KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

KEPEMIMPINAN PEMBELAJARAN

Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan

Kepala Sekolah

PUSAT PENGEMBANGAN TENAGA KEPENDIDIKAN

BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

2011


SAMBUTAN

KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PENDIDIKAN DAN PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

Dalam rangka pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah yang merupakan amanat Inpres No 1 tahun 2010, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia  Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (Badan PSDMP dan PMP) telah menyusun materi pelatihan untuk penguatan kemampuan kepala sekolah. Pengembangan materi tersebut telah mengacu pada standar kepala sekolah/madrasah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan kepala sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi kepala sekolah.

Materi pelatihan ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi individu kepala sekolah dan lembaga yang terkait dalam penguatan kemampuan kepala sekolah di propinsi dan kabupaten/kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap program penguatan kepala sekolah dapat memperkaya dengan berbagai referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan kepala sekolah yang profesional dan akuntabel.

Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan kepala sekolah sesuai dengan standar kepala sekolah sebagaimana diamanahkan dalam Permendiknas No. 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah dapat diwujudkan sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang cerdas, kreatif, inovatif, berpikir kritis, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan.

Jakarta, Maret 2011

Kepala Badan PSDMP dan PMP

Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd

NIP.196202031987031002

KATA PENGANTAR

 

Materi pelatihan yang telah disusun merupakan bagian dari rencana pelaksanaan program penguatan kepala sekolah, program kedua dari delapan program 100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan kepala sekolah sangat penting mengingat peran strategis kepala sekolah di dalam proses peningkatan mutu pendidikan.

Kepala sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong guru untuk melakukan proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan berpikir kritis, kreatif, inovatif, cakap menyelesaikan masalah, dan bernaluri kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu sistem pendidikan. Materi pelatihan ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi peningkatan kompetensi kepala sekolah sesuai yang diamanahkan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Kami menyadari bahwa materi pelatihan ini masih jauh dari sempurna. Namun kami perlu menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun yang telah berusaha dan berhasil menyiapkan materi pelatihan yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi usaha peningkatan kompetensi kepala sekolah. Berbagai pihak yang terkait dengan penguatan kemampuan kepala sekolah dapat memperkaya dengan materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan kompetensi kepala sekolah sesuai dengan Permendiknas No 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah.

Semoga materi pelatihan ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan kepala sekolah di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Jakarta, Maret 2011

Kepala Pusat Pengembangan

Tenaga Kependidikan

Dr. Abi Sujak

NIP. 19621011 198601 1 001

DAFTAR ISI

SAMBUTAN   ……………………………………………………………………….

i

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………

ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………....……..…….

iii

PENDAHULUAN …………………………………………………………………..

1

Pengantar …………………………………………………………………

1

Kompetensi yang Diharapkan Dimiliki oleh Pembaca …………….

  2

Deskripsi Kegiatan Belajar ……………………………………………

2

Kegunaan Materi Pelatihan …………………………………………..

2

Petunjuk Penggunaan Materi Pelatihan …………………………….

3

Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan ……………………………….

3

KEGIATAN BELAJAR I

Arti, Tujuan, dan Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran……………..

5

Pengantar …………………………………………………………………

5

Materi Pokok ……………………………………………………………..

6

Kasus ………………………………………………………………………

12

Rangkuman………………………………………………………………..

17

KEGIATAN BELAJAR 2

Kompetensi Kepemimpinan Pembelajar…………………………………..

   19

Pengantar …………………………………………………………………

19

Materi Pokok………………………………………………………………

19

Kasus ………………………………………………………………………

29

Rangkuman ………………………………………………………………..

30

KEGIATAN BELAJAR 3

Cara Menerapkan Kepemimpinan Pembelajaran ………………………..

31

Pengantar …………………………………………………………………

31

Materi Pokok………………………………………………………………

31

Kasus………………………………………………………………………..

36

Rangkuman ………………………………………………………………

40

REFLEKSI……………………………………………………………………………

41

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………

42


PENDAHULUAN

  1. Pengantar

Kepemimpinan merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang kepala sekolah. Banyak model kepemimpinan yang dapat dianut dan diterapkan dalam bebagai organisasi/institusi, baik profit maupun nonprofit. Namun, model kepemimpinan yang paling cocok untuk diterapkan di sekolah adalah kepemimpinan pembelajaran. Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa kepala sekolah yang memfokuskan kepemimpinan pembelajaran menghasilkan prestasi belajar siswa yang lebih baik dari pada kepala sekolah yang kurang memfokuskan pada kepemimpinan pembelajaran. Ironisnya, kebanyakan kepala sekolah tidak menerapkan model kepemimpinan pembelajaran.

Kepemimpinan pembelajaran sangat cocok diterapkan di sekolah karena misi utama sekolah adalah mendidik semua siswa dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa yang sukses dalam menghadapi masa depan yang belum diketahui dan yang sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Misi inilah yang kemudian menuntut sekolah sebagai organisasi harus memfokuskan pada pembelajaran, yang meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar. Oleh karena itu, materi pelatihan ini akan membahas secara spesifik tentang kepemimpinan pembelajaran seperti yang disebutkan pada deskripsi kegiatan belajar.

  1. Kompetensi yang Diharapkan Dimiliki oleh Pembaca

Setelah mempelajari materi pelatihan ini, diharapkan para pembaca memiliki kompetensi-kompetensi sebagai berikut.

(1)   Memahami arti dan tujuan kepemimpinan pembelajaran.

(2)   Mengidentifikasi kompetensi kepemimpinan pembelajaran.

(3)   Menerapkan strategi kepemimpinan pembelajaran.

  1. Deskripsi Kegiatan Belajar

Dalam mempelajari materi pelatihan ini, ada tiga kegiatan belajar yang harus dilaksanakan yaitu:

Kegiatan Belajar 1: Arti, tujuan, dan pentingnya kepemimpinan pembelajaran

Kegiatan Belajar 2: Kompetensi kepemimpinan pembelajaran

Kegiatan Belajar 3: Strategi pelaksanaan kepemimpinan pembelajaran

Tiga hal penting yang harus dilakukan sebelum melaksanakan empat kegiatan belajar yang dimaksud, yaitu:

(1)   kuatkan komitmen untuk berkembang;

(2)   yakinkan diri anda bahwa belajar melalui materi pelatihan ini merupakan kebutuhan sekolah/madrasah bukan kegiatan rutin untuk memenuhi tuntutan proyek;

(3)   yakinkan diri anda bahwa hanya dengan belajar, Anda akan menjadi pemimpin yang jauh lebih baik dan dikagumi. Semoga!

  1. Kegunaan Materi Pelatihan

Materi pelatihan ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak berikut.

(1)    Bagi kepala sekolah/madrasah baru dan atau yang belum menguasai kompetensi yang diharapkan, materi pelatihan ini dapat dimanfaatkan sebagai langkah awal pengembangan kompetensi kepemimpinan pembelajaran. Sedangkan bagi mereka yang sudah berpengalaman, materi pelatihan ini dapat digunakan sebagai bahan refleksi sekaligus bahan pengayaan.

(2)    Bagi Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS)/Madarasah, materi pelatihan dapat dijadikan bahan diskusi untuk berbagi pengalaman tersebut.

(3)    Bagi guru yang ingin mengembangkan karirnya sampai menjadi kepala sekolah/madrasah, materi pelatihan ini dapat dijadikan sebagai bahan bacaan untuk menyiapkan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.

  1. Petunjuk Penggunaan Materi Pelatihan

(1)   Cermati kompetensi yang akan dipelajari sebelum menelaah bahan bacaan.

(2)   Laksanakan dengan sungguh-sungguh setiap kegiatan yang dianjurkan pada masing-masing kegiatan belajar.

(3)   Telaahlah secara cermat dan kritis teks atau bahan bacaan.

(4)   Lakukan refleksi terhadap apa yang telah anda kerjakan atau pelajari.

(5)   Bila mengalami kesulitan, jangan segan melakukan diskusi dengan teman sejawat di MKKS/KKKS Madrasah atau menanyakannya kepada kepala sekolah pemandu.

  1. Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan

Materi pelatihan ini dirancang untuk dipelajari oleh kepala sekolah/madrasah dalam pelatihan. Oleh karena itu langkah-langkah yang harus dilakukan dalam mempelajari materi pelatihan ini mencakup aktivitas individual dan kelompok. Aktivitas individual meliputi: (1) membaca materi pelatihan, (2) melakukan latihan/mengerjakan tugas, menyelesaikan masalah/kasus pada setiap kegiatan belajar, (3) membuat rangkuman, dan (4) melakukan refleksi. Sedangkan aktivitas kelompok meliputi: (1) mendiskusikan materi pelatihan, (2) bertukar pengalaman (sharing) dalam melakukan latihan menyelesaikan masalah/kasus, dan (3) membuat rangkuman. Langkah-langkah pembelajaran dapat digambarkan seperti berikut.

Gambar 1: Langkah-langkah Kegiatan Pelatihan


KEGIATAN BELAJAR 1

Arti, Tujuan, dan Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran

Bacalah materi berikut ini  dengan cermat!

  1. Pengantar

Pentingnya kepemimpinan pembelajaran yang kuat agar sekolah menjadi efektif, diulas oleh Hallinger dan Heck (1993). Mereka mereview mengenai beberapa penelitian empirik peran kepemimpinan pembelajaran dalam menghasilkan capaian lulusan yang baik, menyimpulkan bahwa meskipun kepemimpinan pembelajaran tidak secara langsung berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, namun pengaruhnya kepada pencapaian hasil dapat terjadi secara tidak langsung. Kepemimpinan pembelajaran mencakup perilaku-perilaku kepala sekolah dalam merumuskan dan mengkomunikasikan tujuan sekolah, memantau, mendampingi, dan memberikan umpan balik dalam pembelajaran, membangun iklim akademik, dan memfasilitasi terjadinya komunikasi antar staf.

Pengaruh kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terhadap peningkatan hasil belajar siswa sudah tidak diragukan lagi. Sejumlah ahli pendidikan telah melakukan penelitian tentang pengaruh kepemimpinan pembelajaran terhadap peningkatan hasil belajar. Mereka menyimpulkan bahwa:

If our schools are to improve, we must redefine the principal’s role and move instructional leadership to the forefront (Buffie, 1989).

If a school is to be an effective one, it will be because of the instructional leadership of the principal …. (Findley,1992). 

 

Effective principals are expected to be effective instructional leaders …… the principal must be knowledgable about curriculum development, teachers and instructional effectiveness, clinical supervision, staff development, and teacher evaluation (Hanny, 1987).

Dari kutipan-kutipan tersebut di atas dapat disarikan bahwa peningkatan hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan pembelajaran. Artinya, jika hasil belajar siswa ingin dinaikkan, maka kepemimpinan yang menekankan pada pembelajaran harus diterapkan. Untuk lebih jelasnya, berikut dibahas tentang arti, tujuan, pentingnya kepemimpinan pembelajaran, butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran, dan kontribusi kepemimpinan pembelajaran terhadap hasil belajar.

  1. B.    Materi Pokok
    1. 1.  Arti Kepemimpinan Pembelajaran

Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang komponen-komponennya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, asesmen,  penilaian, pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.

  1. 2.  Tujuan Kepemimpinan Pembelajaran

Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensinya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen.

Dengan kata-kata lain, tujuan kepemimpinan pembelajaran adalah untuk memfasilitasi pembelajaran agar siswanya meningkat: prestasi belajarnya, kepuasan belajarnya, motivasi belajarnya, keingintahuannya, kreativitasnya, inovasinya, jiwa kewirausahaannya, dan kesadarannya untuk belajar sepanjang hayat karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni berkembang dengan pesat.

  1. 3.  Pentingnya Kepemimpinan Pembelajaran

Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan di sekolah karena mampu: (1) meningkatkan prestasi belajar siswa secara signifikan; (2) memberikan dorongan dan arahan terhadap warga sekolah untuk meningkatkan prestasi belajar siswanya; (3)  memfokuskan kegiatan-kegiatan warganya untuk menuju pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah; dan (4) membangun komunitas belajar warganya dan bahkan mampu menjadikan sekolahnya sebagai sekolah belajar (learning school).

Sekolah belajar memiliki perilaku-perilaku sebagai berikut: memberdayakan warga sekolah seoptimal mungkin, memfasilitasi warga sekolah untuk belajar terus dan belajar ulang, mendorong kemandirian setiap warga sekolahnya, memberi kewenangan dan tanggungjawab kepada warga sekolahnya, mendorong warga sekolah untuk akuntabilitas terhadap proses dan hasil kerjanya, mendorong teamwork yang (kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah/cepat tanggap terhadap pelanggan utama yaitu siswa), mengajak warga sekolahnya untuk menjadikan sekolahnya berfokus pada layanan siswa, mengajak warga sekolahnya untuk siap dan akrab menghadapi perubahan, mengajak warga sekolahnya untuk berpikir sistem, mengajak warga sekolahnya untuk komitmen terhadap keunggulan mutu, dan mengajak warga sekolahnya untuk melakukan perbaikan secara terus-menerus.

  1. 4.  Butir-butir Penting Kepemimpinan Pembelajaran

Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran tercakup dalam model-model berikut ini.

Model Hallinger dan Murphy (1985)

Model Hallinger dan Murphy terdiri empat dimensi dan 11 deskriptor yang dapat diringkas seperti tabel berikut sebagai berikut.

Tabel 1. Dimensi dan Deskriptor

Dimensi Deskriptor
Merumuskan misi Merumuskan tujuan sekolah
Mengkomunikasikan tujuan sekolah
Mengelola Program pembelajaran Mensupervisi dan mengevaluasi pembelajaran
Mengkoordinasikan kurikulum
Memonitor kemajuan pembelajaran siswa
Membangun iklim sekolah Mengkontrol alokasi waktu pembelajaran
Mendorong pengembangan profesi
Memfokuskan pencapaian visi
Menyediakan insentif bagi guru
Menetapkan standar akademi
Memberikan insentif bagi siswa

Model Murphy (1990)

Murphy mengembangkan empat dimensi kepemimpinan yang selanjutnya diurai menjadi 14 peran atau perilaku. Kerangka kerja (model) tersebut diringkas sebagai berikut.

 

Tabel 2. Dimensi dan Peran atau Perilaku

Dimensi Peran atau Perilaku
Mengembangkan misi dan tujuan Merumuskan tujuan sekolah
Mengkomunikasikan tujuan sekolah
Mengembangkan fungsi produksi pendidikan Mendorong pembelajaran bermutu
Mensupervisi pembelajaran
Mengontrol alokasi waktu pembelajaran
Mengkoordinasikan kurikulum
Memonitor kemajuan pembelajaran siswa
Mendorong iklim pembelajaran akademis Membangun standard an harapan positif
Memfokuskan pencapaian visi
Menyediakan insentif bagi guru dan siswa
Mendorong pengembangan profesi
Mengembangkan lingkungan kerja yang mendukung Menciptakan lingkungan kerja yang tertib dan aman
Memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara bermakna
Mengembangkan kolaborasi dan dan ikatan kohesif diantara staf
Menjamin siumber-sumber dari luar mendukung pencapaian tujuan sekolah
Membangun ikatan antara sekolah dengan keluarga siswa

Model Weber (1996)

Weber mengidentifikasi lima domain utama kepemimpinan pembelajaran tanpa menguraikannya lagi secara lebih detil. Ke lima domain utama tadi adalah: (1) merumuskan misi sekolah, (2) mengelola kurikulum dan pembelajaran, (3) mendorong terciptanya iklim belajar yang positif, (4) mengobservasi dan memperbaiki pembelajaran, dan (5) melakukan penilaian program pembelajaran.

 

Model Jones

Jones membagi kepemimpinan pembelajaran atas empat kuadran (A, B, C, dan D) seperti gambar berikut ini.

Gambar 1. Kuadran Kepemimpinan Pembelajaran

 

Model Dit. Tendik

Dit. Tendik (2009) memberikan 12 kompetensi pemimpin pembelajaran yaitu: pemimpin pembelajaran harus memiliki 12 kompetensi sebagai berikut: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh.

Tidak ada model yang sempurna. Setiap model memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Model yang terbaik untuk diterapkan adalah model yang cocok dengan kebutuhan sekolah.

  1. 5.  Kontribusi Kepemimpinan Pembelajaran terhadap Hasil Belajar

Pengaruh kepemimpinan pembelajaran tidak langsung bekerja pada proses pembelajaran di kelas, namun dengan kepemimpinan pembelajaran akan terbangui iklim akademik yang positif, komunikasi yang baik antar staf, perumusan tuntutan akademik yang tinggi, tekad untuk mencapai tujuan sekolah. Hal semacam ini sudah dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Alig-Mielcarek (2003).

  1. C.    Kasus

Untuk semua kepala sekolah

Diskusikan kelemahan dan kelebihan masing-masing model kepemimpinan pembelajaran selama 10 menit! Anda pilih model yang mana?. Buat powerpointnya. Sajikan di depan kelompok lain untuk mendapatkan komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan.

Diskusikan kasus berikut ini selama 10 menit! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lain untuk mendapatkan komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan!

 

Kasus untuk Kepala SD

Saya adalah salah satu orang tua murid di SDN XX di Kota Mayasari. Saya ingin menanyakan banyaknya pungutan uang di sekolah anak saya tersebut. Salah satu pungutan yang menjadi keluhan saya adalah pungutan untuk biaya les. Terus terang saja, sebenarnya saya tidak keberatan jika anak saya harus les karena dengan les tersebut diharapkan ilmu pengetahuan anak saya akan bertambah. Les itu, menurut saya dapat memperdalam ilmu pengetahuan yang tidak cukup waktunya jika diberikan  jam pelajaran biasa di kelas. Tetapi, jika les itu hanya membuang-buang waktu dan tidak penting untuk apa diadakan les? Diam-diam tanpa pengetahuan guru les, saya mengamati guru itu. Kesimpulannya adalah ternyata guru tersebut sengaja mengajar tidak jelas dan tidak memaksimalkan jadwal pelajaran di sekolah. Kesengajaan ini hanyalah akal-akalan guru agar perlu ada pelajaran tambahan melalui les. Les dipakai guru untuk menambah penghasilan. Guru mewajibkan semua siswa ikut les dan bayar. Bagi siswa yang mengikuti les disuruh guru itu maju ke depan untuk mengerjakan soal-soal yang hanya dapat dikerjakan oleh yang ikut les. Dalam rapat pertemuan orang tua/wali murid, beberapa orang tua/wali murid mengeluh. Keluhan mereka pada umumnya sama, hanya cara menyampaikannya saja yang berbeda. Intinya adalah  para orang tua/wali murid mengeluh. Keluhan mereka adalah walaupun anaknya diwajibkan ikut les, buktinya kemampuan anak-anaknya tidak bertambah bahkan merosot.

Kasus untuk Kepala SMP

 

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit. Buat powerpointnya. Sajikan di depan kelompok lain untuk mendapatkan komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan.

1. Menurut anda, Dini melakukan fungsi manager atau instruktional leadership? Mengapa?

2.  Apa yang Dini lakukan untuk meningkatkan kualitas sekolah?

Ibu Dini (nama samaran) memulai profesi pendidik sebagai guru ilmu pengetahuan alam di sebuah SMP. Setelah mengajar selama beberapa tahun, Dini dipercaya menjadi seorang kepala sekolah. Dini juga aktif dalam KKG dan juga kuliah di sebuah universitas dalam pasca sarjana pendidikan pada malam hari untuk meningkatkan kompentensinya sebagai pendidik.

Berawal dari seorang guru yang kompeten, maka Dini mendesain posisi kepala sekolah yang diembannya berdasarkan kekuatan yang dimiliki. Keahlian dalam bidang instruksional dan pengetahuan dalam bidang kurikulum adalah pondasi yang kuat dalam melakukan penerapan instructional leadership dalam sekolahnya.

Rencana dalam penerapan konsep instruksional leadership melibatkan diri sendiri terlebih dahulu. Dimana dalam perencanaan Dini melakukan penilaian terhadap kondisi sekolah yang dihadapi pada saat itu. Perencanaan dilakukan secara detail berdasarkan format dan ceklist yang sudah ada. Sehingga dapat dilihat bahwa dinding kantor Dini seperti pusat strategi  komando  yang penuh dengan data pencapaian murid dan data performa guru dan grafik kurikulum. Sebagai patokan dalam penerapan instructional leadership.

Beliau melakukan observasi kelas secara reguler untuk mengetahui proses belajar mengajar, sehingga dapat mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan setiap kelas. Berkolaborasi secara regular dengan wakil kepala sekolah dan koordinator guru untuk memonitor kebutuhan murid dan menentukan strategi dan bahan ajar yang tepat dalam rangka mengoptimalkan potensi guru dan murid. Beliau berdiskusi bersama murid- murid dan guru tentang tujuan belajar. Tujuan yang hendak dicapai adalah setiap murid dan guru mendapatkan pengalaman pendidikan yang positif dan optimal di sekolah.

Kasus Kepala SMA

SMA Negeri I Cinganjuk (bukan nama sebenarnya) berdiri sejak 1961, kinerja akademik dan nonakademik sekolah tersebut menunjukkan prestasi menonjol, tiga tahun terakhir ini sekolah memenangkan kompetisi matematik, biologi, bahasa inggris, debat, menulis, basket dan renang di tingkat kabupaten dan provinsi. Hal ini menjadikan sekolah tersebut menjadi sekolah yang favorit di daerahnya, animo masyarakat sangat tinggi, sekarang mempunyai jumlah siswa 996, jumlah guru 63 orang.

Visi sekolah tersebut dirumuskan dalam bentuk mnemonic, yaitu menjadi “CHAMPIONS” dengan nasionalisme, kesadaran sosial tinggi, mengembangkan kecerdasan majemuk, dan mengembangkan teknologi tinggi. Sedangkan misinya dijabarkan dari CHAMPIONS yang berarti

Committed to be center of excellence

Harmonizing nationalism with global network

Attitude and behavior reflecting religious morality

Multiple-intelligence integrated in competence-based curriculum

Professional and accountable school based management

Innovative learning process using ICT

Optimizing the roles of stakeholders for school progress

Never-ending effort to get continuous improvement

Social cultural awareness and community service

Pak Asep (nama samaran) masih belum puas dengan pencapaian tersebut. Beliau merasa berat untuk mencapai visi misi yang sudah ditetapkan. Beliau beranggapan bahwa tidak punya komitmen kemampuan yang tinggi untuk mencapainya.

Kasus untuk Kepala SMK

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit. Buat powerpointnya. Sajikan di depan kelompok lain untuk mendapatkan komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan.

  1. Tindakan kepemimpinan kepala sekolah apa sajakah yang dilakukan oleh Pak Asep untuk meningkatkan kinerja sekolahnya?
  2. Tindakan-tindakan kepemimpinan pembelajaran apakah yang Anda sarankan kepada kepala sekolah agar semua staf mendukung usaha peningkatan sekolah?

SMK Negeri I Mayapada (bukan nama sebenarnya) berdiri sejak 1965, memperoleh penghargaan yang tinggi dari pemerintah provinsi dan kabupaten, orangtua siswa, dan perusahaan lapangan kerja karena prestanya baik akademik maupun dan nonakademik. Jumlah siswa 1026, jumlah guru 64 orang.

Sekolah mempunyai visi “menghasilkan lulusan yang mempunyai kompetensi tinggi, professional dan kompetitif di lapangan kerja era global. Fitur unik sekolah ini adalah tersedianya ruang belajar self-akses, dan mini-market yang melayani masyarakat umum.

Pak Darma (nama samaran) sudah tiga tahun menjadi kepala sekolah tersebut setelah sebelum bekerja di perusahaan swasta. Akhir-akhir ini beliau menghawatirkan perkembangan peluang kerja yang makin berkurang, dan menganggap bahwa peluang berwirausaha merupakan peluang yang menjanjikan bagi lulusannya. Beberapa guru sudah diajak membicarakan peluang tersebut, sebagian kecil mendukung ide tersebut, sedangkan sebagian lain skeptic karena memerlukan upaya yang berat.

  1. Rangkuman

(1) Kepemimpinan pembelajaran adalah kepemimpinan yang memfokuskan/menekankan pada pembelajaran yang unsur-unsurnya meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, penilaian hasil belajar, penilaian serta pengembangan guru, layanan prima dalam pembelajaran, dan pembangunan komunitas belajar di sekolah.

(2) Tujuan utama kepemimpinan pembelajaran adalah memberikan layanan prima kepada semua siswa agar mereka mampu mengembangkan potensinya untuk menghadapi masa depan yang belum diketahui dan sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen.

(3) Kepemimpinan pembelajaran sangat penting untuk diterapkan disekolah karena kepemimpinan pembelajaran berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan prestasi belajar siswa.

(4) Butir-butir penting kepemimpinan pembelajaran menyarankan bahwa kepemimpinan pembelajaran akan berjalan dengan baik apabila didukung oleh: (a) figur (kepala sekolah) yang mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sebagai pemimpin pembelajaran, (b) kultur pembelajaran yang dikembangkan melalui pembangunan komunitas belajar di sekolah, dan (c) sistem (struktur) yang utuh dan benar.

(5) Perilaku kepala sekolah (pemimpin pembelajaran), guru, dan karyawan berkontribusi sangat signifikan terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran di sekolah.

(6) Siapapun yang ingin menjadi pemimpin pembelajaran harus memiliki 12 kompetensi sebagai berikut: (1) mengartikulasikan pentingnya visi, misi, dan tujuan sekolah yang menekankan pada pembelajaran, (2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum, (3) membimbing pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta pengelolaan kelas, (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya, (5) membangun komunitas pembelajaran, (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional, (7) melayani kegiatan siswa, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus, (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif, (10) memotivasi, mempengaruhi, dan mendukung prakarsa, kreativitas, inovasi, dan inisiasi pengembangan pembelajaran, (11) membangun teamwork yang kompak, dan (12) menginspirasi dan memberi contoh.


KEGIATAN BELAJAR 2

Kompetensi Kepemimpinan Pembelajaran

Bacalah materi berikut ini  dengan cermat!

  1. Pengantar

Beberapa konsep kepemimpinan pembelajaran deskriptif sudah diuraikan dalam kegiatan pembelajaran 1. Dalam kegiatan pembelajaran 2 akan dibahas kepemimpinan pembelajaran preskriptif (konsep kepemimpinan pembelajaran operasional).

  1. B.     Materi Pokok

Tujuh langkah kepemimpinan pembelajaran efektif McEwan

McEwan (2002) mengembangkan konsep kepemimpinan pembelajaran yang lebih operasional dengan tujuh langkah kepemimpinan pembelajaran lengkap dengan indikatornya seperti berikut ini.

  1. Menetapkan tujuan pembelajaran dengan jelas

(a)  Melibatkan guru-guru dalam mengebangkan dan menerapkan tujuan dan sasaran pembelajaran sekolah.

(b) Mengacu kurikulum yang telah ditetapkan oleh pemerintah/system pendidikan dalam mengembangkan program pembelajaran.

(c)  Memastikan aktivitas sekolah dan kelas konsisten dengan tujuan pembelajaran.

(d) Mengevaluasi kemajuan  pencapaian  tujuan pembelajaran

  1. Menjadi Nara sumber bagi staf

(a)  Bekerjasama dengan guru untuk untuk memperbaiki program pembelajaran di dalam kelas sesuai dengan kebutuhan siswa

(b) Membuat program pengembangan pembelajaran yang didasarkan atas hasil penelitian dan praktik yang baik

(c)  Menerapkan prosedur formatif yang baik dalam mengevaluasi program pembelajaran

  1. Menciptakan Budaya dan iklim sekolah yang kondusif bagi pembelajaran

(a)  Menciptakan kelas-kelas inklusif yang memberi kesan bahwa di dalamnya semua siswa boleh belajar

(b)  Menyediakan waktu yang lebih panjang untuk belajar (dalam kelas tersebut) bagi siswa-siswa yang membutuhkannya

(c)   Mendorong agar guru berperilaku positif dalam kelas sehingga membuat iklim pembelajaran baik dan tertib dalam kelas

(d)  Menyampaikan pesan-pesan kepada siswa dengan berbagai cara bahwa mereka bisa sukses

(e)  Membuat kebijakan yang berkaitan dengan kemajuan belajar siswa (pekerjaan rumah, penilaian, pemantauan kemajuan belajar, remediasi, laporan hasil belajar, kenaikan/tinggal)

Pertama, Menetapkan sasaran prestasi siswa yang akan dikomunikasikan secara langsung kepada siswa, guru dan orang tua.

Kedua, Menetapkan aturan yang jelas mengenai waktu penggunaan kelas untuk pembelajaran dan monitor waktu efektif penggunaannya.

Ketiga, Menetapkan, laksanakan, dan evaluasi prosedur dan aturan untuk menangani dan menegakkan masalah-masalah disiplin bersama dengan guru dan siswa (sebagaimana  mestinya).

  1. Mengkomunikasikan visi dan misi sekolah ke staf

(a)    Melakukan komunikasi dua arah secara sistimatis dengan staff tentang tujuan dan sasaran lembaga (sekolah)

(b)   Menetapkan, mendukung, dan melaksanakan aktivitas yang mengkomunikasikan kepada siswa tentang nilai dan arti belajar

(c)    Mengembangkan dan gunakan saluran-saluran komunikasi dengan orang tua untuk menyampaikan tujuan-tujuan sekolah yang telah ditetapkan

  1. Mengkondisikan staf untuk mencapai cita-cita profesional tinggi.

(a)  Melibatkan diri Anda mengajar secara langsung di kelas

(b) Membantu guru-guru dalam mengupayakan dan mencapai keinginan profesionalnya yang brtkaitan dengan pembelajaran sekolah dan pantau apakah keinginannya itu terwujud

(c)  Melakukan observasi terhadap semua kelas secara teratur, baik secara informal atau formal

(d) Melibatkan diri Anda dalam persiapan observasi kelas

(e)  Melibatkan diri Anda dalam rapat-rapat yang membahas hasil observasi terutama yang menyangkut perbaikan pembelajarani.

(f)   Melakukan evaluasi yang mendalam, bertanggungjawab, mengarahkan,dan memberi rekomendasi bagi pengembangan pribadi dan profesi sesuai dengan kebutuhan individu

  1. Mengembangkan kemampuan profesional guru

(a)  Membuat jadwal, rencana, atau fasilitasi berbagai rapat (perencanaan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, atau pelatihan dalam jabatan) guru yang membicarakan isu-isu pembelajaran.

(b) Memberi kesempatan guru untuk mengikuti pelatihan tentang kolaborasi, membuat keputusan bersama, coaching, mentoring, pengembangan kurikulum, dan presentasi

(c)  Memberi motivasi dan suberdaya pada guru untuk berpartisipasi dalam aktivitas pengembangan profesional

  1. Bersikap positif terhadap siswa, staf, dan orang tua.

(a)  Melayani siswa dan berkomunikasilah dengan mereka mengenai berbagai aspek kehidupan sekolah mereka

(b) Berkomunikasi dengan dengan semua staff dilakukan secara terbuka dengan menghormati perbedaan pendapat yang ada

(c)  Menunjukan perhatian terhadap masalah-masalah siswa, guru, dan staf dan libatkan diri dalam pemecahan masalah mereka seperlunya

(d) Menunjukkan kemampuan hubungan interpersonal dengan semua pihak

(e)  Selalu menjaga moral yang baik

(f)    Selalu tanggap terhadap apa yang menjadi perhatian staf, siswa, dan orang tua

(g) Mengakui/memuji keberhasilan/kemampuan orang lain

Berikut disampaikan standar kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran yang dikembangkan oleh para akademisi dan praktisi kepemimpinan pembelajaran yang tergabung dalam Komisi Redesain Kepemimpinan Pembelajaran Kepala Sekolah di Tennesee, USA pada tahun 2007 yang diketuai oleh Mary Jo.

Standar A: Peningkatan secara berkelanjutan

Melaksanakan pendekatan yang sistematik dan koheren untuk menuju peningkatan secara berkelanjutan dalam prestasi akademik seluruh siswa.

Indikator:

(1)   melibatkan pemangku kepentingan pendidikan dalam mengembangkan visi, misi dan tujuan sekolah yang menekankan pada kegiatan pembelajaran bagi seluruh siswa dan konsisten dengan apa yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten/kota,

(2)   memfasilitasi pelaksanaan strategi yang jelas untuk mencapai visi, misi, dan tujuan yang menekankan pada kegiatan pembelajaran bagi seluruh siswa dan mengedepankan  layanan pembelajaran siswa,

(3)   menciptakan struktur organisasi yang kondusif untuk mendukung pencapaian visi, misi dan tujuan sekolah yang menekankan pada kegiatan pembelajaran bagi seluruh siswa,

(4)   memfasilitasi pengembangan, implementasi, evaluasi, dan revisi data yang menginformasikan rencana peningkatan sekolah secara luas untuk kepentingan peningkatan sekolah secara berkelanjutan,

(5)   mengembangkan kerjasama antara kepala sekolah, guru, orangtua siswa, dan masyarakat sekitar dalam rangka peningkatan secara berkelanjutan,

(6)   mengkomunikasikan dan menyelenggarakan sekolah berdasarkan keyakinan yang kuat bahwa seluruh siswa dapat mencapai kesuksesan akademik, dan

(7)   menggunakan data untuk merencanakan pengembangan sekolah secara berkelanjutan.

Standar B: Kultur Pembelajaran

Menciptakan kultur pembelajaran yang progresif/kondusif di sekolahnya agar hasil belajar siswa dapat ditingkatkan setinggi-tingginya.

Indikator:

(1)     mengembangkan kultur sekolah secara berkelanjutan berdasarkan pada etika, perbedaan, persamaan, dan nilai solidaritas,

(2)     mendampingi, melatih, dan memimpin dalam pengembangan kultur sekolah agar kondusif untuk belajar siswa,

(3)     mengembangkan dan memelihara lingkungan yang disiplin belajar dengan aman, tertib, tenteram, dan nyaman,

(4)     memimpin seluruh staf (guru dan karyawan) dan siswa dalam mengembang-kan disiplin diri dan setia dalam menjalankan tugas dan fungsinya,

(5)     memimpin dan memelihara kultur sekolah yang dapat memaksimalkan waktu untuk belajar,

(6)     mengembangkan kepemimpinan kelompok, yang dirancang untuk tanggung jawab dan kepemilikan bersama untuk mencapai misi sekolah,

(7)     memimpin warga sekolah dalam membangun hubungan erat antar warganya agar menghasilkan lingkungan belajar yang produktif,

(8)     mendorong dan memimpin perubahan yang menantang berdasarkan hasil penelitian,

(9)     membangun dan memelihara hubungan kekeluargaan yang kuat dan mendukung,

(10)  mengenali dan merayakan keberhasilan sekolah dan mencegah kegagalan, dan

(11)  menjalin tali komunikasi yang kuat dengan guru, orangtua, siswa dan pemangku kepentingan.

Standar C: Kepemimpinan Pembelajaran dan Penilaian Hasil Belajar (Asesmen)

Memfasilitasi peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya berdasarkan hasil evaluasi dan dilakukan secara terus menerus dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa seoptimal mungkin.

Indikator:

(1)   memimpin proses penilaian siswa secara sistematis dan evaluasi program yang menggunakan data kualitatif dan kuantitatif,

(2)   memimpin komunitas belajar profesional dalam menganalisis dan meningkatkan mutu kurikulum dan mutu pembelajaran,

(3)   menjamin aksesibilitas terhadap kurikulum dan dukungan yang diperlukan oleh siswa untuk mencapai hasil maksimum yang diharapkan,

(4)   memiliki keterampilan hitungan sederhana yang terkait dengan penilaian hasil belajar (asesmen) dalam memfasilitasi peningkatan mutu pembelajaran terutama guru, dan

(5)   menggunakan praktik-praktik yang baik (best practice) berdasarkan hasil penelitian dalam mengembangkan, merencanakan, dan melaksanakan kurikulum, pembelajaran, dan penilaian hasil belajar.

Standar D: Pengembangan Profesionalisme Guru secara Terus Menerus

Melakukan pengembangan profesionalisme warga sekolahnya terutama guru yang dilakukan secara terus-menerus dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa seoptimal mungkin.

Indikator:

(1)   menyelia dan mengevaluasi secara sistematis mata pelajaran dan guru,

(2)   mendorong, memfasilitasi, dan mengevaluasi pengembangan profesionalisme guru,

(3)   mengembangkan model pembelajaran yang berkesinambungan dan melibatkan diri dalam pengembangan profesionalisme guru,

(4)   memberikan kesempatan kepemimpinan kepada komunitas belajar profesional dan mendorong serta memfasilitasi terciptanya kepemimpinan aspiratif,

(5)   bekerja bersama-sama dengan warga sekolah untuk merencanakan dan melaksanakan pengembangan kualitas profesional yang tinggi dan yang dievaluasi dengan dampak belajar siswa, dan

(6)   menyediakan sumberdaya yang diperlukan oleh guru dan karyawan sekolah agar mereka dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan berhasil dengan sukses.

Standar E: Manajemen Sekolah

Memfasilitasi warga sekolah (guru, siswa, karyawan) agar menjadi pebelajar yang baik dan mengembangkan pembelajaran yang efektif melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar yang tersedia dan yang perlu disediakan jika belum ada.

Indikator:

(1)   mengembangkan seperangkat standar prosedur operasi (SOP) dan prosedur standar pekerjaan rutin yang dipahami dan diikuti oleh semua guru dan karyawan sekolah,

(2)   memfokuskan kegiatan sehari-hari sekolah yang diarahkan pada pencapaian prestasi akademik seluruh siswa,

(3)   mengalokasikan sumberdaya pendidikan (guru, karyawan, peralatan, perlengkapan, bahan, dan uang) dalam rangka untuk mencapai visi, misi, dan tujuan sekolah yang telah disepakati,

(4)   menyelenggarakan proses pendidikan yang efisien dan menggunakan anggaran pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan melibatkan warga sekolah secara efektif berdasarkan kemampuan, relevansi, dan batas-batas yurisdiksi yang berlaku,

(5)   menggalang sumberdaya-sumberdaya yang tersedia di masyarakat untuk mendukung pencapaian visi, misi, dan tujuan sekolah,

(6)   mengidentifikasi permasalahan potensial dan strategis dan menanggapinya dengan perencanaan yang proaktif, dan

(7)   melaksanakan program pengembangan guru dan karyawan serta pengembangan pembelajaran berdasarkan aturan main yang menjamin kesetaraan, keadilan, etika, dan integritas.

Standar F: Etika

Memfasilitasi peningkatan secara berkelanjutan dalam meningkatkan keberhasilan belajar siswa melalui proses pembelajaran yang sesuai dengan standar etika paling tinggi dan mendorong pendampingan berupa tindakan politis apabila diperlukan.

Indikator:

(1)   melaksanakan pertanggungjawaban secara profesional dengan menjunjung tinggi asas integritas dan keadilan,

(2)   menjadi contoh dan memberikan dukungan profesional dalam menerapkan kode etik profesional dan nilai-nilai yang menjadi acuannya,

(3)   membuat keputusan dalam konteks etika dan menghormati harga diri semua pihak,

(4)   mendampingi warga sekolah (jika diperlukan) ketika terjadi perubahan- perubahan kebijakan pendidikan, sosial, atau politik dalam rangka untuk meningkatkan hasil belajar siswa,

(5)   membuat keputusan yang mendukung peningkatan mutu pembelajaran siswa dan yang sejalan dengan visi, misi, dan tujuan sekolah,

(6)   mempertimbangkan aspek yuridis, moral, dan etika ketika membuat keputusan, dan

(7)   bertindak dengan tidak menyalahi peraturan perundang-undangan, standar, kriteria, dan prosedur yang berlaku beserta peraturan-peraturan pelaksanaannya.

Standar G: Perbedaan

Memfasilitasi toleransi terhadap perbedaan latar belakang siswa, baik dari suku, agama, ras, jenis kelamin, dan asal usul.

Indikator:

(1)   Menghargai perbedaan latar belakang setiap siswa dan berkomitmen tinggi untuk meningkatkan prestasi belajarnya berdasarkan atas perbedaan kebutuhan setiap siswa, yang dilaksanakan melalui berbagai upaya, baik secara personal, sosial, ekonomi, yuridis, dan/atau kultural dan yang disampaikan secara umum baik di kelas, sekolah, maupun di masyarakat setempat.

(2)   Merekrut, menyeleksi, dan mengangkat guru dan karyawan yang mampu melayani kebutuhan siswa atas dasar kebinekaan/perbedaan individu,

(3)   memahami dan menanggapi secara efektif terhadap keanekaragaman budaya dan etnik siswa melalui kebersamaan  antara sekolah dan masyarakat,

(4)   berinteraksi secara efektif terhadap perbedaan individu dan kelompok dengan menggunakan kecakapan komunikasi interpersonal yang variatif sesuai dengan situasi yang dihadapi,

(5)   mengenal dan mengidentifikasi perbedaan-perbedaan latar belakang siswa termasuk kepribadian dan kemampuannya sebagai dasar untuk pembuatan keputusan, terutama yang bersifat akademis, dan

(6)   membangun komunitas kekeluargaan yang mencakup guru, karyawan, dan orangtua siswa dalam rangka untuk mempererat pergaulan dan meningkatkan mutu pendidikan anak-anaknya.

  1. Kasus

Kasus untuk semua kepala sekolah

Diskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut selama 10 menit! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainnya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan balik.

(1)     Menurut pengalaman Anda sebagai kepala sekolah, apakah konsep-konsep kepemimpinan pembelajaran: 7 standar kepemimpinan pembelajaran menurut Mary Jo, dan 7 langkah kepemimpinan efektif McEwan; dapat diterapkan di sekolah anda?

(2)     Konsep kepemimpinan pembelajaran 12 kompetensi pemimpin pembelajaran yang dikembangkan oleh Tendik tahun 2009, masih sangat deskriptif. Agar konsepnya lebih operasional, kita dapat merumuskan indicator dari masing-masing kompetensi pemimpin tersebut. Rumuskan indikator-indikator tersebut dengan mempertimbangkan indicator-indikator tindakan sebagaimana dirumuskan dalam 7 standar kepemimpinan pembelajaran menurut McEwan dan dan 7 langkah kepemimpinan efektif menurut Mary Jo.

  1. Rangkuman

Kepala sekolah yang efektif harus melaksanakan sejumlah standar yang telah disampaikan sebelumnya. Selain itu, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus juga mampu membangun kebersamaan warga sekolahnya dan meyakinkan mereka bahwa kebersamaan inilah yang akan membawa keberhasilan sekolah, yaitu mencapai hasil belajar yang diharapkan. Kepala  sekolah yang efektif juga mampu meyakinkan warga sekolahnya bahwa program-program, kegiatan-kegiatan, aturan main, dsb. yang difokuskan pada siswa dan pembelajaran akan mampu mengangkat hasil belajar siswa, baik akademik maupun non akademik

KEGIATAN BELAJAR 3

Penerapan  Kepemimpinan Pembelajaran

Bacalah materi berikut ini  dengan cermat!

  1. Pengantar

Dalam kegiatan pembelajaran ke 3 ini akan disampaikan cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah.  Cara-cara berikut merupakan kiat (tip) yang luwes diikuti, dalam arti tergantung dari kondisi kepemimpinan pembelajaran sekolah masing-masing. Cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah merupakan integrasi antara Tenessee State Board of Education dan 12 kompetensi kepemimpinan pemebelajaran menurut Direktorat Tenaga Kependidikan.

  1. Materi Pokok

Secara umum, cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah dapat dipilahkan menjadi 15 kiat sebagai berikut.

(1)   Merumuskan dan mengartikualasi tujuan pembelajaran

Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus  memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran yang akan dicapai oleh masing-masing mata pelajaran dan menyusun standar pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan menggunakan standar kompetensi lulusan dan standar isi. Setelah perumusan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran selesai, dilakukan sosialisasi kepada para siswa, karyawan, dan orang tua siswa tentang kedua hal tersebut dan juga upaya-upaya kolaboratif yang perlu ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran.

(2)   Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum

Kepala sekolah harus memfasilitasi guru dalam dalam bentuk kerja kelompok untuk menyusun dan mengembangkan kurikulum mata pelajaran dengan mengacu pada pedoman pengembangan kurikulum yang berlaku.

(3)   Membimbing pengembangan dan perbaikan proses pembelajaran

Kepala sekolah memfasilitasi guru membentuk kelompok kerja untuk melakukan pembaruan pembelajaran yang lebih kreatif, inovatif, efektif, menyenangkan, berpusat pada siswa, dan kontekstual terhadap kondisi peserta didik, karakteristik mata pelajaran, dan lingkungannya. Hasil kelompok kerja guru ini adalah model-model proses belajar mengajar yang lebih baik dan yang dilaksanakan secara konsisten di kelas masing-masing.

(4)   Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangkannya

Kepala sekolah secara reguler melakukan evaluasi kinerja guru untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Hasil evaluasi kinerja dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu di atas standar, sesuai standar, atau di bawah standar. Bagi yang hasil evaluasi kinerjanya di atas standar perlu diberi pujian dan diberi dukungan untuk mengembangkan dirinya. Bagi yang hasil evaluasi kinerjanya sudah sesuai dengan standar dan yang masih di bawah standar, perlu diciptakan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka dan didukung oleh kepala sekolah dan dinas dalam pembiayaannya.

(5)   Membangun komunitas pembelajaran

Kepala sekolah tak jemu-jemunya mengajak warganya untuk menjadi pebelajar yang selalu belajar terus karena ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, dan regulasi mengalami perubahan yang sangat turbulen. Di samping itu, sekolahnyapun harus pro perubahan sehingga kepala sekolah berkewajiban memfasilitasi warganya untuk melakukan perubahan-perubahan terhadap sekolahnya agar menjadi sekolah pembelajar (learning school).

(6)   Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional

Kepala sekolah dalam menerapkan kepemimpinannya berdasarkan pada visi dan misi yang telah dirumuskan serta menyesuaikan dengan kondisi nyata yang ada di sekolah, dengan member inspirasi dan mendorong terjadinya pembelajaran yang futuristik dan kontekstual.

(7)   Melayani siswa dengan prima.

Kepala sekolah pembelajaran harus memahami dan menyadari sepenuhnya bahwa melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orangtua siswa merupakan prioritas karena urusan utamanya adalah pembelajaran yang melibatkan ketiga unsur tersebut. Jadi, kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran lebih menekankan pada pelayanan prima dari pada menggunakan kekuasaannya.

(8)   Melakukan perbaikan secara terus menerus

Kepala sekolah harus memfasilitasi dan melaksanakan proses perbaikan terhadap masalah dan kendala yang dihadapi disekolah dengan konsep pengembangan berkelanjutan melalui siklus perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan revisi terhadap perencanaan berikutnya, dan siklusnya diulang secara terus menerus.

(9)   Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif

Kepala sekolah menerapkan kepemimpinan pembelajaran  yang utama, luwes dalam pengendalian, komitmen yang kuat dalam pencapaian visi dan misi sekolah, memberi penghargaan kepada warga sekolah, memecahkan masalah secara kolaboratif, melakukan pendelegasian tugas yang fokus pada proses pembelajaran dan hasil belajar siswa.

(10)             Membangun warga sekolah agar pro perubahan

Kepala sekolah memfasilitasi  seluruh warga sekolah untuk dapat melakukan perubahan dengan melakukan pengarahan, bimbingan, memotivasi dan mempengaruhi timbulnya prakarasa baru, kreativitas, inovasi, dan inisiasi dalam pengembangan pembelajaran .

(11)             Membangun teamwork yang kompak

Kegiatan pembelajaran melibatkan guru, siswa, dan orangtua siswa dan kalau tidak dikoordinasikan dengan baik, tidak akan terjadi kekuatan yang tangguh untuk mensukseskan hasil belajar siswa. Koordinasi mengandung dua hal yaitu integrasi permasalahan yang dapat ditampung dalam perencanaan pembelajaran, dan yang kedua adalah sinkronisasi ketatalaksanaan yang dilakukan sewaktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

(12)             Memberi contoh dan menginspirasi warga sekolah

Kepala sekolah sebagai teladan bagi seluruh warga sekolah dalam berbagai hal; komitmen terhadap visi dan misi sekolah, disiplin, semangat kerja yang tinggi, yang dapat menginspirasi terjadinya pengembangan dan kemajuan sekolah.

(13)             Menciptakan kultur bagi pembelajaran yang progresif/kondusif

Kepala sekolah menanamkan nilai-nilai, keyakinan, dan norma-norma yang kondusif bagi pengembangan pembelajaran peserta didik. Untuk itu, kepala sekolah perlu menciptakan suasana/iklim akademik yang dibangun melalui kebijakan-kebijakan dan program-program sekolah untuk memajukan siswa berdasarkan hasil belajar siswa, misalnya pengayaan, pendalaman, remedial, pekerjaan rumah, dan tugas-tugas mandiri maupun kelompok. Disamping itu, kepala sekolah membangun kondisi kelas yang kondusif, menyediakan waktu ekstra bagi siswa yang memerlukan bimbingan tambahan, dan melakukan obervasi kelas secara rutin dan memuji perilaku positif guru dan siswa.

(14)             Melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran.

Kepala sekolah perlu melakukan monitoring dan evaluasi secara cermat untuk mengetahui tingkat keberhasilan (kemajuan) hasil belajar, hambatan, dan tantangan yang dihadapi. Tanpa monitoring dan evaluasi yang cermat, tidak ada hak untuk mengatakan apakah ada kemajuan hasil belajar atau tidak. Dengan kata lain, monitoring dan evaluasi akan memberi informasi apakah hasil nyata pembelajaran telah sesuai dengan hasil yang diharapkan dari pembelajaran.

(15)             Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran.

Kepala sekolah mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk pembelajaran dan untuk guru serta siswanya. Kenyataannya, kepala sekolah hanya sedikit mengalokasikan waktunya untuk pembelajaran,  guru, dan siswanya. Sebagian besar waktunya digunakan untuk pekerjaan administratif, pertemuan, dan sebagainya.

  1. Kasus

Diskusikan kasus berikut selama 10 menit! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainnya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan balik.

  1. Apa yang dilakukan oleh Pak Hendi untuk menjaga agar iklim belajar kembali seperti pada saat masih menjadi sekolah pilot?
  2. Ciri sekolah efektif apa yang sekarang ini dianggap hilang oleh kepala sekolah? Apa yang Anda sarankan agar tindakan kepemimpinan pembelajaran kepala sekolah dapat mempertahankan sekolahnya tetap menjadi sekolah efektif?

Kasus untuk Kepala SD

Bapak Hendi (nama samaran) adalah kepala sekolah Dasar Negeri Warung Borju (bukan nama sebenarnya). Sekolah tersebut pernah menjadi sekolah pilot pembelajaran CBSA salah satu Universitas Pendidikan. Sebagai sekolah Pilot, kebanyakan gurunya secara umum berkinerja baik, demikian juga pencapaian hasil belajar siswanya. Beberapa tahun yang lalu di dekat sekolah tersebut berdiri sebuah institusi pendidikan nasional (yaitu PPPPTK Pertanian). Banyak putra-putri pegawai institusi tersebut yang sekolah di SD Negeri Warung Borju (kalau dihitung kira-kira 10% dari jumlah murid tiap kelas). Belakangan in nilai pencapaian hasil belajar siswa putra-putri pegawai institusi nasional cenderung lebih baik daripada siswa-siswa yang berasal dari masyarakat setempat.

Bapak Hendi yang sudah menjadi kepala SD tersebut selama 6 tahun menyadari kecenderungan tersebut, dan menganggapnya sebagai masalah yang harus dicari penyelesaiannya. Beliau berusaha membahas masalah tersebut dengan para guru. Para guru dan kepala sekolah menyadari bahwa mereka tanpa sengaja telah memberikan perhatian yang lebih kepada siswa-siswa putra-putri pegawai institusi pendidikan tersebut; dan guru juga menyadari bahwa sekarang ini kegiatan pembelajaran di kelas sudah seperti sebuah kegiatan rutin, tidak ada motivasi seperti pada saat sekolah tersebut menjadi sekolah pilot. Fakta lain yang dicatat oleh kepala sekolah adalah; ada wali murid yang suka memberikan sesuatu kepada guru, dan kepala sekolah menganggap yang demikian ini berpengaruh tidak baik sehingga beliau menegur guru yang dapat sesuatu dari wali murid.

Kasus untuk Kepala SMP

Diskusikan kasus di atas selama 10 menit! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainnya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan balik.

Pak Hamdani (nama samaran) adalah Kepala SMPN X di Kotalama. Dia kecewa karena sebagian besar guru tidak melaksanakan SAP masing-masing. Akibatnya, pelajaran yang diberikan menyimpang dari target kurikulum. Yang lebih merisaukan hati Pak Hamdani adalah ada guru yang mencari tambahan penghasilan dengan cara memberikan private les di rumah-rumah siswanya. Pada hal, guru tersebut sudah nmendapat tunjangan profesi guru. Guru tersebut punya aturan main tidak tertulis yaitu siswa yang ikut les nilainya baik-baik dan siswa yang tidak ikut les meskipun pandai, nilainya hanya pas-pasan. Pak Hamdani serba salah. Mau menegur tetapi tidak punya kemampuan menjejahterakan guru tersebut. Perilaku guru yang demikian dapat menjatuhkan citra guru SMPN X baik di mata siswa maupun di mata masyarakat.

Kasus untuk Kepala SMA

Diskusikan dalam kelompok dengan waktu 10 menit. Selesaikan kasus di atas dengan pendekatan kepemimpinan pembelajaran. Buat powerpointnya. Sajikan di kelompok lainnya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai masukan.

Bu Ana (nama samara) adalah guru SMA. Ia adalah guru dengan golongan IV/a. Sudah memiliki sertifikat guru. Kepala sekolahnya mengeluh karena hasil belajar guru yang sudah bersertifikat dengan guru yang belum bersertifikat ternyata lebih baik yang belum bersertifikat. Kepala sekolah berkesimpulan, “Ternyata tidak ada hubungannya antara guru yang bersertifikat dengan hasil belajar siswa.” Guru-guru yang sudah lolos sertifikasi umumnya tidak menunjukkan kemajuan, baik dari sisi pedagogis, kepribadian, profesional, maupun sosial. Guru hanya aktif menjelang sertifikasi, tetapi setelah dinyatakan lolos, kualitas mereka justru semakin menurun.

Akhir-akhir ini, bu Ana yang sebelum memiliki sertifikat rajin hadir mengajar di kelas dengan naik sepeda motor, namun setelah mempunyai sertifikat dan punya mobil malah jarang hadir di kelas. Kehadirannya digantikan oleh guru honor yang dibayar oleh bu Ana setiap masuk Rp 150.000. Menurut siswa, guru honor lebih baik mengajarnya daripada bu Ana. Bu Ana sudah dilatih KTSP dan PAKEM tetapi tidak diterapkan secara maksimal. Guru honor itu mau saja dibayar karena dia sangat membutuhkan uang apalagi gajinya sebagai guru honor tidak dapat untuk hidup layak. Sebaliknya, bu Ana jarang masuk karena sedang asyik-asyiknya bepergian dengan mobil Zenia kreditannya. Kejadian ini berlangsung relatif lama. Kepala sekolah baru mengetahui setelah mendapat laporan dari guru lainnya dan beberapa siswa karena kepala sekolah jarang keliling sekolah akibat sibuk rapat, sering berangkat atau dengan kata lain jarang di sekolah.

Kasus untuk Kepala SMK

Diskusikan kasus di atas selama 10 menit! Buat powerpointnya! Sajikan di depan kelompok lainnya untuk mendapat komentar-komentar dan saran-saran sebagai umpan balik.

Pak Damhari (nama samaran) adalah Kepala SMK. Sebagai Kepala SMK, dia mengalami konflik batin. Lulusannya dituntut agar mampu bekerja sesuai bidangnya. Kenyataannya, banyak lulusan tidak bekerja sesuai bidangnya karena semakin sulitnya kesempatan kerja. Bagi lulusan, yang penting asal bisa kerja. Akibatnya, ada lulusan teknik mesin menjadi tukang batu. Lulusan teknik bangunan menjadi tukang jahit, dan sebagainya. Jalan keluarnya, Pak Damhari menganjurkan lulusannya agar berwirausaha. Tetapi anjuran itu tidak efektif bagi lulusannya karena yang mengajurkan sendiri kata siswanya, tidak memberikan teladan bagaimana menjadi wirausaha yang sukses. Hanya sebagai PNS.Lulusannya sulit diterima di tempat kerja karena mutunya rendah. Mutunya rendah karena fasilitas sekolah sangat minim. Pelajaran seharusnya banyak praktik, yang terjadi justru banyak teori karena bahan praktik, mesin, dan peralatan sangat minim. Praktik penggunaan mesin yang diajarkan di sekolah, di dunia kerja sudah tidak dipakai. Demikian juga, unit produksi sekolah yang semestinya sebagai miniatur dunia kerja juga tidak berfungsi karena keterbatasan fasilitas. Untuk menyelesaikan kesenjangan keterampilan lulusan dengan keterampilan yang dibutuhkan dunia kerja, Pak Damhari telah mencoba menghubungi berbagai perusahaan untuk tempat praktik dan magang siswanya. Tetapi, hampir semua pengusaha menolak karena tidak saling menguntungkan bahkan banyak ruginya.

  1. Rangkuman

Secara umum, cara-cara menerapkan kepemimpinan pembelajaran di sekolah dapat dipilahkan menjadi 15 butir (15 tip): (1) merumuskan dan mengartikualasi tujuan pembelajaran;(2) mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum; (3) membimbing  pengembangan dan perbaikan proses belajar mengajar; (4) mengevaluasi kinerja guru dan mengembangkannya; (5) membangun komunitas pembelajaran; (6) menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional; (7) melayani siswa dengan prima, (8) melakukan perbaikan secara terus menerus (9) menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif; (10) membangun warga sekolah agar pro perubahan; (11) membangun teamwork yang kompak; (12) memberi contoh dan menginspirasi warga sekolah; (13). menciptakan kultur bagi pembelajaran yang progresif/kondusif; (14). melakukan monitoring dan evaluasi terhadap keberhasilan pembelajaran, (15) menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran.

  1. Refleksi

Mohon untuk mengisi lembar refleksi di bawah ini berdasarkan materi yang Bapak/Ibu sudah pelajari.

Nama: _____________________              Tanggal: _______________

DAFTAR PUSTAKA

Coleman, J., Campbell, E., Hobson, C., (1966). Equality of Educational Opportunity. Washington: Government Printing.

Daresh, John C.,Playko, Marshal A. 1995. Supervision as a Proactive

     Process, Waveland press.

Deal, T.E. and Peterson, K.D. 1998. Shaping School Culture: The Heart of

     Leadership. San Fransisco, CA. Jossey Bass Publishers.

Edmonds, R., (1979). Effective School for Urban Poor. Educational

Leadership. 37, 15-27.

F:\Mary Jo\Education Leadership Redesign Commission\Tennessee

     Standards for Instructional Leaders Packet.doc vlb 3/21/07

Fink, Elaine and B. Resnicl, Lauren (2003). Developing Principals as

      Instructional Leaders.

Guston, Sandra Lee. 2002. The Instructional Leadership toolbox: A 

     Handbook for Improving Practice. California: Sage Publication.

Glatthorn, A.A.1993. OBE Reform and the Curriculum Process. Journal of

Curriculum and Supervision, 8, 4, pp. 354-363

Hoyle, J.R., English, F.W., & Steffy, B.E. 199. Skills for Successful Leaders

(2nd Edition). Arlington, VA. American association of School

Administrators

Weber L. 1996. Leading The Instructional Program. Clearing House of

Educational Management.

 

 

About these ads
Komentar tulisan or leave a trackback: Trackback URL.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: