EDS

DAFTAR ISI

Kata Pengantar  …………………………………………………………………………………..  1
Daftar Isi   ………………………………………………………………………………………….  2
Daftar Singkatan  …………………………………………………………………………………  3
Daftar Istilah  ………………………………………………………………………………………  4

BAB  I Pendahuluan ………………………………………………………………………….  6
A.  Latar Belakang  ………………………………………………………………………………  6
B. Dasar Hukum  ………………………………………………………………………………..  6
C.  Tujuan  …………………………………………………………………………………………  7
D.  Manfaat  ……………………………………………………………………………………….  7

BAB II EDS/M dalam kerangka Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan  ….  9
A.  Konsep Dasar EDS/M  ………………………………………………………………………  9
B.  Keterkaitan EDS/M dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu  ………………..  10
C.  Strategi Implementasi EDS/M …………………………………………………………….  14

BAB III Pelaksanaan Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah …………………..  17
A.  Bentuk Instrumen  ………………………………………………………………………….  17
B.  Bukti Fisik  …………………………………………………………………………………….  17
C.  Deskripsi Indikator  …………………………………………………………………………  19
D.  Tahapan Pengembangan  …………………………………………………………………  20
E.  Rekomendasi  ………………………………………………………………………………..  21

BAB IV Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah  ……………………….  22
A.  Penetapan Skala Prioritas  …………………………………………………………………  22
B.  Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah  ……………………………………..  24

BAB V Penutup ……………………………………………………………………………….  26

DAFTAR SINGKATAN

BAN S/M  Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah
BAP  Badan Akreditasi Provinsi
BDK  Badan Diklat Keagamaan (Kementerian Agama)
EDK  Evaluasi Diri Kabupaten/Kota
EDS/M  Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah
MIS  Management Information System (Sistem Informasi Manajemen)
Kemenag  Kementerian Agama
Kemendiknas  Kementerian Pendidikan Nasional
LPMP  Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
MSPD  Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah
Padati  Pusat Data dan Informasi (Kemendiknas)
RENSTRA  Rencana Strategis
RKT  Rencana Kerja Tahunan
RKJM  Rencana Kegiatan Jangka Menengah
RPS/RKS  Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kegiatan Sekolah
RAPBS/RKAS Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/Rencana
Kerja dan Anggaran Sekolah
SNP  Standar Nasional Pendidikan
SPM  Standar Pelayanan Minimal
SPMP  Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
TPS  Tim Pengembang Sekolah

DAFTAR ISTILAH

Data Kualitatif Data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna

Indikator  Jabaran pokok-pokok penting dari suatu komponen atau bukti yang harus ditunjukkan untuk membuktikan bahwa komponen tersebut tercapai atau tidak.

Data Kuantitatif  Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka

Analisis Data  Suatu proses untuk membandingkan atau mempertanyakan data kuantitatif dan kualitatif terhadap standar dan indikator yang disepakati untuk melihat apa yang dimaksud oleh data tersebut dan mengapa hal itu terjadi.

Agregasi  Penggabungan, pengumpulan, dan ringkasan data yang terkumpul menjadi kelompok yang berarti untuk membantu kita mengidentifikasi kecenderungan dan isu-isu yang terjadi pada sekelompok responden.

Dampak  Implikasi dari suatu kegiatan pengukuran dalam bidang pendidikan berdasarkan hasil dan manfaat untuk keberlanjutan program.

Efisiensi  Tingkat ketercapaian program dibandingkan dengan sumberdaya yang digunakan.

Evaluasi  Proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan

Kehandalan  Kehandalan atau reliability – data yang sama akan diperoleh tiap kali instrument dipakai pada kelompok atau responden yang sama atau berbeda – Konsistensi data – kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, dapat mengeluarkan hasil data yang sama atau konsisten.

Komponen  Jabaran pokok-pokok penting dari suatu standard atau bukti yang harus ditunjukkan untuk membuktikan bahwa standard tersebut tercapai atau tidak. Standar terdiri dari sejumlah komponen dan setiap komponen terdiri dari sejumlah indicator.

Monitoring  Memantau jejak proyek, program atau kegiatan guna memastikan bahwa: input diberikan sesuai dengan perencanaan – tepat waktu, dengan kuantitas yang memadai, dalam plafon anggaran, proses dilaksanakan sesuai dengan
rencana, dan output yang dicapai sesuai dengan apa yang diajukan.

MSPD  Serangkaian strategi yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag dan pengawas sekolah tingkat Pemerintah Daerah untuk memonitor dan mengevaluasi mutu dan keefektifan sekolah berdasarkan SPM dan SNP. Data MSPD didasarkan atas hasil EDS/M, sebagai masukan untuk bahan rekomendasi peningkatan mutu pendidikan tingkat kab/kota.

Mutu  Kualitas yang diukur berdasarkan relevansi, efisiensi, keefektifan dan dampak dari program, proses atau tindakan. Mutu mengukur sampai dimana unit atau sistem telah mencapai SPM dan SNP.

Output Pendidikan  Keluaran dalam bentuk kegiatan, produk atau jasa yang dihasilkan dari pemrosesan masukan. Keluaran biasanya lebih bersifat hasil yang nyata.

Peningkatan Mutu  Proses yang berkelanjutan dalam membuat semua kegiatan lebih baik berdasarkan siklus penjaminan mutu yang berkelanjutan dan perencanaan peningkatan mutu di semua unit pada semua tingkatan dalam sistem.

Penjaminan Mutu  Serangkaian proses dan sistem yang saling terkait untuk mengumpulkan, menganalisa, dan melaporkan data mengenai kinerja dan mutu dari tenaga kependidikan, program dan lembaga.

Keefektifan  Suatu kegiatan, proses, program, dan hal lainnya yang dianggap efektif jika dapat mencapai hasil akhir yang direncanakan yang dapat terus berjalan (sustainable).

Proses Pendidikan  Proses adalah tindakan yang dilakukan atau prosedur yang dilaksanakan, misalnya, mengajar, menilai, sistem pengelolaan untuk menggunakan dan mengelola input agar dapat menghasilkan output atau hasil.

Triangulasi  Proses pengumpulan data tentang indikator yang sama dari dua sumber atau lebih atau dari sumber yang sama dengan memakai dua strategi atau lebih. Jika hasil kedua proses ini sama, maka data atau bukti itu dapat dianggap sebagai valid dan akurat.

CATATAN KHUSUS DALAM DOKUMEN INI
Penggunaan istilah sekolah mencakup madrasah

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) telah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia melalui pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 63 tahun 2009. SPMP mendefinisikan penjaminan mutu sebagai kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan/program pendidikan, penyelenggara satuan/program pendidikan, pemerintah daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Pada tataran operasional, penjaminan mutu dilakukan melalui serangkaian proses dan sistem yang saling terkait untuk mengumpulkan, menganalisa, dan melaporkan data mengenai kinerja dan mutu dari tenaga kependidikan, program dan lembaga. Proses penjaminan mutu mengindentifikasi bidang-bidang pencapaian dan prioritas untuk perbaikan, menyediakan data untuk pembuatan keputusan berbasis bukti dan membantu membangun budaya perbaikan yang berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan dikaji berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Sekolah/Madrasah adalah pelaku utama dalam proses penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Salah satu alat untuk mengkaji kemajuan peningkatan mutu sekolah secara komprehensif yang berbasis Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M). EDS/M sebagai salah satu komponen SPMP diharapkan dapat membangun semangat dan kultur penjaminan dan peningkatan mutu secara berkelanjutan.

B.  Dasar Hukum
1.  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.  Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
4.  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Pemerintah Daerah.
5.  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.
6.  Peraturan lain yang relevan dengan implementasi delapan standar nasional pendidikan.

C.  Tujuan
Tujuan utama Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M) adalah:
1.  Sekolah menilai kinerjanya berdasarkan SPM dan SNP.
2.  Sekolah mengetahui tahapan pengembangan dalam pencapaian SPM dan SNP sebagai dasar peningkatan mutu pendidikan yang bermuara pada peningkatan mutu peserta didik.
3.  Sekolah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) sesuai kebutuhan nyata menuju ketercapaian implementasi SPM dan SNP.

D.  Manfaat
EDS/M diharapkan dapat memberikan sumbangan penting bagi sekolah sendiri dan bagi pemerintahan Kab/Kota yang memiliki kewenangan mengelola pendidikan. Berikut adalah manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan EDS/M.
1.  Bagi sekolah
a. Sekolah dapat mengidentifikasikan kelebihan serta kekurangannya sendiri dan merencanakan pengembangan ke depan.
b. Sekolah dapat memiliki data dasar yang akurat sebagai dasar untuk pengembangan dan peningkatan di masa mendatang.
c. Sekolah dapat mengidentifikasikan peluang untuk meningkatkan mutu pendidikan yang disediakan, mengkaji apakah inisiatif peningkatan tersebut berjalan dengan baik dan menyesuaikan program sesuai dengan hasilnya.
d.  Sekolah dapat memberikan laporan formal kepada pemangku kepentingan demi meningkatkan akuntabilitas sekolah.

2.  Bagi tingkatan lain dalam sistem (Pemerintah, pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi)
a.  Menyediakan data dan informasi yang penting untuk perencanaan, pembuatan keputusan, dan perencanaan anggaran pendidikan pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
b.  Mengidentifikasikan bidang prioritas untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.
c.  Mengidentifikasikan jenis dukungan yang dibutuhkan terhadap sekolah.
d.  Mengidentifikasikan pelatihan serta kebutuhan program pengembangan lainnya.
e. Mengidentifikasikan keberhasilan sekolah berdasarkan berbagai indicator pencapaian sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan Standar Nasional Pendidikan.

BAB II
EDS/M DALAM KERANGKA
SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

A.  Konsep Dasar Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M)
Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah adalah EDS/M adalah proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah yang bersifat internal yang melibatkan pemangku kepentingan untuk melihat kinerja sekolah berdasarkan SPM dan SNP yang hasilnya dipakai sebagai dasar Penyusunan RKS dan sebagai masukan bagi perencanaan investasi pendidikan tingkat kab/kota.
Proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan Tim Pengembang Sekolah (TPS), pelatihan penggunaan instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS. Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali. EDS/M dilaksanakan oleh Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri atas: Kepala Sekolah, wakil unsur guru, wakil Komite Sekolah, wakil orang tua siswa, dan pengawas.
TPS mengumpulkan bukti dan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam instrumen. Dengan menggunakan Instrumen EDS/M, sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik. Kegiatan ini melibatkan semua pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.
Khusus untuk pengawas, keterlibatannya dalam TPS berfungsi sebagai fasilitator atau pembimbing bagi sekolah dalam melakukan Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah, terutama memastikan bahwa proses EDS/M yang dilakukan secara benar dan buktibukti fisik sekolah tersedia.
EDS/M bukanlah proses yang birokratis atau mekanis, melainkan suatu proses dinamis yang melibatkan semua pemangku kepentingan dalam sekolah. EDS/M perlu dikaitkan dengan proses perencanaan sekolah dan dipandang sebagai bagian yang penting dalam kinerja siklus pengembangan sekolah. Sebagai kerangka kerja untuk
perubahan dan perbaikan, proses ini secara mendasar menjawab 3 (tiga) pertanyaan kunci di bawah ini:
1.  Seberapa baikkah kinerja sekolah kita? Hal ini terkait dengan posisi pencapaian kinerja untuk masing-masing indikator SPM dan SNP.
2.  Bagaimana kita dapat mengetahui kinerja sekolah? Hal ini terkait dengan bukti apa yang dimiliki sekolah untuk menunjukkan pencapaiannya.
3.  Bagaimana kita dapat meningkatkan kinerja? Dalam hal ini sekolah melaporkan dan menindaklanjuti apa yang telah ditemukan sesuai pertanyaan di nomor 2 dan nomor 3 sebelumnya.
Sekolah menjawab ketiga masalah ini setiap tahunnya dengan menggunakan seperangkat indikator kinerja untuk melakukan pengkajian yang obyektif terhadap kinerja mereka berdasarkan SPM dan SNP yang ditetapkan, dan mengumpulkan bukti mengenai kinerja peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan.
Informasi tambahan seperti tingkat ketercapaian kinerja sekolah dalam memenuhi kebutuhan semua peserta didiknya dan kapasitas sekolah untuk perbaikan serta dukungan yang dibutuhkan juga dimasukkan di sini. Data dapat juga dikaitkan dengan kebutuhan lokal dan informasi khusus terkait dengan kondisi sekolah.
Informasi kuantitatif seperti tingkat penerimaan siswa baru, hasil ujian, tingkat pengulangan dan lain-lain, beserta informasi kualitatif seperti pendapat dan penilaian profesional dari para pemangku kepentingan di sekolah dikumpulkan guna mendapatkan gambaran secara menyeluruh. Semua informasi ini kemudian dipergunakan sebagai dasar untuk mempersiapkan suatu rencana pengembangan sekolah yang terpadu.
Informasi hasil EDS/M dan Rencana Pengembangan Sekolah ditindaklanjuti Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kantor Kemenag sebagai informasi kinerja sekolah terkait pencapaian SPM dan SNP dan sebagai dasar penyusunan perencanaan peningkatan mutu pendidikan pada tingkat kabupaten/kota dan provinsi, bahkan pada tingkat nasional.

B.  Keterkaitan EDS/M dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu
EDS/M dikembangkan sejalan dengan sistem penjaminan mutu pendidikan, khususnya yang terkait dengan perencanaan pengembangan sekolah dan manajemen berbasis sekolah. Pelaksanaan EDS/M terkait dengan praktek dan peran kelembagaan
yang memang sudah berjalan, seperti manajemen berbasis sekolah, perencanaan pengembangan sekolah, akreditasi sekolah, implementasi SPM dan SNP, peran LPMP/BDK, peran pengawas, serta manajemen pendidikan yang dilakukan oleh pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota, dan Rencana Pembangunan Nasional Bidang Pendidikan, Renstra Kemendiknas, dan Renstra Kemenag.
Diagram di bawah ini menggambarkan EDS/M sebagai salah satu komponen sumber data dalam Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan yang mengacu pada Permendiknas No. 63 tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.

EVALUASI DIRI
SEKOLAH
(EDS/M)
(Tahunan)
MONITORING
SEKOLAH OLEH
PEMERINTAH
DAERAH (MSPD)
(Sesuai kebutuhan)

SERTIFIKASI GURU DAN PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL (Tahunan)

SISTEM
PENJAMINAN MUTU
PENDIDIKAN (SPMP)
MEMENUHI SPM
DAN SNP

EVALUASI DIRI
KABUPATEN (EDK)
(Tahunan)

AKREDITASI
SEKOLAH
(Lima tahun)
PENGUMPULAN
DATA PADATI
(Tahunan)
UJIAN
NASIONAL
(Tahunan)

Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M), sebagai komponen penting dalam SPMP, merupakan dasar peningkatan mutu dan penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). EDS/M juga menjadi sumber informasi kebijakan untuk penyusunan program pengembangan pendidikan kabupaten/kota. Karena itulah EDS/M menjadi bagian yang integral dalam penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. EDS/M adalah suatu proses yang memberikan tanggung jawab kepada sekolah untuk mengevaluasi kemajuan mereka sendiri dan mendorong sekolah untuk menetapkan prioritas peningkatan mutu sekolah.
Kegiatan EDS/M berbasis sekolah, tetapi proses ini juga mensyaratkan adanya keterlibatan dan dukungan dari orang-orang yang bekerja dalam berbagai tingkatan
yang berbeda dalam sistem ini, dan hal ini tentu saja membantu terjaminnya transparansi dan validitasi proses.
EDS/M merupakan komponen penentu yang sangat penting dalam membangun sistem informasi pendidikan nasional terutama dalam memotret kinerja sekolah dalam penerapan SPM dan SNP. Informasi yang terbangun menjadi dasar untuk perencanaan peningkatan mutu berkelanjutan dan pengembangan kebijakan pendidikan pada tingkat kab/kota, provinsi, dan nasional. Pada diagram EDS/M dalam Kaitannya dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu, terlihat alur informasi dan urutan kegiatannya.

Informasi strategis hasil EDS/M ditindaklanjuti oleh Pengawas

C.  Strategi Implementasi
Selama berjalannya proses EDS/M, diharapkan dapat dibangun adanya visi yang jelas mengenai apa yang diinginkan oleh para pemangku kepentingan terhadap sekolah mereka. Untuk dapat membangun visi bersama mengenai mutu ini yang harus dilakukan adalah semua pemangku kepentingan harus terlibat dalam proses untuk menyepakati nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang akan ditetapkan. Visi bersama ini yang akan membawa arah pengembangan sekolah ke depan dengan lebih jelas.
Sekolah mengukur dampak dari berbagai kegiatan pentingnya terkait dengan peserta didik dan kegiatan pembelajaran (belajar mengajar); setiap tahun sekolah juga memeriksa hasil dan dampak dari kegiatan belajar mengajar serta bagaimana sekolah dapat memenuhi kebutuhan peserta didiknya. Hal yang sangat penting dalam proses ini adalah sekolah harus mempergunakan evaluasi ini untuk memprioritaskan bidang yang memerlukan peningkatan dan mempersiapkan rencana pengembangan/peningkatan sekolah. Proses ini kemudian menjadi bagian dari siklus pengembangan dan peningkatan yang berkelanjutan.

Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di sekolah (kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua, komite sekolah, anggota masyarakat, dan pengawas sekolah) diharapkan bahwa tujuan dan nilai yang diinginkan dalam proses EDS/M menjadi bagian dari etos kerja sekolah. Penting diingat adalah bahwa informasi yang didapatkan harus dianggap penting dan tidak lagi dianggap sebagai beban atau hanya sekedar sebagai daftar data yang perlu dikumpulkan karena diminta oleh pihak luar. Proses EDS/M harus menjadi suatu refleksi untuk mengubah dan memperbaiki tata kerja, serta akan dianggap berhasil jika dapat membawa sekolah pada peningkatan pelayanan pendidikan dan hasilnya bagi para peserta didik. Kemudian sekolah akan menjadi pelaku utama dalam peningkatan mutu dan memberikan penjaminan terhadap pelayanan pendidikan yang bermutu.
Tahapan-tahapan berikut adalah upaya yang dilaksanakan untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan EDS/M, yakni:
1.  Persiapan
Sebelum proses ini dapat dimulai, dibutuhkan pelatihan EDS/M secara berkelanjutan. Pelatihan ditujukan untuk mempersiapkan sekolah melaksanakan evaluasi secara transparan, untuk menjamin validitas dan mempergunakan informasi yang dikumpulkan untuk memberikan masukan terhadap perencanaan pengembangan sekolah.
Pelatihan ini dilaksanakan dengan mempergunakan sistem berikut ini:
a.  LPMP/BDK dilatih sebagai pelatih bagi pelatih (Trainers of Trainers/ToT).
b.  Kepala Seksi Kurikulum, Koordinator Pengawas, beberapa Pengawas dilatih oleh LPMP/BDK.
c.  Koordinator Pengawas dan pengawas sekolah terpilih melatih Tim TPS/EDS/M dalam gugus sekolah.
2.  Melaksanakan Proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah
Setelah pelaksanaan pelatihan, kepala sekolah dengan dukungan pengawas sekolah pembina melaksanakan EDS/M bersama Tim TPS yang terdiri dari perwakilan guru, komite sekolah, orang tua, Pengawas dan perwakilan lain dari kelompok masyarakat yang memang dipandang layak untuk diikutsertakan.
Tim ini akan mempergunakan instrumen yang disediakan untuk menetapkan profil kinerja sekolah berdasarkan indikator pencapaian. Informasi yang didapatkan kemudian dianalisa dan dipergunakan oleh TPS untuk mengidentifikasi kelebihan
dan bidang perbaikan yang dibutuhkan, serta merencanakan program tahunan sekolah. Pengawas sekolah Pembina harus dilibatkan secara penuh untuk mendukung sekolah dalam proses tersebut, serta dalam mengimplementasikan rencana perbaikan yang dikembangkan berdasarkan hasil dari proses ini.
Keterlibatan pengawas sekolah juga akan mendorong terciptanya transparansi dan keandalan data yang dikumpulkan, serta membantu sekolah untuk melangkah maju dalam program perbaikan berkelanjutan. Pengawas sekolah dan kepala sekolah akan menjadi pemain inti dalam pelibatan pemangku kepentingan untuk mendapatkan gambaran yang realistis mengenai sekolah dalam melakukan perbaikan, dan bukan hanya sekedar mengisi data yang menunjukkan pencapaian standar.
Instrumen EDS/M didasarkan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang memberikan dua tujuan untuk menyediakan informasi bagi rencana pengembangan sekolah, seiring dengan pemutakhiran sistem manajemen informasi pendidikan nasional. Bidang dan pertanyaan inti yang disediakan dalam instrumen tersebut merefleksikan aspek-aspek yang penting bagi sekolah yang diperlukan untuk merencanakan perbaikan sekolah. Karena itulah maka perlu diantisipasi agar sekolah dapat melakukan proses ini dengan benar dan tidak memandangnya sekedar sebagai kegiatan pengisian formulir. Penting untuk ditekankan disini adalah sekolah harus mendeskripsikan situasi nyata yang ada di sekolah mereka dan kemudian, saat proses ini diulang, mereka harus mampu menunjukkan adanya perbaikan seiring dengan waktu yang berjalan.

BAB III
PELAKSANAAN EVALUASI DIRI SEKOLAH DAN MADRASAH

A.  Bentuk Instrumen EDS/M
Instrumen EDS/M terdiri dari 8 (delapan) standar nasional pendidikan yang dijabarkan ke dalam 26 komponen dan 62 indikator. Setiap standar terdiri atas sejumlah komponen yang mengacu pada masing-masing standar nasional pendidikan sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya yang bersifat kualitatif. Setiap komponen terdiri dari beberapa indikator yang memberikan gambaran lebih menyeluruh dari komponen yang dimaksudkan.

Contoh Instrumen EDS/M

B.  Bukti Fisik
Bukti fisik yang tersedia digunakan sebagai bahan dasar untuk menggambarkan kondisi sekolah terkait dengan indikator yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya catatan
kajian, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orangtua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.
Informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan.
Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan. Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tahapan pengembangan tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai. Informasi yang dikumpulkan berdasarkan bukti fisik tersebut dipastikan keakuratanya melalui proses triangulasi.

Triangulasi bukti ini menjamin bahwa konsistensi akan terus diperiksa ulang dan bahwa indikator-indikator yang ada dipandang dari berbagai sudut untuk memberikan informasi mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hal ini penting mengingat apa yang dituliskan dalam dokumen tidak selalu merupakan hal yang sebenarnya terjadi. Misalnya, sebuah rencana mengajar tidak selalu dapat merekam bagaimana suatu pelajaran diajarkan, dokumen kurikulum tidak selalu menjadi jaminan bahwa kurikulum disampaikan dengan utuh, dan bahan pelajaran dapat dihitung tetapi bukan berarti bahan tersebut dipergunakan sesuai kepentingannya secara efektif.
Berikut adalah contoh bukti fisik yang dapat disediakan atau digunakan sekolah:

Khusus terhadap proses belajar mengajar, informasi kualitatif dan kuantitatif sebagai hasil dari observasi langsung dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) mengikuti dalam kelas selama satu hari penuh; (2) mengamati pelajaran; (3) merekam dengan video cara mengajar sendiri; (4) pertukaran kelas antar guru; dan (5) observasi antar sesama guru.

C.  Deskripsi Indikator
Kolom ringkasan deskripsi indikator berdasarkan bukti fisik pada instrumen EDS/M diisi uraian singkat yang menjelaskan situasi nyata yang terjadi di sekolah sesuai
dengan indikator pada setiap komponen yang mengacu kepada Standar Pelayanan Minimal dan Standar Nasional Pendidikan.
Deskripsi indikator yang menggambarkan kondisi nyata dan spesifik untuk setiap indikator akan memudahkan sekolah dalam menyusun rekomendasi untuk perbaikan maupun peningkatan sekaligus menentukan rencana pengembangan sekolah berdasarkan rekomendasi dan prioritas sekolah.

D. Tahapan Pengembangan
Anggota TPS secara bersama mencermati instrumen EDS/M pada setiap indicator dari setiap komponen dan setiap standar. Dalam pengisian intrumen EDS/M, anggota TPS harus merujuk kepada Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan SPM dan SNP. Deskripsi indikator berdasarkan bukti fisik menjadi rujukan bagi anggota TPS untuk menentukan posisi tahapan pengembangan sekolah.
Sekolah kemudian membandingkan deskripsi setiap indikator dengan rubrik yang ada dibawahnya untuk melihat posisi tahapan pencapaian. Sekolah kemudian memilih rubrik yang lebih mendekati atau sama dengan deskripsi sekolah untuk kemudian memberi tanda centang (√) pada tahapan pengembangan yang bersesuaian. Tahapan pengembangan pada setiap indikator menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penilaian terkait dengan indikator tertentu. Tahapan pengembangan ini memiliki makna sebagai berikut:
1.  Tahap ke-1, belum memenuhi SPM. Pada tahap ini, kinerja sekolah mempunyai banyak kelemahan dan membutuhkan banyak perbaikan.
2.  Tahap ke-2, memenuhi SPM. Pada tahap ini, terdapat beberapa kekuatan dan kelemahan tetapi masih sangat butuh perbaikan.
3.  Tahap ke-3, memenuhi SNP. Pada tahap ini, kinerja sekolah baik, namun masih perlu peningkatan.
4.  Tahap ke-4, melampaui SNP. Pada tahap ini, kinerja sekolah sangat baik, melampaui standar yang telah ditetapkan.
Tahapan pengembangan bisa berbeda dalam indikator yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus menilai kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS/M yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata indikator atau komponen atau standar mana yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.

E. Rekomendasi
Setelah menentukan tahapan pengembangan, sekolah kemudian menyusun rekomendasi berdasarkan bukti fisik, deskripsi, dan tahapan pengembangan untuk setiap indikator. Rekomendasi tidak hanya difokuskan pada indikator yang dianggap lemah namun juga disusun untuk setiap indikator yang telah mencapai standar nasional pendidikan. Sehingga rekomendasi ini dapat digolongkan dengan rekomendasi perbaikan/peningkatan dan rekomendasi pengembangan.
Rekomendasi ini kemudian direkap sebagai dasar masukan dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). Sekolah perlu memastikan bahwa rekomendasi ini sungguh-sungguh berbasis hasil evaluasi diri.

BAB IV
PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

Untuk meningkatkan mutu kinerja sekolah, sekolah memerlukan perencanaan yang baik yang berdasarkan data dan informasi yang benar dan handal. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat mengukur kinerja sekolah dari SPM dan SNP sehingga rencana pengembangan sekolah kebanyakannya tidak berdasarkan data yang solid dan lebih berdasarkan atas perkiraan, asumsi atau bahkan kebiasaan saja.
Dengan adanya EDS/M akan memungkinkan sekolah mempunyai data tentang hasil evaluasi kinerjanya termasuk kekurangannya dilihat dari SPM maupun SNP. Hasil EDS/M ini dikaji dan ditentukan prioritasnya untuk dimasukkan dalam RPS/RKS yang berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata sekolah, baik untuk masa 4 tahun dalam RPS/RKS maupun untuk masa tahunan dalam RAPBS/RKAS.
Berdasarkan peraturan Pemerintah yang ada, secara umum sekolah diwajibkan membuat perencanaan untuk memastikan agar semua kegiatan untuk meningkatkan kinerjanya bisa tercapai dan terukur dengan membuat perencanaan sebagai berikut:
1.  Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang menghasilkan RPS/RKS untuk kurun waktu 4 tahunan.
2.  Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang menghasilkan Rencana Anggaran, Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) atau Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).
Kebutuhan sekolah akan data dan informasi yang handal sebagai dasar penyusunan perencanaannya seperti dikatakan di atas akan terpenuhi dengan sendirinya dengan pelaksanaan EDS/M di sekolahnya. Dan acuan semua perencanaan adalah pencapaian 8 SNP.

A.  Menentukan Prioritas Program/Kegiatan
Data dan informasi dari EDS/M yang menghasilkan usulan kegiatan cukup banyak dan sehingga tak mungkin semuanya dilaksanakan bersamaan. Kemampuan sekolah dari berbagai segi biasanya terbatas, baik dari segi SDM, daya dan dana maupun dari segi waktu. Untuk itulah maka sekolah perlu menentukan prioritas mana yang perlu masuk, mana yang didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan pada waktu lain.
Penentuan prioritas harus dilakukan melalui diskusi bersama stakeholder pendidikan di sekolah dan bukan oleh Kepala Sekolah ataupun oleh Komite Sekolah saja. Penentuan prioritas ini harus berdasarkan atas kriteria-kriteria yang disetujui bersama yang secara umum berhubungan dengan: Pentingnya satu kegiatan dan dampaknya bagi peningkatan mutu dan kinerja; urgensinya, ketersediaan SDM dan pelaksananya dan tersedianya waktu serta sumber daya dan dana pendukungnya.
TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan dan mempergunakannya untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan bidang yang membutuhkan perhatian, yang kemudian akan menjadi dasar bagi rencana pengembangan sekolah. Proses ini kemudian akan berkontribusi untuk mengimplementasikan kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa sekolah harus menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, Rencana Pengembangan Sekolah akan berisikan prioritas perbaikan dalam jumlah kecil dan dapat dikelola olehsekolah dengan hasil yang telah ditentukan dan berfokus pada peningkatan dan pencapaian hasil pembelajaran. Kesemuanya ini harus dapat diobservasi dan diukur sejauh mungkin. Rencana Pengembangan Sekolah berisikan tanggung jawab untuk pengimplementasiannya, dilengkapi dengan kerangka waktu, tenggang waktu dan ukuran keberhasilan. Sekolah akan didorong untuk mencari solusi dan membuat perubahan dengan cara melakukan upaya yang bersumber dari kekuatan mereka, dan hal ini bergantung pada pengembangan kemampuan strategis kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Yang dapat diantisipasi adalah bahwa dengan mengacu pada data dan informasi yang didapatkan dari Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah, hasilnya bukan hanya diperoleh perencanaan yang lebih tepat, tetapi evaluasi kemajuan di masa mendatang dapat ditingkatkan dikarenakan adanya data andal yang dapat dijadikan sebagai acuan. Hal ini akan membantu sekolah untuk dapat mengemukakan perbaikan yang telah mereka capai secara berkelanjutan. Perlu diketahui bahwa dari hasil EDS/M mungkin ada usulan kegiatan peningkatan mutu atau kinerja yang bisa dilakukan oleh sekolah itu sendiri tanpa memerlukan biaya. Umpama dari Standar Pengelolaan kentara sekali bahwa disiplin guru amat jelak sehingga perlu ditingkatkan. Peningkatan disiplin guru bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan memberikan anjuran agar guru disiplin, peraturan dan perintah tentang hal itu dan yang amat penting adalah contoh dari pimpinan sekolah sendiri – semuanya ini tanpa perlu ada biaya khusus.
Contoh
REKAPITULASI REKOMENDASI EDS/M untuk RKS

B.  MEMBUAT RPS/RKS
Untuk menyusun RPS/RKS telah terbit beberapa versi Pedomannya namun pada dasarnya intinya serupa. Pedoman ini berisi: Latar Belakang, Dasar Hukum; Prinsip-prinsip Penyusunan RPS/RKS, Profile dan Kondisi Sekolah sekarang serta Kondisi yang diharapkan dan Program / Kegiatan dan Anggaran.
Yang mutlak harus ada di sekolah adalah: Profil Sekolah yang berisi Data dan informasi solid tentang kelemahan serta hal hal yang memerlukan peningkatan; data dianalisis kekuatan dan kelemahannya; penentuan prioritas kegiatan yang akan direncanakan dan laksanakan dan membuat rencana itu sendiri yang terdiri dari dua rencana: Rencana Kegiatan Jangka Menengah atau RPS/RKS dan Rencana Kegiatan Tahunan atau RAPBS / RKAS.
Dalam hal EDS/M sekolah telah mempunyai data dan informasi handal tentang kelemahannya dan kebutuhannya. Kepala sekolah dan Dewan guru dapat mengkaji dan
menganalisis serta mementukan prioritas hal hal apa yang harus dimasukkan kedalam perencanaan.
Dibawah ini ada usul bentuk RPS/RKS dan RAPBS/RKAS sederhana setelah sekolah mempunyai Profil sekolah dan data/informasi lain dari hasil EDS/M.

Contoh: Format RKS

Di atas hanyalah contoh format RPS/RKS dan RKS/RAPBS yang sederhana namun siap pakai dan yang bisa saja disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Yang penting dalam perencanaan adalah jelasnya apa kegiatan itu, tujuannya, hasil yang diharapkan, penanggung jawab, waktu pelaksanaannya serta sumber daya dan dananya. RPS/RKS karena berjangka waktu 4 tahun sifatnya umum dan mencakup besaran kegiatan. Mungkin belum bisa dengan pasti dicantumkan dana yang dibutuhkan, hanya perkiraan saja. Sedangkan RKAS/RAPBS sifatnya lebih rinci karena berjangka tahunan – jadi memuat hal prioritas yang akan dikerjakan sekolah termasuk perlunya dana untuk semua kegiatan.

BAB V
PENUTUP

Upaya peningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah mutlak perlu dilaksanakan, khususnya bagaimana membuat peserta didik belajar dengan baik. Hal ini dimulai dengan pelaksanaan EDS/M yang merupakan evaluasi internal yang dilakukan oleh dan untuk kepentingan sekolah sendiri dengan pelaku utamanya yaitu TPS dan dewan guru dibawah kepemimpinan Kepala sekolah dan bimbingan Pengawas. Melalui EDS/M akan diketahui kinerja sekolah dilihat dari SPM dan SNP sehingga sekolah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolahnya berdasarkan kebutuhan nyata. Sekolah akan dapat menentukan prioritas perbaikan kinerjanya dari segi waktu dan SDM berdasarkan hasil EDS/M, khususnya RAKS tahunan akan benar-benar membantu sekolah memperbaiki dirinya.
Panduan ini diharapkan dapat membantu sekolah/madrasah untuk memahami konsep EDS/M, apa dan bagaimana EDS/M, manfaat EDS/M, para pelaku utama EDS/M ditingkat sekolah, memahami serta mengisi instrumen EDS/M serta menggunakan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RAKS. Hal yang terakhir inilah yang menjadi tujuan utama dilaksanakannya EDS/M di sekolah.
Memang banyak sudah evaluasi dilakukan terhadap sekolah, namun kebanyakannya bersifat eksternal yaitu penilaian orang luar atas kinerja sekolah untuk akreditasi atau tujuan lainnya. Evaluasi dari luar cenderung mengundang subjek yang dievaluasi untuk ”mengada-ada” dan melakukan apa saja demi memperoleh nilai baik.
EDS/M adalah evaluasi internal yang hasilnya untuk kepentingan sekolah itu sendiri   perbaikan kinerjanya dari kedelapan SNP. EDS/M adalah memotret diri atau melakukan check-up sekolah. Salah satu kuncinya adalah kejujuran, menilai apa adanya karena dengan mengetahui kelemahan dan kekurangannya akan bias dilakukan perbaikan yang diperlukan. Dengan demikian pelaksanaan EDS/M di sekolah dan kegiatan tindak lanjutnya juga akan mempunyai efek positif bagi sekolah dalam kegiatan evaluasi eksternal lainnya seperti akreditasi.

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: