KEWIRAUSAHAAN

KEWIRAUSAHAAN

Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan

Kepala Sekolah

PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

2011

SAMBUTAN

KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

Dalam rangka pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah yang merupakan amanat Inpres No 1 tahun 2010, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia  Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP) telah menyusun materi pelatihan untuk penguatan kemampuan kepala sekolah. Pengembangan materi tersebut telah mengacu pada standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi kepala sekolah.

Materi pelatihan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi individu kepala sekolah dan lembaga yang terkait dalam penguatan kemampuan kepala sekolah di propinsi dan kabupaten/kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap program penguatan kepala sekolah dapat memperkaya dengan berbagai referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan kepala sekolah yang profesional dan akuntabel.

Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan kepala sekolah sesuai dengan standar kepala sekolah sebagaimana diamanahkan dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah dapat diwujudkan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang cerdas, kreatif, inovatif, berpikir kritis, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan.

Jakarta, Maret 2011

Kepala Badan PSDMP dan PMP

Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd

NIP.196202031987031002

KATA PENGANTAR

 

Materi pelatihan yang telah disusun merupakan bagian dari rencana pelaksanaan program penguatan kepala sekolah, program kedua dari delapan program 100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan kepala sekolah sangat penting mengingat peran strategis kepala sekolah di dalam proses peningkatan mutu pendidikan.

Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk melakukan proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi peningkatan kompetensi kepala sekolah sesuai yang diamanahkan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Kami menyadari bahwa materi pelatihan ini masih jauh dari sempurna. Namun kami perlu menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun yang telah berusaha dan berhasil menyiapkan materi pelatihan yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi usaha peningkatan kompetensi kepala sekolah. Berbagai pihak yang terkait dengan penguatan kemampuan kepala sekolah dapat memperkaya dengan materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kompetensi kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Semoga materi pelatihan ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan kepala sekolah di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Jakarta, Maret 2011

Kepala Pusat Pengembangan

Tenaga Kependidikan

Dr. Abi Sujak

NIP. 19621011 198601 1 001

 

DAFTAR ISI

 

SAMBUTAN  ……………………………………………………………………………………..

i

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………….

ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………..

iii

PENDAHULUAN …………………………………………………………………………………

1

Latar Belakang …………………………………………………………………………

1

Kompetensi yang Diharapkan………………………………………………………

1

Ruang Lingkup Materi ………………………………………………………………..

2

Langkah-langkah Pembelajaran…………………………………………………….

2

KEGIATAN BELAJAR 1 : KONSEP  KEWIRAUSAHAAN ………………………………….

4

Pengantar ………………………………………………………………………………….

4

Materi Pokok ………………………………………………………………………………

4

  1. Definisi Kewirausahaan ………………………………………………………………

4

  1. Tujuan Pengembangan Kewirausahaan …………………………………………

5

  1. Karakteristik/Dimensi-Dimensi Kewirausahaan………………………………….

5

  1. Cara-Cara Mengembangkan Kewirausahaan ……………………………………

7

  1. Manfaat kompetensi kewirausahaan bagi Kepala sekolah……………………

8

  1. Menjadi Seorang Wirausaha yang Sukses…………………………………..

8

Contoh Kasus …………………………………………………………………………….

10

Latihan …………………………………………………………………………………….

Rangkuman ……………………………………………………………………………….

11

KEGIATAN BELAJAR 2 : KONSEP  INOVASI ……………………………………………..

12

Pengantar …………………………………………………………………………………

12

Materi Pokok ……………………………………………………………………………..

12

1. Definisi Inovasi …………………………………………………………………………

12

2. Tujuan Kepala Sekolah Memiliki Kompetensi Inovasi ………………………….

12

3. Ciri-ciri Seorang Inovator………………………………………………………………

13

4. Cara Melakukan Inovasi ……………………………………………………………..

13

Contoh Kasus ……………………………………………………………………………..

14

Latihan ……………………………………………………………………………………..

14

Rangkuman ………………………………………………………………………………..

20

KEGIATAN BELAJAR 3 : KONSEP KERJA KERAS ………………………………………..

21

Pengantar ………………………………………………………………………………….

21

Materi Pokok ………………………………………………………………………………

21

  1. Definisi Kerja Keras ………………………………………………………………..

21

2. Tujuan Kepala sekolah/madrasah berkerja keras ………………………………

21

Contoh Kasus  …………………………………………………………………………….

22

Latihan ……………………………………………………………………………………..

22

Rangkuman ………………………………………………………………………………..

23

KEGIATAN BELAJAR 4 : KONSEP MOTIVASI KUAT  DAN PANTANG MENYERAH

24

Pengantar ………………………………………………………………………………….

24

Materi Pokok ………………………………………………………………………………

24

1. Definisi motivasi …………………………………………………………………………..

24

2. Tujuan Kepala sekolah/madrasah memiliki Kreativitas ………………………..

    24

3. Cara menumbuhkan motivasi yang kuat………………………………………….

25

4. Definisi pantang menyerah………………………………………………………….

26

5. Tujuan Kepala sekolah/madrasah memiliki Kreativitas pantang menyerah …

26

6. Cara menumbuhkan sifat pantang menyerah……………………………………

26

Latihan …………………………………………………………………………………….

26

Rangkuman ……………………………………………………………………………….

    27

KEGIATAN BELAJAR 5 : KONSEP KREATIVITAS UNTUK SELALU MENCARI SOLUSI TERBAIK ………………………………………………………………………………

28

Pengantar …………………………………………………………………………………

28

Materi Pokok ……………………………………………………………………………….

28

  1. Definisi Kreativitas…………………………………………………………………

2. Tujuan Kepala sekolah/madrasah memiliki Kreativitas ………………….

28

3. Cara Berkreativitas ………………………………………………………………..

29

Contoh Kasus ………………………………………………………………………….

30

Latihan ………………………………………………………………………………….

30

Rangkuman……………………………………………………………………………..

30

REFLEKSI ………………………………………………………………………………………..

31

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………………..

33

LAMPIRAN-LAMPIRAN………………………………………………………………………………

35


PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah  menegaskan bahwa seorang kepala sekolah/madrasah   harus memiliki lima dimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.

Srategi sosialisasi dan bimbingan teknik kewirausahaan yang telah dilaksanakan selama ini ternyata masih belum memadai untuk menjangkau seluruh kepala sekolah/madrasah dalam waktu yang relatif singkat. Intensitas dan kedalaman penguasaan materi kurang dapat dicapai dengan kedua strategi ini karena terbatasnya waktu.

Berdasarkan kenyataan tersebut dan demi mendukung peran kepala sekolah/madrasah dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah/madrasah maka dibutuhkan kepala sekolah/madrasah yang kuat yang dapat membimbing, menjadi contoh, dan menggerakkan guru dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah/madrasah sehingga akhirnya dapat mewujudkan kualitas siswa yang kreatif, inovatif, berpikir kritis, dan berjiwa kewirausahaan (entrepreneurship).

  1. Kompetensi yang Diharapkan

(1) Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.

(2) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah      sebagai organisasi pembelajar yang efektif.

(3) Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah/madrasah.

(4) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.

(5) Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan sekolah/madrasah  sebagai sumber belajar peserta didik.

  1. Ruang lingkup Materi

Materi pelatihan terdiri atas lima bagian adalah sebagai berikut.

(1)   Dimensi kompetensi manajerial  dengan materi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS);

(2)   Dimensi Kompetensi Kewirausahaan dengan materi Kewirausahaan;

(3)   Dimensi kompetensi supervisi dengan materi Supervisi Akademik dan Kepemimpinan Pembelajaran;

(4)   Penelitian Tindakan Sekolah/Madrasah.

Materi pelatihan pada materi ini dibatasi pada kewirausahaan menurut Permendiknas Nomor 13 Tahun tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah yang meliputi kegiatan belajar:

(1)    konsep kewirausahaan,

(2)    konsep inovasi,

(3)    konsep kerja keras,

(4)    konsep motivasi kuat dan pantang menyerah,

(5)    konsep kreativitas untuk selalu mencari solusi terbaik.

  1. Langkah-langkah Pembelajaran

Materi pelatihan ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala sekolah/madrasah dalam pelatihan. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Secara umum aktivitas individual meliputi: (1) membaca materi pelatihan, (2) melakukan latihan/mengerjakan tugas, menyelesaikan masalah/kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman, dan (4) melakukan refleksi. Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi pelatihan, (2) bertukar pengalaman (sharing) dalam melakukan latihan menyelesaikan masalah/kasus, dan (3) membuat rangkuman. Langkah-langkah pembelajaran dapat digambarkan seperti berikut.

Gambar 1 Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan

KEGIATAN BELAJAR 1: KONSEP  KEWIRAUSAHAAN

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!

  1. Pengantar

Salah satu dimensi kompetensi kepala sekolah/madrasah adalah kewirausahaan. Kewirausahaan dalam hal ini bermakna untuk kepentingan pendidikan yang bersifat sosial bukan untuk kepentingan bisnis yang mengkomersilkan sekolah/madrasah. Kewirausahaan dalam bidang pendidikan yang diambil adalah karakteristiknya (sifatnya) seperti inovatif, bekerja keras, motivasi yang kuat, pantang menyerah,  kreatif untuk mencari solusi terbaik, dan memiliki naluri kewirausahaan. Semua karakteristik tersebut bermanfaat bagi Kepala sekolah/madrasah dalam mengembangkan sekolah/madrasah, mencapai keberhasilan sekolah/madrasah, melaksanakan  tugas pokok dan fungsi, menghadapi kendala sekolah/madrasah, dan mengelola kegiatan sekolah/madrasah sebagai sumber belajar siswa.        Berikut disampaikan secara ringkas tentang definisi kewirausahaan, tujuan kewirausahaan, karakteristik/dimensi kewirausahaan, cara mengembangakan kewirausahaan menurut Slamet PH (2010).

  1. Materi Pokok

1. Definisi Kewirausahaan

Kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru secara kreatif dan inovatif untuk mewujudkan nilai tambah (Overton, 2002).  Kreatif berarti menghasilkan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Inovatif berarti memperbaiki/memodifikasi/mengembangkan sesuatu yang sudah ada. Nilai tambah berarti memiliki nilai lebih dari sebelumnya.

Ada yang berpendapat bahwa istilah kewirausahaan itu merupakan singkatan dari: Kreatif, Enerjik, Wawasan luas, Inovatif, Rencana bisnis, Agresif, Ulet, Supel, Antusias, Hemat, Asa, Ambisi, Negosiatif. (Anonim 1, 2005). Sebenarnya, masih banyak lagi sifat-sifat yang harus dimiliki seorang wirausaha misalnya berani mengambil risiko dengan penuh perhitungan, mampu memanfaatkan peluang, komunikatif, mampu memasarkan, mampu bernegosiasi. Namun pada materi pelatihan ini dibatasi pada sifat-sifat kewirausahaan yang terdapat dalam lima kompetensi kewirausahaan menurut Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

      2. Tujuan Pengembangan Kewirausahaan

Tujuan pengembangan kewirausahaan bagi kepala sekolah adalah agar kepala sekolah inovatif, kerja keras, memiliki motivasi kuat, pantang menyerah, dan kreatif dalam mencari solusi terbaik sehingga mampu menjadi contoh bagi warga sekolahnya.

3. Karakteristik/Dimensi-Dimensi Kewirausahaan

         Ada dua jenis karateristik atau dimensi kewirausahaan yaitu: (1) kualitas dasar kewirausahaan meliputi kualitas daya pikir, daya hati, dan daya fisik; dan (2) kualitas instrumental kewirausahaan yakni penguasaan lintas disiplin ilmu (Slamet, 2009). Selanjutnya, dijelaskan Slamet (2009) sebagai berikut.

a. Kualitas Dasar Kewirausahaan

 

1) Daya Pikir

Kualitas dasar daya pikir kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut: berpikir kreatif; berpikir inovatif; berpikir asli/baru/orisinil; berpikir divergen; berpikir mengembangkan; pionir berpikir; berpikir menciptakan produk dan layanan baru; memikirkan sesuatu yang belum pernah dipikirkan oleh orang lain; berpikir sebab-akibat; berpikir lateral; berpikir sistem; berpikir sebagai perubah (agen perubahan); berpikir kedepan (berpikir futuristik); berintuisi tinggi; berpikir maksimal; terampil mengambil keputusan; berpikir positif; dan versalitas berpikir sangat tinggi.

2) Daya Hati

Kualitas dasar daya hati kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut: prakarsa/inisiatif tinggi; ada keberanian moral untuk mengenalkan hal-hal baru; proaktif, tidak hanya aktif apalagi hanya reaktif; berani mengambil resiko; berani berbeda; properubahan dan bukan pro kemapanan; kemauan, motivasi, dan spirit untuk maju sangat kuat; memiliki tanggungjawab moral yang tinggi; hubungan interpersonal bagus; berintegritas tinggi; gigih, tekun, sabar, dan pantang menyerah; bekerja keras; berkomitmen tinggi; memiliki kemampuan untuk memobilisasi orang lain; melakukan apa saja yang terbaik; melakukan perbaikan secara terus menerus; mau memetik pelajaran dari kesalahan, dari kesuksesan, dan dari praktek-praktek yang baik; membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah; percaya diri; pencipta peluang; memiliki sifat daya saing tinggi, tetapi mendasarkan pada nilai solidaritas; agresif/ofensif; sangat humanistik dan hangat pergaulan; terarah pada tujuan akhir, bukan tujuan sesaat; luwes dalam pergaulan; selalu menginginkan tantangan baru; selalu membangun keindahan cita rasa melalui seni (kriya, musik, suara, tari, lukis, dsb.); bersikap mandiri akan tetapi supel; tidak suka mencari kambing hitam; selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai tambah sumberdaya; terbuka terhadap umpan balik; selalu ingin mencari perubahan yang lebih baik (meningkatkan/mengembangkan); tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya; dan keinginan menciptakan sesuatu yang baru.

3) Daya Fisik

Kualitas dasar daya fisik/raga kewirausahaan memiliki karakteristik/dimensi-dimensi sebagai berikut: menjaga kesehatan secata teratur; memelihara ketahan/stamina tubuh dengan baik; memiliki energi yang tinggi; dan keterampilan tubuh dimanfaatkan demi kesehatan dan kebahagiaan hidup.

b. Kualitas Instrumental Kewirausahaan

        Seseorang yang ingin menjadi wirausahawan sukses tidak cukup hanya memiliki kualitas dasar kewirausahaan, akan tetapi  kualitas instrumental kewirausahaan (penguasaan disiplin ilmu). Misalnya, seorang kepala sekolah, pengawas, atau kepala dinas pendidikan kabupaten/kota, harus memiliki ilmu pengetahuan yang luas di bidang pekerjaan yang menjadi kewenangan dan tanggung jawabnya.

4. Cara-Cara Mengembangkan Kewirausahaan

        Cara-cara mengembangkan kewirausahaan dilakukan melalui pentahapan sebagai berikut.

(1) Melakukan evaluasi diri tentang tingkat/level kepemilikan kewirausahaan. Ini dapat dilakukan melalui pengisian daftar kualitas kewirausahaan atau menjawab sejumlah pertanyaan tentang kewirausahaan yang dilakukan setulus-tulusnya dan sejujur-jujurnya (lihat Lampiran tentang Instrumen Profil Diri Kualitas Dasar Kewirausahaan, oleh Slamet PH). Hasil pengisian daftar/jawaban tersebut berupa profil diri kewirausahaan.

(2) Berdasarkan hasil evaluasi diri (profil diri jiwa kewirausahaan), selanjutnya ditempuh melalui berbagai upaya yang disebut “belajar.”

(3) Mempelajari kewirausahaan dapat dilakukan melalui berbagai upaya, misalnya: berpikir sendiri (otak kita kaya untuk berpikir), membaca (buku, jurnal, internet/web-site), magang, kursus pendek, belajar dari wirausahawan sukses, pengamatan langsung dilapangan, dialog dengan wirausahawan sukses, mengikuti seminar, mengundang wirausahawan sukses, menyimak acara-acara kewirausahaan di televisi,  atau cara-cara lain yang dianggap tepat bagi dirinya untuk mempelajari kewirausahaan Slamet, 2009).

5. Manfaat kompetensi kewirausahaan bagi Kepala sekolah

(1) Mampu menciptakan kreativitas dan inovasi yang bermanfaat bagi pengembangan sekolah/madrasah.

(2) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajaran yang efektif.

(3) Memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai kesuksesan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagai kepala sekolah/madrasah,

(4) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala sekolah/madrasah,

(5) Memiliki naluri kewirausahaan sebagai sumber belajar siswa, dan

(6) Menjadi teladan bagi guru dan siswa di sekolahnya, khususnya mengenai kompetensi kewirausahaan.

6. Menjadi Seorang Wirausaha yang Sukses

Kepala sekolah/madrasah sebagai seorang wirausahawan yang sukses harus memiliki tiga kompetensi pokok yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap kewirausahaan. Ketiga kompetensi tersebut saling berkaitan.

Kompetensi merupakan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Pengetahuan adalah kumpulan informasi yang disimpan di otak dan dapat dipanggil jika dibutuhkan. Keterampilan adalah kemampuan menerapkan pengetahuan. Sikap adalah sekumpulan kualitas karakter yang membentuk kepribadian seseorang (Anonim 4, 2005). Seseorang yang tidak memiliki ketiga kompetensi tersebut akan gagal sebagai wirausahawan yang sukses.

Keterkaitan ketiga kompetensi tersebut digambarkan sebagai berikut.

Keterampilan

Pengetahua

Sikap

Gambar 2: Kompetensi (Anonim 4, 2005)

    

Keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan menurut Hisrich & Peters (2002) adalah keterampilan teknikal, manajemen bisnis, dan jiwa kewirausahaan personal. Keterampilan teknikal meliputi: mampu menulis, berbicara, mendengar, memantau lingkungan, teknik bisnis, teknologi, mengorganisasi, membangun jaringan, gaya manajemen, melatih, bekerja sama dalam kerja tim (teamwork). Manajemen bisnis meliputi: perencanaan bisnis dan menetapkan tujuan bisnis, pengambilan keputusan, hubungan manusiawi, pemasaran, keuangan, pembukuan, manajemen, negosiasi, dan mengelola perubahan. Jiwa wirausahawan personal meliputi: disiplin (pengendalian diri), berani mengambil risiko diperhitungkan, inovatif, berorientasi perubahan, kerja keras, pemimpin visioner, dan mampu mengelola perubahan.

  1. Contoh Kasus

Tokoh-tokoh wirausahawan yang sukses di bidang pendidikan antara lain adalah Raden Ajeng Kartini yang berupaya keras pada jamannya merintis kesadaran tentang hak kaum perempuan, KI Hajar Dewantoro dengan Taman Siswa, Ciputra dengan Universitas Entrepreneurship, dan pendiri sekolah Global Jaya.

  1. Latihan

Kasus untuk Semua Kepala Sekolah

Kasus (Lihat Film Pipo dan Embro, terlampir)

(1) Identifikasikan sifat-sifat wirausaha yang tampak nyata (tersurat).

(1) Identifikasikan sifat-sifat wirausaha yang tersembunyi (tersirat).

(2) Mana dari sifat-sifat jawaban 1 dan 2 yang menunjang kompetensi wirausaha menurut Permendiknas Nomor 13 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah/madrasah?.

  1. E.   Rangkuman

        Kewirausahaan adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang secara kreatif dan inovatif untuk mewujudkan nilai tambah.  Tujuan pengembangan kewirausahaan bagi kepala sekolah adalah untuk meningkatkan kualitas kewirausahaannya dan mengembangkan sekolah/madrasahnya. Banyak karakteristik kewirausahaan yang dapat dimiliki oleh kepala sekolah sebagai wirausaha. Tetapi, pada materi ini dibatasi pada inovasi, kerja keras, motivasi tinggi, pantang menyerah. Dan kreatif untuk mencari solusi terbaik.  Untuk menjadi wirausahawan sukses harus memiliki pengetahuan, sikap, dan keterampilan kewirausahaan.

KEGIATAN BELAJAR 2:  KONSEP  INOVASI

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!

  1. Pengantar

Salah satu dari lima kompetensi kewirausahaan Kepala sekolah/madrasah adalah menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasahnya. Untuk meningkatkan kompetensi inovasi Kepala sekolah/madrasahnya, maka Kepala sekolah/madrasah hendaknya mengetahui dan mampu menerapkan konsep inovasi dalam mengembangkan sekolah/madrasah. Esensi kewirausahaan adalah kreativitas dan inovasi (Overton, 2002). Oleh sebab itu, Kepala sekolah/madrasah dituntut memiliki sifat kreatif dan inovatif dalam mengembangkan sekolah/madrasahnya.

  1. Materi Pokok
    1. Definisi Inovasi

Kreativitas dan inovasi merupakan dimensi-dimensi penting kewirausahaan. Kreativitas adalah kemampuan menciptakan sesuatu yang baru, yang belum pernah ada sebelumnya. Sedang inovasi adalah  penciptaan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya (Drucker, 1985). Contoh: hasil inovasi  adalah kantin jujur, pembelajaran anti korupsi, pembelajaran PAIKEM, manajemen sekolah/madrasah bersertifikasi ISO, unit produksi sekolah/madrasah sebagai tempat praktik siswa untuk memperoleh pengalaman nyata di dunia kerja, dan lain-lain.

  1. Tujuan Kepala Sekolah Memiliki Kompetensi Inovasi

Kepala sekolah/madrasah perlu memiliki kompetensi inovasi agar dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya selalu memikirkan sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya melalui perbaikan, pengembangan, pengayaan, pemodifikasian, dsb. Dalam rangka untuk memajukan dan mengembangkan sekolah/madrasahnya.

  1. Ciri-ciri Seorang Inovator

Seorang inovator memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

(1)   mengerjakan tugas dengan cara yang tidak konvensional;

(2) menemukan masalah dan memecahkannya dengan cara yang tidak liniear;

(3)   lebih tertarik pada hasil dari pada proses;

(4)   tidak senang pada pekerjaan yang bersifat rutin;

(5)   kurang senang pada kesepakatan; dan

(3) kurang sensitif terhadap orang lain (Kirton, 1976);

4. Cara Melakukan Inovasi

Cara melakukan inovasi dapat diuraikan sebagai berikut:

(1) anda harus ke luar dari kawasan yang membuat anda nyaman (comfort zone);

(2)   jangan berpikir dengan cara yang sudah terbiasa ada/dilakukan;

(3)   bergerak lebih cepat dibanding orang lain (pesaing) agar tidak didahului orang lain;

(4)   dengarkan ide stakeholders sekolah/madrasah;

(5)   bertanyalah kepada warga sekolah/madrasah dan stakeholders apa yang perlu diubah di sekolah/madrasah ini secara berkala;

(6)   dorong diri sendiri dan orang lain untuk cepat bergerak tetapi selamat;

(7)   berharap untuk menang, dan memiliki kesehatan dan kekuatan; dan

(8)   rekreasi secukupnya untuk mendapatkan ide-ide baru (Anonim 3, 2005).

  1. Contoh Kasus

Yohanes Surya menemukan cara-cara pembelajaran fisika yang inovatif sehingga menghasilkan juara olimpiade fisika tingkat dunia. Penemu jarimatika menemukan pembelajaran matematika di SD. Phytagoras menemukan rumus Phytagoras dalam matematika.Sekolah/madrasah.  Di Tidore memanfaatkan gelombang laut dan alam sekitar sebagai laboratorium praktik siswa,dan koleksi pohon langka di SMA Ambarawa sebagai sarana observasi siswa dan guru.

  1. Latihan

Diskusikan kasus berikut untuk siswa-siswa SD! Selesaikan kasus  dengan pendekatan kewirausahaan!. Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan.

Kasus untuk Kepala SD

James Shieh, usahawan Singapura menyatakan bahwa sejak kecil pikiran anak-anak Singapura sudah diisi dengan pemahaman tentang kewirausahaan (entrepreneurship). Anak-anak diberitahu bahwa hidup mereka berarti dan beradab kalau bisa berjualan. Dari 10 pintu rezeki, delapan ada di berjualan. Anak-anak kecil itu diajari memahami cara menaikkan nilai suatu barang. Mereka diajak memahami bahwa Singapura negara kecil dan untuk bisa bertahan (survive),  mereka harus kreatif, inovatif, kerja keras, dan pantang menyerah.

James Shieh mencontohkan, anak-anak kecil diajarkan bagaimana mengkreasi nilai benda. Satu pepaya, hanya akan dihargai satu buah pepaya kalau dijual begitu saja. Tetapi ketika pepaya itu dikreasikan menjadi jus, atau dijus atau dijus dan ditambah buah lain sehingga menambah kenikmatannya, maka nilai jual buah pepaya itu sudah menjadi lain. Begitu pula dengan durian yang bisa dikreasikan dengan amat banyak varian produk. “Ini baru contoh kecil tentang buah.”

Anak-anak kecil juga diajarkan bahwa mereparasi barang yang rusak tentu baik. Akan tetapi akan jauh lebih hebat kalau barang yang direparasi itu diberi nilai tambah sehingga nilainya menjadi berlipat-lipat. Tidak sampai di sini, anak-anak itu diajarkan pula untuk memahami bahwa merusak jauh lebih gampang daripada membuat. Sebaliknya, tutur James, anak-anak dibawa ke lokasi pembuangan sampah. Di situ ditunjukkan betapa banyaknya benda yang masih bisa digunakan tetapi sudah dibuang. Anak-anak diminta mencari sampah yang masih bisa digunakan bahkan dikreasikan.

Seorang guru besar sastra di Singapura yang ditemui terpisah, Prof Tan Tan Sen menambahkan, dalam konteks kewirausahaan dibutuhkan pikiran-pikiran sangat kreatif. “Untuk melatih kreasi, dan inovasi, pikiran harus jernih, sebab Anda butuh pengalaman, misalnya bagaimana membuat barang rongsokan menjadi sangat bernilai?”

Apa yang diuraikan di atas sudah sering kita dengar. Hanya saja, sebagian di antara kita belum membuka mata, hati dan pikiran untuk menerima pemahaman tentang kreasi dan inovasi itu bagi siswa SD kita. Sebagian orang tua/wali murid yang kaya raya melarang anaknya bekerja hanya demi sebuah gengsi. Bagaimana caranya agar anak-anak SD kita kreatif, inovatif, mau bekerja keras, dan pantang menyerah?

Kasus untuk Kepala SMP

 

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit!   Selesaikan kasus dengan pendekatan kewirausahaan! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan.

Dalam rangka menerapkan konsep pendidikan karakter, akhir-akhir ini beberapa sekolah termasuk SMP mendirikan Kantin Kejujuran. Kantin Kejujuran sengaja dikelola oleh siswa-siswa SMP untuk memberikan pengalaman berwirausaha dan melatih pembeli menerapkan kejujuran. Jadi, Kantin Kejujuran punya dua misi yaitu melatih kejujuran dan kewirausahaan. Siswa yang membeli mengambil barang dan makanan/minuman sendiri, menghitung sendiri, dan membayar sendiri pada kotak yang telah disediakan. Mula-mula Kantin Kejujuran berjalan dengan baik. Namun, lama kelamaan kantin tersebut ditutup karena bangkrut. Siswa, guru, orang tua/wali murid, komite sekolah, dan juga kepala sekolah saling menyalahkan.

Kasus untuk Kepala SMA

Diskusikan kasus berikut 10 menit! Selesaikan kasus berikut dengan pendekatan kewirausahaan! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan.

Pengusaha dari Amerika Serikat, Schramm setelah diterjemahkan ke bhs Indonesianya menyatakan, ”Kita tidak bisa melatih seseorang untuk memiliki karisma. Ada orang-orang tertentu yang memiliki kepribadian senang dengan tantangan serta berani mengambil risiko dan inovatif dan gigih mewujudkan impiannya.” Yang bisa dilakukan, lanjut Schramm, adalah melatih atau mendidik seseorang yang memiliki bekal ide dan semangat atau bahkan sudah memulai usahanya sedikit demi sedikit untuk membuat rencana atau strategi usaha. Tujuannya, untuk mengurangi risiko kegagalan usahanya dan memastikan keberhasilan usaha. Jika memiliki rencana atau strategi usaha yang jelas, dipastikan usahanya pun akan berhasil. SMA-SMA apalagi SMK-SMK akan sangat berguna dalam hal itu. Tidak hanya itu. Para wirausaha yang sukses juga bisa berbagi ilmu dengan siswa di SMA-SMA dan SMK-SMK.

”Jadi, belum tentu semua orang bisa menjadi entrepreneur karena masih lebih banyak orang yang boro-boro memikirkan inovasi usaha, memikirkan mau makan apa hari ini saja sudah susah,” kata Schramm.

Menjadi seorang wirausaha yang sukses pun, kata Schramm, tidak perlu harus memulai usaha sejak usia muda. Selama ini banyak beredar anggapan keliru bahwa jika ingin sukses, seseorang harus memulai usaha sejak usia 19 atau 21 tahun. Jika tidak, tidak akan pernah berhasil menjadi wirausaha. ”Nyatanya, banyak orang yang memulai usaha justru ketika sudah pensiun,” ujarnya.

Schramm juga mengatakan, kewirausahaan harus dilakukan, bukan sekadar diajarkan. Pendidikan kewirausahaan memang perlu diperkenalkan di sekolah- sekolah untuk menginformasikan kepada siswa bahwa kewirausahaan itu penting dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Schramm menambahkan, kewirausahaan juga untuk membentuk adanya keinginan di dalam diri seseorang untuk bekerja sendiri, bukan bekerja kepada orang lain. Mampu memanfaatkan peluang dan berani mengambil risiko. Sebab, negara memang butuh meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan baru guna mendorong meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Pertanyaan bagi siswa SMA kita adalah mengapa siswa kita cenderung berbudaya santai? Konsumtif? Ingin serba instant? Sebagian punya motto, “Bersenang-senang dahulu, bersenang-senang kemudian.” Ada pula yang punya motto, “Muda jaya, tua kaya, mati masuk surga.” Dapatkah semua itu diwujudkan tanpa memiliki jiwa kewirausahaan?

Kasus untuk Kepala SMK

Diskusikan kasus berikut selama  10 menit! Selesaikan kasus  dengan pendekatan kewirausahaan! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan!

Pendidikan kewirausahaan di Tanah Air perlu mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Bahkan, melalui pendidikan kewirausahaan tersebut pemerintah harus ikut campur tangan menciptakan wirausaha. Langkah ini mendesak dilakukan karena saat ini terdapat sekitar 12 juta lulusan sarjana S-1 yang menganggur.

”Jika yang 12 juta ini dibantu pemerintah untuk bisa menjadi wirausaha, pasti akan dahsyat dampaknya,” ujar CEO Garuda Food Group Sudhamek AWS dalam diskusi terbatas Forum Mangunwijaya VI tentang ”Pendidikan Kewirausahaan II”, yang diselenggarakan harian Kompas bekerja sama dengan Dinamika Edukasi Dasar dan Keuskupan Agung Semarang, Sabtu (18/12) di Balai Soedjatmoko, Solo, Jawa Tengah.

Menurut Sudhamek, kewirausahaan dapat dipelajari melalui sistem manajemen strategi. Ada empat kompetensi yang perlu dimiliki wirausaha, yakni pengetahuan tentang proses produksi, jaringan usaha, dukungan finansial, dan kemampuan manajemen.

Kewirausahaan hendaknya diberikan sejak dini dengan cara melihat dunia nyata di luar ruang kelas, seperti melihat proses produksi di pabrik, bengkel, bank, atau sentra kerajinan. Siswa SMK juga perlu diajarkan tentang ketidakpastian dan risiko bisnis dalam dunia usaha. Naluri kewirausahaan harus dibangun sejak dini dari keluarga. Sayangnya, hingga kini masih banyak orangtua yang ingin agar anaknya bekerja kantoran. Sementara itu, Darmono (nama samara) mengatakan bahwa  dirinya yang masih siswa SMK lebih banyak belajar dari dunia praktisi bisnis karena banyak teori kewirausahaan yang diajarkan di SMK ternyata tidak sinkron dengan kenyataan di lapangan. Selama ini, pendidikan kewirausahaan di SMK atau di mana pun sering lebih banyak diajarkan secara teoritis oleh guru/dosen/pelatih yang tidak memiliki pengalaman praktis berwirausaha.

Zaman telah berubah, untuk mengikuti dan mengantisipasi perubahan SMK dituntut melakukan inovasi-inovasi dalam mengembangkan ipteks di SMK-nya. Bila tidak, kompetensi lulusan SMK akan ketinggalan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja.  Stakeholders SMK akan meninggalkan SMK Anda dan mencari SMK lain yang lebih inovatif.

  1. Rangkuman

Inovasi adalah  mengembangkan sesuatu yang sudah ada menjadi berbeda atau tampil beda (lebih baik). Inovasi bagi Kepala sekolah/madrasah adalah untuk mengembangkan sekolah/madrasahnya agar lebih inovatif (lebih baik). Setidaknya ada enam ciri seorang inovator dan ada delapan cara untuk melakukan inovasi.

KEGIATAN BELAJAR 3 : KONSEP KERJA KERAS

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!

  1. Pengantar

Usaha mengembangkan sekolah/madrasah memerlukan banyak tenaga, pikiran, dan biaya serta membutuhkan kemampuan bekerja dalam rentang waktu yang lama. Kita harus bekerja keras secara terus-menerus. Anda sebaiknya jangan hanya mengandalkan bekerja keras yang mengandalkan kekuatan fisik tetapi juga mengandalkan kerja cerdas yang mengandalkan kekuatan otak. Keras keras dan cerdas saja belum cukup tanpa diikuti oleh kerja ikhlas, kerja lugas, kerja lekas, kerja tuntas, dan kerja puas (memuaskan segala pihak  (Collis & Le Boeuf, 1997).

  1. Materi Pokok
    1. Definisi Kerja Keras

Kerja keras adalah berusaha sekuat daya dan tenaga, pantang menyerah, tidak pernah ada kata putus asa untuk mencapai hasil yang maksimal. Orang yang keranjingan kerja keras disebut workcholic.  Kita harus fokus pada pekerjaan.

  1. Tujuan Kepala sekolah/madrasah berkerja keras

Kepala sekolah/madrasah bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasi pembelajar yang efektif. Berikut disampaikan beberapa cara untuk mempengaruhi seseorang agar mau bekerja keras.

(1) Tanamkan keyakinan bahwa banyak bukti keberhasilan seseorang karena kerja keras. Apabila kita ditanya tentang keberhasilan kita, maka jawaban kita adalah berkat kerja keras..

(2) Tanamkan keyakinan, “Saya harus bekerja keras agar yang saya butuhkan tercapai”. “Jangan mengharapkan sesuatu, jika tidak berbuat sesuatu”.

(3) Tanamkan keyakinan, saya ingin jadi orang yang bermanfaat. Banyak penganggur ingin bekerja. Mengapa mereka yang sudah mendapat pekerjaan ingin menganggur?

(4) Tentukan target yang harus dicapai.

(5) Tunjukkan kerja keras Anda untuk dijadikan contoh bawahan Anda.

(6) Kelima cara di atas dapat dilakukan sendiri-sendiri atau dikombinasikan  agar saling melengkapi.

 

C. Contoh Kasus

Perhatikan cara Pipo dan embro bekerja keras pada kasus di kegiatan belajar 2.

D. Latihan

                 

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Buat powerpointnya. Sajikan di depan kelompok lainnya untuk mendapatkan komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan balik!

 

Kasus untuk Semua Kepala Sekolah

Saya selalu kurang dan tak pernah merasa puas dengan keberhasilan sekolah/madrasah. Ujian Nasional sudah mencapai 6,5 ingin 7,0. UN 7,0 ingin 7.5. Saya juga ingin menjadi kepala sekolah/madrasah/madrasah berprestasi tingkat kabupaten. Prestasi tersebut sudah tercapai. Namun, saya masih belum puas. Saya bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah/madrasah/madrasah berprestasi tingkat propinsi bahkan tingkat nasional. Untuk mencapai itu semua saya bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Dengan cita-cita setinggi langit itu, saya bekerja keras mengarahkan dan membimbing guru agar mengejar prestasi yang tinggi. Akibatnya saya merasa jenuh,dan sering melupakan kegiatan keluarga.

E. Rangkuman

Kerja keras ialah kegiatan maksimal yang banyak menguras tenaga, pikiran, dan waktu untuk menyelesaikan sesuatu. Kerja keras adalah untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah. Lima cara agar orang mau bekerja keras.

KEGIATAN BELAJAR 4 : KONSEP MOTIVASI KUAT  DAN PANTANG MENYERAH

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!

  1. Pengantar

Motivasi merupakan salah satu alat atasan agar bawahan mau bekerja keras dan bekerja cerdas sesuai dengan yang diharapkan. Pengetahuan tentang motivasi membantu para Kepala sekolah/madrasah  untuk menumbuhkan motivasi baik bagi dirinya maupun warga sekolah. Kepala sekolah/madrasah sebagai wirausahawan harus memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai sukses.

  1. Materi Pokok
    1. Definisi Motivasi

a. Motivasi adalah keinginan yang melatarbelakangi seseorang untuk melakukan sesuatu (Husaini Usman, 2009). Tentu masih banyak definisi lain, tetapi intinya jelas yaitu seseorang termotivasi mengerjakan sesuatu apabila didasari oleh sesuatu dari kebutuhan.

  1. Tujuan Kepala Sekolah/Madrasah Memiliki Motivasi yang Kuat

(1) Untuk meraih sukses melalui motivasi yang kuat dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.

(2) Untuk mengembangkan sekolah/madrasahnya.

(3) Untuk menjadi contoh bagi warga sekolah.madrasahnya.

  1. Cara Menumbuhkan Motivasi yang Kuat untuk Diri Sendiri

Sebelum memotivasi orang lain, motivasilah diri sendiri terlebih dahulu. Caranya antara lain adalah sebagai berikut.

(1)   Berpikiran positif. Ketika mengkritik orang begitu terjadi ketidakberesan, tetapi kita lupa memberi dorongan positif agar mereka terus maju. Jangan mengkritik cara kerja orang lain kalau kita sendiri tidak mampu memberi  contoh terlebih dahulu. Kepala sekolah/madrasah dalam hal ini sebagai model.

(2)   Menciptakan perubahan yang kuat. Adanya kemauan yang kuat untuk mengubah situasi oleh diri sendiri. Mengubah perasaan tidak mampu menjadi mampu, tidak mau menjadi mau. Kata, ”Saya juga bisa” dapat membantu meningkatkan motivasi berprestasi. Kepala sekolah/madrasah dalam hal ini sebagai agent of change.

(3)   Membangun harga diri. Banyak kelebihan kita sendiri yang tidak dimiliki orang lain.

(4)   Memantapkan pelaksanaan. Ungkapkan dengan jadwal yang jelas dan laksanakan.

(5)   Binalah keberanian, kerja keras, bersedia belajar dari orang lain.

(6)   Ingin selalu melakukan yang terbaik

(7)   Membasmi sikap suka menunda-nunda. Hilangkan sikap menunda-nunda dengan alasan pekerjaan itu terlalu sulit dan segeralah untuk memulai.

  1. Definisi Pantang Menyerah

d. Pantang menyerah adalah daya tahan seseorang bekerja sampai sesuatu yang diinginkannya tercapai. Pantang menyerah adalah kombinasi antara bekerja keras dengan motivasi yang kuat untuk sukses. Orang yang pantang menyerah selalu bekerja  keras dan motivasi kerjanya juga tak pernah pudar.

  1. Tujuan Kepala Sekolah/Madrasah Memiliki Sifat Pantang Menyerah

e. Kepala sekolah/madrasah perlu memiliki sifat pantang menyerah agar tidak mudah putus asa dalam menyelesaikan permasalahan, menghadapi tantangan dan kendala yang ada di sekolahnya/madrasahnya. Sudah banyak bukti hasil penelitian bahwa kepala sekolah/madrasah yang memiliki sifat pantang menyerah akan mampu memajukan sekolahnya/madrasahnya dengan sukses.

  1. Cara Menumbuhkan Sifat Pantang Menyerah
  2. Cara untuk menumbuhkan sifat pantang menyerah adalah dengan menguatkan hati diri sendiri dan warga sekolah/madrasah agar tidak mudah berputus asa dalam mencapai sesuatu yang diinginkan, dan selalu menjaga kesehatan jiwa dan raga agar tidak mudah letih atau sakit.
  3. Latihan

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Buat powerpointnya. Sajikan di depan kelompok lainnya untuk mendapatkan komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan balik!

Kasus untuk Semua Kepala Sekolah

Akhir-akhir ini motivasi kerja saya menurun tanpa sebab yang jelas. Saya teringat akan hasil penelitian Pidarta yang menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa termalas nomor 3 di dunia. Kemalasan saya muncul mungkin karena kejenuhan saya bekerja atau mungkin pula karena penggajian pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak signifikan membedakan antara PNS yang berprestasi dengan yang malas-malas saja. Gaji PNS yang berprestasi dengan yang tidak berprestasi untuk pangkat/golongan/masa kerja yang sama, setiap bulannya sama saja. Saya sebagai Kepala sekolah/madrasah tidak ingin motivasi kerja saya yang rendah ini tampak di mata bawahan saya karena saya adalah pemimpin yang harus menjadi contoh.

  1. Rangkuman

Motivasi kerja adalah keinginan melakukan sesuatu untuk memenuhi kepentingan yang bersumber dari kebutuhan. Kepala sekolah/madrasah perlu memiliki motivasi yang kuat agar sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dan menjadi teladan bagi warga sekolah/madrasah. Tujuh cara memotivasi diri sendiri dan orang lain. Pantang menyerah adalah daya tahan seseorang bekerja keras sampai sesuatu yang diinginkannya tercapai.  Kepala sekolah/ madrasah perlu memiliki sifat pantang menyerah agar tidak mudah putus asa dalam menghadapi tantangan, permasalahan, dan kendala yang dihadapi oleh sekolah/madrasah. Cara untuk menumbuhkan sifat pantang menyerah adalah selalu menjaga kesehatan jiwa dan raga serta menguatkan hati untuk mencapai sesuatu yang diinginkan.

KEGIATAN BELAJAR 5 : KONSEP KREATIVITAS UNTUK SELALU MENCARI SOLUSI TERBAIK

Bacalah materi di bawah ini dengan cermat!

  1. Pengantar

Salah satu tugas Kepala sekolah/madrasah adalah menemukan solusi terbaik dalam menghadapi tantangan, permasalahan, dan kendala-kendala di sekolah/madrasah.  Untuk menemukan solusi terbaik tersebut, berikut disampaikan dua teori yang dapat dipraktikkan di sekolah/madrasah Anda, yaitu kreativitas dan pemecahan/solusi masalah.

  1. Materi Pokok

1. Definisi Kreativitas

Kreativitas diartikan sebagai proses menggunakan imajinasi dan keahlian untuk melahirkan gagasan baru, asli, unik, berbeda atau bermanfaat (Couger, 1996; Linberg, 1998; Oldham dan Cummings, 1996). Kreativitas adalah kemampuan untuk merancang, membentuk, membuat, atau melakukan sesuatu yang baru (Anonim 3, 2005). Agar memiliki kreativitas, Kepala sekolah/madrasah perlu membuka pikiran dan mata (Anonim 3, 2005).

Seseorang yang kreatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

(1) cenderung melihat suatu persoalan sebagai tantangan untuk menunjukkan kemampuan diri;

(2) cenderung memikirkan alternatif solusi/tindakan yang tidak dilakukan oleh orang-orang pada umumnya atau bukan sesuatu yang sudah biasa dilakukan;

(3) tidak takut untuk mencoba hal-hal baru;

(4) tidak takut dicemoohkan oleh orang lain karena berbeda dari kebiasaan;

(5) tidak cepat puas terhadap hasil yang diperoleh;

(6) toleran terhadap kegagalan dan frustasi;

(7) memikirkan apa yang mungkin dapat dilakukan atau dikerjakan dari suatu kondisi, keadaan atau benda;

(8) melakukan berbagai cara yang mungkin dilakukan dengan tetap berdasar pada integritas,  kejujuran, menjunjung sistem nilai,  dan bertujuan positif

  1. Tujuan Kepala sekolah/madrasah memiliki Kreativitas

Kepala sekolah/madrasah harus memiliki kreativitas agar apa yang dilakukan membawa perubahan-perubahan baru kearah yang lebih bagi sekolahnya/madrasahnya dan memiliki alternatif solusi terbaik untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi.

  1. Cara Berkreativitas

Beberapa cara untuk mengembangkan/ meningkatkan kreativitas seseorang:

(1) curah pendapat (brain storming) adalah sebuah teknik untuk menghasilkan ide-ide baru;

(2) mengubah ide-ide yang sudah ada;

(3) mempelajari teknik berpikir kreatif dari buku-buku;

(4) mengikuti pendidikan dan pelatihan kreativitas dan mempraktikkannya;

(5) bergaul dengan orang-orang yang kreatif;

(6) pelajari proses perubahan ide;

(7) apresiasi terhadap seni

  1. Contoh Kasus

Salah satu sekolah/madrasah di Ambon tidak memiliki lahan yang cukup untuk membuat lapangan basket yang utuh (2 ring berhadapan), maka kepala  sekolah/madrasah memutuskan untuk menyewa pelatih basket yang profesional untuk melatih siswa membentuk tim yang handal. Dengan bermodalkan 1 ring basket  saja sekolah/madrasah tersebut mampu meraih juara basket tingkat propinsi. Disinilah wujud dari kreativitas untuk mencari solusi terbaik.

  1. Latihan

Untuk semua kepala sekolah lihat Lampiran

  1. Rangkuman

Kreativitas adalah kemampuan untuk merancang, membentuk, membuat, atau melakukan sesuatu dengan cara baru atau berbeda (Anonim 3, 2005). Seseorang yang kreatif memiliki 11 ciri. Kepala sekolah/madrasah/madrasah meiliki kreativitas sebagai alat untuk mendapatkan solusi terbaik. Cara mendapatkan solusi terbaik melalui kreativitas dengan 12 cara.

REFLEKSI

Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi yang Bapak/Ibu sudah pelajari. 

 

Nama: _____________________                   Tanggal: _______________

  • Apa saja yang telah saya lakukan berkaitan dengan materi kegiatan belajar ini di sekolah?
  • Apa saja yang telah saya lakukan yang ada hubungannya dengan materi kegiatan ini tetapi belum ditulis di materi ini?
  • Materi apa yang ingin saya tambahkan?
  • Bagaimana kelebihan dan kekurangan materi materi kegiatan ini?
  • Manfaat apa saja yang saya dapatkan dari materi kegiatan ini?
  • Berapa persen kira-kira materi kegiatan ini dapat saya kuasai?
  • Apa yang akan saya lakukan?
  • Bagaimana cara saya melakukannya?

  

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim 1. 2005. Apakah Usaha dan Kewirausahaan Itu? Turin, Italiy: International Training Centre, ILO.

———–2. 2005. Siapa Wirausaha Itu? Turin, Italiy: International Training Centre, ILO.

———–3. 2005. Bagaimana Seharusnya Wirausaha Bersikap dan Bertindak? Turin, Italiy: International Training Centre, ILO.

———–4. 2005. Bagaimana Menjadi Seorang Wirausaha? Turin, Italiy: International Training Centre, ILO.

 

———–5. 2005. Bagaimana Mendapatkan Ide Bisnis yang Bagus? Turin, Italiy: International Training Centre, ILO.

———- 6. 2005. Apa Langkah Selanjutnya untuk Menjadi Seorang Wirausaha? Turin, Italiy: International Training.

———- 7. 2002. Memiliki dan Melaksanakan Kreativitas Inovasi dan Jiwa Kewirausahaan. Jakarta: Dit. Pendidikan Lanjutan Tingkat Pertama Ditjen Dikdasmen. Depdiknas.

Collis, J., & Boeuf, L.M. 1997. Bekerja Lebih Pintar Bukan Lebih Keras. Cetakan Kelima (Terjemahan Dabara). Solo: Dabara Publisher.

Hawkins, K., & Turia, P.A. 1986. Ujilah Tingkat Kecerdasan Anda sebagai Seorang Wiraswasta. (Terjemahan: Darbara). Solo: Dabara Publishers.

Husaini Usman. 2009. Manajemen: Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hisrich, R.D. & Peters, M.P. 2002. Entrepreneurship. Fifth Edistion. New York: McGraw Hill Irwin.

Kao, J.J. 1991. The Entrepreneur. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.

Kuratko, D.E., & Hodgetts, R.M.  1989. Entrepreneurship A Contemporary Approach. Chicago: The Dryden Press.

Lambing, P.A., & Kuehl, C.R. 2003. Entrepreneurship. Third Edition. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall.

Meridith, G.G.,  Nelson, R.E.,  & Neck, N.P. 1984. Kewirausahaan Teori dan Praktik. (Terjemahan: Andre Asparsayogi). Cetakan Kedua. Jakarta: PT. Hastama.

Slamet PH (2009). Pengembangan Jiwa Kewirausahaan (Makalah Disampaikan dalam Penataran Pengawas Sekolah yang Diselenggarakan oleh Direktorat Tenaga Kependidikan Tanggal 19-21 Desember 2009) di Hotel Mars, Puncak, Bogor.

 

Overton, R. 2002. Are You an Entrepreneur? Singapore: Wharton.

LAMPIRAN

Latihan 1

Berikan tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan mengisi salah satu kotak disebelah kiri setiap pernyataan. Ini bukan ujian. Pikirkan dengan seksama sebelum menanggapi apakah pernyataan tersebut sesuai dengan pribadi anda.

Benar

Salah

Tidak Pasti

PERNYATAAN

A ——- ——- ——– Ide-ide saya tidak selalu mudah dijelaskan kepada orang lain
B ——- ——- ——– Saya lebih baik bekerja untuk menemukan fakta-fakta baru ketimbang mengajarkannya kepada orang lain
C ——- ——- ——– Saya tidak suka membuang-buang waktu dan tenaga untuk ide-ide yang yang mungkin tidak dapat diwujudkan
D ——- ——- ——– Saya merasa lebih mudah mewujudkan ide-ide daripada memikirkan ide-ide baru
E ——- ——- ——– Saya memilih solusi cepat untuk menyelesaikan suatu masalah daripada berhadapan dengan ketidakpastian.
F ——- ——- ——– Cara berfikir saya tentang sesuatu sering dianggap berbeda atau tidak biasa

G

——- ——- ——– Saya merasa mudah menghentikan sebuah kegiatan ketika ada teman yang menelepon atau berkunjung
H ——- ——- ——– Saya merasa lebih nyaman dengan fakta-fakta dibandingkan dengan teori
I ——- ——- ——– Saya lebih suka mengarang cerita yang bagus dibandingkan dengan menceritakannya kepada orang lain
J ——- ——- ——– Saya memiliki kesulitan memberikan ide-ide saya jika hanya untuk menyenangkan orang lain
K ——- ——- ——– Saya lebih baik merancang baju daripada memperagakannya
L ——- ——- ——– Saya memilih bekerja untuk ide-ide sendiri dibandingkan dengan orang lain
M ——- ——- ——– Hal-hal yang tidak biasa lebih menarik bagi saya dibandingkan dengan hal-hal yang biasa
N ——- ——- ——– Ketika saya mendapat ide, saya menekuninya, bahkan meskipun orang lain berfikir bahwa ide tersebut ”terlalu jauh” dan tidak praktis
O ——- ——- ——– Saya akan melanjutkan ide-ide saya meskipun itu berarti saya akan sering sendirian

Kunci Penilaian kreativitas

BENAR

SALAH

TDK PASTI

A

2

0

1

B

2

0

1

C

0

3

1

D

0

2

1

E

0

3

1

F

3

0

1

G

0

3

1

H

0

3

1

I

2

0

1

J

3

0

1

K

2

0

1

L

3

0

1

M

2

0

1

N

3

2

1

O

2

0

1

Setelah semua pernyataan dinilai, minta peserta menjumlah poin untuk semua pernyataan. Minta peserta mengacu pada lembar kerja 1. Beritahu kepada mereka bahwa mereka dapat menginterpretasikan nilai-nilai mereka sebagai berikut:

  1. Deskripsi I berlaku bagi orang-orang yang memiliki nilai 23 poin atau lebih
  2. Deskripsi II berlaku bagi orang-orang yang memiliki nilai antara 11 dan 22 poin.
  3. Deskripsi III berlaku bagi orang-orang yang memiliki nilai 10 poin atau kurang.

Deskripsi I

Anda tidak terpaku pada cara berfikir yang biasa. Anda dapat mengembangkan dan melihat gabuangan ide-ide Anda dengan cara yang baru. Anda bersedia melakukan eksperimen, meskipun Anda tidak yakin pekerjaan itu akan dihargai. Karena Anda jarang bergantung kepada orang lain, Anda dapat memberikanbroikan waktu dan tenaga bagi diri Anda sendiri, dan menyendiri untuk kegiatan-kegiatan kreatif. Anda tidak mudah berkecil hati atau tergantung oleh orang lain begitu Anda telah tertarik pada sebuah tugas yang menantang.

Deskripsi II

Anda dapat mengenali dan menghargai ide yang kreatif, meskipun Anda tidak biasa menghasilkan ide-ide sendiri. Anda mungkin terlibat dalam kegiatan-kegiatan kreatif yang melibatkan penggunaan tangan Anda atau melibatkan benda-benda yang dapat Anda lihat atau Anda sentuh.  Anda kadang-kadang memulai proyek-proyek yang kreatif, tetapi Anda mungkin kehilangan kesabaran dan minat ketika proyek menuntut Anda sendirian untuk bekerja pada jangka waktu yang panjang.

Deskripsi III

Anda biasa lebih tertarik dengan urusan-urusan yang praktis dan membumi dibandingkan mengejar mimpi-mimpi. Karena Anda cenderung sangat realistis, Anda mungkin kurang menyadari bahwa ide-ide yang tidak biasa diperlukan juga untuk pemecahan masalah secara kreatif. Karena Anda memilih bekerja dengan orang lain, Anda jarang menyisihkan waktu untuk bekerja sendiri untuk ide-ide Anda. Anda mungkin lebih banyak menghabiskan waktu pada kegiatan-kegiatan yang langsung menghasilkan sesuatu bagi Anda dan yang  mungkin dapat dibagi dengan orang lain.

Gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut untuk mendiskusikan hasil penilaian tersebut.

(1) Apakah Anda terkejut dengan hasil penilaian tersebut? Mengapa?

(2) Apa yang anda sukai tentang deskripsi yang dihasilkan dari penilaian kertas kerja tersebut?

(3) Bagaimana dengan deskripsi yang ingin Anda ubah atau Anda perbaiki?

(4) Dengan cara seperti apa deskripsi tersebut memiliki kesamaan? Dengan cara seperti apa deskripsi tersebut berbeda?

(5) Apa kelebihan yang mungkin dimiliki oleh seseorang dari setiap deskripsi tersebut sebagai seseorang yang berwirausaha? Kurangnya?

(6) Perubahan apa yang akan Anda lakukan terhadap diri Anda setelah melakukan kegiatan 1?

Latihan 2

Kepala sekolah/madrasah diharapkan mampu mengenal naluri  kewirausahaan mereka sebagai bekal untuk menjadi contoh dan sumber belajar siswa-siswanya. Naluri kewirausahaan yang dimiliki Kepala sekolah/madrasah saat ini dapat menggunakan  angket berikut ini.

Isilah angket ini dengan sejujur-jujurnya. Pilih jarang (tidak) atau sering (ya) yang paling sesuai dengan diri Anda.

1     A.     Pekerjaan harus diselesaikan.

B.     Saya senang berteman dengan orang banyak sehingga saya

mendapat masukan tentang pekerjaan saya.

2.     A.     Saya gembira jika tanggung jawab saya bertambah.

B.    Saya akan menetap di suatu tempat mengikuti jalan kehidupan   yang terjadi.

3.     A.     Saya tidak berbuat yang dapat menyebabkan kerugian.

B.    Pemahaman cara mendapat uang adalah langkah pertama berwirausaha.

4.     A.     Saya tidak akan berusaha melakukan apapun, bagaimanapun     baiknya, jika kegagalan akan mengakibatkan saya diolok-olok.

B.     Selain melakukan pekerjaan saya, saya juga akan memikirkan

kesejahteraan orang lain.

5.     A.     Saya akan mengupayakan kemajuan dalam kegiatan wirausaha  apa pun yang saya mulai

B.    Saya hanya akan melakukan tindakan yang akan membuat saya aman.

6.     A.     Orang-orang akan memperolok saya jika saya gagal.

B.     Saya memerlukan nasihat orang lain, meskipun saya percaya pada diri sendiri.

7.     A.     Saya akan menemukan solusi bagi kesulitan yang saya hadapi.

B.     Jika saya gagal dalam usaha baru ini, saya melanjutkan pekerjaan yang lama.

8.     A.     Saya melaksanakan ide baru, jika saya merasa ide tersebut benar.

B.     Saya dapat melakukan lebih baik dari yang saya lakukan saat ini.

9.     A.      Meskipun bekerja, saya akan selalu memperhatikan pentingnya hubungan pribadi.

B.     Apapun yang terjadi, saya mempunyai kesempatan kesempatan          untuk belajar dari pengalaman.

10.   A.     Meskipun saya gagal dalam usaha saya, saya telah belajar sesuatu.

B.     Saya senang memilki kehidupan yang nyaman.

11.   A.     Saya akan berinvestasi dalam undian berhadiah karena suatu saat       nanti keberuntungan memihak saya.

B.     Jika saya gagal dalam pekerjaan saya, saya telah belajar sesuatu.

12.   A.     Saya akan menganggap pegawai saya sebagai teman sama rata dengan teman lainnya.

B.     Jika saya mendapat pekerjaan yang lebih baik, saya akan meninggalkan pekerjaan yang sekarang.

13.   A.     Saya akan berpikir hati-hati sebelum melaksanakan ide baru.

B.     Saya tidak keberatan jika pekerjaan saya sekarang kurang berhasil demi kemajuan teman saya.

14.   A.     Saya dapat mengembangkan kewirausahaan di sekolah/ madrasah  jika ada modal.

B.     Saya ingin dapat membuat keputusan penting sendirian.

15.   A.     Saya tidak akan bertindak tidak peduli bila kebaikan saya dihianati.

B.     Jika sesuatu tidak terwujud sesuai keinginan saya, saya akan mencari alternatif lain.

16.   A.     Saya akan membuat kesalahan.

B.     Saya senang mengobrol.

17.   A.     Saya ingin agar uang saya dapat disimpan di bank dengan aman.

B.     Saya percaya kepada pekerjaan saya saat ini.

18.   A.     Saya ingin mempunyai banyak uang agar dapat hidup nyaman.

B.     Saya ingin mendapat bantuan seseorang dalam membuat keputusan.

19.   A.     Orang pertama-tama mengurus keluarganya dulu.

B.     Saya menikmati pemecahan masalah yang sulit.

20.   A.     Meskipun saya menderita, saya berusaha agar tidak membuat orang tidak enak.

B.    Uang adalah harus untuk mengembangkan usaha.

21.   A.     Saya berharap usaha saya cepat tumbuh sehingga saya tidak mempunyai masalah keuangan.

B.     Saya hati-hati agar tidak disalahkan atas kegagalan saya.

22.   A.     Saya senang dibiarkan bertindak bebas sesuai pikiran saya.

B.     Kebahagian saya adalah memiliki uang banyak untuk masa depan.

23.   A.     Jika saya gagal akibat kesalahan orang lain.

B.     Saya hanya akan melakukan hal-hal yang dapat memuaskan saya.

24.   A.     Sebelum bertindak, saya hati-hati agar tidak merusak nama saya.

B.     Saya ingin seperti orang lain yaitu dapat membeli barang mahal.

25.   A.     Saya ingin rumah tinggal yang nyaman.

B.     Saya belajar dari kesalahan saya.

26.   A.     Sebelum melakukan pekerjaan apa pun, saya memikirkan akibatnya untuk jangka panjang.

B.     Saya ingin agar segala sesuatu dapat terjadi menurut perintah saya.

27.   A.     Uang mendatangkan kenyamanan karena itu tujuan utama saya adalah mendapatkan uang.

B.     Saya senang bekerja sehingga sering berkumpul teman-teman.

28.   A.     Saya tidak takut dikritik orang.

B.     Saya tidak enak dengan diri saya jika saya gagal.

29.   A.     Saya sering mendapatkan kesulitan dengan pekerjaan saat ini sehingga ingin mencari pekerjaan baru.

B.     Sebelum memulai pekerjaan, saya minta nasihat teman dahulu.

30.   A.     Semua pengalaman mendukung saya.

B.     Saya ingin memiliki banyak uang.

31.   A.     Saya senang santai dalam hidup ini tanpa kekhawatiran.

B.     Jika saya gagal, saya ingin mencari apa penyebabnya.

32.   A.     Saya benci jika orang lain turut campur dengan yang saya lakukan.

B.    Saya melakukan apa saja demi uang.

(Anonim 2, 2005).

Petunjuk Jawaban Latihan

No. Abjad point No. Abjad point No. Abjad point

1

A

1

12

A

1

23

A

0

B

2

B

1

B

2

2

A

2

13

A

2

24

A

1

B

1

B

0

B

1

3

A

0

14

A

1

25

A

1

B

1

B

1

B

2

4

A

0

15

A

1

26

A

1

B

1

B

2

B

1

5

A

2

16

A

2

27

A

1

B

1

B

1

B

1

6

A

0

17

A

0

28

A

2

B

2

B

2

B

0

7

A

2

18

A

1

29

A

0

B

0

B

0

B

1

8

A

1

19

A

0

30

A

2

B

2

B

2

B

1

9

A

1

20

A

1

31

A

1

B

2

B

1

B

2

10

A

2

21

A

1

32

A

1

B

1

B

0

B

0

11

A

0

22

A

1

B

2

B

1

Interpretasi:    0 -  25 = bernaluri kewirausahaan pada level kurang.

26 – 36 = bernaluri kewirausahaan pada level sedang

37 – 47 = bernaluri kewirausahaan pada level baik.

48 ke atas= benaluri kewirausahaan pada level sangat baik.

About these ads
Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: