
- Rencana Pelaksanaan……………………………………………………………. 25
- Indikator Pencapaian Hasil……………………………………………………. 26
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN……………………. 28
- Deskripsi Hasil Penelitian……………………………………………………… 28
- Pembahasan ……………………………………………………………………….. 31
BAB V Simpulan Dan Saran
- Simpulan…………………………………………………………………………….. 37
- Saran………………………………………………………………………………….. 37
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….. 39
LAMPIRAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas materi penelitian Tindakan Sekolah pada Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan ( LPMP ) Provinsi Aceh.
Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan, khususnya kualitas pengelolaan kelas sangat ditentukan oleh penguasaan kompetensi secara memadai oleh guru. Untuk meningkatkan kompetensi guru antara lain dapat ditempuh melalui peningkatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .
Untuk itulah, maka melalui Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah, setiap peserta wajib membuat karya ilmiah dan untuk kepala sekolah diwajibkan melakukan Penelitian Tindakan Sekolah pada saat On the Job Learning.. Untuk melaksanakan kegiatan “Penelitian Tindakan Sekolah”, maka pada pelaksanaannya Kepala Sekolah berkolaborasi dengan guru.
Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Selanjutnya penulis mohon adanya perbaikan atas laporan ini, karena penulis menyadari, bahwa dimungkinkan terdapat sejumlah kekuarangannya, semoga saja laporan penelitian Tindakan Sekolah ini mendapatkan perhatian dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak yang berkompeten.
SYAIFUL JAMAL, S. Pd
NIP. 19681027 199512 1 001
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen sistem pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu: tenaga kependidikan guru dan non guru . Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, ”komponen-komponen sistem pendidikan yang bersifat sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi tenaga pendidik dan pengelola satuan pendidikan ( penilik, pengawas, peneliti dan pengembang pendidikan ).” Tenaga gurulah yang mendapatkan perhatian lebih banyak di antara komponen-komponen sistem pendidikan. Besarnya perhatian terhadap guru antara lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus seperti kenaikan tunjangan fungsional guru dan sertifikasi guru.
Usaha-usaha untuk mempersiapkan guru menjadi profesional telah banyak dilakukan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya. “Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan (1) guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan beban, (3) seringnya siswa mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4) masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana mestinya” (Imron, 2000:5).
Berdasarkan kenyataan begitu berat dan kompleksnya tugas serta peran guru tersebut, perlu diadakan supervisi atau pembinaan terhadap guru secara terus menerus untuk meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar usaha membimbing siswa untuk belajar dapat berkembang. pada kualitas gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok.
Direktorat Pembinaan SMA (2008:3) menyatakan ”kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas, mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan konsekuensinya, adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan ) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif”.
Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses pembelajaran di kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru harus mempersiapkan ( merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.
Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPP memuat KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.
Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor yang paling dominan karena di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya. Seorang guru dikatakan profesional apabila (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2) bangga dengan tugas profesinya, ( 3) selalu menjaga dan berupaya meningkatkan kompetensinya, (4) bekerja dengan sungguh tanpa harus diawasi, (5) menjaga nama baik profesinya, (6) bersyukur atas imbalan yang diperoleh dari profesinya.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang 8 Standar Nasional Pendidikan menyatakan standar proses merupakan salah satu SNP untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang mencakup: 1) Perencanaan proses pembelajaran, 2) Pelaksanaan proses pembelajaran, 3) Penilaian hasil pembelajaran, 4) dan pengawasan proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru pada satuan pendidikan . Guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuat dengan alasan ketinggalan di rumah dan bagi guru yang sudah membuat RPP masih ditemukan adanya guru yang belum melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada komponen penilaian ( penskoran dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya dengan alasan sudah tahu dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah membuatnya. Masalah yang lain yaitu sebagian besar guru khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan pengembangan RPP. Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai Diklat Peningkatan Profesionalisme Guru dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak guru yang belum tahu dan memahami penyusunan/pembuatan RPP secara baik/lengkap. Beberapa guru mengadopsi RPP orang lain. Hal ini peneliti ketahui pada saat mengadakan supervisi akademik (supervisi kunjungan kelas) ke sekolah binaan. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.
Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah berusaha untuk memberi bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah berdasarkan Permendiknas No.12 Tahun 2007 tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang salah satunya adalah supervisi akademik yaitu membina guru.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat penting bagi seorang guru karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut.
1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.
2. Sebagian besar guru belum mendapatkan pelatihan pengembangan KTSP.
3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan berbagai alasan.
4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada komponen langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.
5. Guru banyak yang mengadopsi RPP orang lain.
C. Pembatasan Masalah
Dari lima masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi menjadi:
1. Guru belum paham dalam menyusun RPP. 2. RPP yang dibuat guru belum lengkap.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di atas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut.
Apakah dengan bimbingan berkelanjutan akan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP ?
E. Pemecahan Masalah/Tindakan
1. Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan dan bimbingan berkelanjutan serta arahan kepada guru tentang pentingnya seorang guru membuat RPP secara lengkap. Dengan bimbingan berkelanjutan diharapkan guru termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan dalam mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi dapat tersampaikan semua karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada siklus pertama.
2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP melalui instrument proses yang telah dirancang yaitu berupa lembar observasi/pengamatan komponen RPP yang memuat sebelas komponen yaitu: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil belajar ( soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah membuat RPP dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan melihat RPP yang dibuat oleh guru. Terjadi peningkatan atau tidak pada siklus ke-2.
F. Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan di SMP Negeri 1 Indra Makmu
G. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
- Manfaat bagi peneliti
a. Meningkatkan kemampuan profesionalisme peneliti untuk melakukan penelitian tindakan sekolah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah binaan peneliti.
- Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menyusun serta menulis laporan dan artikel ilmiah.
- •Sebagai motivasi bagi peneliti dalam membuat karya tulis ilmiah.
- Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti sebagai syarat untuk kenaikan golongan ke- IV b.
- Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan kepada teman-teman pengawas dan guru yang akan menulis.
- Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap guru dalam menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembinaan kepada guru di sekolah binaan.
- Manfaat bagi sekolah
a. Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM yang lebih lengkap.
b. Dapat meningkatkan kualitas pendidikan karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sudah tersampaikan.
- Manfaat bagi guru
a. Dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat RPP dengan lengkap serta menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan tugasnya.
b. Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar sehingga apa yang diinginkan dalam standar isi dapat tersampaikan.
- Manfaat bagi siswa
a. Adanya kesiapan belajar, keseriusan , keingintahuan, dan semangaat belajar tinggi terhadap pelajaran.
b. Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga tercapai target kompetensinya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
- Pengertian Guru
Secara etimologi ( asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India yang artinya ” orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” Shambuan, Republika, ( dalam Suparlan 2005:11).
Kemudian Rabindranath Tagore (dalam Suparlan 2005:11) menggunakan istilah Shanti Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun spiritualitas anak-anak bangsa di India ( spiritual intelligence).
Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas dalam kegiatan keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) dan kecerdasan intelektual (intellectual intelligence), tetapi juga menyangkut kecerdasan kinestetik jasmaniah (bodily kinesthetic), seperti guru tari, guru olah raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian, guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya.
Poerwadarminta ( dalam Suparlan 2005:13) menyatakan, “guru adalah orang yang kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Pengertian guru ini hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih. Selanjutnya Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan,” guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak.”
UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.”
PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, ”pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.
B. Standar Kompetensi Guru
1. Pengertian Standar Kompetensi Guru
Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak” . “Secara sederhana kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana Sudjana 2009:1).
Nurhadi (2004:15) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-baiknya.”
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah sebagai suatu kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan, keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan, ” guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” Dari rumusan di atas jelas disebutkan pemilikan kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus dipenuhi oleh guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya.
Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yakni (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan standar Kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen yang kait- mengait, yakni: 1) pengelolaan pembelajaran, 2) pengembangan profesi, dan 3) penguasaan akademik. Komponen pertama terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi tujuh kompetensi dasar, yaitu: 1) penyusunan rencana pembelajaran, 2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, 5) pengembangan profesi, 6) pemahaman wawasan kependidikan, dan 7) penguasaan bahan kajian akademik ( sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).
Abdurrahman Mas’ud (dalam Suparlan 2005:99) menyebutkan tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru, yakni: (1) menguasai materi atau bahan ajar, (2) antusiasme, dan ( 3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik.
2. Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru
Depdiknas (2004: 4) tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya. Adapun manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan
C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
1. Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus merupakan sebagian sub-sistem pembelajaran yang terdiri dari atau yang satu sama yang lain saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Hal penting yang berkaitan dengan pembelajaran adalah penjabaran tujuan yang disusun berdasarkan indikator yang ditetapkan.
Philip Combs ( dalam Kurniawati, 2009:66 ) menyatakan bahwa perencanaan program pembelajaran merupakan suatu penetapan yang memuat komponen-komponen pembelajaran secara sistematis. Analisis sistematis merupakan proses perkembangan pendidikan yang akan mencapai tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien disusun secara logis, rasional, sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah (masyarakat). Perencanaan program pembelajaran adalah hasil pemikiran, berupa keputusan yang akan dilaksanakan . Selanjutnya Oemar Hakim (dalam Kurniawati 2009:74) menyatakan, ”bahwa perencanaan program pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan program jangka pendek untuk memperkirakan suatu proyeksi tentang sesuatu yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran”.
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus.”
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.
Dalam KTSP, guru bersama warga sekolah berupaya menyusun kurikulum dan perencanaan program pembelajaran, meliputi: program tahunan, program semester, silabus, dan rencana peleksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. RPP merupakan acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiap KD. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu KD.
2. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007, komponen RPP terdiri dari a). identitas mata pelajaran, (b) standar kompetensi, (c) kompetensi dasar, (d) indikator pencapaian kompetensi, (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g) alokasi waktu , (h) metode pembelajaran, (i) kegiatan pembelajaran meliputi: pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar, (k) penilaian hasil belajar meliputi: soal, skor dan kunci jawaban.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 (2005 pasal 20) menyatakan bahwa, ”RPP minimal memuat sekurang-kurangnya lima komponen yang meliputi: (1) tujuan pembelajaran, (2) materi ajar, (3) metode pengajaran, (4) sumber belajar, dan (5) penilaian hasil belajar.”
3. Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a) memperhatikan perbedaan individu peserta didik, b) mendorong partisipasi aktif peserta didik, c) mengembangkan budaya membaca dan menulis, d) memberikan umpan balik dan tindak lanjut, e) keterkaitan dan keterpaduan, f) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP .
4. Langkah- langkah Menyusun RPP
Langkah-langkah menyusun RPP adalah a) mengisi kolom identitas, b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, c) Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah ditentukan, e) mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus, materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, f) menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. h) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, i) menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran dan kunci jawaban
5. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun RPP
Dalam penyusunan RPP perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (a) RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih, b) tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus di capai oleh peserta didik sesuai dengan kompetenrsi dasar, c) tujuan pembelajaran dapat mencakupi sejumlah indikator, atau satu tujuan pembelajaran untuk beberapa indikator, yang penting tujuan pembelajaran harus mengacu pada pencapaian indikator, d) Kegiatan pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran) dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPP terdapat 3 kali pertemuan, maka dalam RPP tersebut terdapat 3 langkah pembelajaran, e). Bila terdapat lebih dari satu pertemuan untuk indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan yang lengkap untuk setiap pertemuannya.
BAB III
METODE PENELITIAN
- Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian , jadwal penelitian, dan siklus PTS sebagai berikut :
1. Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di salah satu sekolah binaan berstatus swasta yaitu SMP Negeri 1 Inda Makmu Kabupaten Aceh Timur
Pemilihan sekolah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana perlaksanaan pembelajaran (RPP) dengan lengkap.
2. Waktu Penelitian
PTS ini dilaksanakan pada semester satu tahun 2010 selama kurang lebih satu setengah bulan mulai Agustus sampai dengan Oktober 2010.
- Jadwal Pelaksanaan Penelitian
- Jadwal pelaksanaan penelitian seperti pada tabel berikut.
|
No. |
Kegiatan |
Waktu |
| 1. | Membuat proposal | ………………………. Agustus 2010 |
| 2. | Merevisi proposal | ………………………..Agustus 2010 |
| 3. | Melaksanakan PTS | ……………………….. September 2010 |
| 4. | Membuat laporan PTS | ……………………………. 2010 |
| 5. | Mempresentasikan hasil PTS | ……………………………… 2010 |
4. Siklus Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP ).
B. Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah
Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat berbagai input instrument yang digunakan untuk mendapatkan data dan informasi.
C. Subjek Penelitian
Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah guru SMP Negeri 1 Indra Makmu Kabupaten Aceh Timur
D. Sumber Data
Sumber data dalam PTS ini adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat guru.
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Teknik
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan diskusi.
a. Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan data atau informasi tentang pemahaman guru terhadap RPP.
b. Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.
c. Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.
a. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
b. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen RPP yang telah dibuat dan yang belum dibuat oleh guru .
c. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan guru.
F. Prosedur Penelitian
Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru, dalam meningkatkan kemampuan guru agar menjadi lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran .
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus. ”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara, observasi/pengamatan, dan diskusi yang berupa persentase atau angka-angka.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru dalam menyusun RPP. Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau usaha guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Sekolah, menurut Sudarsono, F.X, (1999:2) yakni:
1. Rencana : Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP secara lengkap. Solusinya yaitu dengan melakukan : a) wawancara dengan guru dengan menyiapkan lembar wawancara, b) Diskusi dalam suasana yang menyenangkan dan c) memberikan bimbingan dalam menyusun RPP secara lengkap.
2. Pelaksanaan: Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP yang lengkap yaitu dengan memberikan bimbingan berkelanjutan pada guru sekolah binaan .
3. Observasi: Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat untuk memotret seberapa jauh kemampuan guru dalam menyusun RPP dengan lengkap, hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru dalam mencapai sasaran.
Selain itu juga peneliti mencatat hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan wawancara. Rekaman dari pertemuan dan wawancara akan digunakan untuk analisis dan komentar kemudian.
4. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil dari refleksi ini, peneliti bersama guru melaksanakan revisi atau perbaikan terhadap RPP yang telah disusun agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai dengan yang peneliti inginkan.
Prosedur penelitian adalah suatu rangkaian tahap-tahap penelitian dari awal sampai akhir. Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur sebagaimana kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk. Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling terkait dan secara urut membentuk sebuah siklus. Penelitian Tindakan Sekolah merupakan penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.”
Alur PTS dapat dilihat pada Gambar berikut :
Gambar Alur Penelitian Tindakan Kelas
G. Rencana Pelaksanaan
Rencana pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus yaitu:
1. Siklus Pertama (Siklus I )
a).Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat format/instrumen wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil penyusunan RPP).
b). Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan atau hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
b). Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap.
c). Peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP.
d). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
f). Peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lengkap.
e). Peneliti dan guru melakukan refleksi.
2. Siklus Kedua (Siklus II)
a). Peneiti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua, mengumpulkan, dan melakukan pembimbingan penyusunan RPP.
b). Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II.
c). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
d). Peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP.
d). Peneliti dan guru melakukan refleksi.
H. Indikator Pencapaian Hasil
Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru membuat kesebelas komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.
1. Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%.
2. Komponen standar kompetensi diharapkan ketercapaiannya 85%.
3. Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.
4. Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 75%.
5. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.
6. Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%.
7. Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.
8. Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya 75%.
9. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%.
10. Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.
11. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban) diharapkan ketercapaiannya 75%
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
- Deskripsi Hasil Penelitian
Dari hasil wawancara terhadap delapan orang guru, peneliti memperoleh informasi bahwa semua guru (delapan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP secara lengkap.
Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap delapan RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-subkomponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.
Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus
(Lampiran 4).
Siklus I (Pertama)
Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.
1. Perencanaan ( Planning )
- Membuat lembar wawancara
- Membuat format/instrumen penilaian RPP
- Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP siklus I dan II
- Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP dari siklus ke siklus
2. Pelaksanaan (Acting)
Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya komponen RPP yang belum dibuat oleh guru. Sebelas komponen RPP yakni: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11) penilaiaan hasil belajar ( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini:
Observasi dilaksanakan Selasa, ……………. 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban. Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.
Siklus II (Kedua)
Siklus kedua juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua dapat dideskripsikan berikut ini:
Observasi dilaksanakan Selasa, 21 September 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.
- Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
- Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.
- Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.
- Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.
Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.
- Pembahasan
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Tunas Harapan Sebawi Kabupaten Sambas yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus swasta, terdiri atas delapan guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.
Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.
- Komponen Identitas Mata Pelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
- Komponen Standar Kompetensi
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.
- Komponen Kompetensi Dasar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.
4. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi
Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
5. Komponen Tujuan Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.
6. Komponen Materi Ajar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.
7. Komponen Alokasi Waktu
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
8. Komponen Metode Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.
- Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.
10. Komponen Sumber Belajar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.
11. Komponen Penilaian Hasil Belajar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 3 (kurang baik dan baik), tiga orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%, pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP 83%, terjadi peningkatan 14%.
Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus SMP Tunas Harapan Sebawi (Lampiran 4).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
- Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.
- Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
- Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan 14% dari siklus I.
- Saran
Telah terbukti bahwa dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi dan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.
- Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .
- RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
- Dokumen RPP hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiyah. 1980. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.
Dewi, Kurniawati Eni . 2009. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Dan Sastra Indonesia Dengan Pendekatan Tematis. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.
Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Depdiknas.
2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
2005. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007a tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.
2007. Permendiknas RI No. 12 Tahun 2007b tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarata: Depdiknas.
2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran SMA. Jakarta.
2008. Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta: Depdiknas.
2009. Petunjuk Teknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya Tulis Ilmiah Dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.
Fatihah, RM . 2008. Pengertian konseling (Http://eko13.wordpress.com, diakses 19 Maret 2009).
Imron, Ali. 2000. Pembinaan Guru Di Indonesia. Malang: Pustaka Jaya.
Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.
2010. Supervisi Akademik. Jakarta.
Kumaidi. 2008. Sistem Sertifikasi (http://massofa.wordpress.com diakses 10 Agustus 2009).
Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Pidarta, Made
1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta : Binamitra Publishing.
Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan
pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
2006. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua
PROPOSAL PTS
PENINGKATAN KEMAMPUAN KEPALA SEKOLAH DALAM MEMBUAT EVALUASI DIRI SEKOLAH MELALUI PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS PADA ENAM SEKOLAH BINAAN
DI KABUPATEN ACEH TIMUR TAHUN 2011
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan penguatan kepala sekolah
dan pengawas di P4TK Medan-Sumatera Utara
Oleh :
NURDIN, S.Pd.
NIP. 19760924 200012 1 003
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR
DINAS PENDIDIKAN
2011
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga proposal Penelitian Tindakan Kelas sebagai tugas pada pelatihan peningkatan kepala sekolah dan pengawas ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Rasulullah SAW, yang telah membawa risalah Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta.
Terima kasih saya ucapkan kepada panitia pelaksana yang telah mengundang kami. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada fasilitator yang telah membimbing kami sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas pelatihan ini tepat pada waktunya.
Kepada teman-teman di lokal D yang telah bersama-sama melewati pelatihan bersama saya, saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya. Semoga proposal ini dapat dilanjutkan menjadi sebuah penelitian yang sesungguhnya dan bermanfaat bagi kita semua.
Medan, 27 Mei 2011
Peneliti/Peserta
Nurdin, S.Pd.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………. i
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah ……………………………………………………………. 1
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………………. 2
- Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………… 2
- Manfaat Penelitian …………………………………………………………………… 2
BAB II KAJIAN TEORITIS
- Kajian Teori ……………………………………………………………………………… 3
- Kerangka Teori ………………………………………………………………………… 3
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
- Subyek, lokasi, dan waktu penelitian …………………………………………… 4
- Prosedur Penelitian ………………………………………………………………….. 4
- Teknik Pengumpulan Data …………………………………………………………. 4
- Teknik Analisis Data ………………………………………………………………….. 4
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………… 5
BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang Masalah
Persyaratan menjadi kepala sekolah telah ditentukan oleh Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah. Para kepala sekolah harus memiliki kompetensi berikut: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial.
Kementerian Pendidikan Nasional juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dimana Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan komponen penting. Oleh sebab itu kepada para kepala sekolah perlu disosialisasikan EDS dalam aspek konsep, tujuan, manfaat, pemahaman instrument EDS sampai cara memakainya.
Kenyataan di sekolah binaan pada saat ini, belum semua kepala sekolah binaan peneliti memahami tentang EDS, termasuk menggunakan instrument EDS tersebut. Oleh karena itu perlu diberikan bimbingan teknis terhadap enam sekolah binaan agar dapat memahami dan menggunakan instrument Evaluasi Diri Sekolah sebagai dasar pembuatan RKS, dimana hal ini akan bermuara pada peningkatan mutu pndidikan di sekolah binaan.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti merencanakan melakukan penelitian tindakan sekolah dengan judul “Peningkatan Kemampuan Kepala Sekolah Dalam Membuat Evaluasi Diri Sekolah Melalui Pemberian Bimbingan Teknis Pada Enam Sekolah Binaan Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011”.
- B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) dapat meningkatan Kemampuan Kepala Sekolah pada enam sekolah binaan dalam Membuat Evaluasi Diri Sekolah Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011?”
- C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui Apakah pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) dapat meningkatan Kemampuan Kepala Sekolah pada enam sekolah binaan dalam Membuat Evaluasi Diri Sekolah Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011.
- D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian ini adalah:
- Meningkatkan kemampuan pengawas dalam melakukan penelitian tindakan sekolah sebagai salah satu bentuk pengembangan keprofesian berkelanjutan pengawas.
- Kepala Sekolah dapat menyelesaikan pembuatan RKS melalui pelaporan Evaluasi Diri Sekolah (EDS).
- Pengembangan sekolah akan lebih terencana dan terpadu, sehingga memungkinkan sekolah dapat melaksanakan program-program kerja sekolah sesuai dengan perencanaan dan kekuatan yang dimilikinya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
- A. Kajian Teori
- 1. Evaluasi Diri Sekolah (EDS)
Evaluasi Diri Sekolah (EDS) adalah proses evaluasi diri sekolah yang bersifat internal yang melibatkan pemangku kepentingan untuk melihat kinerja sekolah berdasarkan SPM dan SNP yang hasilnya dipakai sebagai dasar Penyusunan RKS dan sebagai masukan bagi perencanaan investasi pendidikan tingkat kab/kota (Suplemen Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah).
- 2. Bimbingan Teknis (Bimbek)
Bimbingan teknis adalah pemberian bimbingan atau bantuan dari pihak yang mengetahui/menguasai sesuatu kepada pihak lain yang memiliki tingkat pengetahuan/ketrampilan lebih rendah.
- B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan Kajian teori di atas, peneliti meyakini bahwa pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) dapat meningkatan Kemampuan Kepala Sekolah pada enam sekolah binaan dalam membuat Evaluasi Diri Sekolah Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011.
BAB III METODE PENELITIAN
- A. Subyek, Lokasi, dan Waktu Penelitian
Subyek penelitian ini para kepala sekolah binaah peneliti yang berjumlah enam orang. Keenam orang kepala tersebut berasa dari sekolah : SMA Negeri 1 Idi, SMP Negeri 1 Rantau Seulamat, SMP Negeri 1 Idi, SMP Negeri 2 Serba Jadi, SMP Negeri 1 Simpang Ulim, SMP Negeri 1 Pante Bidari. Keenam sekolah binaan tersebut berada di dalam wilayah Kabupaten Aceh Timur. Waktu penelitian direncanakan selama 3 bulan.
- B. Prosedur Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah ini direncanakan dilakukan dalam 2 siklus selama 3 bulan. Setiap siklus dari tahapan-tahapan; perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi dan refleksi.
Indikator keberhasilan tindakan dalam penelitian ini adalah terdapat 6 orang kepala sekolah (100%) dapat membuat Evaluasi Diri Sekolah dengan benar.
- C. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung (observasi) dan wawancara. Sedangkan instrument pengambilan datanya adalah lembar observasi dan pedoman wawancara.
- D. Teknik Analisis Data
Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif persentase. Membandingkan persentase jumlah kepala sekolah yang dapat membuat EDS dan membandingkannya dengan indicator keberhasilan.
DAFTAR PUSTAKA
- Suplemen Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah. 2011. Evaluasi Diri Sekolah. Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Nasional.
- Permendiknas nomor 12 tahun 2007 tentang standar kompetensi pengawas sekolah.
- Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi kepala sekolah
- Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan
UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SMP NEGERI 1 RANTAU PEUREULAK
D
i
s
u
s
u
n
o l e h
HASBI ABDULLAH, S. Pd
NIP. 19561231 198003 1 078
DINAS PENDIDIKAN
KABUPATEN ACEH TIMUR
2011
DAFTAR ISI
Halaman Judul ………………………………………………………………….. i
Lembar Pengesahan………………………………………………………………………… ii
Daftar Isi……………………………………………………………………………………….. iii
Kata Pengantar………………………………………………………………………………. iv
Daftar Lampiran…………………………………………………………………………….. v
Ringkasan……………………………………………………………………………………… vi
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………. 1
- Latar Belakang…………………………………………………………………….. 1
- Identifikasi Masalah…………………………………………………………….. 5
- Pembatasan Masalah…………………………………………………………….. 6
- Rumusan Masalah………………………………………………………………… 6
- Pemechan Masalah……………………………………………………………….. 6
- Tujuan Penelitian…………………………………………………………………. 7
- Manfaat Penelitian……………………………………………………………….. 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………….. 10
- Pengertian Guru…………………………………………………………………… 10
- StandarKompetensiGuru………………………………………………………. 11
- RencanaPelaksanaanPembelajaran………………………………………….. 14
BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………….. 20
- Setting Penelitian…………………………………………………………………. 20
- PersiapanPenelitianTindakanSekolah……………………………………… 21
- SubjekPenelitian………………………………………………………………….. 21
- Sumber data………………………………………………………………………… 21
- Teknik Dan AlatPengumpulan Data……………………………………….. 21
- ProsedurPenelitian……………………………………………………………….. 22
- RencanaPelaksanaan…………………………………………………………….. 25
- IndikatorPencapaianHasil……………………………………………………… 26
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN……………………. 28
- DeskripsiHasilPenelitian……………………………………………………….. 28
- Pembahasan………………………………………………………………………… 31
BAB V Simpulan Dan Saran
- Simpulan…………………………………………………………………………….. 37
- Saran………………………………………………………………………………….. 37
Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….. 39
LAMPIRAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas materi penelitian Tindakan Sekolah pada Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan ( LPMP ) Provinsi Aceh.
Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan, khususnya kualitas pengelolaan kelas sangat ditentukan oleh penguasaan kompetensi secara memadai oleh guru. Untuk meningkatkan kompetensi guru antara lain dapat ditempuh melalui peningkatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .
Untuk itulah, maka melalui Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah, setiap peserta wajib membuat karya ilmiah dan untuk kepala sekolah diwajibkan melakukan Penelitian Tindakan Sekolah pada saat On the Job Learning.. Untuk melaksanakan kegiatan “Penelitian Tindakan Sekolah”, maka pada pelaksanaannya Kepala Sekolah berkolaborasi dengan guru.
Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Selanjutnya penulis mohon adanya perbaikan atas laporan ini, karena penulis menyadari, bahwa dimungkinkan terdapat sejumlah kekuarangannya, semoga saja laporan penelitian Tindakan Sekolah ini mendapatkan perhatian dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak yang berkompeten.
BAB I. PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen sistem pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu: tenaga kependidikan guru dan non guru . Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, ”komponen-komponen sistem pendidikan yang bersifat sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi tenaga pendidik dan pengelola satuan pendidikan ( penilik, pengawas, peneliti dan pengembang pendidikan ).” Tenaga gurulah yang mendapatkan perhatian lebih banyak di antara komponen-komponen sistem pendidikan. Besarnya perhatian terhadap guru antara lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus seperti kenaikan tunjangan fungsional guru dan sertifikasi guru.
Usaha-usaha untuk mempersiapkan guru menjadi profesional telah banyak dilakukan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya. “Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan (1) guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan beban, (3) seringnya siswa mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4) masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana mestinya” (Imron, 2000:5).
Berdasarkan kenyataan begitu berat dan kompleksnya tugas serta peran guru tersebut, perlu diadakan supervisi atau pembinaan terhadap guru secara terus menerus untuk meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar usaha membimbing siswa untuk belajar dapat berkembang.
”Proses pengembangan kinerja guru terbentuk dan terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di tempat mereka bekerja. Selain itu kinerja guru dipengaruhi oleh hasil pembinaan dan supervisi kepala sekolah” (Pidarta, 1992:3). Pada pelaksanaan KTSP menuntut kemampuan baru pada guru untuk dapat mengelola proses pembelajaran secara efektif dan efisien. Tingkat produktivitas sekolah dalam memberikan pelayanan-pelayanan secara efisien kepada pengguna ( peserta didik, masyarakat ) akan sangat tergantung pada kualitas gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok.
Direktorat Pembinaan SMA (2008:3) menyatakan ”kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas, mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan konsekuensinya, adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan ) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif”.
Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses pembelajaran di kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru harus mempersiapkan ( merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.
Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPP memuat KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.
Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor yang paling dominan karena di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya. Seorang guru dikatakan profesional apabila (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2) bangga dengan tugas profesinya, ( 3) selalu menjaga dan berupaya meningkatkan kompetensinya, (4) bekerja dengan sungguh tanpa harus diawasi, (5) menjaga nama baik profesinya, (6) bersyukur atas imbalan yang diperoleh dari profesinya.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang 8 Standar Nasional Pendidikan menyatakan standar proses merupakan salah satu SNP untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang mencakup: 1) Perencanaan proses pembelajaran, 2) Pelaksanaan proses pembelajaran, 3) Penilaian hasil pembelajaran, 4) dan pengawasan proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru pada satuan pendidikan . Guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuat dengan alasan ketinggalan di rumah dan bagi guru yang sudah membuat RPP masih ditemukan adanya guru yang belum melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada komponen penilaian ( penskoran dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya dengan alasan sudah tahu dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah membuatnya. Masalah yang lain yaitu sebagian besar guru khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan pengembangan RPP. Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai Diklat Peningkatan Profesionalisme Guru dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak guru yang belum tahu dan memahami penyusunan/pembuatan RPP secara baik/lengkap. Beberapa guru mengadopsi RPP orang lain. Hal ini peneliti ketahui pada saat mengadakan supervisi akademik (supervisi kunjungan kelas) ke sekolah binaan. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.
Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah berusaha untuk memberi bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah berdasarkan Permendiknas No.12 Tahun 2007 tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang salah satunya adalah supervisi akademik yaitu membina guru.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat penting bagi seorang guru karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut.
1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.
2. Sebagian besar guru belum mendapatkan pelatihan pengembangan KTSP.
3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan berbagai alasan.
4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada komponen langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.
5. Guru banyak yang mengadopsi RPP orang lain.
C. Pembatasan Masalah
Dari lima masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi menjadi:
1. Guru belum paham dalam menyusun RPP. 2. RPP yang dibuat guru belum lengkap.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di atas, diajukan rumusan masalah sebagai berikut.
Apakah dengan bimbingan berkelanjutan akan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP ?
E. Pemecahan Masalah/Tindakan
1. Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan dan bimbingan berkelanjutan serta arahan kepada guru tentang pentingnya seorang guru membuat RPP secara lengkap. Dengan bimbingan berkelanjutan diharapkan guru termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan dalam mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi dapat tersampaikan semua karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada siklus pertama.
2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru dalam menyusun RPP melalui instrument proses yang telah dirancang yaitu berupa lembar observasi/pengamatan komponen RPP yang memuat sebelas komponen yaitu: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil belajar ( soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah membuat RPP dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan melihat RPP yang dibuat oleh guru. Terjadi peningkatan atau tidak pada siklus ke-2.
F. Tujuan Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan di sekolah SMP Negeri 1 Ranto Peureulek.
G. Manfaat Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
- Manfaat bagi peneliti
a. Meningkatkan kemampuan profesionalisme peneliti untuk melakukan penelitian tindakan sekolah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah binaan peneliti.
- Meningkatkan kemampuan peneliti dalam menyusun serta menulis laporan dan artikel ilmiah.
- Sebagai motivasi bagi peneliti dalam membuat karya tulis ilmiah.
- Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti sebagai syarat untuk kenaikan golongan ke- IV b.
- Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan kepada teman-teman pengawas dan guru yang akan menulis.
- Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap guru dalam menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembinaan kepada guru di sekolah binaan.
- Manfaat bagi sekolah
a. Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM yang lebih lengkap.
b. Dapat meningkatkan kualitas pendidikan karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar sudah tersampaikan.
- Manfaat bagi guru
a. Dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat RPP dengan lengkap serta menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan tugasnya.
b. Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar sehingga apa yang diinginkan dalam standar isi dapat tersampaikan.
- Manfaat bagi siswa
a. Adanya kesiapan belajar, keseriusan , keingintahuan, dan semangaat belajar tinggi terhadap pelajaran.
b. Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga tercapai target kompetensinya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
- A. Pengertian Guru
Secara etimologi ( asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India yang artinya ” orang yang mengajarkan tentang kelepasan dari sengsara” Shambuan, Republika, ( dalam Suparlan 2005:11).
Kemudian Rabindranath Tagore (dalam Suparlan 2005:11) menggunakan istilah Shanti Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun spiritualitas anak-anak bangsa di India ( spiritual intelligence).
Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas dalam kegiatan keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) dan kecerdasan intelektual (intellectual intelligence), tetapi juga menyangkut kecerdasan kinestetik jasmaniah (bodily kinesthetic), seperti guru tari, guru olah raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian, guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya.
Poerwadarminta ( dalam Suparlan 2005:13) menyatakan, “guru adalah orang yang kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Pengertian guru ini hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih. Selanjutnya Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan 2005:13) menyatakan,” guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak.”
UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.
Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukanpenelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.”
PP No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, ”pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.
B. Standar Kompetensi Guru
1. Pengertian Standar Kompetensi Guru
Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak” . “Secara sederhana kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana Sudjana 2009:1).
Nurhadi (2004:15) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-baiknya.”
Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah sebagai suatu kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan, keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.
Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan, ” guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.” Dari rumusan di atas jelas disebutkan pemilikan kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus dipenuhi oleh guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya.
Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh guru yakni (1) kompetensi pedagogik, (2) kompetensi kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.
Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan standar Kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen yang kait- mengait, yakni: 1) pengelolaan pembelajaran, 2) pengembangan profesi, dan 3) penguasaan akademik. Komponen pertama terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut secara keseluruhan meliputi tujuh kompetensi dasar, yaitu: 1) penyusunan rencana pembelajaran, 2) pelaksanaan interaksi belajar mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik, 5) pengembangan profesi, 6) pemahaman wawasan kependidikan, dan 7) penguasaan bahan kajian akademik ( sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).
Abdurrahman Mas’ud (dalam Suparlan 2005:99) menyebutkan tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki guru, yakni: (1) menguasai materi atau bahan ajar, (2) antusiasme, dan ( 3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik.
2. Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru
Depdiknas (2004: 4) tujuan adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya. Adapun manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.
C. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
1. Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus merupakan sebagian sub-sistem pembelajaran yang terdiri dari atau yang satu sama yang lain saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Hal penting yang berkaitan dengan pembelajaran adalah penjabaran tujuan yang disusun berdasarkan indikator yang ditetapkan.
Philip Combs ( dalam Kurniawati, 2009:66 ) menyatakan bahwa perencanaan program pembelajaran merupakan suatu penetapan yang memuat komponen-komponen pembelajaran secara sistematis. Analisis sistematis merupakan proses perkembangan pendidikan yang akan mencapai tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien disusun secara logis, rasional, sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah (masyarakat). Perencanaan program pembelajaran adalah hasil pemikiran, berupa keputusan yang akan dilaksanakan . Selanjutnya Oemar Hakim (dalam Kurniawati 2009:74) menyatakan, ”bahwa perencanaan program pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan program jangka pendek untuk memperkirakan suatu proyeksi tentang sesuatu yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran”.
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus.”
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.
Dalam KTSP, guru bersama warga sekolah berupaya menyusun kurikulum dan perencanaan program pembelajaran, meliputi:program tahunan,program semester, silabus, dan rencana peleksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. RPP merupakan acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiapKD. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu KD.
2. Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007, komponen RPP terdiri dari a). identitas mata pelajaran, (b) standar kompetensi, (c) kompetensi dasar, (d) indikator pencapaian kompetensi, (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g) alokasi waktu , (h) metode pembelajaran, (i) kegiatan pembelajaran meliputi: pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar, (k) penilaian hasil belajar meliputi: soal, skor dan kunci jawaban.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 (2005 pasal 20) menyatakan bahwa, ”RPP minimal memuat sekurang-kurangnya lima komponen yang meliputi: (1) tujuan pembelajaran, (2) materi ajar, (3) metode pengajaran, (4) sumber belajar, dan (5) penilaian hasil belajar.”
3. Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP
Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut: a) memperhatikan perbedaan individu peserta didik, b) mendorong partisipasi aktif peserta didik, c) mengembangkan budaya membaca dan menulis, d) memberikan umpan balik dan tindak lanjut, e) keterkaitan dan keterpaduan, f) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP .
4. Langkah- langkah Menyusun RPP
Langkah-langkah menyusun RPP adalah a) mengisi kolom identitas, b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, c) Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah ditentukan, e) mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus, materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, f) menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. h) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, i) menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran dan kunci jawaban
5. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun RPP
Dalam penyusunan RPP perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (a) RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih, b) tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus di capai oleh peserta didik sesuai dengan kompetenrsi dasar, c) tujuan pembelajaran dapat mencakupi sejumlah indikator, atau satu tujuan pembelajaran untuk beberapa indikator, yang penting tujuan pembelajaran harus mengacu pada pencapaian indikator, d) Kegiatan pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran) dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPP terdapat 3 kali pertemuan, maka dalam RPP tersebut terdapat 3 langkah pembelajaran, e). Bila terdapat lebih dari satu pertemuan untuk indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan yang lengkap untuk setiap pertemuannya.
D. Bimbingan Berkelanjutan
1. Pengertian Bimbingan dan berkelanjutan
Frank Parson. 1951 (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com) menyatakan, “bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya.” Chiskon 1959 (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com ) menyatakan, “bimbingan membantu individu untuk lebih mengenal berbagai informasi tentang dirinya sendiri.”
Berikutnya Bernard dan Fullmer 1969 (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com ) menyatakan, ”bahwa bimbingan dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri individu.” Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan lingkungannya. Menurut Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”bimbingan adalah petunjuk penjelasan cara mengerjakan sesuatu, tuntutan.”
Dari beberapa pengertian bimbingan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bimbingan adalah pemberian bantuan kepada individu secara berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, ”berkelanjutan adalah berlangsung terus menerus, berkesinambungan.”
Berdasarkan pengertian bimbingan dan berkelanjutan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa bimbingan berkelanjutan adalah pemberian bantuan yang diberikan seorang ahli kepada seseorang atau individu secara berkelanjutan berlangsung secara terus menerus untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan mendapat kemajuan dalam bekerja.
BAB III
METODE PENELITIAN
- A. Setting Penelitian
Setting dalam penelitian ini meliputi: tempat penelitian, waktu penelitian , jadwal penelitian, dan siklus PTS sebagai berikut :
1. Tempat Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di salah satu sekolah binaan berstatus swasta yaitu SMP Tunas Harapan Sebawi.
Pemilihan sekolah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun rencana perlaksanaan pembelajaran (RPP) dengan lengkap.
2.Waktu Penelitian
PTS ini dilaksanakan pada semester satu tahun 2010 selama kurang lebih satu setengah bulan mulai Agustus sampai dengan Oktober 2010.
3. Jadwal Pelaksanaan Penelitian Jadwal pelaksanaan penelitian seperti pada tabel berikut.
|
No. |
Kegiatan |
Waktu |
| 1. | Membuat proposal | ………………………. Agustus 2010 |
| 2. | Merevisi proposal | ………………………..Agustus 2010 |
| 3. | Melaksanakan PTS | ……………………….. September 2010 |
| 4. | Membuat laporan PTS | ……………………………. 2010 |
| 5. | Mempresentasikan hasil PTS | ……………………………… 2010 |
4. Siklus Penelitian
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan melalui dua siklus untuk melihat peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP ).
B. Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah
Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat berbagai input instrument yang digunakan untuk mendapatkan data dan informasi.
C. Subjek Penelitian
Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah guru SD Negeri Sungai Pauh Kota Langsa
D. Sumber Data
Sumber data dalam PTS ini adalah rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dibuat guru.
E. Teknik dan Alat Pengumpulan Data
1. Teknik
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan diskusi.
a. Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan data atau informasi tentang pemahaman guru terhadap RPP.
b. Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.
c. Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.
a. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
b. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen RPP yang telah dibuat dan yang belum dibuat oleh guru .
c. Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara peneliti dengan guru.
F. Prosedur Penelitian
Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru, dalam meningkatkan kemampuan guru agar menjadi lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran .
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus. ”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara, observasi/pengamatan, dan diskusi yang berupa persentase atau angka-angka.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru dalam menyusun RPP. Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau usaha guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Sekolah, menurut Sudarsono, F.X, (1999:2) yakni:
1. Rencana : Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP secara lengkap. Solusinya yaitu dengan melakukan : a) wawancara dengan guru dengan menyiapkan lembar wawancara, b) Diskusi dalam suasana yang menyenangkan dan c) memberikan bimbingan dalam menyusun RPP secara lengkap.
2. Pelaksanaan: Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP yang lengkap yaitu dengan memberikan bimbingan berkelanjutan pada guru sekolah binaan .
3. Observasi: Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat untuk memotret seberapa jauh kemampuan guru dalam menyusun RPP dengan lengkap, hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru dalam mencapai sasaran.
Selain itu juga peneliti mencatat hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan wawancara. Rekaman dari pertemuan dan wawancara akan digunakan untuk analisis dan komentar kemudian.
4. Refleksi: Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil dari refleksi ini, peneliti bersama guru melaksanakan revisi atau perbaikan terhadap RPP yang telah disusun agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai dengan yang peneliti inginkan.
Prosedur penelitian adalah suatu rangkaian tahap-tahap penelitian dari awal sampai akhir. Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur sebagaimana kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk. Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling terkait dan secara urut membentuk sebuah siklus. Penelitian Tindakan Sekolah merupakan penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.”
Alur PTS dapat dilihat pada Gambar berikut :
Gambar Alur Penelitian Tindakan Kelas
G. Rencana Pelaksanaan
Rencana pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus yaitu:
1. Siklus Pertama (Siklus I )
a).Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat format/instrumen wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil penyusunan RPP).
b). Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan atau hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
b). Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap.
c). Peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP.
d). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
f). Peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lengkap.
e). Peneliti dan guru melakukan refleksi.
2. Siklus Kedua (Siklus II)
a). Peneiti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua, mengumpulkan, dan melakukan pembimbingan penyusunan RPP.
b). Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II.
c). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.
d). Peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP.
d). Peneliti dan guru melakukan refleksi.
H. Indikator Pencapaian Hasil
Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru membuat kesebelas komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.
1. Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%.
2. Komponen standar kompetensi diharapkan ketercapaiannya 85%.
3. Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.
4. Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 75%.
5. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.
6. Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%.
7. Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.
8. Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya 75%.
9. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%.
10. Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.
11. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban) diharapkan ketercapaiannya 75%.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN
- A. Deskripsi Hasil Penelitian
Dari hasil wawancara terhadap delapan orang guru, peneliti memperoleh informasi bahwa semua guru (delapan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP secara lengkap.
Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap delapan RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-subkomponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.
Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus
(Lampiran 4).
Siklus I (Pertama)
Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.
1. Perencanaan ( Planning )
- Membuat lembar wawancara
- Membuat format/instrumen penilaian RPP
- Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP siklus I dan II
- Membuatformatrekapitulasihasilpenyusunan RPP darisikluskesiklus
2. Pelaksanaan (Acting)
Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti. Hal itu dibuktikan dengan masih adanya komponen RPP yang belum dibuat oleh guru. Sebelas komponen RPP yakni: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11) penilaiaan hasil belajar ( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini:
Observasi dilaksanakan Selasa, ……………. 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
- Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban. Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.
Siklus II (Kedua)
Siklus keduajuga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua dapat dideskripsikan berikut ini:
Observasi dilaksanakan Selasa, 21 September 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.
- Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
- Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.
- Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.
- Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.
Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.
- B. Pembahasan
Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Tunas Harapan Sebawi Kabupaten Sambas yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus swasta, terdiri atas delapan guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.
Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.
- 1. Komponen Identitas Mata Pelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
- 2. Komponen Standar Kompetensi
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.
- 3. Komponen Kompetensi Dasar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.
4. Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi
Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
5. Komponen Tujuan Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.
6. Komponen Materi Ajar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.
7. Komponen Alokasi Waktu
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.
8. Komponen Metode Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.
- 9. Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.
10. Komponen Sumber Belajar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.
Penilaian Hasil Belajar
Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 3 (kurang baik dan baik), tiga orang mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.
Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%, pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP 83%, terjadi peningkatan 14%.
Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus SMP Tunas Harapan Sebawi (Lampiran 4).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
- A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.
- Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
- Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan 14% dari siklus I.
- B. Saran
Telah terbukti bahwa dengan bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan motivasi dan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.
- Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .
- RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
- Dokumen RPP hendaknya dibuat minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Daradjat, Zakiyah. 1980. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.
Dewi, Kurniawati Eni . 2009. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Dan SastraIndonesia Dengan Pendekatan Tematis. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.
Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Depdiknas.
2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.
2005. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Depdiknas.
2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.
2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007a tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.
2007. Permendiknas RI No. 12 Tahun 2007b tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarata: Depdiknas.
2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan PembelajaranSMA. Jakarta.
2008. Alat Penilaian Kemampuan Guru. Jakarta: Depdiknas.
2009. PetunjukTeknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya Tulis Ilmiah Dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.
Fatihah, RM . 2008. Pengertian konseling (Http://eko13.wordpress.com, diakses 19 Maret 2009).
Imron, Ali. 2000. Pembinaan Guru Di Indonesia. Malang: Pustaka Jaya.
Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.
2010. Supervisi Akademik. Jakarta.
Kumaidi. 2008. Sistem Sertifikasi (http://massofa.wordpress.com diakses 10 Agustus 2009).
Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Pidarta, Made . 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta: Binamitra Publishing.
Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan
pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.
Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
2006. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua
DAFTAR PUSTAKA
Erman Suherman, (2009). Model-model Pembelajaran
http ://re-searchengines.com/1207trimo1.html Penelitian Tindakan Sekolah
Iim Waliman, dkk. 2001. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Bandung : Dinas
__________Pendidikan Provinsi Jawa Barat
S Syaodih Nana, (2006). Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah(konsep,prinsif,
_______ dan instrumen). Bandung : Aditama.
Sudrajat Akhmad. Pendekatan Pembelajaran
Udin Winataputra,( 1994,34), Model pembelajaran
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan ________Nasional.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan ________Dasar dan Menengah.
Piet, A. Sahertian. Frans Mataheru, Prinsip Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya, Usaha ________Nasional, 1981
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENERAPKAN METODE PEMBELAJARAN MELALUI PELATIHAN DI SEKOLAH SMA PLUS NURUL ULUM
KABUPATEN ACEH TIMUR
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan penguatan kepala sekolah dan pengawas di P4TK Medan Sumatera Utara
Oleh :
Dra. CUT NURBAITI
NIP. 19640612 199003 2 004
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR
DINAS PENDIDIKAN
SMA PLUS NURUL ULUM
2011
BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Upaya peningkatan kemampuan guru Matematika dalam menerapkan metode pembelajaran merupakan salah satu dalam pembangunan pendidikan nasional.
Keberhasilan porses pembelajaran ditentukan oleh banyak hal, antara lain media pembelajaran yang tepat, penggunaan model pendekatan dan metode yagn efektif serta kesiapan guru dalam mengajar dan partisipasi peserta didik yang aktif.
Dengan adanya peningkatan kemmapuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran, diharapkan hasil nilai pembelajaran akan meningkat dan siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan guru matematika.
- B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
- C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
- D. Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini dilaksanakan, diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:
- Bagi Siswa;
- Untuk meningkatkan prestasi belajar dengan metode jig-saw
- Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika
- Menjadikan matematika sebagai pelajaran yang disenangi oleh semua siswa.
- Bagi guru
- Masukan bagi guru untuk memilih metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran
- Membangkitkan kreatifitas guru untuk menciptakan suasana belajar yang melibatkan siswa
- Bagi Sekolah;
- Dengan meningkatnya prestasi siswa akan meningkatkan mutu sekolah
BAB II
KAJIAN TEORITIS
- A. Kajian Teoritis dan penelitian yang relevan
- Pengertian Belajar
Pengertian belajar dapat diartikan bermacam-macam, hal ini disebabkan adanya sudut pandang yang berbeda.
- Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh guru melalui peningkatan mutu siswa.
- Motivasi
Motivasi dalambelajar adalah factor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong guru untuk menggunakan metode yang efektif dalam pembelajaran sehingga siswa dapat dengan mudah memahami dan menyenangi materi matematika
- B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teoritis dan penelitian yang relevan, peneliti meyakin bahwa melalui pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru matematika dalam menerapkan metode pembelajaran di SMA Plus Nurul Ulum.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
- A. Subyek, lokasi dan waktu penelitian
Subyek penelitian ini adalah tiga orang guru matematika. Tempat pelaksanaan penelitian di SMA Plus Nurul Ulum Kabupaten Aceh Timur. SMA Plus Nurul Ulum terletak pada Km. 394 Jalan Banda Aceh Medan. Sekolah ini didirikan pada tahun 2004. Penelitian direncanakan selama dua bulan, mulai bulan juni sampai dengan juli 2011.
- B. Prosedur penelitian
Penelitian akan dilakukan dalam 2 siklus. Tiap siklus akan terdiri dari tahapan-tahapan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi, dan refleksi.
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila:
- Semua guru matematika 100% (3 orang) dapat menerapkan model jig-saw dalam pembelajaran dengan baik.
- Ada 85% peserta didik senang terhadap pelajaran matematika.
- C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi dan pedoman wawancara
- D. Teknik Analisis Data
Data dianalisis menggunakan analisis dekriptif kualitatif. Membandingkan peningkatan kemampuan guru antar siklus dan juga dengan indikator keberhasilan.
DAFTAR PUSTAKA
Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi
Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi Kepala Sekolah
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan bermacam-macam nikmat, sehingga sampai detik ini kita masih dapat melakukan aktivitas kehidupan sebagaiamana biasa, tidak kurang suatu apapun. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah memperjuangkan tegaknya risalah Islam di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, khususnya umat islam.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada panitia pelaksana, yang telah mengundang kami hadir pada pelatihan yang cukup penting ini. Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada semua fasilitator yang telah membimbing kami tanpa lelah, sehingga semua kewajiban yang dibebankann pada peneliti dapat dilaksanakan sesuai intruksi dan arahan-arahan fasilitator.
Tanpa mengurangi rasa hormat, peneliti juga menyampaikan terima kasih mendalam untuk teman-teman peserta pelatihan, yang sudi menjadi mitra belajar peneliti di P4TK ini. Segala bantuan teman-teman, peneliti tidak dapat membalasnya, semoga Allah SWT, memberikan memberikan balasan kebaikan atas segala yang telah teman-teman berikan kepada peneliti.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, atas segala kekurangan yang ada para proposal ini. Semoga proposal ini dapat peneliti lanjutkan menjadi sebuah penelitian yang sesungguhnya dan bermanfaat bagi kita semua. Amin
Medan, 27 Mei 2011
Peneliti
Dra. Cut Nurbaiti.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………….. i
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah …………………………………………………………. …… 1
- Rumusan Masalah ………………………………………………………………………. 1
- Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………….. 2
- Manfaat Penelitian ……………………………………………………………………… 2
BAB II KAJIAN TEORITIS
- Kajian Teori ……………………………………………………………………………….. 3
- Kerangka Teori …………………………………………………………………………… 3
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
- Subyek, lokasi, dan waktu penelitian ……………………………………………… 4
- Prosedur Penelitian …………………………………………………………………….. 4
- Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………………………. 4
- Teknik Analisis Data …………………………………………………………………….. 4
Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………………… 5
PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENERAPKAN METODE PEMBELAJARAN MELALUI PELATIHAN DI SEKOLAH SMA PLUS NURUL ULUM KABUPATEN ACEH TIMUR
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan penguatan kepala sekolah dan pengawas di P4TK Medan Sumatera Utara
Oleh :
Dra. CUT NURBAITI
NIP. 19640612 199003 2 004
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR
DINAS PENDIDIKAN
SMA PLUS NURUL ULUM
2011
BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Upaya peningkatan kemampuan guru Matematika dalam menerapkan metode pembelajaran merupakan salah satu dalam pembangunan pendidikan nasional.
Keberhasilan porses pembelajaran ditentukan oleh banyak hal, antara lain media pembelajaran yang tepat, penggunaan model pendekatan dan metode yagn efektif serta kesiapan guru dalam mengajar dan partisipasi peserta didik yang aktif.
Dengan adanya peningkatan kemmapuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran, diharapkan hasil nilai pembelajaran akan meningkat dan siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan guru matematika.
- B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
- C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
- Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
- D. Manfaat Penelitian
Setelah penelitian ini dilaksanakan, diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:
- Bagi Siswa;
- Untuk meningkatkan prestasi belajar dengan metode jig-saw
- Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika
- Menjadikan matematika sebagai pelajaran yang disenangi oleh semua siswa.
- Bagi guru
- Masukan bagi guru untuk memilih metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran
- Membangkitkan kreatifitas guru untuk menciptakan suasana belajar yang melibatkan siswa
- Bagi Sekolah;
- Dengan meningkatnya prestasi siswa akan meningkatkan mutu sekolah
BAB II
KAJIAN TEORITIS
- A. Kajian Teoritis dan penelitian yang relevan
- Pengertian Belajar
Pengertian belajar dapat diartikan bermacam-macam, hal ini disebabkan adanya sudut pandang yang berbeda.
- Prestasi Belajar
Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh guru melalui peningkatan mutu siswa.
- Motivasi
Motivasi dalambelajar adalah factor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong guru untuk menggunakan metode yang efektif dalam pembelajaran sehingga siswa dapat dengan mudah memahami dan menyenangi materi matematika
- B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teoritis dan penelitian yang relevan, peneliti meyakin bahwa melalui pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru matematika dalam menerapkan metode pembelajaran di SMA Plus Nurul Ulum.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
- A. Subyek, lokasi dan waktu penelitian
Subyek penelitian ini adalah tiga orang guru matematika. Tempat pelaksanaan penelitian di SMA Plus Nurul Ulum Kabupaten Aceh Timur. SMA Plus Nurul Ulum terletak pada Km. 394 Jalan Banda Aceh Medan. Sekolah ini didirikan pada tahun 2004. Penelitian direncanakan selama dua bulan, mulai bulan juni sampai dengan juli 2011.
- B. Prosedur penelitian
Penelitian akan dilakukan dalam 2 siklus. Tiap siklus akan terdiri dari tahapan-tahapan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi, dan refleksi.
Indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila:
- Semua guru matematika 100% (3 orang) dapat menerapkan model jig-saw dalam pembelajaran dengan baik.
- Ada 85% peserta didik senang terhadap pelajaran matematika.
- C. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi dan pedoman wawancara
- D. Teknik Analisis Data
Data dianalisis menggunakan analisis dekriptif kualitatif. Membandingkan peningkatan kemampuan guru antar siklus dan juga dengan indikator keberhasilan.
DAFTAR PUSTAKA
Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi
Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi Kepala Sekolah
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan bermacam-macam nikmat, sehingga sampai detik ini kita masih dapat melakukan aktivitas kehidupan sebagaiamana biasa, tidak kurang suatu apapun. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah memperjuangkan tegaknya risalah Islam di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, khususnya umat islam.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada panitia pelaksana, yang telah mengundang kami hadir pada pelatihan yang cukup penting ini. Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada semua fasilitator yang telah membimbing kami tanpa lelah, sehingga semua kewajiban yang dibebankann pada peneliti dapat dilaksanakan sesuai intruksi dan arahan-arahan fasilitator.
Tanpa mengurangi rasa hormat, peneliti juga menyampaikan terima kasih mendalam untuk teman-teman peserta pelatihan, yang sudi menjadi mitra belajar peneliti di P4TK ini. Segala bantuan teman-teman, peneliti tidak dapat membalasnya, semoga Allah SWT, memberikan memberikan balasan kebaikan atas segala yang telah teman-teman berikan kepada peneliti.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, atas segala kekurangan yang ada para proposal ini. Semoga proposal ini dapat peneliti lanjutkan menjadi sebuah penelitian yang sesungguhnya dan bermanfaat bagi kita semua. Amin
Medan, 27 Mei 2011
Peneliti
Dra. Cut Nurbaiti.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………….. i
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………… ii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah …………………………………………………………. …… 1
- Rumusan Masalah ………………………………………………………………………. 1
- Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………….. 2
- Manfaat Penelitian ……………………………………………………………………… 2
BAB II KAJIAN TEORITIS
- Kajian Teori ……………………………………………………………………………….. 3
- Kerangka Teori …………………………………………………………………………… 3
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
- Subyek, lokasi, dan waktu penelitian ……………………………………………… 4
- Prosedur Penelitian …………………………………………………………………….. 4
- Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………………………. 4
- Teknik Analisis Data …………………………………………………………………….. 4
Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………………… 5
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya, hingga detik ini penulis masih dapat melakukan aktivitas pelatihan dengan baik. Shalawat beriring salam penulis sampaikan kehadhirat junjungan alam Nabi Muhammad SAW, atas segala pengorbanan yang telah beliau lakukan demi menyampaikan risalah islamiah kepada umat manusia, sehingga detik ini masih dapat kita amalkan ajarannya sebagai rahmat bagi semesta alam.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rangkaian terima kasih kepada panitia pelaksana, yang telah mengundang penulis sehingga mendapatkan pencerahan dan bertambah wawasan pada pelatihan penguatan kepala sekolah dan pengawas di P4TK ini. Tak lupa juga penulis menyampaikan terima kasih untuk fasilitator pelatihan, yang dengan penuh kesabaran membimbing penulis, sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan benar.
Terima kasih dan rasa bahagia penulis berikan buat rekan-rekan peserta pelatihan yang telah banyak memberikan kontribusi bagi keberhasilan penulis mengikuti kegiatan pembelajaran di P4TK ini. Semoga jasa-jasa yang telah diberikan teman-teman akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.
Akhir Kata, penulis memohon dukungan lebih lanjut bagi penyiapan proposal ini hingga menjadi laporan penelitian yang semoga membawa manfaat bagi perbaikan pendidikan di Aceh Timur pada khususnya.
Medan, 27 Mei 2011
Peneliti/Peserta
Dra. Nursyiah
DAFTAR ISI
Kata Pengantar …………………………………………………………………………………. i
Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………. ii
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah ……………………………………………………………. 1
- Rumusan Masalah ……………………………………………………………………. 1
- Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………… 2
- Manfaat Penelitian …………………………………………………………………… 2
BAB II KAJIAN TEORITIS
- Kajian Teori ……………………………………………………………………………… 3
- Kerangka Teori ………………………………………………………………………… 3
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
- Subyek, lokasi, dan waktu penelitian …………………………………………… 4
- Prosedur Penelitian ………………………………………………………………….. 4
- Teknik Pengumpulan Data …………………………………………………………. 4
- Teknik Analisis Data ………………………………………………………………….. 4
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………… 5
PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH
UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU BIOLOGI MENGGUNAKAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MELALUI PELATIHAN DI SMA NEGERI 1 RANTO PEUREULAK
KABUPATEN ACEH TIMUR
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan
penguatan kompetensi Kepala Sekolah dan Pengawas
di P4TK Medan
Oleh :
Dra. NURSYIAH
NIP. 19631231 198902 2 002
PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR
DINAS PENDIDIKAN
SMA NEGERI 1 RANTO PEUREULAK
2011
BAB. I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Biologi termasuk dalam kelompok Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam merupakan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan dari Kelompok Mata pelajaran ini dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri peserta didik (Permendiknas nomor 22 tahun 2006).
Menghasilkan lulusan yang mampu berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri amat ditentukan oleh pembelajaran yang berkualitas. Syarat terjadinya pembelajaran yang baik antara lain adalah penggunaan variasi pembelajaran yang bervariasi serta penggunaan media yang membawa siswa belajar secara kontekstual. Media pembelajaran potensial yang dapat digunakan guru secara langsung misalnya lingkungan sekolah.
Berdasarkan pengalaman peneliti di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak, kemampuan guru menggunakan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya guru melaksanaan PBM di luar kelas atau membawa preparat/media pembelajaran dari lingkungan sekolah ke dalam kelas.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti memandang perlu melakukan pembinaan melalui pemberian pelatihan kepada guru biologi untuk meningkatkan kemampuan dalam penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru biologi menggunakan lingkungan sekolah sebagai meida pembelajaran di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak?”
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui apakah pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru biologi menggunakan lingkungan sekolah sebagai meida pembelajaran di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak
D. Manfaat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini memiliki manfaat antara lain:
- Bagi Peneliti; menjadi media peningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam membuat karya tulis ilmiah berupa penelitian tindakan sekolah.
- Bagi guru; Proses Belajar Mengajar (PBM) menjadi menarik dan menyenangkan dengan penggunaan media yang murah, mudah dan berkelanjutan.
- Bagi siswa; Hasil belajar peserta didik meningkat.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
- A. Kajian Teori dan penelitian yang relevan
Sebagai tenaga profesional guru harus menyiapkan landasan bagi pengambilan keputusan yang memuaskan tentang metode pengajaran dan kegiatan belajar yang efektif. Ini perlu agar sebahagian besar siswa dapat menguasai sasaran pengajaran pada tingkat pencapaian yang dapat diterima, dalam jangka waktu yang sesuai. (Hamzah, B.Uno, 2007 : 42)
Lingkungan sekolah adalah halaman terbuka yang ada di luar kelas atau luar sekolah. Penggunaan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran biologi sangatlah relevan dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Lingkungan sekolah amat membantu guru dalam pembelajaran, karena dalam lingkungan terdapat hal-hal yang dapat mendukung kerja-kerja guru dalam pembelajaran, misalnya jenis-jenis flora dan fauna, ataupun dapat menjadi tempat untuk melakukan diskusi secara nyaman.
- B. Kerangka berpikir
Berdasarkan kajian teori dan penelitian lain yang relevan, peneliti meyakini bahwa pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru biologi menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Subyek, lokasi, dan waktu penelitian
Subyek penelitian ini adalah guru biologi SMA Negeri 1 Ranto Peureulak sebanyak 5 orang. Sekolah ini terletak di Jalan Peureulak Lokop, Desa Blang Barom Kecamatan Ranto Peureulak. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011.
B. Prosedur Penelitian
Penelitian ini direncanakan selama dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahapan-tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi dan refleksi.
C. Teknik Pengumpulan Data
Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Instrumen pengambilan data adalah lembar observasi dan pedoman wawancara.
D. Teknik Analisis Data
Teknis analais data dilakukan menggunakan analisis deskriptif persentase. Data yang diperoleh tiap siklus dibandingkan dengan indikator keberhasilan kinerja.
DAFTAR PUSTAKA
Hamzah B Uno, 2007. Profesi Kependidikan, Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta. Bumi Aksara.
Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah.



![[ Explore ] [ 52 - 20 ] Sunrise To Théoule sur Mer #3 ~ Alpes-Maritimes / France ~ [ Explore ] [ 52 - 20 ] Sunrise To Théoule sur Mer #3 ~ Alpes-Maritimes / France ~](http://static.flickr.com/8418/8748631850_1e5d93b434_t.jpg)
