EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) Apa, Mengapa dan Bagaimana

EVALUASI DIRI SEKOLAH

(EDS)

Apa, Mengapa dan Bagaimana

Bahan Ajar dan Materi Pelatihan dalam Rangka Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah/Madrasah

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

2010

KATA PENGANTAR

Persyaratan menjadi kepala sekolah/madrasah telah ditentukan oleh Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Para kepala sekolah/madrasah harus memiliki kompetensi berikut: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Kementerian Pendidikan Nasional juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dimana Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan komponen penting. Oleh sebab itu kepada para kepala sekolah/madrasah kita perlu mensosialisasikan EDS dalam aspek konsep, tujuan, manfaat, pemahaman instrument EDS sampai cara memakainya.

Materi Modul ini disusun untuk digunakan oleh para Kepala sekolah dan guru serta oleh pemangku kepentingan pendidikan lainnya agar mereka memiliki bahan belajar mandiri yang mudah dipakai dalam rangka penguatan kemampuan manajerial mereka.  Modul ini merupakan bagian dari modul tentang Manajemen Berbasis Sekolah dalam rangka penguatan kemampuan manajerial para kepala sekolah/madrasah.

Kepada anggota Tim Penulis kami mengucapkan banyak terima kasih atas dedikasi dan kerja kerasnya sehingga dapat menghasilkan buku yang cukup baik ini. Kami harap dapat menerima saran-saran untuk penyempurnaan Modul ini agar dapat membantu terciptanya upaya Pengembangan Professional yang berkesinambungan bagi para kepala sekolah/madrasah.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam meningkatkan mutu pendidikan di negara kita.

Jakarta, Juli 2010

Dirjen PMPTK

Kemendiknas,

Prof. Dr. Baedhowi

NIP. 19490828 197903 1 001


DAFTAR ISI

PENGANTAR…………………………………………………………………………..  ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………… iii

Daftar Singkatan                                                                                                   v

BAB I: PENDAHULUAN …..………………………………………..………  1

A. Latar Belakang….                                                                                          ..1

B. Pemahaman Konsep dan Pengertian EDS …………..……………… ……… 2

C. Pelaksanaan EDS …………………………………………………….……..… … 3

   

BAB II: KONSEP DAN PENGERTIAN EDS   …………   …………….….  4

A. Tujuan Belajar …………………………………………………… ……………..    4

B. Hasil yang diharapkan ………………………………………… ………………   5

C. Pengantar …………………………………………………………… ……………  6

D. Konsep Evaluasi Diri Sekolah:    ………………………………  ……………..  6

BAB III: INSTRUMEN  EDS ………………………….……………………..      12

A. Tujuan Belajar …………………………………………………………………………….. …. 12

B. Hasil yang diharapkan  …………………….………………………………… …..  12

C. Latar Belakang …………………………………………………………………………… ….. 13

D. Bagaimana Bentuk Instrumen EDS  ………….………………………… …..   14

BAB IV. PENGISIAN INSTRUMEN EDS …………………. …………………     17

A. Tujuan Belajar …………………………………………………………………………    …    17

B. Hasil yang diharapkan  …………………………………………………………    …..     17

C. Apa yang diperlukan untuk Pengisian Instrumen EDS ……….. ..    ……..   17

D. Cara Menentukan Tingkat Pencapaian.……….………………… ..    ….. .    18

E. Rincian Instrumen EDS  …………………………………………………….. ..     …….  18

F. Beberapa Saran Penggunaan Instrumen EDS .……………………      ………   26

BAB V: LATIHAN PENGGUNAAN INSTRUMEN EDS ……………………… 27

  1. A.  Tujuan Belajar …………………………………………………………………………..         27
  2. B.  Hasil yang diharapkan ………………………………………………………………..       27
  3. C.  Bahan-bahan yang diperlukan …………………………………………………….       27
  4. D.  Studi Kasus ……………………………………………………………………………….        28

BAB VI: EDS SEBAGAI DASAR RPS/RKS ……………………………………  34

  1. A.  Tujuan Belajar ………………………………………………………………………..      ……34
  2. B.  Hasil yang diharapkan …………………………………………………………..     ……..34
  3. C.  Latar Belakang ……………………………………………………………………      ……… 34
  4. D.  Membuat Perencanaan ………………………………………………………     ……….. 36
  5. E.  Menentukan Prioritas  ………………………………………………………      ………… 36
  6. F.  Membuat RPS/RKS                                                                                        38

 

BAB VII: PENUTUP …………………………………………………………………….  41


 

DAFTAR SINGKATAN

AIBEP Australia-Indonesia Basic Education Program
BAN S/M Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah
BAP Badan Akreditasi Provinsi
BDK Badan Diklat Keagamaan – Kementerian Agama
EDK Evaluasi Diri Kabupaten/Kota
EDS Evaluasi Diri Sekolah
EMIS Education Management Information System (Sistem Informasi Manajemen Pendidikan – SIMPendik)
Kemenag Kementerian Agama
Kemendagri Kementerian Dalam Negeri
Kemendiknas Kementerian Pendidikan Nasional
KKS Kajian Kinerja Sekolah
LPMP Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
LPPKS Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
MPMP Model Penjaminan Mutu Pendidikan
MSPD Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah
Padati Pusat Data dan Informasi (Kemendiknas)
PKB/CPD Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan /Continuous Professional Development
P4TK Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
RENSTRA Rencana Strategis
RKT Rencana Keja tahunan
RKJM Rencana Kegiatan Jangka Menengah
RPS/RKS Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kegiatan Sekolah
RAPBS/RKAS Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah
SMDP Sistem Manajemen Data Pendidikan
SNP Standar Nasional Pendidikan
SPM Standar Pelayanan Minimal
SPMP Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
TPS Tim Pengembang Sekolah


 

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, seorang Kepala sekolah/madrasah harus memiliki kompetensi-kompetensi seperti tertera dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah: - kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.  Disamping itu sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan dibawah tanggung jawabnnya, dia juga harus mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomer 63 tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yang mengharuskan “terbangunnya budaya mutu pendidikan” serta “terpetakannya mutu pendidikan yang rinci pada satuan pendidikan”.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka para kepala sekolah/madrasah khususnya dan pemangku kepentingan pendidikan pada umumnya, mutlak perlu mengetahui secara benar konsep, maksud dan tujuan serta mampu melaksanakan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) di sekolahnya. Dengan melaksanakan EDS ini maka kepala sekolah/madrasah akan lebih dapat melaksanakan kompetensi manajerialnya secara menyeluruh dan bermakna yang akan membantu peningkatan kinerja sekolah – khususnya dalam melihat sejauh manakah sekolah/madrasah telah mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP), serta kekuatan dan kelemahannya sehingga sekolah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata mereka.

Peningkatan mutu pendidikan khususnya pada satuan pendidikan memerlukan adanya kepala sekolah/madrasah yang handal, tangguh dan berkemampuan yang secara bersama-sama dengan seluruh pemangku kepentingan di sekolah dapat memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada semua peserta didik. Kepala sekolah/madrasah yang handal diharapkan dapat menjadi lokomotif dan kekuatan untuk membimbing, menjadi contoh, serta menggerakkan para pendidik dan tenaga kependidikamn dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah/madrasah. Oleh karena itu, program penguatan kemampuan kepala sekolah/madrasah perlu memasukkan pembahasan mengenai EDS, yang merupakan bagian penting dalam kompetensi manajerial, sebagai salah satu topik yang harus diketahui dan dipahami secara benar untuk selanjutnya dilaksanakan oleh para kepala sekolah/madrasah.

Materi tentang EDS ini sejauh mungkin diupayakan disusun dalam bentuk modul belajar mandiri yang dapat juga dipakai sebagai bahan belajar kelompok.  Untuk dapat memperoleh manfaat maksimal, dalam memakai materi ini seyogyanya dibarengi dengan menyediakan dokumen dokumen utama tentang EDS yaitu: (1) Instrumen EDS itu sendiri; (2) Pedoman Teknis EDS; dan (3) Format Laporan EDS. Kesemuanya ini akan memberikan pengertian menyeluruh tentang apa, mengapa serta bagaimana EDS ini.

Dalam pelaksanaan EDS di sekolah, untuk mempermudah pengisian Instrumen, mereka juga perlu menyediakan semua Peraturan Menteri tentang kedelapan SNP, Standar per standar, sebagai rujukan dan panduan dalam menentukan tingkat pencapaian sekolah dalam pelaksanaan tiap Standar. Dengan demikian maka dalam memakai Instrumen EDS dan mengisi Instrumen tersebut mereka akan sangat terbantu untuk menentukan peringkat pencapaian yang tepat pada setiap standar dengan merujuk langsung kepada Peraturan Menteri pada tiap standar sebagai dasar penentuan peringkat.

B.   Pemahaman Konsep dan Pengertian EDS

  1. Apa itu EDS – untuk memahami Konsep EDS secara menyeluruh.
  2. Mengapa perlu EDS – alasan perlunya ada EDS.
  3. Siapa pelaksana EDS di satuan pendidikan – EDS sebagai tugas bersama antar semua pemangku kepentingan melalui Tim Pengembang Sekolah (TPS), dan EDS bukan hanya merupakan tugas kepala sekolah/madrasah saja.
  4. Manfaat EDS – kegunaan EDS baik bagi pihak sekolah maupun pihak jajaran Dinas Pendidikan atau Kantor Kementerian Agama ditingkat kabupaten/kota.
  5. Beda EDS dan Evaluasi-evaluasi lainnya – agar mengetahui dengan pasti perbedaannya sebab banyak yang mempertanyakan apa perlu melaksanakan EDS sebab sudah banyak Evaluasi tentang kinerja sekolah.
  6. Isu-isu dalam pelaksanaan EDS – bagaimana sekolah, yang pada mulanya “mencurigai” EDS pada akhirnya merasa amat terbantu dengan adanya EDS dan bagaimana mereka menyiasati kendala-kendala dalam pelaksanaan EDS.

C.   Pelaksanaan EDS

Modul ini akan membahas bagaimana sekolah melaksanakan EDS dalam mengevaluasi pelaksanaan kinerja sekolah dipandang berdasar SPM dan SNP.  Untuk membahas hal ini dengan jelas perlu dibarengi dengan mempelajari Instrumen EDS itu sendiri, yang ada didalam CD, dan mempraktekannya. Hal ini dirasa lebih sesuai daripada memasukkan Instrumen EDS kedalam modul ini sebab akan membuatnya menjadi amat tebal dan memberatkan para pemakai.

Instrumen EDS membahas keseluruhan isi SNP yang rediri dari:

  1. Standar Sarana dan Prasarana.
  2. Standar Isi.
  3. Standar Proses.
  4. Standar Penilaian.
  5. Standar Kompetensi Lulusan.
  6. Standar Pengelolaan.
  7. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
  8. Standar Pembiayaan.


BAB II

KONSEP DAN PENGERTIAN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS)

A.   Tujuan Belajar

Pada Bab II kita akan mempelajari secara rinci konsep EDS secara menyeluruh – apa itu EDS, mengapa EDS diperlukan, bagaimana EDS, siapa Pelaksana EDS, apa manfaat dan kegunaan EDS, dan Isu-isu dalam pelaksanaan EDS.  Kepala sekolah/madrasah khususnya dan para pemangku kepentingan pendidikan di sekolah pada umumnya diharap dapat memahami konsep ini dan mempunyai komitmen yang kuat untuk mengadakan perubahan dan menggerakkan guru untuk melaksanakan EDS di sekolahnya sebagai dasar untuk melakukan perbaikan yang terus berkesinambungan.

B.   Hasil Yang Diharapkan

Pada akhir Bab ini diharapkan Anda akan mengetahui:

  • EDS secara lebih dalam dan menyeluruh;
  • Bagaimanakah konsep EDS – filsafat yang mendasari EDS;
  •  Apa dan bagaimana EDS;
  • Mengapa kita memerlukan EDS;
  • Perbedaan EDS dengan Evaluasi-evaluasi eksternal lainnya;
  • Apa manfaat dan kegunaan EDS bagi sekolah dan jajaran Dinas Pendidikan/Kantoe Kemeneag ditingat kab/kota;
  • Hal-hal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan EDS secara umum.

Dengan bekal ini diharapkan agar para kepala sekolah/madrasah memperoleh dasar yang kuat untuk lebih memahami EDS secara menyeluruh sebelum melaksanakan EDS di sekolahnya dengan baik. Dengan melaksanakan EDS ini mereka akan dapat mengetahui dengan pasti kekuatan dan kelemahan sekolah dan hasil EDS akan dijadikan masukan untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) untuk kurun waktu 4-5 tahun maupun Rencana Anggaran, Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) atau Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) untuk kegiatan tiap tahun.

C.   PENGANTAR

Seperti kita ketahui SDM merupakan tiang utama dalam pembangunan negara sehingga semakin terdidik SDM sesuatu negara, akan semakin mudah untuk melaksanakan pembangunan dan upaya pemenuhan kesejahteraan rakyat.  Di negeri kita SDM belum dapat dibanggakan disebabkan oleh berbagai hal, terutama rendahnya mutu pendidikan secara umum.  Dan karenanya upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan kita mutlak harus dilaksanakan agar kita memperoleh SDM yang bermutu untuk memacu pembangunan dan menyongsong era globalisasi yang efeknya sudah kita rasakan bersama sekarang.

Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2009 telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 63 tentang “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan” (SPMP) untuk terciptanya satu sistem penjaminan mutu pendidikan yang sekaligus juga akan menjadi dasar pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan sehingga akan tercipta “budaya” peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan.  Permen Nomor 63 menjadi acuan dalam upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. Peraturan Menteri ini secara lengkap ada dalam CD.

Salah satu komponen utama program SPMP adalah program “Evaluasi Diri Sekolah” atau EDS yang dalam bahasa Inggrisnya disebut Supported School Self Evaluation” (SSSE).  Dengan program ini sekolah diminta untuk secara internal melakukan evaluasi sendiri kinerjanya berdasarkan SPM dan SNP. Seperti tersirat dalam istilah Inggrisnya dengan adanya kata “Supported”, program ini memandang penting adanya “dukungan” penuh pada kegiatan Evaluasi diri ini dari semua unsur dan pemangku kepentingan yang terlibat di sekolah sehingga bukan hanya Kepala sekolah saja yang terlibat tapi juga para guru, Komite Sekolah, wakil orang tua peserta didik serta mendapat bimbingan dari Pengawas Sekolah.

Dalam pelaksanaan EDS yang baik, perlu adanya “support” yaitu “dukungan” atau “bantuan” dari berbagai pihak terkait agar sekolah dapat melaksanakan EDS secara bersama sehingga akan terjadi kebersamaan dalam tindakan dan nantinya dalam tanggung jawab juga.  EDS diharapkan akan memberikan dasar yang nyata untuk membuat RPS/RKS yang solid untuk peningkatan kinerja sekolah dan dasar terciptanya budaya mutu di sekolah.

D.   KONSEP EVALUASI DIRI SEKOLAH

  1. 1.    Apa itu EDS

EDS adalah evaluasi internal yang yang dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan pendidikan (stakeholders) di sekolah untuk mengetahui secara menyeluruh kinerja sekolah dilihat dari pencapaian SPM dan 8 SNP dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya secara pasti sehingga akan diperoleh masukan dan dasar nyata untuk membuat RPS/RKS dalam upaya untuk menumbuhkan budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Ada beberapa hal penting yang kita perhatikan disini:

  1. Evaluasi yang bersifat internal – dilakukan oleh dan untuk mereka sendiri, bukan dilaksanakan oleh orang lain. Ini adalah evaluasi internal, bukan evaluasi external oleh pihak luar.
  2. Akan mengevaluasi seluruh kinerja sekolah yang akan meliputi aspek-aspek manajerial dan akademis.
  3. Mengacu pada SPM dan 8 SNP yang hasilnya akan membantu program nasional dalam upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan secara umum.
  4. Untuk kepentingan sekolah itu sendiri, bukan untuk perbandingan dengan sekolah sekolah lain atau untuk akreditasi sekolah.
  5. Hasil EDS sebagai bahan masukan dan dasar dalam penulisan RPS/RKS maupun RAPBS/RAKS.
  6. Dilaksanakan minimal setahun sekali oleh semua stakeholder pendidikan di sekolah, bukan hanya oleh kepala sekolah/madrasah saja dengan bimbingan dan pengawasan Pengawas sekolah.
  1. 2.    Mengapa perlu EDS?

EDS di sekolah diperlukan sebab sampai sekarang belum ada satupun alat yang dapat dipakai oleh sekolah untuk memberikan gambaran umum dalam aspek SPM dan 8 SNP secara nyata, akurat dan berdasarkan bukti-bukti tentang seluruh kinerja sekolah sebagai dasar untuk membuat RPS/RKS dan peningkatan mutu professional seluruh pemangku kepentingan sekolah.

Walaupun sudah ada beberapa upaya evaluasi di sekolah, kebanyakannya adalah evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar, jadi sifatnya eksternal, untuk menilai sekolah – umpama untuk akreditasi, pemberian bantuan dsb. Dengan demikian kehadiran EDS amat diperlukan oleh sekolah karena evaluasi ini adalah evaluasi internal yang dilakukan oleh dan untuk sekolah sendiri gunamengetahui kekuatan dan kelemahannya sendiri – semacam cermin muka yang dapat dipakai dalam melihat kekuatan dan kelemahannya sendiri untuk selanjutnya dipakai dasar dalam upaya memperbaiki kinerjanya.

Hasil EDS juga dapat dipakai oleh Pengawas untuk laporan kepada pihak Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag kab/kota melalui kegiatan “Monitoring Sekolah Oleh Pemerintah Daerah” (MSPD) sebagai masukan untuk dasar Perencanaan Peningkatan mutu Pendidikan dan dasar pemberian bantuan / intervensi ke sekolah sekolah.

Tugas

Isilah tabel dibawah ini dengan berbagai jenis Evaluasi yang dilakukan di Sekolah Anda pada tahun lalu dan beberapa waktu sebelumnya:

Jenis Evaluasi

Tahun

Tujuan

Dampak

 

  1. 3.    Siapa Pelaksana EDS di Sekolah?

EDS sebaiknya dilaksanakan oleh semua stakeholder atau pemangku pendidikan di sekolah sebab EDS bukan hanya tugas dan tanggung jawab kepala sekolah saja dan agar ada kebersamaan dan rasa memiliki bersama. Keterlibatan mereka juga diharapkan akan dapat memberikan gambaran akan kebutuhan nyata sekolah secara menyeluruh. Untuk menangani EDS ini sebaiknya sekolah membentuk satu tim EDS khusus yang bisa disebut Tim Pengembang Sekolah (TPS) dengan beranggotakan unsur-unsur dibawah ini:

  1. Kepala sekolah/madrasah sebagai penanggung jawab.
  2. Wakil dari unsur tenaga pendidik.
  3. Wakil dari unsur Komite Sekolah.
  4. Wakil dari unsur orang tua peserta didik.
  5. Pengawas sebagai pihak yang memberi bimbingan.

Karena kedudukannya, Pengawas bisa dianggap sebagai anggota TPS atau bukan anggota TPS. Yang penting adalah dia terlibat dalam EDS di sekolah yang menjadi binaannya dalam memberikan bimbingan dan masukannya dalam pelaksanaan EDS. Pelaksanaan EDS dilapangan juga melibatkan para tenaga pendidik lainnya di sekolah, khusunya ketika membicarakan standar-standar yang berhubungan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar. Dengan demikian EDS dilakukan oleh semua pemangku kepentingan di sekolah dan bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah saja.

  1. 4.    Manfaat EDS

Beberapa manfaat EDS:

  1. a.    Bagi Sekolah:

1)     Sekolah mempunyai alat atau instrument internal yang dapat dipakai untuk mengevaluasi kinerjanya.

2)     Sekolah dapat mengetahui sampai dimanakah tingkat pencapaian mereka dilihat dari SPM dan SNP.

3)     Sekolah dapat mengatahui kekuatan dan kelemahannya secara pasti.

4)     Sekolah dapat mengetahui dengan pasti dan dapat memprioritaskan aspek mana yang memerlukan peningkatan.

5)     Sekolah dapat memperoleh dasar nyata untuk membuat RPS/RKS dan RAPBS/RAKS berdasarkan kebutuhan nyata sekolah, bukan atas dasar asumsi atau perkiraan saja

6)     Sekolah dapat mengetahui perkembangan upaya peningkatan mutu pelayanan mereka sebab EDS dilakukan secara berkala.

Refleksi

Bagi Kepala Sekolah – dari beberapa manfaat EDS yang Anda ketahui, harap tulis 3 manfaat yang Anda anggap paling penting dan mengapa:

1.

2.

3.

  1. b.    Bagi Sistem Pendidikan di Kab/Kota:

 

1)    Diperolehnya informasi kongkrit keadaan umum sekolah dalam

2)    pencapaian SPM dan 8 SNP.

3)    Terdapatnya gambaran umum secara pasti tentang kinerja sekolah-sekolah ditingkat kab/kota.

4)    Adanya dasar untuk kegiatan perencanaan ditingkat kab/kota serta dasar pemberian bantuan ke sekolah-sekolah di daerah itu.

5)    Hasil EDS ini dijadikan dasar untuk laporan ke jajaran ditingkat kab/kota melalui kegiatan ”Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah” – MSPD- yang dilakukan oleh para Pengawas Sekolah.

Refleksi

Bagi Pengawas – dari beberapa manfaat EDS diatas, tuliskan 3 manfaat yang paling penting bagi jajaran kab/kota dan mengapa:

1.

2.

3.

  1. 5.    Beda EDS dengan Evaluasi-evaluasi Lain

a.      EDS adalah evaluasi diri yang bersifat internal yang dilaksanakan oleh para stakeholder di sekolah tersebut.

b.      EDS dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan sendiri dan dipakai sebagai dasar untuk membuat RPS/RKS dan RAPBS/RAKS.

c.      EDS dilaksanakan bukan untuk memberikan peringkat atau ranking sekolah dibanding dengan sekolah lainnya.

d.      Evaluasi-evaluasi lainnya biasanya bersifat eksternal yang dilakukan oleh pihak luar lebih untuk kepentingan mereka bukan kepentingan sekolah.

f.       Karena EDS adalah evaluasi internal untuk dasar peningkatan mutu mereka maka evaluasi biasanya akan lebih jujur sebab keadaan itu akan dijadikan dasar pelaksanaan upaya peningkatan kinerja mereka.

  1. 6.    Isu-isu dalam Pelaksanaan EDS

a.       Pada awalnya EDS dianggap sebagai beban tambahan baru yang memberatkan tugas sekolah/TPS namun dalam prosesnya sekolah merasa butuh terhadap EDS sebagai dasar penulkisan RPS/RKS.

b.       Pada awalnya EDS dikira sama dengan Evaluasi lain seperti yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Propinsi dan akhirnya mereka tahu beda EDS dan Evaluasi eksternal lain.

c.       Pada awalnya sekolah menganggap perlu dana banyak untuk melaksanakan EDS, namun dalam prosesnya diketahui bahwa sebenarnya dana memang diperlukan untuk “pelaksanaan upaya peningkatan mutu” yang direncanakan dalam RPS berdasarkan hasil EDS, bukan untuk melaksanakan EDS itu sendiri.

d.      Isu apakah Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag dapat dan mau menerima EDS secara formal. Dalam prosesnya EDS dapat diadopsi dan telah direplikasikan oleh Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag sebab mereka mengetahui manfaatnya bagi sekolah dan bagi perencanaan peningkatan mutu pendidikan.

Refleksi

Mohon cerna makna dari apa yang telah diberikan sebagai dasar mengisi tabel PMI dibawah ini: Plus – hal hal positif dari EDS; Minus – hal-hal negative dari EDS ; Interesting – hal hal yang menarik (bukan positif maupun negatif)

Plus

Minus

Interesting (Menarik)


BAB III

INSTRUMEN EDS

A.   TUJUAN BELAJAR

Pada Bab III ini Anda akan belajar secara rinci tentang Instrumen EDS, termasuk latar belakang disusunnya Instrumen EDS ini – Apa dan bagaimana Instrumen EDS ini serta bagaimana menggunakannya.

B.   HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah mempelajari Bab III ini Anda akan mengetahui:

  1. Latar belakang disusunnya Instrumen ini, ide dan makna Instrumen EDS,
  2. Acuan dan dasar disusunnya Instrumen EDS,
  3. Bagaimana Instrumen membahas tiap Standar yang dibagi dalam beberapa Aspek, spesifikasi serta keempat tingkat pencapaian dengan indikator-indikator pencapaian pada tiap Aspek.

C.   LATAR BELAKANG

Instrumen EDS adalah alat utama yang akan dipakai dalam EDS untuk memperoleh serangkaian informasi tentang seluruh kinerja sekolah dan mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam SPM dan SNP.  Dengan demikian maka Instrumen EDS dituliskan berdasarkan kedelapan Standar dalam SNP.

Pada awalnya buram Instrumen EDS ditulis oleh pakar Internasional yang membantu Pemerintah Republik Indonesia dan yang bekerja di MCPM-AIBEP. Buram Instrumen ini diperkaya dengan masukan masukan dari para pakar pendidikan nasional lainnya di MCPM sebelum dibicarakan dengan pihak Pemerintah – khusunya pihak Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Buram ini lalu mendapat masukan-masukan baru dan disepakati bahwa Instrumen EDS ini harus mengacu pada 8 SNP sebagai rujukannya.

Instrumen EDS ini kemudian divalidasi oleh pihak Pemerintah dan diuji cobakan di 3 daerah binaan – Kabupaten Gresik di Jawa Timur, Kabupaten Boalemo di Gorontalo dan Kabupaten Muaro Jambi di Jambi.  Sebelum uji coba pemakaian Instrumen EDS dilakukan dulu Pelatihan untuk Pelatih (ToT) dari ketiga kabupaten ini ditingkat nasional pada bulan Oktober 2008. Setelah pelaksanaan ToT ini dilaksanakan juga pelatihan untuk para anggota TPS dari 36 sekolah binaan diketiga kabupaten – masing masing kabupaten terdiri dari 12 sekolah/madrasah – pada bulan Nopember 2008.

EDS di uji-cobakan mulai bulan Nopember 2008 – Februari 2009 yang diawali dengan pelatihan stakeholder daerah. Tim Teknis EDS pusat yang terdiri dari pejabat/staf pada Kementerian Pendidikan Nasional dan Agama serta konsultan MCPM mengadakan monitoring uji-coba tsb pada bulan Desember 2008 dan akhir Januari 2009. Monitoring itu dilaksanakan untuk mengetahui lebih lanjut tentang Instrumen EDS itu sendiri – keterbacaannya, pemahaman para pemakainya, efektifitas pelaksanaan EDS serta begaimana kerja sama antar anggota TPS dalam melaksanakan EDS serta manfaat EDS bagi sekolah.

Lokakarya tentang pelaksanaan EDS dilakukan ditingkat Kabupaten pada bulan Maret 2009 dan disusul dengan Loka karya tingkat nasional pada bulan April 2009. Dari hasil loka karya ini didapatkan serangkaian usulan untuk perbaikan Instrumen EDS yang perbaikannya telah dilakukan oleh Tim Teknis EDS Nasional pada bulan Mei 2009. Dengan demikian maka Instrumen EDS telah diperbaiki sesuai dengan hasil monitoring dan usulan-usulan dari daerah.

Kegunaan dan manfaat EDS dapat diketahui dari pengakuan para pelaku EDS di daerah. ”Dengan EDS kita mengetahui kekurangan-kekurangan kita dalam SNP dan mempunyai dasar nyata dalam pembuatan RKS dan RAPBS, bukan berdasarkan kira-kira”, pengakuan salah seorang Kepala SD di Gresik tentang manfaat EDS. ”EDS membuat kita lebih sadar tentang SNP dan bagaimana kita mencapainya!”, aku salah seorang kepala MI di Boalemo di Gorontalo. ”Sekarang kita tahu persis aspek-aspek mana yang perlu kita tingkatkan berdasarkan hasil EDS”, aku seorang Kepala SMP di Muaro Jambi yang telah melaksanakan EDS di sekolahnya.

D.   BAGAIMANA BENTUK INSTRUMEN EDS

Seperti dikatakan diatas Instrumen EDS ini mengacu kepada SPM dan SNP dan karenanya menanyakan secara rinci semua hal yang berkenaan dengan aspek-aspek pada tiap standar.  Beberapa butir penting mengenai Instrumen ini:

  1. Instrumen EDS mengacu pada SPM dan SNP – seluruh 13 butir dalam SPM yang berhubungan sekolah tapi tidak memasukkan 14 butir lainnya yang bersangkutan dengan pemerintah kab/kota serta 8 SNP.
  2. Instrumen EDS mencakup beberapa pertanyaan pokok pada tiap standar yang terkait dengan SPM dan SNP sebagai dasar bagi sekolah untuk memperoleh informasi dan data secara rinci tentang kinerjanya secara kwalitatif.
  3. Dalam Instumen EDS, tiap Standar dibagi dalam beberapa komponen yang diharap dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh.
  4. Pada setiap komponen pada pertanyaan ditiap standar ada beberapa spesifikasinya untuk memperoleh informasi yang lebih komplit.
  5. Pada setiap aspek dari setiap standar terdiri dari 4 tingkatan pencapaian – tingkat 1 berarti kurang, tingkat 2 berarti sedang, tingkat 3 berarti baik, dan tingkat 4 berarti amat baik.
  6. Pada tiap tingkat pencapaian terdapat beberapa indikator yang sesuai dengan tingkat pencapaian tersebut. Tingkat 2 sama dengan telah memenuhi kriteria SPM.

Di bawah ini dapat dilihat contoh ”Standar, Komponen pada tiap Standar, Spesifikasi dari Komponen tersebut dan Indikator-indikator darai Spesifikasi tersebut”.

  1. STANDAR SARANA DAN PRASARANA            ß————– STANDAR
1.1 Apakah sarana sekolah sudah memadai?  ß————– KOMPONEN
Spesifikasi.  Sekolah:          ß———————- SPESIFIKASI

memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya.

Indikator Pencapaian           < ———————-  INDIKATOR
Tingkat 4 Tingkat 3 Tingkat 2 Tingkat 1
Sekolah kami memiliki jumlah bangunan gedung yang ukuran, ventilasi dan kelengkapan lainnya melebihi ketentuan dalam Standar Sarpras yang ditetapkan. Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana, prasarana dan peralatan

Dst

Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana

Beberapa kelas di sekolah kami diisi peserta didik melebihi jumlah yang ditetapkan dalam standar

Bangunan sekolah kami tidak memenuhi standar dari segi ukuran atau jumlah ruangan

Dst

Pada bagian akhir Komponen setiap standar, ada halaman ringkasan atau rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman ini terdiri dari dari beberapa kolom:  ”Bukti Fisik Sekolah” yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaiannya, ”Ringkasan Deskripsi Sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti” untuk menulis ringkasan temuan-temuan atas kinerja sekolah itu, serta kolom untuk menuliskan ”Tingkat yang dicapai” .  Ini juga merupakan Format Laporan hasil EDS.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana

Jumlah peserta didik per rombongan belajar

Catatan peralatan dan sumber belajar

Catatan pengeluaran

Kondisi nyata lingkungan sekolah

  1. Tingkat pencapaian pada setiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tersebut.
  2. Instrumen EDS terdiri dari sejumlah pertanyaan terkait dengan SPM dan 8 SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran yang hasilnya menjadi dasar untuk menyusun RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

Dalam mengisi Instrumen EDS perlu dilakukan dengan jujur dan apa adanya. Memberikan penilaian lebih baik dari kenyataannya hanya akan merugikan sekolah itu sendiri, sebab hasil EDS akan dijadikan dasar RPS. Tentu saja RPS tidak akan memasukkan kegiatan untuk meningkatkan aspek yang ”diaku telah baik” itu, sehingga tak akan ada kegiatan untuk meningkatkannya. Jika sekolah melakukan upaya peningkatan dan sekolah meningkat kinerjanya, maka ini tak akan tercatat sebagai kenaikan, karena menurut catatan EDS tahun sebelumnya nilainya sudah ”baik”, jadi tidak ada peningkatan.

Diskusi

Untuk lebih memperkaya pemahaman Anda dalam hal ini, mohon diskusikan butir-butir berikut:

  1. Acuan Instrumen EDS dan mengapa
  1.  Bentuk Instrumen EDS pada tiap Standar

 

  1. Manfaat adanya kejujuran dalam mengisi EDS

 

 

 

 

 

 


 

BAB IV

PENGISIAN INSTRUMEN EDS

A.   TUJUAN BELAJAR

Pada Bab IV ini Anda akan belajar tentang bagaimana mengisi Instrumen EDS, apa yang diperlukan untuk mempermudah pengisiannya, bagaimana menentukan tingkat pencapaian pada tiap standar serta melihat contoh Instrumen EDS itu sendiri. Hal ini penting agar Anda lebih siap untuk melakukan latihan bagaimana mengisi Instrumen pada Bab selanjutnya.

B.   HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah mempelajari Bab IV ini Anda akan:

  1. Mengetahui dengan benar Instrumen EDS secara menyeluruh;
  2.  Apa saja yang diperlukan dalam pengisian Instrumen EDS;
  3. Jenis dan bentuk Instrumen itu dan apa kandungannya:
  4.  Cara-cara untuk menentukan tingkat pencapaian pada tiap Standar,
  5. Contoh contoh Instrumen dari tiap Standar sebagai bahan rujukan untuk latihan pengisian Instrumen .

C.   APA YANG DIPERLUKAN UNTUK PENGISIAN INSTRUMEN EDS

Untuk memudahkan pengisian Instrumen EDS, maka disamping Instrumen itu sendiri, diperlukan adanya: (1) Semua Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang berkenaan dengan SPM dan 8 SNP, baik buku peraturan itu sendiri atau dalam bentuk CD, sebagai rujukan pengisian Instrumen EDS ini. (2) Semua dokumen ini dapat diakses pada situs BSNP: http://www.bsnp-indonesia.org

Disamping itu seperti dikemukakan sebelumnya dalam mengisi Instrumen EDS diperlukan kejujuran sehingga yang dicatat itu memang keadaan sebenarnya dan hasil EDS merupakan data nyata keadaan sekolah. Pengisian Instrumen EDS diharapkan dilakukan setahun sekali sehingga akan terlihat kemajuan yang dicapai dalam kurun waktu setahun. Bagi sekolah, data hasil EDS tahun sebelumnya akan menjadi data dasar untuk pengukuran kemajuan yang dicapai selama setahun.dan bagi Pengawas menjadi dasar pelaporan ”Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah” (MSPD) ketingkat kab/kota.

D.   CARA MENENTUKAN TINGKAT PENCAPAIAN

Seperti ditulis di atas, rincian dalam Instrumen EDS dari setiap Standar terdiri dari beberapa Komponen yang mempunyai beberapa spesifikasi.  Pada setiap Aspek dibagi menjadi 4 tingkatan pencapaian dan pada tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.

Untuk penetapan tingkat pada setiap standar kita nilai setiap Komponennya.  Pada akhir setiap aspek ada lembar rangkuman untuk menuliskan penialian kita – yang selanjutnya kita tulis pada Format Laporan EDS yang isinya sama.  Pada setiap Komponen ada tingkatan pencapaiannya. Kita bisa memulai dari tingkat 4 (yang terbaik) maupun tingkat 1 (yang kurang).  Pada Tingkat 4 ada indikator-indikatornya, lalu kita nilai apa indikator-indikator tersebut telah dicapai sekolah itu, dan apa ada bukti fisik untuk mrembantu pengakuan pada tingkat itu.  Jika memang belum kita mundur ke Tingkat 3.  Jika memang belum, kita mundur ke Tingkat 2 dan jika memang belum mencapai tingkat itu, kita mundur ke Tingkat 1. Harap jangan lupa bahwa untuk semua pengakuan itu perlu ada bukti fisiknya.

Begitu juga bila kita mulai dari Tingkat 1. Jika sekolah sudah melebihi indikator-indikatornya, bisa beralih ke Tingkat 2 dan seterusnya sampai pada tingkatan yang sesuai. Penentuan pada tingkat berapa Standar tertentu berada didasarkan atas tingkat dari Komponen Standar tersebut. Untuk Standar yang mempunyai 2 Komponen, jika Komponen I ada ditingkati 3 dan Komponen II tingkat 3, maka jumlahnya 6 lalu dibagi dua = 3.  Dengan demikian maka Standar tsb berada di tingkat 3.

E.    RINCIAN INSTRUMEN EDS

Modul ini akan membicarakan satu atau dua Standar sebagai contoh dan Anda dapat memperoleh kejelesan Standar lainnya dengan memptaktekkanya sendiri, bukan hanya dengan membaca penjelasan saja.

  1. Standar Sarana dan Prasarana (Contoh)

Kita ambil contoh Standar Sarana dan Prasarana. Standar ini mempunyai 2 aspek. Komponen I: Apakah Sarana sekolah sudah memadai? Komponen ini mempunyai 3 spesifikasi dan 4 tingkatan pencapaian yang setiap tingkatannya mempunyai beberapa indikator.  Komponen II. Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dengan baik? Komponen ini mempunyai 3 spesifikasi dan juga 4 tingkatan pencapaian dengan indikatornya. Pada EDS nilai kwantitatif dipakai untuk membantu penilaian yang bersifat kwalitatif yaitu penilaian professional.

Seperti ditulis di atas, Komponen I pada Standar Sarana dan Prasarana adalah: Apakah sarana sekolah sudah memadai? Komponen ini mempunyai 3 spesifikasi:

  1. Sekolah mematuhi standar terkait dengan Sarana dan Prasarana (ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistim ventilasi).
  2. Sekolah mematuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam kelompok belajar.
  3. Sekolah mematuhi standar terkait denganm penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran.

Di bawah ini contoh Instrumen EDS tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Komponen 1. Apakah sarana sekolah sudah memadai? Akan terlihat dengan jelas ”Komponen-nya” dan 3 ”Spesifikasinya” serta ”Indikator-indikator” pada tiap Tingkatan Komponen ini.

  1. 1.      STANDAR SARANA DAN PRASARANA
1.1 Apakah sarana sekolah sudah memadai?
Spesifikasi.  Sekolah:

  • memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya.
  • memenuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam rombongan belajar
  • memenuhi standar terkait penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran
Indikator Pencapaian
Tingkat 4 Tingkat 3 Tingkat 2 Tingkat 1
Sekolah kami memiliki jumlah bangunan gedung yang ukuran, ventilasi dan kelengkapan lainnya melebihi ketentuan dalam Standar Sarpras yang ditetapkan.

Jumlah peserta didik didalam rombongan belajar kami lebih kecil dari yang ditetapkan dalam standar agar dapat lebih meningkatkan proses pembelajaran.

Sekolah kami memiliki Sarana dan prasarana pembelajaran yang melebihi dari ketetapan Standar Sarpras yang digunakan untuk lebih membantu proses pembelajaran.

Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana, prasarana dan peralatan

Sekolah kami memenuhi standar dalam hal jumlah peserta didik pada setiap rombongan belajar

Sekolah kami memiliki dan menggunakan sarpras sesuai standar yang ditetapkan

Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana

Beberapa kelas di sekolah kami diisi peserta didik melebihi jumlah yang ditetapkan dalam standar

Sekolah kami menyediakan buku teks yang sudah disertifikasi oleh Pemerintah alat peraga dan judul buku pengayaan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Sekolah kami belum memiliki semua sarana dan alat-alat yang dibutuhkan untuk memenuhi ketetapan dalam standar

Bangunan sekolah kami tidak memenuhi standar dari segi ukuran atau jumlah ruangan

Kebanyakan ruang kelas sekolah kami diisi terlalu banyak peserta didik dan kami tidak mampu memenuhi standar

Sarana dan prasarana yang kami miliki amat terbatas dan sebagian besar sudah ketinggalan zaman dan dalam kondisi buruk

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti Tingkat yang dicapai
Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana

Jumlah peserta didik per rombongan belajar

Catatan peralatan dan sumber belajar

Catatan pengeluaran

Kondisi nyata lingkungan sekolah

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

Kita lihat bahwa pada Komponen ini terdapat 4 tingkatan pencapaian yang tiap tingkatannya mempunyai beberapa indikator.  Kita melakukan penialian pada Komponen ini yang hasilnya kita tuliskan pada Format Laporan yang terdiri dari 3 ruang di kolom: ”Bukti Fisik Sekolah” kita centang bukti Fisik apa yang menopang pengakuan tingkatan sekolah ini atau jika ada bukti fisik baru kita tambahkan. Kolom ”Ringkasan deskripsi sekolah menurut Indikator dan berdasarkan Bukti” – kita tuliskan keadaan nyata sekolah sesuai standar itu (disertai bukti fisiknya),  lalu Tingkat pencapaian kita tuliskan di kolom ”Tingkat yang dicapai”.

Seperti ditulis sebelumnya, untuk menentukan Tingkat pencapaian kita bisa memulainya dari Tingkat 4 , turun ketingkat 3, tingkat 2 dan tingkat 1. Atau kita memulainya dari tingkat 1 sampai tingkat 4 Namun Standar Sarpras ini mempunyai dua Komponen sehingga kita harus tahu pada tingkat mana Sekolah ini dalam kedua Komponen itu. Gabungan dua nilai dari kedua Komponen ini akan menentukan berada ditingkat mana Standar Sarana dan prasarana sekolah ini berada.

Komponen II Standar Sarpras ini adalah: Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dengan baik? Aspek ini mempunyai 3 spesifikasi: a) Pemeliharaan bangunan dilaksanakan paling tidak setiap 5 tahun sekali. b) Bangunan aman dan nyaman untuk semua peserta didik dan member kemudahan kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus. Untuk menilainya, proses dan cara yang sama kita berlakukan kepada penilaian Komponen ini yang hasilnya akan dijumlahkan dengan hasil nilai dari Komponen pertama.

Jika memungkinkan maka penentuan Tingkatan ini juga bisa dipertajam dengan menentukan Tingkat pencapaian dari semua Spesifikasi dari Komponennya.  Dari contoh diatas Komponen I mempunyai 3 Spesifikasi dan Komponen II 3 spesifikasi.  Jika pada Komponen I untuk Spesifikasi 1 = berada ditingkat 2, Spesifikasi 2 = tingkat 2 dan Spesifikasi 3 = 2 maka semuanya ada 6 dibagi 3 = tingkat 2. Pada Komponen II, untuk Spesifikasi 1 = berada ditingkat 3; Spesifikasi 2 = tingkat 3 dan Spesifikasi 3 = tingkat 3 maka ada 9:3 – Komponen ini berada ditingkat 3. Maka Standar Sarpras berada pada tingkat 2.5 atau dibulatkan menjadi 2 (Dari nilai 2 dan 3 pada kedua Spesifikasinya dibagi 2). Namun yang penting bukan angka kuantitatifnya tapi penilaian kwalitatifnya atau professional judgment-nya, walau perangkaan juga akan membantu.

  1. Standar Pengelolaan (Contoh kedua)

Kita ambil contoh kedua dalam melihat secara rinci keseluruhan Standar Nasional Pendidikan – Standar Pengelolaan. Standar ini terdiri dari 6 Komponen. Komponen I: Apakah kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak? Spesifikasinya – Perencanaan Program:

a)         Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisaikan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan.

b)         Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengelolaan sekolah yang menunjukkan adanye kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas.

Mari kita lihat secara rinci pada Instrumen EDS berikut:

6. Standar Pengelolaan

 

6.1           Apakah kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?
Spesifikasi

Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan.

q  Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengeloaan sekolah/madrasah yang menunjukkan adanya kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4 Tingkat ke-3 Tingkat ke-2 Tingkat ke-1
Sekolah kami memiliki tim pengelolaan yang kuat, komite yang mendukung dan melibatkan diri pada pada seluruh kegiatan untuk menjamin keterlaksanaan pelayanan sekolah.

Pimpinan sekolah kami mendorong evaluasi diri pendidik sehingga memperkuat rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan tugas di dalam maupun di luar kelas

Kami memiliki pemahaman bersama yang jelas dan baik untuk mewujudkan sekolah sebagai lingkungan kerja yang mendukung sehingga pendidik, tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat mewujudkan kebersamaan dan berbagi tanggung jawab untuk mewujudkan keberhasilan peserta didik.

Sekolah kami memiliki komite sekolah dan dewan guru yang aktif

Pimpinan sekolah kami menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki pembelajaran dengan melakukan kunjungan kelas, mengkaji model pembelajaran yang efektif, dan memberikan umpan balik.

Sekolah kami memiliki visi-misi yang jelas yang dirumuskan berdasarkan kesepakatan pemangku kepentingan dan terfokus pada peningkatan mutu pendidikan.

Sekolah kami menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Komite sekolah kami melakukan pertemuan secara teratur, namun kurang melibatkan diri secara aktif dalam kepentingan sekolah.

Pimpinan sekolah kami belum melibatkan diri secara memadai dalam kegiatan sekolah yang mempunyai pengaruh langsung terhadap peningkatan pembelajaran.

Visi dan misi sekolah kami tidak dirumuskan bersama dan belum disebarluaskan

Komite sekolah kami tidak berfungsi

Pimpinan sekolah kami tidak secara konsisten mendukung dan memberi tantangan dan arah yang memadai dalam perumusan target bagi perbaikan kinerja sekolah,

Beberapa Tenaga Kependidikan di sekolah kami tidak mendukung pengembangan meskipun mereka ditugasi untuk melakukan perbaikan

Sekolah kami belum sepenuhnya merumuskan visi dan misi

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti Tingkat yang dicapai
Pernyataan visi-misi sekolah

Dokumen sosialisasi rumusan visi-misi kepada pemangku kepentingan

Agenda/catatan hasil pertemuan komite sekolah
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

Cara dan proses penetapan tingkat pencapaian juga sama pada Standar terdahulu. Karena untuk Standar Pengelolaan ada 6 Komponen, kita harus memperoleh nilai dari 6 Komponen ini.  Gabungan dari nilai-nilai dari keenam Komponen ini akan menentukan pada Tingkat manakah Standar Pengelolaan sekolah ini berada.

Komponen kedua – Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?  Dengan spesifikasi Perencanaan Program: Sekolah merumuskan tujuan yang jelas dan rencana kerja untuk pengembangan dan perbaikan dan disosialisasikan kepada warga sekolah dan pihak yang berkepentingan.

Komponen ketiga – Apakah ada dampak RPS/RKS terhadap peningkatan hasil  belajar? Spesifikasinya: Perencanaan program: Rencana kerja tahunan dinyatakan dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah/madrasah dilaksanakan berdasarkan rencana kerja jangka menengah. Supervisi/Penilaian – Sekolah melakukanm evaluasi diri terhadap kinerja sekolah. Seko;lah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kerja dan melakukan perbaikan dalam rangka pelaksanaan SNP.

Komponen keempat – Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid? Ada tiga spesifikasinya:

a)         Sekolah mengelola sistem informasi pengelolaan dengan cara yang memadai, efektif, efisien dan dapat dipertanggung njwabkan.

b)         Sekolah menyediakan sistem informasi yang effisien, efektif dan dapat diakses.

c)         Sekolah menyediakan laporan dan data yang dibutuhkan oleh kabupaten dan tingkatan lain dalam sistem.

Komponen kelima – Bagaimana cara memberikan dukungan dan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan? Spesifikasinya: Pendidik dan tenaga Kependidikan: Sekolah mengatur efektifitas program pendidik dan tenaga kependidikan termasuk pengembangan profesi. Supervsisi dan Evaluasi” Supervsisi dan evaluasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dilaksanakan sesuai dengan standar guru dan tenaga kependidikan.

Komponen keenam – Bagaimana cara masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah? Spesifikasinya: a) Sekolah harus melibatkan anggota masyarakat khusunya dalam mengelola kegiatan non-akademis b) Warga sekolah harus dilibatkan dalam pengelolaan kegiatan akademis dan non-akademis.

Tugas

Dengan memakai Instrumen EDS diatas untuk: (1) Standar Sarpras 2.1 dan (2) Standar Pengelolaan pada Aspek 6.1, diskusikan dan evaluasi keadaan Sekolah Anda:

  1. Sudah sampai Tingkat berapa;
  1. Bukti Fisik apa yang ada;

 

  1. Harap isi lembar Laporan – Bukti Fisik, Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator, dan Tingkat yang dicapai.

F.    BEBERAPA SARAN DALAM MENGGUNAKAN INSTRUMEN EDS.

 

Dalam menggunakan Instrumen ini mohon diperhatikan hal-hal berikut:

 

  1. Membaca tiap kalimat dengan hati hati agar maksud dan maknanya diketahui dengan pasti untuk dapat melakukan penialian professional.
  2. Data yang ingin didapat dari Instrumen EDS lebih bersifat kwalitatif, sehingga tidak begitu menonjolkan angka-angka atau persentase, tapi lebih pada uraian dan penilaian professional kepala saekolah/guru sebagai pendidik yang benar-benar professional.
  3. Instrumen EDS dibuat dengan asumsi bahwa penggunanya adalah pendidik professional dan mampu melakukan analisis dalam mengisinya, bukan hanya mencontreng atau menyebut angka.
  4. Indikator yang dibuat untuk keperingkatan pencapaian mengacu pada kenyataan bahwa Tingkat II sama dengan pencapaian SPM.
  5. Selalu merujuk pada peraturan dan ketentuan tentang standar yang berlaku.
  6. Jangan terlalu terpaku dengan ketepatan angka, nilai atau persentase, sebab yang lebih penting adalah deskripsi temuan untuk dijadikan dasar penyusunan RPS/RKS.

BAB V

LATIHAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN EDS

 

A.   TUJUAN BELAJAR

Bab ini memberikan kesempatan kepada Anda dan pembaca buku modul ini untuk melakukan latihan mengisi Instrumen EDS berdasarkan data dan informasi dari studi kasus terlampir. Latihan ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman pengisian Instrumen EDS, walaupun hanya berdasarkan atas data dari satu Sudi Kasus sehingga datanya amat terbatas.

B.    HASIL YANG DIHARAPKAN

 

Setelah mempelajari Bab ini, Anda dan para pembaca lainnya, baik secara perorangan maupun dalam kelompok kecil, diharapkan dapat:

  1. Memahami secara benar isi Instrumen EDS.
  2. Membaca Studi Kasus terlampir dengan saksama karena akan dipakai sebagai dasar latihan mengisi Instrumen EDS.
  3. Mengisi Instrumen EDS untuk semua Standar berdasarkan data dan informasi yang ada di studi kasus.
  4. Saling mencermati dan mengkritisi hasil karya rekan belajar untuk mendapatkan jawaban atau isian yang baik dan benar.

 

C.   BAHAN BAHAN YANG DIPERLUKAN

 

Untuk kegiatan ini bahan-bahan dan materi yang diperlukan adalah sbb:

  1. Bahan Studi Kasus – terlampir.
  2. Instrumen EDS dan Format Laporannya – ada dalam CD.
  3. Peraturan Pemerintah atau Peraturan Mendikanas yang berhubungan dengan SPM dan SNP – ada dalam CD atau di Situs BSNP.

 STUDI KASUS EDS

 

SMP Negeri I,  Desa Sukamaju,

Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Suka Karya

“SMP Negeri I” yang berdiri sejak tahun 1990 adalah SMP yang cukup baik dengan Visi “Karya bagi pendidikan yang berprestasi, berdisiplin dan berwawasan lingkungan” serta Misi “Menyelenggarakan pendidikan bermutu dan terjangkau dalam merncapai 8 Standar Nasional Pendidikan”.

 

SMP ini berdiri diatas lahan seluas 3500 m2 dengan pergedungan yang cukup memadai – ada 9 ruangan kelas untuk 9 rombongan belajar, ruang kepala sekolah, ruang guru, laboratorium, perpustakaan serta UKS. Sekolah tidak mempunyai ruang serba guna dan merek memakai ruang kelas biasa jika ada kegiatan khusus.

Walau sudah tua, jumlah meja kursi (mebeler) serta papan tulis dsb memadai dan cukup terpelihara dengan baik.  Halaman sekolah cukup luas dan terpelihara, namun amat disayangkan bahwa pagar halaman sekolah sudah rusak dan belum diperbaiki, sehingga cukup mengganggu kenyamanan dan keamanan. Kantin sekolah juga belum ditata dengan rapi walau Komite Sekolah sudah berjanji akan memperbaiki kantin danpagar sekolah.

Secara rinici keadaan sekolah adalah seperti berikut:

  1. Perkembangan Siswa 3 Tahun Terakhir

No

Kls

2006/2007

2007/2008

2008/2009

L

P

Jml

L

P

Jml

L

P

Jml

1

I

43

34

77

40

41

81

52

40

92

2

II

45

35

80

39

39

78

41

38

79

3

III

53

37

90

35

37

72

32

37

69

Jumlah

141

106

247

114

117

231

125

115

240

.       2. Rata-rata Nilai Ujian Nasional 3 Tahun Terakhir

No

Tahun Pelajaran

Bhs. Indonesia

Matematika

Bhs. Inggris

IPA

TT

TR

RT

TT

TR

RT

TT

TR

RT

TT

TR

RT

1

2005/2006

9,40

4,60

7,01

9,00

4,33

6,03

8,40

5,00

6,02

-

-

-

2

2006/2007

9,00

4,13

6,11

9,33

5,00

7,88

8,13

5,60

7,05

9,66

6,00

6,23

3

2007/2008

9,00

4,60

6,11

9,33

5,00

7,88

8,80

5,60

7,05

8,50

5,00

6,80

.       3. Keadaan Rombongan Belajar 3 Tahun Terakhir

Tahun

Kelas I

Kelas II

Kelas III

Jumlah

2006/2007

3

3

3

9

2007/2008

2

3

3

8

2008/2009

3

3

3

9

.       4. Ruang

No

Nama Ruang

Jml

No

Nama Ruang

Jml

1

Ruang Kelas

9

12

Ruang Wakil Kep.Sekolah

1

2

Ruang Laboraturium IPA

1

13

Ruang Majelis Guru

-

3

Ruang Perpustakaan

1

14

Ruang Tata Usaha

1

4

Ruang Keterampilan

-

15

Ruang OSIS

-

5

Ruang Serba Guna

-

16

WC Guru

1

6

Ruang UKS

1

17

WC Siswa

1

7

Ruang Koperasi

-

18

Ruang Satpam

-

8

Ruang BP/BK

-

19

Mushola

-

9

Ruang Ganti

-

20

Gudang

1

10

Mes Guru

-

21

Ruang Labor Komputer

-

11

Ruang Kepala Sekolah

1

22

Ruang Labor Bahasa

-

 

5. Pendidik dan Tenaga Kependidikan

No

Status

PNS

Honorer

Jumlah

Ket.

L

P

L

P

1

Kepala Sekolah

-

1

-

-

1

S1

2

Guru

5

6

5

5

21

16 S1, 5 D2

3

Tata Usaha

-

1

1

3

5

SMA/SMK

4

Penjaga Sekolah

-

-

1

-

1

SMP

 

Pelaksanaan pembelajaran di sekolah ini cukup baik sebab disamping sebagian besar para gurunya memenuhi kwalifikasi (sudah berijazah S1), mereka juga selalu  mencoba untuk memenuhi stándar untuk setiap mata pelajaran.

Para guru melaksanakan tugasnya dengan serius dan mereka juga mencoba mengembangkan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.  Mereka mengembangkan silabus dan RPP, hanya saja sebagian besar lebih bersifat “mengambil dari pihak lain” (cut and paste) demi mudahnya sehingga tak banyak yang dibuat mereka sendiri.  Disamping itu kurikulumnya juga tidak memperhatikan kekhasan daerah atau mempertimbangkan peserta didik yang berkemampuan khusus.Sekolah bisa memberikan kegiatan pengembangan diri dan ekstra kurikuler walaupun sifatnya masih tradisional saja dan kurang memperhatikan kekhasan daerah.

Secara umum pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah ini cukup baik sebab ada beberapa gurunya yang telah memakai pendekatan PAKEM/CTL dalam melakukan tugasnya membelajarkan peserta didik. Mereka juga telah membuat silabus berdasarkan standar yang ditentukan dan dimaksudkan untuk membantu peserta didik untuk mencapat standar kelulusan.

Semua guru sudah membuat RPP namun kebanyakan Silabus dan RPP yang dibuat lebih bersifat “ambil dari orang lain” dan bukan merupakan produk para guru sendiri. Ini disadari Kepala sekolah sehingga dia sudah merencanakan memberikan pemantapan para guru dalam membuat silabus dan RPP dengan mendatangkan guru yang handal dari sekolah lain untuk melakukan pendampingan dan “on the job training”.

Para guru yang telah melaksanakan PAKEM/CTL juga cukup innovatif dan sumber belajar tidak terbatas hanya pada buku pelajaran/buku paket saja – semua bisa dijadikan sebagai sumber belajar. Belajar dapat dilakukan diluar gedung kelas seperti di kebon, pekarangan, sawah, pasar dll. Guru juga banyak memakai alat bantu dan pajangan dalam pembelajaran.

Hanya saja sekolah belum memberikan kesempatan belajar yang sama bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus seperti yang berkelainan fisik maupun mental. Sekolah belum melaksanakan Pendidikan Inklusi dan hanya memberikan pelayanan bagi anak anak yang “normal”.

Sebagian besar guru mempunyai perencanaan penilaian peserta didik namun tidak atau belum memberikan feed back hasil penialian pada peserta didik. Mereka menganggap bahwa penilaian adalah hak guru dan tidak perlu memberitahu peserta didik ataupun orang tua mereka.

Hanya sebagian kecil guru yang sudah membuat KKM tetapi belum menyampaikan informasi kepada peserta didik mengenai KKM termasuk apa yang dipersyaratkan untuk penguasaan minimum. Para guru juga tidak melibatkan orang tua dalam penilaian para peserta didik termasuk kurang memberikan masukan hasil penialian peserta didik pada orang tua sehingga peningkatan belajar mereka hanya tergantung pada guru di sekolah saja tanpa masukan dari orang tua.

Secara umum hasil belajar para peserta didik sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan.  Hasil ujian nasional sekolah cukup baik seperti tertera pada data kwantitatif diatas. Beberapa peserta didik memperoleh juara tingkat kabupaten dalam lomba bidang studi.  Angka meneruskan ke jenjang SMA juga cukup baik,.

Sekolah lebih mementingkan perkembangan kemampuan akademis peserta didik saja dan kurang memperhatikan pengembangan potensi potensi peserta didik kecuali dengan kegiatan kegiatan non-akademis yang konvensional semacam pengajian, shalat berjamaah bersama, namun kurang mengembnagkan ketrampilan hidup mereka.

Visi dan Misi sekolah dikembangkan bersama dengan wakil wakil orang tua peserta didik dan para guru dalam rapat antara sekolah dan orang tua peserta didik. Komite Sekolah cukup aktif dan selalu memberikan dukungannya demi kemajuan sekolah.

Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) pada dasarnya dikembangkan dalam rapat dengan orang tua murid, walaupun disempurnakan dan dikembangkan oleh kepala Sekolah dan Dewan Guru.  Ini merupakan perkembangan baru sebab sebelum tahun 2007 RKAS hanya dikembangkan oleh Kepala Sekolah dengan beberapa guru kepercayaannya saja.

Sekolah juga melaporkan semua kegiatannya kepada rapat dengan orang tua, pesert didik termasuk laporan keuangannya – dari penerimaan sampai pengeluarannya. Baik laporan kegiatan maupun keuangan diketahui bersama dengan Komite Sekolah dan disamping dilaporkan pada rapat, juga dipajangkan di Papan pengumuman sekolah.

Seperti disebutkan diatas, dari 21 guru, 16 mempunyai kwalifikasi yang diharuskan – sarjana S1, sehingg ada 5 yang masih berijazah D2 – boleh dikata cukup baik, sebab dari yang 5 guru berijazah D2 mereka adalah guru-guru untuk Penjaskes dan ekstra kurikuler lainnya.  Dari 16 guru tersebut, 10 telah lulus sertifikasi guru.

Sekolah selalu mendorong para gurunya untuk meningkatkan kwalifikasi mereka dengan mengikuti berbagai penataran atau kursus-kursus yang sesuai untuk pengembangan kemampuan mereka.

Sebagai sekolah negeri, dana operasional sekolah telah dicukupi oleh Pemerintah, walaupun sebetulnya mereka tetap memerlukan uluran tangan dari Masyarakat untuk mendanai kegiatan non-rutin seperti pengadaan komputer dan buku buku pengayaan. Sekolah amat tergantung dengan adanya dana BOS sehingga ini dikelola dengan baik.

Dengan usul dari Komite Sekolah, orang tua murid tidak keberatan memberikan sejumlah uang untuk kegiatan-kegiatan khusus sekolah serta pengadaan Sarana yang amat diperlukan semacam komputer atau buku buku pengayaan lainnya.

Seperti ditulis diatas, sekolah selalu melaporkan penerimaan dan penggunaan dana yang diterima kepada orang tua murid – sebagai wujud Akuntabilitas Publiknya.

 

Tugas untuk Latihan Pengisian Instrumen EDS

  1. Secara perorangan atau berkelompok, harap Anda mengisi Instrumen EDS untuk semua Standar berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari Studi Kasus diatas.
  2. Isi juga Format Laporan EDS (yang merupakan hasil ringkasan yang ada pada setiap akhir pertanyaan tentang Aspek dalam setiap Standar).
  3. Diskusikan dengan teman Anda hasil pengisian Format EDS Anda dan berikan argumentasi mengapa Anda menulis apa yang telah Anda tulis.
  1. Jika diperlukan, perbaiki hasil isian pada Format Instrumen dan Format Laporan EDS berdasarkan hasil diskusi.
  1. Tuliskan data dan informasi apa yang belum ada dalam Studi Kasus

                                       Refleksi

Tuliskan juga refleksi ataupun rekomendasi Anda tentang proses pembelajaran ini ataupun usulan untuk perbaikan Instrumen dan Format Laporan EDS.

1.  Refleksi/usul untuk proses pembelajaran

  1. Refleksi/Usul perbaikan Instrumen EDS.

BAB VI

EDS SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN RPS/RKS

 

A.   TUJUAN BELAJAR

Pada Bab ini Anda akan mempelajari pentingnya hasil EDS untuk dijadikan dasar penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) dan mampu membuat RPS/RKS.

B.   HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah mempelajari Bab ini Anda diharapkan dapat mengetahui:

  1. Pentingnya mempunyai data yang handal untuk dasar perencanaan;
  2. Data hasil EDS yang mengacu pada SPM dan SNP mutlak harus menjadi dasar perencanaan sekolah;
  3. Pentingya adanya skala prioritas untuk kegiatan yang akan masuk pada RPKS/RKS serta RAPBS/RAKS.
  4. Bagaimana membuat RPS/RKS berdasarkan data yang ada.

C.   LATAR BELAKANG

Untuk meningkatkan mutu kinerja sekolah, sekolah memerlukan perencanaan yang baik yang berdasarkan data dan informasi yang benar dan handal. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat mengukur kinerja sekolah dari SPM dan SNP sehingga rencana pengembangan sekolah kebanyakannya tidak berdasarkan data yang solid dan lebih berdasarkan atas perkiraan, asumsi atau bahkan kebiasaan saja.

Dengan adanya EDS akan memungkinkan sekolah mempunyai data tentang hasil evaluasi kinerjanya termasuk kekurangannya dilihat dari SPM maupun SNP. Hasil EDS ini dikaji dan ditentukan prioritasnya untuk dimasukkan dalam RPS/RKS yang berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata sekolah, baik untuk masa 4 tahun dalam RPS/RKS maupun untuk masa tahunan d alam RAPBS/RKAS.

Keharusan sekolah untuk mempunyai rencana pengembangan sekolah seperti diatur dalam berbagai peratuiran-peraturan Pemerintah dibawah ini akan amat tertolong dengan adanya EDS. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 Bab VIII tentang Standar Nasional Pendidikan pada pasal 53 ayat (1) menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran rinci dari kerja jangka menengah satuan pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun. Juga Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mewajiban agar sekolah madrasah mempunyai: (1) Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu 4 tahun yang berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan, (2) Rencana Kerjas Tahunan (RKT) yang dinyatakan dalam Rencana kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dilaksanakan berdasarkan RKJM.

 

Tugas

  1. Diskusikan pentingnya data dan informasi yang handal dan solid untuk dasar perencanaan dan bagaimana akibatnya jika perencanaan tidak berdasarkan data dan hanya Asumsi saja.
  1.  Apa acuan perencanaan kegiatan sekolah dan apa akibatnya jika mengabaikan acuan tersebut.

 

D.   MEMBUAT PERENCANAAN

Berdasarkan peraturan Pemerintah yang ada, secara umum sekolah diwajibkan membuat perencanaan untuk memastikan agar semua kegiatan untuk meningkatkan kinerjanya bisa tercapai dan terukur dengan membuat perencanaan sebagai berikut:

  1. Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang menghasilkan RPS/RKS untuk kurun waktu 4 tahunan.
  2. Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang menghasilkan Rencana Anggaran, Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) atau Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).

Kebutuhan sekolah akan data dan informasi yang handal sebagai dasar penyusunan perencanaannya seperti dikatakan diatas akan terpenuhi dengan sendirinya dengan pelaksanaan EDS di sekolahnya. Dan acuan semua perencanaan adalah pencapaian 8 SNP.

E.    MENENTUKAN PRIORITAS

Data dan informasi dari EDS yang menghasilkan usulan usulan kegiatan cukup banyak dan sehingga tak mungkin semuanya dilaksanakan bersamaan. Kemampuan sekolah dari berbagai segi biasanya terbatas, baik dari segi SDM, daya dan dana maupun dari segi waktu. Untuk itulah maka sekolah perlu menentukan prioritas mana yang perlu masuk, mana yang didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan pada waktu lain.

Penentuan prioritas harus dilakukan melalui diskusi bersama stakeholder pendidikan di sekolah dan bukan oleh Kepala Sekolah ataupun oleh Komite Sekolah saja.  Penentuan prioritas ini harus berdasarkan atas kriteria-kriteria yang disetujui bersama yang secara umum berhubungan dengan: Pentingnya satu kegiatan dan dampaknya bagi peningkatan mutu dan kinerja; urgensinya, ketersediaan SDM dan pelaksananya dan tersedianya waktu serta sumber daya dan dana pendukungnya.

Perlu diketahui bahwa dari hasil EDS mungkin ada usulan kegiatan peningkatan mutu atau kinerja yang bisa dilakukan oleh sekolah itu sendiri tanpa memerlukan biaya. Umpama dari Standar Pengelolaan kentara sekali bahwa disiplin guru amat jelak sehingga perlu ditingkatkan. Peningkatan disiplin guru bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan memberikan anjuran agar guru disiplin, peraturan dan perintah tentang hal itu dan yang amat penting adalah contoh dari pimpinan sekolah sendiri – semuanya ini tanpa perlu ada biaya khusus.

Tugas

  1. Bagi Kepala Sekolah: Tentukan pentingnya tiap Standar bagi Sekolah dgn memakai skala 1 – 10. (Sepuluh paling penting).
  1. Bagi Pengawas: Tentukan pewntingnya tiap Standar bagi Kab/kota dengan memakai skala 1 – 10.

 

  1. Bagi semuanya: Kriteria apa yang bisa dipakai menentukan prioritas dalam meningkatkan kinerja sekolah.

F.    MEMBUAT RPS/RKS

Untuk menyusun RPS/RKS telah terbit beberapa versi Pedomannya namun pada dasarnya intinya serupa. Pedoman ini berisi: Latar Belakang, Dasar Hukum; Prinsip-prinsip Penyusunan RPS/RKS, Profile dan Kondisi Sekolah sekarang serta Kondisi yang diharapkan dan Program / Kegiatan dan Anggaran.

Yang mutlak harus ada di sekolah adalah: Profil Sekolah yang berisi Data dan informasi solid tentang kelemahan serta hal hal yang memerlukan peningkatan; data dianalisis kekuatan dan kelemahannya; penentuan prioritas kegiatan yang akan direncanakan dan laksanakan dan membuat rencana itu sendiri yang terdiri dari dua rencana: Rencana Kegiatan Jangka Menengah atau RPS/RKS dan Rencana Kegiatan Tahunan atau RAPBS / RKAS.

Dalam hal EDS sekolah telah mempunyai data dan informasi handal tentang kelemahannya dan kebutuhannya. Kepala sekolah dan Dewan guru dapat mengkaji dan menganalisis serta mementukan prioritas hal hal apa yang harus dimasukkan kedalam perencanaan.

Dibawah ini ada usul bentuk RPS/RKS dan RAPBS/RKAS sederhana setelah sekolah mempunyai Profil sekolah dan data/informasi lain dari hasil EDS.

RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

 

No Jenis kegiatan Tujuan Hasil yang diharapkan Waktu

S. Sarpras

Dll

RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN SEKOLAH (RKAS)

 

No

Jenis kegiatan

Tujuan

Hasil yang diharapkan

Penanggung jawab

Waktu

Dana

S. Sarpras

Dll

Di atas hanyalah contoh format RPS/RKS dan RKS/RAPBS yang sederhana namun siap pakai dan yang bisa saja disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Yang penting dalam perencanaan adalah jelasnya apa kegiatan itu, tujuannya, hasil yang diharapkan, penanggung jawab, waktu pelaksanaannya serta sumber daya dan dananya.  RPS/RKS karena berjangka waktu 4 tahun sifatnya umum dan mencakup besaran kegiatan. Mungkin belum bisa dengan pasti dicantumkan dana yang dibutuhkan, hanya perkiraan saja. Sedangkan RKAS/RAPBS sifatnya lebih rinci karena berjangka tahunan – jadi memuat hal prioritas yang akan dikerjakan sekolah termasuk perlunya dana untuk semua kegiatan.

Tugas

  1.  Dari hasil EDS Studi Kasus, tuliskan 5 hal yang perlu dimasukkan kedalam RPS/RKS sekolah Anda.
  1. Dari 5 hal diatas, ambil 2 yang palinmg penting dan jadikanlah kedua hal tersebut sebagai kegiatan yang ada dalam RAPBS/RAKS tahun ini di Sekolah Anda.


 

BAB VII

PENUTUP

Upaya peningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah mutlak perlu dilaksanakan dan yang tujuan pokoknya adalah bagaimana membuat peserta didik belajar dengan baik. Hal ini dimulai dengan pelaksanaan EDS yang merupakan evaluasi internal yang dilakukan oleh dan untuk kepentingan sekolah sendiri dengan pelakunya yaitu TPS dan dewan guru dibawah kepemimpinan Kepala sekolah dan bimbingan Pengawas. Dengan EDS akan diketahui kinerja sekolah dilihat dari SPM dan SNP sehingga sekolah dapat menyusun Rancangan Pengembangan Sekolahnya berdasarkan kebutuhan nyata. Sekolah akan dapat menentukan prioritas perbaikan kinerjanya dari segi waktu dan SDM berdasarkan hasil EDS, khususnya RAKS tahunan akan benar benar membantu sekolah memperbaiki dirinya.

Dengan modul yang bersifat Belajar Mandiri ini diharapkan para guru sekolah/madrasah khusunya dan para pembaca modul ini dapat memahami konsep EDS, apa dan bagaimana EDS, manfaat EDS, para pelaku utama EDS ditingkat sekolah, memahami serta mengisi Instrumen EDS serta menggunakan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/TKS dan RAPBS/RAKS yang terakhir ini adalah tujuan utama dilaksanakannya EDS di sekolah.

Memang banyak sudah evaluasi dilakukan terhadap sekolah, namun kebanyakannya bersifat eksternal yaitu penilaian orang luar atas kinerja sekolah untuk akreditasi atau tujuan lainnya. Evaluasi dari luar cenderung mengundang subjek yang dievaluasi untuk ”mengaada ada” dan melakukan apa saja demi memperoleh nilai baik.

EDS adalah evaluasi internal yang hasilnya untuk kepentingan sekolah itu sendiri – perbaikan kinerjanya dari kedelapan SNP. EDS adalah memotret diri atau melakukan check up sekolah. Salah satu kuncinya adalah kejujuran, menilai apa adany karena dengan mengetahui kelemahan dan kekurangannya akan bisa dilakukan perbaikan yang diperlukan. Karenanya EDS mengharuskan adanya kejujuran – tiada dusta diantara kita – sehingga hasilnya merupakan potret asli yang tanpa adanya hal tersebut tidak mungkin dilakukan perbaikan mutu kinerja sekolah. Dengan demikian pelaksanaan EDS di sekolah dan kegiatan tindak lanjutnya juga akan mempunyai efek positif bagi sekolah dalam kegiatan evaluasi eksternal lainnya semacam Akreditasi dsb.

Modul Bahan Belajar Mandiri ini diharapkan dapat membantu Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama dalam upaya penguatan kemampuan Kepala Sekolah/Madrasah, sebab diharapkan dapat membantu para Kepala Sekolah/Madrasah yang belum mendapat pelatihan untuk memahami konsep EDS dan melaksanakannya demi kemajuan sekolahnya.

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Komentar

  • Drs. H. Moh.Holili, M.Pd.I  On 07/06/2011 at 20:16

    Assalamu’alaikum Wr. Wb. Sebagai Calon Fasilitator EDS dan MSPD dari LPMP Propinsi Jawa Timur, sangat merasa terbantu setelah membuka websait SMP Negeri 2 Rantau Kab. Aceh, tentang EDS/MSPD yang telah dilakukannya. Saya minta ijin untuk mencopy pasti dari data yang dimiliki oleh bSMPN 2 Rantau, sebagai perbandingan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  • Mohammad ali  On 01/10/2011 at 12:15

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Dengan membaca isi dari tulisan…sangat membantu saya dalam penyusunan EDS di sekolah kami…..trimakasih
    wassalamualikum wr.wb

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: