Arsip Bulanan: Mei 2011

Contoh Proposal PTS

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MATA PELAJARAN PKn DALAM MENERAPKAN MODEL-MODEL  PEMBELAJARAN SESUAI KOMPETENSI DASAR MATA PELAJARAN PKn MELALUI KEGIATAN SUPERVISI KLINIS DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF DI SMPN 2 RANTAU SELAMAT

 Oleh :

ZAINUDDIN, S.Pd.

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR

DINAS PENDIDIKAN

2011

BAB   I   PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Sekolah merupakan lembaga formal yang berfungsi membantu khususnya orang tua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Sekolah memberikan pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada anak didiknya secara lengkap sesuai dengan yang mereka butuhkan. Semua fungsi sekolah tersebut tidak akan efektif apabila komponen dari sistem sekolah tidak berjalan dengan baik, karena kelemahan dari salah satu komponen akan berpengaruh pada komponen yang lain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga pada jalannya sistem itu sendiri.  Salah satu dari bagian komponen sekolah adalah guru.

Guru dituntut untuk mampu menguasai kurikulum, menguasai materi, menguasai metode, dan tidak kalah pentingnya guru juga harus mampu mengelola kelas sedemikian rupa sehingga pembelajaran berlangsung secara aktif, inovatif dan menyenangkan. Namun umumnya guru masih mendominasi kelas, siswa pasif ( datang, duduk, nonton, berlatih, …., dan lupa). Guru memberikan konsep, sementara siswa menerima bahan jadi. menurut Erman Suherman, ada dua hal yang menyebabkan siswa tidak menikmati (senang) untuk belajar, yaitu kebanyakan siswa tidak siap terlebih dahulu dengan (minimal) membaca bahan yang akan dipelajari, siswa datang tanpa bekal pengetahuan seperti membawa wadah kosong. Lebih parah lagi, siswa tidak menyadari tujuan belajar yang sebenarnya, tidak mengetahui manfaat belajar bagi masa depannya nanti.

Berdasarkan pengamatan penulis di SMPN 2 Rantau Selamat, terdapat beberapa kendala pada pembelajaran selama ini antara lain :

  1. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep.
  2. Siswa kurang aktif / siswa pasif dalam proses pembelajaran.
  3. Siswa belum terbiasa untuk bekerja sama dengan temannya dalam belajar.
  4. Guru kurang mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
  5. Hasil nilai ulangan / hasil belajar siswa pada pembelajaran rendah.
  6. KKM tidak tercapai.
  7. Pembelajaran tidak menyenangkan bagi siswa.
  8. Kurangnya minat siswa terhadap pembelajaran.

Sebagai pendidik, penulis melihat pembelajaran menjadi kurang efektif karena hanya cenderung mengedepankan aspek intelektual dan mengesampingkan aspek pembentukan karakter. Hal ini tentu suatu hambatan bagi guru. Namun penulis ingin mengubah hambatan tersebut menjadi sebuah kekuatan dalam pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang efektif dan efisien sehingga nantinya akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

Untuk menjawab hal itu, penulis mencoba memberi solusi kepada guru-guru mata pelajaran PKn untuk menerapkan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat dengan menyusun berbagai perangkat pembelajaran yang dibutuhkan seperti : RPP, alat peraga, teknik pengumpulan data, dan instrumen yang dibutuhkan untuk membantu guru dalam mengelola kelas dan mengevaluasi pembelajaran yang dilakukan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut “Apakah penerapan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 2 Rantau Selamat.”

Secara operasional rumusan masalah di atas dapat dijabarkan menjadi beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :

  1. Apakah penerapan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 antau Selamat dapat meningkatkan mutu pembelajaran siswa di SMPN 2 Rantau Selamat?
  2. Apa saja kendala-kendala yang dihadapi guru dalam penerapan model-mmodel  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboaratif di SMPN 2 Rantau Selamat?
  3. Bagaimana respon siswa terhadap penerapan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat pada pembelajaran di kelas VII, VIII, IX ?

C. Manfaat Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini, dilakukan dengan harapan memberikan manfaat bagi siswa, guru, maupun sekolah.

a. Manfaat bagi siswa :

  1. Memperoleh pengalaman belajar yang lebih menarik.
  2. Meningkatkan aktivitas siswa di dalam belajar.
  3. Meningkatkan penguasaan konsep.
  4. Menumbuhkan keberanian mengemukakan pendapat dalam kelompok/ membiasakan bekerja sama dengan teman.

b. Manfaat bagi guru:

  1. Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
  2. Memperoleh alternatif baru yang dapat diterapkan guru untuk peningkatan mutu pembelajaran.

c. Manfaat bagi sekolah :

  1. Meningkatkan prestasi sekolah dalam bidang akademis.
  2. Meningkatkan kinerja sekolah melalui peningkatan profesionalisme guru.

BAB  II    KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori dan Hasil Penelitian yang Relevan

Pada bagian ini, penulis bermaksud mengemukakan beberapa hal yang berhubungan dengan teori dan pengertian untuk dijadikan pedoman dalam penyusunan PTS ini, sebagai gambaran yang tentu ada kaitannya dengan materi pembahasan. Isinya berupa teori-teori yang diambil dari berbagai sumber.

Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktifitas belajar mengajar ( Udin Winataputra, 1994,34).

Banyak model-model pembelajaran yang dapat dikembangkan oleh guru dalam proses kegiatan belajar mengajar yang pada prinsipnya pengembangan model pembelajaran bertujuan untuk menciptakan situasi belajar mengajar yang efetif dan efisien, menyenangkan, bermakna, lebih banyak mengaktifkan siswa.

Dalam pengembangan model pembelajaran yang mendapat penekanan pengembangannya terutama dalam strategi dan metode pembelajaran. Untuk masa sekarang ini perlu juga dikembangkan system penilaian yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Oleh karena itu guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar bisa saja mengembangkan model pembelajaran sendiri dengan tujuan proses pembelajaran lebih efektif dan efisien, lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreasi, sehingga siswa lebih aktif.

Berikut ini adalah pengertian model pembelajaran menurut pendapat para tokoh pendidikan antara lain:

  1. Agus Suprijono : pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial.
  2. Mills : “model adalah bentuk representasi akurat sebagai proses actual yang memungkinkan seseorang atau sekelompok orang mencoba bertindak berdasarkan model itu”
  3. Richard I Arends : model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang akan digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap kegiatan di dalam pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pengelolaan kelas.

Kompetensi dasar

Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.

Supervisi Klinis

Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Beberapa alasan mengapa supervisi klinis diperlukan, diantaranya:
• Tidak ada balikan dari orang yang kompeten sejauhmana praktik profesional telah memenuhi standar kompetensi dan kode etik
• Ketinggalan iptek dalam proses pembelajaran
• Kehilangan identitas profesi
• Kejenuhan profesional (bornout)
• Pelanggaran kode etik yang akut
• Mengulang kekeliruan secara masif
• Erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan prajabatan (PT)
• Siswa dirugikan, tidak mendapatkan layanan sebagaimana mestinya
• Rendahnya apresiasi dan kepercayaan masyarakat dan pemberi pekerjaan

Secara umum tujuan supervisi klinis untuk :
• Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan kualitas proses pembelajaran.
• Membantu guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
• Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang muncul dalam proses pembelajaran
• Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan maslah yang ditemukan dalam proses pembelajaran
• Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan.

Pendekatan Kolaboratif

Suhartian ( 2000 ) menjelaskan pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan non direktif menjadi cara pendekatan yang baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan kreiteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru. Dengan demikian pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah. Dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas. Perilaku supervisi sebagai berikut: ( 1) Menyajikan (2) Menjelaskan ( 3 ) Mendengarkan (4) Pemecahan masalah (5) Negosiasi.

B. Penyelesaian Masalah

Berdasarkan kajian teori di atas, maka dengan melalui kegiatan penerapan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat kepala sekolah  dapat meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran PKn dalam menerapkan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata Ppelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat.

BAB  III   METODE PENELITIAN

 

A. Subjek, Lokasi, dan Waktu Penelitian

 

Penelitian Tindakan Sekolah ini dilakukan di SMPN 2 Rantau Selamat terhadap  dua orang guru mata pelajaran PKn di SMPN 2 Rantau Selamat.  Waktu pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dimulai  30 Mei sampai dengan 1 September 2011.

B. Prosedur Penelitian

Penelitian ini tergolong penelitian tindakan sekolah, dengan empat langkah pokok yaitu : perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi, dengan melibatkan 2 orang guru SMPN 2 Rantau Selamat. Penelitian dilakukan dua tahapan secara berkelanjutan selama 3 bulan. Indikator kinerja yang ditetapkan adalah meningkatkan kemampuan guru mata pelajaran PKn dalam menerapkan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn melalui kegiatan supervisi klinis dengan pendekatan kolaboratif di SMPN 2 Rantau Selamat. Aspek yang diukur dalam observasi adalah antusiasme guru SMPN 2 Rantau Selamat dalam menerapkan model-model  pembelajaran sesuai kompetensi dasar mata pelajaran PKn, interaksi siswa dengan guru dalam proses belajar mengajar, interaksi dengan siswa dengan siswa dalam kerja sama kelompok, dan aktivitas siswa dalam diskusi kelompok.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi berupa hasil karya penyusunan KTSP, wawancara dan instrument analisis penilaian.

1. Perencanaan Tindakan

a) Pemilihan topik
b) Melakukan review silabus untuk mendapatkan kejelasan tujuan pembelajaran untuk topik tersebut dan mencari ide-ide dari materi yang ada dalam buku pelajaran. Selanjutnya bekerja dalam kelompok untuk menyusun rencana pembelajaran.
c) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
d) Merencanakan penerapan pembelajaran
e) Menentukan indikator yang akan dijadikan acuan
f) Mempersiapkan kelompok mata pelajaran
g) Mempersiapkan media pembelajaran.
h) Membuat format evaluasi
i) Membuat format observasi
j) Membuat angket respon guru dan siswa

2. Pelaksanaan Tindakan
Menerapkan tindakan sesuai dengan rencana, dengan langkah-langkah:

  1. Setiap guru yang telah menyusun rencana pembelajaran menyajikan atau mempresentasikan rencana pembelajarannya, sementara guru lain memberi masukan, sampai akhirnya diperoleh rencana pembelajaran yang lebih baik.
  2. Guru yang ditunjuk menggunakan masukan-masukan tersebut untuk memperbaiki rencana pembelajaran.
  3. Guru yang ditunjuk tersebut mempresentasikan rencana pembelajarannya di depan kelas untuk mendapatkan umpan balik.

3. Pengamatan (observasi)

  1. Observer melakukan pengamatan sesuai rencana dengan menggunakan lembar observasi
  2. Menilai tindakan dengan menggunakan format evaluasi.
  3. Pada tahap ini seorang guru melakukan implementasi rencana pembelajaran yang telah disusun, guru lain melakukan observasi dengan menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan. Selain itu dilakukan pemotretan yang meng-close up kejadian-kejadian khusus selama pelaksanaan pembelajaran.

D. Teknis Analisis Data

Penelitian tindakan sekolah ini berhasil apabila :

  1. Peningkatan nilai rata-rata siswa kelas VII, VIII, IX, Peningkatan nilai rata-rata 6,5.
  2. Tingkat aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar :
    Tingkat keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dinilai berhasil apabila masing-masing aktivitas yang menunjang keberhasilan belajar persentasenya di atas 70 %.
  3. Keterlaksanaan langkah-langkah dalam proses belajar mengajar ≥ 80 %.

 

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

 

UPAYA MENINGKATKAN   EVALUASI GURU PADA PENYUSUNAN  RENCANA  PELAKSANAAN  PEMBELAJARAN   MATEMATIKA 

 DI SMP NEGERI 1 INDRA MAKMU

TAHUN 2011

 

 

 

 

  Disusun oleh :

SYAIFUL JAMAL, S. Pd

NIP. 19681027 199512 1 001

 

 

DINAS PENDIDIKAN

HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa Laporan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) yang berjudul :

UPAYA MENINGKATKAN   EVALUASI GURU PADA PENYUSUNAN  RENCANA  PELAKSANAAN  PEMBELAJARAN  MATEMATIKA

 DI SMP NEGERI 1 INDRA MAKMU

TAHUN 2011

  Disusun oleh :

SYAIFUL JAMAL, S. Pd

NIP. 19681027 199512 1 001

Kepala Dinas Pendidikan

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………….. i

Lembar Pengesahan………………………………………………………………………… ii

Daftar Isi……………………………………………………………………………………….. iii

Kata Pengantar………………………………………………………………………………. iv

Daftar Lampiran…………………………………………………………………………….. v

Ringkasan……………………………………………………………………………………… vi

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………. 1

  • Latar Belakang…………………………………………………………………….. 1
  • Identifikasi Masalah…………………………………………………………….. 5
  • Pembatasan Masalah…………………………………………………………….. 6
  • Rumusan Masalah………………………………………………………………… 6
  • Pemechan Masalah……………………………………………………………….. 6
  • Tujuan Penelitian…………………………………………………………………. 7
  • Manfaat Penelitian……………………………………………………………….. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………….. 10

  • Pengertian Guru…………………………………………………………………… 10
  • Standar KompetensiGuru……………………………………………………… 11
  • Rencana Pelaksanaan Pembelajaran………………………………………… 14

BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………….. 20

  • Setting Penelitian…………………………………………………………………. 20
  • Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah…………………………………… 21
  • Subjek Penelitian…………………………………………………………………. 21
  • Sumber data………………………………………………………………………… 21
  • Teknik Dan Alat Pengumpulan Data………………………………………. 21
  • Prosedur Penelitian………………………………………………………………. 22
  • Rencana Pelaksanaan……………………………………………………………. 25
  • Indikator Pencapaian Hasil……………………………………………………. 26

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN……………………. 28

  • Deskripsi Hasil Penelitian……………………………………………………… 28
  • Pembahasan ……………………………………………………………………….. 31

BAB V Simpulan Dan Saran

  • Simpulan…………………………………………………………………………….. 37
  • Saran………………………………………………………………………………….. 37

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….. 39

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

                   Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas materi penelitian Tindakan Sekolah pada Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah  Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan      ( LPMP ) Provinsi Aceh.

Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan, khususnya kualitas pengelolaan kelas sangat ditentukan oleh penguasaan kompetensi secara memadai oleh guru. Untuk meningkatkan kompetensi guru antara lain dapat ditempuh melalui peningkatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .

Untuk itulah, maka melalui Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah, setiap peserta wajib membuat karya ilmiah dan untuk kepala sekolah diwajibkan melakukan Penelitian Tindakan Sekolah pada saat On the Job Learning.. Untuk melaksanakan kegiatan “Penelitian Tindakan Sekolah”, maka pada pelaksanaannya Kepala Sekolah berkolaborasi dengan guru.

Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Selanjutnya penulis mohon adanya perbaikan atas laporan ini, karena penulis menyadari, bahwa dimungkinkan terdapat sejumlah kekuarangannya, semoga saja laporan penelitian Tindakan Sekolah ini mendapatkan perhatian dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak yang berkompeten.

SYAIFUL JAMAL, S. Pd

NIP. 19681027 199512 1 001

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Pendidikan merupakan investasi dalam  pengembangan sumber daya manusia dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen sistem pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu:  tenaga kependidikan guru dan non guru . Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, ”komponen-komponen sistem pendidikan yang bersifat sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi tenaga pendidik dan pengelola satuan pendidikan ( penilik, pengawas, peneliti dan pengembang pendidikan ).” Tenaga gurulah yang mendapatkan perhatian lebih banyak di antara komponen-komponen sistem pendidikan. Besarnya perhatian terhadap guru antara lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus seperti kenaikan tunjangan fungsional guru dan sertifikasi guru.

Usaha-usaha  untuk mempersiapkan guru menjadi profesional telah banyak dilakukan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya. “Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan (1) guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan beban, (3) seringnya siswa mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4) masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana mestinya” (Imron, 2000:5).

Berdasarkan kenyataan begitu berat dan kompleksnya tugas serta peran guru tersebut, perlu diadakan supervisi atau pembinaan terhadap guru secara terus menerus untuk meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar usaha membimbing siswa untuk belajar dapat berkembang. pada kualitas gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan  keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok.

Direktorat Pembinaan SMA (2008:3) menyatakan ”kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas, mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan konsekuensinya, adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan ) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif”.

Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses pembelajaran di kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru harus mempersiapkan ( merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran  berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPP memuat KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.

Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor yang paling dominan karena di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya. Seorang guru dikatakan profesional apabila  (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2) bangga   dengan  tugas  profesinya, ( 3) selalu menjaga dan berupaya meningkatkan kompetensinya, (4) bekerja dengan  sungguh  tanpa  harus  diawasi,  (5)  menjaga   nama  baik   profesinya, (6) bersyukur atas imbalan yang diperoleh dari profesinya.

Peraturan Pemerintah Nomor 19  Tahun 2005 tentang 8 Standar Nasional Pendidikan menyatakan   standar  proses merupakan salah satu SNP untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang mencakup: 1) Perencanaan proses pembelajaran, 2) Pelaksanaan proses pembelajaran, 3) Penilaian hasil pembelajaran, 4) dan pengawasan proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru  pada satuan pendidikan . Guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,  dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan  RPP yang dibuat dengan alasan ketinggalan di rumah dan bagi guru yang sudah  membuat RPP masih ditemukan adanya guru yang belum melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.  Pada  komponen  penilaian ( penskoran dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya dengan alasan sudah tahu dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah  membuatnya. Masalah yang lain yaitu sebagian besar guru khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan pengembangan RPP. Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai Diklat Peningkatan Profesionalisme Guru dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak guru yang belum tahu dan memahami penyusunan/pembuatan RPP secara baik/lengkap. Beberapa guru mengadopsi RPP orang lain. Hal ini  peneliti ketahui pada saat  mengadakan supervisi akademik (supervisi kunjungan kelas) ke sekolah binaan. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.

Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah  berusaha untuk memberi bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah  berdasarkan Permendiknas No.12  Tahun  2007  tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang salah satunya adalah supervisi akademik yaitu membina guru.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan   Pembelajaran, biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat penting bagi seorang guru  karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.

B.  Identifikasi Masalah

             Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut.

1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.

2. Sebagian besar guru belum mendapatkan pelatihan pengembangan KTSP.

3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan berbagai alasan.

4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada komponen langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.

5. Guru banyak yang mengadopsi RPP orang lain.

C.  Pembatasan Masalah

              Dari lima masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi menjadi:

1. Guru belum paham dalam menyusun RPP.                                                             2. RPP yang dibuat guru belum lengkap.

D.  Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di atas, diajukan   rumusan masalah sebagai berikut.

Apakah  dengan  bimbingan  berkelanjutan akan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP ?

E.  Pemecahan Masalah/Tindakan

1.  Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan dan bimbingan berkelanjutan  serta  arahan kepada  guru tentang pentingnya seorang guru membuat RPP secara lengkap. Dengan bimbingan berkelanjutan diharapkan guru termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan dalam mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi  dapat tersampaikan semua karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada siklus pertama.

2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru dalam menyusun  RPP melalui instrument proses yang telah dirancang yaitu  berupa lembar observasi/pengamatan komponen RPP yang memuat sebelas komponen yaitu: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6)  materi ajar, 7) alokasi waktu, 8)  metode pembelajaran, 9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil belajar ( soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah membuat RPP dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan melihat  RPP  yang dibuat oleh guru. Terjadi peningkatan atau tidak pada siklus ke-2.

F.  Tujuan Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan di SMP  Negeri 1 Indra Makmu

G.  Manfaat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini diharapkan dapat memberikan manfaat :

  • Manfaat bagi peneliti

a.  Meningkatkan kemampuan profesionalisme peneliti untuk melakukan penelitian tindakan sekolah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah binaan peneliti.

  • Meningkatkan kemampuan peneliti  dalam menyusun serta menulis   laporan dan artikel ilmiah.
  • •Sebagai motivasi bagi peneliti  dalam  membuat  karya  tulis  ilmiah.
    • Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti  sebagai syarat untuk kenaikan  golongan ke- IV b.
    • Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan kepada teman-teman pengawas  dan guru yang akan menulis.
    • Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap guru dalam menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembinaan kepada guru di sekolah binaan.
    • Manfaat bagi sekolah

a. Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM yang lebih lengkap.

b.   Dapat meningkatkan  kualitas   pendidikan  karena Standar  Kompetensi  dan  Kompetensi  Dasar   sudah tersampaikan.

  • Manfaat bagi guru

a. Dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat RPP dengan lengkap  serta menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan tugasnya.

b.  Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar  sehingga apa yang diinginkan dalam standar isi dapat tersampaikan.

  • Manfaat bagi siswa

a.  Adanya kesiapan belajar,  keseriusan , keingintahuan,  dan  semangaat belajar tinggi terhadap pelajaran.

b. Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga   tercapai target kompetensinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  • Pengertian  Guru

Secara etimologi ( asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India yang   artinya ”  orang   yang   mengajarkan   tentang  kelepasan   dari   sengsara”  Shambuan, Republika, ( dalam Suparlan 2005:11).

Kemudian Rabindranath Tagore (dalam Suparlan 2005:11) menggunakan istilah Shanti Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun spiritualitas anak-anak bangsa di India ( spiritual intelligence).

Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas dalam kegiatan keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) dan kecerdasan intelektual (intellectual intelligence), tetapi juga menyangkut kecerdasan kinestetik  jasmaniah (bodily kinesthetic), seperti guru tari, guru olah raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian, guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya.

Poerwadarminta ( dalam Suparlan 2005:13)  menyatakan, “guru adalah orang yang kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Pengertian guru ini hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih. Selanjutnya  Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan  2005:13) menyatakan,” guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak.”

UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik  profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional  menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan  dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.”

PP  No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, ”pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

B.  Standar Kompetensi Guru

      1. Pengertian Standar Kompetensi Guru

                   Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak” . “Secara sederhana kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana Sudjana 2009:1).

Nurhadi (2004:15) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai pengetahuan,

keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-baiknya.”

Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah sebagai suatu kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan, keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.

Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan, ” guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”  Dari rumusan di atas jelas disebutkan pemilikan kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus dipenuhi oleh guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya.

Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh  guru  yakni  (1)  kompetensi   pedagogik, (2) kompetensi  kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional.  Kompetensi  tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.

Berdasarkan beberapa definisi  di atas dapat disimpulkan  standar Kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk  penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen  yang  kait- mengait,   yakni:  1)  pengelolaan  pembelajaran, 2)    pengembangan  profesi,  dan   3) penguasaan akademik. Komponen pertama terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut    secara      keseluruhan   meliputi   tujuh  kompetensi dasar, yaitu:  1)    penyusunan   rencana pembelajaran,  2) pelaksanaan  interaksi belajar mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik,  5) pengembangan   profesi,  6)   pemahaman  wawasan      kependidikan,  dan     7) penguasaan bahan kajian akademik ( sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).

Abdurrahman Mas’ud (dalam Suparlan 2005:99) menyebutkan tiga kompetensi dasar yang   harus   dimiliki  guru,  yakni:  (1) menguasai materi atau bahan  ajar,  (2) antusiasme, dan ( 3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik.

2. Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004: 4) tujuan  adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya. Adapun manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan

C.  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

1.  Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus merupakan sebagian sub-sistem pembelajaran yang terdiri dari atau yang satu sama yang lain saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Hal penting yang berkaitan dengan pembelajaran adalah penjabaran tujuan yang disusun berdasarkan indikator yang ditetapkan.

Philip Combs ( dalam Kurniawati, 2009:66 ) menyatakan bahwa perencanaan program pembelajaran merupakan suatu penetapan yang memuat komponen-komponen pembelajaran secara sistematis. Analisis sistematis merupakan proses perkembangan pendidikan yang akan mencapai tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien disusun secara logis, rasional, sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah (masyarakat). Perencanaan program pembelajaran adalah hasil pemikiran, berupa keputusan yang akan dilaksanakan . Selanjutnya   Oemar Hakim (dalam Kurniawati 2009:74) menyatakan, ”bahwa  perencanaan program pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan program jangka pendek untuk memperkirakan suatu proyeksi  tentang sesuatu yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran”.

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus.”

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan  pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.

Dalam KTSP, guru bersama warga sekolah berupaya menyusun kurikulum dan perencanaan program pembelajaran, meliputi: program tahunan, program semester, silabus, dan rencana peleksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. RPP merupakan acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiap KD. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu KD.

       2.  Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007, komponen RPP terdiri dari a). identitas   mata   pelajaran,  (b)  standar  kompetensi,  (c)  kompetensi dasar, (d) indikator  pencapaian  kompetensi,  (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g) alokasi waktu , (h) metode pembelajaran, (i) kegiatan pembelajaran meliputi: pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar, (k) penilaian hasil belajar meliputi:  soal, skor dan kunci jawaban.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19  (2005 pasal 20) menyatakan bahwa,   ”RPP  minimal memuat sekurang-kurangnya lima komponen yang meliputi:  (1) tujuan pembelajaran, (2) materi ajar, (3) metode pengajaran, (4) sumber belajar, dan (5) penilaian hasil belajar.”

3.  Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan  dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:  a) memperhatikan perbedaan individu   peserta    didik,  b)   mendorong      partisipasi    aktif peserta  didik, c) mengembangkan budaya membaca dan menulis, d) memberikan umpan balik dan tindak lanjut, e) keterkaitan dan keterpaduan, f) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP .

4. Langkah- langkah Menyusun RPP

Langkah-langkah   menyusun   RPP  adalah  a)   mengisi   kolom   identitas, b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, c) Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah ditentukan, e) mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus, materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, f) menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. h) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, i) menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran dan kunci jawaban

       5. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun RPP

Dalam penyusunan RPP perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (a) RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau  lebih, b) tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus di capai oleh peserta didik sesuai dengan  kompetenrsi  dasar, c) tujuan pembelajaran dapat mencakupi sejumlah indikator, atau satu tujuan pembelajaran untuk beberapa indikator, yang penting tujuan pembelajaran harus mengacu pada pencapaian indikator,  d) Kegiatan pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran) dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPP terdapat 3 kali pertemuan, maka dalam RPP tersebut terdapat 3 langkah pembelajaran, e). Bila terdapat lebih dari satu pertemuan untuk indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan yang lengkap untuk setiap pertemuannya.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  • Setting Penelitian

Setting  dalam  penelitian  ini  meliputi:  tempat penelitian,  waktu penelitian , jadwal penelitian, dan siklus PTS sebagai berikut :

      1. Tempat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah  dilaksanakan di salah satu  sekolah binaan  berstatus swasta yaitu SMP Negeri 1 Inda Makmu Kabupaten Aceh Timur

Pemilihan   sekolah    tersebut   bertujuan  untuk  meningkatkan    kompetensi   guru   dalam  menyusun  rencana  perlaksanaan  pembelajaran (RPP)   dengan lengkap.

       2. Waktu Penelitian

PTS  ini  dilaksanakan  pada   semester  satu  tahun   2010  selama kurang lebih satu setengah bulan  mulai Agustus sampai dengan Oktober 2010.

  • Jadwal Pelaksanaan Penelitian                                                                   
  • Jadwal pelaksanaan  penelitian seperti pada tabel berikut.

No.

Kegiatan

Waktu

 1. Membuat proposal ………………………. Agustus 2010
 2. Merevisi proposal ………………………..Agustus 2010
 3. Melaksanakan PTS ……………………….. September 2010
 4. Membuat laporan PTS …………………………….  2010
 5. Mempresentasikan hasil PTS ……………………………… 2010

4. Siklus Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah  dilaksanakan melalui dua  siklus  untuk melihat peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran      (RPP ).

B.  Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah

Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat berbagai input  instrument  yang  digunakan   untuk  mendapatkan data dan informasi.

C.  Subjek Penelitian

Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah  guru SMP Negeri 1 Indra Makmu Kabupaten Aceh Timur

D.  Sumber Data

Sumber data dalam PTS ini adalah  rencana pelaksanaan pembelajaran yang  sudah  dibuat guru.

E.  Teknik dan Alat Pengumpulan Data

1. Teknik

Teknik  pengumpulan  data dalam penelitian ini  adalah  wawancara,     observasi, dan diskusi.

a.  Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan  data atau informasi  tentang  pemahaman guru terhadap  RPP.

b.  Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui   kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.

c.    Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.

2.  Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.

a. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen RPP yang telah dibuat dan yang belum dibuat  oleh  guru .

c.  Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara    peneliti dengan guru.

F.  Prosedur Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru,  dalam meningkatkan  kemampuan  guru agar  menjadi  lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran .

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus. ”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara,   observasi/pengamatan,  dan  diskusi yang berupa persentase atau angka-angka.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru  dalam menyusun RPP.  Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau  usaha guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Sekolah, menurut  Sudarsono, F.X, (1999:2) yakni:

1. Rencana      : Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan  kompetensi guru dalam menyusun RPP secara lengkap. Solusinya yaitu dengan melakukan : a) wawancara dengan guru dengan menyiapkan lembar wawancara, b) Diskusi dalam suasana yang menyenangkan  dan c) memberikan bimbingan  dalam menyusun RPP secara lengkap.

2. Pelaksanaan:    Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun  RPP yang lengkap yaitu dengan memberikan bimbingan berkelanjutan pada guru  sekolah binaan .

3. Observasi:        Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP  yang  telah dibuat    untuk memotret  seberapa jauh kemampuan guru  dalam menyusun  RPP dengan lengkap, hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru dalam   mencapai sasaran.

Selain itu juga peneliti  mencatat hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan wawancara. Rekaman dari pertemuan dan  wawancara akan digunakan untuk analisis dan komentar kemudian.

4. Refleksi:          Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil dari refleksi ini, peneliti bersama guru melaksanakan revisi atau perbaikan terhadap RPP yang telah disusun  agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai dengan yang peneliti inginkan.

Prosedur penelitian adalah suatu rangkaian tahap-tahap penelitian dari awal sampai akhir. Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur sebagaimana kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk. Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling terkait dan secara urut membentuk sebuah siklus. Penelitian Tindakan Sekolah merupakan penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.”

Alur PTS dapat dilihat pada Gambar  berikut :

Gambar  Alur Penelitian Tindakan Kelas

G.  Rencana Pelaksanaan

Rencana pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus yaitu:

1. Siklus Pertama (Siklus I )

a).Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat    format/instrumen wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil penyusunan RPP).

b). Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan   atau hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b).   Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap.

c).   Peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP.

d).   Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.

f).   Peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lengkap.

e).   Peneliti dan guru melakukan refleksi.

2. Siklus Kedua (Siklus II)

a). Peneiti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua, mengumpulkan, dan melakukan pembimbingan penyusunan RPP.

b). Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II.

c). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.

d). Peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP.

d). Peneliti dan guru melakukan refleksi.

H.  Indikator Pencapaian Hasil

Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru membuat kesebelas komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.

1.  Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%.

2.  Komponen standar kompetensi diharapkan ketercapaiannya 85%.

3.  Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.

4. Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 75%.

5. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.

6.   Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%.

7.   Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.

8.   Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya 75%.

9. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%.

10.   Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.

11. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban)   diharapkan  ketercapaiannya 75%

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

  • Deskripsi Hasil Penelitian

Dari hasil wawancara terhadap delapan orang guru, peneliti memperoleh  informasi bahwa semua guru (delapan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP secara lengkap.

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap delapan RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-subkomponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.

Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus

(Lampiran  4).

Siklus I (Pertama)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.

1. Perencanaan ( Planning )

  • Membuat lembar wawancara
  • Membuat format/instrumen penilaian RPP
  • Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP siklus I dan II
  • Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP dari siklus ke siklus

2. Pelaksanaan (Acting)

Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti.  Hal itu dibuktikan  dengan masih adanya komponen RPP  yang belum dibuat  oleh guru. Sebelas komponen RPP yakni:   1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11)  penilaiaan hasil belajar ( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini:

     Observasi dilaksanakan Selasa, ……………. 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi.  Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

  • Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.
  • Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.
  • Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.                                                                                                       Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

Siklus II (Kedua)

Siklus kedua  juga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua dapat dideskripsikan berikut ini:

     Observasi dilaksanakan Selasa, 21 September 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

  • Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.
  • Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.
  • Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.
  • Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

  • Pembahasan

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Tunas Harapan Sebawi Kabupaten Sambas yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus swasta, terdiri atas delapan guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.

Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.

  • Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

  • Komponen Standar Kompetensi

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

  • Komponen Kompetensi Dasar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

4.    Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

5. Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.

6.    Komponen Materi Ajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.

7.    Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

8.    Komponen Metode Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),  lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

  • Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.

10.  Komponen Sumber Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

11.  Komponen Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan  3 (kurang baik dan baik), tiga orang  mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%,  pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP 83%, terjadi peningkatan 14%.

Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus SMP Tunas Harapan Sebawi (Lampiran  4).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  • Kesimpulan

Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.

  •  Bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
  • Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan  dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan  kompetensi guru dalam menyusun  RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan 14% dari siklus I.
  • Saran

Telah terbukti bahwa dengan  bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan  motivasi  dan  kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

  • Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .
  • RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
  • Dokumen  RPP hendaknya dibuat  minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiyah. 1980. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.

Dewi, Kurniawati Eni . 2009. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Dan Sastra Indonesia Dengan Pendekatan Tematis. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.

 

Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jakarta:  Depdiknas.

             2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.

             2005. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta:  Depdiknas.

             2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

             2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007a tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.

             2007. Permendiknas RI No. 12 Tahun 2007b tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarata: Depdiknas.

             2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pembelajaran SMA. Jakarta.

             2008. Alat  Penilaian  Kemampuan  Guru. Jakarta:  Depdiknas.

              2009. Petunjuk Teknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya Tulis Ilmiah Dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.

 

Fatihah, RM . 2008. Pengertian konseling (Http://eko13.wordpress.com, diakses 19 Maret 2009).

Imron, Ali. 2000.  Pembinaan Guru Di Indonesia. Malang: Pustaka Jaya.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.

             2010. Supervisi Akademik. Jakarta.

Kumaidi. 2008. Sistem Sertifikasi (http://massofa.wordpress.com diakses 10 Agustus 2009).

Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Pidarta, Made

1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta : Binamitra Publishing.

Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan

pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.

Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

             2006. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua

 

PROPOSAL PTS

PENINGKATAN KEMAMPUAN KEPALA SEKOLAH DALAM MEMBUAT EVALUASI DIRI SEKOLAH MELALUI PEMBERIAN BIMBINGAN TEKNIS PADA ENAM SEKOLAH BINAAN

DI KABUPATEN ACEH TIMUR TAHUN 2011

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan penguatan kepala sekolah

dan pengawas di P4TK Medan-Sumatera Utara

Oleh :

NURDIN, S.Pd.

NIP. 19760924 200012 1 003

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR

DINAS PENDIDIKAN

2011

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga proposal Penelitian Tindakan Kelas sebagai tugas pada pelatihan peningkatan kepala sekolah dan pengawas ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Rasulullah SAW, yang telah membawa risalah Islam yang menjadi rahmat bagi alam semesta.

Terima kasih saya ucapkan kepada panitia pelaksana yang telah mengundang kami. Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada fasilitator yang telah membimbing kami sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas pelatihan ini tepat pada waktunya.

Kepada teman-teman di lokal D yang telah bersama-sama melewati pelatihan bersama saya, saya mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya. Semoga proposal ini dapat dilanjutkan menjadi sebuah penelitian yang sesungguhnya dan bermanfaat bagi kita semua.

Medan, 27 Mei 2011

Peneliti/Peserta

Nurdin, S.Pd.

DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………. ii

BAB I   PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah ……………………………………………………………………. 2
  3. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………… 2
  4. Manfaat Penelitian …………………………………………………………………… 2

BAB II  KAJIAN TEORITIS

  1. Kajian Teori ……………………………………………………………………………… 3
  2. Kerangka Teori ………………………………………………………………………… 3

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Subyek, lokasi, dan waktu penelitian …………………………………………… 4
  2. Prosedur Penelitian ………………………………………………………………….. 4
  3. Teknik Pengumpulan Data …………………………………………………………. 4
  4. Teknik Analisis Data ………………………………………………………………….. 4

 

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………… 5

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Persyaratan menjadi kepala sekolah telah ditentukan oleh Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah. Para kepala sekolah harus memiliki kompetensi berikut: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial.

Kementerian Pendidikan Nasional juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dimana Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan komponen penting. Oleh sebab itu kepada para kepala sekolah perlu disosialisasikan EDS dalam aspek konsep, tujuan, manfaat, pemahaman instrument EDS sampai cara memakainya.

Kenyataan di sekolah binaan pada saat ini, belum semua kepala sekolah binaan peneliti memahami tentang EDS, termasuk menggunakan instrument EDS tersebut. Oleh karena itu perlu diberikan bimbingan teknis terhadap enam sekolah binaan agar dapat memahami dan menggunakan instrument Evaluasi Diri Sekolah sebagai dasar pembuatan RKS, dimana hal ini akan bermuara pada peningkatan mutu pndidikan di sekolah binaan.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti merencanakan melakukan penelitian tindakan sekolah dengan judul “Peningkatan Kemampuan Kepala Sekolah Dalam Membuat Evaluasi Diri Sekolah Melalui Pemberian Bimbingan Teknis Pada Enam Sekolah Binaan Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011”.

  1. B.     Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) dapat meningkatan Kemampuan Kepala Sekolah pada enam sekolah binaan dalam Membuat Evaluasi Diri Sekolah Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011?”

  1. C.     Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui Apakah pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) dapat meningkatan Kemampuan Kepala Sekolah pada enam sekolah binaan dalam Membuat Evaluasi Diri Sekolah Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011.

 

  1. D.    Manfaat Penelitian

Manfaat yang bisa diperoleh dari penelitian ini adalah:

  1. Meningkatkan kemampuan pengawas dalam melakukan penelitian tindakan sekolah sebagai salah satu bentuk pengembangan keprofesian berkelanjutan pengawas.
  2. Kepala Sekolah dapat menyelesaikan pembuatan RKS melalui pelaporan Evaluasi Diri Sekolah (EDS).
  3. Pengembangan sekolah akan lebih terencana dan terpadu, sehingga memungkinkan sekolah dapat melaksanakan program-program kerja sekolah sesuai dengan perencanaan dan kekuatan yang dimilikinya.


 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.     Kajian Teori
  2. 1.     Evaluasi Diri Sekolah (EDS)

Evaluasi Diri Sekolah (EDS) adalah proses evaluasi diri sekolah yang bersifat internal yang melibatkan pemangku kepentingan untuk melihat kinerja sekolah berdasarkan SPM dan SNP yang hasilnya dipakai sebagai dasar Penyusunan RKS dan sebagai masukan bagi perencanaan investasi pendidikan tingkat kab/kota (Suplemen Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah).

  1. 2.     Bimbingan Teknis (Bimbek)

Bimbingan teknis adalah pemberian bimbingan atau bantuan dari pihak yang mengetahui/menguasai sesuatu kepada pihak lain yang memiliki tingkat pengetahuan/ketrampilan lebih rendah.

 

  1. B.     Kerangka Berpikir

Berdasarkan Kajian teori di atas, peneliti meyakini bahwa pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) dapat meningkatan Kemampuan Kepala Sekolah pada enam sekolah binaan dalam membuat Evaluasi Diri Sekolah Di Kabupaten Aceh Timur Tahun 2011.

 

BAB III METODE PENELITIAN

  1. A.     Subyek, Lokasi, dan Waktu Penelitian

Subyek penelitian ini para kepala sekolah binaah peneliti yang berjumlah enam orang. Keenam orang kepala tersebut berasa dari sekolah : SMA Negeri 1 Idi, SMP Negeri 1 Rantau Seulamat, SMP Negeri 1 Idi, SMP Negeri 2 Serba Jadi, SMP Negeri 1 Simpang Ulim, SMP Negeri 1 Pante Bidari. Keenam sekolah binaan tersebut berada di dalam wilayah Kabupaten Aceh Timur. Waktu penelitian direncanakan selama 3 bulan.

  1. B.     Prosedur Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah ini direncanakan dilakukan dalam 2 siklus selama 3 bulan. Setiap siklus dari tahapan-tahapan; perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi dan refleksi.

Indikator keberhasilan tindakan dalam penelitian ini adalah terdapat 6 orang kepala sekolah (100%) dapat membuat Evaluasi Diri Sekolah dengan benar.

  1. C.     Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan langsung (observasi) dan wawancara. Sedangkan instrument pengambilan datanya adalah lembar observasi dan pedoman wawancara.

  1. D.    Teknik Analisis Data

Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif persentase. Membandingkan persentase jumlah kepala sekolah yang dapat membuat EDS dan membandingkannya dengan indicator keberhasilan.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. Suplemen Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah. 2011. Evaluasi Diri Sekolah. Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Nasional.
  2. Permendiknas nomor 12 tahun 2007 tentang standar kompetensi pengawas sekolah.
  3. Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi kepala sekolah
  4. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan

UPAYA MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU DALAM EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA  DI SMP NEGERI 1 RANTAU PEUREULAK

 

 

D

i

s

u

s

u

n

 

o l e h

 

 

 

 

HASBI ABDULLAH, S. Pd

NIP. 19561231 198003 1 078

 

 

 

 

 

 

 

 

DINAS PENDIDIKAN

KABUPATEN ACEH TIMUR

2011

 

DAFTAR ISI

Halaman Judul ………………………………………………………………….. i

Lembar Pengesahan………………………………………………………………………… ii

Daftar Isi……………………………………………………………………………………….. iii

Kata Pengantar………………………………………………………………………………. iv

Daftar Lampiran…………………………………………………………………………….. v

Ringkasan……………………………………………………………………………………… vi

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………. 1

  1. Latar Belakang…………………………………………………………………….. 1
  2. Identifikasi Masalah…………………………………………………………….. 5
  3. Pembatasan Masalah…………………………………………………………….. 6
  4. Rumusan Masalah………………………………………………………………… 6
  5. Pemechan Masalah……………………………………………………………….. 6
  6. Tujuan Penelitian…………………………………………………………………. 7
  7. Manfaat Penelitian……………………………………………………………….. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………….. 10

  1. Pengertian Guru…………………………………………………………………… 10
  2. StandarKompetensiGuru………………………………………………………. 11
  3. RencanaPelaksanaanPembelajaran………………………………………….. 14

BAB III METODE PENELITIAN………………………………………………….. 20

  1. Setting Penelitian…………………………………………………………………. 20
  2. PersiapanPenelitianTindakanSekolah……………………………………… 21
  3. SubjekPenelitian………………………………………………………………….. 21
  4. Sumber data………………………………………………………………………… 21
  5. Teknik Dan AlatPengumpulan Data……………………………………….. 21
  6. ProsedurPenelitian……………………………………………………………….. 22
  7. RencanaPelaksanaan…………………………………………………………….. 25
  8. IndikatorPencapaianHasil……………………………………………………… 26

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN……………………. 28

  1. DeskripsiHasilPenelitian……………………………………………………….. 28
  2. Pembahasan………………………………………………………………………… 31

BAB V Simpulan Dan Saran

  1. Simpulan…………………………………………………………………………….. 37
  2. Saran………………………………………………………………………………….. 37

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….. 39

LAMPIRAN

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

                   Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi Tugas materi penelitian Tindakan Sekolah pada Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah  Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan     ( LPMP ) Provinsi Aceh.

Keberhasilan peningkatan mutu pendidikan, khususnya kualitas pengelolaan kelas sangat ditentukan oleh penguasaan kompetensi secara memadai oleh guru. Untuk meningkatkan kompetensi guru antara lain dapat ditempuh melalui peningkatan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) .

Untuk itulah, maka melalui Diklat Penguatan Kemampuan kepala Sekolah, setiap peserta wajib membuat karya ilmiah dan untuk kepala sekolah diwajibkan melakukan Penelitian Tindakan Sekolah pada saat On the Job Learning.. Untuk melaksanakan kegiatan “Penelitian Tindakan Sekolah”, maka pada pelaksanaannya Kepala Sekolah berkolaborasi dengan guru.

Untuk itu melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Selanjutnya penulis mohon adanya perbaikan atas laporan ini, karena penulis menyadari, bahwa dimungkinkan terdapat sejumlah kekuarangannya, semoga saja laporan penelitian Tindakan Sekolah ini mendapatkan perhatian dan saran yang konstruktif dari berbagai pihak yang berkompeten.

 

 

 

 

 

BAB I. PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Pendidikan merupakan investasi dalam  pengembangan sumber daya manusia dan dipandang sebagai kebutuhan dasar bagi masyarakat yang ingin maju. Komponen-komponen sistem pendidikan yang mencakup sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi dua yaitu:  tenaga kependidikan guru dan non guru . Menurut Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan, ”komponen-komponen sistem pendidikan yang bersifat sumber daya manusia dapat digolongkan menjadi tenaga pendidik dan pengelola satuan pendidikan ( penilik, pengawas, peneliti dan pengembang pendidikan ).” Tenaga gurulah yang mendapatkan perhatian lebih banyak di antara komponen-komponen sistem pendidikan. Besarnya perhatian terhadap guru antara lain dapat dilihat dari banyaknya kebijakan khusus seperti kenaikan tunjangan fungsional guru dan sertifikasi guru.

Usaha-usaha  untuk mempersiapkan guru menjadi profesional telah banyak dilakukan. Kenyataan menunjukkan bahwa tidak semua guru memiliki kinerja yang baik dalam melaksanakan tugasnya. “Hal itu ditunjukkan dengan kenyataan (1) guru sering mengeluh kurikulum yang berubah-ubah, (2) guru sering mengeluhkan kurikulum yang syarat dengan beban, (3) seringnya siswa mengeluh dengan cara mengajar guru yang kurang menarik, (4) masih belum dapat dijaminnya kualitas pendidikan sebagai mana mestinya” (Imron, 2000:5).

Berdasarkan kenyataan begitu berat dan kompleksnya tugas serta peran guru tersebut, perlu diadakan supervisi atau pembinaan terhadap guru secara terus menerus untuk meningkatkan kinerjanya. Kinerja guru perlu ditingkatkan agar usaha membimbing siswa untuk belajar dapat berkembang.

”Proses pengembangan kinerja guru terbentuk dan terjadi dalam kegiatan belajar mengajar di tempat mereka bekerja. Selain itu kinerja guru dipengaruhi oleh hasil pembinaan dan supervisi kepala sekolah” (Pidarta, 1992:3). Pada  pelaksanaan KTSP menuntut kemampuan baru pada guru untuk dapat mengelola proses pembelajaran secara  efektif dan efisien.  Tingkat produktivitas sekolah dalam memberikan pelayanan-pelayanan secara efisien kepada pengguna ( peserta didik, masyarakat ) akan sangat tergantung pada kualitas gurunya yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran dan  keefektifan mereka dalam melaksanakan tanggung jawab individual dan kelompok.

Direktorat Pembinaan SMA (2008:3) menyatakan ”kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan sekolah dalam mengelola proses pembelajaran, dan lebih khusus lagi adalah proses pembelajaran yang terjadi di kelas, mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan konsekuensinya, adalah guru harus mempersiapkan (merencanakan ) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif”.

Hal ini berarti bahwa guru sebagai fasilitator yang mengelola proses pembelajaran di kelas mempunyai andil dalam menentukan kualitas pendidikan. Konsekuensinya adalah guru harus mempersiapkan ( merencanakan) segala sesuatu agar proses pembelajaran di kelas berjalan dengan efektif.

Perencanaan pembelajaran merupakan langkah yang sangat penting sebelum pelaksanaan pembelajaran. Perencanaan yang matang diperlukan supaya pelaksanaan pembelajaran  berjalan secara efektif. Perencanaan pembelajaran dituangkan ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau beberapa istilah lain seperti desain pembelajaran, skenario pembelajaran. RPP memuat KD, indikator yang akan dicapai, materi yang akan dipelajari, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar serta penilaian.

Guru harus mampu berperan sebagai desainer (perencana), implementor (pelaksana), dan evaluator (penilai) kegiatan pembelajaran. Guru merupakan faktor yang paling dominan karena di tangan gurulah keberhasilan pembelajaran dapat dicapai. Kualitas mengajar guru secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran pada umumnya. Seorang guru dikatakan profesional apabila  (1) serius melaksanakan tugas profesinya, (2) bangga   dengan  tugas  profesinya, ( 3) selalu menjaga dan berupaya meningkatkan kompetensinya, (4) bekerja dengan  sungguh  tanpa  harus  diawasi,  (5)  menjaga   nama  baik   profesinya, (6) bersyukur atas imbalan yang diperoleh dari profesinya.

Peraturan Pemerintah Nomor 19  Tahun 2005 tentang 8 Standar Nasional Pendidikan menyatakan   standar  proses merupakan salah satu SNP untuk satuan pendidikan dasar dan menengah yang mencakup: 1) Perencanaan proses pembelajaran, 2) Pelaksanaan proses pembelajaran, 3) Penilaian hasil pembelajaran, 4) dan pengawasan proses pembelajaran. Perencanaan pembelajaran meliputi Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Silabus dan RPP dikembangkan oleh guru  pada satuan pendidikan . Guru pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun Silabus dan RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,  dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Masalah yang terjadi di lapangan masih ditemukan adanya guru (baik di sekolah negeri maupun swasta) yang tidak bisa memperlihatkan  RPP yang dibuat dengan alasan ketinggalan di rumah dan bagi guru yang sudah  membuat RPP masih ditemukan adanya guru yang belum melengkapi komponen tujuan pembelajaran dan penilaian (soal, skor dan kunci jawaban), serta langkah-langkah kegiatan pembelajarannya masih dangkal. Soal, skor, dan kunci jawaban merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.  Pada  komponen  penilaian ( penskoran dan kunci jawaban) sebagian besar guru tidak lengkap membuatnya dengan alasan sudah tahu dan ada di kepala. Sedangkan pada komponen tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, dan sumber belajar sebagian besar guru sudah  membuatnya. Masalah yang lain yaitu sebagian besar guru khususnya di sekolah swasta belum mendapatkan pelatihan pengembangan RPP. Selama ini guru-guru yang mengajar di sekolah swasta sedikit/jarang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti berbagai Diklat Peningkatan Profesionalisme Guru dibandingkan sekolah negeri. Hal ini menyebabkan banyak guru yang belum tahu dan memahami penyusunan/pembuatan RPP secara baik/lengkap. Beberapa guru mengadopsi RPP orang lain. Hal ini  peneliti ketahui pada saat  mengadakan supervisi akademik (supervisi kunjungan kelas) ke sekolah binaan. Permasalahan tersebut berpengaruh besar terhadap pelaksanaan proses pembelajaran.

Dengan keadaan demikian, peneliti sebagai pembina sekolah  berusaha untuk memberi bimbingan berkelanjutan pada guru dalam menyusun RPP secara lengkap sesuai dengan tuntutan pada standar proses dan standar penilaian yang merupakan bagian dari standar nasional pendidikan. Hal itu juga sesuai dengan Tupoksi peneliti sebagai pengawas sekolah  berdasarkan Permendiknas No.12  Tahun  2007  tentang enam standar kompetensi pengawas sekolah yang salah satunya adalah supervisi akademik yaitu membina guru.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran harus dibuat agar kegiatan pembelajaran berjalan sistematis dan mencapai tujuan pembelajaran. Tanpa Rencana Pelaksanaan   Pembelajaran, biasanya pembelajaran menjadi tidak terarah. Oleh karena itu, guru harus mampu menyusun RPP dengan lengkap berdasarkan silabus yang disusunnya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sangat penting bagi seorang guru  karena merupakan acuan dalam melaksanakan proses pembelajaran.

B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah-masalah yang muncul dapat diidentifikasikan sebagai berikut.

1. Guru banyak yang belum paham dan termotivasi dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.

2. Sebagian besar guru belum mendapatkan pelatihan pengembangan KTSP.

3. Ada guru yang tidak bisa memperlihatkan RPP yang dibuatnya dengan berbagai alasan.

4. RPP yang dibuat guru komponennya belum lengkap/ tajam khususnya pada komponen langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.

5. Guru banyak yang mengadopsi RPP orang lain.

C.  Pembatasan Masalah

Dari lima masalah yang diidentifikasikan di atas, masalahnya dibatasi menjadi:

1. Guru belum paham dalam menyusun RPP.                                                             2. RPP yang dibuat guru belum lengkap.

D.  Perumusan Masalah

Berdasarkan  latar belakang, identifikasi, dan pembatasan masalah di atas, diajukan   rumusan masalah sebagai berikut.

Apakah  dengan  bimbingan  berkelanjutan akan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP ?

E.  Pemecahan Masalah/Tindakan

1.  Peneliti mencoba untuk mengambil tindakan dengan memberi penjelasan dan bimbingan berkelanjutan  serta  arahan kepada  guru tentang pentingnya seorang guru membuat RPP secara lengkap. Dengan bimbingan berkelanjutan diharapkan guru termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap dan dapat digunakan sebagai acuan atau panduan dalam mengajar, agar SK dan KD yang terdapat dalam standar isi  dapat tersampaikan semua karena sudah ada dalam RPP yang dibuat oleh guru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada siklus pertama.

2. Peneliti mencoba untuk melihat proses peningkatan kemampuan guru dalam menyusun  RPP melalui instrument proses yang telah dirancang yaitu  berupa lembar observasi/pengamatan komponen RPP yang memuat sebelas komponen yaitu: 1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6)  materi ajar, 7) alokasi waktu, 8)  metode pembelajaran, 9) kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar dan 11) penilaian hasil belajar ( soal, skor dan kunci jawaban ), untuk melihat apakah guru sudah membuat RPP dengan lengkap. Hal itu nanti akan dibuktikan dengan melihat  RPP  yang dibuat oleh guru. Terjadi peningkatan atau tidak pada siklus ke-2.

F.  Tujuan Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melalui bimbingan berkelanjutan di sekolah SMP Negeri 1 Ranto Peureulek.

G.  Manfaat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) ini diharapkan dapat memberikan manfaat :

  1. Manfaat bagi peneliti

a.  Meningkatkan kemampuan profesionalisme peneliti untuk melakukan penelitian tindakan sekolah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi di sekolah binaan peneliti.

  1. Meningkatkan kemampuan peneliti  dalam menyusun serta menulis   laporan dan artikel ilmiah.
  2. Sebagai motivasi bagi peneliti  dalam  membuat  karya  tulis  ilmiah.
    1. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh peneliti  sebagai syarat untuk kenaikan  golongan ke- IV b.
    2. Dengan adanya pengalaman menulis, dapat memberikan bimbingan kepada teman-teman pengawas  dan guru yang akan menulis.
    3. Hasil penelitian ini digunakan peneliti sebagai evaluasi terhadap guru dalam menyusun RPP yang selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pembinaan kepada guru di sekolah binaan.
    4. Manfaat bagi sekolah

a. Akan berdampak adanya peningkatan administrasi guru pada KBM yang lebih lengkap.

b.   Dapat meningkatkan  kualitas   pendidikan  karena Standar  Kompetensi  dan  Kompetensi  Dasar   sudah tersampaikan.

  1. Manfaat bagi guru

a. Dapat meningkatkan kompetensi dalam membuat RPP dengan lengkap  serta menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan tugasnya.

b.  Sebagai panduan dan arahan dalam mengajar  sehingga apa yang diinginkan dalam standar isi dapat tersampaikan.

  1. Manfaat bagi siswa

a.  Adanya kesiapan belajar,  keseriusan , keingintahuan,  dan  semangaat belajar tinggi terhadap pelajaran.

b. Siswa lebih percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran sehingga   tercapai target kompetensinya.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.        Pengertian  Guru

Secara etimologi ( asal usul kata), istilah ”Guru” berasal dari bahasa India yang   artinya ”  orang   yang   mengajarkan   tentang  kelepasan   dari   sengsara”  Shambuan, Republika, ( dalam Suparlan 2005:11).

Kemudian Rabindranath Tagore (dalam Suparlan 2005:11) menggunakan istilah Shanti Niketan atau rumah damai untuk tempat para guru mengamalkan tugas mulianya membangun spiritualitas anak-anak bangsa di India ( spiritual intelligence).

Pengertian guru kemudian menjadi semakin luas, tidak hanya terbatas dalam kegiatan keilmuan yang bersifat kecerdasan spiritual (spiritual intelligence) dan kecerdasan intelektual (intellectual intelligence), tetapi juga menyangkut kecerdasan kinestetik  jasmaniah (bodily kinesthetic), seperti guru tari, guru olah raga, guru senam dan guru musik. Dengan demikian, guru dapat diartikan sebagai orang yang tugasnya terkait dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dalam semua aspeknya, baik spiritual dan emosional, intelektual, fisikal, maupun aspek lainnya.

Poerwadarminta ( dalam Suparlan 2005:13)  menyatakan, “guru adalah orang yang kerjanya mengajar.” Dengan definisi ini, guru disamakan dengan pengajar. Pengertian guru ini hanya menyebutkan satu sisi yaitu sebagai pengajar, tidak termasuk pengertian guru sebagai pendidik dan pelatih. Selanjutnya  Zakiyah Daradjat (dalam Suparlan  2005:13) menyatakan,” guru adalah pendidik profesional karena guru telah menerima dan memikul beban dari orang tua untuk ikut mendidik anak-anak.”

UU Guru dan Dosen Republik Indonesia No.14 Tahun 2005 ”Guru adalah pendidik  profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.

Selanjutnya UU No.20 Tahun 2003 pasal 39 ayat 2 tentang sistem pendidikan nasional  menyatakan, ”pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan  dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukanpenelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi.”

PP  No.19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan, ”pendidik (guru) harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”

Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa guru adalah tenaga pendidik yang profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik, dan bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran.

B.  Standar Kompetensi Guru

      1. Pengertian Standar Kompetensi Guru

                   Depdiknas (2004:4) kompetensi diartikan, ”sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak” . “Secara sederhana kompetensi diartikan seperangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan yang harus dikuasai dan dimiliki seseorang dalam rangka melaksanakan tugas pokok, fungsi dan tanggung jawab pekerjaan dan/atau jabatan yang disandangnya” (Nana Sudjana 2009:1).

Nurhadi (2004:15) menyatakan, “kompetensi merupakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak”. Selanjutnya menurut para ahli pendidikan McAshan (dalam Nurhadi 2004:16) menyatakan, ”kompetensi diartikan Sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang sebagai pengetahuan,

keterampilan, dan kemampuan yang dikuasai seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya, sehingga dapat melakukan perilaku-perilaku koqnitif, afektif, dan psikomotor dengan sebaik-baiknya.”

Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak (Dalam Suparlan). Arti lain dari kompetensi adalah spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dimiliki seseorang serta penerapannya di dalam pekerjaan, sesuai dengan standar kinerja yang dibutuhkan oleh lapangan.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan kompetensi adalah sebagai suatu kecakapan untuk melakukan sesuatu pekerjaan berkat pengetahuan, keterampilan ataupun keahlian yang dimiliki untuk melaksanakan suatu pekerjaan.

Undang-Undang Guru dan Dosan No.14 Tahun 2005 Pasal 8 menyatakan, ” guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”  Dari rumusan di atas jelas disebutkan pemilikan kompetensi oleh setiap guru merupakan syarat yang mutlak harus dipenuhi oleh guru. Dengan demikian, kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru yang sebenarnya.

Selanjutnya Pasal 10 menyebutkan empat kompetensi yang harus dimiliki oleh  guru  yakni  (1)  kompetensi   pedagogik, (2) kompetensi  kepribadian, (3) kompetensi sosial, dan (4) kompetensi profesional.  Kompetensi  tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan fungsi sebagai guru.

Berdasarkan beberapa definisi  di atas dapat disimpulkan  standar Kompetensi guru adalah suatu pernyataan tentang kriteria yang dipersyaratkan, ditetapkan dalam bentuk  penguasaan perangkat kemampuan yang meliputi pengetahuan, sikap, nilai dan keterampilan bagi seorang tenaga kependidikan sehingga layak disebut kompeten. Standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen  yang  kait- mengait,   yakni:  1)  pengelolaan  pembelajaran, 2)    pengembangan  profesi,  dan   3) penguasaan akademik. Komponen pertama terdiri atas empat kompetensi, komponen kedua memiliki satu kompetensi, dan komponen ketiga memiliki dua kompetensi. Dengan demikian, ketiga komponen tersebut    secara      keseluruhan   meliputi   tujuh  kompetensi dasar, yaitu:  1)    penyusunan   rencana pembelajaran,  2) pelaksanaan  interaksi belajar mengajar, 3) penilaian prestasi belajar peserta didik, 4) pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik,  5) pengembangan   profesi,  6)   pemahaman  wawasan      kependidikan,  dan     7) penguasaan bahan kajian akademik ( sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan).

Abdurrahman Mas’ud (dalam Suparlan 2005:99) menyebutkan tiga kompetensi dasar yang   harus   dimiliki  guru,  yakni:  (1) menguasai materi atau bahan  ajar,  (2) antusiasme, dan ( 3) penuh kasih sayang (loving) dalam mengajar dan mendidik.

2. Tujuan dan Manfaat Standar Kompetensi Guru

Depdiknas (2004: 4) tujuan  adanya Standar Kompetensi Guru adalah sebagai jaminan dikuasainya tingkat kompetensi minimal oleh guru sehingga yang bersangkutan dapat melakukan tugasnya secara profesional, dapat dibina secara efektif dan efisien serta dapat melayani pihak yang berkepentingan terhadap proses pembelajaran, dengan sebaik-baiknya sesuai bidang tugasnya. Adapun manfaat disusunnya standar kompetensi guru adalah sebagai acuan pelaksanaan uji kompetensi, penyelenggaraan diklat, dan pembinaan, maupun acuan bagi pihak yang berkepentingan terhadap kompetensi guru untuk melakukan evaluasi, pengembangan bahan ajar dan sebagainya bagi tenaga kependidikan.

C.  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

1.  Pengertian Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan RPP. Silabus merupakan sebagian sub-sistem pembelajaran yang terdiri dari atau yang satu sama yang lain saling berhubungan dalam rangka mencapai tujuan. Hal penting yang berkaitan dengan pembelajaran adalah penjabaran tujuan yang disusun berdasarkan indikator yang ditetapkan.

Philip Combs ( dalam Kurniawati, 2009:66 ) menyatakan bahwa perencanaan program pembelajaran merupakan suatu penetapan yang memuat komponen-komponen pembelajaran secara sistematis. Analisis sistematis merupakan proses perkembangan pendidikan yang akan mencapai tujuan pendidikan agar lebih efektif dan efisien disusun secara logis, rasional, sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah (masyarakat). Perencanaan program pembelajaran adalah hasil pemikiran, berupa keputusan yang akan dilaksanakan . Selanjutnya   Oemar Hakim (dalam Kurniawati 2009:74) menyatakan, ”bahwa  perencanaan program pembelajaran pada hakekatnya merupakan perencanaan program jangka pendek untuk memperkirakan suatu proyeksi  tentang sesuatu yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran”.

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan, “Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus.”

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan  pembelajaran adalah suatu upaya menyusun perencanaan pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam kurikulum sesuai dengan kebutuhan siswa, sekolah, dan daerah.

Dalam KTSP, guru bersama warga sekolah berupaya menyusun kurikulum dan perencanaan program pembelajaran, meliputi:program tahunan,program semester, silabus, dan rencana peleksanaan pembelajaran. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar. RPP merupakan acuan guru dalam melaksanakan pembelajaran untuk setiapKD. Oleh karena itu, apa yang tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkaitan dengan aktivitas pembelajaran dalam upaya pencapaian penguasaan suatu KD.

       2.  Komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007, komponen RPP terdiri dari a). identitas   mata   pelajaran,  (b)  standar  kompetensi,  (c)  kompetensi dasar, (d) indikator  pencapaian  kompetensi,  (e) tujuan pembelajaran, (f) materi ajar, (g) alokasi waktu , (h) metode pembelajaran, (i) kegiatan pembelajaran meliputi: pendahuluan, inti, penutup. (j) sumber belajar, (k) penilaian hasil belajar meliputi:  soal, skor dan kunci jawaban.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19  (2005 pasal 20) menyatakan bahwa,   ”RPP  minimal memuat sekurang-kurangnya lima komponen yang meliputi:  (1) tujuan pembelajaran, (2) materi ajar, (3) metode pengajaran, (4) sumber belajar, dan (5) penilaian hasil belajar.”

3.  Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP

Permendiknas No. 41 Tahun 2007 menyatakan  dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:  a) memperhatikan perbedaan individu   peserta    didik,  b)   mendorong      partisipasi    aktif peserta  didik, c) mengembangkan budaya membaca dan menulis, d) memberikan umpan balik dan tindak lanjut, e) keterkaitan dan keterpaduan, f) menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP .

4. Langkah- langkah Menyusun RPP

Langkah-langkah   menyusun   RPP  adalah a)   mengisi   kolom   identitas, b) Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan, c) Menentukan SK, KD, dan indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun, d) Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD dan indikator yang telah ditentukan, e) mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus, materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran, f) menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, g) merumuskan langkah-langkah yang terdiri dari kegiatan awal, inti dan akhir. h) menentukan alat/bahan/sumber belajar yang digunakan, i) menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran dan kunci jawaban

       5. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Menyusun RPP

Dalam penyusunan RPP perlu memperhatikan hal sebagai berikut: (a) RPP disusun untuk setiap KD yang dapat dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau  lebih, b) tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang harus di capai oleh peserta didik sesuai dengan  kompetenrsi  dasar, c) tujuan pembelajaran dapat mencakupi sejumlah indikator, atau satu tujuan pembelajaran untuk beberapa indikator, yang penting tujuan pembelajaran harus mengacu pada pencapaian indikator,  d) Kegiatan pembelajaran (langkah-langkah pembelajaran) dibuat setiap pertemuan, bila dalam satu RPP terdapat 3 kali pertemuan, maka dalam RPP tersebut terdapat 3 langkah pembelajaran, e). Bila terdapat lebih dari satu pertemuan untuk indikator yang sama, tidak perlu dibuatkan langkah kegiatan yang lengkap untuk setiap pertemuannya.

D.  Bimbingan Berkelanjutan

 1. Pengertian Bimbingan dan berkelanjutan

Frank Parson. 1951 (dalam RM Fatihah  http://eko13.wordpress.com) menyatakan, “bimbingan sebagai bantuan yang diberikan kepada individu untuk dapat memilih, mempersiapkan diri dan memangku suatu jabatan dan mendapat kemajuan dalam jabatan yang dipilihnya.” Chiskon 1959 (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com ) menyatakan,  “bimbingan membantu individu untuk lebih mengenal berbagai informasi tentang dirinya sendiri.”

Berikutnya  Bernard dan Fullmer 1969  (dalam RM Fatihah http://eko13.wordpress.com ) menyatakan,  ”bahwa bimbingan dilakukan untuk meningkatkan perwujudan diri individu.” Dapat dipahami bahwa bimbingan membantu individu untuk mengaktualisasikan diri dengan lingkungannya. Menurut Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, ”bimbingan  adalah  petunjuk  penjelasan cara mengerjakan sesuatu, tuntutan.”

Dari beberapa pengertian bimbingan di atas, dapat ditarik kesimpulan  bahwa bimbingan adalah pemberian bantuan kepada individu secara  berkelanjutan dan sistematis yang dilakukan oleh seorang ahli yang telah mendapat latihan khusus untuk itu,dimaksudkan agar individu dapat memahami dirinya, lingkungannya, serta dapat mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal untuk kesejahteraan dirinya dan kesejahteraan masyarakat. Menurut Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua,  ”berkelanjutan adalah  berlangsung terus menerus, berkesinambungan.”

Berdasarkan pengertian bimbingan dan  berkelanjutan dapat ditarik suatu kesimpulan  bahwa bimbingan berkelanjutan    adalah  pemberian bantuan  yang diberikan seorang ahli kepada seseorang atau individu secara berkelanjutan berlangsung secara terus menerus untuk dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal dan mendapat kemajuan dalam bekerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Setting Penelitian

Setting  dalam  penelitian  ini  meliputi:  tempat penelitian,  waktu penelitian , jadwal penelitian, dan siklus PTS sebagai berikut :

      1. Tempat Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah  dilaksanakan di salah satu  sekolah binaan  berstatus swasta yaitu SMP Tunas Harapan Sebawi.

Pemilihan   sekolah    tersebut   bertujuan  untuk  meningkatkan    kompetensi   guru   dalam  menyusun  rencana  perlaksanaan  pembelajaran (RPP)   dengan lengkap.

       2.Waktu Penelitian

PTS  ini  dilaksanakan  pada   semester  satu  tahun   2010  selama kurang lebih satu setengah bulan  mulai Agustus sampai dengan Oktober 2010.

       3. Jadwal Pelaksanaan Penelitian                                                                    Jadwal pelaksanaan  penelitian seperti pada tabel berikut.

No.

Kegiatan

Waktu

 1. Membuat proposal ………………………. Agustus 2010
2. Merevisi proposal ………………………..Agustus 2010
 3. Melaksanakan PTS ……………………….. September 2010
 4. Membuat laporan PTS …………………………….  2010
 5. Mempresentasikan hasil PTS ……………………………… 2010

4. Siklus Penelitian

Penelitian Tindakan Sekolah  dilaksanakan melalui dua  siklus  untuk melihat peningkatan kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran      (RPP ).

 

 

 

B.  Persiapan Penelitian Tindakan Sekolah

Sebelum PTS dilaksanakan, dibuat berbagai input  instrument  yang  digunakan   untuk  mendapatkan data dan informasi.

C.  Subjek Penelitian

Yang menjadi subyek dalam PTS ini adalah  guru SD Negeri Sungai Pauh Kota Langsa

D.  Sumber Data

Sumber data dalam PTS ini adalah  rencana pelaksanaan pembelajaran yang  sudah  dibuat guru.

E.  Teknik dan Alat Pengumpulan Data

1. Teknik

Teknik  pengumpulan  data dalam penelitian ini  adalah  wawancara,     observasi, dan diskusi.

a.  Wawancara dipergunakan untuk mendapatkan  data atau informasi  tentang  pemahaman guru terhadap  RPP.

b.  Observasi dipergunakan untuk mengumpulkan data dan mengetahui   kompetensi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan lengkap.

c.    Diskusi dilakukan antara peneliti dengan guru.

2.  Alat Pengumpulan Data

Alat pengumpulan data dalam PTS ini sebagai berikut.

a. Wawancara menggunakan panduan wawancara untuk mengetahui kemampuan awal yang dimiliki guru tentang Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b. Observasi menggunakan lembar observasi untuk mengetahui komponen RPP yang telah dibuat dan yang belum dibuat  oleh  guru .

c.  Diskusi dilakukan dengan maksud untuk sharing pendapat antara    peneliti dengan guru.

F.  Prosedur Penelitian

Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Sekolah (School Action Research), yaitu sebuah penelitian yang merupakan kerjasama antara peneliti dan guru,  dalam meningkatkan  kemampuan  guru agar  menjadi  lebih baik dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran .

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat peningkatan yang terjadi dari siklus ke siklus. ”Metode deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan/melukiskan keadaan subjek/objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya (Nawawi, 1985:63). Dengan metode ini peneliti berupaya menjelaskan data yang peneliti kumpulkan melalui komunikasi langsung atau wawancara,   observasi/pengamatan,  dan  diskusi yang berupa persentase atau angka-angka.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kesulitan-kesulitan yang dialami oleh guru  dalam menyusun RPP.  Selanjutnya peneliti memberikan alternatif atau  usaha guna meningkatkan kemampuan guru dalam membuat rencana pelaksanaan pembelajaran.

Hal-hal penting yang harus diperhatikan dalam Penelitian Tindakan Sekolah, menurut  Sudarsono, F.X, (1999:2) yakni:

1. Rencana      : Tindakan apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan  kompetensi guru dalam menyusun RPP secara lengkap. Solusinya yaitu dengan melakukan : a) wawancara dengan guru dengan menyiapkan lembar wawancara, b) Diskusi dalam suasana yang menyenangkan  dan c) memberikan bimbingan  dalam menyusun RPP secara lengkap.

2. Pelaksanaan:    Apa yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun  RPP yang lengkap yaitu dengan memberikan bimbingan berkelanjutan pada guru  sekolah binaan .

3. Observasi:        Peneliti melakukan pengamatan terhadap RPP  yang  telah dibuat    untuk memotret  seberapa jauh kemampuan guru  dalam menyusun  RPP dengan lengkap, hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilaksanakan oleh guru dalam   mencapai sasaran.

Selain itu juga peneliti mencatat hal-hal yang terjadi dalam pertemuan dan wawancara. Rekaman dari pertemuan dan  wawancara akan digunakan untuk analisis dan komentar kemudian.

4. Refleksi:          Peneliti mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang telah dilakukan. Berdasarkan hasil dari refleksi ini, peneliti bersama guru melaksanakan revisi atau perbaikan terhadap RPP yang telah disusun  agar sesuai dengan rencana awal yang mungkin saja masih bisa sesuai dengan yang peneliti inginkan.

Prosedur penelitian adalah suatu rangkaian tahap-tahap penelitian dari awal sampai akhir. Penelitian ini merupakan proses pengkajian sistem berdaur sebagaimana kerangka berpikir yang dikembangkan oleh Suharsimi Arikunto dkk. Prosedur ini mencakup tahap-tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi. Keempat kegiatan tersebut saling terkait dan secara urut membentuk sebuah siklus. Penelitian Tindakan Sekolah merupakan penelitian yang bersiklus, artinya penelitian dilakukan secara berulang dan berkelanjutan sampai tujuan penelitian dapat tercapai.”

Alur PTS dapat dilihat pada Gambar  berikut :

 

Gambar  Alur Penelitian Tindakan Kelas

G.  Rencana Pelaksanaan

Rencana pelaksanaan dilakukan dalam dua siklus yaitu:

1. Siklus Pertama (Siklus I )

a).Peneliti merencanakan tindakan pada siklus I (membuat    format/instrumen wawancara, penilaian RPP, rekapitulasi hasil penyusunan RPP).

b). Peneliti memberi kesempatan kepada guru untuk mengemukakan kesulitan   atau hambatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

b).   Peneliti menjelaskan kepada guru tentang pentingnya RPP dibuat secara lengkap.

c).   Peneliti memberikan bimbingan dalam pengembangan RPP.

d).   Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.

f).   Peneliti melakukan revisi atau perbaikan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lengkap.

e).   Peneliti dan guru melakukan refleksi.

2. Siklus Kedua (Siklus II)

a). Peneiti merencanakan tindakan pada siklus II yang mendasarkan pada revisi/perbaikan pada siklus I, seperti menugasi guru menyusun RPP yang kedua, mengumpulkan, dan melakukan pembimbingan penyusunan RPP.

b). Peneliti melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana pada siklus II.

c). Peneliti melakukan observasi/pengamatan terhadap RPP yang telah dibuat guru.

d). Peneliti melakukan perbaikan atau revisi penyusunan RPP.

d). Peneliti dan guru melakukan refleksi.

H.  Indikator Pencapaian Hasil

Peneliti mengharapkan secara rinci indikator pencapaian hasil paling rendah 78 % guru membuat kesebelas komponen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sebagai berikut.

1.  Komponen identitas mata pelajaran diharapkan ketercapaiannya 100%.

2.  Komponen standar kompetensi diharapkan ketercapaiannya 85%.

3.  Komponen kompetensi dasar diharapkan ketercapaiannya 85%.

4. Komponen indikator pencapaian kompetensi diharapkan ketercapaiannya 75%.

5. Komponen tujuan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 75%.

6.   Komponen materi pembelajaran diharapkan kecercapaian 75%.

7.   Komponen alokasi waktu diharapkan ketercapaiannya 75%.

8.   Komponen metode pembelajaran diharapkan kecercapaiannya 75%.

9. Komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran diharapkan ketercapaiannya 70%.

10.   Komponen sumber belajar diharapkan ketercapaiannya 70%.

11. Komponen penilaian (soal, pedoman penskoran, kunci jawaban)   diharapkan  ketercapaiannya 75%.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

 

  1. A.    Deskripsi Hasil Penelitian

Dari hasil wawancara terhadap delapan orang guru, peneliti memperoleh  informasi bahwa semua guru (delapan orang) belum tahu kerangka penyusunan RPP, hanya sekolah yang memiliki dokumen standar proses (satu buah), hanya dua orang guru yang pernah mengikuti pelatihan pengembangan RPP, umumnya guru mengadopsi dan mengadaptasi RPP, kebanyakan guru tidak tahu dan tidak paham menyusun RPP secara lengkap, mereka setuju bahwa guru harus menggunakan RPP dalam melaksanakan proses pembelajaran yang dapat dijadikan acuan/pedoman dalam proses pembelajaran. Selain itu, kebanyakan guru belum tahu dengan komponen-komponen RPP secara lengkap.

Berdasarkan hasil observasi peneliti terhadap delapan RPP yang dibuat guru (khusus pada siklus I), diperoleh informasi/data bahwa masih ada guru yang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen dan sub-subkomponen RPP tertentu, misalnya komponen indikator dan penilaian hasil belajar (pedoman penskoran dan kunci jawaban). Rumusan kegiatan siswa pada komponen langkah-langkah kegiatan pembelajaran masih kurang tajam, interaktif, inspiratif, menantang, dan sistematis.

Dilihat dari segi kompetensi guru, terjadi peningkatan dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dari siklus ke siklus . Hal itu dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus

(Lampiran  4).

Siklus I (Pertama)

Siklus pertama terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi seperti berikut ini.

1. Perencanaan ( Planning )

  1. Membuat lembar wawancara
  2. Membuat format/instrumen penilaian RPP
  3. Membuat format rekapitulasi hasil penyusunan RPP siklus I dan II
  4. Membuatformatrekapitulasihasilpenyusunan RPP darisikluskesiklus

2. Pelaksanaan (Acting)

Pada saat awal siklus pertama indikator pencapaian hasil dari setiap komponen RPP belum sesuai/tercapai seperti rencana/keinginan peneliti.  Hal itu dibuktikan  dengan masih adanya komponen RPP  yang belum dibuat  oleh guru. Sebelas komponen RPP yakni:  1) identitas mata pelajaran, 2) standar kompetensi, 3) kompetensi dasar, 4) indikator pencapaian kompetensi, 5) tujuan pembelajaran, 6) materi ajar, 7) alokasi waktu, 8) metode pembelajaran, 9) langkah-langkah kegiatan pembelajaran, 10) sumber belajar, 11)  penilaiaan hasil belajar ( soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban). Hasil observasi pada siklus kesatu dapat dideskripsikan berikut ini:

     Observasi dilaksanakan Selasa, ……………. 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang belum melengkapi RPP-nya baik dengan komponen maupun sub-sub komponen RPP tertentu. Satu orang tidak melengkapi RPP-nya dengan komponen indikator pencapaian kompetensi.  Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

-          Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik dan bentuk instrumen.

-          Satu orang tidak melengkapinya dengan teknik, bentuk instumen, soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.

-          Dua orang tidak melengkapinya dengan teknik, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.

-          Satu orang tidak melengkapinya dengan soal, pedoman penskoran, dan kunci jawaban.

-          Satu orang tidak melengkapinya dengan pedoman penskoran dan kunci jawaban.                                                                                                       Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

Siklus II (Kedua)

Siklus keduajuga terdiri dari empat tahap yakni: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, dan (4) refleksi. Hasil observasi pada siklus kedua dapat dideskripsikan berikut ini:

     Observasi dilaksanakan Selasa, 21 September 2010, terhadap delapan orang guru. Semuanya menyusun RPP, tapi masih ada guru yang keliru dalam menentukan kegiatan siswa dalam langkah-langkah kegiatan pembelajaran dan metode pembelajaran, serta tidak memilah/ menguraikan materi pembelajaran dalam sub-sub materi. Untuk komponen penilaian hasil belajar, dapat dikemukakan sebagai berikut.

-          Satu orang keliru dalam menentukan teknik dan bentuk instrumennya.

-          Satu orang keliru dalam menentukan bentuk instrumen berdasarkan teknik penilaian yang dipilih.

-          Dua orang kurang jelas dalam menentukan pedoman penskoran.

-          Satu orang tidak menuliskan rumus perolehan nilai siswa.

Selanjutnya mereka dibimbing dan disarankan untuk melengkapinya.

  1. B.     Pembahasan

Penelitian Tindakan Sekolah dilaksanakan di SMP Tunas Harapan Sebawi Kabupaten Sambas yang merupakan sekolah binaan peneliti berstatus swasta, terdiri atas delapan guru, dan dilaksanakan dalam dua siklus. Kedelapan guru tersebut menunjukkan sikap yang baik dan termotivasi dalam menyusun RPP dengan lengkap. Hal ini peneliti ketahui dari hasil pengamatan pada saat melakukan wawancara dan bimbingan penyusunan RPP.

Selanjutnya dilihat dari kompetensi guru dalam menyusun RPP, terjadi peningkatan dari siklus ke siklus.

  1. 1.      Komponen Identitas Mata Pelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan identitas mata pelajaran). Jika dipersentasekan, 84%. Lima orang guru mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan identitas mata pelajaran dalam RPP-nya. Semuanya mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 100%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

  1. 2.      Komponen Standar Kompetensi

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan standar kompetensi). Jika dipersentasekan, 81%. Masing-masing satu orang guru mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan standar kompetensi dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

  1. 3.      Komponen Kompetensi Dasar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan kompetensi dasar). Jika dipersentasekan, 81%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1, 2, dan 3 (kurang baik, cukup baik, dan baik). Lima orang guru mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan kompetensi dasar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 3 (baik) dan enam orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 94%, terjadi peningkatan 13% dari siklus I.

4.    Komponen Indikator Pencapaian Kompetensi

Pada siklus pertama tujuh orang guru mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan indikator pencapaian kompetensi). Sedangkan satu orang tidak mencantumkan/melengkapinya. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 2 (kurang baik dan cukup baik). Empat orang guru mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan indikator pencapaian kompetensi dalam RPP-nya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

5. Komponen Tujuan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan tujuan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 63%. Satu orang guru mendapat skor 1 (kurang baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan lima orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan tujuan pembelajaran dalam RPP-nya. Lima orang mendapat skor 3 (baik) dan tiga orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 84%, terjadi peningkatan 21% dari siklus I.

6.    Komponen Materi Ajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan materi ajar). Jika dipersentasekan, 66%. Satu orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan 4 (kurang baik dan sangat baik), dua orang mendapat skor 2 (cukup baik),  dan empat orang mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan materi ajar dalam RPP-nya. Enam orang mendapat skor 3 (baik) dan dua orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 81%, terjadi peningkatan 15% dari siklus I.

7.    Komponen Alokasi Waktu

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan alokasi waktu). Semuanya mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 75%. Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan alokasi waktu dalam RPP-nya. Tiga orang mendapat skor 3 (baik) dan lima orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 91%, terjadi peningkatan 16% dari siklus I.

8.    Komponen Metode Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan metode pembelajaran). Jika dipersentasekan, 72%. Dua orang guru mendapat skor 2 (cukup baik),  lima orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan metode pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik), enam orang mendapat skor 3 (baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik).  Jika dipersentasekan, 75%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

  1. 9.      Komponen Langkah-Langkah Kegiatan Pembelajaran

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan langkah-langkah kegiatan pembelajaran). Jika dipersentasekan, 53%. Tujuh orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan satu orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dalam RPP-nya. Satu orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan tujuh orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 72%, terjadi peningkatan 19% dari siklus I.

10.  Komponen Sumber Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya (melengkapi RPP-nya dengan sumber belajar). Jika dipersentasekan, 66%. Tiga orang guru mendapat skor 2 (cukup baik), sedangkan lima orang  mendapat skor 3 (baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan sumber belajar dalam RPP-nya. Dua orang mendapat skor 2 (cukup baik) dan enam orang mendapat skor 3 (baik). Jika dipersentasekan, 69%, terjadi peningkatan 3% dari siklus I.

 

 

Penilaian Hasil Belajar

Pada siklus pertama semua guru (delapan orang) mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun sub-sub komponennya (teknik, bentuk instrumen, soal), pedoman penskoran, dan kunci jawabannya kurang lengkap. Jika dipersentasekan, 56%. Dua orang guru masing-masing mendapat skor 1 dan  3 (kurang baik dan baik), tiga orang  mendapat skor 2 (cukup baik), dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Pada siklus kedua kedelapan guru tersebut mencantumkan penilaian hasil belajar dalam RPP-nya meskipun ada guru yang masih keliru dalam menentukan teknik dan bentuk penilaiannya. Tujuh orang mendapat skor 3 (baik) dan satu orang mendapat skor 4 (sangat baik). Jika dipersentasekan, 78%, terjadi peningkatan 22% dari siklus I.

Berdasarkan pembahasan di atas terjadi peningkatan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69%,  pada siklus II nilai rata-rata komponen RPP 83%, terjadi peningkatan 14%.

Untuk mengetahui lebih jelas peningkatan setiap komponen RPP, dapat dilihat pada lampiran Rekapitulasi Hasil Penyusunan RPP dari Siklus ke Siklus SMP Tunas Harapan Sebawi (Lampiran  4).

 

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.      Kesimpulan

Berdasarkan hasil Penelitian Tinadakan Sekolah (PTS) dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1.  Bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan motivasi guru dalam menyusun RPP dengan lengkap. Guru menunjukkan keseriusan dalam memahami dan menyusun RPP apalagi setelah mendapatkan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP dari peneliti. Informasi ini peneliti peroleh dari hasil pengamatan pada saat mengadakan wawancara dan bimbingan pengembangan/penyusunan RPP kepada para guru.
  2. Bimbingan berkelanjutan dapat meningkatkan kompetensi guru dalam menyusun RPP. Hal itu dapat dibuktikan  dari hasil observasi /pengamatan yang memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan  kompetensi guru dalam menyusun  RPP dari siklus ke siklus . Pada siklus I nilai rata-rata komponen RPP 69% dan pada siklus II 83%. Jadi, terjadi peningkatan 14% dari siklus I.
  3. B.     Saran

Telah terbukti bahwa dengan  bimbingan berkelanjutan  dapat meningkatkan  motivasi  dan  kompetensi guru dalam menyusun RPP. Oleh karena itu, peneliti menyampaikan beberapa saran sebagai berikut.

  1. Motivasi yang sudah tertanam khususnya dalam penyusunan RPP hendaknya terus dipertahankan dan ditingkatkan/ dikembangkan .
  2. RPP yang disusun/dibuat hendaknya mengandung komponen-komponen RPP secara lengkap dan baik karena RPP merupakan acuan/pedoman dalam melaksanakan pembelajaran.
  3. Dokumen  RPP hendaknya dibuat  minimal dua rangkap, satu untuk arsip sekolah dan satunya lagi untuk pegangan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiyah. 1980. Kepribadian Guru. Jakarta: Bulan Bintang.

Dewi, Kurniawati Eni . 2009. Pengembangan Bahan Ajar Bahasa Dan SastraIndonesia Dengan Pendekatan Tematis. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.

 

Depdiknas. 2003. UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Jakarta:  Depdiknas.

2004. Standar Kompetensi Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Depdiknas.

2005. UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta:  Depdiknas.

2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

2007. Permendiknas RI No. 41 Tahun 2007a tentang Standar Proses. Jakarta: Depdiknas.

2007. Permendiknas RI No. 12 Tahun 2007b tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah. Jakarata: Depdiknas.

2008. Perangkat Pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan PembelajaranSMA. Jakarta.

2008. Alat  Penilaian  Kemampuan  Guru. Jakarta:  Depdiknas.

2009. PetunjukTeknis Pembuatan Laporan Penelitian Tindakan Sekolah Sebagai Karya Tulis Ilmiah Dalam Kegiatan Pengembangan Profesi Pengawas Sekolah. Jakarta.

 

Fatihah, RM . 2008. Pengertian konseling (Http://eko13.wordpress.com, diakses 19 Maret 2009).

Imron, Ali. 2000.  Pembinaan Guru Di Indonesia. Malang: Pustaka Jaya.

Kemendiknas. 2010. Penelitian Tindakan Sekolah. Jakarta.

2010. Supervisi Akademik. Jakarta.

Kumaidi. 2008. Sistem Sertifikasi (http://massofa.wordpress.com diakses 10 Agustus 2009).

Nawawi, Hadari. 1985. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Pidarta, Made . 1992. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Sudjana, Nana. 2009. Standar Kompetensi Pengawas Dimensi dan Indikator. Jakarta: Binamitra Publishing.

Suharjono. 2003. Menyusun Usulan Penelitian. Jakarta: Makalah Disajikan

pada Kegiatan Pelatihan Tehnis Tenaga Fungsional Pengawas.

Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

2006. Guru Sebagai Profesi. Yogyakarta: Hikayat Publishing.

Tim Redaksi Kamus Besar Bahasa Indonesia. Edisi kedua

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Erman Suherman, (2009). Model-model Pembelajaran

http ://re-searchengines.com/1207trimo1.html Penelitian Tindakan Sekolah

Iim Waliman, dkk. 2001. Supervisi Klinis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Bandung : Dinas

__________Pendidikan Provinsi Jawa Barat

S Syaodih Nana, (2006). Pengendalian Mutu Pendidikan Sekolah Menengah(konsep,prinsif,

_______  dan instrumen). Bandung : Aditama.

Sudrajat Akhmad. Pendekatan Pembelajaran

Udin Winataputra,( 1994,34), Model pembelajaran

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan ________Nasional.

Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Peraturan Pemerintah Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan ________Dasar dan Menengah.

Piet, A. Sahertian. Frans Mataheru, Prinsip Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya, Usaha ________Nasional, 1981

 

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENERAPKAN METODE PEMBELAJARAN MELALUI PELATIHAN DI SEKOLAH SMA PLUS NURUL ULUM

KABUPATEN ACEH TIMUR

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan penguatan kepala sekolah dan pengawas di P4TK Medan Sumatera Utara

Oleh :

Dra. CUT NURBAITI

NIP. 19640612 199003 2 004

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR

DINAS PENDIDIKAN

SMA PLUS NURUL ULUM

2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan usaha untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Upaya peningkatan kemampuan guru Matematika dalam menerapkan metode pembelajaran merupakan salah satu dalam pembangunan pendidikan nasional.

Keberhasilan porses pembelajaran ditentukan oleh banyak hal, antara lain media pembelajaran yang tepat, penggunaan model pendekatan dan metode yagn efektif serta kesiapan guru dalam mengajar dan partisipasi peserta didik yang aktif.

Dengan adanya peningkatan kemmapuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran, diharapkan hasil nilai pembelajaran akan meningkat dan siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan guru matematika.

  1. B.      Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
  2. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
  1. C.      Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
  2. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
  1. D.     Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini dilaksanakan, diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Bagi Siswa;
  • Untuk meningkatkan prestasi belajar dengan metode jig-saw
  • Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika
  • Menjadikan matematika sebagai pelajaran yang disenangi oleh semua siswa.
  1. Bagi guru
  • Masukan bagi guru untuk memilih metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran
  • Membangkitkan kreatifitas guru untuk menciptakan suasana belajar yang melibatkan siswa
  1. Bagi Sekolah;
  • Dengan meningkatnya prestasi siswa akan meningkatkan mutu sekolah


 

BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

 

  1. A.     Kajian Teoritis dan penelitian yang relevan
  2. Pengertian Belajar

Pengertian belajar dapat diartikan bermacam-macam, hal ini disebabkan adanya sudut pandang yang berbeda.

  1. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh guru melalui peningkatan mutu siswa.

  1. Motivasi

Motivasi dalambelajar adalah factor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong guru untuk menggunakan metode yang efektif dalam pembelajaran sehingga siswa dapat dengan mudah memahami dan menyenangi materi matematika

  1. B.      Kerangka Berpikir

      Berdasarkan kajian teoritis dan penelitian yang relevan, peneliti meyakin bahwa melalui pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru matematika dalam menerapkan metode pembelajaran di SMA Plus Nurul Ulum.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

 

  1. A.     Subyek, lokasi dan waktu penelitian

Subyek penelitian ini adalah tiga orang guru matematika. Tempat pelaksanaan penelitian di SMA Plus Nurul Ulum Kabupaten Aceh Timur. SMA Plus Nurul Ulum terletak pada Km. 394 Jalan Banda Aceh Medan. Sekolah ini didirikan pada tahun 2004. Penelitian direncanakan selama dua bulan, mulai bulan juni sampai dengan juli 2011.

  1. B.      Prosedur penelitian

      Penelitian akan dilakukan dalam 2 siklus. Tiap siklus akan terdiri dari tahapan-tahapan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi, dan refleksi.

Indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila:

  1. Semua guru matematika 100% (3 orang) dapat menerapkan model jig-saw dalam pembelajaran dengan baik.
  2. Ada 85% peserta didik senang terhadap pelajaran matematika.
  1. C.      Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi dan pedoman wawancara

  1. D.     Teknik Analisis Data

Data dianalisis menggunakan analisis dekriptif kualitatif. Membandingkan peningkatan kemampuan guru antar siklus dan juga dengan indikator keberhasilan.

DAFTAR PUSTAKA

Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi

Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi Kepala Sekolah

 

KATA PENGANTAR

                Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan bermacam-macam nikmat, sehingga sampai detik ini kita masih dapat melakukan aktivitas kehidupan sebagaiamana biasa, tidak kurang suatu apapun. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah memperjuangkan tegaknya risalah Islam di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, khususnya umat islam.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada panitia pelaksana, yang telah mengundang kami hadir pada pelatihan yang cukup penting ini. Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada semua fasilitator yang telah membimbing kami tanpa lelah, sehingga semua kewajiban yang dibebankann pada peneliti dapat dilaksanakan sesuai intruksi dan arahan-arahan fasilitator.

Tanpa mengurangi rasa hormat, peneliti juga menyampaikan terima kasih mendalam untuk teman-teman peserta  pelatihan, yang sudi menjadi mitra belajar peneliti di P4TK ini. Segala bantuan teman-teman, peneliti tidak dapat membalasnya, semoga Allah SWT, memberikan memberikan balasan kebaikan atas segala yang telah teman-teman berikan kepada peneliti.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, atas segala kekurangan yang ada para proposal ini. Semoga proposal ini dapat peneliti lanjutkan menjadi sebuah penelitian yang sesungguhnya dan bermanfaat bagi kita semua. Amin

Medan, 27 Mei 2011

Peneliti

Dra. Cut Nurbaiti.

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………….. i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………… ii

BAB I     PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah …………………………………………………………. …… 1
  2. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………. 1
  3. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………….. 2
  4. Manfaat Penelitian ……………………………………………………………………… 2

BAB II    KAJIAN TEORITIS

  1. Kajian Teori ……………………………………………………………………………….. 3
  2. Kerangka Teori …………………………………………………………………………… 3

BAB III  METODOLOGI PENELITIAN

  1. Subyek, lokasi, dan waktu penelitian ……………………………………………… 4
  2. Prosedur Penelitian …………………………………………………………………….. 4
  3. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………………………. 4
  4. Teknik Analisis Data …………………………………………………………………….. 4

 

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………………… 5

 

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU MATEMATIKA DALAM MENERAPKAN METODE PEMBELAJARAN MELALUI PELATIHAN DI SEKOLAH SMA PLUS NURUL ULUM KABUPATEN ACEH TIMUR

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan penguatan kepala sekolah dan pengawas di P4TK Medan Sumatera Utara

Oleh :

Dra. CUT NURBAITI

NIP. 19640612 199003 2 004

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR

DINAS PENDIDIKAN

SMA PLUS NURUL ULUM

2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan usaha untuk menumbuhkembangkan potensi Sumber Daya Manusia (SDM) melalui kegiatan pembelajaran. Upaya peningkatan kemampuan guru Matematika dalam menerapkan metode pembelajaran merupakan salah satu dalam pembangunan pendidikan nasional.

Keberhasilan porses pembelajaran ditentukan oleh banyak hal, antara lain media pembelajaran yang tepat, penggunaan model pendekatan dan metode yagn efektif serta kesiapan guru dalam mengajar dan partisipasi peserta didik yang aktif.

Dengan adanya peningkatan kemmapuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran, diharapkan hasil nilai pembelajaran akan meningkat dan siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan guru matematika.

  1. B.      Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
  2. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
  1. C.      Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:

  1. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMA Plus Nurul Ulum?
  2. Apakah dengan metode jig-saw dapat meningkatkan motivasi siswa terhadap mata pelajaran matematika?
  1. D.     Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini dilaksanakan, diharapkan memiliki manfaat sebagai berikut:

  1. Bagi Siswa;
  • Untuk meningkatkan prestasi belajar dengan metode jig-saw
  • Meningkatkan motivasi siswa dalam belajar matematika
  • Menjadikan matematika sebagai pelajaran yang disenangi oleh semua siswa.
  1. Bagi guru
  • Masukan bagi guru untuk memilih metode yang tepat dalam kegiatan pembelajaran
  • Membangkitkan kreatifitas guru untuk menciptakan suasana belajar yang melibatkan siswa
  1. Bagi Sekolah;
  • Dengan meningkatnya prestasi siswa akan meningkatkan mutu sekolah


 

BAB II

KAJIAN TEORITIS

 

 

  1. A.     Kajian Teoritis dan penelitian yang relevan
  2. Pengertian Belajar

Pengertian belajar dapat diartikan bermacam-macam, hal ini disebabkan adanya sudut pandang yang berbeda.

  1. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh guru melalui peningkatan mutu siswa.

  1. Motivasi

Motivasi dalambelajar adalah factor yang penting karena hal tersebut merupakan keadaan yang mendorong guru untuk menggunakan metode yang efektif dalam pembelajaran sehingga siswa dapat dengan mudah memahami dan menyenangi materi matematika

  1. B.      Kerangka Berpikir

      Berdasarkan kajian teoritis dan penelitian yang relevan, peneliti meyakin bahwa melalui pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru matematika dalam menerapkan metode pembelajaran di SMA Plus Nurul Ulum.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

 

  1. A.     Subyek, lokasi dan waktu penelitian

Subyek penelitian ini adalah tiga orang guru matematika. Tempat pelaksanaan penelitian di SMA Plus Nurul Ulum Kabupaten Aceh Timur. SMA Plus Nurul Ulum terletak pada Km. 394 Jalan Banda Aceh Medan. Sekolah ini didirikan pada tahun 2004. Penelitian direncanakan selama dua bulan, mulai bulan juni sampai dengan juli 2011.

  1. B.      Prosedur penelitian

      Penelitian akan dilakukan dalam 2 siklus. Tiap siklus akan terdiri dari tahapan-tahapan : perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi, dan refleksi.

Indikator keberhasilan penelitian ini adalah apabila:

  1. Semua guru matematika 100% (3 orang) dapat menerapkan model jig-saw dalam pembelajaran dengan baik.
  2. Ada 85% peserta didik senang terhadap pelajaran matematika.
  1. C.      Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi dan wawancara. Instrumen pengumpulan data berupa lembar observasi dan pedoman wawancara

  1. D.     Teknik Analisis Data

Data dianalisis menggunakan analisis dekriptif kualitatif. Membandingkan peningkatan kemampuan guru antar siklus dan juga dengan indikator keberhasilan.

DAFTAR PUSTAKA

Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi

Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang standar kompetensi Kepala Sekolah

 

KATA PENGANTAR

                Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah memberikan bermacam-macam nikmat, sehingga sampai detik ini kita masih dapat melakukan aktivitas kehidupan sebagaiamana biasa, tidak kurang suatu apapun. Shalawat dan salam kami sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW, yang telah memperjuangkan tegaknya risalah Islam di muka bumi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, khususnya umat islam.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada panitia pelaksana, yang telah mengundang kami hadir pada pelatihan yang cukup penting ini. Ucapan terima kasih juga peneliti sampaikan kepada semua fasilitator yang telah membimbing kami tanpa lelah, sehingga semua kewajiban yang dibebankann pada peneliti dapat dilaksanakan sesuai intruksi dan arahan-arahan fasilitator.

Tanpa mengurangi rasa hormat, peneliti juga menyampaikan terima kasih mendalam untuk teman-teman peserta  pelatihan, yang sudi menjadi mitra belajar peneliti di P4TK ini. Segala bantuan teman-teman, peneliti tidak dapat membalasnya, semoga Allah SWT, memberikan memberikan balasan kebaikan atas segala yang telah teman-teman berikan kepada peneliti.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya, atas segala kekurangan yang ada para proposal ini. Semoga proposal ini dapat peneliti lanjutkan menjadi sebuah penelitian yang sesungguhnya dan bermanfaat bagi kita semua. Amin

Medan, 27 Mei 2011

Peneliti

Dra. Cut Nurbaiti.

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………….. i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………… ii

BAB I     PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah …………………………………………………………. …… 1
  2. Rumusan Masalah ………………………………………………………………………. 1
  3. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………….. 2
  4. Manfaat Penelitian ……………………………………………………………………… 2

BAB II    KAJIAN TEORITIS

  1. Kajian Teori ……………………………………………………………………………….. 3
  2. Kerangka Teori …………………………………………………………………………… 3

BAB III  METODOLOGI PENELITIAN

  1. Subyek, lokasi, dan waktu penelitian ……………………………………………… 4
  2. Prosedur Penelitian …………………………………………………………………….. 4
  3. Teknik Pengumpulan Data ……………………………………………………………. 4
  4. Teknik Analisis Data …………………………………………………………………….. 4

 

Daftar Pustaka ……………………………………………………………………………………… 5

 

KATA PENGANTAR

            Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya, hingga detik ini penulis masih dapat melakukan aktivitas pelatihan dengan baik. Shalawat beriring salam penulis sampaikan kehadhirat junjungan alam Nabi Muhammad SAW, atas segala pengorbanan yang telah beliau lakukan demi menyampaikan risalah islamiah kepada umat manusia, sehingga detik ini masih dapat kita amalkan ajarannya sebagai rahmat bagi semesta alam.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rangkaian terima kasih kepada panitia pelaksana, yang telah mengundang penulis sehingga mendapatkan pencerahan dan bertambah wawasan pada pelatihan penguatan kepala sekolah dan pengawas di P4TK ini. Tak lupa juga penulis menyampaikan terima kasih untuk fasilitator pelatihan, yang dengan penuh kesabaran membimbing penulis, sehingga dapat menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan dengan benar.

Terima kasih dan rasa bahagia penulis berikan buat rekan-rekan peserta pelatihan yang telah banyak memberikan kontribusi bagi keberhasilan penulis mengikuti kegiatan pembelajaran di P4TK ini. Semoga jasa-jasa yang telah diberikan teman-teman akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Akhir Kata, penulis memohon dukungan lebih lanjut bagi penyiapan proposal ini hingga menjadi laporan penelitian yang semoga membawa manfaat bagi perbaikan pendidikan di Aceh Timur pada khususnya.

Medan, 27 Mei 2011

Peneliti/Peserta

Dra.  Nursyiah

DAFTAR ISI

Kata Pengantar …………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi ……………………………………………………………………………………………. ii

BAB I   PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah ……………………………………………………………. 1
  2. Rumusan Masalah ……………………………………………………………………. 1
  3. Tujuan Penelitian ……………………………………………………………………… 2
  4. Manfaat Penelitian …………………………………………………………………… 2

BAB II  KAJIAN TEORITIS

  1. Kajian Teori ……………………………………………………………………………… 3
  2. Kerangka Teori ………………………………………………………………………… 3

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Subyek, lokasi, dan waktu penelitian …………………………………………… 4
  2. Prosedur Penelitian ………………………………………………………………….. 4
  3. Teknik Pengumpulan Data …………………………………………………………. 4
  4. Teknik Analisis Data ………………………………………………………………….. 4

 

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………………………… 5

 

PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

UPAYA PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU BIOLOGI MENGGUNAKAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MELALUI PELATIHAN DI SMA NEGERI  1 RANTO PEUREULAK

KABUPATEN ACEH TIMUR

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada pelatihan

penguatan kompetensi Kepala Sekolah dan Pengawas

di P4TK Medan

Oleh :

Dra. NURSYIAH

NIP. 19631231 198902 2 002

PEMERINTAH KABUPATEN ACEH TIMUR

DINAS PENDIDIKAN

SMA NEGERI 1 RANTO PEUREULAK

2011

BAB.  I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Biologi termasuk dalam kelompok Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Ilmu Pengetahuan Alam merupakan kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuan dari Kelompok Mata pelajaran ini dimaksudkan untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri peserta didik (Permendiknas nomor 22 tahun 2006).

Menghasilkan lulusan yang mampu berpikir ilmiah secara kritis, kreatif dan mandiri amat ditentukan oleh pembelajaran yang berkualitas. Syarat terjadinya pembelajaran yang baik antara lain adalah penggunaan variasi pembelajaran yang bervariasi serta penggunaan media yang membawa siswa belajar secara kontekstual. Media pembelajaran potensial yang dapat digunakan guru secara langsung misalnya lingkungan sekolah.

Berdasarkan pengalaman peneliti di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak, kemampuan guru menggunakan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya guru melaksanaan PBM di luar kelas atau membawa preparat/media pembelajaran dari lingkungan sekolah ke dalam kelas.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti memandang perlu melakukan pembinaan melalui pemberian pelatihan kepada guru biologi untuk meningkatkan kemampuan dalam penggunaan lingkungan sebagai media pembelajaran.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “apakah pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru biologi menggunakan lingkungan sekolah sebagai meida pembelajaran di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui apakah pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru biologi menggunakan lingkungan sekolah sebagai meida pembelajaran di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak

D. Manfaat Penelitian

Pelaksanaan penelitian ini memiliki manfaat antara lain:

  1. Bagi Peneliti; menjadi media peningkatkan kompetensi kepala sekolah dalam membuat karya tulis ilmiah berupa penelitian tindakan sekolah.
  2. Bagi guru; Proses Belajar Mengajar (PBM) menjadi menarik dan menyenangkan dengan penggunaan media yang murah, mudah dan berkelanjutan.
  3. Bagi siswa; Hasil belajar peserta didik meningkat.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

  1. A.    Kajian Teori dan penelitian yang relevan

Sebagai tenaga profesional  guru harus menyiapkan landasan bagi pengambilan keputusan yang memuaskan tentang  metode pengajaran dan  kegiatan belajar yang efektif. Ini perlu agar sebahagian besar siswa dapat menguasai sasaran pengajaran  pada tingkat pencapaian yang dapat diterima, dalam jangka waktu  yang sesuai. (Hamzah, B.Uno, 2007 : 42)

      Lingkungan sekolah adalah halaman terbuka yang ada di luar kelas atau luar sekolah. Penggunaan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran biologi sangatlah relevan dengan pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Lingkungan sekolah amat membantu guru dalam  pembelajaran, karena dalam lingkungan terdapat hal-hal yang dapat mendukung kerja-kerja guru dalam pembelajaran, misalnya jenis-jenis flora dan fauna, ataupun dapat menjadi tempat untuk melakukan diskusi secara nyaman.

  1. B.     Kerangka berpikir

Berdasarkan kajian teori dan penelitian lain yang relevan, peneliti meyakini bahwa pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru biologi menggunakan lingkungan sebagai media pembelajaran di SMA Negeri 1 Ranto Peureulak.

BAB III

METODOLOGI  PENELITIAN

A. Subyek, lokasi, dan waktu penelitian

Subyek penelitian ini adalah guru biologi SMA Negeri 1 Ranto Peureulak sebanyak 5 orang. Sekolah ini terletak di Jalan Peureulak Lokop, Desa Blang Barom Kecamatan Ranto Peureulak. Pelaksanaan penelitian direncanakan pada bulan Mei sampai dengan Juli 2011.

B. Prosedur Penelitian

            Penelitian ini direncanakan selama dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tahapan-tahapan: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, evaluasi dan refleksi.

C. Teknik Pengumpulan Data

            Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara. Instrumen pengambilan data adalah lembar observasi dan pedoman wawancara.

D. Teknik Analisis Data

Teknis analais data dilakukan menggunakan analisis deskriptif persentase. Data yang diperoleh tiap siklus dibandingkan dengan indikator keberhasilan kinerja.


 

DAFTAR PUSTAKA

Hamzah B Uno, 2007. Profesi Kependidikan, Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta. Bumi Aksara.

Permendiknas nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah.

 

 

Laporan Evaluasi Diri Sekolah

  Laporan Evaluasi Diri Sekolah

Kata Pengantar

 

               Kebijakan pembangunan pendidikan nasional sebagaimana digariskan dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional (2010-2014) diarahkan pada upaya mewujudkan daya saing, pencitraan publik, dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan. Tolak ukur efektivitas implementasi kebijakan tersebut dilihat dari ketercapaian indikator-indikator mutu penyelenggaraan pendidikan yang telah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam delapan (8) Standar Nasional Pendidikan (SNP). Tidak dipungkiri bahwa upaya strategis jangka panjang untuk mewujudkannya menuntut satu “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan”  yang dapat membangun kerja sama dan kolaborasi di antara berbagai institusi terkait dalam satu keterpaduan jaringan kerja nasional. Dengan kata lain, diperlukan pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan. Tata kerja yang dibangun mengisyaratkan adanya serangkaian proses dan prosedur untuk mengumpulkan, menganalisis, dan  melaporkan data mengenai kinerja dan mutu tenaga pendidik dan kependidikan, program, dan lembaga beserta rekomendasinya.

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP/ EQAS – Educational Quality Assurance and System) sedang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) dengan bantuan Pemerintah Australia.  Proses penjaminan mutu mengidentifikasi aspek pencapaian dan prioritas peningkatan, menyediakan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan serta membantu membangun budaya peningkatan mutu berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah dikaji berdasarkan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dari BSNP. Empat hal penting yang perlu dilakukan dalam  penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, yaitu : (1) Pengkajian mutu pendidikan, (2) Analisis dan pelaporan mutu pendidikan, (3) Peningkatan mutu merujuk pada Standar Nasional Pendidikan, dan (4) Penumbuhan budaya peningkatan mutu berkelanjutan.

Salah satu aspek dalam pengembangan sistem penjaminan termasuk peningkatan mutu pendidikan adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS) sebagai  cara  menumbuhkan budaya peningkatan mutu berkelanjutan di sekolah. EDS dilaksanakan oleh setiap sekolah sebagai satu kebutuhan untuk meningkatkan kinerja dan mutu sekolah secara berkelanjutan. EDS merupakan mekanisme evaluasi internal yang dilakukan oleh kepala sekolah bersama pendidik atau guru, komite sekolah,  orangtua, dengan bantuan pengawas. Hasil Evaluasi Diri Sekolah dimanfaatkan sebagai bahan untuk menyusun program pengembangan sekolah dan laporan kepada dinas pendidikan tentang pencapaian sekolah untuk pengembangan lebih lanjut.

Laporan EDS disusun untuk menindaklanjuti hasil temuan yang didapatkan melalui instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) dengan merujuk pada delapan SNP, yaitu Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pembiayaan, Standar Pengelolaan, dan Standar Penilaian. Butir-butir instrumen Evaluasi Diri Sekolah difokuskan pada aspek-aspek kehidupan sekolah yang paling esensial, yaitu kondisi-kondisi yang berkaitan dengan mutu pelayanan belajar-mengajar.

Sistem penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah di Indonesia beroperasi dalam suatu  manajemen pendidikan dan pemerintahan yang mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab implementasinya kepada pemerintah provinsi, kabupaten/kota, penyelenggara pendidikan swasta (yayasan pendidikan),  dan satuan pendidikan (sekolah/madrasah). Oleh karena itu, diyakini bahwa upaya keberhasilan inovasi pendidikan sangat ditentukan oleh adanya komitmen, profesionalisme, kerjasama, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan pendidikan

JJakarta, Juli 2010

Dirjen PMPTK

Kemendiknas,

PProf. Dr. Baedhowi

NIP. 19490828 197903 1 001

DAFTAR ISI LAPORAN EVALUSI DIRI SEKOLAH

Nomor

Bagian

Halaman

Pendahuluan

4

1.

Standar Sarana dan Prasarana

5

1.1.

Apakah sarana sekolah sudah memadai?

6

1.2.

Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara baik?

7

2.

Standar Isi

8

2.1.

Apakah kurikulum  sudah sesuai dan relevan?

9

2.2.

Bagaimana sekolah menyediakan apa yang dibutuhkan dalam pengembangan pribadi pserta didik?

10

3.

Standar Proses

11

3.1.

Apakah silabus sudah sesuai dan relevan?

12

3.2.

Apakah RPP direncanakan untuk mencapai pembelajaran efektif?

13

3.3.

Apakah sumber belajar untuk pembelajaran dapat diakses dan dipergunakan secara tepat?

14

3.4.

Apakah pembelajaran menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

15

3.5.

Apakah sekolah memenuhi kebutuhan sarana peserta didik?

16

3.6.

Bagaimana cara sekolah mempromosikan dan mempertahankan etos pencapaian prestasi?

17

4.

Standar Penilaian Pendidikan

18

4.1.

Sistem apakah yang sudah tersedia untuk memberikan penilaian bagi peserta didik, baik dalam bidang akademik maupun non akademik?

19

4.2.

Bagaimana penilaian berdampak pada proses belajar?

20

4.3.

Apakah orang tua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka?

21

5.

Standar Kompetensi Lulusan

22

5.1.

Apakah peserta didik dapat mencapai prestasi akademik yang diharapkan?

23

5.2.          Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi secara penuh sebagai anggota masyarakat? 24

Nomor

Bagian

Halaman

6.

Standar Pengelolaan

25

6.1.

Apakah kinerja pengelolaan berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat, dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?

26

6.2.

Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?

27

6.3.

Dampak rencana pengembangan sekolah terhadap peningkatan hasil belajar

28

6.4.

Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid?

29

6.5.

Bagaimana cara mendukung dan memberikan kesempatan pengembangan profesi bagai para pendidik dan tenaga kependidikan?

30

6.6.

Bagaimana cara masyarakat sekitar mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

31

7.

Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

32

7.1.

Apakah pemenuhan jumlah guru dan pegawai lain sudah memenuhi?

33

8.

Standar Pembiayaan

34

8.1.

Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

35

8.2.

Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

36

8.3.

Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

37


PENDAHULUAN

1.    Nama Sekolah               …………………………………………………………………..

2.    Nama Kepala Sekolah            ……………………………………………………………..

3.    Tanggal                          …………………………………………………………………..

4.    Jumlah murid                               …………………………………………………………

  1. 5.    Jumlah Guru                                  …………………………………………………………

 

 

  1. 6.    Tuliskan secara ringkas kinerja sekolah, mencakup visi dan misi serta program-program unggulannya.  Apa yang dituliskan hendaknya menggambarkan dan sesuai dengan apa yang dilaporkan dalam dokumen ini.

     

 

7.    Jelaskan kondisi lingkungan   sekolah ini yang menggambarkan kondisi setempat yang khas, dan ciri-ciri khusus para siswanya. Uraian di bagian ini hendaknya mencakup pula peluang yang ada atau rintangan yang dihadapi bagi pencapaian prestasi belajar atau prestasi lainnya, juga jelaskan kondisi khusus yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar (misalnya kondisi sosial-ekonomi keluarga siswa, atau para siswa dengan kebutuhan khusus).

 


1.   STANDAR SARANA DAN PRASARANA

1.1.      Apakah sarana sekolah sudah memadai?

Spesifikasi menurut standar sarana dan prasarana

  • Sekolah mematuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana (ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dll)
  • Sekolah mematuhi standar  terkait dengan jumlah peserta didik dalam kelompok belajar
  • Sekolah mematuhi standar  terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran

Indikator Pencapaian

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana

Ukuran kelompok belajar

Catatan peralatan dan sumber belajar

Catatan pengeluaran

Lainnya (mohon jelaskan)

1.2.      Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik?

Spesifikasi dalam standar sarana dan prasarana

 

q Bangunan

Ÿ  Bangunan sekolah memenuhi semua ketentuan standar,  dalam ukuran dan jumlah

Ÿ  Pemeliharaan bangunan dilaksanakan paling tidak setiap 5 tahun sekali

Ÿ  Bangunan  mudah, aman, dan nyaman untuk semua peserta didik, termasuk  penyandang cacat .

Indikator Pencapaian

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

  • Catatan pengeluaran
  • Pendapat peserta didik
  • Pendapat guru
  • Kehadiran peserta didik yang berkebutuhan khusus

·       Observasi

·       Lain-lain (silahkan jelaskan)

2.   STANDAR ISI

2.1.      Apakah kurikulum sudah sesuai dan relevan?

Spesifikasi dalam standar isi

 

q Kerangka kerja dasar dan struktur kurikulum

Ÿ  Kurikulum mata pelajaran memenuhi standar untuk jenis  satuan pendidikan

q Kurikulum untuk tingkat satuan pendidikan

Ÿ Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan mempergunakan panduan yang memadai  yang disusun BNSP.

Ÿ Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat dan kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran

Bukti prestasi sekolah ((Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Kurikulum tersedia untuk semua mata pelajaran dan semua kelompok usia di sekolah

Kurikulum tersedia untuk mata pelajaran tambahan untuk memenuhi kebutuhan daerah

Wawancara dengan orang tua peserta didik

Wawancara dengan peserta didik

Lain-lain

2.2.      Bagaimana sekolah menyediakan apa yang dibutuhkan dalam pengembangan pribadi peserta didik?

Spesifikasi dalam standar isi

 

  • Sekolah mematuhi standar untuk menyediakan apa yang dibutuhkan bagi pengembangan pribadi peserta didik termasuk konseling dan kegiatan ekstra kurikuler

Bukti prestasi sekolah ((Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Wawancara peserta didik

Wawancara orang tua peserta didik

Observasi

Laporan mengenai kegiatan sekolah

Lain-lain

3.   STANDAR PROSES BELAJAR

3.1.      Apakah silabus sudah sesuai dan relevan?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

Standar proses belajar

A: Silabus

Ÿ Silabus dikembangkan berdasarkan standar isi, standar kompetensi kelulusan dan panduan kurikulum (KTSP)

Ÿ Silabus diarahkan pada pencapaian standar standar kompetensi lulusan

Bukti prestasi sekolah ((Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Silabus tersedia untuk semua mata pelajaran dan semua kelompok usia di sekolah

Wawancara dengan orang tua peserta didik

Wawancara dengan peserta didik

Lain-lain


3.2.      Apakah RPP direncanakan untuk mencapai pembelajaran efektif

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

B: Rencana Pelaksanaan Pembelajar

Ÿ  Prinsip- prinsip perencanaan pembelajaran – Setiap guru harus mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mencakup identitas mata pelajaran, standar kompetensi, tujuan belajar, bahan mengajar, alokasi waktu,  metode belajar, dan evaluasi. Kegiatan belajar mencakup pendahuluan, kegiatan inti , dan penutup

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Reviu RPP

Observasi kelas

Interviu guru

Interviu peserta didik

Lainnya

3.3.      Apakah sumber belajar untuk pembelajaran dapat diakses dan dipergunakan secara  tepat?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

Implementasi Proses Belajar

  • Selain buku text pelajaran, guru menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda pada jenis bukti berikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Jumlah dan jenis buku pelajaran yang dipergunakan

Ketersediaan dan penggunaan bahan bacaan tambahan

Observasi kelas menunjukkan penggunaan alat peraga dan hasil karya peserta didik dipajang

Wawancara dengan peserta didik

Lain-lain (tuliskan)

3.4.      Apakah  pembelajaran  menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

q Implementasi proses belajar

Ÿ  Para guru mengimplementasikan rencana belajar dengan mempergunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik

Ÿ  Para peserta didik berpeluang untuk  melakukan ekplorasi, elaborasi,  dan  konfirmasi

Ÿ  Para Guru memiliki kemampuan  mengimplementasikan pengelolaan kelas yang efektif

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Tingkat/jumlah DO

Kehadiran peserta didik

Wawacara dengan guru dan peserta didik

Observasi sesama guru

Observasi Pengajaran

Rencana pengajaran dan reviu guru setelah menyampaikan pengajaran

Lain-lain (tuliskan)


3.5.      Apakah sekolah memenuhi  kebutuhan semua peserta didik?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

q Perencanaan proses belajar

Ÿ  Rencana pembelajaran dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, bakat, motivasi belajar, potensi, kemampuan sosial, emosional, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai-nilai, dan atau lingkungan peserta didik.

 

q  Implementasi proses belajar

Ÿ  Guru menggabungkan pendekatan tematis dan mendorong dipertimbangkanya isu keanekaragaman dan lintas budaya

Ÿ  Guru menghargai pendapat peserta didik

Ÿ  Guru menghargai peserta didik tanpa memandang agama, ras, jenis kelamin dan keadaan sosial ekonomi mereka

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Prestasi peserta didik dalam Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Kehadiran peserta didik
Observasi sesama guru
Rencana pengajaran guru
Lain-lain
3.6.      Bagaimana cara sekolah mempromosikan dan mempertahankan etos pencapaian prestasi?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

  • Implementasi Proses Belajar

q  Semua anak didik mendapat perlakuan adil dan pendapat mereka dihargai.

q   Guru-guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Observasi terhadap sikap guru terhadap anak didik, khususnya dalam hal memberikan pujian.

Menjadikan pekerjaan anak didik sebagai pajangan di kelas atau bahan pelajaran yang dibuat oleh anak didik.

Perilaku lain yang relevan
Lain-lain

4. Standar Penilaian

4.1 Sistem apakah yang sudah tersedia untuk memberikan penilaian bagi peserta didik baik dalam bidang akademik maupun non akademik?

Spesifikasi dalam standar evaluasi

  • Guru membuat perencanaan penilaian terhadap pencapaian peserta didik
  • Guru memberikan informasi kepada peserta didik mengenai kriteria penilaian termasuk kriteria penguasaan minimum
  • Guru melaksanakan penilaian pada interval yang reguler berdasarkan rencana yang telah dibuat
  • Guru menerapkan berbagai teknik penilaian dan jenis penilaian untuk memonitor perkembangan dan kesulitan peserta didik

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Pencapaian peserta didik dalam Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Wawancara dengan orang tua dan peserta didik
Rencana pengajaran guru
Lain-lain

4.2         Bagaimana  penilaian berdampak pada  proses belajar?

Spesifikasi dalam standard proses belajar

q Evaluasi oleh guru

Ÿ  Guru memberikan masukan dan komentar mengenai penilaian yang mereka lakukan pada peserta didik

Ÿ  Guru mempergunakan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Pencapaian peserta didik dalam Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Wawancara dengan orang tua dan peserta didik
Rencana pengajaran guru
Lain-lain
4.3. Apakah orang tua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka?

Spesifikasi dalam standar penilaian

·         Penilaian berdasarkan  unit pendidikan

Sekolah  melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran  pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk  buku laporan pendidikan

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Wawancara peserta didik

Wawancara orang tua

Wawancara guru
Laporan kegiatan sekolah
Lain-lain
5. Kompetensi Lulusan
5.1.      Apakah peserta didik dapat mencapai pencapaian akademis yang diharapkan?

Spesifikasi dalam  Standar Kompetensi Lulusan

 

q  Hasil belajar peserta didik sesuai dengan standar menurut usia dan mata pelajaran.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Kemajuan yang dicapai peserta didik dalam ketrampilan menulis, membaca dan berhitung

Hasil Ujian
Hasil-hasil tes
Mutu pekerjaan sekolah yang dihasilkan
Hasil-hasil yang dicapai secara perorangan atau bersama
Lainnya (tuliskan)
5.2.      Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat?

Spesifikasi dalam  Standar Kompetensi Lulusan

 

q  Sekolah mengembangkan kepribadian peserta didik

q  Sekolah mengembangkan ketrampilan hidup

q  Sekolah mengembangkan nilai-nilai agama, budaya dan pemahaman atas sikap yang dapat diterima

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan pencapaian pribadi dan sosial peserta didik

Kehadiran peserta didik pada kegiatan ekstra kurikuler
Pencapaian dalam olahraga
Catatan mengenai program budaya
Laninya (tuliskan)
  1. 6.     Standar Pengelolaan
6.1.      Apakah kinerja pengelolaan berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?  

Spesifikasi dalam standard pengelolaan

 

·         Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan  pihak berkepentingan.

q  Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengelolaan sekolah/madrasah yang ditunjukkan dengan kemandirian,  kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Pernyataan Visi dan misi sekolah

Dokumen penyebarluasan rumusan visi dan misi kepada pemangku kepentingan

Agenda/catatan hasil pertemuan komite sekolah
Dokumen/bukti lainnya
Lain-lain
6.2.      Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

  • Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan tujuan yang jelas dan rencana kerja untuk pengembangan dan perbaikan dan disosialisasikan kepada warga sekolah dan pihak yang bekepentingan.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Tujuan dan Rencana

Pendokumentasian dan sosialisasi rencana

Lain-lain
6.3.      Dampak rencana pengembangan sekolah terhadap peningkatan hasil belajar?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

Perencanaan Program

q Rencana Kerja tahunan dinyatakan dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah/madrasah dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah

  • Supervisi dan Penilaian

q Sekolah melakukan evaluasi diri terhadap kinerja  sekolah.

q Sekolah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kinerja, dan melakukan perbaikan dalam rangka pelaksanaan SNP

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Laporan evaluasi diri sekolah

Kemajuan dalam implementasi rencana pengembangan sekolah
Interviu dengan peserta didik
Interviu dengan orang tua
Laporan guru kepada kepala sekolah mengenai pencapaian mereka
Laninya (tuliskan)
6.4.      Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

q  Sekolah mengelola sistem informasi pengelolaan dengan cara yang memadai, efektif, efisian dan dapat dipertanggung jawabkan

q  Sekolah menyediakan sistem informasi yang efisien, efektif dan dapat diakses

q  Sekolah menyediakan laporan dan data yang dibutuhkan oleh kabupaten dan tingkatan lain dalam sistem

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Informasi dan data mutakhir dan dapat diandalkan

Rencana Pengembangan sekolah berdasarkan bukti-bukti yang ditujukan dari data

Diknas kabupaten memiliki  catatan mengenai kegiatan dan pencapaian sekolah
Lain-lain
6.5.      Bagaimanakan cara mendukung dan memberikan kesempatan pengembangan profesi bagi para guru dan tenaga kependidikan

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

  • Pendidik dan Tenaga Kependidikan

q  Sekolah mengatur kefektifan program pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk pengembangan profesi

  • Supervisi dan Evaluasi

q  Supevisi dan evaluasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dilaksanakan sesuai dengan standar guru dan tenaga kependidikan

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Penilaian tahunan guru dan pegawai lain oleh kepala sekolah

Interviu guru

Observasi
Laporan guru kepada kepala sekolah mengenai prestasi yang dicapai
Perbaikan dan pengembangan guru dari waktu ke waktu
Lain-lain
6.6.      Bagaimanakan cara masyarakat daerah mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

q  Sekolah harus melibatkan anggota masyarakat dan publik dalam mengelola aspek non akademis sekolah

q  Warga sekolah harus dilibatkan dalam pengelolaan akademis dan non akademis

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai dukungan komite sekolah

Tingkat pendaftaran peserta didik

Interviu dengan perwakilan masyarakat setempat
Lain-lain

7.     STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA PENDIDIKAN

7.1.      Apakah pemenuhan jumlah guru dan pegawai lain sudah memadai?
Spesifikasi dalam standar guru dan tenaga pendidik

q  Jumlah guru dan tenaga pendidik memenuhi standar

q  Kualifikasi guru dan tenaga pendidik memenuhi standar

q  Guru dan tenaga pendidik memenuhi standar kompetensi

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Jumlah dan kualifikasi guru

Jumlah dan kualifikasi tenaga pendidik

Beban mengajar guru
Laporan kepala sekolah mengenai supervisi guru
Penilaian terhadap guru dan tenaga pendidik
Lain-lain
8. Standar Pembiayaan
8.1        Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

Spesifikasi dalam standar pembiayaan

 

Ÿ  Pengelolaan keuangan sekolah

q Anggaran sekolah dirumuskan merujuk peraturan pemerintah pusat dan daerah

q Pengelolaan keuangan sekolah transparan, efisien, dan akuntabel.

q Sekolah membuat pelaporan  keuangan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

RAPBS jangka panjang, menengah, dan tahunan

Laporan pendapatan dan penggunaan keuangan sekolah kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.
Pembukuan keuangan sekolah
Wawancara dengan komite sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan
Catatan hasil pertemuan dengan komite sekolah dan pemangku kepentigan yang relevan.

Laninya (tuliskan)

8.2         Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

Spesifikasi dalam standar pembiayaan

q Sekolah  memiliki kapasitas untuk mencari dana dengan inisiatifnya sendiri

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

RAPBS jangka panjang, menengah, dan tahunan

Catatan alumni
Catatan hasil pertemuan dengan pemangku kepentigan yang relevan
Catatan pendapatan dari semua sumber
Interviu dengan komite sekolah dan pemangku kepentigan yang relevan.
Laninya (tuliskan)

8.3 Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

Spesifikasi dalam standard pembiayaan

 

q SPP siswa sekolah ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua

q Sekolah melakukan subsidi silang kepada siswa kurang mampu di bidang ekonomi

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Angka peserta didik yang masuk dan keluar

Wawancara dengan anak didik

Wawancara dengan orang tua
Wawancara dengan yang mewakili masyarakat
Wawancara perwakilan masyarakat daerah
Catatan SPPyang dibayarkan
Tingkat putus sekolah
Lain-lain

Laporan Evaluasi Diri Sekolah

  Laporan Evaluasi Diri Sekolah

Kata Pengantar

 

               Kebijakan pembangunan pendidikan nasional sebagaimana digariskan dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional (2010-2014) diarahkan pada upaya mewujudkan daya saing, pencitraan publik, dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan. Tolak ukur efektivitas implementasi kebijakan tersebut dilihat dari ketercapaian indikator-indikator mutu penyelenggaraan pendidikan yang telah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam delapan (8) Standar Nasional Pendidikan (SNP). Tidak dipungkiri bahwa upaya strategis jangka panjang untuk mewujudkannya menuntut satu “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan”  yang dapat membangun kerja sama dan kolaborasi di antara berbagai institusi terkait dalam satu keterpaduan jaringan kerja nasional. Dengan kata lain, diperlukan pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan. Tata kerja yang dibangun mengisyaratkan adanya serangkaian proses dan prosedur untuk mengumpulkan, menganalisis, dan  melaporkan data mengenai kinerja dan mutu tenaga pendidik dan kependidikan, program, dan lembaga beserta rekomendasinya.

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP/ EQAS – Educational Quality Assurance and System) sedang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) dengan bantuan Pemerintah Australia.  Proses penjaminan mutu mengidentifikasi aspek pencapaian dan prioritas peningkatan, menyediakan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan serta membantu membangun budaya peningkatan mutu berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah dikaji berdasarkan delapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dari BSNP. Empat hal penting yang perlu dilakukan dalam  penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, yaitu : (1) Pengkajian mutu pendidikan, (2) Analisis dan pelaporan mutu pendidikan, (3) Peningkatan mutu merujuk pada Standar Nasional Pendidikan, dan (4) Penumbuhan budaya peningkatan mutu berkelanjutan.

Salah satu aspek dalam pengembangan sistem penjaminan termasuk peningkatan mutu pendidikan adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS) sebagai  cara  menumbuhkan budaya peningkatan mutu berkelanjutan di sekolah. EDS dilaksanakan oleh setiap sekolah sebagai satu kebutuhan untuk meningkatkan kinerja dan mutu sekolah secara berkelanjutan. EDS merupakan mekanisme evaluasi internal yang dilakukan oleh kepala sekolah bersama pendidik atau guru, komite sekolah,  orangtua, dengan bantuan pengawas. Hasil Evaluasi Diri Sekolah dimanfaatkan sebagai bahan untuk menyusun program pengembangan sekolah dan laporan kepada dinas pendidikan tentang pencapaian sekolah untuk pengembangan lebih lanjut.

Laporan EDS disusun untuk menindaklanjuti hasil temuan yang didapatkan melalui instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) dengan merujuk pada delapan SNP, yaitu Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pembiayaan, Standar Pengelolaan, dan Standar Penilaian. Butir-butir instrumen Evaluasi Diri Sekolah difokuskan pada aspek-aspek kehidupan sekolah yang paling esensial, yaitu kondisi-kondisi yang berkaitan dengan mutu pelayanan belajar-mengajar.

Sistem penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah di Indonesia beroperasi dalam suatu  manajemen pendidikan dan pemerintahan yang mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab implementasinya kepada pemerintah provinsi, kabupaten/kota, penyelenggara pendidikan swasta (yayasan pendidikan),  dan satuan pendidikan (sekolah/madrasah). Oleh karena itu, diyakini bahwa upaya keberhasilan inovasi pendidikan sangat ditentukan oleh adanya komitmen, profesionalisme, kerjasama, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan pendidikan

JJakarta, Juli 2010

Dirjen PMPTK

Kemendiknas,

PProf. Dr. Baedhowi

NIP. 19490828 197903 1 001

DAFTAR ISI LAPORAN EVALUSI DIRI SEKOLAH

Nomor

Bagian

Halaman

Pendahuluan

4

1.

Standar Sarana dan Prasarana

5

1.1.

Apakah sarana sekolah sudah memadai?

6

1.2.

Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara baik?

7

2.

Standar Isi

8

2.1.

Apakah kurikulum  sudah sesuai dan relevan?

9

2.2.

Bagaimana sekolah menyediakan apa yang dibutuhkan dalam pengembangan pribadi pserta didik?

10

3.

Standar Proses

11

3.1.

Apakah silabus sudah sesuai dan relevan?

12

3.2.

Apakah RPP direncanakan untuk mencapai pembelajaran efektif?

13

3.3.

Apakah sumber belajar untuk pembelajaran dapat diakses dan dipergunakan secara tepat?

14

3.4.

Apakah pembelajaran menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

15

3.5.

Apakah sekolah memenuhi kebutuhan sarana peserta didik?

16

3.6.

Bagaimana cara sekolah mempromosikan dan mempertahankan etos pencapaian prestasi?

17

4.

Standar Penilaian Pendidikan

18

4.1.

Sistem apakah yang sudah tersedia untuk memberikan penilaian bagi peserta didik, baik dalam bidang akademik maupun non akademik?

19

4.2.

Bagaimana penilaian berdampak pada proses belajar?

20

4.3.

Apakah orang tua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka?

21

5.

Standar Kompetensi Lulusan

22

5.1.

Apakah peserta didik dapat mencapai prestasi akademik yang diharapkan?

23

5.2.          Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi secara penuh sebagai anggota masyarakat? 24

Nomor

Bagian

Halaman

6.

Standar Pengelolaan

25

6.1.

Apakah kinerja pengelolaan berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat, dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?

26

6.2.

Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?

27

6.3.

Dampak rencana pengembangan sekolah terhadap peningkatan hasil belajar

28

6.4.

Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid?

29

6.5.

Bagaimana cara mendukung dan memberikan kesempatan pengembangan profesi bagai para pendidik dan tenaga kependidikan?

30

6.6.

Bagaimana cara masyarakat sekitar mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

31

7.

Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

32

7.1.

Apakah pemenuhan jumlah guru dan pegawai lain sudah memenuhi?

33

8.

Standar Pembiayaan

34

8.1.

Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

35

8.2.

Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

36

8.3.

Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

37


PENDAHULUAN

1.    Nama Sekolah               …………………………………………………………………..

2.    Nama Kepala Sekolah            ……………………………………………………………..

3.    Tanggal                          …………………………………………………………………..

4.    Jumlah murid                               …………………………………………………………

  1. 5.    Jumlah Guru                                  …………………………………………………………

 

 

  1. 6.    Tuliskan secara ringkas kinerja sekolah, mencakup visi dan misi serta program-program unggulannya.  Apa yang dituliskan hendaknya menggambarkan dan sesuai dengan apa yang dilaporkan dalam dokumen ini.

     

 

7.    Jelaskan kondisi lingkungan   sekolah ini yang menggambarkan kondisi setempat yang khas, dan ciri-ciri khusus para siswanya. Uraian di bagian ini hendaknya mencakup pula peluang yang ada atau rintangan yang dihadapi bagi pencapaian prestasi belajar atau prestasi lainnya, juga jelaskan kondisi khusus yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan proses belajar-mengajar (misalnya kondisi sosial-ekonomi keluarga siswa, atau para siswa dengan kebutuhan khusus).

 


1.   STANDAR SARANA DAN PRASARANA

1.1.      Apakah sarana sekolah sudah memadai?

Spesifikasi menurut standar sarana dan prasarana

  • Sekolah mematuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana (ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dll)
  • Sekolah mematuhi standar  terkait dengan jumlah peserta didik dalam kelompok belajar
  • Sekolah mematuhi standar  terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran

Indikator Pencapaian

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana

Ukuran kelompok belajar

Catatan peralatan dan sumber belajar

Catatan pengeluaran

Lainnya (mohon jelaskan)

1.2.      Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik?

Spesifikasi dalam standar sarana dan prasarana

 

q Bangunan

Ÿ  Bangunan sekolah memenuhi semua ketentuan standar,  dalam ukuran dan jumlah

Ÿ  Pemeliharaan bangunan dilaksanakan paling tidak setiap 5 tahun sekali

Ÿ  Bangunan  mudah, aman, dan nyaman untuk semua peserta didik, termasuk  penyandang cacat .

Indikator Pencapaian

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

  • Catatan pengeluaran
  • Pendapat peserta didik
  • Pendapat guru
  • Kehadiran peserta didik yang berkebutuhan khusus

·       Observasi

·       Lain-lain (silahkan jelaskan)

2.   STANDAR ISI

2.1.      Apakah kurikulum sudah sesuai dan relevan?

Spesifikasi dalam standar isi

 

q Kerangka kerja dasar dan struktur kurikulum

Ÿ  Kurikulum mata pelajaran memenuhi standar untuk jenis  satuan pendidikan

q Kurikulum untuk tingkat satuan pendidikan

Ÿ Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan mempergunakan panduan yang memadai  yang disusun BNSP.

Ÿ Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat dan kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran

Bukti prestasi sekolah ((Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Kurikulum tersedia untuk semua mata pelajaran dan semua kelompok usia di sekolah

Kurikulum tersedia untuk mata pelajaran tambahan untuk memenuhi kebutuhan daerah

Wawancara dengan orang tua peserta didik

Wawancara dengan peserta didik

Lain-lain

2.2.      Bagaimana sekolah menyediakan apa yang dibutuhkan dalam pengembangan pribadi peserta didik?

Spesifikasi dalam standar isi

 

  • Sekolah mematuhi standar untuk menyediakan apa yang dibutuhkan bagi pengembangan pribadi peserta didik termasuk konseling dan kegiatan ekstra kurikuler

Bukti prestasi sekolah ((Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Wawancara peserta didik

Wawancara orang tua peserta didik

Observasi

Laporan mengenai kegiatan sekolah

Lain-lain

3.   STANDAR PROSES BELAJAR

3.1.      Apakah silabus sudah sesuai dan relevan?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

Standar proses belajar

A: Silabus

Ÿ Silabus dikembangkan berdasarkan standar isi, standar kompetensi kelulusan dan panduan kurikulum (KTSP)

Ÿ Silabus diarahkan pada pencapaian standar standar kompetensi lulusan

Bukti prestasi sekolah ((Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Silabus tersedia untuk semua mata pelajaran dan semua kelompok usia di sekolah

Wawancara dengan orang tua peserta didik

Wawancara dengan peserta didik

Lain-lain


3.2.      Apakah RPP direncanakan untuk mencapai pembelajaran efektif

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

B: Rencana Pelaksanaan Pembelajar

Ÿ  Prinsip- prinsip perencanaan pembelajaran – Setiap guru harus mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) mencakup identitas mata pelajaran, standar kompetensi, tujuan belajar, bahan mengajar, alokasi waktu,  metode belajar, dan evaluasi. Kegiatan belajar mencakup pendahuluan, kegiatan inti , dan penutup

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Reviu RPP

Observasi kelas

Interviu guru

Interviu peserta didik

Lainnya

3.3.      Apakah sumber belajar untuk pembelajaran dapat diakses dan dipergunakan secara  tepat?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

Implementasi Proses Belajar

  • Selain buku text pelajaran, guru menggunakan buku panduan guru, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lainnya.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda pada jenis bukti berikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Jumlah dan jenis buku pelajaran yang dipergunakan

Ketersediaan dan penggunaan bahan bacaan tambahan

Observasi kelas menunjukkan penggunaan alat peraga dan hasil karya peserta didik dipajang

Wawancara dengan peserta didik

Lain-lain (tuliskan)

3.4.      Apakah  pembelajaran  menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

q Implementasi proses belajar

Ÿ  Para guru mengimplementasikan rencana belajar dengan mempergunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik

Ÿ  Para peserta didik berpeluang untuk  melakukan ekplorasi, elaborasi,  dan  konfirmasi

Ÿ  Para Guru memiliki kemampuan  mengimplementasikan pengelolaan kelas yang efektif

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda pada jenis bukti yang dipergunakan)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Tingkat/jumlah DO

Kehadiran peserta didik

Wawacara dengan guru dan peserta didik

Observasi sesama guru

Observasi Pengajaran

Rencana pengajaran dan reviu guru setelah menyampaikan pengajaran

Lain-lain (tuliskan)


3.5.      Apakah sekolah memenuhi  kebutuhan semua peserta didik?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

q Perencanaan proses belajar

Ÿ  Rencana pembelajaran dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, bakat, motivasi belajar, potensi, kemampuan sosial, emosional, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai-nilai, dan atau lingkungan peserta didik.

 

q  Implementasi proses belajar

Ÿ  Guru menggabungkan pendekatan tematis dan mendorong dipertimbangkanya isu keanekaragaman dan lintas budaya

Ÿ  Guru menghargai pendapat peserta didik

Ÿ  Guru menghargai peserta didik tanpa memandang agama, ras, jenis kelamin dan keadaan sosial ekonomi mereka

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Prestasi peserta didik dalam Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Kehadiran peserta didik
Observasi sesama guru
Rencana pengajaran guru
Lain-lain
3.6.      Bagaimana cara sekolah mempromosikan dan mempertahankan etos pencapaian prestasi?

Spesifikasi dalam standar proses belajar

 

  • Implementasi Proses Belajar

q  Semua anak didik mendapat perlakuan adil dan pendapat mereka dihargai.

q   Guru-guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respons dan hasil belajar peserta didik selama proses pembelajaran berlangsung.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Observasi terhadap sikap guru terhadap anak didik, khususnya dalam hal memberikan pujian.

Menjadikan pekerjaan anak didik sebagai pajangan di kelas atau bahan pelajaran yang dibuat oleh anak didik.

Perilaku lain yang relevan
Lain-lain

4. Standar Penilaian

4.1 Sistem apakah yang sudah tersedia untuk memberikan penilaian bagi peserta didik baik dalam bidang akademik maupun non akademik?

Spesifikasi dalam standar evaluasi

  • Guru membuat perencanaan penilaian terhadap pencapaian peserta didik
  • Guru memberikan informasi kepada peserta didik mengenai kriteria penilaian termasuk kriteria penguasaan minimum
  • Guru melaksanakan penilaian pada interval yang reguler berdasarkan rencana yang telah dibuat
  • Guru menerapkan berbagai teknik penilaian dan jenis penilaian untuk memonitor perkembangan dan kesulitan peserta didik

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Pencapaian peserta didik dalam Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Wawancara dengan orang tua dan peserta didik
Rencana pengajaran guru
Lain-lain

4.2         Bagaimana  penilaian berdampak pada  proses belajar?

Spesifikasi dalam standard proses belajar

q Evaluasi oleh guru

Ÿ  Guru memberikan masukan dan komentar mengenai penilaian yang mereka lakukan pada peserta didik

Ÿ  Guru mempergunakan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Pencapaian peserta didik dalam Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Wawancara dengan orang tua dan peserta didik
Rencana pengajaran guru
Lain-lain
4.3. Apakah orang tua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka?

Spesifikasi dalam standar penilaian

·         Penilaian berdasarkan  unit pendidikan

Sekolah  melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran  pada setiap akhir semester kepada orang tua/wali peserta didik dalam bentuk  buku laporan pendidikan

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Wawancara peserta didik

Wawancara orang tua

Wawancara guru
Laporan kegiatan sekolah
Lain-lain
5. Kompetensi Lulusan
5.1.      Apakah peserta didik dapat mencapai pencapaian akademis yang diharapkan?

Spesifikasi dalam  Standar Kompetensi Lulusan

 

q  Hasil belajar peserta didik sesuai dengan standar menurut usia dan mata pelajaran.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Kemajuan yang dicapai peserta didik dalam ketrampilan menulis, membaca dan berhitung

Hasil Ujian
Hasil-hasil tes
Mutu pekerjaan sekolah yang dihasilkan
Hasil-hasil yang dicapai secara perorangan atau bersama
Lainnya (tuliskan)
5.2.      Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat?

Spesifikasi dalam  Standar Kompetensi Lulusan

 

q  Sekolah mengembangkan kepribadian peserta didik

q  Sekolah mengembangkan ketrampilan hidup

q  Sekolah mengembangkan nilai-nilai agama, budaya dan pemahaman atas sikap yang dapat diterima

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan pencapaian pribadi dan sosial peserta didik

Kehadiran peserta didik pada kegiatan ekstra kurikuler
Pencapaian dalam olahraga
Catatan mengenai program budaya
Laninya (tuliskan)
  1. 6.     Standar Pengelolaan
6.1.      Apakah kinerja pengelolaan berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?  

Spesifikasi dalam standard pengelolaan

 

·         Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan  pihak berkepentingan.

q  Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengelolaan sekolah/madrasah yang ditunjukkan dengan kemandirian,  kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Pernyataan Visi dan misi sekolah

Dokumen penyebarluasan rumusan visi dan misi kepada pemangku kepentingan

Agenda/catatan hasil pertemuan komite sekolah
Dokumen/bukti lainnya
Lain-lain
6.2.      Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

  • Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan tujuan yang jelas dan rencana kerja untuk pengembangan dan perbaikan dan disosialisasikan kepada warga sekolah dan pihak yang bekepentingan.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Tujuan dan Rencana

Pendokumentasian dan sosialisasi rencana

Lain-lain
6.3.      Dampak rencana pengembangan sekolah terhadap peningkatan hasil belajar?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

Perencanaan Program

q Rencana Kerja tahunan dinyatakan dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah/madrasah dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah

  • Supervisi dan Penilaian

q Sekolah melakukan evaluasi diri terhadap kinerja  sekolah.

q Sekolah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kinerja, dan melakukan perbaikan dalam rangka pelaksanaan SNP

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Laporan evaluasi diri sekolah

Kemajuan dalam implementasi rencana pengembangan sekolah
Interviu dengan peserta didik
Interviu dengan orang tua
Laporan guru kepada kepala sekolah mengenai pencapaian mereka
Laninya (tuliskan)
6.4.      Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

q  Sekolah mengelola sistem informasi pengelolaan dengan cara yang memadai, efektif, efisian dan dapat dipertanggung jawabkan

q  Sekolah menyediakan sistem informasi yang efisien, efektif dan dapat diakses

q  Sekolah menyediakan laporan dan data yang dibutuhkan oleh kabupaten dan tingkatan lain dalam sistem

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Informasi dan data mutakhir dan dapat diandalkan

Rencana Pengembangan sekolah berdasarkan bukti-bukti yang ditujukan dari data

Diknas kabupaten memiliki  catatan mengenai kegiatan dan pencapaian sekolah
Lain-lain
6.5.      Bagaimanakan cara mendukung dan memberikan kesempatan pengembangan profesi bagi para guru dan tenaga kependidikan

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

  • Pendidik dan Tenaga Kependidikan

q  Sekolah mengatur kefektifan program pendidik dan tenaga kependidikan, termasuk pengembangan profesi

  • Supervisi dan Evaluasi

q  Supevisi dan evaluasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dilaksanakan sesuai dengan standar guru dan tenaga kependidikan

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Penilaian tahunan guru dan pegawai lain oleh kepala sekolah

Interviu guru

Observasi
Laporan guru kepada kepala sekolah mengenai prestasi yang dicapai
Perbaikan dan pengembangan guru dari waktu ke waktu
Lain-lain
6.6.      Bagaimanakan cara masyarakat daerah mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

Spesifikasi dalam standar pengelolaan

 

q  Sekolah harus melibatkan anggota masyarakat dan publik dalam mengelola aspek non akademis sekolah

q  Warga sekolah harus dilibatkan dalam pengelolaan akademis dan non akademis

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai dukungan komite sekolah

Tingkat pendaftaran peserta didik

Interviu dengan perwakilan masyarakat setempat
Lain-lain

7.     STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA PENDIDIKAN

7.1.      Apakah pemenuhan jumlah guru dan pegawai lain sudah memadai?
Spesifikasi dalam standar guru dan tenaga pendidik

q  Jumlah guru dan tenaga pendidik memenuhi standar

q  Kualifikasi guru dan tenaga pendidik memenuhi standar

q  Guru dan tenaga pendidik memenuhi standar kompetensi

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Jumlah dan kualifikasi guru

Jumlah dan kualifikasi tenaga pendidik

Beban mengajar guru
Laporan kepala sekolah mengenai supervisi guru
Penilaian terhadap guru dan tenaga pendidik
Lain-lain
8. Standar Pembiayaan
8.1        Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

Spesifikasi dalam standar pembiayaan

 

Ÿ  Pengelolaan keuangan sekolah

q Anggaran sekolah dirumuskan merujuk peraturan pemerintah pusat dan daerah

q Pengelolaan keuangan sekolah transparan, efisien, dan akuntabel.

q Sekolah membuat pelaporan  keuangan kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

RAPBS jangka panjang, menengah, dan tahunan

Laporan pendapatan dan penggunaan keuangan sekolah kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.
Pembukuan keuangan sekolah
Wawancara dengan komite sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan
Catatan hasil pertemuan dengan komite sekolah dan pemangku kepentigan yang relevan.

Laninya (tuliskan)

8.2         Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

Spesifikasi dalam standar pembiayaan

q Sekolah  memiliki kapasitas untuk mencari dana dengan inisiatifnya sendiri

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

RAPBS jangka panjang, menengah, dan tahunan

Catatan alumni
Catatan hasil pertemuan dengan pemangku kepentigan yang relevan
Catatan pendapatan dari semua sumber
Interviu dengan komite sekolah dan pemangku kepentigan yang relevan.
Laninya (tuliskan)

8.3 Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

Spesifikasi dalam standard pembiayaan

 

q SPP siswa sekolah ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi orang tua

q Sekolah melakukan subsidi silang kepada siswa kurang mampu di bidang ekonomi

Bukti-bukti prestasi sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis buktiberikut)

Ringkasan prestasi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Angka peserta didik yang masuk dan keluar

Wawancara dengan anak didik

Wawancara dengan orang tua
Wawancara dengan yang mewakili masyarakat
Wawancara perwakilan masyarakat daerah
Catatan SPPyang dibayarkan
Tingkat putus sekolah
Lain-lain

Instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS)

Instrumen

 Evaluasi Diri Sekolah (EDS)

Kata Pengantar

 

               Kebijakan pembangunan pendidikan nasional sebagaimana digariskan dalam Rencana Strategis Kementerian Pendidikan Nasional (2010-2014) diarahkan pada upaya mewujudkan daya saing, pencitraan publik, dan akuntabilitas penyelenggaraan pendidikan. Tolak ukur efektivitas implementasi kebijakan tersebut dilihat dari ketercapaian indikator-indikator mutu penyelenggaraan pendidikan yang telah ditetapkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dalam delapan (8) Standar Nasional Pendidikan (SNP). Tidak dipungkiri bahwa upaya strategis jangka panjang untuk mewujudkannya menuntut satu “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan”  yang dapat membangun kerja sama dan kolaborasi di antara berbagai institusi terkait dalam satu keterpaduan jaringan kerja nasional. Dengan kata lain, diperlukan pengembangan sistem penjaminan mutu pendidikan. Tata kerja yang dibangun mengisyaratkan adanya serangkaian proses dan prosedur untuk mengumpulkan, menganalisis, dan  melaporkan data mengenai kinerja dan mutu tenaga pendidik dan kependidikan, program, dan lembaga beserta rekomendasinya.

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP/ EQAS – Educational Quality Assurance and System) sedang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) dengan bantuan Pemerintah Australia.  Proses penjaminan mutu mengidentifikasi aspek pencapaian dan prioritas peningkatan, menyediakan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan serta membantu membangun budaya peningkatan mutu berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah dikaji berdasarkan delapan Standar Nasioanal Pendidikan (SNP) dari Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Empat hal penting yang perlu dilakukan dalam  penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan untuk pendidikan dasar dan menengah di Indonesia, yaitu : (1) Pengkajian mutu pendidikan, (2) Analisis dan pelaporan mutu pendidikan, (3) Peningkatan mutu merujuk pada Standar Nasional Pendidikan, dan (4) Penumbuhan budaya peningkatan mutu berkelanjutan.

Salah satu aspek dalam pengembangan sistem penjaminan termasuk peningkatan mutu pendidikan adalah Evaluasi Diri Sekolah (EDS) sebagai  cara  menumbuhkan budaya peningkatan mutu berkelanjutan di sekolah. EDS dilaksanakan oleh setiap sekolah sebagai satu kebutuhan untuk meningkatkan kinerja dan mutu sekolah secara berkelanjutan. EDS merupakan mekanisme evaluasi internal yang dilakukan oleh kepala sekolah bersama pendidik atau guru, komite sekolah,  orangtua, dengan bantuan pengawas. Hasil Evaluasi Diri Sekolah dimanfaatkan sebagai bahan untuk menyusun program pengembangan sekolah dan laporan kepada dinas pendidikan tentang pencapaian sekolah untuk pengembangan lebih lanjut.

Laporan EDS disusun untuk menindaklanjuti hasil temuan yang didapatkan melalui instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS) dengan merujuk pada delapan SNP, yaitu Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pembiayaan, Standar Pengelolaan, dan Standar Penilaian. Butir-butir instrumen Evaluasi Diri Sekolah difokuskan pada aspek-aspek kehidupan sekolah yang paling esensial, yaitu kondisi-kondisi yang berkaitan dengan mutu pelayanan belajar-mengajar.

Sistem penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan dasar dan menengah di Indonesia beroperasi dalam suatu  manajemen pendidikan dan pemerintahan yang mendelegasikan sebagian besar tanggung jawab implementasinya kepada pemerintahan provinsi, kabupaten/kota, penyelenggara pendidikan swasta (yayasan pendidikan),  dan satuan pendidikan (sekolah/madrasah). Oleh karena itu, diyakini bahwa upaya keberhasilan inovasi pendidikan sangat ditentukan oleh adanya komitmen, profesionalisme, kerjasama, dan kolaborasi semua pemangku kepentingan pendidikan

Jakarta, Juli 2010

Dirjen PMPTK

Kemendiknas,

Prof. Dr. Baedhowi

NIP. 19490828 197903 1 001

Instrumen Evaluasi Diri Sekolah (EDS)

Daftar Isi

Nomor

Bagian

Halaman

Kata Pengantar

Daftar Isi

Pedoman Penggunaan

1.

Standar Sarana dan Prasarana

8

1.1.

Apakah sarana sekolah sudah memadai?

9

1.2.

Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara baik?

10

2.

Standar Isi

11

2.1.

Apakah kurikulum  sudah sesuai dan relevan?

12

2.2.

Bagaimana sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik?

14

3.

Standar Proses

16

3.1.

Apakah silabus sudah sesuai dan relevan?

17

3.2.

Apakah RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif?

19

3.3.

Apakah sumber belajar untuk pembelajaran dapat diakses dan dipergunakan secara tepat?

21

3.4.

Apakah pembelajaran menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

23

3.5.

Apakah sekolah memenuhi kebutuhan sarana peserta didik?

25

3.6.

Bagaimana cara sekolah mempromosikan dan mempertahankan etos pencapaian prestasi?

27

4.

Standar Penilaian

29

4.1.

Sistem apakah yang sudah tersedia untuk memberikan penilaian bagi peserta didik, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik?

30

4.2.

Bagaimana penilaian berdampak pada proses belajar?

32

4.3.

Apakah orangtua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka?

33

5.

Standar Kompetensi Lulusan

35

5.1.

Apakah peserta didik dapat mencapai prestasi akademik yang diharapkan?

36

5.2.          Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi secara penuh sebagai anggota masyarakat?

 

38

6.

Standar Pengelolaan

40

6.1.

Apakah kinerja pengelolaan berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat, dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?

41

6.2.

Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?

43

6.3.

Apakah ada dampak rencana pengembangan sekolah/ rencana kerja sekolah terhadap peningkatan hasil belajar?

45

6.4.

Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid?

47

6.5.

Bagaimana cara memberikan dukungan dan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan?

49

6.6.

Bagaimana cara masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

51

7.

Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

52

7.1.

Apakah pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan  lain sudah memenuhi?

53

8.

Standar Pembiayaan

54

8.1.

Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

55

8.2.

Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

57

8.3.

Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

58


PEDOMAN PENGGUNAAN

EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS)

Evaluasi Diri Sekolah (EDS)  di tiap sekolah menjadi tanggung jawab kepala sekolah dan dilakukan oleh Tim Pengembang Sekolah  (TPS) yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, Komite Sekolah, orangtua peserta didik, dan pengawas. Proses EDS dapat mengikutsertakan tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat. Instrumen EDS ini khusus dirancang  untuk digunakan oleh TPS dalam melakukan penilaian  kinerja sekolah terhadap Standar Pelayanan Minimum (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan  (SNP) yang hasilnya menjadi  masukan dan dasar penyusunan  Rencana  Pengembangan Sekolah (RPS) dalam upaya peningkatan kinerja sekolah.  EDS sebaiknya dilaksanakan setelah anggota TPS mendapat pelatihan.

Informasi ringkas tentang EDS dapat dilihat di bawah ini:

  1. 1.  Apakah yang dimaksud dengan Evaluasi Diri Sekolah?
  • Evaluasi diri sekolah adalah proses yang mengikutsertakan semua pemangku kepentingan untuk membantu sekolah dalam menilai mutu penyelenggaraan pendidikan berdasarkan indikator-indikator kunci yang mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan  (SNP).
  • Melalui EDS kekuatan dan kemajuan sekolah dapat diketahui dan aspek-aspek yang memerlukan peningkatan dapat diidentifikasi.
  • Proses evaluasi diri sekolah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan TPS, pelatihan penggunaan Instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • TPS mengumpulkan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam Instrumen. Kegiatan ini melibatkan semua  pendidik dan tenaga kependidikan di  sekolah  untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.
  • EDS juga akan melihat visi dan misi sekolah. Apabila sekolah belum memiliki visi dan misi, maka  diharapkan kegiatan ini akan memacu sekolah membuat atau memperbaiki visi dan misi dalam mencapai  kinerja sekolah yang diinginkan.
  • Hasil EDS digunakan sebagai bahan untuk menetapkan aspek  yang menjadi prioritas dalam rencana peningkatan dan pengembangan sekolah pada RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Laporan hasil EDS dikirim ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kandepag sebagai informasi kinerja sekolah terkait pencapaian SPM dan SNP dan sebagai dasar penyusunan perencanaan pada tingkat kabupaten/kota dan provinsi.

2.  Apa yang diperoleh sekolah dari hasil EDS?

  • Seberapa baik kinerja sekolah? Dengan EDS akan diperoleh informasi  mengenai pengelolaan sekolah yang telah memenuhi SNP untuk digunakan sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Bagaimana mengetahui kinerja sekolah sesungguhnya? Dengan EDS akan diperoleh informasi tentang kinerja sekolah yang sebenarnya dan informasi tersebut diverifikasi dengan bukti-bukti fisik yang sesuai.
  • Bagaimana memperbaiki kinerja sekolah? Sekolah menggunakan informasi yang dikumpulkan dalam EDS untuk menetapkan apa yang menjadi prioritas bagi peningkatan sekolah dan digunakan untuk mempersiapkan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

3. Keuntungan apa yang akan diperoleh sekolah dari EDS?

 

  • Sekolah mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya sebagai dasar penyusunan rencana  pengembangan lebih lanjut.
  • Sekolah mampu mengenal peluang untuk memperbaiki mutu pendidikan, menilai keberhasilan  upaya peningkatan, dan melakukan penyesuaian program-program yang ada.
  • Sekolah mampu mengetahui tantangan yang dihadapi dan mendiagnosis jenis kebutuhan yang diperlukan untuk perbaikan.
  • Sekolah dapat mengetahui tingkat pencapaian kinerja berdasarkan SPM dan SNP.
  • Sekolah dapat menyediakan laporan resmi kepada para pemangku kepentingan tentang kemajuan dan hasil yang dicapai.

4. Seberapa sering sekolah melakukan EDS?

 

  • Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali.

5. Bagaimana bentuk Instrumen EDS?

Instrumen EDS terdiri dari 8 (delapan) bagian sesuai dengan SPM dan SNP. Setiap bagian terdiri atas :

  • Serangkaian pertanyaan terkait dengan SNP sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya  yang bersifat kualitatif.
  • Setiap standar bisa terdiri dari beberapa aspek  yang memberikan gambaran lebih menyeluruh .
  • Setiap aspek dari standar terdiri dari 4 tingkat pencapaian : tingkat pencapaian 1 berarti belum memenuhi SPM (kurang), 2 sudah memenuhi SPM (sedang), 3 berarti sudah memenuhi SNP (baik), dan 4 berarti melampaui SNP (amat baik).
  • Tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.
  • Pada bagian akhir dari aspek setiap standar, terdapat halaman rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman rekapitulasi ini terdiri dari bukti fisik yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaian, deskripsi umum temuan yang diperoleh untuk menilai aspek tersebut, dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah.
  • Sejumlah pertanyaan terkait dengan SPM dan SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran dan aspek-aspek yang perlu dikembangkan bagi keperluan penyusunan rencana peningkatan sekolah.
  • Tingkat pencapaian pada tiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tertentu.

6.  Bagaimana sekolah menggunakan tingkat pencapaian?

  • Anggota TPS secara bersama mencermati Instrumen EDS pada setiap aspek dari setiap standar. Sebaiknya perlu disiapkan Peraturan Menteri, indikator atau Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan SNP sebagai rujukan.
  • Berdasarkan kondisi nyata sekolah, anggota TPS menilai apakah sekolah mereka termasuk dalam tingkatan 1, 2, 3 atau 4 dalam pencapaian SPM dan SNP ini. Misalnya pada Standar Isi ada aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum serta aspek penyediaan kebutuhan untuk pengembangan diri. Bisa saja aspek kesesuaian dan relevansi kurikulum berada di Tingkat ke-4, tapi aspek kebutuhan untuk pengembangan diri ada di Tingkat ke-2.  Ini tidak menjadi masalah.  Tingkat pencapaian  pada setiap standar  menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penialian terkait dengan pertanyaan tertentu.
  • Setelah menentukan tingkat pencapaiannya, sekolah perlu menyertakan bukti fisik atas pengakuannya. Contoh bukti fisik atas keikutsertaan masyarakat dalam kehidupan sekolah berupa rapat komite sekolah, notulen, daftar hadir, dan undangan.
  • Hasil semua penilaian dan penentuan tingkat pencapaian kinerja sekolah untuk aspek tertentu pada setiap standar ditulis pada lembar laporan penilaian atau rekapitulasi dengan menyertakan bukti fisik yang sesuai (lihat keterangan pada nomor 5 di atas).
  • Sekolah menetapkan tingkat pencapaian kinerja dan bukan hanya sekedar memberikan tanda cek (contreng)  pada setiap butir dalam Instrumen EDS.
  • Tingkat pencapaian kinerja sekolah bisa berbeda dalam aspek yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus memberikan laporan kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata aspek dan standar yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.
  • Dengan menggunakan Instrumen EDS ini,  sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap pembelajaran peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan  dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik.

7. Jenis bukti apa yang dapat ditunjukkan?

  • Bukti fisik yang menggambarkan tingkat pencapaian harus sesuai dengan aspek atau standar yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya kajian catatan, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orangtua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.
  • Perlu diingat bahwa informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan. Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan.
  • Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tingkat pencapaian tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai.

8. Bagaimana proses EDS membantu penyusunan rencana pengembangan sekolah?

  • TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan, menggunakannya untuk mengidentifikasi dan menetapkan prioritas yang selanjutnya menjadi dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.
  • Berdasarkan hasil EDS, sekolah mengembangkan RPS dengan prioritas peningkatan mutu kinerja sekolah yang dirumuskan secara jelas, dapat diobservasi dan diukur. Dengan demikian, RPS menjadi dokumen kinerja sekolah yang meliputi aspek implementasi, skala prioritas, batas waktu, dan ukuran keberhasilannya.
  • Proses EDS berkaitan dengan aspek perubahan dan peningkatan. Upaya perubahan dan peningkatan tersebut hanya bermanfaat apabila diwujudkan dalam perencanaan bagi peningkatan mutu pendidikan dan hasil belajar peserta didik. Diharapkan dengan adanya ragam data dan informasi yang diperoleh dari hasil EDS, sekolah bukan saja dapat merumuskan perencanaan pengembangan dengan tepat, akan tetapi penilaian kemajuan di masa depan juga akan lebih mudah dilakukan dengan tersedianya data yang dapat dipercaya. Hal tersebut dengan sendirinya memudahkan sekolah untuk menunjukkan hasil-hasil upaya peningkatan kinerja mereka setiap saat.

9. Laporan apa yang perlu disiapkan?

 

  • Sekolah menyusun laporan hasil EDS dengan menggunakan format yang terpisah, yang menyajikan tingkat pencapaian serta bukti-bukti yang digunakannya. Hasil EDS digunakan untuk dasar penyusunan RPS sekolah, namun dilaporkan juga ke Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kankemenag untuk dianalisis lanjut dengan memanfaatkan EMIS (Educational Management Information System/Sistem Informasi Manajemen Pendidikan) bagi keperluan perencanaan dan berbagai kegiatan peningkatan mutu lainnya.
  • Laporan sekolah yang mengungkapkan berbagai temuan dapat digunakan untuk melakukan validasi internal (menilai dan mencocokkan) oleh pengawas sekolah, dan validasi external dengan menggunakan beberapa sekolah oleh Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS) pada tingkat kecamatan dengan bantuan staf penjaminan mutu dari LPMP.
  • Hasil EDS merupakan bagian yang penting dalam kegiatan monitoring kinerja sekolah oleh pemerintah daerah dalam rangka penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan.


1.   STANDAR SARANA DAN PRASARANA

1.1.      Apakah sarana sekolah sudah memadai?

Spesifikasi

  • Sekolah memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya.
  • Sekolah memenuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam rombongan belajar
  • Sekolah memenuhi standar terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran
  • Jumlah peserta didik di dalam rombongan belajar kami lebih kecil dari yang ditetapkan dalam standar agar dapat lebih meningkatkan proses pembelajaran.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

Ø  Sekolah kami memiliki bangunan gedung yang  ukuran, ventilasi dan kelengkapan lainnya melebihi ketentuan dalam  standar Sarpras  yang ditetapkan.

  • Sekolah kami memiliki sarana dan prasarana pembelajaran yang  melebihi dari ketetapan Standar Sarpras yang digunakan untuk lebih membantu proses pembelajaran.
  • Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana, prasarana dan peralatan.
  • Sekolah kami memenuhi standar dalam hal jumlah peserta didik pada setiap rombongan belajar.
  • Sekolah kami memiliki dan menggunakan  sarpras sesuai standar yang ditetapkan.
  • Sekitar 95% calon siswa di kecamatan mendpat akses belajar disekolah kami.
  • Ø Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana.
  • Ø Beberapa kelas di sekolah kami diisi peserta didik melebihi jumlah yang ditetapkan dalam standar.
  • Ø Sekolah kami  menyediakan buku teks yang sudah disertifikasi oleh Pemerintah,  alat peraga dan judul buku pengayaan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM)
  • Ø Sekolah kami belum memiliki semua  sarana dan alat-alat yang dibutuhkan untuk memenuhi ketetapan dalam standar.
  • Ø Bangunan sekolah kami tidak memenuhi standar dari segi ukuran atau jumlah ruangan.
  • Ø Kebanyakan ruang kelas sekolah kami diisi terlalu banyak peserta didik dan kami tidak mampu memenuhi standar.
  • Ø Sarana dan prasarana yang kami miliki amat terbatas dan sebagian besar sudah ketinggalan zaman dan dalam kondisi buruk.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi  sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana

Jumlah peserta didik per rombongan belajar

Catatan peralatan dan sumber belajar

Catatan pengeluaran

Kondisi nyata lingkungan sekolah

Bukti fisik lainnya (tuliskan)


1.2.      Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik?

Spesifikasi

q Bangunan

Ÿ  Pemeliharaan bangunan dilaksanakan paling tidak setiap 5 tahun sekali

Ÿ  Bangunan aman dan nyaman untuk semua peserta didik dan memberi kemudahan kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

 Tingkat ke-1

Ø Sekolah kami aman, sehat, nyaman, menyenangkan, menarik dan mendorong terciptanya suasana bekerja dan belajar bagi peserta didik dan warga sekolah lainnya.

  • Ø Lahan, bangunan, dan prasarana termasuk toilet di sekolah kami, dalam keadaan bersih (sehat),  dan dipelihara dengan baik secara berkala.

Ø Sekolah kami sudah memberikan layanan dan fasilitas pembelajaran  yang baik dan sama bagi semua peserta didik   termasuk  mereka yang berkebutuhan khusus.

  • Ø Perabot beserta alat-alat dan kelengkapan lainnya berada dalam kondisi yang baik dan terpelihara.
  • Ø Sekolah kami membutuhkan pemeliharaan, dan  masih  berusaha menyediakan lingkungan yang lebih menarik dan memberikan rangsangan kerja dan belajar
  • Ø Sekolah kami akan mempertimbangkan kemudahan pelayanan  bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus.

Ø Sekolah kami  memiliki kebijakan untuk membantu menyediakan kemudahan layanan bagi semua peserta didik termasuk yang berkebutuhan khusus.

Ø Sebagian prasarana sekolah kami di bawah standar, harus diperbaiki dan dibersihkan  atau diganti.

  • Ø Sekolah kami belum mempertimbangkan kemudahan pelayanan  bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi  sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan pengeluaran

Hasil observasi

Catatan pendapat peserta didik

Catatan tentang pendapat guru

Daftar kehadiran peserta didik yang berkebutuhan khusus

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

2.   STANDAR ISI

2.1.      Apakah kurikulum sudah sesuai dan relevan?

Spesifikasi

q Kerangka kerja dasar dan struktur kurikulum

Ÿ  Kurikulum sekolah  memenuhi standar untuk jenis  satuan pendidikan

q Kurikulum untuk tingkat satuan pendidikan

Ÿ Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan menggunakan panduan yang disusun BSNP.

Ÿ Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat dan kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

 Tingkat ke-2

 Tingkat ke-1

  • Ø Kurikulum Sekolah  kami dikaji dan diperbaiki secara teratur dan disesuaikan dengan karakter daerah dan kebutuhan masyarakat.
  • Ø Kurikulum Sekolah kami  menawarkan  kegiatan pembelajaran berjenjang yang sesuai,dan dirancang agar menciptakan suasana yang mendukung dan menyenangkan untuk berbagai usia dan kemampuan peserta didik.
  • Ø Kurikulum Sekolah  kami  memiliki fleksibilitas untuk memenuhi beragam kebutuhan semua peserta didik di sekolah.
  • Ø Semua peserta didik amat termotivasi dengan program pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan tingkat perkembangan dan minat  mereka.
  • Ø Sekolah kami menawarkan berbagai mata pelajaran tambahan dan beban belajar tambahan berdasarkan karakter daerah dan kebutuhan masyarakat.
    • Ø Kurikulum Sekolah  kami  sesuai dengan standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan KTSP dan penyusunannya disesuaikan dengan ciri khas dan kebutuhan daerah.
    • Ø Struktur kurikulum sekolah kami telah mengalokasikan waktu yang cukup bagi  peserta didik agar dapat memahami konsep yang baru sebelum melanjutkan ke pelajaran berikutnya dengan selalu melaksanakan program remedial dan pengayaan.
  • Ø Sebagian besar (sekitar 70%) peserta didik kami termotivasi untuk belajar dan tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan.
  • Ø Sekolah kami menawarkan beberapa  mata pelajaran tambahan   berdasarkan karakter daerah dan kebutuhan masyarakat.

Ø Sekolah kami menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesuai ketentuan yang berlaku.

Ø Kurikulum Sekolah  kami  sesuai dengan standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan KTSP , namun masih perlu   dikembangkan lagi sesuai dengan ciri khas dan kebutuhan daerah.

  • Ø Struktur kurikulum sekolah kami kurang mengalokasikan waktu yang cukup bagi peserta didik agar dapat memahami konsep yang baru sebelum melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Program remedial dan pengayaan kadang kala dilaksanakan.
  • Ø Setiap guru di sekolah kami menerapkan RPP yang disusun berdasarkan silabus untuk setiap mata pelajaran yang diampunya.
  • Ø Sekolah kami menawarkan beberapa mata pelajaran tambahan tetapi kami masih harus mempertimbangkan karakter daerah dan kebutuhan masyarakat dalam perencanaan kami.
  • Ø Kurikulum Sekolah  kami berusaha mengikuti standar isi, standar kompetensi, dan panduan KTSP.
  • Ø Struktur kurikulum sekolah kami tidak mengalokasikan  waktu yang cukup bagi  peserta didik  agar dapat memahami konsep yang baru sebelum melanjutkan ke pelajaran berikutnya. Program remedial dan pengayaan belum pernah dilaksanakan.
  • Ø Sebagian besar (sekitar 70%) peserta didik kami tidak termotivasi untuk belajar dan tidak tertarik pada pelajaran yang diajarkan.
  • Ø Kurikulum sekolah kami sedang berusaha memenuhi persyaratan nasional dan belum mempertimbangkan karakter daerah dan kebutuhan masyarakat.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi  sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Silabus dan RPP  tersedia untuk semua mata pelajaran dan semua tingkatan kelas di sekolah

Silabus dan RPP  tersedia untuk mata pelajaran tambahan untuk memenuhi kebutuhan daerah

Hasil wawancara dengan orangtua peserta didik
Rancangan program remedial dan pengayaan
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

2.2.      Bagaimana sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik?

Spesifikasi

  • Sekolah memenuhi standar untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik yang meliputi bimbingan, konseling, dan kegiatan ekstra kurikuler
  • Ø Sekolah kami menyediakan berbagai jenis kegiatan ekstra kurikuler yang disesuaikan dengan minat peserta didik.
  • Ø Sekolah kami  menyediakan layanan dan bimbingan  bagi peserta didik secara perorangan dalam mengatasi masalah belajar maupun memilih kegiatan ekstra  kurikuler dan keterampilan untuk pengembangan diri mereka sesuai dengan kondisi setempat.
    • Ø Sekolah kami sudah menyediakan beberapa kegiatan ekstra kurikuler bagi peserta didik.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami  memberikan  bimbingan secara umum dalam hal pemilihan jenis kegiatan  ekstra  kurikuler dan ketrampilan bagi peserta didik.
  • Ø Sekolah kami  menyediakan  kegiatan ekstra kurikuler tetapi kegiatan tersebut  kurang diminati.
  • Ø Sekolah kami masih sangat terbatas dalam  memberikan layanan yang memadai  bagi  peserta didik agar mereka dapat memilih jenis kegiatan ekstra kurikuler yang mereka minati.
  • Ø Sekolah kami belum mampu memberikan kegiatan ekstra kurikuler.
  • Ø Sekolah kami  tidak mampu memberikan layanan bagi  peserta didik untuk  membuat keputusan sendiri dalam memilih jenis kegiatan  ekstra kurikuler.


Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi  sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Hasil wawancara peserta didik

Hasil wawancara orangtua peserta didik

Hasil observasi layanan BK

Laporan kegiatan ekstra kurikuler sekolah

Buku laporan layanan BK
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

3.   STANDAR PROSES

3.1.      Apakah silabus sudah sesuai/ relevan dengan standar?

Spesifikasi:

 

A: Silabus

Ÿ Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan panduan KTSP.

Ÿ Silabus diarahkan pada pencapaian  SKL.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

  • Ø Silabus sekolah kami dikaji dan diperbaiki secara teratur dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi  sekolah serta kebutuhan setempat.
  • Ø Silabus sekolah kami memiliki kelenturan (fleksibilitas)  bagi guru  untuk memenuhi beragam kebutuhan semua peserta didik.
  • Ø Silabus sekolah kami dirancang untuk menerapkan pembelajaran yang relevan sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah,   menciptakan suasana  yang mendukung dan menyenangkan, serta mendorong kemajuan sesuai tingkat usia dan kemampuan peserta didik.
  • Ø Silabus  sudah dikembangkan oleh  sekolah dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi sekolah.
  • Ø Kami selalu mempertimbangkan kesesuaian antara mata pelajaran dan komponennya dalam penyusunan silabus.
  • Ø Program dan kegiatan pembelajaran sudah relevan dengan tingkat usia   dan minat peserta didik.

Ø Silabus sekolah kami menyesuaikan dengan SI, SKL, dan panduan KTSP, namun kami  belum   mengembangkannya  sesuai dengan situasi dan kondisi sekolah.

  • Ø Kami belum sepenuhnya mempertimbangkan kesesuaian antara mata pelajaran dan komponennya dalam penyusunan silabus.
  • Ø Sekolah kami berusaha  mempertimbangkan usia dan minat peserta didik saat membuat program pembelajaran.
  • Ø Silabus sekolah kami  berusaha mengikuti SI, SKL dan panduan KTSP.
  • Ø Sistematika  dan rancangan silabus sekolah  kami tidak memberikan kesempatan kepada para peserta didik  untuk memahami konsep  baru secara utuh sebelum melanjutkan pembelajaran.
  • Ø Sekolah kami tidak mempertimbangkan usia dan minat peserta didik saat membuat program pembelajaran.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah  menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Silabus tersedia untuk semua mata pelajaran dan semua kelompok usia di sekolah

Hasil wawancara dengan orangtua peserta didik

Hasil wawancara dengan peserta didik

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

3.2.      Apakah RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif?

Spesifikasi:

B: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Ÿ  Prinsip- prinsip perencanaan pembelajaran – Setiap guru harus mempersiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mencakup: identitas mata pelajaran, alokasi waktu, standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan pembelajaran, materi, kegiatan pembelajaran, metode/ teknik pembelajaran, dan penilaian (mencakup indikator dan prosedur). Rancangan kegiatan pembelajaran meliputi  pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

Ø Seluruh guru membuat RPP yang dirancang berdasarkan prota, prosem, dan silabus, yang mecakup penggunaan  sumber belajar dan metode yang bervariasi.

Ø Rencana pembelajaran dirancang  secara inovatif berdasarkan prinsip-prinsip penyusunan RPP.

  • Ø Pembelajaran di sekolah kami dirancang  agar peserta didik dapat mengkaji ulang materi sebelumnya, memahami materi baru, serta melatih keterampilan yang tercermin dalam sikap mereka sehari-hari.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami mengkaji ulang dan mengembangkan RPP setelah pelaksanaan pembelajaran untuk perbaikan pada kegiatan pembelajaran selanjutnya.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami  membuat RPP berdasarkan program tahunan (prota), program semester (prosem) dan silabus.
  • Ø Kepala sekolah kami mengkaji ulang  semua  rencana pembelajaran dan memberikan saran dan bimbingan.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami  mempertimbangkan berbagai kebutuhan pembelajaran yang berbeda dan merencanakan pembelajaran berdasarkan kebutuhan tersebut.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami   mengkaji ulang RPP setelah mengajar untuk membantu merencanakan pembelajaran selanjutnya.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami  biasanya membuat rencana pembelajaran tetapi kebanyakan hanya mengulang saja.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami perlu memasukkan lebih banyak lagi jenis bahan-bahan belajar mengajar dalam rencana pembelajaran yang dibuat.
  • Ø Kepala sekolah kadang-kadang mengkaji ulang rencana pembelajaran dan memberikan saran dan bimbingan.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami  kadangkala mengkaji ulang RPP setelah mengajar untuk membantu merencanakan pembelajaran selanjutnya.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami hanya membuat rencana pembelajaran untuk mata pelajaran tertentu saja.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami  merencanakan pembelajaran  berdasarkan pada isi buku pelajaran saja.
  • Ø Kepala sekolah kami tidak mengkaji ulang rencana pembelajaran yang dibuat oleh para guru atau memberikan saran dan dukungan.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami  tidak mengkaji ulang RPP setelah mengajar.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Hasil kaji ulang RPP

Hasil observasi kelas

Hasil wawancara dengan guru

Hasil wawancara dengan peserta didik

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

3.3.      Apakah sumber belajar dapat diperoleh dengan mudah dan digunakan secara  tepat?

Spesifikasi:

Pelaksanaan  proses pembelajaran

  • Selain menggunakan buku pelajaran, guru juga menggunakan buku panduan, buku pengayaan, buku referensi dan sumber belajar lain.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami memiliki berbagai jenis sumber belajar  dan media, yang digunakan secara tepat dalam pembelajaran untuk membantu dan memotivasi peserta didik.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

  • Ø Sebagian besar guru di sekolah kami cukup kreatif dalam memilih bahan pembelajaran yang sesuai.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami tidak hanya menggunakan ruang kelas untuk kegiatan pembelajaran, tapi juga memanfaatkan tempat belajar lain yang tersedia di  sekitar sekolah.
  • Ø Semua  guru di sekolah kami mendapatkan  bahan penunjang pembelajaran dalam jumlah yang cukup.
  • Ø Semua guru di sekolah kami  memakai hasil karya peserta didik sebagai alat peraga  dalam proses pembelajaran dan selalu  memperbaharuinya  secara berkala.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami selalu  menggunakan alat peraga dalam pembelajaran dan memperbaharuinya.
  • Ø Beberapa(sekitari 40%) guru di sekolah kami cukup kreatif dalam memilih bahan pembelajaran yang sesuai.
  • Ø Sebagian(sekitar 70%) besar guru di sekolah kami mendapatkan bahan penunjang pembelajaran dalam jumlah yang cukup.
  • Ø Sebagian besar(sekitar 90%) guru di sekolah kami memakai hasil karya peserta didik sebagai alat peraga dalam proses pembelajaran.

Ø Guru-guru di sekolah kami dalam melakukan proses pembelajaran memakai  berbagai sumber dan tidak hanya tergantung pada buku pelajaran saja.

Ø Guru-guru di sekolah kami  sudah menggunakan alat peraga dalam proses pembelajaran tetapi hanya pada mata pelajaran tertentu.

  • Ø Guru-guru di sekolah kami mendapatkan bahan penunjang pembelajaran dalam jumlah terbatas
  • Ø Sebagian guru di sekolah kami sudah memakai hasil karya peserta didik sebagai alat peraga dan memajangnya.

Ø Guru-guru di sekolah kami dalam melakukan proses pembelajaran  sepenuhnya bergantung hanya pada buku pelajaran saja.

  • Ø Bahan bacaan tambahan di sekolah   kami kondisinya sudah jelek dan ketinggalan zaman.
  • Ø Guru-guru di sekolah  kami belum mampu  mempersiapkan dan menggunakan alat peraga.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami tidak pernah memajang hasil karya peserta didik.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Jumlah dan jenis buku pelajaran yang dipergunakan

Ketersediaan dan penggunaan bahan bacaan pengayaan / tambahan

Hasil observasi kelas menunjukkan penggunaan alat peraga dan hasil karya peserta didik dipajang

Hasil wawancara dengan peserta didik

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

3.4.       Apakah  pembelajaran  menerapkan prinsip-prinsip PAKEM/CTL?

Spesifikasi:

q Pelaksanaan pembelajaran

Ÿ  Para guru melaksanakan rencana pembelajaran dengan menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik

Ÿ  Para peserta didik memperoleh kesempatan untuk  melakukan ekplorasi dan elaborasi, serta mendapatkan konfirmasi

Ÿ  Para guru mengelola kelas secara efektif

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami menyediakan lingkungan belajar yang kondusif untuk melaksanakan PAKEM (Pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) atau CTL ( Belajar-Mengajar Kontekstual).
  • Ø Guru-guru di sekolah kami selalu melaksanakan pembelajaran dengan metode yang beragam.
  • Ø Peserta didik mampu bekerja secara  mandiri maupun berkelompok  dalam menyelesaikan masalah.
    • Ø Guru-guru di sekolah kami mendorong peserta didik  untuk menyalurkan ide dan pendapat serta memberi kesempatan untuk menggali, memperluas, dan mengkonfirmasikan pengetahuan dan ketrampilan baru.
    • Ø Semua peserta didik menunjukkan minat belajar dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
      • Ø Guru-guru di sekolah kami secara teratur  menggunakan metode pembelajaran  yang  beragam.
      • Ø Guru-guru di sekolah kami melaksanakan pembelajaran secara bertahap dan menarik
      • Ø Guru-guru di sekolah kami  tidak hanya mengarahkan  pembelajaran, tapi juga memberi kesempatan bagi peserta didik untuk menyampaikan pendapat dan terlibat secara aktif.
      • Ø Sebagian besar(sekitar 90%) peserta didik memiliki motivasi dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
      • Ø Guru-guru di sekolah kami masih melakukan pembelajaran secara klasikal dan jarang menggunakanmetode yang beragam.
      • Ø Guru-guru di sekolah kami  masih lebih terfokus pada penyelesaian kurikulum dan tidak mempertimbangkan berbagai kebutuhan belajar.
      • Ø Guru-guru di sekolah kami  cenderung hanya  mengarahkan  pembelajaran, dan kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyampaikan pendapat atau terlibat secara aktif.
      • Ø Sebagian peserta didik masih kurang termotivasi dalam proses pembelajaran.

Ø Guru-guru di sekolah kami hanya mengajar secara klasikal dan  bersumber  pada buku teks saja.

Ø Guru-guru di sekolah kami tidak menggunakan metode yang beragam dan tidak menggunakan  alat peraga.

Ø Sebagian besar  peserta didik  kurang termotivasi dalam proses pembelajaran.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Daftar jumlah siswa putus sekolah

Daftar kehadiran peserta didik

Hasil wawacara dengan guru dan peserta didik

Hasil observasi sesama guru

Hasil observasi kegiatan pembelajaran

Rencana  pelaksanaan pembelajaran (RPP)   dan kaji ulang setelah menyampaikan pengajaran

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

3.5.      Apakah sekolah memenuhi  kebutuhan semua peserta didik?

Spesifikasi:

 

q Perencanaan proses belajar

Ÿ  Rencana pembelajaran memperhatikan perbedaan gender, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, bakat, motivasi belajar, potensi, kemampuan sosial, emosional, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai-nilai, dan lingkungan peserta didik.

q  Implementasi proses belajar

Ÿ  Guru menggabungkan pendekatan tematis dan mempertimbangkan isu keanekaragaman dan lintas budaya.

Ÿ  Guru menghargai pendapat peserta didik.

Ÿ  Guru menghargai peserta didik tanpa memandang agama, ras, gender dan keadaan sosial ekonomi.

Pencapaian Indikator

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

Ø Guru-guru di sekolah kami mengakui adanya perbedaan kemampuan peserta didik dan memberikan tugas sesuai dengan    kemampuan mereka.

Ø Guru-guru di sekolah kami menggunakan berbagai metode pembelajaran dan memberikan berbagai jenis kegiatan pembelajaran sesuai kebutuhan belajar peserta diidik.

Ø Peserta didik dapat berkembang sesuai dengan kapasitas mereka dan ditantang untuk lebih berkembang secara optimal.

Ø Peserta didik dan orangtua mereka terlibat dalam upaya pencapaian target belajar

  • Guru-guru di sekolah kami memberikan dorongan positif kepada semua peserta didik untuk mengembangkan seluruh potensi mereka
    • Guru-guru di sekolah kami memiliki kebijakan dalam memberikan kesempatan yang sama kepada peserta didik dan menjamin pelaksanaannya.
    • Ø Guru-guru di sekolah kami melaksanakan pembelajaran secara klasikal dan belum mempertimbangkan kebutuhan belajar individu peserta didik.
    • Ø Guru-guru  di sekolah kami memberikan layanan bantuan atau pembelajaran tambahan bagi sebagian peserta didik setelah jam sekolah
    • Ø Guru-guru di sekolah kami memperhatikan kesulitan belajar yang dihadapi sebagian peserta didik dan membantu menyelesaikannya
      • Guru-guru di sekolah kami tidak memberikan kesempatan yang sama kepada peserta didik.

Ø Guru-guru di sekolah kami memperhatikan perbedaan kemampuan peserta didik dan berusaha  merencanakan pembelajaran  yang sesuai.

Ø Guru-guru di sekolah kami merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang berkesinambungan,   dan sesuai dengan tingkat  kemampuan peserta didik

Ø Guru-guru di sekolah kami tidak mempertimbangkan perbedaan  kemampuan peserta didik

Ø Guru-guru di sekolah kami tidak memperhatikan peserta didik yang berkemampuan kurang dan yang berkemampuan lebih.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Prestasi peserta didik dalam Ujian Nasional

Catatan kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Kehadiran peserta didik
Hasil observasi sesama guru
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Catatan guru BP

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

3.6.        Bagaimana cara sekolah meningkatkan dan mempertahankan semangat berprestasi?

Spesifikasi:

  • Pelaksanaan Pembelajaran

q  Semua peserta didik diperlakukan dengan adil dan dihargai pendapatnya.

q   Guru-guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap respon dan hasil belajar peserta didik.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

  • Guru-guru di sekolah kami memberikan penguatan dan umpan balik atas berbagai laporan hasil belajar peserta didik untuk  memotivasi mereka agar lebih berprestasi.
  • Guru-guru dan peserta didik di sekolah kami memiliki motivasi yang tinggi.
  • Peserta didik di sekolah kami  selalu hadir sesuai jadwal,    berperilaku baik, dan mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan kecakapan mereka.
  • Semua guru dan peserta didik di sekolah kami mengakui dan menghargai perbedaan kemampuan di antara mereka.
  • Sekolah kami melaksanakan pendidikan inklusif dan partisipatif yang menjamin keikutsertaan semua peserta didik secara penuh.
  • Guru-guru di sekolah kami  secara konsisten memberikan penghargaan kepada peserta  didik  pada saat yang tepat, dan melakukan  berbagai cara untuk menilai keberhasilan
  • Pada umumnya peserta didik di sekolah kami  hadir sesuai jadwal,    berperilaku baik, dan mencapai prestasi belajar sesuai dengan kecakapan mereka.
  • Hubungan timbal balik antara guru, peserta didik, dan tenaga kependidikan terpelihara dengan baik.
  • Semua peserta didik di sekolah kami diperlakukan dengan adil dan dihargai pendapatnya.
  • Guru-guru di sekolah kami belum  memberikan pujian pada peserta didik  secara  konsisten.
  • Sebagian peserta didik kami kurang percaya diri terhadap kemampuannya.
  • Sebagian guru (sekitar 40%) di sekolah kami tidak mengakui dan menghargai perbedaan kemampuan peserta didik.
  • Belum semua guru (sekitar 50%) di sekolah kami memberikan respon dan penguatan yang memadai terhadap hasil belajar peserta didik.
  • Guru-guru  di sekolah kami belum  menghargai peserta didik.
  • Peserta didik kami  memiliki motivasi yang rendah.
  • Ada guru di sekolah kami yang masih bersifat otoriter, dan banyak peserta didik berperilaku  kurang baik.
  • Banyak peserta didik kami yang  tidak sepenuhnya berpartisipasi dalam kegiatan sekolah.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Hasil observasi terhadap sikap guru terhadap peserta didik, khususnya dalam hal memberikan pujian/motivasi

Hasil pekerjaan peserta didik dipajang di kelas

Hasil observasi perilaku guru atau peserta didk  yang relevan
Daftar kehadiran peserta didik
Catatan penghargaan terhadap siswa
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

4. Standar Penilaian

4.1 Sistem penilaian apa yang digunakan untuk menilai peserta didik baik dalam bidang akademik maupun nonakademik?

Spesifikasi:

  • Guru membuat perencanaan penilaian terhadap pencapaian kompetensi peserta didik
  • Guru memberikan informasi kepada peserta didik mengenai kriteria penilaian termasuk Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
  • Guru melaksanakan penilaian secara teratur berdasarkan rencana yang telah dibuat
  • Guru menerapkan berbagai teknik, bentuk, dan jenis penilaian untuk mengukur prestasi dan kesulitan belajar peserta didik

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

  • Ø Guru-guru di sekolah kami menggunakan berbagai jenis metode untuk menilai kemajuan belajar peserta didik secara berkelanjutan baik formal  maupun nonformal termasuk diskusi, observasi, dan penugasan.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami membuat instrumen yang tepat dan dapat diandalkan untuk menerapkan berbagai teknik penilaian.
  • Ø Semua penilaian terhadap hasil belajar peserta didik di sekolah kami didasarkan pada pencapaian kompetensi yang diharapkan.
    • Ø Guru-guru di sekolah kami selalu memantau kemajuan belajar peserta didik melalui observasi dan penilaian  secara berkala.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami melaksanakan penilaian sesuai dengan silabus dan RPP.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami memberikan informasi kepada peserta didik mengenai KKM.
    • Setiap guru di sekolah kami mengembangkan dan menerapkan program penilaian untuk membantu meningkatkan kemampuan belajar peserta didik.
    • Guru-guru di sekolah kami melaksanakan penilaian terhadap peserta didik secara periodik, tapi sebagian besar hanya menggunakan tes dan ujian.
    •  uru-guru di sekolah kami tidak membicarakan hasil penilaian dengan peserta didik.
    • Ø Guru-guru di sekolah kami dalam melaksanakan penilaian hasil belajar peserta didik hanya menggunakan tes dan ujian.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami tidak menilai atau memonitor kemajuan peserta didik secara sistematis.


Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Nilai peserta didik dalam Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan (berdasarkan UH, UTS dan UAS)

Hasil wawancara dengan orangtua dan peserta didik
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Dokumen hasil penetapan KKM
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

4.2         Bagaimana  penilaian berdampak pada  proses belajar?

Spesifikasi:

q Penilaian oleh guru

Ÿ  Guru memberikan masukan dan komentar mengenai penilaian yang mereka lakukan pada peserta didik

Ÿ  Guru menggunakan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

  • Ø Semua guru di sekolah kami secara rutin mencatat kemajuan peserta didik sebagai dasar perencanaan dan tindak lanjutnya.
  • Ø Sekolah kami memberikan kesempatan kepada semua peserta didik  untuk memberikan pendapat terhadap hasil pencapaian kemajuan belajar yang mereka peroleh dan terlibat dalam penetapan target  pembelajaran.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami mengkaji ulang tingkat kemajuan semua peserta didik pada setiap akhir semester dan menggunakan informasi tersebut untuk merencanakan program pembelajaran selanjutnya.
  • Ø Guru-guru di sekolah kami memberi kesempatan kepada  peserta didik untuk mengkaji ulang kemajuan belajar mereka untuk menetapkan target pembelajaran selanjutnya.
  • Ø Setiap  guru menyampaikan hasil Evaluasi mata pelajaran serta hasil penilaian setiap peserta didik kepada Kepala sekolah pada akhir semester dalam bentuk laporan hasil prestasi belajar peserta didik.
  • Ø Hasil tes kadang-kadang digunakan guru untuk  merencanakan bahan pembelajaran selanjutnya.
  • Ø Sebagian guru (sekitar 40%) di sekolah kami tidak melibatkan peserta didik dalam mengkaji ulang  kemajuan belajar mereka.
  • Ø Hasil tes tidak  berpengaruh pada  program pembelajaran.
  • Ø Hasil penilaian tidak berpengaruh pada peningkatan motivasi peserta didik.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Hasil pencapaian peserta didik pada Ujian Nasional

Kemajuan peserta didik berdasarkan target yang ditetapkan

Hasil wawancara dengan orangtua dan peserta didik
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
4.3. Apakah orangtua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka?

Spesifikasi:

·         Penilaian berdasarkan  satuan pendidikan

Sekolah  melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran  pada setiap akhir semester kepada orangtua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

 Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

  Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami menyampaikan laporan semua hasil penilaian peserta didik kepada orangtua.
  • Ø Sekolah kami melaporkan hasil belajar peserta didik secara berkala dan memberikan kesempatan setiap saat kepada orangtua untuk membahas  kemajuan belajar anak mereka.
  • Ø Orangtua berperan serta secara aktif dalam kegiatan  sekolah, termasuk  kegiatan proses pembelajaran.
  • Ø Sekolah kami mendorong orangtua untuk berpartisipasi dan peduli terhadap pendidikan anak-anak mereka.
  • Ø Sekolah kami membuat laporan berkala pada orangtua mengenai pencapaian hasil belajar peserta didik setiap semester dan menawarkan kesempatan untuk mendiskusikan kemajuan anak mereka.
  • Ø Sekolah kami memiliki kemitraan dengan orangtua
  • Ø Orangtua terlibat aktif dalam penyelesaian PR (Pekerjaan Rumah) anak mereka.
  • Ø Kepala Sekolah menyampaikan laporan hasil Ulangan Akhir Semester (UAS) dan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) serta Ujian Akhir (US/UN) kepada orangtua peserta didik dan menyampaikan rekapitulasinya kepada Dinas Pendidikan Kab/Kota atau Kantor Kemenag pada setiap akhir semester.
  • Ø Sekolah kami membuat laporan tahunan mengenai pencapaian hasil belajar  peserta didik kepada orangtua tetapi tidak memberi kesempatan untuk berdiskusi
  • Ø Sekolah kami melibatkan sebagian kecil orangtua peserta didik untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah tetapi kami masih menganggap perlu untuk mendorong keterlibatan semua orangtua.
  • Ø Sekolah kami perlu membangun kerja sama dengan orangtua agar membantu anak mereka belajar di rumah.
  • Ø Sekolah kami membuat laporan kepada orangtua tidak secara rutin dan sistematis.
  • Ø Sekolah kami tidak melibatkan orangtua secara aktiif dalam kegiatan sekolah.
  • Ø Sekolah kami tidak melibatkan  orangtua dalam PR (Pekerjaan Rumah) peserta didik dan kegiatan tugas sekolah lainnya.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Hasil wawancara dengan peserta didik

Hasil wawancara dengan orangtua

Hasil wawancara dengan guru
Laporan kegiatan sekolah
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
5. Kompetensi Lulusan
5.1.      Apakah peserta didik dapat mencapai target  akademis yang diharapkan?

Spesifikasi

q  Hasil belajar peserta didik sesuai dengan standar kompetensi lulusan

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke- 1

  • Semua peserta didik menunjukkan kemajuan, percaya diri, dan memiliki harapan yang tinggi dalam berprestasi.
  • Peserta didik kami mengembangankan keterampilan berpikir logis, kritis, dan analititis serta mengembangkan kreatifitas mereka.
  • Sekolah kami sudah mampu meningkatkan prestasi belajar peserta didik yang sebelumnya masih rendah/kurang.
  • Sekolah kami memastikan kebutuhan peserta didik yang berkemampuan rendah dapat terpenuhi secara efektif
  • Peserta didik kami mampu menjadi pembelajar yang mandiri.

Ø  Sebagian besar (sekitar 90%) peserta didik menunjukkan kemajuan yang baik dalam mencapai target yang ditetapkan dibandingkan dengan  kondisi sebelumnya.

  • Peserta didik kami memiliki rasa percaya diri dan  mampu mengekspresikan  diri dan mengungkapkan pendapat mereka.

Ø Sebagian kecil peserta didik telah menunjukkan prestasi belajar yang lebih baik, namun tidak konsisten.

  • Ø Kami belum merumuskan dan mengupayakan target  belajar yang bisa dicapai bagi semua peserta didik agar mereka bisa berhasil.
  • Ø Hasil belajar peserta didik masih rendah disebabkan oleh pemakaian  program belajar yang kurang beragam.
  • Ø Peserta didik kurang memiliki motivasi belajar, rasa percaya diri serta semangat belajar.


Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Daftar kemajuan yang dicapai peserta didik dalam keterampilan menulis, membaca dan berhitung

Hasil Ujian Nasional/Sekolah
Hasil-hasil tes
Mutu pekerjaan sekolah yang dihasilkan dalam bidang akademik
Hasil-hasil yang dicapai secara perorangan atau bersama melalui lomba
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
5.2.      Apakah peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat?

Spesifikasi

q  Sekolah mengembangkan kepribadian peserta didik.

q  Sekolah mengembangkan keterampilan hidup.

q  Sekolah mengembangkan nilai-nilai agama, budaya, dan pemahaman atas sikap yang dapat diterima.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke- 1

  • Peserta didik menerapkan ajaran agama dalam kehidupan mereka secara konsisten.
  • Peserta didik berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan di sekolah dan di tengah masyarakat luas. Mereka memiliki kemampuan secara pribadi dan sosial dan  melakukan berbagai jenis kegiatan untuk keberhasilan pribadi dalam  ruang lingkup yang lebih luas.
  • Potensi dan minat peserta didik kami telah berkembang secara penuh melalui partisipasi mereka dalam berbagai jenis kegiatan.
  • Peserta didik kami memiliki kesempatan untuk mengembangkan rasa estetika dan kesehatan fisik.

Ø Peserta didik kami menerapkan ajaran agama dalam kehidupan mereka

  • Ø Peserta didik kami menunjukkan sikap yang baik di sekolah dan di tengah masyarakat luas. Mereka memahami tentang disiplin, toleransi, kejujuran, kerja keras, dan perhatian kepada orang lain.
  • Ø Sekolah kami menyediakan beragam kegiatan pengembangan pribadi
    • Ø Peserta didik kami memiliki pengetahuan yang memadai mengenai agama mereka dan sudah mulai berusaha menerapkannya.
    • Ø Kami menawarkan beberapa kegiatan ekstra kurikuler tetapi belum sesuai dengan minat peserta didik.
    • Ø Peserta didik kami memiliki pengetahuan agama yang terbatas dan belum mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
    • Ø Kami hanya menyediakan sedikit program pembelajaran dan belum bisa mengembangkan keterampilan lain
    • Ø Kami belum bisa memberi kesempatan belajar bagi peserta didik yang dapat  menjamin pencapaian potensi mereka secara penuh.


Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi  sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan pencapaian pengembangan pribadi dan sosial peserta didik

Catatan / Absensi Kehadiran peserta didik pada kegiatan ekstra kurikuler
Pencapaian prestasi olahraga
Catatan mengenai program budaya
Bukti fisik lainnya (tuliskan)


6. Standar Pengelolaan
6.1        Apakah kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?  

Spesifikasi

·         Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan.

q  Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengeloaan sekolah/madrasah yang menunjukkan adanya kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami memiliki tim pengelolaan yang kuat, komite yang mendukung dan melibatkan diri pada pada seluruh kegiatan untuk menjamin keterlaksanaan pelayanan sekolah.
  • Ø Pimpinan sekolah kami mendorong evaluasi diri pendidik sehingga memperkuat rasa  percaya diri dan keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan tugas di dalam maupun di luar kelas
  • Ø Kami memiliki pemahaman bersama yang jelas dan baik untuk mewujudkan sekolah sebagai lingkungan kerja yang mendukung  sehingga pendidik, tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat mewujudkan kebersamaan dan berbagi tanggung jawab untuk mewujudkan keberhasilan peserta didik.
  • Ø Sekolah kami memiliki komite sekolah dan dewan guru yang aktif
  • Ø Pimpinan sekolah kami menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki pembelajaran dengan melakukan kunjungan kelas, mengkaji model pembelajaran yang efektif, dan memberikan umpan balik.
  • Ø Sekolah kami memiliki visi-misi yang jelas yang dirumuskan berdasarkan kesepakatan pemangku kepentingan dan terfokus pada peningkatan mutu pendidikan.

Ø Sekolah kami menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Komite sekolah kami melakukan pertemuan secara teratur, namun kurang melibatkan diri secara aktif dalam kepentingan sekolah.

Pimpinan sekolah kami belum melibatkan diri secara memadai dalam kegiatan sekolah yang mempunyai pengaruh langsung terhadap peningkatan pembelajaran.

Ø Visi dan misi sekolah kami tidak dirumuskan bersama dan belum disebarluaskan.

Ø Komite sekolah kami tidak berfungsi.

  • Ø Pimpinan sekolah kami tidak secara konsisten mendukung dan memberi tantangan dan arah yang memadai dalam perumusan target bagi perbaikan kinerja sekolah.
  • Ø Beberapa tenaga kependidikan di sekolah kami tidak mendukung pengembangan meskipun mereka ditugasi untuk melakukan perbaikan
  • Ø Sekolah kami belum sepenuhnya merumuskan visi dan misi.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Pernyataan visi-misi sekolah

Dokumen sosialisasi rumusan visi-misi kepada pemangku kepentingan

Agenda/catatan hasil pertemuan komite sekolah
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
6.2        Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?

Spesifikasi

 

  • Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan rencana kerja dengan tujuan yang jelas untuk peningkatan dan perbaikan serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan pihak yang bekepentingan.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami merumuskan tujuan  berdasarkan hasil yang telah tercapai dan target belajar peserta didik sejalan dengan prioritas daerah dan pusat.
  • Ø Kepala sekolah kami memimpin dan mengelola sekolah secara efektif dengan memprioritaskan sejumlah inisiatif dan mengkomunikasikannya dengan baik.
  • Ø Kami memiliki pengharapan yang jelas dan sikap positif terhadap keberagaman dalam peningkatan dan perbaikan sekolah.
    • Sekolah kami memiliki rencana kerja yang jelas dan sesuai untuk kelancaran pengelolaan sekolah
    • Tujuan dan rencana sekolah kami disosialisasikan kepada pemangku kepentingan sehingga memahaminya dengan baik
    • Pemangku kepentingan terlibat dalam perencanaan pengembangan sekolah serta menilai kemajuannya
      • Ø Kepala sekolah melakukan supervisi kelas dan memberikan umpan balik kepada guru dua kali dalam setiap semester.
      • Ø Para guru dan tenaga administrasi sekolah (TAS)  sekolah kami tidak memiliki rasa kepemilikan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan yang hendak sekolah capai.
      • Ø Pimpinan sekolah kami tidak mengkomunikasikan rencana peningkatan dan perbaikan sekolah kepada pemangku kepentingan.
      • Ø Pimpinan sekolah kami tidak melakukan evaluasi terhadap upaya yang kami lakukan dan mengubah rencana sesuai dengan hasil evaluasi.
      • Ø Pimpinan sekolah kami tidak memperhatikan pengembangan proses pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

Ø Tujuan sekolah kami tidak jelas dan tidak banyak terkait dengan kegiatan utama sekolah.

  • Ø Pimpinan sekolah kami tidak efektif dalam memperbaiki mutu dan pendayagunaan sumber daya yang ada. .

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Tujuan dan RPS/RKS

Pendokumentasian dan sosialisasi RPS/RKS

Bukti fisik lainnya (tuliskan)
6.3        Apakah Rencana Pengembangan Sekolah/ Rencana Kerja Sekolah berdampak terhadap peningkatan hasil belajar?

Spesifikasi

  • Perencanaan Program

q Rencana Kerja tahunan dinyatakan dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah/madrasah dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah

  • Supervisi dan Penilaian

q Sekolah melakukan evaluasi diri terhadap kinerja sekolah.

q Sekolah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kinerja, dan melakukan perbaikan dalam rangka pelaksanaan SNP

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Kami menilai dampak implementasi Rencana Pengembangan Sekolah terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik.
  • Ø Kami bekerja secara perorangan maupun bersama-sama untuk meningkatkan kinerja sekolah dan prestasi belajar peserta didik secara berkelanjutan.
  • Ø Kami memiliki visi-misi yang jelas dan dibutuhkan sehingga kepemimpinan sekolah kami siap menghadapi perubahan.
    • Ø Prioritas-prioritas kegiatan di dalam Rencana Pengembangan Sekolah telah menunjukkan dampak nyata terhadap prestasi belajar peserta didik , kehadiran, kondisi keseharian peserta didik dan kondisi kerja di sekolah kami.
    • Ø Kami menggunakan informasi yang diperoleh dari hasil evaluasi diri sebagai bahan penyusunan RPS/RKS dan mengutamakan kegiatan peningkatan mutu pembelajaran.
    • Ø Peningkatan kinerja sekolah  memperhitungkan kemampuan yang dimiliki untuk melakukan perbaikan dan perubahan.
      • Ø Kami merasa perlu untuk memperbaiki struktur dan tampilan rencana pengembangan sekolah, sehingga menjadi jelas dan bermanfaat bagi peningkatan kinerja sekolah.
      • Ø Kami  cenderung  mengutamakan perbaikan system, fungsi, dan proses, dan tidak menaruh perhatian pada peningkatan hasil belajar peserta didik.
        • Ø Rencana kerja sekolah kami tidak terarah pada peningkatan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.
        • Ø Rencana pengembangan sekolah kami tidak didukung dengan informasi yang didapat dari hasil evaluasi diri sekolah.
        • Ø Sejumlah staf di sekolah kami tidak terbuka terhadap perubahan, dan evaluasi diri belum menjadi tata kerja di sekolah kami.

Ø Rencana pengembangan sekolah telah menunjukkan sejumlah perbaikan dalam kinerja sekolah, namun belum terarah pada kegiatan peningkatan hasil belajar peserta didik.


Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Laporan evaluasi diri sekolah

Laporan kemajuan dalam implementasi rencana pengembangan sekolah
Hasil wawancara dengan peserta didik
Hasil wawancara dengan orangtua
Laporan guru kepada kepala sekolah mengenai pencapaian mereka
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
6.4        Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid?

Spesifikasi

q  Sekolah mengelola sistem informasi pengelolaan dengan cara yang efektif, efisien dan dapat dipertanggungjawabkan

q  Sekolah menyediakan sistem informasi yang efisien, efektif, dan dapat diakses

q  Sekolah menyediakan laporan dan data yang dibutuhkan oleh kabupaten/kota dan tingkatan lain dalam sistem

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami memiliki sistem pengumpulan dan penyimpanan data yang efektif.
  • Ø Sekolah kami menggunakan informasi untuk memetakan tingkat pencapaian kinerja sekolah, bahan perumusan perencanaan, membangun dukungan dan sumber daya kebijakan yang dapat meningkatkan pembelajaran dan tingkat pencapaian sekolah.
  • Ø Sekolah kami berbagi informasi mengenai perkembangan peserta didik kepada  orangtua mereka.
    • Ø Sekolah kami memperbaharui data dan informasi secara berkala.
    • Ø Sekolah kami menganalisis semua data yang terhimpun sebagai bahan penyusunan RKJM.
    • Ø Sekolah kami mengirim data dan informasi secara berkala ke kantor Dinas Pendidikan atau Kankemenag kabupaten/kota.
    • Ø Sekolah kami mengumpulkan dan menyimpan berbagai jenis data.
    • Ø Sekolah kami tidak menggunakan data secara efektif untuk memonitor, melaksanakan perbaikan, menentukan tolok ukur kinerja, dan mengidentifikasi kecenderungan yang ada.
    • Ø Sekolah kami tidak banyak  berbagi informasi antar sesama pegawai untuk memperluas pandangan mengenai upaya yang dilakukan oleh sekolah.

Ø Sekolah kami hanya melaksanakan pengumpulan data jika diminta.

Ø Pegawai kami hanya mendapatkan sedikit pelatihan atau bahkan tidak pernah sama sekali mengenai interpretasi penggunaan sistem informasi untuk merencanakan perbaikan.

Ø Sekolah kami tidak memiliki sistem informasi yang efektif sebagai sumber data yang dibutuhkan untuk meningkatkan hasil pembelajaran.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Informasi dan data sekolah mutakhir

RPS/RKS

Catatan Dinas Pendidikan atau  Kandepag  kabupaten/kota  mengenai kegiatan dan pencapaian sekolah
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
6.5        Bagaimana cara memberikan dukungan dan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan?

Spesifikasi

  • Pendidik dan Tenaga Kependidikan

q  Sekolah meningkatkan kefektifan kinerja pendidik dan tenaga kependidikandan pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan

  • Supervisi dan Evaluasi

q  Supevisi dan evaluasi pelaksanaan tugas pendidik dan tenaga kependidikan dan kesesuaian dengan standar nasional

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah mendukung dan menghargai prestasi pendidik dan tenaga kependidikan serta mengkomunikasikan keberhasilan dan upaya terbaik yang telah dilakukan.
  • Ø Pendidik dan tenaga kependidikan sekolah kami mendapatkan informasi dan dukungan materi untuk pengembangan profesi.
  • Ø Kami menyikapi dan memonitor masalah kesetaraan dan keadilan di sekolah secara sistematis.
    • Ø Pendidik bermotivasi tinggi dan mendapat pengakuan atas prestasi yang diraihnya.
    • Ø Pendidik sekolah kami mendapatkan peluang untuk mengembangkan profesi yang relevan.
    • Ø Kepala sekolah melakukan penilaian kinerja guru dengan prosedur yang jelas.
    • Ø Sebagian (sekitar 40%) pendidik dan tenaga kependidikan merasa kurang mendapatkan penghargaan yang memadai serta kurang termotivasi oleh pimpinan sekolah.
    • Ø Pendidik sekolah kami kurang mendapatkan kesempatan terhadap pengembangan profesinya yang sesuai.
    • Ø Sekolah kami belum melakukan penilaian kinerja pendidik dan tenaga kependidikan secara berkelanjutan
      • Ø Pimpinan sekolah tidak mendorong pendidik dan tenaga kependidikan mengembangkan profesi karena pimpinan sekolah khawatir pendidik dean tenaga kependidikan tidak berkosentrasi pada pekerjaannya.

Ø Banyak pendidik dan tenaga kependidikan sekolah kami yang merasa tidak ada pengakuan dan penghargaan atas prestasi sehingga mereka tidak termotivasi.

  • Ø Pihak pimpinan tidak memberikan teguran kepada pegawai sesuai kebutuhan.


Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan penilaian tahunan guru dan pegawai lain oleh kepala sekolah

Hasil wawancara guru

Hasil observasi
Daftar nilai peserta didik
Rencana perbaikan dan pengembangan guru dari waktu ke waktu
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
6.6        Bagaimana cara masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah?

Spesifikasi

q  Warga sekolah terlibat dalam pengelolaan kegiatan akademis dan nonakademis.

q  Sekolah melibatkan anggota masyarakat khususnya pengelolaan kegiatan nonakademis.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Anggota masyarakat yang tergabung dalam komite sekolah, berpartisipasi aktif mengkaji kebutuhan, memperluas pengalaman peserta didik dan memberikan dukungan untuk mengurangi hambatan dalam belajar.
  • Ø Masyarakat di lingkungan sekolah termasuk anggota masyarakat yang kurang mampu dan pelaku industri di daerah kami memberikan tanggapan positif atas laporan mutu pendidikan yang kami berikan, seperti meningkatnya motivasi peserta didik dan keluarga melibatkan diri pada kegiatan sekolah.
  • Ø Sekolah kami melibatkan perorangan, keluarga dan kelompok masyarakat dalam berbagai kegiatan dan dalam pembuatan keputusan yang mempengaruhi masyarakat.
    • Ø Kami menghargai dan mempertimbangkan pandangan masyarakat, merespon keluhan masyarakat dan menghargai keterlibatannya dalam meniingkatkan reputasi  kehidupan sekolah.
    • Ø Masyarakat menilai sekolah kami relevan dan memenuhi kebutuhan masyarakat daerah.
    • Ø Sekolah kami melibatkan masyarakat dalam kegiatan sekolah.
    • Ø Anggota masyarakat di luar komite sekolah, tidak berpartisipasi aktif di sekolah dan kami tidak mendorong mereka secara proaktif
    • Ø Komite sekolah kami cukup aktif membantu kegiatan sekolah.
      • Ø Sekolah kami tidak banyak berkomunikasi dengan masyarakat setempat,  tidak memberikan perhatian terhadap kepentingan masyarakat atau meminta masukan mengenai upaya untuk perbaikan sekolah dan kurang mendorong  mereka agar lebih terlibat secara aktif.
  • Ø Komite sekolah kami tidak aktif dan tidak banyak membantu kegiatan sekolah.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai dukungan komite sekolah

Tingkat pendaftaran peserta didik

Hasil wawancara dengan perwakilan masyarakat setempat
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

7.   STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

7.1         Apakah pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai?
Spesifikasi

q  Jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan memenuhi standar

q  Pendidik dan tenaga kependidikan memenuhi standar kompetensi

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami memiliki pendidik dan tenaga kependidikan dengan jumlah, kualifikasi, dan kompetensi yang memadai untuk memberikan pengalaman belajar dengan kualitas tinggi bagi semua peserta didik, termasuk peserta didik yang mempunyai kebutuhan khusus.
  • Ø Kualifikasi  dan kompetensi semua pendidik  dan tenaga kependidikan di sekolah kami  sudah melebihi ketentuan yang ditetapkan dalam standar.
  • Ø Sekolah kami memiliki jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan dalam standar.
  • Ø Sekolah kami mempunyai tenaga pendidik yang cukup untuk menangani peserta didik yang mengalami kesulitan belajar.
  • Ø Guru guru disekolah kami memliki dedikasi dan integritas yang tinggi terhadap pekerjaannya.
  • Ø Tingkat keahlian mengajar pendidik memungkinkan tercakupnya sebagian besar tuntutan kurikulum, tetapi masih ada kesenjangan dibidang keahlian tertentu.
  • Ø Beberapa pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah kami tidak memiliki kualifikasi minimum yang dipersyaratkan.
  • Ø Setiap guru tetap kami telah bekerja sesuai dengan ketentuan standar pelayanan minimal (SPM).
  • Ø Sekolah kami menyelenggarakan proses pembelajaran selama 34 minggu pertahun dengan kegiatan tatap muka sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Ø Sekolah kami tidak memiliki jumlah pendidik dan tenaga kependidikan seperti yang dipersyaratkan dalam standar nasional pendidikan.

  • Ø Sebagian besar pendidik di sekolah kami tidak memenuhi kualifikasi minimum.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Beban mengajar guru
Laporan kepala sekolah mengenai supervisi guru
Penilaian terhadap pendidik dan tenaga kependidikan
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
8. Standar Pembiayaan
8.1        . Bagaimana sekolah mengelola keuangan?

Spesifikasi:

 

Ÿ  Pengelolaan keuangan sekolah

q Anggaran sekolah dirumuskan merujuk Peraturan Pemerintah, pemerintahan provinsi, dan pemerintahan kabupaten/kota

q Pengelolaan keuangan sekolah transparan, efisien, dan akuntabel.

q Sekolah membuat pelaporan keuangan kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Perumusan rancangan anggaran biaya pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) merujuk pada peraturan pemerintah dengan melibatkan partisipasi komite sekolah dan pemangku kepentingan yang terkait.
  • Ø Sekolah membuat laporan pertanggungjawaban pendapatan dan penggunaan keuangan secara berkala dan menyeluruh kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan.
  • Ø Perumusan rancangan anggaran biaya pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) merujuk pada Peraturan Pemerintah  dan dikomunikasikan kepada komite sekolah dan pemangku kepentingan yang terkait.
    • Ø Sekolah membuat laporan pertanggungjawaban pendapatan dan penggunaan keuangan secara periodik kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan.
    • Ø Perumusan rancangan anggaran biaya pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) merujuk pada Peraturan Pemerintah.
      • Ø Sekolah membuat laporan  pertanggungjawaban pendapatan dan penggunaan keuangan kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan, tetapi masih perlu dilakukan secara rutin dan proses yang transparan.
      • Ø Perumusan rancangan anggaran biaya pendapatan dan belanja sekolah (RAPBS) belum sepenuhnya merujuk pada Peraturan Pemerintah, pemerintahan provinsi, dan pemerintahan kabupaten/kota.
        • Ø Sekolah belum membuat laporan pertanggungjawaban pendapatan dan penggunaan keuangan kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

RAPBS jangka panjang, menengah, dan tahunan

Laporan pertanggungjawaban pendapatan dan penggunaan keuangan sekolah kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.
Pembukuan keuangan sekolah
Wawancara dengan komite sekolah dan pemangku kepentingan yang terkait
Catatan hasil pertemuan dengan komite sekolah dan pemangku kepentigan yang terkait.
Bukti fisik lainnya (tuliskan)
8.2        . Upaya apakah yang telah dilaksanakan oleh sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya?

Spesifikasi:

q Sekolah  memiliki kapasitas untuk mencari dana dengan inisiatifnya sendiri

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami kreatif menggali berbagai sumber untuk mendapatkan pendapatan tambahan.
  • Ø Kami telah membangun jaringan kerja yang kuat dengan pemilik usaha dan industri setempat dan pemangku kepentingan lainnya yang membantu sekolah kami dalam hal pembiayaan.
  • Ø Kami melanjutkan hubungan dengan alumni kami dan menggunakan mereka sebagai sumber pendanaan dan bantuan lainnya.
    • Ø Sekolah kami mendapatkan pembiayaan tambahan melalui pemanfaatan sarana dan prasarana sekolah.
    • Ø Kami telah mengembangkan hubungan kerja sama dengan pemangku kepentingan, khususnya orangtua yang mampu untuk membantu sekolah kami.
    • Ø Kami akan melanjutkan hubungan dengan alumni dan mereka membantu upaya kami walaupun bukan dalam hal pembiayaan.
      • Ø Kami berencana untuk memperluas penggunaan sumber daya dan prasarana sekolah untuk mendapatkan pembiayaan tambahan tetapi kami belum mengimplementasikannya.
      • Ø Hubungan kami dengan pemangku kepentingan harus dikembangkan lebih lanjut agar mendapatkan bantuan keuangan dari mereka.
      • Ø Kami menyimpan catatan alumni dan sebagian dari mereka membantu sekolah tetapi bukan dalam hal pembiayaan
  • Ø Kami belum mempertimbangkan penggunaan sumber daya atau prasarana sekolah untuk mencari sumber pembiayaan tambahan.
  • Ø Kami belum memiliki hubungan yang kuat dengan dunia usaha dan industri setempat.
  • Ø Kami tidak menyimpan catatan alumni sekolah kami.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

RAPBS jangka panjang, menengah, dan tahunan

Catatan alumni
Catatan hasil pertemuan dengan pemangku kepentigan yang terkait
Catatan pendapatan dari semua sumber
Wawancara dengan komite sekolah dan pemangku kepentigan yang terkait
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

8.3. Bagaimana cara sekolah menjamin kesetaraan akses?

Spesifikasi:

 

q Sumbangan orangtua siswa sekolah ditentukan berdasarkan kemampuan ekonomi orangtua

q Sekolah melakukan subsidi silang kepada siswa kurang mampu di bidang ekonomi

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4

Tingkat ke-3

Tingkat ke-2

Tingkat ke-1

  • Ø Sekolah kami melayani anak usia sekolah dari berbagai tingkatan sosial masyarakat sekitar, termasuk anak dengan kebutuhan khusus
  • Ø Kami mematuhi  standar mengenai biaya sumbangan orangtua dan subsidi silang pembiayaan dan juga memiliki alokasi persentasi untuk memberikan tempat bagi anak yang sangat miskin
  • Ø Kami mendorong keterlibatan semua golongan siswa (program inklusif) dan mempromosikan kesetaraan akses bagi semua peserta didik
  • Ø Kami merumuskan besarnya sumbangan orangtua berdasarkan kemampuan ekonomi orangtua dan menerapkan prinsip subsidi silang.
  • Ø Beberapa kelompok dari masyarakat setempat tidak terwakili dalam populasi peserta didik di sekolah kami
  • Ø Sumbangan orangtua dirumuskan berdasarkan kemampuan ekonomi orangtua peserta didik, tetapi sekolah tidak menerapkan subsidi silang dalam membiayai program kegiatan peserta didik.
  • Ø Kesetaraan kesempatan peserta didik bukan bagian penting dari apa yang sekolah kami lakukan
  • Ø Sumbangan orangtua dan biaya kegiatan sekolah lainnya ditentukan sama untuk semua peserta didik dengan tidak mempertimbangkan kemampuan ekonomi orangtua.


Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Angka peserta didik yang masuk dan keluar

Wawancara dengan peserta didik

Wawancara dengan orangtua
Wawancara dengan yang mewakili masyarakat
Wawancara perwakilan masyarakat daerah
Catatan SPP yang dibayarkan
Tingkat putus sekolah
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS) Apa, Mengapa dan Bagaimana

EVALUASI DIRI SEKOLAH

(EDS)

Apa, Mengapa dan Bagaimana

Bahan Ajar dan Materi Pelatihan dalam Rangka Penguatan Kemampuan Kepala Sekolah/Madrasah

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

2010

KATA PENGANTAR

Persyaratan menjadi kepala sekolah/madrasah telah ditentukan oleh Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Para kepala sekolah/madrasah harus memiliki kompetensi berikut: kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Kementerian Pendidikan Nasional juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan dalam upaya peningkatan mutu pendidikan dimana Evaluasi Diri Sekolah (EDS) merupakan komponen penting. Oleh sebab itu kepada para kepala sekolah/madrasah kita perlu mensosialisasikan EDS dalam aspek konsep, tujuan, manfaat, pemahaman instrument EDS sampai cara memakainya.

Materi Modul ini disusun untuk digunakan oleh para Kepala sekolah dan guru serta oleh pemangku kepentingan pendidikan lainnya agar mereka memiliki bahan belajar mandiri yang mudah dipakai dalam rangka penguatan kemampuan manajerial mereka.  Modul ini merupakan bagian dari modul tentang Manajemen Berbasis Sekolah dalam rangka penguatan kemampuan manajerial para kepala sekolah/madrasah.

Kepada anggota Tim Penulis kami mengucapkan banyak terima kasih atas dedikasi dan kerja kerasnya sehingga dapat menghasilkan buku yang cukup baik ini. Kami harap dapat menerima saran-saran untuk penyempurnaan Modul ini agar dapat membantu terciptanya upaya Pengembangan Professional yang berkesinambungan bagi para kepala sekolah/madrasah.

Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi upaya-upaya kita dalam meningkatkan mutu pendidikan di negara kita.

Jakarta, Juli 2010

Dirjen PMPTK

Kemendiknas,

Prof. Dr. Baedhowi

NIP. 19490828 197903 1 001


DAFTAR ISI

PENGANTAR…………………………………………………………………………..  ii

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………… iii

Daftar Singkatan                                                                                                   v

BAB I: PENDAHULUAN …..………………………………………..………  1

A. Latar Belakang….                                                                                          ..1

B. Pemahaman Konsep dan Pengertian EDS …………..……………… ……… 2

C. Pelaksanaan EDS …………………………………………………….……..… … 3

   

BAB II: KONSEP DAN PENGERTIAN EDS   …………   …………….….  4

A. Tujuan Belajar …………………………………………………… ……………..    4

B. Hasil yang diharapkan ………………………………………… ………………   5

C. Pengantar …………………………………………………………… ……………  6

D. Konsep Evaluasi Diri Sekolah:    ………………………………  ……………..  6

BAB III: INSTRUMEN  EDS ………………………….……………………..      12

A. Tujuan Belajar …………………………………………………………………………….. …. 12

B. Hasil yang diharapkan  …………………….………………………………… …..  12

C. Latar Belakang …………………………………………………………………………… ….. 13

D. Bagaimana Bentuk Instrumen EDS  ………….………………………… …..   14

BAB IV. PENGISIAN INSTRUMEN EDS …………………. …………………     17

A. Tujuan Belajar …………………………………………………………………………    …    17

B. Hasil yang diharapkan  …………………………………………………………    …..     17

C. Apa yang diperlukan untuk Pengisian Instrumen EDS ……….. ..    ……..   17

D. Cara Menentukan Tingkat Pencapaian.……….………………… ..    ….. .    18

E. Rincian Instrumen EDS  …………………………………………………….. ..     …….  18

F. Beberapa Saran Penggunaan Instrumen EDS .……………………      ………   26

BAB V: LATIHAN PENGGUNAAN INSTRUMEN EDS ……………………… 27

  1. A.  Tujuan Belajar …………………………………………………………………………..         27
  2. B.  Hasil yang diharapkan ………………………………………………………………..       27
  3. C.  Bahan-bahan yang diperlukan …………………………………………………….       27
  4. D.  Studi Kasus ……………………………………………………………………………….        28

BAB VI: EDS SEBAGAI DASAR RPS/RKS ……………………………………  34

  1. A.  Tujuan Belajar ………………………………………………………………………..      ……34
  2. B.  Hasil yang diharapkan …………………………………………………………..     ……..34
  3. C.  Latar Belakang ……………………………………………………………………      ……… 34
  4. D.  Membuat Perencanaan ………………………………………………………     ……….. 36
  5. E.  Menentukan Prioritas  ………………………………………………………      ………… 36
  6. F.  Membuat RPS/RKS                                                                                        38

 

BAB VII: PENUTUP …………………………………………………………………….  41


 

DAFTAR SINGKATAN

AIBEP Australia-Indonesia Basic Education Program
BAN S/M Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah
BAP Badan Akreditasi Provinsi
BDK Badan Diklat Keagamaan – Kementerian Agama
EDK Evaluasi Diri Kabupaten/Kota
EDS Evaluasi Diri Sekolah
EMIS Education Management Information System (Sistem Informasi Manajemen Pendidikan – SIMPendik)
Kemenag Kementerian Agama
Kemendagri Kementerian Dalam Negeri
Kemendiknas Kementerian Pendidikan Nasional
KKS Kajian Kinerja Sekolah
LPMP Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
LPPKS Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah
MPMP Model Penjaminan Mutu Pendidikan
MSPD Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah
Padati Pusat Data dan Informasi (Kemendiknas)
PKB/CPD Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan /Continuous Professional Development
P4TK Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan
RENSTRA Rencana Strategis
RKT Rencana Keja tahunan
RKJM Rencana Kegiatan Jangka Menengah
RPS/RKS Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kegiatan Sekolah
RAPBS/RKAS Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah
SMDP Sistem Manajemen Data Pendidikan
SNP Standar Nasional Pendidikan
SPM Standar Pelayanan Minimal
SPMP Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
TPS Tim Pengembang Sekolah


 

BAB I

PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang

Agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, seorang Kepala sekolah/madrasah harus memiliki kompetensi-kompetensi seperti tertera dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah/madrasah: - kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial.  Disamping itu sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk meningkatkan mutu pendidikan di satuan pendidikan dibawah tanggung jawabnnya, dia juga harus mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomer 63 tahun 2009 tentang Sistim Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) yang mengharuskan “terbangunnya budaya mutu pendidikan” serta “terpetakannya mutu pendidikan yang rinci pada satuan pendidikan”.

Untuk mencapai tujuan tersebut maka para kepala sekolah/madrasah khususnya dan pemangku kepentingan pendidikan pada umumnya, mutlak perlu mengetahui secara benar konsep, maksud dan tujuan serta mampu melaksanakan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) di sekolahnya. Dengan melaksanakan EDS ini maka kepala sekolah/madrasah akan lebih dapat melaksanakan kompetensi manajerialnya secara menyeluruh dan bermakna yang akan membantu peningkatan kinerja sekolah – khususnya dalam melihat sejauh manakah sekolah/madrasah telah mencapai Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP), serta kekuatan dan kelemahannya sehingga sekolah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata mereka.

Peningkatan mutu pendidikan khususnya pada satuan pendidikan memerlukan adanya kepala sekolah/madrasah yang handal, tangguh dan berkemampuan yang secara bersama-sama dengan seluruh pemangku kepentingan di sekolah dapat memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada semua peserta didik. Kepala sekolah/madrasah yang handal diharapkan dapat menjadi lokomotif dan kekuatan untuk membimbing, menjadi contoh, serta menggerakkan para pendidik dan tenaga kependidikamn dalam melaksanakan upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah/madrasah. Oleh karena itu, program penguatan kemampuan kepala sekolah/madrasah perlu memasukkan pembahasan mengenai EDS, yang merupakan bagian penting dalam kompetensi manajerial, sebagai salah satu topik yang harus diketahui dan dipahami secara benar untuk selanjutnya dilaksanakan oleh para kepala sekolah/madrasah.

Materi tentang EDS ini sejauh mungkin diupayakan disusun dalam bentuk modul belajar mandiri yang dapat juga dipakai sebagai bahan belajar kelompok.  Untuk dapat memperoleh manfaat maksimal, dalam memakai materi ini seyogyanya dibarengi dengan menyediakan dokumen dokumen utama tentang EDS yaitu: (1) Instrumen EDS itu sendiri; (2) Pedoman Teknis EDS; dan (3) Format Laporan EDS. Kesemuanya ini akan memberikan pengertian menyeluruh tentang apa, mengapa serta bagaimana EDS ini.

Dalam pelaksanaan EDS di sekolah, untuk mempermudah pengisian Instrumen, mereka juga perlu menyediakan semua Peraturan Menteri tentang kedelapan SNP, Standar per standar, sebagai rujukan dan panduan dalam menentukan tingkat pencapaian sekolah dalam pelaksanaan tiap Standar. Dengan demikian maka dalam memakai Instrumen EDS dan mengisi Instrumen tersebut mereka akan sangat terbantu untuk menentukan peringkat pencapaian yang tepat pada setiap standar dengan merujuk langsung kepada Peraturan Menteri pada tiap standar sebagai dasar penentuan peringkat.

B.   Pemahaman Konsep dan Pengertian EDS

  1. Apa itu EDS – untuk memahami Konsep EDS secara menyeluruh.
  2. Mengapa perlu EDS – alasan perlunya ada EDS.
  3. Siapa pelaksana EDS di satuan pendidikan – EDS sebagai tugas bersama antar semua pemangku kepentingan melalui Tim Pengembang Sekolah (TPS), dan EDS bukan hanya merupakan tugas kepala sekolah/madrasah saja.
  4. Manfaat EDS – kegunaan EDS baik bagi pihak sekolah maupun pihak jajaran Dinas Pendidikan atau Kantor Kementerian Agama ditingkat kabupaten/kota.
  5. Beda EDS dan Evaluasi-evaluasi lainnya – agar mengetahui dengan pasti perbedaannya sebab banyak yang mempertanyakan apa perlu melaksanakan EDS sebab sudah banyak Evaluasi tentang kinerja sekolah.
  6. Isu-isu dalam pelaksanaan EDS – bagaimana sekolah, yang pada mulanya “mencurigai” EDS pada akhirnya merasa amat terbantu dengan adanya EDS dan bagaimana mereka menyiasati kendala-kendala dalam pelaksanaan EDS.

C.   Pelaksanaan EDS

Modul ini akan membahas bagaimana sekolah melaksanakan EDS dalam mengevaluasi pelaksanaan kinerja sekolah dipandang berdasar SPM dan SNP.  Untuk membahas hal ini dengan jelas perlu dibarengi dengan mempelajari Instrumen EDS itu sendiri, yang ada didalam CD, dan mempraktekannya. Hal ini dirasa lebih sesuai daripada memasukkan Instrumen EDS kedalam modul ini sebab akan membuatnya menjadi amat tebal dan memberatkan para pemakai.

Instrumen EDS membahas keseluruhan isi SNP yang rediri dari:

  1. Standar Sarana dan Prasarana.
  2. Standar Isi.
  3. Standar Proses.
  4. Standar Penilaian.
  5. Standar Kompetensi Lulusan.
  6. Standar Pengelolaan.
  7. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
  8. Standar Pembiayaan.


BAB II

KONSEP DAN PENGERTIAN EVALUASI DIRI SEKOLAH (EDS)

A.   Tujuan Belajar

Pada Bab II kita akan mempelajari secara rinci konsep EDS secara menyeluruh – apa itu EDS, mengapa EDS diperlukan, bagaimana EDS, siapa Pelaksana EDS, apa manfaat dan kegunaan EDS, dan Isu-isu dalam pelaksanaan EDS.  Kepala sekolah/madrasah khususnya dan para pemangku kepentingan pendidikan di sekolah pada umumnya diharap dapat memahami konsep ini dan mempunyai komitmen yang kuat untuk mengadakan perubahan dan menggerakkan guru untuk melaksanakan EDS di sekolahnya sebagai dasar untuk melakukan perbaikan yang terus berkesinambungan.

B.   Hasil Yang Diharapkan

Pada akhir Bab ini diharapkan Anda akan mengetahui:

  • EDS secara lebih dalam dan menyeluruh;
  • Bagaimanakah konsep EDS – filsafat yang mendasari EDS;
  •  Apa dan bagaimana EDS;
  • Mengapa kita memerlukan EDS;
  • Perbedaan EDS dengan Evaluasi-evaluasi eksternal lainnya;
  • Apa manfaat dan kegunaan EDS bagi sekolah dan jajaran Dinas Pendidikan/Kantoe Kemeneag ditingat kab/kota;
  • Hal-hal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan EDS secara umum.

Dengan bekal ini diharapkan agar para kepala sekolah/madrasah memperoleh dasar yang kuat untuk lebih memahami EDS secara menyeluruh sebelum melaksanakan EDS di sekolahnya dengan baik. Dengan melaksanakan EDS ini mereka akan dapat mengetahui dengan pasti kekuatan dan kelemahan sekolah dan hasil EDS akan dijadikan masukan untuk membuat Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) untuk kurun waktu 4-5 tahun maupun Rencana Anggaran, Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) atau Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) untuk kegiatan tiap tahun.

C.   PENGANTAR

Seperti kita ketahui SDM merupakan tiang utama dalam pembangunan negara sehingga semakin terdidik SDM sesuatu negara, akan semakin mudah untuk melaksanakan pembangunan dan upaya pemenuhan kesejahteraan rakyat.  Di negeri kita SDM belum dapat dibanggakan disebabkan oleh berbagai hal, terutama rendahnya mutu pendidikan secara umum.  Dan karenanya upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan kita mutlak harus dilaksanakan agar kita memperoleh SDM yang bermutu untuk memacu pembangunan dan menyongsong era globalisasi yang efeknya sudah kita rasakan bersama sekarang.

Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2009 telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 63 tentang “Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan” (SPMP) untuk terciptanya satu sistem penjaminan mutu pendidikan yang sekaligus juga akan menjadi dasar pelaksanaan peningkatan mutu pendidikan sehingga akan tercipta “budaya” peningkatan mutu pendidikan yang berkelanjutan.  Permen Nomor 63 menjadi acuan dalam upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. Peraturan Menteri ini secara lengkap ada dalam CD.

Salah satu komponen utama program SPMP adalah program “Evaluasi Diri Sekolah” atau EDS yang dalam bahasa Inggrisnya disebut Supported School Self Evaluation” (SSSE).  Dengan program ini sekolah diminta untuk secara internal melakukan evaluasi sendiri kinerjanya berdasarkan SPM dan SNP. Seperti tersirat dalam istilah Inggrisnya dengan adanya kata “Supported”, program ini memandang penting adanya “dukungan” penuh pada kegiatan Evaluasi diri ini dari semua unsur dan pemangku kepentingan yang terlibat di sekolah sehingga bukan hanya Kepala sekolah saja yang terlibat tapi juga para guru, Komite Sekolah, wakil orang tua peserta didik serta mendapat bimbingan dari Pengawas Sekolah.

Dalam pelaksanaan EDS yang baik, perlu adanya “support” yaitu “dukungan” atau “bantuan” dari berbagai pihak terkait agar sekolah dapat melaksanakan EDS secara bersama sehingga akan terjadi kebersamaan dalam tindakan dan nantinya dalam tanggung jawab juga.  EDS diharapkan akan memberikan dasar yang nyata untuk membuat RPS/RKS yang solid untuk peningkatan kinerja sekolah dan dasar terciptanya budaya mutu di sekolah.

D.   KONSEP EVALUASI DIRI SEKOLAH

  1. 1.    Apa itu EDS

EDS adalah evaluasi internal yang yang dilaksanakan oleh semua pemangku kepentingan pendidikan (stakeholders) di sekolah untuk mengetahui secara menyeluruh kinerja sekolah dilihat dari pencapaian SPM dan 8 SNP dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya secara pasti sehingga akan diperoleh masukan dan dasar nyata untuk membuat RPS/RKS dalam upaya untuk menumbuhkan budaya peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Ada beberapa hal penting yang kita perhatikan disini:

  1. Evaluasi yang bersifat internal – dilakukan oleh dan untuk mereka sendiri, bukan dilaksanakan oleh orang lain. Ini adalah evaluasi internal, bukan evaluasi external oleh pihak luar.
  2. Akan mengevaluasi seluruh kinerja sekolah yang akan meliputi aspek-aspek manajerial dan akademis.
  3. Mengacu pada SPM dan 8 SNP yang hasilnya akan membantu program nasional dalam upaya penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan secara umum.
  4. Untuk kepentingan sekolah itu sendiri, bukan untuk perbandingan dengan sekolah sekolah lain atau untuk akreditasi sekolah.
  5. Hasil EDS sebagai bahan masukan dan dasar dalam penulisan RPS/RKS maupun RAPBS/RAKS.
  6. Dilaksanakan minimal setahun sekali oleh semua stakeholder pendidikan di sekolah, bukan hanya oleh kepala sekolah/madrasah saja dengan bimbingan dan pengawasan Pengawas sekolah.
  1. 2.    Mengapa perlu EDS?

EDS di sekolah diperlukan sebab sampai sekarang belum ada satupun alat yang dapat dipakai oleh sekolah untuk memberikan gambaran umum dalam aspek SPM dan 8 SNP secara nyata, akurat dan berdasarkan bukti-bukti tentang seluruh kinerja sekolah sebagai dasar untuk membuat RPS/RKS dan peningkatan mutu professional seluruh pemangku kepentingan sekolah.

Walaupun sudah ada beberapa upaya evaluasi di sekolah, kebanyakannya adalah evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar, jadi sifatnya eksternal, untuk menilai sekolah – umpama untuk akreditasi, pemberian bantuan dsb. Dengan demikian kehadiran EDS amat diperlukan oleh sekolah karena evaluasi ini adalah evaluasi internal yang dilakukan oleh dan untuk sekolah sendiri gunamengetahui kekuatan dan kelemahannya sendiri – semacam cermin muka yang dapat dipakai dalam melihat kekuatan dan kelemahannya sendiri untuk selanjutnya dipakai dasar dalam upaya memperbaiki kinerjanya.

Hasil EDS juga dapat dipakai oleh Pengawas untuk laporan kepada pihak Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag kab/kota melalui kegiatan “Monitoring Sekolah Oleh Pemerintah Daerah” (MSPD) sebagai masukan untuk dasar Perencanaan Peningkatan mutu Pendidikan dan dasar pemberian bantuan / intervensi ke sekolah sekolah.

Tugas

Isilah tabel dibawah ini dengan berbagai jenis Evaluasi yang dilakukan di Sekolah Anda pada tahun lalu dan beberapa waktu sebelumnya:

Jenis Evaluasi

Tahun

Tujuan

Dampak

 

  1. 3.    Siapa Pelaksana EDS di Sekolah?

EDS sebaiknya dilaksanakan oleh semua stakeholder atau pemangku pendidikan di sekolah sebab EDS bukan hanya tugas dan tanggung jawab kepala sekolah saja dan agar ada kebersamaan dan rasa memiliki bersama. Keterlibatan mereka juga diharapkan akan dapat memberikan gambaran akan kebutuhan nyata sekolah secara menyeluruh. Untuk menangani EDS ini sebaiknya sekolah membentuk satu tim EDS khusus yang bisa disebut Tim Pengembang Sekolah (TPS) dengan beranggotakan unsur-unsur dibawah ini:

  1. Kepala sekolah/madrasah sebagai penanggung jawab.
  2. Wakil dari unsur tenaga pendidik.
  3. Wakil dari unsur Komite Sekolah.
  4. Wakil dari unsur orang tua peserta didik.
  5. Pengawas sebagai pihak yang memberi bimbingan.

Karena kedudukannya, Pengawas bisa dianggap sebagai anggota TPS atau bukan anggota TPS. Yang penting adalah dia terlibat dalam EDS di sekolah yang menjadi binaannya dalam memberikan bimbingan dan masukannya dalam pelaksanaan EDS. Pelaksanaan EDS dilapangan juga melibatkan para tenaga pendidik lainnya di sekolah, khusunya ketika membicarakan standar-standar yang berhubungan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar. Dengan demikian EDS dilakukan oleh semua pemangku kepentingan di sekolah dan bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah saja.

  1. 4.    Manfaat EDS

Beberapa manfaat EDS:

  1. a.    Bagi Sekolah:

1)     Sekolah mempunyai alat atau instrument internal yang dapat dipakai untuk mengevaluasi kinerjanya.

2)     Sekolah dapat mengetahui sampai dimanakah tingkat pencapaian mereka dilihat dari SPM dan SNP.

3)     Sekolah dapat mengatahui kekuatan dan kelemahannya secara pasti.

4)     Sekolah dapat mengetahui dengan pasti dan dapat memprioritaskan aspek mana yang memerlukan peningkatan.

5)     Sekolah dapat memperoleh dasar nyata untuk membuat RPS/RKS dan RAPBS/RAKS berdasarkan kebutuhan nyata sekolah, bukan atas dasar asumsi atau perkiraan saja

6)     Sekolah dapat mengetahui perkembangan upaya peningkatan mutu pelayanan mereka sebab EDS dilakukan secara berkala.

Refleksi

Bagi Kepala Sekolah – dari beberapa manfaat EDS yang Anda ketahui, harap tulis 3 manfaat yang Anda anggap paling penting dan mengapa:

1.

2.

3.

  1. b.    Bagi Sistem Pendidikan di Kab/Kota:

 

1)    Diperolehnya informasi kongkrit keadaan umum sekolah dalam

2)    pencapaian SPM dan 8 SNP.

3)    Terdapatnya gambaran umum secara pasti tentang kinerja sekolah-sekolah ditingkat kab/kota.

4)    Adanya dasar untuk kegiatan perencanaan ditingkat kab/kota serta dasar pemberian bantuan ke sekolah-sekolah di daerah itu.

5)    Hasil EDS ini dijadikan dasar untuk laporan ke jajaran ditingkat kab/kota melalui kegiatan ”Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah” – MSPD- yang dilakukan oleh para Pengawas Sekolah.

Refleksi

Bagi Pengawas – dari beberapa manfaat EDS diatas, tuliskan 3 manfaat yang paling penting bagi jajaran kab/kota dan mengapa:

1.

2.

3.

  1. 5.    Beda EDS dengan Evaluasi-evaluasi Lain

a.      EDS adalah evaluasi diri yang bersifat internal yang dilaksanakan oleh para stakeholder di sekolah tersebut.

b.      EDS dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan sendiri dan dipakai sebagai dasar untuk membuat RPS/RKS dan RAPBS/RAKS.

c.      EDS dilaksanakan bukan untuk memberikan peringkat atau ranking sekolah dibanding dengan sekolah lainnya.

d.      Evaluasi-evaluasi lainnya biasanya bersifat eksternal yang dilakukan oleh pihak luar lebih untuk kepentingan mereka bukan kepentingan sekolah.

f.       Karena EDS adalah evaluasi internal untuk dasar peningkatan mutu mereka maka evaluasi biasanya akan lebih jujur sebab keadaan itu akan dijadikan dasar pelaksanaan upaya peningkatan kinerja mereka.

  1. 6.    Isu-isu dalam Pelaksanaan EDS

a.       Pada awalnya EDS dianggap sebagai beban tambahan baru yang memberatkan tugas sekolah/TPS namun dalam prosesnya sekolah merasa butuh terhadap EDS sebagai dasar penulkisan RPS/RKS.

b.       Pada awalnya EDS dikira sama dengan Evaluasi lain seperti yang dilakukan oleh Badan Akreditasi Propinsi dan akhirnya mereka tahu beda EDS dan Evaluasi eksternal lain.

c.       Pada awalnya sekolah menganggap perlu dana banyak untuk melaksanakan EDS, namun dalam prosesnya diketahui bahwa sebenarnya dana memang diperlukan untuk “pelaksanaan upaya peningkatan mutu” yang direncanakan dalam RPS berdasarkan hasil EDS, bukan untuk melaksanakan EDS itu sendiri.

d.      Isu apakah Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag dapat dan mau menerima EDS secara formal. Dalam prosesnya EDS dapat diadopsi dan telah direplikasikan oleh Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag sebab mereka mengetahui manfaatnya bagi sekolah dan bagi perencanaan peningkatan mutu pendidikan.

Refleksi

Mohon cerna makna dari apa yang telah diberikan sebagai dasar mengisi tabel PMI dibawah ini: Plus – hal hal positif dari EDS; Minus – hal-hal negative dari EDS ; Interesting – hal hal yang menarik (bukan positif maupun negatif)

Plus

Minus

Interesting (Menarik)


BAB III

INSTRUMEN EDS

A.   TUJUAN BELAJAR

Pada Bab III ini Anda akan belajar secara rinci tentang Instrumen EDS, termasuk latar belakang disusunnya Instrumen EDS ini – Apa dan bagaimana Instrumen EDS ini serta bagaimana menggunakannya.

B.   HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah mempelajari Bab III ini Anda akan mengetahui:

  1. Latar belakang disusunnya Instrumen ini, ide dan makna Instrumen EDS,
  2. Acuan dan dasar disusunnya Instrumen EDS,
  3. Bagaimana Instrumen membahas tiap Standar yang dibagi dalam beberapa Aspek, spesifikasi serta keempat tingkat pencapaian dengan indikator-indikator pencapaian pada tiap Aspek.

C.   LATAR BELAKANG

Instrumen EDS adalah alat utama yang akan dipakai dalam EDS untuk memperoleh serangkaian informasi tentang seluruh kinerja sekolah dan mengacu pada ketentuan-ketentuan dalam SPM dan SNP.  Dengan demikian maka Instrumen EDS dituliskan berdasarkan kedelapan Standar dalam SNP.

Pada awalnya buram Instrumen EDS ditulis oleh pakar Internasional yang membantu Pemerintah Republik Indonesia dan yang bekerja di MCPM-AIBEP. Buram Instrumen ini diperkaya dengan masukan masukan dari para pakar pendidikan nasional lainnya di MCPM sebelum dibicarakan dengan pihak Pemerintah – khusunya pihak Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Buram ini lalu mendapat masukan-masukan baru dan disepakati bahwa Instrumen EDS ini harus mengacu pada 8 SNP sebagai rujukannya.

Instrumen EDS ini kemudian divalidasi oleh pihak Pemerintah dan diuji cobakan di 3 daerah binaan – Kabupaten Gresik di Jawa Timur, Kabupaten Boalemo di Gorontalo dan Kabupaten Muaro Jambi di Jambi.  Sebelum uji coba pemakaian Instrumen EDS dilakukan dulu Pelatihan untuk Pelatih (ToT) dari ketiga kabupaten ini ditingkat nasional pada bulan Oktober 2008. Setelah pelaksanaan ToT ini dilaksanakan juga pelatihan untuk para anggota TPS dari 36 sekolah binaan diketiga kabupaten – masing masing kabupaten terdiri dari 12 sekolah/madrasah – pada bulan Nopember 2008.

EDS di uji-cobakan mulai bulan Nopember 2008 – Februari 2009 yang diawali dengan pelatihan stakeholder daerah. Tim Teknis EDS pusat yang terdiri dari pejabat/staf pada Kementerian Pendidikan Nasional dan Agama serta konsultan MCPM mengadakan monitoring uji-coba tsb pada bulan Desember 2008 dan akhir Januari 2009. Monitoring itu dilaksanakan untuk mengetahui lebih lanjut tentang Instrumen EDS itu sendiri – keterbacaannya, pemahaman para pemakainya, efektifitas pelaksanaan EDS serta begaimana kerja sama antar anggota TPS dalam melaksanakan EDS serta manfaat EDS bagi sekolah.

Lokakarya tentang pelaksanaan EDS dilakukan ditingkat Kabupaten pada bulan Maret 2009 dan disusul dengan Loka karya tingkat nasional pada bulan April 2009. Dari hasil loka karya ini didapatkan serangkaian usulan untuk perbaikan Instrumen EDS yang perbaikannya telah dilakukan oleh Tim Teknis EDS Nasional pada bulan Mei 2009. Dengan demikian maka Instrumen EDS telah diperbaiki sesuai dengan hasil monitoring dan usulan-usulan dari daerah.

Kegunaan dan manfaat EDS dapat diketahui dari pengakuan para pelaku EDS di daerah. ”Dengan EDS kita mengetahui kekurangan-kekurangan kita dalam SNP dan mempunyai dasar nyata dalam pembuatan RKS dan RAPBS, bukan berdasarkan kira-kira”, pengakuan salah seorang Kepala SD di Gresik tentang manfaat EDS. ”EDS membuat kita lebih sadar tentang SNP dan bagaimana kita mencapainya!”, aku salah seorang kepala MI di Boalemo di Gorontalo. ”Sekarang kita tahu persis aspek-aspek mana yang perlu kita tingkatkan berdasarkan hasil EDS”, aku seorang Kepala SMP di Muaro Jambi yang telah melaksanakan EDS di sekolahnya.

D.   BAGAIMANA BENTUK INSTRUMEN EDS

Seperti dikatakan diatas Instrumen EDS ini mengacu kepada SPM dan SNP dan karenanya menanyakan secara rinci semua hal yang berkenaan dengan aspek-aspek pada tiap standar.  Beberapa butir penting mengenai Instrumen ini:

  1. Instrumen EDS mengacu pada SPM dan SNP – seluruh 13 butir dalam SPM yang berhubungan sekolah tapi tidak memasukkan 14 butir lainnya yang bersangkutan dengan pemerintah kab/kota serta 8 SNP.
  2. Instrumen EDS mencakup beberapa pertanyaan pokok pada tiap standar yang terkait dengan SPM dan SNP sebagai dasar bagi sekolah untuk memperoleh informasi dan data secara rinci tentang kinerjanya secara kwalitatif.
  3. Dalam Instumen EDS, tiap Standar dibagi dalam beberapa komponen yang diharap dapat memberikan gambaran yang lebih menyeluruh.
  4. Pada setiap komponen pada pertanyaan ditiap standar ada beberapa spesifikasinya untuk memperoleh informasi yang lebih komplit.
  5. Pada setiap aspek dari setiap standar terdiri dari 4 tingkatan pencapaian – tingkat 1 berarti kurang, tingkat 2 berarti sedang, tingkat 3 berarti baik, dan tingkat 4 berarti amat baik.
  6. Pada tiap tingkat pencapaian terdapat beberapa indikator yang sesuai dengan tingkat pencapaian tersebut. Tingkat 2 sama dengan telah memenuhi kriteria SPM.

Di bawah ini dapat dilihat contoh ”Standar, Komponen pada tiap Standar, Spesifikasi dari Komponen tersebut dan Indikator-indikator darai Spesifikasi tersebut”.

  1. STANDAR SARANA DAN PRASARANA            ß————– STANDAR
1.1 Apakah sarana sekolah sudah memadai?  ß————– KOMPONEN
Spesifikasi.  Sekolah:          ß———————- SPESIFIKASI

memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya.

Indikator Pencapaian           < ———————-  INDIKATOR
Tingkat 4 Tingkat 3 Tingkat 2 Tingkat 1
Sekolah kami memiliki jumlah bangunan gedung yang ukuran, ventilasi dan kelengkapan lainnya melebihi ketentuan dalam Standar Sarpras yang ditetapkan. Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana, prasarana dan peralatan

Dst

Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana

Beberapa kelas di sekolah kami diisi peserta didik melebihi jumlah yang ditetapkan dalam standar

Bangunan sekolah kami tidak memenuhi standar dari segi ukuran atau jumlah ruangan

Dst

Pada bagian akhir Komponen setiap standar, ada halaman ringkasan atau rekapitulasi untuk menuliskan hasil penilaian pencapaian yang diperoleh. Halaman ini terdiri dari dari beberapa kolom:  ”Bukti Fisik Sekolah” yang menguatkan pengakuan atas tingkat pencapaiannya, ”Ringkasan Deskripsi Sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti” untuk menulis ringkasan temuan-temuan atas kinerja sekolah itu, serta kolom untuk menuliskan ”Tingkat yang dicapai” .  Ini juga merupakan Format Laporan hasil EDS.

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti

Tingkat yang dicapai

Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana

Jumlah peserta didik per rombongan belajar

Catatan peralatan dan sumber belajar

Catatan pengeluaran

Kondisi nyata lingkungan sekolah

  1. Tingkat pencapaian pada setiap Standar dalam Instrumen ini dapat digunakan sekolah untuk menilai kinerjanya pada standar tersebut.
  2. Instrumen EDS terdiri dari sejumlah pertanyaan terkait dengan SPM dan 8 SNP yang paling erat hubungannya dengan mutu pembelajaran yang hasilnya menjadi dasar untuk menyusun RPS/RKS dan RAPBS/RKAS.

Dalam mengisi Instrumen EDS perlu dilakukan dengan jujur dan apa adanya. Memberikan penilaian lebih baik dari kenyataannya hanya akan merugikan sekolah itu sendiri, sebab hasil EDS akan dijadikan dasar RPS. Tentu saja RPS tidak akan memasukkan kegiatan untuk meningkatkan aspek yang ”diaku telah baik” itu, sehingga tak akan ada kegiatan untuk meningkatkannya. Jika sekolah melakukan upaya peningkatan dan sekolah meningkat kinerjanya, maka ini tak akan tercatat sebagai kenaikan, karena menurut catatan EDS tahun sebelumnya nilainya sudah ”baik”, jadi tidak ada peningkatan.

Diskusi

Untuk lebih memperkaya pemahaman Anda dalam hal ini, mohon diskusikan butir-butir berikut:

  1. Acuan Instrumen EDS dan mengapa
  1.  Bentuk Instrumen EDS pada tiap Standar

 

  1. Manfaat adanya kejujuran dalam mengisi EDS

 

 

 

 

 

 


 

BAB IV

PENGISIAN INSTRUMEN EDS

A.   TUJUAN BELAJAR

Pada Bab IV ini Anda akan belajar tentang bagaimana mengisi Instrumen EDS, apa yang diperlukan untuk mempermudah pengisiannya, bagaimana menentukan tingkat pencapaian pada tiap standar serta melihat contoh Instrumen EDS itu sendiri. Hal ini penting agar Anda lebih siap untuk melakukan latihan bagaimana mengisi Instrumen pada Bab selanjutnya.

B.   HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah mempelajari Bab IV ini Anda akan:

  1. Mengetahui dengan benar Instrumen EDS secara menyeluruh;
  2.  Apa saja yang diperlukan dalam pengisian Instrumen EDS;
  3. Jenis dan bentuk Instrumen itu dan apa kandungannya:
  4.  Cara-cara untuk menentukan tingkat pencapaian pada tiap Standar,
  5. Contoh contoh Instrumen dari tiap Standar sebagai bahan rujukan untuk latihan pengisian Instrumen .

C.   APA YANG DIPERLUKAN UNTUK PENGISIAN INSTRUMEN EDS

Untuk memudahkan pengisian Instrumen EDS, maka disamping Instrumen itu sendiri, diperlukan adanya: (1) Semua Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang berkenaan dengan SPM dan 8 SNP, baik buku peraturan itu sendiri atau dalam bentuk CD, sebagai rujukan pengisian Instrumen EDS ini. (2) Semua dokumen ini dapat diakses pada situs BSNP: http://www.bsnp-indonesia.org

Disamping itu seperti dikemukakan sebelumnya dalam mengisi Instrumen EDS diperlukan kejujuran sehingga yang dicatat itu memang keadaan sebenarnya dan hasil EDS merupakan data nyata keadaan sekolah. Pengisian Instrumen EDS diharapkan dilakukan setahun sekali sehingga akan terlihat kemajuan yang dicapai dalam kurun waktu setahun. Bagi sekolah, data hasil EDS tahun sebelumnya akan menjadi data dasar untuk pengukuran kemajuan yang dicapai selama setahun.dan bagi Pengawas menjadi dasar pelaporan ”Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah” (MSPD) ketingkat kab/kota.

D.   CARA MENENTUKAN TINGKAT PENCAPAIAN

Seperti ditulis di atas, rincian dalam Instrumen EDS dari setiap Standar terdiri dari beberapa Komponen yang mempunyai beberapa spesifikasi.  Pada setiap Aspek dibagi menjadi 4 tingkatan pencapaian dan pada tiap tingkatan pencapaian mempunyai beberapa indikator.

Untuk penetapan tingkat pada setiap standar kita nilai setiap Komponennya.  Pada akhir setiap aspek ada lembar rangkuman untuk menuliskan penialian kita – yang selanjutnya kita tulis pada Format Laporan EDS yang isinya sama.  Pada setiap Komponen ada tingkatan pencapaiannya. Kita bisa memulai dari tingkat 4 (yang terbaik) maupun tingkat 1 (yang kurang).  Pada Tingkat 4 ada indikator-indikatornya, lalu kita nilai apa indikator-indikator tersebut telah dicapai sekolah itu, dan apa ada bukti fisik untuk mrembantu pengakuan pada tingkat itu.  Jika memang belum kita mundur ke Tingkat 3.  Jika memang belum, kita mundur ke Tingkat 2 dan jika memang belum mencapai tingkat itu, kita mundur ke Tingkat 1. Harap jangan lupa bahwa untuk semua pengakuan itu perlu ada bukti fisiknya.

Begitu juga bila kita mulai dari Tingkat 1. Jika sekolah sudah melebihi indikator-indikatornya, bisa beralih ke Tingkat 2 dan seterusnya sampai pada tingkatan yang sesuai. Penentuan pada tingkat berapa Standar tertentu berada didasarkan atas tingkat dari Komponen Standar tersebut. Untuk Standar yang mempunyai 2 Komponen, jika Komponen I ada ditingkati 3 dan Komponen II tingkat 3, maka jumlahnya 6 lalu dibagi dua = 3.  Dengan demikian maka Standar tsb berada di tingkat 3.

E.    RINCIAN INSTRUMEN EDS

Modul ini akan membicarakan satu atau dua Standar sebagai contoh dan Anda dapat memperoleh kejelesan Standar lainnya dengan memptaktekkanya sendiri, bukan hanya dengan membaca penjelasan saja.

  1. Standar Sarana dan Prasarana (Contoh)

Kita ambil contoh Standar Sarana dan Prasarana. Standar ini mempunyai 2 aspek. Komponen I: Apakah Sarana sekolah sudah memadai? Komponen ini mempunyai 3 spesifikasi dan 4 tingkatan pencapaian yang setiap tingkatannya mempunyai beberapa indikator.  Komponen II. Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dengan baik? Komponen ini mempunyai 3 spesifikasi dan juga 4 tingkatan pencapaian dengan indikatornya. Pada EDS nilai kwantitatif dipakai untuk membantu penilaian yang bersifat kwalitatif yaitu penilaian professional.

Seperti ditulis di atas, Komponen I pada Standar Sarana dan Prasarana adalah: Apakah sarana sekolah sudah memadai? Komponen ini mempunyai 3 spesifikasi:

  1. Sekolah mematuhi standar terkait dengan Sarana dan Prasarana (ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistim ventilasi).
  2. Sekolah mematuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam kelompok belajar.
  3. Sekolah mematuhi standar terkait denganm penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran.

Di bawah ini contoh Instrumen EDS tentang Standar Sarana dan Prasarana untuk Komponen 1. Apakah sarana sekolah sudah memadai? Akan terlihat dengan jelas ”Komponen-nya” dan 3 ”Spesifikasinya” serta ”Indikator-indikator” pada tiap Tingkatan Komponen ini.

  1. 1.      STANDAR SARANA DAN PRASARANA
1.1 Apakah sarana sekolah sudah memadai?
Spesifikasi.  Sekolah:

  • memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, dan persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya.
  • memenuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam rombongan belajar
  • memenuhi standar terkait penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran
Indikator Pencapaian
Tingkat 4 Tingkat 3 Tingkat 2 Tingkat 1
Sekolah kami memiliki jumlah bangunan gedung yang ukuran, ventilasi dan kelengkapan lainnya melebihi ketentuan dalam Standar Sarpras yang ditetapkan.

Jumlah peserta didik didalam rombongan belajar kami lebih kecil dari yang ditetapkan dalam standar agar dapat lebih meningkatkan proses pembelajaran.

Sekolah kami memiliki Sarana dan prasarana pembelajaran yang melebihi dari ketetapan Standar Sarpras yang digunakan untuk lebih membantu proses pembelajaran.

Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana, prasarana dan peralatan

Sekolah kami memenuhi standar dalam hal jumlah peserta didik pada setiap rombongan belajar

Sekolah kami memiliki dan menggunakan sarpras sesuai standar yang ditetapkan

Sekolah kami memenuhi standar terkait dengan sarana dan prasarana

Beberapa kelas di sekolah kami diisi peserta didik melebihi jumlah yang ditetapkan dalam standar

Sekolah kami menyediakan buku teks yang sudah disertifikasi oleh Pemerintah alat peraga dan judul buku pengayaan sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Sekolah kami belum memiliki semua sarana dan alat-alat yang dibutuhkan untuk memenuhi ketetapan dalam standar

Bangunan sekolah kami tidak memenuhi standar dari segi ukuran atau jumlah ruangan

Kebanyakan ruang kelas sekolah kami diisi terlalu banyak peserta didik dan kami tidak mampu memenuhi standar

Sarana dan prasarana yang kami miliki amat terbatas dan sebagian besar sudah ketinggalan zaman dan dalam kondisi buruk

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti Tingkat yang dicapai
Catatan mengenai ukuran ruangan, jumlah dan sarana prasarana

Jumlah peserta didik per rombongan belajar

Catatan peralatan dan sumber belajar

Catatan pengeluaran

Kondisi nyata lingkungan sekolah

Bukti fisik lainnya (tuliskan)

Kita lihat bahwa pada Komponen ini terdapat 4 tingkatan pencapaian yang tiap tingkatannya mempunyai beberapa indikator.  Kita melakukan penialian pada Komponen ini yang hasilnya kita tuliskan pada Format Laporan yang terdiri dari 3 ruang di kolom: ”Bukti Fisik Sekolah” kita centang bukti Fisik apa yang menopang pengakuan tingkatan sekolah ini atau jika ada bukti fisik baru kita tambahkan. Kolom ”Ringkasan deskripsi sekolah menurut Indikator dan berdasarkan Bukti” – kita tuliskan keadaan nyata sekolah sesuai standar itu (disertai bukti fisiknya),  lalu Tingkat pencapaian kita tuliskan di kolom ”Tingkat yang dicapai”.

Seperti ditulis sebelumnya, untuk menentukan Tingkat pencapaian kita bisa memulainya dari Tingkat 4 , turun ketingkat 3, tingkat 2 dan tingkat 1. Atau kita memulainya dari tingkat 1 sampai tingkat 4 Namun Standar Sarpras ini mempunyai dua Komponen sehingga kita harus tahu pada tingkat mana Sekolah ini dalam kedua Komponen itu. Gabungan dua nilai dari kedua Komponen ini akan menentukan berada ditingkat mana Standar Sarana dan prasarana sekolah ini berada.

Komponen II Standar Sarpras ini adalah: Apakah sekolah dalam kondisi terpelihara dengan baik? Aspek ini mempunyai 3 spesifikasi: a) Pemeliharaan bangunan dilaksanakan paling tidak setiap 5 tahun sekali. b) Bangunan aman dan nyaman untuk semua peserta didik dan member kemudahan kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus. Untuk menilainya, proses dan cara yang sama kita berlakukan kepada penilaian Komponen ini yang hasilnya akan dijumlahkan dengan hasil nilai dari Komponen pertama.

Jika memungkinkan maka penentuan Tingkatan ini juga bisa dipertajam dengan menentukan Tingkat pencapaian dari semua Spesifikasi dari Komponennya.  Dari contoh diatas Komponen I mempunyai 3 Spesifikasi dan Komponen II 3 spesifikasi.  Jika pada Komponen I untuk Spesifikasi 1 = berada ditingkat 2, Spesifikasi 2 = tingkat 2 dan Spesifikasi 3 = 2 maka semuanya ada 6 dibagi 3 = tingkat 2. Pada Komponen II, untuk Spesifikasi 1 = berada ditingkat 3; Spesifikasi 2 = tingkat 3 dan Spesifikasi 3 = tingkat 3 maka ada 9:3 – Komponen ini berada ditingkat 3. Maka Standar Sarpras berada pada tingkat 2.5 atau dibulatkan menjadi 2 (Dari nilai 2 dan 3 pada kedua Spesifikasinya dibagi 2). Namun yang penting bukan angka kuantitatifnya tapi penilaian kwalitatifnya atau professional judgment-nya, walau perangkaan juga akan membantu.

  1. Standar Pengelolaan (Contoh kedua)

Kita ambil contoh kedua dalam melihat secara rinci keseluruhan Standar Nasional Pendidikan – Standar Pengelolaan. Standar ini terdiri dari 6 Komponen. Komponen I: Apakah kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak? Spesifikasinya – Perencanaan Program:

a)         Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisaikan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan.

b)         Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengelolaan sekolah yang menunjukkan adanye kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan dan akuntabilitas.

Mari kita lihat secara rinci pada Instrumen EDS berikut:

6. Standar Pengelolaan

 

6.1           Apakah kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak?
Spesifikasi

Perencanaan Program

q  Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan.

q  Rencana kerja tahunan dijadikan dasar pengeloaan sekolah/madrasah yang menunjukkan adanya kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Indikator Pencapaian

Tingkat ke-4 Tingkat ke-3 Tingkat ke-2 Tingkat ke-1
Sekolah kami memiliki tim pengelolaan yang kuat, komite yang mendukung dan melibatkan diri pada pada seluruh kegiatan untuk menjamin keterlaksanaan pelayanan sekolah.

Pimpinan sekolah kami mendorong evaluasi diri pendidik sehingga memperkuat rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka mampu melaksanakan tugas di dalam maupun di luar kelas

Kami memiliki pemahaman bersama yang jelas dan baik untuk mewujudkan sekolah sebagai lingkungan kerja yang mendukung sehingga pendidik, tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat mewujudkan kebersamaan dan berbagi tanggung jawab untuk mewujudkan keberhasilan peserta didik.

Sekolah kami memiliki komite sekolah dan dewan guru yang aktif

Pimpinan sekolah kami menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki pembelajaran dengan melakukan kunjungan kelas, mengkaji model pembelajaran yang efektif, dan memberikan umpan balik.

Sekolah kami memiliki visi-misi yang jelas yang dirumuskan berdasarkan kesepakatan pemangku kepentingan dan terfokus pada peningkatan mutu pendidikan.

Sekolah kami menerapkan prinsip-prinsip Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).

Komite sekolah kami melakukan pertemuan secara teratur, namun kurang melibatkan diri secara aktif dalam kepentingan sekolah.

Pimpinan sekolah kami belum melibatkan diri secara memadai dalam kegiatan sekolah yang mempunyai pengaruh langsung terhadap peningkatan pembelajaran.

Visi dan misi sekolah kami tidak dirumuskan bersama dan belum disebarluaskan

Komite sekolah kami tidak berfungsi

Pimpinan sekolah kami tidak secara konsisten mendukung dan memberi tantangan dan arah yang memadai dalam perumusan target bagi perbaikan kinerja sekolah,

Beberapa Tenaga Kependidikan di sekolah kami tidak mendukung pengembangan meskipun mereka ditugasi untuk melakukan perbaikan

Sekolah kami belum sepenuhnya merumuskan visi dan misi

Bukti-bukti fisik sekolah

(Mohon beri tanda centang pada jenis bukti berikut)

Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator dan berdasarkan bukti Tingkat yang dicapai
Pernyataan visi-misi sekolah

Dokumen sosialisasi rumusan visi-misi kepada pemangku kepentingan

Agenda/catatan hasil pertemuan komite sekolah
Bukti fisik lainnya (tuliskan)

Cara dan proses penetapan tingkat pencapaian juga sama pada Standar terdahulu. Karena untuk Standar Pengelolaan ada 6 Komponen, kita harus memperoleh nilai dari 6 Komponen ini.  Gabungan dari nilai-nilai dari keenam Komponen ini akan menentukan pada Tingkat manakah Standar Pengelolaan sekolah ini berada.

Komponen kedua – Apakah ada tujuan dan rencana untuk perbaikan yang memadai?  Dengan spesifikasi Perencanaan Program: Sekolah merumuskan tujuan yang jelas dan rencana kerja untuk pengembangan dan perbaikan dan disosialisasikan kepada warga sekolah dan pihak yang berkepentingan.

Komponen ketiga – Apakah ada dampak RPS/RKS terhadap peningkatan hasil  belajar? Spesifikasinya: Perencanaan program: Rencana kerja tahunan dinyatakan dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah/madrasah dilaksanakan berdasarkan rencana kerja jangka menengah. Supervisi/Penilaian – Sekolah melakukanm evaluasi diri terhadap kinerja sekolah. Seko;lah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kerja dan melakukan perbaikan dalam rangka pelaksanaan SNP.

Komponen keempat – Bagaimanakah cara pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid? Ada tiga spesifikasinya:

a)         Sekolah mengelola sistem informasi pengelolaan dengan cara yang memadai, efektif, efisien dan dapat dipertanggung njwabkan.

b)         Sekolah menyediakan sistem informasi yang effisien, efektif dan dapat diakses.

c)         Sekolah menyediakan laporan dan data yang dibutuhkan oleh kabupaten dan tingkatan lain dalam sistem.

Komponen kelima – Bagaimana cara memberikan dukungan dan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan? Spesifikasinya: Pendidik dan tenaga Kependidikan: Sekolah mengatur efektifitas program pendidik dan tenaga kependidikan termasuk pengembangan profesi. Supervsisi dan Evaluasi” Supervsisi dan evaluasi terhadap pendidik dan tenaga kependidikan dilaksanakan sesuai dengan standar guru dan tenaga kependidikan.

Komponen keenam – Bagaimana cara masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah? Spesifikasinya: a) Sekolah harus melibatkan anggota masyarakat khusunya dalam mengelola kegiatan non-akademis b) Warga sekolah harus dilibatkan dalam pengelolaan kegiatan akademis dan non-akademis.

Tugas

Dengan memakai Instrumen EDS diatas untuk: (1) Standar Sarpras 2.1 dan (2) Standar Pengelolaan pada Aspek 6.1, diskusikan dan evaluasi keadaan Sekolah Anda:

  1. Sudah sampai Tingkat berapa;
  1. Bukti Fisik apa yang ada;

 

  1. Harap isi lembar Laporan – Bukti Fisik, Ringkasan deskripsi sekolah menurut indikator, dan Tingkat yang dicapai.

F.    BEBERAPA SARAN DALAM MENGGUNAKAN INSTRUMEN EDS.

 

Dalam menggunakan Instrumen ini mohon diperhatikan hal-hal berikut:

 

  1. Membaca tiap kalimat dengan hati hati agar maksud dan maknanya diketahui dengan pasti untuk dapat melakukan penialian professional.
  2. Data yang ingin didapat dari Instrumen EDS lebih bersifat kwalitatif, sehingga tidak begitu menonjolkan angka-angka atau persentase, tapi lebih pada uraian dan penilaian professional kepala saekolah/guru sebagai pendidik yang benar-benar professional.
  3. Instrumen EDS dibuat dengan asumsi bahwa penggunanya adalah pendidik professional dan mampu melakukan analisis dalam mengisinya, bukan hanya mencontreng atau menyebut angka.
  4. Indikator yang dibuat untuk keperingkatan pencapaian mengacu pada kenyataan bahwa Tingkat II sama dengan pencapaian SPM.
  5. Selalu merujuk pada peraturan dan ketentuan tentang standar yang berlaku.
  6. Jangan terlalu terpaku dengan ketepatan angka, nilai atau persentase, sebab yang lebih penting adalah deskripsi temuan untuk dijadikan dasar penyusunan RPS/RKS.

BAB V

LATIHAN MENGGUNAKAN INSTRUMEN EDS

 

A.   TUJUAN BELAJAR

Bab ini memberikan kesempatan kepada Anda dan pembaca buku modul ini untuk melakukan latihan mengisi Instrumen EDS berdasarkan data dan informasi dari studi kasus terlampir. Latihan ini dimaksudkan untuk memberikan pengalaman pengisian Instrumen EDS, walaupun hanya berdasarkan atas data dari satu Sudi Kasus sehingga datanya amat terbatas.

B.    HASIL YANG DIHARAPKAN

 

Setelah mempelajari Bab ini, Anda dan para pembaca lainnya, baik secara perorangan maupun dalam kelompok kecil, diharapkan dapat:

  1. Memahami secara benar isi Instrumen EDS.
  2. Membaca Studi Kasus terlampir dengan saksama karena akan dipakai sebagai dasar latihan mengisi Instrumen EDS.
  3. Mengisi Instrumen EDS untuk semua Standar berdasarkan data dan informasi yang ada di studi kasus.
  4. Saling mencermati dan mengkritisi hasil karya rekan belajar untuk mendapatkan jawaban atau isian yang baik dan benar.

 

C.   BAHAN BAHAN YANG DIPERLUKAN

 

Untuk kegiatan ini bahan-bahan dan materi yang diperlukan adalah sbb:

  1. Bahan Studi Kasus – terlampir.
  2. Instrumen EDS dan Format Laporannya – ada dalam CD.
  3. Peraturan Pemerintah atau Peraturan Mendikanas yang berhubungan dengan SPM dan SNP – ada dalam CD atau di Situs BSNP.

 STUDI KASUS EDS

 

SMP Negeri I,  Desa Sukamaju,

Kecamatan Suka Makmur, Kabupaten Suka Karya

“SMP Negeri I” yang berdiri sejak tahun 1990 adalah SMP yang cukup baik dengan Visi “Karya bagi pendidikan yang berprestasi, berdisiplin dan berwawasan lingkungan” serta Misi “Menyelenggarakan pendidikan bermutu dan terjangkau dalam merncapai 8 Standar Nasional Pendidikan”.

 

SMP ini berdiri diatas lahan seluas 3500 m2 dengan pergedungan yang cukup memadai – ada 9 ruangan kelas untuk 9 rombongan belajar, ruang kepala sekolah, ruang guru, laboratorium, perpustakaan serta UKS. Sekolah tidak mempunyai ruang serba guna dan merek memakai ruang kelas biasa jika ada kegiatan khusus.

Walau sudah tua, jumlah meja kursi (mebeler) serta papan tulis dsb memadai dan cukup terpelihara dengan baik.  Halaman sekolah cukup luas dan terpelihara, namun amat disayangkan bahwa pagar halaman sekolah sudah rusak dan belum diperbaiki, sehingga cukup mengganggu kenyamanan dan keamanan. Kantin sekolah juga belum ditata dengan rapi walau Komite Sekolah sudah berjanji akan memperbaiki kantin danpagar sekolah.

Secara rinici keadaan sekolah adalah seperti berikut:

  1. Perkembangan Siswa 3 Tahun Terakhir

No

Kls

2006/2007

2007/2008

2008/2009

L

P

Jml

L

P

Jml

L

P

Jml

1

I

43

34

77

40

41

81

52

40

92

2

II

45

35

80

39

39

78

41

38

79

3

III

53

37

90

35

37

72

32

37

69

Jumlah

141

106

247

114

117

231

125

115

240

.       2. Rata-rata Nilai Ujian Nasional 3 Tahun Terakhir

No

Tahun Pelajaran

Bhs. Indonesia

Matematika

Bhs. Inggris

IPA

TT

TR

RT

TT

TR

RT

TT

TR

RT

TT

TR

RT

1

2005/2006

9,40

4,60

7,01

9,00

4,33

6,03

8,40

5,00

6,02

-

-

-

2

2006/2007

9,00

4,13

6,11

9,33

5,00

7,88

8,13

5,60

7,05

9,66

6,00

6,23

3

2007/2008

9,00

4,60

6,11

9,33

5,00

7,88

8,80

5,60

7,05

8,50

5,00

6,80

.       3. Keadaan Rombongan Belajar 3 Tahun Terakhir

Tahun

Kelas I

Kelas II

Kelas III

Jumlah

2006/2007

3

3

3

9

2007/2008

2

3

3

8

2008/2009

3

3

3

9

.       4. Ruang

No

Nama Ruang

Jml

No

Nama Ruang

Jml

1

Ruang Kelas

9

12

Ruang Wakil Kep.Sekolah

1

2

Ruang Laboraturium IPA

1

13

Ruang Majelis Guru

-

3

Ruang Perpustakaan

1

14

Ruang Tata Usaha

1

4

Ruang Keterampilan

-

15

Ruang OSIS

-

5

Ruang Serba Guna

-

16

WC Guru

1

6

Ruang UKS

1

17

WC Siswa

1

7

Ruang Koperasi

-

18

Ruang Satpam

-

8

Ruang BP/BK

-

19

Mushola

-

9

Ruang Ganti

-

20

Gudang

1

10

Mes Guru

-

21

Ruang Labor Komputer

-

11

Ruang Kepala Sekolah

1

22

Ruang Labor Bahasa

-

 

5. Pendidik dan Tenaga Kependidikan

No

Status

PNS

Honorer

Jumlah

Ket.

L

P

L

P

1

Kepala Sekolah

-

1

-

-

1

S1

2

Guru

5

6

5

5

21

16 S1, 5 D2

3

Tata Usaha

-

1

1

3

5

SMA/SMK

4

Penjaga Sekolah

-

-

1

-

1

SMP

 

Pelaksanaan pembelajaran di sekolah ini cukup baik sebab disamping sebagian besar para gurunya memenuhi kwalifikasi (sudah berijazah S1), mereka juga selalu  mencoba untuk memenuhi stándar untuk setiap mata pelajaran.

Para guru melaksanakan tugasnya dengan serius dan mereka juga mencoba mengembangkan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan.  Mereka mengembangkan silabus dan RPP, hanya saja sebagian besar lebih bersifat “mengambil dari pihak lain” (cut and paste) demi mudahnya sehingga tak banyak yang dibuat mereka sendiri.  Disamping itu kurikulumnya juga tidak memperhatikan kekhasan daerah atau mempertimbangkan peserta didik yang berkemampuan khusus.Sekolah bisa memberikan kegiatan pengembangan diri dan ekstra kurikuler walaupun sifatnya masih tradisional saja dan kurang memperhatikan kekhasan daerah.

Secara umum pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah ini cukup baik sebab ada beberapa gurunya yang telah memakai pendekatan PAKEM/CTL dalam melakukan tugasnya membelajarkan peserta didik. Mereka juga telah membuat silabus berdasarkan standar yang ditentukan dan dimaksudkan untuk membantu peserta didik untuk mencapat standar kelulusan.

Semua guru sudah membuat RPP namun kebanyakan Silabus dan RPP yang dibuat lebih bersifat “ambil dari orang lain” dan bukan merupakan produk para guru sendiri. Ini disadari Kepala sekolah sehingga dia sudah merencanakan memberikan pemantapan para guru dalam membuat silabus dan RPP dengan mendatangkan guru yang handal dari sekolah lain untuk melakukan pendampingan dan “on the job training”.

Para guru yang telah melaksanakan PAKEM/CTL juga cukup innovatif dan sumber belajar tidak terbatas hanya pada buku pelajaran/buku paket saja – semua bisa dijadikan sebagai sumber belajar. Belajar dapat dilakukan diluar gedung kelas seperti di kebon, pekarangan, sawah, pasar dll. Guru juga banyak memakai alat bantu dan pajangan dalam pembelajaran.

Hanya saja sekolah belum memberikan kesempatan belajar yang sama bagi peserta didik yang berkebutuhan khusus seperti yang berkelainan fisik maupun mental. Sekolah belum melaksanakan Pendidikan Inklusi dan hanya memberikan pelayanan bagi anak anak yang “normal”.

Sebagian besar guru mempunyai perencanaan penilaian peserta didik namun tidak atau belum memberikan feed back hasil penialian pada peserta didik. Mereka menganggap bahwa penilaian adalah hak guru dan tidak perlu memberitahu peserta didik ataupun orang tua mereka.

Hanya sebagian kecil guru yang sudah membuat KKM tetapi belum menyampaikan informasi kepada peserta didik mengenai KKM termasuk apa yang dipersyaratkan untuk penguasaan minimum. Para guru juga tidak melibatkan orang tua dalam penilaian para peserta didik termasuk kurang memberikan masukan hasil penialian peserta didik pada orang tua sehingga peningkatan belajar mereka hanya tergantung pada guru di sekolah saja tanpa masukan dari orang tua.

Secara umum hasil belajar para peserta didik sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan.  Hasil ujian nasional sekolah cukup baik seperti tertera pada data kwantitatif diatas. Beberapa peserta didik memperoleh juara tingkat kabupaten dalam lomba bidang studi.  Angka meneruskan ke jenjang SMA juga cukup baik,.

Sekolah lebih mementingkan perkembangan kemampuan akademis peserta didik saja dan kurang memperhatikan pengembangan potensi potensi peserta didik kecuali dengan kegiatan kegiatan non-akademis yang konvensional semacam pengajian, shalat berjamaah bersama, namun kurang mengembnagkan ketrampilan hidup mereka.

Visi dan Misi sekolah dikembangkan bersama dengan wakil wakil orang tua peserta didik dan para guru dalam rapat antara sekolah dan orang tua peserta didik. Komite Sekolah cukup aktif dan selalu memberikan dukungannya demi kemajuan sekolah.

Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) pada dasarnya dikembangkan dalam rapat dengan orang tua murid, walaupun disempurnakan dan dikembangkan oleh kepala Sekolah dan Dewan Guru.  Ini merupakan perkembangan baru sebab sebelum tahun 2007 RKAS hanya dikembangkan oleh Kepala Sekolah dengan beberapa guru kepercayaannya saja.

Sekolah juga melaporkan semua kegiatannya kepada rapat dengan orang tua, pesert didik termasuk laporan keuangannya – dari penerimaan sampai pengeluarannya. Baik laporan kegiatan maupun keuangan diketahui bersama dengan Komite Sekolah dan disamping dilaporkan pada rapat, juga dipajangkan di Papan pengumuman sekolah.

Seperti disebutkan diatas, dari 21 guru, 16 mempunyai kwalifikasi yang diharuskan – sarjana S1, sehingg ada 5 yang masih berijazah D2 – boleh dikata cukup baik, sebab dari yang 5 guru berijazah D2 mereka adalah guru-guru untuk Penjaskes dan ekstra kurikuler lainnya.  Dari 16 guru tersebut, 10 telah lulus sertifikasi guru.

Sekolah selalu mendorong para gurunya untuk meningkatkan kwalifikasi mereka dengan mengikuti berbagai penataran atau kursus-kursus yang sesuai untuk pengembangan kemampuan mereka.

Sebagai sekolah negeri, dana operasional sekolah telah dicukupi oleh Pemerintah, walaupun sebetulnya mereka tetap memerlukan uluran tangan dari Masyarakat untuk mendanai kegiatan non-rutin seperti pengadaan komputer dan buku buku pengayaan. Sekolah amat tergantung dengan adanya dana BOS sehingga ini dikelola dengan baik.

Dengan usul dari Komite Sekolah, orang tua murid tidak keberatan memberikan sejumlah uang untuk kegiatan-kegiatan khusus sekolah serta pengadaan Sarana yang amat diperlukan semacam komputer atau buku buku pengayaan lainnya.

Seperti ditulis diatas, sekolah selalu melaporkan penerimaan dan penggunaan dana yang diterima kepada orang tua murid – sebagai wujud Akuntabilitas Publiknya.

 

Tugas untuk Latihan Pengisian Instrumen EDS

  1. Secara perorangan atau berkelompok, harap Anda mengisi Instrumen EDS untuk semua Standar berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari Studi Kasus diatas.
  2. Isi juga Format Laporan EDS (yang merupakan hasil ringkasan yang ada pada setiap akhir pertanyaan tentang Aspek dalam setiap Standar).
  3. Diskusikan dengan teman Anda hasil pengisian Format EDS Anda dan berikan argumentasi mengapa Anda menulis apa yang telah Anda tulis.
  1. Jika diperlukan, perbaiki hasil isian pada Format Instrumen dan Format Laporan EDS berdasarkan hasil diskusi.
  1. Tuliskan data dan informasi apa yang belum ada dalam Studi Kasus

                                       Refleksi

Tuliskan juga refleksi ataupun rekomendasi Anda tentang proses pembelajaran ini ataupun usulan untuk perbaikan Instrumen dan Format Laporan EDS.

1.  Refleksi/usul untuk proses pembelajaran

  1. Refleksi/Usul perbaikan Instrumen EDS.

BAB VI

EDS SEBAGAI DASAR PENYUSUNAN RPS/RKS

 

A.   TUJUAN BELAJAR

Pada Bab ini Anda akan mempelajari pentingnya hasil EDS untuk dijadikan dasar penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) dan mampu membuat RPS/RKS.

B.   HASIL YANG DIHARAPKAN

Setelah mempelajari Bab ini Anda diharapkan dapat mengetahui:

  1. Pentingnya mempunyai data yang handal untuk dasar perencanaan;
  2. Data hasil EDS yang mengacu pada SPM dan SNP mutlak harus menjadi dasar perencanaan sekolah;
  3. Pentingya adanya skala prioritas untuk kegiatan yang akan masuk pada RPKS/RKS serta RAPBS/RAKS.
  4. Bagaimana membuat RPS/RKS berdasarkan data yang ada.

C.   LATAR BELAKANG

Untuk meningkatkan mutu kinerja sekolah, sekolah memerlukan perencanaan yang baik yang berdasarkan data dan informasi yang benar dan handal. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat mengukur kinerja sekolah dari SPM dan SNP sehingga rencana pengembangan sekolah kebanyakannya tidak berdasarkan data yang solid dan lebih berdasarkan atas perkiraan, asumsi atau bahkan kebiasaan saja.

Dengan adanya EDS akan memungkinkan sekolah mempunyai data tentang hasil evaluasi kinerjanya termasuk kekurangannya dilihat dari SPM maupun SNP. Hasil EDS ini dikaji dan ditentukan prioritasnya untuk dimasukkan dalam RPS/RKS yang berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata sekolah, baik untuk masa 4 tahun dalam RPS/RKS maupun untuk masa tahunan d alam RAPBS/RKAS.

Keharusan sekolah untuk mempunyai rencana pengembangan sekolah seperti diatur dalam berbagai peratuiran-peraturan Pemerintah dibawah ini akan amat tertolong dengan adanya EDS. Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 Bab VIII tentang Standar Nasional Pendidikan pada pasal 53 ayat (1) menyatakan bahwa setiap satuan pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan yang merupakan penjabaran rinci dari kerja jangka menengah satuan pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun. Juga Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 19 tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah mewajiban agar sekolah madrasah mempunyai: (1) Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang menggambarkan tujuan yang akan dicapai dalam kurun waktu 4 tahun yang berkaitan dengan mutu lulusan yang ingin dicapai dan perbaikan komponen yang mendukung peningkatan mutu lulusan, (2) Rencana Kerjas Tahunan (RKT) yang dinyatakan dalam Rencana kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS) dilaksanakan berdasarkan RKJM.

 

Tugas

  1. Diskusikan pentingnya data dan informasi yang handal dan solid untuk dasar perencanaan dan bagaimana akibatnya jika perencanaan tidak berdasarkan data dan hanya Asumsi saja.
  1.  Apa acuan perencanaan kegiatan sekolah dan apa akibatnya jika mengabaikan acuan tersebut.

 

D.   MEMBUAT PERENCANAAN

Berdasarkan peraturan Pemerintah yang ada, secara umum sekolah diwajibkan membuat perencanaan untuk memastikan agar semua kegiatan untuk meningkatkan kinerjanya bisa tercapai dan terukur dengan membuat perencanaan sebagai berikut:

  1. Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang menghasilkan RPS/RKS untuk kurun waktu 4 tahunan.
  2. Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang menghasilkan Rencana Anggaran, Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) atau Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).

Kebutuhan sekolah akan data dan informasi yang handal sebagai dasar penyusunan perencanaannya seperti dikatakan diatas akan terpenuhi dengan sendirinya dengan pelaksanaan EDS di sekolahnya. Dan acuan semua perencanaan adalah pencapaian 8 SNP.

E.    MENENTUKAN PRIORITAS

Data dan informasi dari EDS yang menghasilkan usulan usulan kegiatan cukup banyak dan sehingga tak mungkin semuanya dilaksanakan bersamaan. Kemampuan sekolah dari berbagai segi biasanya terbatas, baik dari segi SDM, daya dan dana maupun dari segi waktu. Untuk itulah maka sekolah perlu menentukan prioritas mana yang perlu masuk, mana yang didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan pada waktu lain.

Penentuan prioritas harus dilakukan melalui diskusi bersama stakeholder pendidikan di sekolah dan bukan oleh Kepala Sekolah ataupun oleh Komite Sekolah saja.  Penentuan prioritas ini harus berdasarkan atas kriteria-kriteria yang disetujui bersama yang secara umum berhubungan dengan: Pentingnya satu kegiatan dan dampaknya bagi peningkatan mutu dan kinerja; urgensinya, ketersediaan SDM dan pelaksananya dan tersedianya waktu serta sumber daya dan dana pendukungnya.

Perlu diketahui bahwa dari hasil EDS mungkin ada usulan kegiatan peningkatan mutu atau kinerja yang bisa dilakukan oleh sekolah itu sendiri tanpa memerlukan biaya. Umpama dari Standar Pengelolaan kentara sekali bahwa disiplin guru amat jelak sehingga perlu ditingkatkan. Peningkatan disiplin guru bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan memberikan anjuran agar guru disiplin, peraturan dan perintah tentang hal itu dan yang amat penting adalah contoh dari pimpinan sekolah sendiri – semuanya ini tanpa perlu ada biaya khusus.

Tugas

  1. Bagi Kepala Sekolah: Tentukan pentingnya tiap Standar bagi Sekolah dgn memakai skala 1 – 10. (Sepuluh paling penting).
  1. Bagi Pengawas: Tentukan pewntingnya tiap Standar bagi Kab/kota dengan memakai skala 1 – 10.

 

  1. Bagi semuanya: Kriteria apa yang bisa dipakai menentukan prioritas dalam meningkatkan kinerja sekolah.

F.    MEMBUAT RPS/RKS

Untuk menyusun RPS/RKS telah terbit beberapa versi Pedomannya namun pada dasarnya intinya serupa. Pedoman ini berisi: Latar Belakang, Dasar Hukum; Prinsip-prinsip Penyusunan RPS/RKS, Profile dan Kondisi Sekolah sekarang serta Kondisi yang diharapkan dan Program / Kegiatan dan Anggaran.

Yang mutlak harus ada di sekolah adalah: Profil Sekolah yang berisi Data dan informasi solid tentang kelemahan serta hal hal yang memerlukan peningkatan; data dianalisis kekuatan dan kelemahannya; penentuan prioritas kegiatan yang akan direncanakan dan laksanakan dan membuat rencana itu sendiri yang terdiri dari dua rencana: Rencana Kegiatan Jangka Menengah atau RPS/RKS dan Rencana Kegiatan Tahunan atau RAPBS / RKAS.

Dalam hal EDS sekolah telah mempunyai data dan informasi handal tentang kelemahannya dan kebutuhannya. Kepala sekolah dan Dewan guru dapat mengkaji dan menganalisis serta mementukan prioritas hal hal apa yang harus dimasukkan kedalam perencanaan.

Dibawah ini ada usul bentuk RPS/RKS dan RAPBS/RKAS sederhana setelah sekolah mempunyai Profil sekolah dan data/informasi lain dari hasil EDS.

RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

 

No Jenis kegiatan Tujuan Hasil yang diharapkan Waktu

S. Sarpras

Dll

RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN SEKOLAH (RKAS)

 

No

Jenis kegiatan

Tujuan

Hasil yang diharapkan

Penanggung jawab

Waktu

Dana

S. Sarpras

Dll

Di atas hanyalah contoh format RPS/RKS dan RKS/RAPBS yang sederhana namun siap pakai dan yang bisa saja disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Yang penting dalam perencanaan adalah jelasnya apa kegiatan itu, tujuannya, hasil yang diharapkan, penanggung jawab, waktu pelaksanaannya serta sumber daya dan dananya.  RPS/RKS karena berjangka waktu 4 tahun sifatnya umum dan mencakup besaran kegiatan. Mungkin belum bisa dengan pasti dicantumkan dana yang dibutuhkan, hanya perkiraan saja. Sedangkan RKAS/RAPBS sifatnya lebih rinci karena berjangka tahunan – jadi memuat hal prioritas yang akan dikerjakan sekolah termasuk perlunya dana untuk semua kegiatan.

Tugas

  1.  Dari hasil EDS Studi Kasus, tuliskan 5 hal yang perlu dimasukkan kedalam RPS/RKS sekolah Anda.
  1. Dari 5 hal diatas, ambil 2 yang palinmg penting dan jadikanlah kedua hal tersebut sebagai kegiatan yang ada dalam RAPBS/RAKS tahun ini di Sekolah Anda.


 

BAB VII

PENUTUP

Upaya peningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah mutlak perlu dilaksanakan dan yang tujuan pokoknya adalah bagaimana membuat peserta didik belajar dengan baik. Hal ini dimulai dengan pelaksanaan EDS yang merupakan evaluasi internal yang dilakukan oleh dan untuk kepentingan sekolah sendiri dengan pelakunya yaitu TPS dan dewan guru dibawah kepemimpinan Kepala sekolah dan bimbingan Pengawas. Dengan EDS akan diketahui kinerja sekolah dilihat dari SPM dan SNP sehingga sekolah dapat menyusun Rancangan Pengembangan Sekolahnya berdasarkan kebutuhan nyata. Sekolah akan dapat menentukan prioritas perbaikan kinerjanya dari segi waktu dan SDM berdasarkan hasil EDS, khususnya RAKS tahunan akan benar benar membantu sekolah memperbaiki dirinya.

Dengan modul yang bersifat Belajar Mandiri ini diharapkan para guru sekolah/madrasah khusunya dan para pembaca modul ini dapat memahami konsep EDS, apa dan bagaimana EDS, manfaat EDS, para pelaku utama EDS ditingkat sekolah, memahami serta mengisi Instrumen EDS serta menggunakan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/TKS dan RAPBS/RAKS yang terakhir ini adalah tujuan utama dilaksanakannya EDS di sekolah.

Memang banyak sudah evaluasi dilakukan terhadap sekolah, namun kebanyakannya bersifat eksternal yaitu penilaian orang luar atas kinerja sekolah untuk akreditasi atau tujuan lainnya. Evaluasi dari luar cenderung mengundang subjek yang dievaluasi untuk ”mengaada ada” dan melakukan apa saja demi memperoleh nilai baik.

EDS adalah evaluasi internal yang hasilnya untuk kepentingan sekolah itu sendiri – perbaikan kinerjanya dari kedelapan SNP. EDS adalah memotret diri atau melakukan check up sekolah. Salah satu kuncinya adalah kejujuran, menilai apa adany karena dengan mengetahui kelemahan dan kekurangannya akan bisa dilakukan perbaikan yang diperlukan. Karenanya EDS mengharuskan adanya kejujuran – tiada dusta diantara kita – sehingga hasilnya merupakan potret asli yang tanpa adanya hal tersebut tidak mungkin dilakukan perbaikan mutu kinerja sekolah. Dengan demikian pelaksanaan EDS di sekolah dan kegiatan tindak lanjutnya juga akan mempunyai efek positif bagi sekolah dalam kegiatan evaluasi eksternal lainnya semacam Akreditasi dsb.

Modul Bahan Belajar Mandiri ini diharapkan dapat membantu Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama dalam upaya penguatan kemampuan Kepala Sekolah/Madrasah, sebab diharapkan dapat membantu para Kepala Sekolah/Madrasah yang belum mendapat pelatihan untuk memahami konsep EDS dan melaksanakannya demi kemajuan sekolahnya.

EDS

DAFTAR ISI

Kata Pengantar  …………………………………………………………………………………..  1
Daftar Isi   ………………………………………………………………………………………….  2
Daftar Singkatan  …………………………………………………………………………………  3
Daftar Istilah  ………………………………………………………………………………………  4

BAB  I Pendahuluan ………………………………………………………………………….  6
A.  Latar Belakang  ………………………………………………………………………………  6
B. Dasar Hukum  ………………………………………………………………………………..  6
C.  Tujuan  …………………………………………………………………………………………  7
D.  Manfaat  ……………………………………………………………………………………….  7

BAB II EDS/M dalam kerangka Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan  ….  9
A.  Konsep Dasar EDS/M  ………………………………………………………………………  9
B.  Keterkaitan EDS/M dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu  ………………..  10
C.  Strategi Implementasi EDS/M …………………………………………………………….  14

BAB III Pelaksanaan Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah …………………..  17
A.  Bentuk Instrumen  ………………………………………………………………………….  17
B.  Bukti Fisik  …………………………………………………………………………………….  17
C.  Deskripsi Indikator  …………………………………………………………………………  19
D.  Tahapan Pengembangan  …………………………………………………………………  20
E.  Rekomendasi  ………………………………………………………………………………..  21

BAB IV Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah  ……………………….  22
A.  Penetapan Skala Prioritas  …………………………………………………………………  22
B.  Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah  ……………………………………..  24

BAB V Penutup ……………………………………………………………………………….  26

DAFTAR SINGKATAN

BAN S/M  Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah
BAP  Badan Akreditasi Provinsi
BDK  Badan Diklat Keagamaan (Kementerian Agama)
EDK  Evaluasi Diri Kabupaten/Kota
EDS/M  Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah
MIS  Management Information System (Sistem Informasi Manajemen)
Kemenag  Kementerian Agama
Kemendiknas  Kementerian Pendidikan Nasional
LPMP  Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan
MSPD  Monitoring Sekolah oleh Pemerintah Daerah
Padati  Pusat Data dan Informasi (Kemendiknas)
RENSTRA  Rencana Strategis
RKT  Rencana Kerja Tahunan
RKJM  Rencana Kegiatan Jangka Menengah
RPS/RKS  Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kegiatan Sekolah
RAPBS/RKAS Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah/Rencana
Kerja dan Anggaran Sekolah
SNP  Standar Nasional Pendidikan
SPM  Standar Pelayanan Minimal
SPMP  Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
TPS  Tim Pengembang Sekolah

DAFTAR ISTILAH

Data Kualitatif Data yang disajikan dalam bentuk kata-kata yang mengandung makna

Indikator  Jabaran pokok-pokok penting dari suatu komponen atau bukti yang harus ditunjukkan untuk membuktikan bahwa komponen tersebut tercapai atau tidak.

Data Kuantitatif  Data kuantitatif adalah data yang dipaparkan dalam bentuk angka-angka

Analisis Data  Suatu proses untuk membandingkan atau mempertanyakan data kuantitatif dan kualitatif terhadap standar dan indikator yang disepakati untuk melihat apa yang dimaksud oleh data tersebut dan mengapa hal itu terjadi.

Agregasi  Penggabungan, pengumpulan, dan ringkasan data yang terkumpul menjadi kelompok yang berarti untuk membantu kita mengidentifikasi kecenderungan dan isu-isu yang terjadi pada sekelompok responden.

Dampak  Implikasi dari suatu kegiatan pengukuran dalam bidang pendidikan berdasarkan hasil dan manfaat untuk keberlanjutan program.

Efisiensi  Tingkat ketercapaian program dibandingkan dengan sumberdaya yang digunakan.

Evaluasi  Proses pengukuran akan efektifitas strategi yang digunakan dalam upaya mencapai tujuan

Kehandalan  Kehandalan atau reliability – data yang sama akan diperoleh tiap kali instrument dipakai pada kelompok atau responden yang sama atau berbeda – Konsistensi data – kegiatan yang dilakukan berulang-ulang, dapat mengeluarkan hasil data yang sama atau konsisten.

Komponen  Jabaran pokok-pokok penting dari suatu standard atau bukti yang harus ditunjukkan untuk membuktikan bahwa standard tersebut tercapai atau tidak. Standar terdiri dari sejumlah komponen dan setiap komponen terdiri dari sejumlah indicator.

Monitoring  Memantau jejak proyek, program atau kegiatan guna memastikan bahwa: input diberikan sesuai dengan perencanaan – tepat waktu, dengan kuantitas yang memadai, dalam plafon anggaran, proses dilaksanakan sesuai dengan
rencana, dan output yang dicapai sesuai dengan apa yang diajukan.

MSPD  Serangkaian strategi yang dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan/Kantor Kemenag dan pengawas sekolah tingkat Pemerintah Daerah untuk memonitor dan mengevaluasi mutu dan keefektifan sekolah berdasarkan SPM dan SNP. Data MSPD didasarkan atas hasil EDS/M, sebagai masukan untuk bahan rekomendasi peningkatan mutu pendidikan tingkat kab/kota.

Mutu  Kualitas yang diukur berdasarkan relevansi, efisiensi, keefektifan dan dampak dari program, proses atau tindakan. Mutu mengukur sampai dimana unit atau sistem telah mencapai SPM dan SNP.

Output Pendidikan  Keluaran dalam bentuk kegiatan, produk atau jasa yang dihasilkan dari pemrosesan masukan. Keluaran biasanya lebih bersifat hasil yang nyata.

Peningkatan Mutu  Proses yang berkelanjutan dalam membuat semua kegiatan lebih baik berdasarkan siklus penjaminan mutu yang berkelanjutan dan perencanaan peningkatan mutu di semua unit pada semua tingkatan dalam sistem.

Penjaminan Mutu  Serangkaian proses dan sistem yang saling terkait untuk mengumpulkan, menganalisa, dan melaporkan data mengenai kinerja dan mutu dari tenaga kependidikan, program dan lembaga.

Keefektifan  Suatu kegiatan, proses, program, dan hal lainnya yang dianggap efektif jika dapat mencapai hasil akhir yang direncanakan yang dapat terus berjalan (sustainable).

Proses Pendidikan  Proses adalah tindakan yang dilakukan atau prosedur yang dilaksanakan, misalnya, mengajar, menilai, sistem pengelolaan untuk menggunakan dan mengelola input agar dapat menghasilkan output atau hasil.

Triangulasi  Proses pengumpulan data tentang indikator yang sama dari dua sumber atau lebih atau dari sumber yang sama dengan memakai dua strategi atau lebih. Jika hasil kedua proses ini sama, maka data atau bukti itu dapat dianggap sebagai valid dan akurat.

CATATAN KHUSUS DALAM DOKUMEN INI
Penggunaan istilah sekolah mencakup madrasah

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Kementerian Agama (Kemenag) telah menunjukkan komitmen dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia melalui pelaksanaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan (SPMP) sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 63 tahun 2009. SPMP mendefinisikan penjaminan mutu sebagai kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan/program pendidikan, penyelenggara satuan/program pendidikan, pemerintah daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
Pada tataran operasional, penjaminan mutu dilakukan melalui serangkaian proses dan sistem yang saling terkait untuk mengumpulkan, menganalisa, dan melaporkan data mengenai kinerja dan mutu dari tenaga kependidikan, program dan lembaga. Proses penjaminan mutu mengindentifikasi bidang-bidang pencapaian dan prioritas untuk perbaikan, menyediakan data untuk pembuatan keputusan berbasis bukti dan membantu membangun budaya perbaikan yang berkelanjutan. Pencapaian mutu pendidikan dikaji berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP).
Sekolah/Madrasah adalah pelaku utama dalam proses penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Salah satu alat untuk mengkaji kemajuan peningkatan mutu sekolah secara komprehensif yang berbasis Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP) adalah Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M). EDS/M sebagai salah satu komponen SPMP diharapkan dapat membangun semangat dan kultur penjaminan dan peningkatan mutu secara berkelanjutan.

B.  Dasar Hukum
1.  Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
2.  Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
3. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
4.  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 50 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Pemerintah Daerah.
5.  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.
6.  Peraturan lain yang relevan dengan implementasi delapan standar nasional pendidikan.

C.  Tujuan
Tujuan utama Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M) adalah:
1.  Sekolah menilai kinerjanya berdasarkan SPM dan SNP.
2.  Sekolah mengetahui tahapan pengembangan dalam pencapaian SPM dan SNP sebagai dasar peningkatan mutu pendidikan yang bermuara pada peningkatan mutu peserta didik.
3.  Sekolah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) atau Rencana Kegiatan Sekolah (RKS) sesuai kebutuhan nyata menuju ketercapaian implementasi SPM dan SNP.

D.  Manfaat
EDS/M diharapkan dapat memberikan sumbangan penting bagi sekolah sendiri dan bagi pemerintahan Kab/Kota yang memiliki kewenangan mengelola pendidikan. Berikut adalah manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan EDS/M.
1.  Bagi sekolah
a. Sekolah dapat mengidentifikasikan kelebihan serta kekurangannya sendiri dan merencanakan pengembangan ke depan.
b. Sekolah dapat memiliki data dasar yang akurat sebagai dasar untuk pengembangan dan peningkatan di masa mendatang.
c. Sekolah dapat mengidentifikasikan peluang untuk meningkatkan mutu pendidikan yang disediakan, mengkaji apakah inisiatif peningkatan tersebut berjalan dengan baik dan menyesuaikan program sesuai dengan hasilnya.
d.  Sekolah dapat memberikan laporan formal kepada pemangku kepentingan demi meningkatkan akuntabilitas sekolah.

2.  Bagi tingkatan lain dalam sistem (Pemerintah, pemerintahan kabupaten/kota dan provinsi)
a.  Menyediakan data dan informasi yang penting untuk perencanaan, pembuatan keputusan, dan perencanaan anggaran pendidikan pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan nasional.
b.  Mengidentifikasikan bidang prioritas untuk memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan.
c.  Mengidentifikasikan jenis dukungan yang dibutuhkan terhadap sekolah.
d.  Mengidentifikasikan pelatihan serta kebutuhan program pengembangan lainnya.
e. Mengidentifikasikan keberhasilan sekolah berdasarkan berbagai indicator pencapaian sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal dan Standar Nasional Pendidikan.

BAB II
EDS/M DALAM KERANGKA
SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

A.  Konsep Dasar Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M)
Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah adalah EDS/M adalah proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah yang bersifat internal yang melibatkan pemangku kepentingan untuk melihat kinerja sekolah berdasarkan SPM dan SNP yang hasilnya dipakai sebagai dasar Penyusunan RKS dan sebagai masukan bagi perencanaan investasi pendidikan tingkat kab/kota.
Proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah merupakan siklus, yang dimulai dengan pembentukan Tim Pengembang Sekolah (TPS), pelatihan penggunaan instrumen, pelaksanaan EDS di sekolah dan penggunaan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RKAS. Sekolah melakukan proses EDS setiap tahun sekali. EDS/M dilaksanakan oleh Tim Pengembang Sekolah (TPS) yang terdiri atas: Kepala Sekolah, wakil unsur guru, wakil Komite Sekolah, wakil orang tua siswa, dan pengawas.
TPS mengumpulkan bukti dan informasi dari berbagai sumber untuk menilai kinerja sekolah berdasarkan indikator-indikator yang dirumuskan dalam instrumen. Dengan menggunakan Instrumen EDS/M, sekolah dapat mengukur dampak kinerjanya terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Sekolah juga dapat memeriksa hasil dan tindak lanjutnya terhadap perbaikan layanan pembelajaran yang diberikan dalam memenuhi kebutuhan pembelajaran peserta didik. Kegiatan ini melibatkan semua pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah untuk memperoleh informasi dan pendapat dari seluruh pemangku kepentingan sekolah.
Khusus untuk pengawas, keterlibatannya dalam TPS berfungsi sebagai fasilitator atau pembimbing bagi sekolah dalam melakukan Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah, terutama memastikan bahwa proses EDS/M yang dilakukan secara benar dan buktibukti fisik sekolah tersedia.
EDS/M bukanlah proses yang birokratis atau mekanis, melainkan suatu proses dinamis yang melibatkan semua pemangku kepentingan dalam sekolah. EDS/M perlu dikaitkan dengan proses perencanaan sekolah dan dipandang sebagai bagian yang penting dalam kinerja siklus pengembangan sekolah. Sebagai kerangka kerja untuk
perubahan dan perbaikan, proses ini secara mendasar menjawab 3 (tiga) pertanyaan kunci di bawah ini:
1.  Seberapa baikkah kinerja sekolah kita? Hal ini terkait dengan posisi pencapaian kinerja untuk masing-masing indikator SPM dan SNP.
2.  Bagaimana kita dapat mengetahui kinerja sekolah? Hal ini terkait dengan bukti apa yang dimiliki sekolah untuk menunjukkan pencapaiannya.
3.  Bagaimana kita dapat meningkatkan kinerja? Dalam hal ini sekolah melaporkan dan menindaklanjuti apa yang telah ditemukan sesuai pertanyaan di nomor 2 dan nomor 3 sebelumnya.
Sekolah menjawab ketiga masalah ini setiap tahunnya dengan menggunakan seperangkat indikator kinerja untuk melakukan pengkajian yang obyektif terhadap kinerja mereka berdasarkan SPM dan SNP yang ditetapkan, dan mengumpulkan bukti mengenai kinerja peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan.
Informasi tambahan seperti tingkat ketercapaian kinerja sekolah dalam memenuhi kebutuhan semua peserta didiknya dan kapasitas sekolah untuk perbaikan serta dukungan yang dibutuhkan juga dimasukkan di sini. Data dapat juga dikaitkan dengan kebutuhan lokal dan informasi khusus terkait dengan kondisi sekolah.
Informasi kuantitatif seperti tingkat penerimaan siswa baru, hasil ujian, tingkat pengulangan dan lain-lain, beserta informasi kualitatif seperti pendapat dan penilaian profesional dari para pemangku kepentingan di sekolah dikumpulkan guna mendapatkan gambaran secara menyeluruh. Semua informasi ini kemudian dipergunakan sebagai dasar untuk mempersiapkan suatu rencana pengembangan sekolah yang terpadu.
Informasi hasil EDS/M dan Rencana Pengembangan Sekolah ditindaklanjuti Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau Kantor Kemenag sebagai informasi kinerja sekolah terkait pencapaian SPM dan SNP dan sebagai dasar penyusunan perencanaan peningkatan mutu pendidikan pada tingkat kabupaten/kota dan provinsi, bahkan pada tingkat nasional.

B.  Keterkaitan EDS/M dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu
EDS/M dikembangkan sejalan dengan sistem penjaminan mutu pendidikan, khususnya yang terkait dengan perencanaan pengembangan sekolah dan manajemen berbasis sekolah. Pelaksanaan EDS/M terkait dengan praktek dan peran kelembagaan
yang memang sudah berjalan, seperti manajemen berbasis sekolah, perencanaan pengembangan sekolah, akreditasi sekolah, implementasi SPM dan SNP, peran LPMP/BDK, peran pengawas, serta manajemen pendidikan yang dilakukan oleh pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota, dan Rencana Pembangunan Nasional Bidang Pendidikan, Renstra Kemendiknas, dan Renstra Kemenag.
Diagram di bawah ini menggambarkan EDS/M sebagai salah satu komponen sumber data dalam Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan yang mengacu pada Permendiknas No. 63 tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.

EVALUASI DIRI
SEKOLAH
(EDS/M)
(Tahunan)
MONITORING
SEKOLAH OLEH
PEMERINTAH
DAERAH (MSPD)
(Sesuai kebutuhan)

SERTIFIKASI GURU DAN PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESIONAL (Tahunan)

SISTEM
PENJAMINAN MUTU
PENDIDIKAN (SPMP)
MEMENUHI SPM
DAN SNP

EVALUASI DIRI
KABUPATEN (EDK)
(Tahunan)

AKREDITASI
SEKOLAH
(Lima tahun)
PENGUMPULAN
DATA PADATI
(Tahunan)
UJIAN
NASIONAL
(Tahunan)

Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah (EDS/M), sebagai komponen penting dalam SPMP, merupakan dasar peningkatan mutu dan penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). EDS/M juga menjadi sumber informasi kebijakan untuk penyusunan program pengembangan pendidikan kabupaten/kota. Karena itulah EDS/M menjadi bagian yang integral dalam penjaminan dan peningkatan mutu pendidikan. EDS/M adalah suatu proses yang memberikan tanggung jawab kepada sekolah untuk mengevaluasi kemajuan mereka sendiri dan mendorong sekolah untuk menetapkan prioritas peningkatan mutu sekolah.
Kegiatan EDS/M berbasis sekolah, tetapi proses ini juga mensyaratkan adanya keterlibatan dan dukungan dari orang-orang yang bekerja dalam berbagai tingkatan
yang berbeda dalam sistem ini, dan hal ini tentu saja membantu terjaminnya transparansi dan validitasi proses.
EDS/M merupakan komponen penentu yang sangat penting dalam membangun sistem informasi pendidikan nasional terutama dalam memotret kinerja sekolah dalam penerapan SPM dan SNP. Informasi yang terbangun menjadi dasar untuk perencanaan peningkatan mutu berkelanjutan dan pengembangan kebijakan pendidikan pada tingkat kab/kota, provinsi, dan nasional. Pada diagram EDS/M dalam Kaitannya dengan Penjaminan dan Peningkatan Mutu, terlihat alur informasi dan urutan kegiatannya.

Informasi strategis hasil EDS/M ditindaklanjuti oleh Pengawas

C.  Strategi Implementasi
Selama berjalannya proses EDS/M, diharapkan dapat dibangun adanya visi yang jelas mengenai apa yang diinginkan oleh para pemangku kepentingan terhadap sekolah mereka. Untuk dapat membangun visi bersama mengenai mutu ini yang harus dilakukan adalah semua pemangku kepentingan harus terlibat dalam proses untuk menyepakati nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang akan ditetapkan. Visi bersama ini yang akan membawa arah pengembangan sekolah ke depan dengan lebih jelas.
Sekolah mengukur dampak dari berbagai kegiatan pentingnya terkait dengan peserta didik dan kegiatan pembelajaran (belajar mengajar); setiap tahun sekolah juga memeriksa hasil dan dampak dari kegiatan belajar mengajar serta bagaimana sekolah dapat memenuhi kebutuhan peserta didiknya. Hal yang sangat penting dalam proses ini adalah sekolah harus mempergunakan evaluasi ini untuk memprioritaskan bidang yang memerlukan peningkatan dan mempersiapkan rencana pengembangan/peningkatan sekolah. Proses ini kemudian menjadi bagian dari siklus pengembangan dan peningkatan yang berkelanjutan.

Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan di sekolah (kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua, komite sekolah, anggota masyarakat, dan pengawas sekolah) diharapkan bahwa tujuan dan nilai yang diinginkan dalam proses EDS/M menjadi bagian dari etos kerja sekolah. Penting diingat adalah bahwa informasi yang didapatkan harus dianggap penting dan tidak lagi dianggap sebagai beban atau hanya sekedar sebagai daftar data yang perlu dikumpulkan karena diminta oleh pihak luar. Proses EDS/M harus menjadi suatu refleksi untuk mengubah dan memperbaiki tata kerja, serta akan dianggap berhasil jika dapat membawa sekolah pada peningkatan pelayanan pendidikan dan hasilnya bagi para peserta didik. Kemudian sekolah akan menjadi pelaku utama dalam peningkatan mutu dan memberikan penjaminan terhadap pelayanan pendidikan yang bermutu.
Tahapan-tahapan berikut adalah upaya yang dilaksanakan untuk menunjang keberhasilan pelaksanaan EDS/M, yakni:
1.  Persiapan
Sebelum proses ini dapat dimulai, dibutuhkan pelatihan EDS/M secara berkelanjutan. Pelatihan ditujukan untuk mempersiapkan sekolah melaksanakan evaluasi secara transparan, untuk menjamin validitas dan mempergunakan informasi yang dikumpulkan untuk memberikan masukan terhadap perencanaan pengembangan sekolah.
Pelatihan ini dilaksanakan dengan mempergunakan sistem berikut ini:
a.  LPMP/BDK dilatih sebagai pelatih bagi pelatih (Trainers of Trainers/ToT).
b.  Kepala Seksi Kurikulum, Koordinator Pengawas, beberapa Pengawas dilatih oleh LPMP/BDK.
c.  Koordinator Pengawas dan pengawas sekolah terpilih melatih Tim TPS/EDS/M dalam gugus sekolah.
2.  Melaksanakan Proses Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah
Setelah pelaksanaan pelatihan, kepala sekolah dengan dukungan pengawas sekolah pembina melaksanakan EDS/M bersama Tim TPS yang terdiri dari perwakilan guru, komite sekolah, orang tua, Pengawas dan perwakilan lain dari kelompok masyarakat yang memang dipandang layak untuk diikutsertakan.
Tim ini akan mempergunakan instrumen yang disediakan untuk menetapkan profil kinerja sekolah berdasarkan indikator pencapaian. Informasi yang didapatkan kemudian dianalisa dan dipergunakan oleh TPS untuk mengidentifikasi kelebihan
dan bidang perbaikan yang dibutuhkan, serta merencanakan program tahunan sekolah. Pengawas sekolah Pembina harus dilibatkan secara penuh untuk mendukung sekolah dalam proses tersebut, serta dalam mengimplementasikan rencana perbaikan yang dikembangkan berdasarkan hasil dari proses ini.
Keterlibatan pengawas sekolah juga akan mendorong terciptanya transparansi dan keandalan data yang dikumpulkan, serta membantu sekolah untuk melangkah maju dalam program perbaikan berkelanjutan. Pengawas sekolah dan kepala sekolah akan menjadi pemain inti dalam pelibatan pemangku kepentingan untuk mendapatkan gambaran yang realistis mengenai sekolah dalam melakukan perbaikan, dan bukan hanya sekedar mengisi data yang menunjukkan pencapaian standar.
Instrumen EDS/M didasarkan pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang memberikan dua tujuan untuk menyediakan informasi bagi rencana pengembangan sekolah, seiring dengan pemutakhiran sistem manajemen informasi pendidikan nasional. Bidang dan pertanyaan inti yang disediakan dalam instrumen tersebut merefleksikan aspek-aspek yang penting bagi sekolah yang diperlukan untuk merencanakan perbaikan sekolah. Karena itulah maka perlu diantisipasi agar sekolah dapat melakukan proses ini dengan benar dan tidak memandangnya sekedar sebagai kegiatan pengisian formulir. Penting untuk ditekankan disini adalah sekolah harus mendeskripsikan situasi nyata yang ada di sekolah mereka dan kemudian, saat proses ini diulang, mereka harus mampu menunjukkan adanya perbaikan seiring dengan waktu yang berjalan.

BAB III
PELAKSANAAN EVALUASI DIRI SEKOLAH DAN MADRASAH

A.  Bentuk Instrumen EDS/M
Instrumen EDS/M terdiri dari 8 (delapan) standar nasional pendidikan yang dijabarkan ke dalam 26 komponen dan 62 indikator. Setiap standar terdiri atas sejumlah komponen yang mengacu pada masing-masing standar nasional pendidikan sebagai dasar bagi sekolah dalam memperoleh informasi kinerjanya yang bersifat kualitatif. Setiap komponen terdiri dari beberapa indikator yang memberikan gambaran lebih menyeluruh dari komponen yang dimaksudkan.

Contoh Instrumen EDS/M

B.  Bukti Fisik
Bukti fisik yang tersedia digunakan sebagai bahan dasar untuk menggambarkan kondisi sekolah terkait dengan indikator yang dinilai. Untuk itu perlu dimanfaatkan berbagai sumber informasi yang dapat dijadikan sebagai bukti fisik misalnya catatan
kajian, hasil observasi, dan hasil wawancara/konsultasi dengan pemangku kepentingan seperti komite sekolah, orangtua, guru-guru, siswa, dan unsur lain yang terkait.
Informasi kualitatif yang menggambarkan kenyataan dapat berasal dari informasi kuantitatif. Sebagai contoh, Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP) tidak sekedar merupakan catatan mengenai bagaimana pengajaran dilaksanakan.
Keberadaan dokumen kurikulum bukan satu-satunya bukti bahwa kurikulum telah dilaksanakan. Berbagai jenis bukti fisik dapat digunakan sekolah sebagai bukti tahapan pengembangan tertentu. Selain itu, sekolah perlu juga menunjukkan sumber bukti fisik lainnya yang sesuai. Informasi yang dikumpulkan berdasarkan bukti fisik tersebut dipastikan keakuratanya melalui proses triangulasi.

Triangulasi bukti ini menjamin bahwa konsistensi akan terus diperiksa ulang dan bahwa indikator-indikator yang ada dipandang dari berbagai sudut untuk memberikan informasi mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi. Hal ini penting mengingat apa yang dituliskan dalam dokumen tidak selalu merupakan hal yang sebenarnya terjadi. Misalnya, sebuah rencana mengajar tidak selalu dapat merekam bagaimana suatu pelajaran diajarkan, dokumen kurikulum tidak selalu menjadi jaminan bahwa kurikulum disampaikan dengan utuh, dan bahan pelajaran dapat dihitung tetapi bukan berarti bahan tersebut dipergunakan sesuai kepentingannya secara efektif.
Berikut adalah contoh bukti fisik yang dapat disediakan atau digunakan sekolah:

Khusus terhadap proses belajar mengajar, informasi kualitatif dan kuantitatif sebagai hasil dari observasi langsung dilakukan dengan berbagai cara antara lain: (1) mengikuti dalam kelas selama satu hari penuh; (2) mengamati pelajaran; (3) merekam dengan video cara mengajar sendiri; (4) pertukaran kelas antar guru; dan (5) observasi antar sesama guru.

C.  Deskripsi Indikator
Kolom ringkasan deskripsi indikator berdasarkan bukti fisik pada instrumen EDS/M diisi uraian singkat yang menjelaskan situasi nyata yang terjadi di sekolah sesuai
dengan indikator pada setiap komponen yang mengacu kepada Standar Pelayanan Minimal dan Standar Nasional Pendidikan.
Deskripsi indikator yang menggambarkan kondisi nyata dan spesifik untuk setiap indikator akan memudahkan sekolah dalam menyusun rekomendasi untuk perbaikan maupun peningkatan sekaligus menentukan rencana pengembangan sekolah berdasarkan rekomendasi dan prioritas sekolah.

D. Tahapan Pengembangan
Anggota TPS secara bersama mencermati instrumen EDS/M pada setiap indicator dari setiap komponen dan setiap standar. Dalam pengisian intrumen EDS/M, anggota TPS harus merujuk kepada Peraturan Menteri atau Peraturan Pemerintah yang berkaitan dengan SPM dan SNP. Deskripsi indikator berdasarkan bukti fisik menjadi rujukan bagi anggota TPS untuk menentukan posisi tahapan pengembangan sekolah.
Sekolah kemudian membandingkan deskripsi setiap indikator dengan rubrik yang ada dibawahnya untuk melihat posisi tahapan pencapaian. Sekolah kemudian memilih rubrik yang lebih mendekati atau sama dengan deskripsi sekolah untuk kemudian memberi tanda centang (√) pada tahapan pengembangan yang bersesuaian. Tahapan pengembangan pada setiap indikator menggambarkan keadaan seperti apa kondisi kinerja sekolah pada saat dilakukan penilaian terkait dengan indikator tertentu. Tahapan pengembangan ini memiliki makna sebagai berikut:
1.  Tahap ke-1, belum memenuhi SPM. Pada tahap ini, kinerja sekolah mempunyai banyak kelemahan dan membutuhkan banyak perbaikan.
2.  Tahap ke-2, memenuhi SPM. Pada tahap ini, terdapat beberapa kekuatan dan kelemahan tetapi masih sangat butuh perbaikan.
3.  Tahap ke-3, memenuhi SNP. Pada tahap ini, kinerja sekolah baik, namun masih perlu peningkatan.
4.  Tahap ke-4, melampaui SNP. Pada tahap ini, kinerja sekolah sangat baik, melampaui standar yang telah ditetapkan.
Tahapan pengembangan bisa berbeda dalam indikator yang berbeda pula. Hal ini penting sebab sekolah harus menilai kinerja apa adanya. Dalam pelaksanaan EDS/M yang dilakukan setiap tahun, sekolah mempunyai dasar nyata indikator atau komponen atau standar mana yang memerlukan perbaikan secara terus-menerus.

E. Rekomendasi
Setelah menentukan tahapan pengembangan, sekolah kemudian menyusun rekomendasi berdasarkan bukti fisik, deskripsi, dan tahapan pengembangan untuk setiap indikator. Rekomendasi tidak hanya difokuskan pada indikator yang dianggap lemah namun juga disusun untuk setiap indikator yang telah mencapai standar nasional pendidikan. Sehingga rekomendasi ini dapat digolongkan dengan rekomendasi perbaikan/peningkatan dan rekomendasi pengembangan.
Rekomendasi ini kemudian direkap sebagai dasar masukan dalam penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS). Sekolah perlu memastikan bahwa rekomendasi ini sungguh-sungguh berbasis hasil evaluasi diri.

BAB IV
PENYUSUNAN RENCANA PENGEMBANGAN SEKOLAH

Untuk meningkatkan mutu kinerja sekolah, sekolah memerlukan perencanaan yang baik yang berdasarkan data dan informasi yang benar dan handal. Sampai saat ini belum ada alat yang dapat mengukur kinerja sekolah dari SPM dan SNP sehingga rencana pengembangan sekolah kebanyakannya tidak berdasarkan data yang solid dan lebih berdasarkan atas perkiraan, asumsi atau bahkan kebiasaan saja.
Dengan adanya EDS/M akan memungkinkan sekolah mempunyai data tentang hasil evaluasi kinerjanya termasuk kekurangannya dilihat dari SPM maupun SNP. Hasil EDS/M ini dikaji dan ditentukan prioritasnya untuk dimasukkan dalam RPS/RKS yang berdasarkan keadaan dan kebutuhan nyata sekolah, baik untuk masa 4 tahun dalam RPS/RKS maupun untuk masa tahunan dalam RAPBS/RKAS.
Berdasarkan peraturan Pemerintah yang ada, secara umum sekolah diwajibkan membuat perencanaan untuk memastikan agar semua kegiatan untuk meningkatkan kinerjanya bisa tercapai dan terukur dengan membuat perencanaan sebagai berikut:
1.  Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM) yang menghasilkan RPS/RKS untuk kurun waktu 4 tahunan.
2.  Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang menghasilkan Rencana Anggaran, Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS) atau Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).
Kebutuhan sekolah akan data dan informasi yang handal sebagai dasar penyusunan perencanaannya seperti dikatakan di atas akan terpenuhi dengan sendirinya dengan pelaksanaan EDS/M di sekolahnya. Dan acuan semua perencanaan adalah pencapaian 8 SNP.

A.  Menentukan Prioritas Program/Kegiatan
Data dan informasi dari EDS/M yang menghasilkan usulan kegiatan cukup banyak dan sehingga tak mungkin semuanya dilaksanakan bersamaan. Kemampuan sekolah dari berbagai segi biasanya terbatas, baik dari segi SDM, daya dan dana maupun dari segi waktu. Untuk itulah maka sekolah perlu menentukan prioritas mana yang perlu masuk, mana yang didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan pada waktu lain.
Penentuan prioritas harus dilakukan melalui diskusi bersama stakeholder pendidikan di sekolah dan bukan oleh Kepala Sekolah ataupun oleh Komite Sekolah saja. Penentuan prioritas ini harus berdasarkan atas kriteria-kriteria yang disetujui bersama yang secara umum berhubungan dengan: Pentingnya satu kegiatan dan dampaknya bagi peningkatan mutu dan kinerja; urgensinya, ketersediaan SDM dan pelaksananya dan tersedianya waktu serta sumber daya dan dana pendukungnya.
TPS menganalisis informasi yang dikumpulkan dan mempergunakannya untuk mengidentifikasi dan memprioritaskan bidang yang membutuhkan perhatian, yang kemudian akan menjadi dasar bagi rencana pengembangan sekolah. Proses ini kemudian akan berkontribusi untuk mengimplementasikan kebijakan pemerintah yang menyatakan bahwa sekolah harus menyusun Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, Rencana Pengembangan Sekolah akan berisikan prioritas perbaikan dalam jumlah kecil dan dapat dikelola olehsekolah dengan hasil yang telah ditentukan dan berfokus pada peningkatan dan pencapaian hasil pembelajaran. Kesemuanya ini harus dapat diobservasi dan diukur sejauh mungkin. Rencana Pengembangan Sekolah berisikan tanggung jawab untuk pengimplementasiannya, dilengkapi dengan kerangka waktu, tenggang waktu dan ukuran keberhasilan. Sekolah akan didorong untuk mencari solusi dan membuat perubahan dengan cara melakukan upaya yang bersumber dari kekuatan mereka, dan hal ini bergantung pada pengembangan kemampuan strategis kepala sekolah dan pengawas sekolah.
Yang dapat diantisipasi adalah bahwa dengan mengacu pada data dan informasi yang didapatkan dari Evaluasi Diri Sekolah dan Madrasah, hasilnya bukan hanya diperoleh perencanaan yang lebih tepat, tetapi evaluasi kemajuan di masa mendatang dapat ditingkatkan dikarenakan adanya data andal yang dapat dijadikan sebagai acuan. Hal ini akan membantu sekolah untuk dapat mengemukakan perbaikan yang telah mereka capai secara berkelanjutan. Perlu diketahui bahwa dari hasil EDS/M mungkin ada usulan kegiatan peningkatan mutu atau kinerja yang bisa dilakukan oleh sekolah itu sendiri tanpa memerlukan biaya. Umpama dari Standar Pengelolaan kentara sekali bahwa disiplin guru amat jelak sehingga perlu ditingkatkan. Peningkatan disiplin guru bisa dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan memberikan anjuran agar guru disiplin, peraturan dan perintah tentang hal itu dan yang amat penting adalah contoh dari pimpinan sekolah sendiri – semuanya ini tanpa perlu ada biaya khusus.
Contoh
REKAPITULASI REKOMENDASI EDS/M untuk RKS

B.  MEMBUAT RPS/RKS
Untuk menyusun RPS/RKS telah terbit beberapa versi Pedomannya namun pada dasarnya intinya serupa. Pedoman ini berisi: Latar Belakang, Dasar Hukum; Prinsip-prinsip Penyusunan RPS/RKS, Profile dan Kondisi Sekolah sekarang serta Kondisi yang diharapkan dan Program / Kegiatan dan Anggaran.
Yang mutlak harus ada di sekolah adalah: Profil Sekolah yang berisi Data dan informasi solid tentang kelemahan serta hal hal yang memerlukan peningkatan; data dianalisis kekuatan dan kelemahannya; penentuan prioritas kegiatan yang akan direncanakan dan laksanakan dan membuat rencana itu sendiri yang terdiri dari dua rencana: Rencana Kegiatan Jangka Menengah atau RPS/RKS dan Rencana Kegiatan Tahunan atau RAPBS / RKAS.
Dalam hal EDS/M sekolah telah mempunyai data dan informasi handal tentang kelemahannya dan kebutuhannya. Kepala sekolah dan Dewan guru dapat mengkaji dan
menganalisis serta mementukan prioritas hal hal apa yang harus dimasukkan kedalam perencanaan.
Dibawah ini ada usul bentuk RPS/RKS dan RAPBS/RKAS sederhana setelah sekolah mempunyai Profil sekolah dan data/informasi lain dari hasil EDS/M.

Contoh: Format RKS

Di atas hanyalah contoh format RPS/RKS dan RKS/RAPBS yang sederhana namun siap pakai dan yang bisa saja disesuaikan dengan kebutuhan setempat. Yang penting dalam perencanaan adalah jelasnya apa kegiatan itu, tujuannya, hasil yang diharapkan, penanggung jawab, waktu pelaksanaannya serta sumber daya dan dananya. RPS/RKS karena berjangka waktu 4 tahun sifatnya umum dan mencakup besaran kegiatan. Mungkin belum bisa dengan pasti dicantumkan dana yang dibutuhkan, hanya perkiraan saja. Sedangkan RKAS/RAPBS sifatnya lebih rinci karena berjangka tahunan – jadi memuat hal prioritas yang akan dikerjakan sekolah termasuk perlunya dana untuk semua kegiatan.

BAB V
PENUTUP

Upaya peningkatan mutu pembelajaran di tingkat sekolah mutlak perlu dilaksanakan, khususnya bagaimana membuat peserta didik belajar dengan baik. Hal ini dimulai dengan pelaksanaan EDS/M yang merupakan evaluasi internal yang dilakukan oleh dan untuk kepentingan sekolah sendiri dengan pelaku utamanya yaitu TPS dan dewan guru dibawah kepemimpinan Kepala sekolah dan bimbingan Pengawas. Melalui EDS/M akan diketahui kinerja sekolah dilihat dari SPM dan SNP sehingga sekolah dapat menyusun Rencana Pengembangan Sekolahnya berdasarkan kebutuhan nyata. Sekolah akan dapat menentukan prioritas perbaikan kinerjanya dari segi waktu dan SDM berdasarkan hasil EDS/M, khususnya RAKS tahunan akan benar-benar membantu sekolah memperbaiki dirinya.
Panduan ini diharapkan dapat membantu sekolah/madrasah untuk memahami konsep EDS/M, apa dan bagaimana EDS/M, manfaat EDS/M, para pelaku utama EDS/M ditingkat sekolah, memahami serta mengisi instrumen EDS/M serta menggunakan hasilnya sebagai dasar penyusunan RPS/RKS dan RAPBS/RAKS. Hal yang terakhir inilah yang menjadi tujuan utama dilaksanakannya EDS/M di sekolah.
Memang banyak sudah evaluasi dilakukan terhadap sekolah, namun kebanyakannya bersifat eksternal yaitu penilaian orang luar atas kinerja sekolah untuk akreditasi atau tujuan lainnya. Evaluasi dari luar cenderung mengundang subjek yang dievaluasi untuk ”mengada-ada” dan melakukan apa saja demi memperoleh nilai baik.
EDS/M adalah evaluasi internal yang hasilnya untuk kepentingan sekolah itu sendiri   perbaikan kinerjanya dari kedelapan SNP. EDS/M adalah memotret diri atau melakukan check-up sekolah. Salah satu kuncinya adalah kejujuran, menilai apa adanya karena dengan mengetahui kelemahan dan kekurangannya akan bias dilakukan perbaikan yang diperlukan. Dengan demikian pelaksanaan EDS/M di sekolah dan kegiatan tindak lanjutnya juga akan mempunyai efek positif bagi sekolah dalam kegiatan evaluasi eksternal lainnya seperti akreditasi.

PERATURAN
MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL

NOMOR 63 TAHUN 2009

TENTANG

SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Menimbang    :    a.     bahwa pendidikan nasional menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat dan oleh karena itu penjaminan mutu pendidikan menjadi tanggung jawab bersama ketiga unsur tersebut;
b.    bahwa penjaminan mutu pendidikan perlu terus didorong dengan perangkat peraturan perundang-undangan yang memberikan arah dalam pelaksanaannya;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan;

Mengingat    :    1.    Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
2.    Undang-Undang Nomor  32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan  Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);
3.    Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4586);

4.    Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 129, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4774);
5.    Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4916);
6.    Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4965);
7.    Undang-Undang Nomor  25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
8.    Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);
9.    Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737);
10.    Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2008 tentang Wajib Belajar (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 90, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4863);
11.    Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 91, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4864);
12.    Peraturan Pemerintah 74 Tahun 2008 tentang Guru (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4941);
13.    Peraturan Pemerintah 37 Tahun 2009 tentang Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5007);

14.    Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 20  Tahun 2008;
15.    Keputusan Presiden Nomor 187/M Tahun 2004 mengenai Pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu, sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 77/P Tahun 2007;

MEMUTUSKAN:

Menetapkan:        PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN.

BAB I
KETENTUAN UMUM

Bagian Kesatu
Batasan Istilah

Pasal 1

Dalam peraturan menteri ini yang dimaksud dengan:
1.    Mutu pendidikan adalah tingkat kecerdasan kehidupan bangsa yang dapat diraih dari penerapan Sistem Pendidikan Nasional.
2.    Penjaminan mutu pendidikan adalah kegiatan sistemik dan terpadu oleh satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah daerah, Pemerintah, dan masyarakat untuk menaikkan tingkat kecerdasan kehidupan bangsa melalui pendidikan.
3.    Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan yang selanjutnya disebut SPMP adalah subsistem dari Sistem Pendidikan Nasional yang fungsi utamanya meningkatkan mutu pendidikan.
4.    Standar Pelayanan Minimal bidang pendidikan yang selanjutnya disebut SPM adalah jenis dan tingkat pelayanan pendidikan minimal yang harus disediakan oleh satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
5.    Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut SNP adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan peraturan perundangan lain yang relevan.

6.    Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan yang selanjutnya disebut LPMP adalah unit pelaksana teknis Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 7 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 66 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sumatera Barat, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Tengah, dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan Sulawesi Selatan.
7.    Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal yang selanjutnya disebut BPPNFI adalah unit pelaksana teknis Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal.
8.    Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal yang selanjutnya P2PNFI adalah unit pelaksana teknis Departemen Pendidikan Nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 8 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pusat Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal.
9.    Badan Standar Nasional Pendidikan yang selanjutnya disebut BSNP adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
10.    Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi yang selanjutnya disebut BAN-PT adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
11.    Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah yang selanjutnya disebut BAN-S/M adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
12.    Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Nonformal yang selanjutnya disebut BAN-PNF adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
13.    Badan akreditasi provinsi yang selanjutnya disebut BAP adalah sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
14.    Departemen adalah departemen yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan nasional.
15.    Menteri adalah menteri yang menangani urusan pemerintahan dalam bidang pendidikan nasional.

Bagian Kedua
Tujuan Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 2

(1)    Tujuan akhir penjaminan mutu pendidikan adalah tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan bangsa sebagaimana dicita-citakan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang dicapai melalui penerapan SPMP.
(2)    Tujuan antara penjaminan mutu pendidikan adalah terbangunnya SPMP termasuk:
a.    terbangunnya budaya mutu pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal;
b.    pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas dan proporsional dalam penjaminan mutu pendidikan formal dan/atau nonformal pada satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, dan Pemerintah;
c.    ditetapkannya secara nasional acuan mutu dalam penjaminan mutu pendidikan formal dan/atau nonformal;
d.    terpetakannya secara nasional mutu pendidikan formal dan nonformal yang dirinci menurut provinsi, kabupaten atau kota, dan satuan atau program pendidikan;
e.    terbangunnya sistem informasi mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan tersambung yang menghubungkan satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, dan Pemerintah.

Bagian Ketiga
Paradigma dan Prinsip Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 3

(1)    Penjaminan mutu pendidikan menganut paradigma:
a.    pendidikan untuk semua yang bersifat inklusif dan tidak mendiskriminasi peserta didik atas dasar latar belakang apa pun;
b.    pembelajaran sepanjang hayat berpusat pada peserta didik yang memperlakukan, memfasilitasi, dan mendorong peserta didik menjadi insan pembelajar mandiri yang kreatif, inovatif, dan berkewirausahaan; dan
c.    pendidikan untuk perkembangan, pengembangan, dan/atau pembangunan berkelanjutan (education for sustainable development), yaitu pendidikan yang mampu mengembangkan peserta didik menjadi rahmat bagi sekalian alam.

(2)    Penjaminan mutu pendidikan dilakukan atas dasar prinsip:
a.    keberlanjutan;
b.    terencana dan sistematis, dengan kerangka waktu dan target-target capaian mutu yang jelas dan terukur dalam penjaminan mutu pendidikan formal dan nonformal;
c.    menghormati otonomi satuan pendidikan formal dan nonformal;
d.    memfasilitasi pembelajaran informal masyarakat berkelanjutan dengan regulasi negara  yang seminimal mungkin;
e.    SPMP merupakan sistem terbuka yang terus disempurnakan secara berkelanjutan.

Bagian Keempat
Cakupan Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 4

(1)    Tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan bangsa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) mengacu pada mutu kehidupan manusia dan bangsa Indonesia yang komprehensif dan seimbang yang mencakup sekurang-kurangnya:
a.    mutu keimanan, ketakwaan, akhlak, budi pekerti, dan kepribadian;
b.    kompetensi intelektual, estetik, psikomotorik, kinestetik, vokasional, serta kompetensi kemanusiaan lainnya sesuai dengan bakat, potensi, dan minat masing-masing;
c.    muatan dan tingkat kecanggihan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang mewarnai dan memfasilitasi kehidupan;
d.    kreativitas dan inovasi dalam menjalani kehidupan;
e.    tingkat kemandirian serta daya saing, dan
f.       kemampuan untuk menjamin keberlanjutan diri dan lingkungannya.
(2)    Penjaminan mutu pendidikan meliputi:
a.    penjaminan mutu pendidikan formal;
b.    penjaminan mutu pendidikan nonformal; dan
c.    penjaminan mutu pendidikan informal.

Bagian Kelima
Pembagian Peran dalam Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 5

Penjaminan mutu pendidikan formal dan nonformal dilaksanakan oleh satuan atau program pendidikan.

Pasal 6

(1)    Penyelenggara satuan atau program pendidikan wajib menyediakan sumber daya yang diperlukan untuk terlaksananya penjaminan mutu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5.
(2)    Penyelenggara satuan atau program pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a.    penyelenggara satuan atau program pendidikan masyarakat;
b.    pemerintah kabupaten atau kota;
c.    pemerintah provinsi;
d.    Pemerintah.
(3)    Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf d terdiri dari: Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan.

Pasal 7

(1)    Penyelenggara satuan atau program pendidikan mensupervisi,  mengawasi, dan dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada satuan atau program pendidikan dalam penjaminan mutu pendidikan.
(2)    Pemerintah kabupaten atau kota mensupervisi, mengawasi, mengevaluasi, dan dapat memberi bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada  satuan atau program pendidikan sesuai kewenangannya dalam penjaminan mutu pendidikan.
(3)    Pemerintah provinsi mensupervisi, mengawasi, mengevaluasi, dan dapat memberi bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada satuan atau program pendidikan sesuai kewenangannya dalam penjaminan mutu pendidikan.
(4)    Pemerintah mensupervisi, mengawasi, mengevaluasi, dan dapat memberi bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada satuan atau program pendidikan sesuai kewenangannya dalam penjaminan mutu pendidikan.

Pasal 8

(1)    Pemerintah kabupaten atau kota wajib mensupervisi, mengawasi, dan mengevaluasi, serta dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada penyelenggara satuan pendidikan sesuai kewenangannya berkaitan dengan penjaminan mutu satuan pendidikan.
(2)    Pemerintah provinsi wajib mensupervisi, mengawasi, dan mengevaluasi, serta dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada pemerintah kabupaten atau kota dan/atau penyelenggara satuan pendidikan sesuai kewenangannya berkaitan dengan penjaminan mutu satuan pendidikan.

(3)    Pemerintah wajib mensupervisi, mengawasi, dan mengevaluasi, serta dapat memberi fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan kepada pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten atau kota, dan/atau penyelenggara satuan pendidikan sesuai kewenangannya berkaitan dengan penjaminan mutu satuan pendidikan.

BAB II
PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN INFORMAL

Pasal 9

(1)    Penjaminan mutu pendidikan informal dilaksanakan oleh masyarakat baik secara perseorangan, kelompok, maupun kelembagaan.
(2)    Penjaminan mutu pendidikan informal oleh masyarakat dapat dibantu dan/atau diberi kemudahan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.
(3)    Bantuan dan/atau kemudahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat berbentuk:
a.    pendirian perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
b.    penyediaan bahan pustaka pada Perpustakaan Nasional, perpustakaan daerah provinsi, perpustakaan daerah kabupaten atau kota, perpustakaan kecamatan, perpustakaan desa, dan/atau taman bacaan masyarakat (TBM);
c.    pemberian bantuan dan/atau kemudahan pendirian dan/atau pengoperasian perpustakaan milik masyarakat seperti perpustakaan di tempat ibadah;
d.    pemberian kemudahan akses ke sumber belajar multi media di perpustakaan bukan satuan pendidikan formal dan nonformal.
e.    pemberian bantuan dan/atau kemudahan pendirian dan/atau pengoperasian toko buku kategori usaha kecil milik masyarakat di daerah yang belum memiliki toko buku atau jumlah toko bukunya belum mencukupi kebutuhan;
f.    kebijakan perbukuan nonteks yang mendorong harga buku nonteks terjangkau oleh rakyat banyak;
g.    pemberian subsidi atau penghargaan kepada penulis buku nonteks dan nonjurnal-ilmiah yang berprestasi dalam pendidikan informal;
h.    pemberian penghargaan kepada media masa yang berprestasi dalam menyiarkan atau mempublikasikan materi pembelajaran informal kepada masyarakat;
i.    pemberian penghargaan kepada anggota masyarakat yang berprestasi atau kreatif dalam menghasilkan film hiburan yang sarat pembelajaran informal;
j.    pemberian penghargaan kepada tokoh masyarakat yang berprestasi atau kreatif dalam pembelajaran informal masyarakat ;
k.    pemberian penghargaan kepada anggota masyarakat yang sukses melakukan pembelajaran informal secara otodidaktif;

l.    pemberian layanan ujian kesetaraan sesuai peraturan perundang-undangan; serta
m.    kegiatan lain yang membantu dan/atau mempermudah pembelajaran informal oleh masyarakat.

BAB III
PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN FORMAL DAN NONFORMAL

Bagian Kesatu
Acuan Mutu Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 10

(1)    Penjaminan mutu pendidikan oleh satuan atau program pendidikan ditujukan untuk memenuhi tiga tingkatan acuan mutu, yaitu:
a.    SPM;
b.    SNP; dan
c.    Standar mutu pendidikan di atas SNP.
(2)    Standar mutu pendidikan di atas SNP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa:
a.    Standar mutu di atas SNP yang berbasis keunggulan lokal
b.    Standar mutu di atas SNP yang mengadopsi dan/atau mengadaptasi standar internasional tertentu.

Pasal 11

(1)    SPM berlaku untuk:
a.    satuan atau program pendidikan;
b.    penyelenggara satuan atau program pendidikan;
c.    pemerintah kabupaten atau kota; dan
d.    pemerintah provinsi.
(2)    SNP berlaku bagi satuan atau program pendidikan.
(3)    Standar mutu di atas SNP berlaku bagi satuan atau program pendidikan yang telah memenuhi SPM dan SNP.
(4)    Standar mutu di atas SNP yang berbasis keunggulan lokal dapat dirintis pemenuhannya oleh satuan pendidikan yang telah memenuhi SPM dan sedang dalam proses memenuhi SNP.

Pasal 12

(1)    SPM ditetapkan oleh Menteri.
(2)    SNP ditetapkan oleh Menteri.
(3)    Standar mutu di atas SNP dipilih oleh satuan atau program pendidikan sesuai prinsip otonomi satuan pendidikan.

Pasal 13

(1)    SNP bagi satuan atau program pendidikan nonformal dirumuskan sedemikian rupa sehingga tidak menghilangkan atau mengurangi keluwesan dan kelenturan pendidikan nonformal dalam melayani pembelajaran peserta didik sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan problematika yang dihadapi masing-masing peserta didik.
(2)    Acuan mutu satuan atau program pendidikan formal adalah:
a.    SPM;
b.    SNP; dan
c.    Standar mutu di atas SNP yang dipilih satuan atau program pendidikan formal.
(3)    Acuan mutu satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya ditujukan untuk mendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal adalah:
a.    SPM;
b.    Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Kompetensi Lulusan dalam SNP yang berlaku bagi satuan atau program pendidikan formal yang sederajat; dan
c.    Standar mutu di atas SNP sebagaimana dimaksud pada huruf b.
(4)    Acuan mutu satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya tidak ditujukan untuk mendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal adalah:
a.    SPM;
b.    SNP yang berlaku bagi satuan atau program studi pendidikan nonformal masing-masing; dan
c.    Standar mutu di atas SNP sebagaimana dimaksud pada huruf b.

Bagian Kedua
Kerangka Waktu Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 14

(1)    SPM harus dipenuhi oleh penyelenggara satuan pendidikan dalam rangka memperoleh izin definitif pendirian satuan pendidikan atau pembukaan program pendidikan.
(2)    SPM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipenuhi oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan paling lambat 2 (dua) tahun setelah satuan atau program pendidikan memperoleh izin prinsip untuk berdiri dan beroperasi.

Pasal 15

(1)    SPM yang berlaku bagi penyelenggara satuan pendidikan dipenuhi oleh penyelenggara satuan pendidikan dalam waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak ditetapkannya SPM yang bersangkutan.
(2)    SPM yang berlaku bagi pemerintah kabupaten atau kota dipenuhi oleh  pemerintah kabupaten atau kota dalam waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak ditetapkannya SPM yang bersangkutan.

(3)    SPM yang berlaku bagi pemerintah provinsi dipenuhi oleh pemerintah provinsi dalam waktu paling lama 5 (lima) tahun sejak ditetapkannya SPM yang bersangkutan.

Pasal 16

(1)    SNP dipenuhi oleh satuan atau program pendidikan dan penyelenggara satuan atau program pendidikan secara sistematis dan bertahap dalam kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan.
(2)    Standar mutu di atas SNP dipenuhi oleh satuan atau program pendidikan dan penyelenggara satuan atau program pendidikan secara sistematis dan bertahap dalam kerangka waktu yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan.
(3)    Rencana Strategis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) menetapkan target-target terukur capaian mutu secara tahunan.

Bagian Ketiga
Tanggung Jawab dan Koordinasi Pemenuhan Standar Mutu Pendidikan

Pasal 17

Pemenuhan SPM menjadi tanggung jawab:
a.    satuan atau program pendidikan formal atau nonformal;
b.    penyelenggara satuan atau program pendidikan formal atau nonformal;
c.    pemerintah kabupaten atau kota; dan
d.    pemerintah provinsi.

Pasal 18

(1)    Pemenuhan Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan, Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan, dan Standar Penilaian Pendidikan,  masing-masing dalam SNP dan standar mutu di atas SNP, menjadi tanggung jawab satuan pendidikan formal.
(2)    Pemenuhan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Kompetensi Lulusan dalam SNP dan standar mutu di atas SNP menjadi tanggung jawab satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya ditujukan untuk mendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal.
(3)    Pemenuhan SNP dan standar mutu di atas SNP menjadi tanggung jawab satuan atau program pendidikan nonformal yang lulusannya tidak ditujukan untuk mendapatkan kesetaraan dengan pendidikan formal.
(4)    Penyediaan sumber daya untuk pemenuhan Standar sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3), menjadi tanggung jawab penyelenggara satuan atau program pendidikan.

Pasal 19

(1)    Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan secara nasional dituangkan dalam Rencana Strategis Pendidikan Nasional yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan.
(2)    Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan pada tingkat provinsi dituangkan dalam rencana strategis pendidikan provinsi yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.
(3)    Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan pada tingkat kabupaten atau kota dituangkan dalam rencana strategis pendidikan kabupaten atau kota yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan Provinsi dan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.
(4)    Program koordinasi penjaminan mutu pendidikan pada tingkat penyelenggara satuan atau program pendidikan dituangkan dalam rencana strategis penyelenggara satuan atau program pendidikan yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan Kabupaten atau Kota yang bersangkutan, Rencana Strategis Pendidikan Provinsi yang bersangkutan , dan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.
(5)    Program penjaminan mutu pendidikan oleh satuan atau program pendidikan dituangkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan yang menetapkan target-target terukur capaian mutu pendidikan secara tahunan dan sejalan dengan Rencana Strategis Pendidikan Penyelenggara satuan atau program pendidikan yang bersangkutan, Rencana Strategis Pendidikan Kabupaten atau Kota yang bersangkutan, Rencana Strategis Pendidikan Provinsi yang bersangkutan, dan Rencana Strategis Pendidikan Nasional.

Bagian Keempat
Jenis Kegiatan Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 20

(1)    Kegiatan penjaminan mutu pendidikan formal dan nonformal terdiri atas:
a.    penetapan regulasi penjaminan mutu pendidikan oleh Pemerintah,  pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota berdasarkan peraturan perundang-undangan;
b.    penetapan SPM;
c.    penetapan SNP;
d.    penetapan prosedur operasional standar (POS) penjaminan mutu pendidikan oleh penyelenggara satuan pendidikan atau penyelenggara program pendidikan;

e.    penetapan prosedur operasional standar (POS) penjaminan mutu tingkat satuan pendidikan oleh satuan atau program pendidikan;
f.    pemenuhan standar mutu acuan oleh satuan atau program pendidikan;
g.    penyusunan kurikulum oleh satuan pendidikan sesuai dengan acuan mutu;
h.    penyediaan sumber daya oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan;
i.    pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh Pemerintah;
j.    pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi;
k.    pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota;
l.    pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan;
m.    pemberian bantuan dan/atau saran oleh masyarakat;
n.    supervisi dan/atau pengawasan oleh Pemerintah;
o.    supervisi dan/atau pengawasan oleh pemerintah provinsi;
p.    supervisi dan/atau pengawasan oleh pemerintah kabupaten atau kota;
q.    supervisi dan/atau pengawasan oleh penyelenggara satuan atau program pendidikan;
r.    pengawasan oleh masyarakat ;
s.    pengukuran ketercapaian standar mutu acuan; dan
t.    evaluasi dan pemetaan mutu satuan atau program pendidikan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota.
(2)    Pengukuran ketercapaian standar mutu acuan dilakukan melalui:
a.    audit kinerja;
b.    akreditasi;
c.    sertifikasi; atau
d.    bentuk lain pengukuran capaian mutu pendidikan.

Bagian Kelima
Tanggung Jawab Menteri Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 21

(1)    Menteri menetapkan regulasi nasional penjaminan mutu pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan;
(2)    Menteri menetapkan SPM yang berlaku bagi satuan atau program pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, dan pemerintah provinsi;
(3)    Menteri menetapkan SNP yang berlaku bagi satuan atau program pendidikan.
(4)    Menteri menetapkan program koordinasi penjaminan mutu pendidikan secara nasional dalam Rencana Strategis Pendidikan Nasional.

(5)    Menteri melakukan evaluasi pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan secara nasional dan dampaknya pada peningkatan kecerdasan kehidupan bangsa.

Pasal 22

(1)    Menteri memetakan secara nasional pemenuhan SPM oleh satuan pendidikan, penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, dan pemerintah provinsi melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen.
(2)    Dalam pemetaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menyangkut satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen bekerjasama dengan LPMP, P2PNFI, BPPNFI, Departemen Agama, dan Kementerian/Lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan.

Pasal 23

(1)    Menteri memetakan secara nasional pemenuhan SNP oleh satuan atau program pendidikan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen.
(2)    Dalam pemetaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang menyangkut satuan pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen bekerjasama dengan LPMP, P2PNFI, BPPNFI, dan Departemen Agama, dan Kementerian/Lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan.

Pasal 24

(1)    Menteri menyelenggarakan Ujian Nasional pendidikan dasar dan pendidikan menengah melalui BSNP sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk mengukur ketercapaian Standar Kompetensi Lulusan pendidikan formal dan nonformal kesetaraan.
(2)    Menteri melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen, memetakan capaian nilai Ujian Nasional dan tingkat kejujuran pelaksanaan ujian nasional menurut:
a.    satuan pendidikan;
b.    kabupaten atau kota;
c.    provinsi; dan
d.    nasional.

Pasal 25

(1)    Menteri mengakreditasi satuan atau program pendidikan melalui BAN-S/M, BAN-PT, dan BAN-PNF.
(2)    Atas dasar akreditasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan peta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22, Pasal 23, dan Pasal 24, Menteri melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen memetakan secara nasional dan komprehensif mutu satuan atau program pendidikan formal dan nonformal menurut:
a.    satuan atau program pendidikan;
b.    kabupaten atau kota; dan
c.    provinsi;
(3)    Peta sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikembangkan sedemikian rupa sehingga merefleksikan:
a.    capaian mutu pendidikan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4; dan
b.    kualitas pelaksanaan pendidikan untuk perkembangan, pengembangan, dan/atau pembangunan berkelanjutan.

Bagian Keenam
Tanggung Jawab Departemen, Departemen Agama, dan
Kementerian/Lembaga Pemerintah Lainnya
Penyelenggara Satuan Pendidikan Formal Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 26

(1)    Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan menetapkan regulasi teknis penjaminan mutu pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan kewenangan masing-masing.
(2)    Keterlibatan Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan dalam penjaminan mutu satuan pendidikan menjunjung tinggi prinsip otonomi satuan pendidikan.

Pasal 27

(1)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, dan pemberian fasilitasi, saran, arahan, bimbingan, dan/atau bantuan oleh Departemen kepada satuan atau program pendidikan dilaksanakan oleh unit kerja terkait sesuai peraturan perundang-undangan.
(2)    Inspektorat Jenderal Departemen melakukan audit kinerja terhadap:
a.    Kantor Pusat Unit Utama Departemen;
b.    LPMP;
c.    P2PNFI;
d.    BPPNFI;

e.    BSNP;
f.    BAN-PT;
g.    BAN-S/M; dan
h.    BAN-PNF,
terkait keterlibatan masing-masing dalam penjaminan mutu pendidikan.
(3)    Departemen mengembangkan sistem informasi nasional mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:
a.    satuan atau program pendidikan;
b.    pemerintah kabupaten atau kota;
c.    pemerintah provinsi;
d.    Departemen Agama; dan
e.    kementerian/lembaga pemerintah lain penyelenggara satuan pendidikan.
(4)    Untuk menjamin interoperabilitas sistem informasi, Menteri menetapkan standar sistem informasi mutu pendidikan yang mengikat semua satuan atau program pendidikan,  penyelenggara satuan atau program pendidikan, pemerintah kabupaten atau kota, pemerintah provinsi, Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lain penyelenggara satuan pendidikan.

Pasal 28

(1)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh Departemen Agama kepada satuan atau program pendidikan dilaksanakan oleh unit kerja terkait sesuai peraturan perundang-undangan.
(2)    Inspektorat Jenderal Departemen Agama melakukan audit kinerja terhadap :
a.    unit kerja di Departemen Agama yang terkait dengan penjaminan mutu pendidikan;
b.    kantor wilayah Departemen Agama; dan
c.    kantor Departemen Agama Kabupaten atau Kota.
terkait keterlibatan masing-masing dalam penjaminan mutu pendidikan.
(3)    Departemen Agama mengembangkan sistem informasi nasional mutu pendidikan formal dan nonformal agama dan keagamaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:
a.    satuan atau program pendidikan; dan
b.    Departemen.
(4)    Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).

Pasal 29

(1)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh kementerian/lembaga lain penyelenggara satuan pendidikan kepada satuan atau program pendidikan dilaksanakan sesuai peraturan perundang-undangan.
(2)    Inspektorat Jenderal atau Inspektorat Utama kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan melakukan audit kinerja terhadap  unit kerjanya yang terlibat dalam penjaminan mutu pendidikan.
(3)    Kementerian/lembaga lain penyelenggara satuan pendidikan formal mengembangkan sistem informasi mutu satuan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:
a.    satuan pendidikan; dan
b.    Departemen.
(4)    Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).

Pasal 30

Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan menyediakan biaya akreditasi satuan atau program pendidikan formal atau nonformal sesuai kewenangannya masing-masing.

Pasal 31

Departemen, Departemen Agama, dan kementerian/lembaga pemerintah lainnya penyelenggara satuan pendidikan berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.

Bagian Ketujuh
Tanggung Jawab Pemerintah Provinsi Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 32

(1)    Pemerintah provinsi menetapkan regulasi penjaminan mutu pendidikan sesuai dengan kewenangannya dan peraturan perundang-undangan.
(2)    Keterlibatan pemerintah provinsi dalam penjaminan mutu satuan atau program pendidikan menjunjung tinggi prinsip otonomi satuan pendidikan.

Pasal 33

(1)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi kepada satuan atau program pendidikan formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dilakukan bekerjasama dan berkoordinasi dengan LPMP.
(2)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi kepada satuan atau program pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dilakukan bekerjasama dan berkoordinasi dengan P2PNFI atau BPPNFI.
(3)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah provinsi kepada satuan atau program pendidikan memperhatikan pertimbangan dari dewan pendidikan provinsi, BAN-S/M, dan/atau BAN-PNF.
(4)    Inspektorat provinsi melakukan audit kinerja terhadap unit pelaksana teknis daerah yang terlibat dalam penjaminan mutu pendidikan.
(5)    Pemerintah provinsi melalui BAP membantu BAN-S/M dalam pelaksanakan akreditasi satuan pendidikan formal di provinsi yang bersangkutan.
(6)    Pemerintah provinsi membantu BSNP dalam pelaksanakan Ujian Nasional di wilayahnya dengan penuh kejujuran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(7)    Pemerintah provinsi mengembangkan sistem informasi mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring  yang menghubungkan:
a.    satuan atau program pendidikan;
b.    pemerintah kabupaten atau kota; dan
c.    Departemen.
(8)    Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat  (7) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).
(9)    Dalam pengembangan sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (7) pemerintah provinsi dapat bekerjasama dengan LPMP dan P2PNFI, atau BPPNFI.

Pasal 34

Pemerintah provinsi berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.

Bagian Kedelapan
Tanggung Jawab Pemerintah Kabupaten atau Kota
Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 35

(1)    Pemerintah kabupaten atau kota menetapkan regulasi penjaminan mutu pendidikan sesuai dengan kewenangannya dan peraturan perundang-undangan.
(2)    Keterlibatan pemerintah kabupaten atau kota dalam penjaminan mutu satuan atau program pendidikan menjunjung tinggi prinsip otonomi satuan pendidikan

Pasal 36

(1)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota kepada satuan atau program pendidikan formal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dilakukan dengan mengikuti arahan dan binaan pemerintah provinsi dan LPMP.
(2)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota kepada satuan atau program pendidikan nonformal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) dilakukan dengan mengikuti arahan dan binaan pemerintah provinsi dan P2PNFI atau BPPNFI.
(3)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh pemerintah kabupaten atau kota kepada satuan atau program pendidikan memperhatikan pertimbangan dari dewan pendidikan kabupaten atau kota.
(4)    Inspektorat kabupaten atau kota melakukan audit kinerja terhadap unit pelaksana teknis daerah yang terlibat dalam penjaminan mutu pendidikan.
(5)    Pemerintah kabupaten atau kota membantu BSNP dalam pelaksanakan Ujian Nasional di wilayahnya dengan penuh kejujuran sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(6)    Pemerintah kabupaten atau kota mengembangkan sistem informasi mutu pendidikan formal dan nonformal berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:
a.    satuan atau program pendidikan;
b.    pemerintah provinsi; dan
c.    Departemen.
(7)    Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).

(8)    Dalam pengembangan sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (6) pemerintah kabupaten atau kota dapat bekerjasama dengan LPMP dan P2PNFI atau BPPNFI.

Pasal 37

Pemerintah kabupaten atau kota berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.

Bagian Kesembilan
Tanggung Jawab Penyelenggara Satuan Pendidikan atau Program Pendidikan Dalam Penjaminan Mutu Pendidikan

Pasal 38

(1)    Supervisi, pengawasan, evaluasi, serta pemberian bantuan, fasilitasi, saran, arahan, dan/atau bimbingan oleh penyelenggara satuan pendidikan kepada satuan pendidikan menjunjung tinggi prinsip otonomi satuan pendidikan.
(2)    Penyelenggara satuan atau program pendidikan menetapkan prosedur operasional standar (POS) untuk memenuhi Standar Sarana dan Prasarana,  Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Pembiayaan yang ditetapkan Menteri dalam SNP.
(3)    Penyelenggara satuan atau program pendidikan yang telah memenuhi SPM dan SNP menetapkan prosedur operasional standar (POS) untuk memenuhi Standar Sarana dan Prasarana,  Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Pembiayaan di atas SNP yang dipilih oleh satuan atau program pendidikan yang diselenggarakannya.

Pasal 39

Penyelenggara satuan atau program pendidikan formal menyediakan sumberdaya yang diperlukan satuan pendidikan yang diselenggarakannya untuk memenuhi Standar Sarana dan Prasarana,  Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, dan Standar Pembiayaan.

Bagian Kesepuluh
Penjaminan Mutu Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan atau Program Pendidikan

Pasal 40

(1)    Penjaminan mutu oleh satuan atau program pendidikan menjadi tanggung jawab satuan atau program pendidikan dan wajib didukung oleh seluruh pemangku kepentingan satuan atau program pendidikan.
(2)    Penjaminan mutu oleh satuan atau program pendidikan dipimpin oleh pemimpin satuan atau program pendidikan.

(3)    Komite sekolah/madrasah memberi bantuan sumberdaya, pertimbangan, arahan, dan mengawasi sesuai kewenangannya terhadap penjaminan mutu oleh satuan pendidikan.
(4)    Penjaminan mutu oleh satuan pendidikan dilaksanakan sesuai prinsip otonomi satuan pendidikan untuk mendorong tumbuhnya budaya kreativitas, inovasi, kemandirian, kewirausahaan, dan akuntabilitas.
(5)    Penjaminan mutu oleh satuan pendidikan tinggi dilaksanakan sesuai prinsip otonomi keilmuan.
(6)    Satuan atau program pendidikan menetapkan prosedur operasional standar (POS) penjaminan mutu satuan atau program pendidikan.

Pasal 41

Penjaminan mutu oleh satuan atau program pendidikan ditujukan untuk:
a.    memenuhi SPM dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak ditetapkannya izin prinsip pendirian/pembukaan dan operasi satuan atau program pendidikan;
b.    secara bertahap dalam kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan atau program pendidikan memenuhi SNP;
c.    secara bertahap satuan atau program pendidikan yang telah memenuhi SPM dan SNP dalam kerangka jangka menengah yang ditetapkan dalam rencana strategis satuan pendidikan memenuhi standar mutu di atas SNP yang dipilihnya.

Pasal 42

Semua satuan atau program pendidikan wajib melayani audit kinerja penjaminan mutu yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten atau kota sesuai kewenangannya.

Pasal 43

Semua satuan atau program pendidikan wajib mengikuti akreditasi yang diselenggarakan oleh BAN-S/M, BAN-PT, atau BAN-PNF sesuai kewenangan masing-masing.

Pasal 44

Satuan atau program pendidikan dapat mengikuti sertifikasi mutu pendidikan untuk:
a.    lembaganya;
b.    pendidik atau tenaga kependidikannya; dan/atau
c.    peserta didiknya.

Pasal 45

(1)    Satuan atau program pendidikan mengembangkan sistem informasi mutu pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang andal, terpadu, dan dalam jejaring yang menghubungkan:
a.    penyelenggara satuan pendidikan;
b.    pemerintah kabupaten atau kota yang bersangkutan;
c.    pemerintah provinsi yang bersangkutan;
d.    Departemen Agama, bagi satuan atau program pendidikan agama dan keagamaan;
e.    kementerian/lembaga lain penyelenggara satuan atau program pendidikan; dan
f.    Departemen.
(2)    Sistem informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kompatibel dan memiliki interoperabilitas dengan sistem informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dan ayat (4).

Pasal 46

Satuan atau program pendidikan berkewajiban mendukung sepenuhnya pemetaan mutu satuan atau program pendidikan yang dilakukan oleh Menteri.

BAB IV
SANKSI

Pasal 47

(1)    Pimpinan satuan atau program pendidikan yang melanggar peraturan ini disanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2)    Pejabat atau fungsionaris penyelenggara satuan atau program pendidikan yang melanggar peraturan ini disanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

BAB V
KETENTUAN PENUTUP

Pasal  48

Semua peraturan yang terkait dengan penjaminan mutu pendidikan dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Menteri ini.

Pasal  49

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 25 September 2009

MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

TTD.

BAMBANG SUDIBYO

Salinan sesuai dengan aslinya.
Kepala Biro Hukum dan Organisasi
Departemen Pendidikan Nasional,

Dr. A. Pangerang Moenta, S.H.,M.H.,DFM.
NIP. 196108281987031003

AGREGASI LAPORAN MSPD

KECAMATAN … KABUPATEN GRESIK

SEKOLAH

TAHUN 2011

NO

NAMA SEKOLAH

 

NO

NAMA SEKOLAH

1

11

2

12

3

13

 

4

14

 

5

15

 

6

16

 

7

17

 

8

18

 

9

19

 

10

20

 

1

  1. 1.      STANDAR ISI

Komponen

Indikator

1.1.       Kurikulum sudah sesuai dan relevan 1.1.1.  Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan menggunakan   panduan yang disusun BSNP.

1.1.2.  Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat, kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran.

1.1.3.  Kurikulum telah menunjukan adanya alokasi waktu, rencana program remedial, dan pengayaan bagi siswa.

1.2.   Sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik 1.2.1.  Sekolah menyediakan layanan bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

1.2.2.  Sekolah menyediakan kegiatan ekstra kurikuler untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

2

1. STANDAR ISI
1.1. Kurikulum sudah sesuai dan relevan
1.1.1. Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan menggunakan panduan yang disusun BSNP.

Kekuatan :

  1. Sekolah memiliki Tim Pengembang Kurikulum. ()
  2. Semua anggota Tim Pengembang Kurikulum terlibat dalam penyusunan kurikulum.()
  3. Kurikulum sekolah kami memuat 5 kelompok mata pelajaran.()
  4. Sekolah  mengembangkan kurikulum berdasarkan 7 prinsip pengembangan kurikululum.()
  5. Sekolah melaksanakan kurikulum berdasarkan 7 prinsip pelaksanaan kurikulum.()
  6. Kurikulum sekolah  disusun setiap tahun.()
  7. Kurikulum sekolah disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. ()
 

 

 

 

 

 

 

 

Kelemahan :

  1. Sekolah belum memiliki Tim Pengembang Kurikulum. ()
  2. Semua anggota Tim Pengembang Kurikulum terlibat dalam penyusunan kurikulum.()
  3. Kurikulum sekolah kami belum memuat 5 kelompok mata pelajaran.()
  4. Sekolah  mengembangkan kurikulum belum berdasarkan 7 prinsip pengembangan kurikululum.()
  5. Sekolah melaksanakan kurikulum nelum berdasarkan 7 prinsip pelaksanaan kurikulum.()
  6. Kurikulum sekolah  belum disusun minimal setiap tahun.()
  7. Kurikulum sekolah belum disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. ()
 

 

 

 

 

 

 

 

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu membentuk Tim Pengembang Kurikulum. ( )
  2. Sekolah perlu melibatkan semua anggota Tim Pengembang Kurikulum dalam penyusunan kurikulum. ( )
  3. Sekolah  perlu menyempurnaan Kurikulum memuat 5 kelompok mata pelajaran.( )
  4. Sekolah perlu menggunakan 7 prinsip pengembangan kurikulum dalam menyusun kurikulum.( )
  5. Sekolah perlu melaksanakan kurikulum dengan berpedoman 7 prinsip pelaksanaan kurikulum.( )
  6. Sekolah perlu mereviu Kurikulum setiap tahun. ( )
  7. Sekolah perlu mensosialisasikan Kurikulum setiap tahun pada masyarakat ( )

1.1. Kurikulum sudah sesuai dan relevan

1.1.2. Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat, kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran.

Kekuatan :

  1. Kurikulum sekolah memuat matapelajaran Muatan Lokal. ()
  2. Materi muatan lokal sesuai dengan  kebutuhan daerah, kebbutuhan peserta didik,  dan kebutuhan pembelajaran. ()

Kelemahan :

  1. Kurikulum sekolah belum memuat matapelajaran Muatan Lokal. ()
  2. Materi muatan lokal belum sesuai dengan  kebutuhan daerah, kebbutuhan peserta didik,  dan kebutuhan pembelajaran. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu melengkapi kurikulum dengan matapelajaran Muatan Lokal. ()
  2. Sekolah perlu menyesuaikan materi muatan lokal dengan  kebutuhan daerah, kebbutuhan peserta didik,  dan kebutuhan pembelajaran. ()

1.1. Kurikulum sudah sesuai dan relevan
1.1.3. Kurikulum telah menunjukan adanya alokasi waktu, rencana program remedial, dan pengayaan bagi siswa.

Kekuatan :

  1. Kurikulum  memuat mata pelajaran inti, muatan lokal, dan pengembangan diri.()
  2. Pembelajaran untuk kelas 1, 2, dan 3 melalui pendekatan tematik.()
  3. Pembelajaran untuk kelas 4, 5, dan 6 melalui pendekatan guru kelas.()
  4. Jumlah minggu efektif dalam 1 tahun memenuhi standar()
  5. Alokasi waktu tiap jam pembelajaran sesuai standar()
  6. Jumlah jam pembelajaran perminggu sesuai standar.()
  7. Jumlah jampelajaran  dalam 1 tahun sesuai standar()

Kelemahan :

  1. Kurikulum  belum memuat mata pelajaran inti, muatan lokal, dan pengembangan diri.()
  2. Pembelajaran untuk kelas 1, 2, dan 3 tidak melalui pendekatan tematik.()
  3. Pembelajaran untuk kelas 4, 5, dan 6 tidak melalui pendekatan guru kelas.()
  4. Jumlah minggu efektif dalam 1 tahun delum memenuhi standar()
  5. Alokasi waktu tiap jam pembelajaran belum sesuai standar()
  6. Jumlah jam pembelajaran perminggu belum sesuai standar.()
  7. Jumlah jam pelajaran dalam 1 tahun belum  sesuai standar()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu melengkapi kurikulum  agar memuat mata pelajaran inti, muatan lokal, dan pengembangan diri.()
  2. (KHusus SD/MI) Pembelajaran untuk kelas 1, 2, dan 3 perlu dilakukan melalui pendekatan tematik.()
  3. (Khusus SD/MI) Pembelajaran untuk kelas 4, 5, dan 6 perlu dilakukan melalui pendekatan guru kelas.()
  4. Sekolah perlu menyesuaikan Jumlah minggu efektif dalam 1 tahun.()
  5. Sekolah perlu menyesuaikan alokasi waktu tiap jam pembelajaran.()
  6. Sekolah perlu menyesuaikan jumlah jam pembelajaran perminggu.()
  7. Sekolah perlu menyesuaikan jumlah jam pembelajaran dalam 1 tahun.()

1.2. Sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik
1.2.1. Sekolah menyediakan layanan bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun program layanan konseling bagi peserta didik.()
  2. Sekolah memberikan layanan konseling kepada semua peserta didik.()
  3. Sekolah menindak lanjuti hasil bimbingan dan konseling.()

Kelemahan :

  1. Sekolah belum menyusun program layanan konseling bagi peserta didik.()
  2. Sekolah memberikan layanan konseling belum kepada semua peserta didik.()
  3. Sekolah belum menindak lanjuti hasil bimbingan dan konseling.()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program layanan konseling bagi peserta didik.()
  2. Sekolah perlu memberikan layanan konseling  kepada semua peserta didik.()
  3. Sekolah perlu menindak lanjuti hasil bimbingan dan konseling.()

1.2. Sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik
1.2.2. Sekolah menyediakan kegiatan ekstra kurikuler untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun program kegiatan ekstra kurikuler.()
  2. Sekolah mengadakan kegiatan ekstra kurikuler.()
  3. Sekolah mengadakan kegiatan ekstra kurikuler didasarkan pada bakat dan minat peserta didik.()
  4. Sekolah membuat penilaian kegiatan ekstra kurikuler.()
  5. Sekolah membuat laporan kegiatan ekstra kurikuler.()

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak menyusun program kegiatan ekstra kurikuler.()
  2. Sekolah tidak mengadakan kegiatan ekstra kurikuler.()
  3. Sekolah mengadakan kegiatan ekstra kurikuler tidak didasarkan pada bakat dan minat peserta didik.()
  4. Sekolah tidak membuat penilaian kegiatan ekstra kurikuler.()
  5. Sekolah tidak membuat laporan kegiatan ekstra kurikuler.()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program kegiatan ekstra kurikuler. ()
  2. Sekolah perlu menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler.didasarkan pada bakat dan minat peserta didik. ()
  3. Sekolah perlu membuat penilaian kegiatan ekstra kurikuler. ()
  4. Sekolah perlu  membuat laporan kegiatan ekstra kurikuler. ()

2.STANDAR PROSES

Komponen

Indikator

2.1.  Silabus sudah sesuai/relevan dengan standar 2.1.1.  Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan KTSP.

2.1.2.  Pengembangan Silabus dilakukan guru secara mandiri atau berkelompok.

2.2.  RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik 2.2.1.  Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.

2.2.2.  RPP memperhatikan perbedaan gender, kemampuan awal, tahap intelektual, minat, bakat, motivasi belajar, potensi, kemampuan sosial, emosional, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai-nilai, dan lingkungan peserta didik.

2.3.  Sumber belajar dapat diperoleh dengan mudah dan digunakan secara tepat 2.3.1.  Siswa dapat mengakses buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran dengan mudah.

2.3.2. Guru menggunakan buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran secara tepat dalam pembelajaran untuk membantu dan memotivasi peserta didik.

2.4.  Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi peserta didik 2.4.1.  Para guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang rencana pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang mencakup kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.

2.4.2.  Para peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk melakukan ekplorasi dan elaborasi, serta mendapatkan konfirmasi.

2.5.  Supervisi dan Evaluasi Proses Pembelajaran dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan 2.5.1. Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan pada setiap tahap meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

2.5.2. Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan secara berkala dan berkelanjutan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas.

8

2. STANDAR PROSES
2.1. Silabus sudah sesuai/relevan dengan standar
2.1.1. Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan KTSP.

Kekuatan :

  1. Silabus di sekolah  sesuai dengan Strandar Isi.( )
  2. Silabus di sekolah kami sesuai dengan Strandar Kompetensi Lulusan.( )
  3. Silabus di sekolah kami sesuai dengan Panduan Kurikulum.( )
  4. Silabus di sekolah kami memuat semua komponen silabus.( )
  5. Silabus di sekolah kami dikembangkan untuk setiap matapelajaran termasuk muatan lokal.( )

Kelemahan :

  1. Silabus di sekolah kami tidak sesuai dengan Strandar Isi.(3,10 )
  2. Silabus di sekolah kami tidak sesuai dengan Strandar Kompetensi Lulusan.( )
  3. Silabus di sekolah kami tidak sesuai dengan Panduan Kurikulum.( )
  4. Silabus di sekolah tidak kami memuat semua komponen silabus.( )
  5. Silabus di sekolah kami dikembangkan belum untuk setiap matapelajaran termasuk muatan lokal.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyesuaikan silabus dengan Strandar Isi ( )
  2. Sekolah perlu menyesuaikan silabus dengan Standar Kompetensi Lulusan.( )
  3. Sekolah perlu menyesuaikan silabus dengan Panduan Kurikulum ( )
  4. Silabus agar disusun  memuat semua komponen silabus.( )
  5. Silabus agar disusun  dan dikembangkan untuk setiap matapelajaran termasuk muatan lokal ( )

2.1. Silabus sudah sesuai/relevan dengan standar
2.1.2. Pengembangan Silabus dilakukan guru secara mandiri atau berkelompok.

Kekuatan :

  1. Semua guru menyusun silabus secara mandiri. ()
  2. Semua guru memiliki silabus untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Semua guru mereviu silabus setiap tahun.( )

Kelemahan :

  1. Belum semua guru mengembangkan/memiliki silabus untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  2. Belum semua guru mereviu silabus setiap tahun.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memfasilitasi  guru dalam mengembangkan/menyusun silabus secara mandir( )
  2. Sekolah perlu memfasilitasi guru agar semua guru memiliki silabus sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. ()
  3. Sekolah perlu memfasilitasi  guru mereviu silabus setiap tahun. ( )

2.2. RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik
2.2.1. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.

Kekuatan :

  1. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sesuai silabus.( )
  2. Semua guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun guru sesuai dengan prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.( )
  4. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun untuk maksmal 2 kali pertemuan.
  5. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran direviu setiap tahun.( )

Kelemahan :

  1. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sesuai silabus.( )
  2. Belum semua guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun guru sesuai dengan prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.( )
  4. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun untuk maksmal 2 kali pertemuan.
  5. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran direviu setiap tahun.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyesuaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan silabus.( )
  2. Sekolah perlu memfasilitasi  guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Sekolah perlu menyesuaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran( )
  4. Sekolah perlu memfasilitasi  guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran maksimal untuk 2 kali pertemuan.( )
  5. Sekolah perlu memfasilitasi  guru mereviu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran setiap tahun.( )

2.2. RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik
2.2.2. RPP memperhatikan perbedaan gender, kemampuan awal, tahap intelektual, minat, bakat, motivasi belajar, potensi, kemampuan sosial, emosional, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai-nilai, dan lingkungan peserta didik.

Kekuatan :

1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mengakomodasi perbedaan-perbedaan peserta didik.( )

Kelemahan :

1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tidak mengakomodasi perbedaan-perbedaan peserta didik.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memfasilitasi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan peserta didik.

( )

2.3. Sumber belajar dapat diperoleh dengan mudah dan digunakan secara tepat
2.3.1. . Siswa dapat mengakses buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran  dengan mudah.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya yang cukup dipergunakan selama pelajaran berlangsung.
  2. Sekolahi menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya dengan mudah untuk dipinjam dan dipakai di luar sekolah dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu dan dapat diperpanjang.
  3. Sekolah menyediakan Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat diakses dengan mudah oleh siswa.

Kelemahan :

  1. Sekolah belum menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya yang cukup dipergunakan selama pelajaran berlangsung.
  2. Sekolah belum menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya dengan mudah untuk dipinjam dan dipakai di luar sekolah dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu dan dapat diperpanjang.
  3. Sekolah belum menyediakan Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat diakses dengan mudah oleh siswa.

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyediakan buku-buku yang cukup dipergunakan selama pembelajaran berlangsung . ( )
  2. Sekolah perlu menyediakan sumber belajar lain selain buku yang cukup dipergunakan selama pembelajaran berlangsung. ( )
  3. Sekolah perlu menyediakan buku-buku yang cukup untuk dipinjam dan dipergunakan siswa di luar sekolah. ( )
  4. Sekolah perlu menyediakan sumber belajar lain selain buku yang cukup untuk dipinjam dan dipergunakan siswa di luar sekolah. ( )
  5. Sekolah perlu menyediakan Buku Sekolah Elektronik dalam bentuk softh copy.( )
2.3. Sumber belajar dapat diperoleh dengan mudah dan digunakan secara tepat
2.3.2. Guru menggunakan buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran secara tepat dalam pembelajaran untuk membantu dan memotivasi peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolah kami menentukan buku teks melalui rapat pendidik dan komite sekolah.( )
  2. Buku teks cukup untuk setiap siswa satu buku ditambah pegangan guru untuk semua mata pelajaran.( )
  3. Semua guru menggunakan buku-buku dalam perpustakaan sebagai sumbel belajar dalam proses pembelajaran.( )
  4. Semua guru menggunakan laboratorium IPA sebagai sumber dan alat dalam proses pembelajaran.( )
  5. Semua guru memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah kami menentukan buku teks tidak melalui rapat pendidik dan komite sekolah.( )
  2. Buku teks tidak cukup untuk setiap siswa satu buku ditambah pegangan guru untuk semua mata pelajaran.( )
  3. Tidak semua guru menggunakan buku-buku dalam perpustakaan sebagai sumbel belajar dalam proses pembelajaran.( )
  4. Tidak semua guru menggunakan laboratorium IPA sebagai sumber dan alat dalam proses pembelajaran.( )
  5. Tidak semua guru memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu melibatkan pendidik dalam menentukan buku teks.( )
  2. Sekolah perlu melibatkan komite sekolah dalam menentukan buku teks.( )
  3. Sekolah perlu menambah buku teks.( )
  1. Sekolah perlu menambah pegangan guru.( )
  1. Sekolah perlu memotivasi guru dalam menggunakan buku-buku dalam perpustakaan sebagai sumbel belajar dalam proses pembelajaran.( )
  1. Sekolah perlu memotivasi guru dalam menggunakan laboratorium IPA sebagai sumber dan alat dalam proses pembelajaran.( )
  1. Sekolah perlu memotivasi guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran.( )

2.4.  Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi peserta didik
2.4.1. Para guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang rencana pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang mencakup kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.

Kekuatan :

  1. Semua guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disiapkan / disusun.( )
  2. Semua guru menggunakan multi metode yang sesuai dengan karakter topik / tema materi sehingga terjadi proses pembelajan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik.( )
  3. Semua guru melaksanakan proses pembelajaran melalui 3 tahapan.( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disiapkan / disusun.( )
  2. Tidak semua guru menggunakan multi metode yang sesuai dengan karakter topik / tema materi sehingga terjadi proses pembelajan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik.( )
  3. Tidak semua guru melaksanakan proses pembelajaran melalui 3 tahapan.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disiapkan / disusun.( )
  2. Sekolah perlu memotivasi guru agar menggunakan multi metode yang sesuai dengan karakter topik / tema materi sehingga terjadi proses pembelajan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik.( )
  3. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam melaksanakan proses pembelajaran melalui 3 tahapan.( )

15

2.4.  Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi peserta didik
2.4.2. Para peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk melakukan ekplorasi dan elaborasi, serta mendapatkan konfirmasi.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi dalam proses pembelajaran.( )
  2. Semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan elaborasi dalam proses pembelajaran.( )
  3. Semua peserta didik memperoleh konfirmsasi dalam proses pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi dalam proses pembelajaran.( )
  2. Tidak semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan elaborasi dalam proses pembelajaran.( )
  3. Tidak semua peserta didik memperoleh konfirmsasi dalam proses pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam proses pembelajaran semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi.  ( )
  2. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam proses pembelajaran semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan elaborasi. ( )
  3. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam proses pembelajaran semua peserta didik memperoleh konfirmasi. ( )

16

2.5. Supervisi dan Evaluasi Proses Pembelajaran dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan
2.5.1.   Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan pada setiap tahap meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

Kekuatan :

  1. Kepala Sekolah menyusun program supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )
  2. Kepala Sekiolah melaksanakan supervisi dan evaluasi pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran.( )
  3. Kepala Sekolah melaporkan hasil supervisi dan evaluasi kepada pemangku kepentingan.( )
  4. Kepala Sekolah melaksanakan supervisi kepada semua pendidik. ()
  5. Kepala Sekolah melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Kepala Sekolah tidak menyusun program supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )
  2. Kepala Sekiolah tidak melaksanakan supervisi dan evaluasi pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran.( )
  3. Kepala Sekolah tidak melaporkan hasil supervisi dan evaluasi kepada pemangku kepentingan.( )
  4. Kepala Sekolah melaksanakan supervisi belum kepada semua pendidik. ()
  5. Kepala Sekolah tidak melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Kepala Sekolah perlu menyusun program supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )
  2. Kepala Sekiolah perlu melaksanakan supervisi dan evaluasi pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran.( )
  3. Kepala Sekolah perlu melaporkan hasil supervisi dan evaluasi kepada pengawas.( )
  4. Kepala sekolah perlu melaksanakan supervisi dan penilaian kepada semua pendidik, ()
  5. Kepala Sekolah perlu melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )

2.5. Supervisi dan Evaluasi Proses Pembelajaran dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan
2.5.2. Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan secara berkala dan berkelanjutan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas.

Kekuatan :

  1. Kepala Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  2. Kepala Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan.( )
  3. Kepala Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )
  4. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  5. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan. ( )
  6. Pengawas  Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )

Kelemahan :

  1. Kepala Sekolah tidak  melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  2. Kepala Sekolah tidak melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan.( )
  3. Kepala Sekolah tidak melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )
  4. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  5. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan. ( )
  6. Pengawas  Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Kepala Sekolah perlu  melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  2. Kepala Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan.( )
  3. Kepala Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )
  4. Pengawas Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  5. Pengawas Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan. ( )
  6. Pengawas  Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )

3.STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

Komponen

Indikator

 

3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan

3.1.1.  Peserta didik memperlihatkan kemajuan yang lebih baik dalam mencapai target yang ditetapkan SKL.

3.1.2.  Peserta didik memperlihatkan kemajuan sebagai pembelajar yang mandiri.

3.1.3.  Peserta didik memperlihatkan motivasi belajar dan rasa percaya diri yang tinggi.

 

3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat

3.2.1. Sekolah mengembangkan kepribadian peserta didik.

3.2.2. Sekolah mengembangkan keterampilan hidup.

3.2.3. Sekolah mengembangkan nilai-nilai agama, budaya, dan pemahaman atas sikap yang dapat diterima.

19

3. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan
3.1.1. Peserta didik memperlihatkan kemajuan yang lebih baik dalam mencapai target yang ditetapkan SKL.

Kekuatan :

  1. Semua peserta ujian memperoleh nilai ujian sesuai kriteria kelulusan untuk semua mata pelajaran.( )
  2. Semua siswa memiliki nilai raport sesuai standar/KKM  untuk setiap mata pelajaran.( )
  3. Pencapaian nilai rata hasil ulangan peserta didik menunjukkan kenaikan.( )
  4. Pencapaian prestasi akademik (rata-rata nilai ujian) peserta didik mengalami kemajuan dari tahun ke tahun.( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta ujian memperoleh nilai ujian sesuai kriteria kelulusan untuk semua mata pelajaran.( )
  2. Tidak semua siswa memiliki nilai raport sesuai standar/KKM  untuk setiap mata pelajaran.( )
  3. Pencapaian nilai rata hasil ulangan peserta didik tidak menunjukkan kenaikan.( )
  4. Pencapaian prestasi akademik (rata-rata nilai ujian) peserta didik tidak mengalami kemajuan dari tahun ke tahun.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta ujian agar memperoleh nilai ujian sesuai kriteria kelulusan untuk semua mata pelajaran.( )
  2. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta didik agar memiliki nilai raport sesuai standar/KKM  untuk setiap mata pelajaran.

( )

  1. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta didik agar pencapaian nilai rata hasil ulangan peserta didik menunjukkan kenaikan.

()

  1. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta agar pencapaian prestasi akademik (rata-rata nilai ujian) peserta didik mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. ()
3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan
3.1.2. Peserta didik memperlihatkan kemajuan sebagai pembelajar yang mandiri.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik selalu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. ()
  2. Semua peserta didik memanfaatkan perpustakaan, laboratorium IPA, lingkungan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  3. Perolehan nilai tugas-tugas setiap  peserta didik selalu menunjukkan peningkatan. ()
  4. (Khusus SMP/SMA) Sekolah memiliki Kelompok Ilmiah Remaja. ()
  5. (Khusus SMP/SMA) Sekolah memiliki Kelompok Belajar Bahasa Asing. ()

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta didik selalu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. ()
  2. Tidak semua peerta didik memanfaatkan perpustakaan, laboratorium IPA, lingkungan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  3. Perolehan nilai tugas-tugas setiap  peserta didik tidak selalu menunjukkan peningkatan. ()
  4. (Khusus SMP/SMA) Sekolah tidak memiliki Kelompok Ilmiah Remaja. ()
  5. (Khusus SMP/SMA) Sekolahtidak  memiliki Kelompok Belajar Bahasa Asing. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Pendidik perlu memotivasi peserta didik agar selalu menyelesaikan tugas-tugas.()
  2. Pendidik perlu memotivasi peerta didik untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  3. Pendidik perlu memotivasi peerta didik untuk memanfaatkan laboratorium sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  4. Pendidik perlu memotivasi peerta didik untuk memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()

10. Pendidik perlu memotivasi peerta didik agar perolehan nilai tugas-tugas setiap  peserta didik  selalu menunjukkan peningkatan. .()

11. (Khusus SMP/SMA) Sekolah perlu membentuk Kelompok Ilmiah Remaja. ()

12. (Khusus SMP/SMA) Sekolah perlu membentuk Kelompok Belajar Bahasa Asing. ()

3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan
3.1.3. Peserta didik memperlihatkan motivasi belajar dan rasa percaya diri yang tinggi.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik berpengalaman belajar pemanfaatan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. (  )
  2. Semua peserta didik berpengalaman belajar mengekspresikan diri (Pelaksanaan pekan bahasa, pentas seni-budaya, pameran lukisan, dan hasil karya). ( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta didik berpengalaman belajar pemanfaatan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. (  )
  2. Tidak semua peserta didik berpengalaman belajar mengekspresikan diri (Pelaksanaan pekan bahasa, pentas seni-budaya, pameran lukisan, dan hasil karya). ( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Pendidik perlu memotivasi peerta didik agar semua peserta didik memiliki pengalaman belajar pemanfaatan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. ()
  2. Pendidik perlu memotivasi peerta didik agar semua peserta didik memiliki pengalaman belajar mengekspresikan diri. ()

22

3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat
3.2.1. Sekolah mengembangkan kepribadian peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolahi menyusun program pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  2. Sekolah menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  3. Semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan kepribadian  yang diselenggarakan oleh sekolah.( )
  4. Semua peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.( )
  5. Sekolahi tidak menyusun program pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  6. Sekolah tidak menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  7. Tidak semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan kepribadian  yang diselenggarakan oleh sekolah.( )
  8. Tidak semua peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolahi perlu menyusun program pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  2. Sekolah perlu menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  3. Sekolah  perlu memfasilitasi  semua peserta didik untuk mengikuti kegiatan pengembangan kepribadian yang diselenggarakan oleh sekolah.( )
  4. Sekolah perlu memotivasi semua peserta didik agar setiap peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah. ()
  5. Sekolah perlu memotivasi semua peserta didik agar setiap peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. ()
3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat
3.2.2. Sekolah mengembangkan keterampilan hidup.

Kekuatan :

  1. Sekolah kami menyusun program pengembangan ketrampilan hidup.( )
  2. Sekolah kami menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan ketrampilan.( )
  3. Semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan ketrampilan hidup yang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.( )
  4. Semua peserta didik dapat mengembangkan ketrampilan hidup sesuai kebutuhan mereka masing-masing.( )
  5. Sekolah kami tidak menyusun program pengembangan ketrampilan hidup.( )
  6. Sekolah kami tidak menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan ketrampilan.( )
  7. Tidak semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan ketrampilan hidup yang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.( )
  8. Tidak semua peserta didik dapat mengembangkan ketrampilan hidup sesuai kebutuhan mereka masing-masing.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program pengembangan ketrampilan hidup. ( )
  2. Sekolah perlu menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan ketrampilan.( )
  3. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik mengikuti pengembangan ketrampilan hidup yang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka. ()
  4. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik dapat mengembangkan ketrampilan hidup sesuai kebutuhan mereka masing-masing.( )

3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat
3.2.3. Sekolah mengembangkan nilai-nilai agama, budaya, dan pemahaman atas sikap yang dapat diterima.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik  mengamalkan ajaran agama sesuai dengan agama yang mereka ikuti.( )
  2. Semua beserta didik berperilaku sesuai dengan adatistiadat yang berlaku di lingkungan mereka.( )
  3. Semua peserta didik mematuhi norma/aturan yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat dimana mereka tinggal.( )
  4. Belum semua peserta didik  mengamalkan ajaran agama sesuai dengan agama yang mereka ikuti.( )
  5. Belum semua beserta didik berperilaku sesuai dengan adatistiadat yang berlaku di lingkungan mereka.( )
  6. Belum semua peserta didik mematuhi norma/aturan yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat dimana mereka tinggal.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik  mengamalkan ajaran agama sesuai dengan agama yang mereka ikuti. ( )
  2. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik berperilaku sesuai dengan adatistiadat yang berlaku di lingkungan mereka.( )
  3. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik mematuhi norma/aturan yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat dimana mereka tinggal.( )

4.STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Komponen

Indikator

 

4.1. Pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai

4.1.2.  Jumlah pendidik memenuhi standar.

4.1.2.  Jumlah tenaga kependidikan memenuhi standar.

 

4.2. Kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai

4.2.1.  Kualifikasi pendidik memenuhi standar

4.2.2.  Kualifikasi tenaga kependidikan memenuhi standar

 

4.3. Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai

4.3.1.  Kompetensi pendidik memenuhi standar

4.3.2.  Kompetensi tenaga kependidikan memenuhi standar

4. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
4.1. Pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.1.1. Jumlah pendidik memenuhi standar.

Kekuatan :

  1. Jumlah pendidik memenuhi kebutuhan pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Jumlah pendidik tidak memenuhi kebutuhan pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi : (Untuk SD)

  1. Sekolah perlu mengangkat guru kelas :
  • 1 orang guru kelas. ()
  • 2 orang guru kelas. ()
  • 3 orang guru kelas. ()
  1. Sekolah pelrmu mengangkat guru matapelajaran :
  • Guru Pendidikan Agama. ()
  • Guru Jasmani Olahraga dan Kesehatan. ()
  • Guru Seni Budaya dan Kewtrampilan. ()
  • Guru Bahasa Inggris. ()
  • Guru Bahasa Jawa. ()

Rekomendasi : (Untuk SMP)

  1. Sekolah perlu mengangkat Guru Agama. ()
  2. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Kewarganegaran. ()
  3. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Indonesia. ()
  4. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Inggris. ()
  5. Sekolah perlu mengangkat Guru Matematika. ()
  6. Sekolah perlu mengangkat Guru Ilmu Pengetahuan Alam. ()
  7. Sekolah perlu mengangkat Guru Ilmu Pengetahuan Sosial. ()
  8. Sekolah perlu mengangkat Guru Seni Budaya. ()
  9. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. ()
  10. Sekolah perlu mengangkat Guru Tehnologi Informasi dan Komunikasi. ()
  11. Sekolah perlu mengangkat Guru …… ()

Rekomendasi : (Untuk SMA)

  1. Sekolah perlu mengangkat Guru Agama. ()
  2. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Kewarganegaran. ()
  3. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Indonesia. ()
  4. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Inggris. ()
  5. Sekolah perlu mengangkat Guru Matematika. ()
  6. Sekolah perlu mengangkat Guru Fisika. ()
  7. Sekolah perlu mengangkat Guru Biologi. ()
  8. Sekolah perlu mengangkat Guru Kimia. ()
  9. Sekolah perlu mengangkat Guru Sejarah. ()
  10. Sekolah perlu mengangkat Guru Geografi. ()
  11. Sekolah perlu mengangkat Guru Ekonomi. ()
  12. Sekolah perlu mengangkat Guru Sosiologi. ()
  13. Sekolah perlu mengangkat Guru Seni Budaya. ()
  14. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. ()
  15. Sekolah perlu mengangkat Guru Tehnologi Informasi dan Komunikasi. ()
  16. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Asing. ()
  17. Sekolah perlu mengangkat Guru ……… ()

27

4.1. Pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.1.2. Jumlah tenaga kependidikan memenuhi standar.

Kekuatan :

(Untuk SD)

  1. Sekolah memiliki Tenaga Administrasi .( )
  2. Sekolah memiliki Petugas Perpustakaan.( )
  3. Sekolah memiliki Petugas Laboratorium IPA.( )
  4. Sekolah memiliki Penjaga Sekolah.( )

(Untuk SMP)

  1. Jumlah tenaga administrasi memenuhi standar. ()
  2. Sekolah memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah memiliki laboran IPA. ()
  4. Sekolah memiliki konselor. ()
  5. Jumlah tenaga layanan khusus memenuhi standar. ()
  6. Jumlah kepala urusan memenuhi standar. ()

(Untuk SMA/SMK)

  1. Jumlah tenaga administrasi memenuhi standar. ()
  2. Sekolah memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah memiliki laboran biologi . ()
  4. Sekolah memiliki laboran fisika. ()
  5. Sekolah memiliki laboran  kimia. ()
  6. Sekolah memiliki laboran  komputer. ()
  7. Sekolah memiliki laboran  bahasa. ()
  8. Sekolah memiliki konselor. ()
  9. Jumlah tenaga layanan khusus memenuhi standar. ()
  10. Jumlah kepala urusan memenuhi standar. ()
  11. 11.                (Khusus SMK) Sekolah memiliki kepala bengkel. ()
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelemahan :

(Untuk SD)

  1. Sekolah tidak memiliki Tenaga Administrasi .( )
  2. Sekolah tidak memiliki Petugas Perpustakaan.( )
  3. Sekolah tidak memiliki Petugas Laboratorium IPA.( )
  4. Sekolah tidak memiliki Penjaga Sekolah.( )

(Untuk SMP)

  1. Jumlah tenaga administrasi tidak memenuhi standar. ()
  2. Sekolah tidak memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah tidak memiliki laboran IPA. ()
  4. Sekolah tidak memiliki konselor. ()
  5. Jumlah tenaga layanan khusus tidak memenuhi standar. ()
  6. Jumlah kepala urusan tidak memenuhi standar. ()

(Untuk SMA/SMK)

  1. Jumlah tenaga administrasi tidak memenuhi standar. ()
  2. Sekolah tidak memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah tidak memiliki laboran biologi . ()
  4. Sekolah tidak memiliki laboran fisika. ()
  5. Sekolah tidak memiliki laboran  kimia. ()
  6. Sekolah memiliki laboran  komputer. ()
  7. Sekolah tidak memiliki laboran  bahasa. ()
  8. Sekolah tidak memiliki konselor. ()
  9. Jumlah tidak tenaga layanan khusus memenuhi standar. ()
  10. Jumlah tidak kepala urusan memenuhi standar. ()
  11. (Khusus SMK) Sekoloah tidak memiliki kepala bengkel. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi : (Untuk SD)

  1. Sekolah perlu mengangkat Tenaga Administrasi . ()
  2. Sekolah perlu mengangkat Petugas Perpustakaan. ()
  3. Sekolah perlu mengangkat Petugas Laboratorium IPA. ()
  4. Sekolah perlu mengangkat Penjaga Sekolah. ()
Rekomendasi : (Untuk SMP)

  1. Sekolah perlu  mengangkat Tenaga Administrasi . ()
    1. Sekolah perlu mengangkat Pustakawan /Kepala Perpustakaan. ()
    2. Sekolah perlu Laboran / Kepala Laboratorium IPA. ()
    3. Sekolah perlu mengangkat Konselir. ()
    4. Sekolah perlu mengangkat Petugas layanan khusus :
  • Penjaga malam. ()
  • Petugas kebersihan dan keindahan. ()
  • Petugas keamanan. ()
  1. Sekolah perlu pengangkat Kepala Urusan :
  • Urusan …
  • Urusan …
Rekomendasi : (Untuk SMA/SMK)

  1. Sekolah perlu  mengangkat Tenaga Administrasi . ()
    1. Sekolah perlu mengangkat Pustakawan /Kepala Perpustakaan. ()
    2. Sekolah perlu mengangkat Laboran / Kepala Laboratorium :
  • Laboran / Kepala Laboratorium Biologi. ()
  • Laboran / Kepala Laboratorium Fisika. ()
  • Laboran / Kepala Laboratorium Kimia. ()
  • Laboran / Kepala Laboratorium Komputer. ()
  • Laboran / Kepala Laboratorium Bahasa. ()
  1. Sekolah perlu mengangkat Konselir. ()
  2. Sekolah perlu mengangkat Petugas layanan khusus :
  • Penjaga malam. ()
  • Petugas kebersihan dan keindahan. ()
  • Petugas keamanan. ()
  1. Sekolah perlu pengangkat Kepala Urusan :
  • Urusan …
  • Urusan …
  1. (Khusus SMK) Sekolah perlu mengangkat Kepala Bengkel. ()
 
4.2. Kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.2.1. Kualifikasi pendidik memenuhi standar.

Kekuatan :

  1. Kualifikasi Kepala Sekolah
    1. Pendidikan Kepala Sekolah :
  • Sarjana /S-1. ( )
  • Pasca Sarjana / S-2. ()
  1. Kepala Sekolah memiliki sertifikat kepala sekolah.( )
  2. Kualifikasi  Guru – Guru kami adalah :
    1. Semua guru berpendidikan minimal S-1/D-IV.( )
    2. Semua guru memiliki sertfikat pendidik .( )

Kelemahan :

  1. Kualifikasi Kepala Sekolah
    1. Pendidikan Kepala Sekolah belum S-1 / D-IV. ()
    2. Kepala Sekolah memiliki sertifikat kepala sekolah.( )
  1. Kualifikasi  Guru – Guru kami adalah :
    1. Tidak semua guru berpendidikan S-1/D-IV.( )
    2. Tidak semua guru memiliki sertfikat pendidik .( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Kualifikasi Kepala Sekolah
    1. Kepala Sekolah perlu mengikuti kuliah program S-1 Pendidikan.( )
    2. Kepala Sekolah tidak perlu memiliki sertifikat kepala sekolah.( )
    3. Kualifikasi  Guru – Guru kami adalah :
      1. Sekolah perlu memfasilitasi guru untuk menempuh pendidikan S-1/D-IV.( )
      2. Sekolah perlu memfasilitasi guru untuk memperoleh sertfikat pendidik .( )
4.2. Kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.2.2. Kualifikasi tenaga kependidikan memenuhi standar.

Kekuatan :

(Untuk SD)

  1. Kualifikasi Tenaga Administrasi memenuhi standar. ( )
  2. Kualifikasi Petugas Perpustakaan memenuhi standar. ( )
  3. Kualifikasi Petugas Laboratorium IPA  memenuhi standar. ( )
  4. Kualifikasi Penjaga Sekolah memenuhi standar. ( )

(Untuk SMP)

  1. Kualifikasi semua Tenaga Administrasi memenuhi standar. ( )
  2. Kualifikasi pustakawan memenuhi standar. ( )
  3. Kualifikasi Laboran IPA  memenuhi standar. ( )
  4. Kualifikasi konselor memenuhi standar. ( )
  5. Kualifikasi semua petugas layanan khusus memenuhi standar. ( )

(Untuk SMA/SMK)

  1. Kualifikasi semua Tenaga Administrasi memenuhi standar. ( )
  2. Kualifikasi pustakawan memenuhi standar. ( )
  3. Kualifikasi Laboran biologi  memenuhi standar. ( )
  4. Kualifikasi Laboran fisika memenuhi standar. ( )
  5. Kualifikasi Laboran kimia memenuhi standar. ( )
  6. Kualifikasi Laboran  komputer memenuhi standar. ( )
  7. Kualifikasi Laboran bahasa  memenuhi standar. ( )
  8. Kualifikasi konselor memenuhi standar. ( )
  9. Kualifikasi semua petugas layanan khusus memenuhi standar. ( )
  10. (Khusus SMK) Kualifikasi kepala bengkel memenuhi standar. ( )

Kelemahan :

(Untuk SD)

  1. Kualifikasi Tenaga Administrasi tidakmemenuhi standar. ( )
  2. Kualifikasi Petugas Perpustakaan tidak memenuhi standar. ( )
  3. Kualifikasi Petugas Laboratorium IPA  tidak memenuhi standar. ( )
  4. Kualifikasi Penjaga Sekolah tidak memenuhi standar. ( )

(Untuk SMP)

  1. Kualifikasi  Tenaga Administrasibelum semua memenuhi standar. ( )
  2. Kualifikasi pustakawan tidak memenuhi standar. ( )
  3. Kualifikasi Laboran IPA tidak memenuhi standar. ( )
  4. Kualifikasi konselor tidak memenuhi standar. ( )
  5. Kualifikasi petugas layanan khusus belum semua memenuhi standar. ( )

(Untuk SMA/SMK)

  1. Kualifikasi Tenaga Administrasi belum semua memenuhi standar. ( )
  2. Kualifikasi pustakawan tidak memenuhi  standar. ( )
  3. Kualifikasi Laboran biologi  tidak memenuhi standar. ( )
  4. Kualifikasi Laboran fisika tidak memenuhi standar. ( )
  5. Kualifikasi Laboran kimia tidak memenuhi standar. ( )
  6. Kualifikasi Laboran  komputer tidak memenuhi standar. ( )
  7. Kualifikasi Laboran bahasa  tidak memenuhi standar. ( )
  8. Kualifikasi konselor tidak memenuhi standar. ( )
  9. Kualifikasi  petugas layanan khusus belum semua memenuhi standar. ( )
  10. (Khusus SMK) Kualifikasi kepala bengkel belum memenuhi standar. ( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi : (Untuk SD)

  1. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Tenaga Administrasi. ()
  2. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Petugas Perpustakaan. ()
  3. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Petugas Laboratorium IPA. ()
  4. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Penjaga Sekolah. ()

Rekomendasi : (Untuk SMP)

  1. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Tenaga Administrasi. ()
  2. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Pustakawan/Kepala Perpustakaan. ()
  3. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Laboran / Kepala Laboratorium IPA. ()
  4. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Konselor. ()
  5. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Petugas Khusus :
  • Penjaga malam. ()
  • Petugas kebersihan dan keindahan. ()
  • Petugas keamanan. ()
  1. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Kepala Urusan :
  • Kepala Urusan ……. ()
  • Kepala Urusan ……. ()

30

Rekomendasi : (Untuk SMA/SMK)

  1. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Tenaga Administrasi. ()
  2. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Pustakawan/Kepala Perpustakaan. ()
  3. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Laboran biologi. ()
  4. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Laboran fisika.. ()
  5. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Laboran kimia ()
  6. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Laboran bahasa. ()
  7. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Laboran komputer. ()
  8. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi  Konselor. ()
  9. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Petugas Khusus :
  • Penjaga malam. ()
  • Petugas kebersihan dan keindahan. ()
  • Petugas keamanan. ()

10. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi Kepala Urusan :

  • Kepala Urusan ……. ()
  • Kepala Urusan ……. ()

11. Sekolah perlu meningkatkan kualifikasi kepala bengkel. ()

30

4.3. Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.3.1. Kompetensi pendidik memenuhi standar.

Kekuatan :

  1. Kompetensi Kepala Sekolah :
  • Kompetensi kepribadian memenuhi standar. ()
  • Kompetensi manajerial memenuhi standar. ()
  • Kompetensi kewirausahaan memenuhi standar. ()
  • Kompetensi sosial memenuhi standar. ()
  • Kompetensi supervisi memenuhi standar. ()
  1. Kompetensi Guru :
  • Kompetensi paedagogik memenuhi standar. ()
  • Kompetensi kepribadian memenuhi standar. ()
  • Kompetensi profesional memenuhi standar. ()
  • Kompetensi sosial memenuhi standar. ()

Kelemahan :

  1. Kompetensi Kepala Sekolah :
  • Kompetensi kepribadian belum memenuhi standar. ()
  • Kompetensi manajerial belum memenuhi standar. ()
  • Kompetensi kewirausahaan belum memenuhi standar. ()
  • Kompetensi sosial memenuhi belum standar. ()
  • Kompetensi supervisi belum memenuhi standar. ()
  1. Kompetensi Guru :
  • Kompetensi paedagogik belum memenuhi standar. ()
  • Kompetensi kepribadian belum memenuhi standar. ()
  • Kompetensi profesional belum memenuhi standar. ()
  • Kompetensi sosial belum memenuhi standar. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Kepala Sekolah perlu meningkatkan standar kompetensi :
  • Meningkatkan kompetensi kepribadian. ()
  • Meningkatkan kompetensi manajerial. ()
  • Meningkatkan kompetensi kewirausahaan. ()
  • Meningkatkan kompetensi sosial. ()
  • Meningkatkan kompetensi supervisi. ()
  1. Sekolah perlu memfasilitasi Guru dalam meningkatkan  standar kompetensi :
  • Meningkatkan kompetensi pedagogik. ()
  • Meningkatkan kompetensi kepribadianl. ()
  • Meningkatkan kompetensi profesional. ()
  • Meningkatkan kompetensi sosial. ()

4.3. Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.3.2. Kompetensi tenaga kependidikan memenuhi standar

Kekuatan :

(Untuk SD)

  1. Tenaga administrasi memenuhi standar kompetensi.( )
  2. Petugas perpustakaan memenuhi standar kompetensi.( )
  3. Petugas laboratorium IPA memenuhi standar kompetensi.( )
  4. Penjaga sekolah memenuhi standar kompetensi.( )

(Untuk SMP)

  1. Semua tenaga administrasi memenuhi standar kompetensi.( )
  2. Pustakawan memenuhi standar kompetensi.( )
  3. Laboran IPA memenuhi standar kompetensi.( )
  4. Konselor memenuhi standar kompetensi. ()
  5. Semua petugas layanan khusus memenuhi standar kompetensi.( )
  6. Semua kepala urusan memenuhi standar kompetensi. ()

(Untuk SMA/SMK)

  1. Semua tenaga administrasi memenuhi standar kompetensi.( )
  2. Pustakawan memenuhi standar kompetensi.( )
  3. Laboran biologi memenuhi standar kompetensi.( )
  4. Laboran fisika memenuhi standar kompetensi.( )
  5. Laboran kimia memenuhi standar kompetensi.( )
  6. Laboran komputer memenuhi standar kompetensi.( )
  7. Laboran bahasa memenuhi standar kompetensi.( )
  8. Konselor memenuhi standar kompetensi. ()
  9. Semua petugas layanan khusus memenuhi standar kompetensi.( )

10. Semua kepala urusan memenuhi standar kompetensi. ()

11. (Khusus SMK) Semua kepala urusan memenuhi standar. ()

Kelemahan :

(Untuk SD)

  1. Tenaga administrasi memenuhi belum standar kompetensi.( )
  2. Petugas perpustakaan belum memenuhi standar kompetensi.( )
  3. Petugas laboratorium IPA belum memenuhi standar kompetensi.( )
  4. Penjaga sekolah belum memenuhi standar kompetensi.( )

(Untuk SMP)

  1. Belum semua tenaga administrasi memenuhi standar kompetensi.( )
  2. Pustakawan belum memenuhi standar kompetensi.( )
  3. Laboran IPA belum memenuhi standar kompetensi.( )
  4. Konselor belum memenuhi standar kompetensi. ()
  5. Semua petugas layanan khusus belum memenuhi standar kompetensi.( )

10. Semua kepala urusan belum memenuhi standar kompetensi. ()

(Untuk SMA/SMK)

  1. Belum semua tenaga administrasi memenuhi standar kompetensi.( )
  2. Pustakawan belum memenuhi standar kompetensi.( )
  3. Laboran biologi belum memenuhi standar kompetensi.( )
  4. Laboran fisika belum memenuhi standar kompetensi.( )
  5. Laboran kimia belum memenuhi standar kompetensi.( )
  6. Laboran komputer belum memenuhi standar kompetensi.( )
  7. Laboran bahasa belum memenuhi standar kompetensi.( )
  8. Konselor belum memenuhi standar kompetensi. ()
  9. Semua petugas layanan khusus memenuhi standar kompetensi.( )
  10. Belum semua kepala urusan memenuhi standar kompetensi. ()

(Khusus SMK) Belum semua kepala urusan memenuhi standard kompetensi. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi : (Untuk SD)

  1. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi tenaga administrasi.  ( )
  2. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi petugas perpustakaan.  ( )
  3. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi petugas laboratorium IPA.  ( )
  4. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi penjaga sekolah.  ( )

Rekomendasi : (Untuk SMP)

  1. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi tenaga administrasi.  ( )
    1. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Pustakawan.  ( )
    2. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Laboran IPA.  ( )
    3. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Konselor. ()
    4. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi petugas khusus :
  • Penjaga malam. ()
  • Petugas kebersihan dan keindahan. ()
  • Petugas keamanan. ()
  1. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Kepala Urusan.  ()
  • Kepala Urusan …… ()
  • Kepala Urusan …… ()

Rekomendasi : (Untuk SMA/SMK)

  1. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi tenaga administrasi.  ( )
  2. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Pustakawan.  ()
  3. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Laboran Biologi. ()
  4. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Laboran Fisika ()
  5. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Laboran Kimia. ()
  6. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Laboran Komputer. ()
  7. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Laboran Bahasa.  ( )
  8. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Konselor. ()
  9. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi petugas khusus :
  • Penjaga malam. ()
  • Petugas kebersihan dan keindahan. ()
  • Petugas keamanan. ()

10. Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Kepala Urusan.  ()

  • Kepala Urusan …… ()
  • Kepala Urusan …… ()

11. (Khusus SMK) Sekolah perlu meningkatkan kompetensi Kepala Bengkel.  ()

5.STANDAR SARANA DAN PRASARANA

Komponen

Indikator

5.1. Sarana sekolah sudah memadai 5.1.1.  Sekolah memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya.

5.1.2.  Sekolah memenuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik  dalam rombongan belajar.

5.1.3.  Sekolah memenuhi standar terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran.

5.2. Sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik 5.2.1.  Pemeliharaan bangunan dilaksanakan secara berkala sesuai dengan persyaratan standar

5.2.2.  Bangunan aman dan nyaman untuk semua peserta didik dan memberi kemudahan kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus.

33

5. STANDAR SARANA DAN PRASARANA
5.1. Sarana sekolah sudah memadai
5.1.1. Sekolah memenuhi standar terkait dengan ukuran ruangan, jumlah ruangan, persyaratan untuk sistem ventilasi, dan lainnya.

Kekuatan :

A . Lahan Sekolah.

  • Luas lahan memenuhi standar. ( )
  • Rasio luas lahan terhadap peserta didik memenuhi standar.( )
  • Lahan memiliki surat kepemilikan tanah.( )

B. Bangunan Gedung

  • Luas lantai bangunan memenuhi standar. ( )
  • Bangunan dilengkapi dengan ventilasi udara dan sistim pencahayaan yang memenuhi standar.( )
  • Bangunan dilengkapi instalasi listrik dengan daya listrik memenuhi standar.( )

C. Sarana dan Prasarana (Untuk SD) :

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Jumlah ruang kelas memenuhi standar ( )
  • Luas masing-masing ruang kelas memenuhi standar. ( )
  • Fasilitas pencahayaan ruang kelas memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang kelas memenuhi standar.( )
  1. 2.  Ruang Perpustakaan :
  • Luas Ruang Perpustakaan  memenuhi standar.( )
  • Jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang perpustakaan memenuhi standar. ( )
  1. 3.  Laboratorium IPA :
  • Sarana laboratorium IPA memenuhi standar.( )
  1. 4.   Ruang Pimpinan  :
  • Luas ruang pimpinan memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang pimpinan memenuhi standar.( )
  1. 5.   Ruang Guru  :
  • Luas lantai  ruang guru memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang guru memenuhi standar.( )
  1. 6.   Tempat beribadah  :
  • Luas lantai tempat beribadah memenuhi standar,( )
  • Sarana tempat beribadah memenuhi standar.( )

 

  1. 7.   Ruang UKS :
  • Luas ruang  UKS memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang UKS memenuhi standar.( )
  1. 8.   Jamban  :
  • Jumlah jamban memenuhi standar.( )
  • Sarana memenuhi standar.( )
  1. 9.   Gudang  :
  • Luas lantai gudang memenuhi standar ( )
  • Sarana gudang memenuhi standar.( )

10. Ruang Sirkulasi  

  • Luas ruang sirkulasi memenuhi standar.( )
  1. 11.  Tempat Bermain / Berolahraga  :
  • Luas tempat bermain/berolah raga  memenuhi standar.( )
  • Sarana tempat bermain memenuhi standar.( )

 

 

C. Sarana dan Prasarana (Untuk SMP) :

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Jumlah ruang kelas memenuhi standar ( )
  • Luas masing-masing ruang kelas memenuhi standar. ( )
  • Fasilitas pencahayaan ruang kelas memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang kelas memenuhi standar.( )
  1. 2.  Ruang Perpustakaan :
  • Luas Ruang Perpustakaan  memenuhi standar.( )
  • Jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang perpustakaan memenuhi standar. ( )
  1. 3.  Laboratorium IPA :
  • Luas rruang laboratorium IPA memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium IPA memenuhi standar.( )
  1. 4.   Ruang Pimpinan  :
  • Luas ruang pimpinan memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang pimpinan memenuhi standar.( )
  1. 5.   Ruang Guru  :
  • Luas lantai  ruang guru memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang guru memenuhi standar.( )
  1. 6.   Ruang Tata Usaha  :
  • Luas lantai  ruang tata usaha memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang tata usaha  memenuhi standar.( )
  1. 7.   Tempat beribadah  :
  • Luas lantai tempat beribadah memenuhi standar,( )
  • Sarana tempat beribadah memenuhi standar.( )

 

  1. 8.   Ruang Konseling :
  • Luas ruang  konseling memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang konseling memenuhi standar.( )
  1. 9.   Ruang UKS :
  • Luas ruang  UKS memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang UKS memenuhi standar.( )

10. Ruang Organisasi Kesiswaan :

  • Luas ruang  organisasi kesiswaan memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang organisasi kesiswaan memenuhi standar.( )
  1. 11.  Jamban  :
  • Jumlah jamban memenuhi standar.( )
  • Sarana memenuhi standar.( )

12. Gudang  :

  • Luas lantai gudang memenuhi standar ( )
  • Sarana gudang memenuhi standar.( )

13. Ruang Sirkulasi  

  • Luas ruang sirkulasi memenuhi standar.( )

14. Tempat Bermain / Berolahraga  :

  • Luas tempat bermain/berolah raga  memenuhi standar.( )
  • Sarana tempat bermain memenuhi standar.( )

C. Sarana dan Prasarana (Untuk SMA/SMK) :

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Jumlah ruang kelas memenuhi standar ( )
  • Luas masing-masing ruang kelas memenuhi standar. ( )
  • Fasilitas pencahayaan ruang kelas memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang kelas memenuhi standar.( )
  1. 2.  Ruang Perpustakaan :
  • Luas Ruang Perpustakaan  memenuhi standar.( )
  • Jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang perpustakaan memenuhi standar. ( )
  1. 3.  Laboratorium Biologi :
  • Luas rruang laboratorium biologi memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium biologi memenuhi standar.( )
  1. 4.  Laboratorium Fisika :
  • Luas rruang laboratorium fisika memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium fisika memenuhi standar.( )
  1. 5.  Laboratorium Kimia :
  • Luas rruang laboratorium Kimia memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium Kimia memenuhi standar.( )
  1. 6.  Laboratorium Komputer :
  • Luas rruang laboratorium komputer memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium Komputer memenuhi standar.( )
  1. 7.  Laboratorium Bahasa :
  • Luas rruang laboratorium Bahasa memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium Bahasa memenuhi standar.( )
  1. 8.   Ruang Pimpinan  :
  • Luas ruang pimpinan memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang pimpinan memenuhi standar.( )
  1. 9.   Ruang Guru  :
  • Luas lantai  ruang guru memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang guru memenuhi standar.( )

10. Ruang Tata Usaha  :

  • Luas lantai  ruang tata usaha memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang tata usaha  memenuhi standar.( )
  1. 11.  Tempat beribadah  :
  • Luas lantai tempat beribadah memenuhi standar,( )
  • Sarana tempat beribadah memenuhi standar.( )

 

12. Ruang Konseling :

  • Luas ruang  konseling memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang konseling memenuhi standar.( )

13. Ruang UKS :

  • Luas ruang  UKS memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang UKS memenuhi standar.( )

14. Ruang Organisasi Kesiswaan :

  • Luas ruang  organisasi kesiswaan memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang organisasi kesiswaan memenuhi standar.( )

15. Jamban  :

  • Jumlah jamban memenuhi standar.( )
  • Sarana memenuhi standar.( )

16. Gudang  :

  • Luas lantai gudang memenuhi standar ( )
  • Sarana gudang memenuhi standar.( )

17. Ruang Sirkulasi  

  • Luas ruang sirkulasi memenuhi standar.( )

18. Tempat Bermain / Berolahraga  :

  • Luas tempat bermain/berolah raga  memenuhi standar.( )
  • Sarana tempat bermain memenuhi standar.( )

19. Bengkel  :

  • Jumlah bengkel memenuhi standar. ()
  • Luas masing-masing lantai bengkel memenuhi standar ( )
  • Sarana bengkel memenuhi standar.( )

Kelemahan :

A . Lahan Sekolah.

  • Luas lahan tidak memenuhi standar. ( )
  • Rasio luas lahan terhadap peserta didik tidak memenuhi standar. ( )
  • Lahan tidak memiliki surat kepemilikan tanah.( )

B. Bangunan Gedung

  • Luas lantai bangunan tidak memenuhi standar. ( )
  • Bangunan tidak dilengkapi dengan ventilasi udara dan sistim pencahayaan yang memenuhi standar.
  • Bangunan tidak dilengkapi instalasi listrik dengan daya listrik memenuhi standar.

C. Sarana dan Prasarana (Untuk SD):

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Jumlah ruang kelas tidak memenuhi standar ( )
  • Luas masing-masing ruang kelas tidak memenuhi standar. ( )
  • Fasilitas pencahayaan ruang kelas tidak memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang kelas tidak memenuhi standar.( )
  1. 2.   Ruang Perpustakaan :
  • Tidak memiliki ruang perpustakaan. ()
  • Luas Ruang Perpustakaan tidak memenuhi standar.( )
  • Jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang perpustakaan tidak memenuhi standar. ( )
  1. 3.   Laboratorium IPA :
  • Tidak memiliki laboratorium IPA. ()
  • Sarana laboratorium IPA tidak memenuhi standar.( )

  1. 4.   Ruang Pimpinan  :
  • Tidak memiliki ruang pimpinan. ()
  • Luas ruang pimpinan tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang pimpinan tidak memenuhi standar.( )
  1. 5.   Ruang Guru  :
  • Tidak memiliki ruang guru. ()
  • Luas lantai  ruang guru tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang guru tidak memenuhi standar.( )
  1. 6.   Tempat beribadah  :
  • Tidak memiliki tempat beribadah. ()
  • Luas lantai tempat beribadah tidak  memenuhi standar,( )
  • Sarana tempat beribadah tidak memenuhi standar.( )
  1. 7.   Ruang UKS :
  • Tidak memiliki ruang UKS. ()
  • Luas ruang  UKS tidak memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang UKS memenuhi tidak standar.( )
  1. 8.   Jamban  :
  • Jumlah jamban tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana tidak memenuhi standar.( )
  1. 9.   Gudang  :
  • Tidak memiliki gudang. ()
  • Luas lantai gudang tidak memenuhi standar.()
  • Sarana gudang tidak memenuhi standar.( )

10. Ruang Sirkulasi  

  • Luas ruang sirkulasi tidak memenuhi standar.( )
  1. 11.  Tempat Bermain / Berolahraga  :
  • Luas tempat bermain/berolah raga tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana tempat bermain tidak memenuhi standar.( )

C. Sarana dan Prasarana (Untuk SMP):

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Jumlah ruang kelas tidak memenuhi standar ( )
  • Luas masing-masing ruang kelas tidak memenuhi standar. ( )
  • Fasilitas pencahayaan ruang kelas tidak memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang kelas tidak memenuhi standar.( )
  1. 2.   Ruang Perpustakaan :
  • Tidak memiliki ruang perpustakaan. ()
  • Luas Ruang Perpustakaan tidak memenuhi standar.( )
  • Jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang perpustakaan tidak memenuhi standar. ( )
  1. 3.   Laboratorium IPA :
  • Tidak memiliki laboratorium IPA. ()
  • Luas laboratorium IPA tidak memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium IPA tidak memenuhi standar.( )

  1. 4.   Ruang Pimpinan  :
  • Tidak memiliki ruang pimpinan. ()
  • Luas ruang pimpinan tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang pimpinan tidak memenuhi standar.( )
  1. 5.   Ruang Guru  :
  • Tidak memiliki ruang guru. ()
  • Luas lantai  ruang guru tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang guru tidak memenuhi standar.( )
  1. 6.   Ruang Tata Usaha  :
  • Tidak memiliki ruang tata usaha. ()
  • Luas lantai  ruang tata usaha tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang tata usaha tidak memenuhi standar.( )
  1. 7.   Tempat beribadah  :
  • Tidak memiliki tempat beribadah. ()
  • Luas lantai tempat beribadah tidak  memenuhi standar,( )
  • Sarana tempat beribadah tidak memenuhi standar.( )
  1. 8.   Ruang Konseling  :
  • Tidak memiliki ruang konseling. ()
  • Luas lantai ruang konseling tidak  memenuhi standar,( )
  • Sarana ruang konseling tidak memenuhi standar.( )
  1. 9.   Ruang UKS :
  • Tidak memiliki ruang UKS. ()
  • Luas ruang  UKS tidak memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang UKS memenuhi tidak standar.( )

10. Ruang Organisasi Kesiswaan  :

  • Tidak memiliki ruang organisasi kesiswaan. ()
  • Luas ruang organisasi kesiswaan tidak  memenuhi standar,( )
  • Sarana ruang organisasi kesiswaan tidak memenuhi standar.( )
  1. 11.  Jamban  :
  • Jumlah jamban tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana jamban tidak memenuhi standar.( )

12. Gudang  :

  • Tidak memiliki gudang. ()
  • Luas lantai gudang tidak memenuhi standar.()
  • Sarana gudang tidak memenuhi standar.( )

13. Ruang Sirkulasi  

  • Luas ruang sirkulasi tidak memenuhi standar.( )

14. Tempat Bermain / Berolahraga  :

  • Luas tempat bermain/berolah raga tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana tempat bermain tidak memenuhi standar.( )

C. Sarana dan Prasarana (Untuk SMA/SMK):

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Jumlah ruang kelas tidak memenuhi standar ( )
  • Luas masing-masing ruang kelas tidak memenuhi standar. ( )
  • Fasilitas pencahayaan ruang kelas tidak memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang kelas tidak memenuhi standar.( )
  1. 2.   Ruang Perpustakaan :
  • Tidak memiliki ruang perpustakaan. ()
  • Luas Ruang Perpustakaan tidak memenuhi standar.( )
  • Jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang perpustakaan tidak memenuhi standar. ( )
  1. 3.   Laboratorium Biologi :
  • Tidak memiliki laboratorium biologi. ()
  • Luas laboratorium biologi tidak memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium biologi tidak memenuhi standar.( )
  1. 4.   Laboratorium Fisika :
  • Tidak memiliki laboratorium Fisika. ()
  • Luas laboratorium Fisika tidak memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium Fisika tidak memenuhi standar.( )
  1. 5.   Laboratorium Kimia :
  • Tidak memiliki laboratorium Kimia. ()
  • Luas laboratorium Kimia tidak memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium Kimia tidak memenuhi standar.( )
  1. 6.   Laboratorium Komputer :
  • Tidak memiliki laboratorium Komputer. ()
  • Luas laboratorium Komputer tidak memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium Komputer tidak memenuhi standar.( )

 

  1. 7.   Laboratorium Bahasa :
  • Tidak memiliki laboratorium Bahasa. ()
  • Luas laboratorium Bahasa tidak memenuhi standar. ()
  • Sarana laboratorium Bahasa tidak memenuhi standar.( )

  1. 8.   Ruang Pimpinan  :
  • Tidak memiliki ruang pimpinan. ()
  • Luas ruang pimpinan tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang pimpinan tidak memenuhi standar.( )
  1. 9.   Ruang Guru  :
  • Tidak memiliki ruang guru. ()
  • Luas lantai  ruang guru tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang guru tidak memenuhi standar.( )

10. Ruang Tata Usaha  :

  • Tidak memiliki ruang tata usaha. ()
  • Luas lantai  ruang tata usaha tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana ruang tata usaha tidak memenuhi standar.( )
  1. 11.  Tempat beribadah  :
  • Tidak memiliki tempat beribadah. ()
  • Luas lantai tempat beribadah tidak  memenuhi standar,( )
  • Sarana tempat beribadah tidak memenuhi standar.( )

12. Ruang Konseling  :

  • Tidak memiliki ruang konseling. ()
  • Luas lantai ruang konseling tidak  memenuhi standar,( )
  • Sarana ruang konseling tidak memenuhi standar.( )

13. Ruang UKS :

  • Tidak memiliki ruang UKS. ()
  • Luas ruang  UKS tidak memenuhi standar. ( )
  • Sarana ruang UKS memenuhi tidak standar.( )

 

 

 

14. Ruang Organisasi Kesiswaan  :

  • Tidak memiliki ruang organisasi kesiswaan. ()
  • Luas ruang organisasi kesiswaan tidak  memenuhi standar,( )
  • Sarana ruang organisasi kesiswaan tidak memenuhi standar.( )

15. Jamban  :

  • Jumlah jamban tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana jamban tidak memenuhi standar.( )

16. Gudang  :

  • Tidak memiliki gudang. ()
  • Luas lantai gudang tidak memenuhi standar.()
  • Sarana gudang tidak memenuhi standar.( )

17. Ruang Sirkulasi  

  • Luas ruang sirkulasi tidak memenuhi standar.( )

18. Tempat Bermain / Berolahraga  :

  • Luas tempat bermain/berolah raga tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana tempat bermain tidak memenuhi standar.( )

19. Bengkel (Khusus SMK) :

  • Tidak memiliki bengkel. ()
  • Jumlah bengkel tidak memenuhi standar. ()
  • Luas bengkel tidak memenuhi standar.( )
  • Sarana bengkel tidak memenuhi standar. ( )

 

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

..

 

Rekomendasi :

 

A. Lahan Sekolah.

  • Sekolah perlu menambah luas lahan sekolah ( )
  • Sekolah perlu mengurus surat kepemilikan tanah.( )

B. Bangunan Gedung

  • Sekolah perlu menambah luas lantai bangunan.. ( )
  • Sekolah perlu melengkapi bangunan dengan ventilasi udara dan sistim pencahayaan yang memenuhi standar.( )
  • Sekolah perlu  :

ü  Melengkapi bangunan dengan instalasi listri.()

ü  Menambah daya listrik ( )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

34

C. Sarana dan Prasarana : (Untuk SD/MI)

12. Ruang Kelas :

  • Sekolah perlu membangun ruang kelas :

ü  1 ruang kelas baru. ( )

ü  2 ruang kelas baru ( )

ü  3 ruang kelas baru ( )

  • Sekolah perlu merehabilitasi :

ü  1 ruang kelas.( )

ü  2 ruang kelas ( )

ü  3 ruang kelas ( )

  • Sekolah perlu menambah fasilitas pencahayaan ruang kelas . ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang kelas.( )

ü  …

13. Ruang Perpustakaan :

  • Sekolah perlu membangun ruang Perpustakaan .( )
  • Sekolah perlu menambah jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku.( )
  • Sekolah perlu menambah sarana ruang perpustakaan. ( )

ü  …

14. Laboratorium IPA :

  • Sekolah perlu membangun ruang laboratorium IPA.( )
  • Sekolah perlu menambah Sarana laboratorium IPA.( )

ü  …

15. Ruang Pimpinan  :

  • Sekolah perlu membangun ruang pimpinan.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang pimpinan.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang pimpinan.( )

ü  …

16. Ruang Guru  :

  • Sekolah perlu membangun ruang guru.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang guru.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang guru tidak memenuhi standar.( )

ü  …

17. Tempat beribadah  :

  • Sekolah perlu membangu tempat beribadah.( )
  • Sekolah perlu memperluas tempat beribadah,( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana tempat beribadah.( )

ü  …

18. Ruang UKS :

  • Sekolah perlu membangun ruang UKS.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang  UKS. ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang UKS.( )

ü  …

19. Jamban  :

  • Sekolah perlu membangun :

ü  1 jamban.( )

ü  2 jamban.( )

ü  3 jamban ( )

  • Sekolah melengkapi sarana jamban. ( )

ü  …

  1. 20.    Gudang  :
  • Sekolah perlu membangun gudang.( )
  • Sekolah perlu memperluas gudang.()
  • Sekolah perlu melengkapi sarana gudang .( )

ü  …

21. Ruang Sirkulasi  

  • Sekolah perlu membangun ruang sirkulasi.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang sirkulasi.( )
  1. 22.    Tempat Bermain / Berolahraga  :
  • Sekolah perlu memperluas tempat bermain/berolah raga.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana tempat bermain.( )

ü  …

,,

C. Sarana dan Prasarana : (Untuk SMP/MTs)

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Sekolah perlu membangun ruang kelas :

ü  1 ruang kelas baru. ( )

ü  2 ruang kelas baru ( )

ü  3 ruang kelas baru ( )

  • Sekolah perlu merehabilitasi :

ü  1 ruang kelas.( )

ü  2 ruang kelas ( )

ü  3 ruang kelas ( )

  • Sekolah perlu menambah fasilitas pencahayaan ruang kelas . ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang kelas.( )

ü  …

  1. 2.   Ruang Perpustakaan :
  • Sekolah perlu membangun ruang Perpustakaan .( )
  • Sekolah perlu menambah jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku.( )
  • Sekolah perlu menambah sarana ruang perpustakaan. ( )

ü  …

  1. 3.   Laboratorium IPA :
  • Sekolah perlu membangun ruang laboratorium IPA.( )
  • Sekolah perlu menambah Sarana laboratorium IPA.( )

ü  …

  1. 4.   Ruang Pimpinan  :
  • Sekolah perlu membangun ruang pimpinan.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang pimpinan.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang pimpinan.( )

ü  …

  1. 5.   Ruang Guru  :
  • Sekolah perlu membangun ruang guru.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang guru.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang guru tidak memenuhi standar.( )

ü  …

  1. 6.   Ruang Tata Usaha
  • Sekolah perlu membangun ruang Tata Usaha. ( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang Tata Usaha.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang Tata Usaha.( )

ü  …

  1. 7.   Tempat beribadah  :
  • Sekolah perlu membangu tempat beribadah.( )
  • Sekolah perlu memperluas tempat beribadah,( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana tempat beribadah.( )

ü  …

  1. 8.   Ruang konseling :
  • Sekolah perlu membangun ruang konseling.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang konseling.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang konseling.( )

ü  …

  1. 9.   Ruang UKS :
  • Sekolah perlu membangun ruang UKS.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang  UKS. ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang UKS.( )

ü  …

10. Ruang Organisasi Kesiswaan :

  • Sekolah perlu membangun ruang organisasi kesiswaan.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang  organisasi kesiswaan. ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang organisasi kesiswaan.( )

ü  …

  1. 11.  Jamban  :
  • Sekolah perlu membangun :

ü  1 jamban.( )

ü  2 jamban.( )

ü  3 jamban ( )

  • Sekolah melengkapi sarana jamban. ( )

ü  …

12. Gudang  :

  • Sekolah perlu membangun gudang.( )
  • Sekolah perlu memperluas gudang.()
  • Sekolah perlu melengkapi sarana gudang .( )

ü  …

13. Ruang Sirkulasi  

  • Sekolah perlu membangun ruang sirkulasi.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang sirkulasi.( )

14. Tempat Bermain / Berolahraga  :

  • Sekolah perlu memperluas tempat bermain/berolah raga.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana tempat bermain.( )

ü  …

..

C. Sarana dan Prasarana : (Untuk SMA/MA)

  1. 1.   Ruang Kelas :
  • Sekolah perlu membangun ruang kelas :

ü  1 ruang kelas baru. ( )

ü  2 ruang kelas baru ( )

ü  3 ruang kelas baru ( )

  • Sekolah perlu merehabilitasi :

ü  1 ruang kelas.( )

ü  2 ruang kelas ( )

ü  3 ruang kelas ( )

  • Sekolah perlu menambah fasilitas pencahayaan ruang kelas . ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang kelas.( )

ü  …

  1. 2.   Ruang Perpustakaan :
  • Sekolah perlu membangun ruang Perpustakaan .( )
  • Sekolah perlu menambah jendela untuk memberi pencahayaan yang memadai untuk membaca buku.( )
  • Sekolah perlu menambah sarana ruang perpustakaan. ( )

ü  …

  1. 3.   Ruang Laboratorium Biologi :
  • Sekolah perlu membangun ruang laboratorium biologi.( )
  • Sekolah perlu menambah Sarana ruang laboratorium biologi.( )

ü  …

  1. 4.   Ruang Laboratorium Fisika :
  • Sekolah perlu membangun ruang laboratorium fisika.( )
  • Sekolah perlu menambah Sarana ruang laboratorium fisika.( )

ü  …

  1. 5.   Ruang Laboratorium Kimia :
  • Sekolah perlu membangun ruang laboratorium kimia.( )
  • Sekolah perlu menambah Sarana ruang laboratorium kimia.( )

ü  …

  1. 6.   Ruang Laboratorium Komputer :
  • Sekolah perlu membangun ruang laboratorium komputer.( )
  • Sekolah perlu menambah Sarana ruang laboratorium komputer.( )

ü  …

  1. 7.   Ruang Laboratorium Bahasa :
  • Sekolah perlu membangun ruang laboratorium bahasa.( )
  • Sekolah perlu menambah Sarana ruang laboratorium bahasa.( )

ü  …

  1. 8.   Ruang Pimpinan  :
  • Sekolah perlu membangun ruang pimpinan.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang pimpinan.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang pimpinan.( )

ü  …

  1. 9.   Ruang Guru  :
  • Sekolah perlu membangun ruang guru.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang guru.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang guru tidak memenuhi standar.( )

ü  …

10. Ruang Tata Usaha

  • Sekolah perlu membangun ruang Tata Usaha. ( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang Tata Usaha.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang Tata Usaha.( )

ü  …

  1. 11.  Tempat beribadah  :
  • Sekolah perlu membangu tempat beribadah.( )
  • Sekolah perlu memperluas tempat beribadah,( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana tempat beribadah.( )

ü  …

12. Ruang konseling :

  • Sekolah perlu membangun ruang konseling.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang konseling.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang konseling.( )

ü  …

13. Ruang UKS :

  • Sekolah perlu membangun ruang UKS.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang  UKS. ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang UKS.( )

ü  …

14. Ruang Organisasi Kesiswaan :

  • Sekolah perlu membangun ruang organisasi kesiswaan.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang  organisasi kesiswaan. ( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana ruang organisasi kesiswaan.( )

ü  …

15. Jamban  :

  • Sekolah perlu membangun :

ü  1 jamban.( )

ü  2 jamban.( )

ü  3 jamban ( )

  • Sekolah melengkapi sarana jamban. ( )

ü  …

16. Gudang  :

  • Sekolah perlu membangun gudang.( )
  • Sekolah perlu memperluas gudang.()
  • Sekolah perlu melengkapi sarana gudang .( )

ü  …

17. Ruang Sirkulasi  

  • Sekolah perlu membangun ruang sirkulasi.( )
  • Sekolah perlu memperluas ruang sirkulasi.( )

18. Tempat Bermain / Berolahraga  :

  • Sekolah perlu memperluas tempat bermain/berolah raga.( )
  • Sekolah perlu melengkapi sarana tempat bermain.( )

ü  …

 

(Khusus SMK )

19.       Bengkel/Ruang Praktek.

  • Sekolah perlu membangun bengkel/ruang praktek. ()
  • Sekolah perlu memperbaiki bengkel / ruang praktek. ().
  • Sekolah perlu memperluas bengkel / ruang prakten. ()
  • Sekolah perlu melengkapi sarana bengkel / ruang praktek. ()

5.1. Sarana sekolah sudah memadai
5.1.2. Sekolah memenuhi standar terkait dengan jumlah peserta didik dalam rombongan belajar.

Kekuatan :

  1. Jumlah rombongan belajar memenuhi standar.( )
  2. Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar memenuhi standar.( )

Kelemahan :

  1. Jumlah rombongan belajar tidak memenuhi standar.( )
  2. Jumlah peserta didik dalam setiap rombongan belajar tidak memenuhi standar.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  • Sekolah perlu membatasi jumlah  rombongan belajar.( )
  • Sekolah perlu perlu mengurangi jumlah peserta didik dalam rombongan belajar.( )

37

5.1. Sarana sekolah sudah memadai
5.1.3. Sekolah memenuhi standar terkait dengan penyediaan alat dan sumber belajar termasuk buku pelajaran.

Kekuatan :

(Untuk SD dan SMP)

  1. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di ruang kelas memenuhi standar.( )
  2. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di perpustakaan memenuhi standar.( )
  3. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium IPA memenuhi standar.( )
  4. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di tempat bermain / berolahraga memenuhi standar.( )

(Untuk SMA/SMK)

  1. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di ruang kelas memenuhi standar. ( )
  2. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di perpustakaan memenuhi standar. ( )
  3. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium biologi memenuhi standar. ( )
  4. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium fisika memenuhi standar. ( )
  5. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium kimia memenuhi standar. ( )
  6. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium komputer memenuhi standar. ( )
  7. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium bahasa memenuhi standar. ( )
  8. 8.   Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di tempat bermain / berolahraga memenuhi standar. ( )
  9. 9.   (Khusus SMK) Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di bengkel / Ruang praktek memenuhi standar. ()

Kelemahan :

(Untuk SD dan SMP)

  1. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di ruang kelas tidak memenuhi standar.( )
  2. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di perpustakaan tidak memenuhi standar.( )
  3. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium IPA tidak memenuhi standar.( )
  4. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di tempat bermain / berolahraga tidak memenuhi standar.( )

(Untuk SMA/SMK)

  1. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di ruang kelas tidak memenuhi standar. ( )
  2. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di perpustakaan tidak memenuhi standar. ( )
  3. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium biologi tidak memenuhi standar. ( )
  4. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium fisika tidak memenuhi standar. ( )
  5. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium kimia tidak memenuhi standar. ( )
  6. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium komputer tidak memenuhi standar. ( )
  7. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di laboratorium bahasa tidak memenuhi standar. ( )
  8. Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di tempat bermain / berolahraga tidak memenuhi standar. ( )
  9. (Khusus SMK) Penyediaan alat dan/atau sumber belajar di bengkel / Ruang praktek tidak memenuhi standar. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

(Untuk SD dan SMP)

  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di ruang kelas.( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di perpustakaan.( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di laboratorium IPA.( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di tempat bermain / berolahaga.( )
 (Untuk SMA/SMK)

  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di ruang kelas.( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di perpustakaan.( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di laboratorium biologi .( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di laboratorium fisika .( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di laboratorium kimia .( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di laboratorium komputer.( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di laboratorium bahasa .( )
  1. Sekolah perlu melengkapi alat dan/atau sumber belajar di tempat bermain / berolahaga.( )

38

5.2. Sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik
5.2.1. Pemeliharaan bangunan dilaksanakan secara berkala sesuai dengan persyaratan standar.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun program pemeliharaan bangunan.( )
  2. Pelaksanaan pemeliharaan bangunan memenuhi standar.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak menyusun program pemeliharaan bangunan.( )
  2. Pelaksanaan pemeliharaan bangunan tidak memenuhi standar.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program pemeliharaan bangunan.( )
  2. Sekolah perlu melaksanakan pemeliharaan bangunan setiap tahun.( )
  • ….

5.2. Sekolah dalam kondisi terpelihara dan baik
5.2.2. Bangunan aman dan nyaman untuk semua peserta didik dan memberi kemudahan kepada peserta didik yang berkebutuhan khusus.

Kekuatan :

  1. Bangunan gedung sekolah dilengkapi pemadam kebakaran.( )
  2. Bangunan gedung sekolah  dilengkapi penangkal petir. .( )
  3. Sekolah memiliki pagar. .( )
  4. Sekolah memiliki pintu gerbang yang dapat dikunci. .( )
  5. Lingkungan sekolah terhindar dari polusi. .( )
  6. Bangunan gedung sekolah memiliki sanitasi. .( )
  7. Bangunan gedung sekolah mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu proses pembelajaran. .( )
  8. Setiap ruangan di sekolah memiliki temperatur dan kelembaban udara yang tidak melebihi kondisi di luar ruangan. .( )
  9. Sekolah dalam keadaan bersih. .( )

10. Sekolah dalam keadaan tertib. .( )

11. Sekolah dalam keadaan rindang. .( )

12. Sekolah dalam keadaan indah. .( )

Kelemahan :

  1. Bangunan gedung sekolah belum dilengkapi pemadam kebakaran. .( )
  2. Bangunan gedung sekolah belum dilengkapi penangkal petir. .( )
  3. Sekolah belum memiliki pagar. .( )
  4. Sekolah belum memiliki pintu gerbang yang dapat dikunci. .( )
  5. Lingkungan sekolah tidak terhindar dari polusi. .( )
  6. Bangunan gedung sekolah belum memiliki sanitasi. .( )
  7. Bangunan gedung sekolah tidak mampu meredam getaran dan kebisingan yang mengganggu proses pembelajaran. .( )
  8. Setiap ruangan di sekolah belum memiliki temperatur dan kelembaban udara yang tidak melebihi kondisi di luar ruangan. .( )
  9. Sekolah dalam keadaan tidak bersih. .( )

10. Sekolah dalam keadaan tidak tertib. .( )

11. Sekolah dalam keadaan tidak rindang. .( )

12. Sekolah dalam keadaan tidak indah. .( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

13. Sekolah perlu melengkapi bangunan gedung dengan pemadam kebakaran.( )

14. Sekolah perlu melengkapi bangunan gedung denganpenangkal petir.( )

15. Sekolah perlu membangun pagar.( )

16. Sekolah perlu memperbaiki pagar. ( )

17. Sekolah perlu membangun pintu gerbang.( )

18. Sekolah perlu membangun sanitasi.( )

19. Sekolah perlu memperbaiki sanitasi.( )

20. Sekolah perlu melengkapi bangunan dengan peredam getaran dan kebisingan.( )

21. Sekolah perlu menyediakan pengatur temperatur dan kelembaban udara.( )

22. Sekolah perlu meningkatkan kebersihan sekolah.( )

23. Sekolah perlu meningkatkan ketertiban sekolah.( )

24. Sekolah perlu mengadakan perindangan sekolah.( )

25. Sekolah perlu meningkatkan keindahan sekolah.( )

.

6.STANDAR PENGELOLAAN

Komponen

Indikator

6.1. Kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak 6.1.1. Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan.

6.1.2. Pengelolaan sekolah menunjukkan adanya kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

6.2. Rencana kerja memiliki tujuan yang jelas dan perbaikan berkelanjutan 6.2.1. Sekolah merumuskan rencana kerja dengan tujuan yang jelas untuk peningkatan dan perbaikan berkelanjutan.

6.2.2. Sekolah mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis tujuan untuk peningkatan dan perbaikan berkelanjutan kepada warga sekolah dan pihak-pihak yang berkepentingan.

6.3. Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kerja Sekolah berdampak terhadap peningkatan hasil belajar 6.3.1. Rencana Kerja tahunan dinyatakan dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah (renstra)

6.3.2. Sekolah melakukan evaluasi diri terhadap kinerja sekolah secara berkelanjutan untuk melihat dampaknya terhadap peningkatan hasil belajar

6.3.3. Sekolah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kinerja, dan melakukan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi diri dengan memfokuskan pada peningkatan hasil belajar.

6.4. Pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid 6.4.1. Sekolah mengelola sistem informasi pengelolaan dengan cara yang efektif, efisien dan dapat dipertanggungjawabkan

6.4.2. Sekolah menyediakan sistem informasi yang efisien, efektif, dan dapat diakses

6.5. Pemberian dukungan dan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan 6.5.1. Sekolah meningkatkan keefektifan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dan pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan

6.5.2. Supervisi dan evaluasi pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan standar nasional

6.6. Masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah 6.6.1. Warga sekolah terlibat dalam pengelolaan kegiatan akademis dan nonakademis.

6.6.2. Sekolah melibatkan anggota masyarakat khususnya pengelolaan kegiatan nonakademis.

..

6.STANDAR PENGELOLAAN
6.1.       Kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak
6.1.1. Sekolah merumuskan visi dan misi serta disosialisasikan kepada warga sekolah dan pemangku kepentingan.

Kekuatan :

  1. Sekolah memiliki Visi dan Visi.
  2. Sekolah dalam menyusun Visi dan Misi melibatkan Semua pemangku kepentingan.( )
  3. Visi dan misi sekolah selaras dengan visi dan misi Dinas Pendidikan. ( )
  4. Visi dan misi sekolah diputuskan melalui rapat dewan pendidik dan komite sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah. ( )
  5. Sekolah mensosialisasikan Visi dan Misi kepada warga sekolah. ( )
  6. Sekolah mensosialisasikan Visi dan Misi kepada orangta peserta didik. ( )
  7. Sekolah mensosialisasikan Visi dan Misi kepada masyarakat sekitar. ( )
  8. Visi dan misi sekolah difahami oleh semua warga sekolah. ( )
  9. Sekolah mereviu Visi dan Misi secara berkala. ( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak  memiliki Visi dan Visi. ( )
  2. Sekolah dalam menyusun Visi dan Misi belum melibatkan semua pemangku kepentingan. ( )
  3. Visi dan misi sekolah tidak selaras dengan visi dan misi Dinas Pendidikan. ( )
  4. Visi dan misi sekolah diputuskan tidak melalui rapat dewan pendidik dan komite sekolah yang dipimpin oleh kepala sekolah. ( )
  5. Sekolah tidak mensosialisasikan Visi dan Misi kepada warga sekolah. ( )
  6. Sekolah tikak mensosialisasikan Visi dan Misi kepada orangta peserta didik. ( )
  7. Sekolah tidak mensosialisasikan Visi dan Misi kepada masyarakat sekitar. ( )
  8. Visi dan misi sekolah belum difahami oleh semua warga sekolah. ( )
  9. Sekolah tidak mereviu Visi dan Misi secara berkala. ( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun memiliki Visi dan Visi. ( )
  2. Sekolah perlu melibatkan semua pemangku kepentingan dalam menyusun Visi dan Misi. ( )
  3. Sekolah perlu menyelaraskan visi dan visi sekolah dengan visi dan misi Dinas Pendidikan. ( )
  4. Sekolah perlu memutuskan visi dan misi melalui rapat dewan guru, komite sekolah, dan kepala sekolah ( )
  5. Sekolah perlu mensosialisasikan Visi dan Misi kepada warga sekolah. ( )
  6. Sekolah perlu mensosialisasikan Visi dan Misi kepada orangta peserta didik. ( )
  7. Sekolah perlu mensosialisasikan Visi dan Misi kepada masyarakat sekitar. ( )
  8. Sekolah perlu mereviu Visi dan Misi secara berkala. ( )

6.1.      Kinerja pengelolaan sekolah berdasarkan kerja tim dan kemitraan yang kuat dengan visi dan misi yang jelas dan diketahui oleh semua pihak
6.1.2. Pengelolaan sekolah menunjukkan adanya kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan, dan akuntabilitas.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun/merumuskun RKS. ( )
  2. Sekolah dalam menyusun rencana kerja sekolah melibatkan semua pemangku kepentingan. ( )
  3. Sekolah menjadikan RKS sebagai dasar penyusunan RKAS. ( )
  4. Rencana Kerja Sekolah (RKS) disahkan oleh Dinas Pendidikan. ( )
  5. Sekolah  memajang Rencana Kerja Sekolah (RKS)  di tempat-tempat strategis. ( )
  6. Sekolah melaporkan pelaksanaan RKS kepada Dinas Pendidikan setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  7. Sekolah melaporkan pelaksanaan RKS kepada Komite Sekolah setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  8. Sekolah tidak menyusun/merumuskun RKS. ( )
  9. Sekolah dalam menyusun rencana kerja sekolah tidak melibatkan semua pemangku kepentingan. ( )
  10. Sekolah tidak menjadikan RKS sebagai dasar penyusunan RKAS. ( )
  11. Rencana Kerja Sekolah (RKS)tidak  disahkan oleh Dinas Pendidikan. ( )
  12. Sekolah  tidak memajang Rencana Kerja Sekolah (RKS)  di tempat-tempat strategis. ( )
  13. Sekolah tidak melaporkan pelaksanaan RKS kepada Dinas Pendidikan setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  14. Sekolah tidak melaporkan pelaksanaan RKS kepada Komite Sekolah setiap akhir tahun pelajaran. ( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun/merumuskun RKS. ( )
  2. Sekolah perlu melibatkan semua pemangku kepentingan dalam menyusun rencana kerja sekolah. ( )
  3. Sekolah perlu menjadikan RKS sebagai dasar penyusunan RKAS. ( )
  4. Sekolah perlu memintakan pengesahan Rencana Kerja Sekolah (RKS) kepada Dinas Pendidikan. ( )
  5. Sekolah  perlu memajang Rencana Kerja Sekolah (RKS)  di tempat-tempat strategis. ( )
  6. Sekolah perlu melaporkan pelaksanaan RKS kepada Dinas Pendidikan setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  7. Sekolah perlu melaporkan pelaksanaan RKS kepada Komite Sekolah setiap akhir tahun pelajaran. ( )

6.2. Rencana kerja memiliki tujuan yang jelas dan perbaikan berkelanjutan
6.2.1. Sekolah merumuskan rencana kerja dengan tujuan yang jelas untuk peningkatan dan perbaikan berkelanjutan.

Kekuatan :

  1. Sekolah  merumuskan tujuan sekolah. ( )
  2. Tujuan sekolah  menggambarkan kualitas yang ingin dicapai. ( )
  3. Tujuan sekolah  mengacu pada visi, misi, dan SKL. ( )
  4. Tujuan sekolah dirumuskan melalui rapat Kepala Sekolah, dewan pendidik dan komite sekolah. ( )

Kelemahan :

  1. Sekolah  tidak merumuskan tujuan sekolah. ( )
  2. Tujuan sekolah tidak  menggambarkan kualitas yang ingin dicapai. ( )
  3. Tujuan sekolah tidak mengacu pada visi, misi, dan SKL. ( )
  4. Tujuan sekolah dirumuskan tidak melalui rapat Kepala Sekolah, dewan pendidik dan komite sekolah. ( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah  perlu merumuskan tujuan sekolah. ( )
  2. Sekolah perlu menyusun tujuan sekolah yang  menggambarkan kualitas yang ingin dicapai. ( )
  3. Sekolah perlu menyusun tujuan sekolah yang  mengacu pada visi, misi, dan SKL. ( )
  4. Sekolah perlu  merumuskan melalui rapat Kepala Sekolah, dewan pendidik dan komite sekolah. (

6.2. Rencana kerja memiliki tujuan yang jelas dan perbaikan berkelanjutan
6.2.2.   Sekolah mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis tujuan untuk peningkatan dan perbaikan berkelanjutan kepada warga sekolah dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Kekuatan :

  1. Sekolah mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis tujuan sekolah kepada semua warga sekolah.
  2. Sekolah mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis tujuan sekolah kepada semua pihak yang berkepentingan.

Kelemahan :

  1. Sekolah belum mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis tujuan sekolah kepada semua warga sekolah.
  2. Sekolah belum mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis tujuan sekolah kepada semua pihak yang berkepentingan.

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis sekolah kepada warga sekolah.( )
  2. Sekolah perlu mensosialisasikan rencana kerja yang berbasis tujuan sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan.( )

6.3. Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kerja Sekolah berdampak terhadap peningkatan hasil belajar
6.3.1. Rencana Kerja tahunan dinyatakan dalam rencana kegiatan dan anggaran sekolah dilaksanakan berdasarkan rencana jangka menengah (renstra)

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).( )
  2. Sekolah melaksanakan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah berdasarkan pada Rencana Kerja Sekolah ( )
  3. Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah memuat ketentuan Standar Nasional Pendidikan. ( )
  4. Sekolah  memajang RKAS pada tempat-tempat yang strategis. ( )
  5. Sekolah mensosialisasikan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah kepada semua warga sekolah. ( )
  6. Sekolah melaporkan pelaksanaan RKAS kepada Dinas Pendidikan setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  7. Sekolah melaporkan pelaksanaan RKAS kepada Komite Sekolah dan Orangtua peserta didik setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  8. Sekolah tidak menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).( )
  9. Sekolah melaksanakan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah tidak berdasarkan pada Rencana Kerja Sekolah ( )
  10. Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah tidak memuat ketentuan Standar Nasional Pendidikan. ( )
  11. Sekolah  tidak memajang RKAS pada tempat-tempat yang strategis. ( )
  12. Sekolah tidak mensosialisasikan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah kepada semua warga sekolah. ( )
  13. Sekolah tidak melaporkan pelaksanaan RKAS kepada Dinas Pendidikan setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  14. Sekolah melaporkan pelaksanaan RKAS kepada Komite Sekolah dan Orangtua peserta didik setiap akhir tahun pelajaran. ( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS).( )
  2. Sekolahperlu melaksanakan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah berdasarkan pada Rencana Kerja Sekolah ( )
  3. Sekolah perlu memaksukkan ketentuan Standar Nasional Pendidikan ke dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah ( )
  4. Sekolah  perlu memajang RKAS pada tempat-tempat yang strategis. ( )
  5. Sekolah perlu mensosialisasikan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah kepada semua warga sekolah. ( )
  6. Sekolah perlu melaporkan pelaksanaan RKAS kepada Dinas Pendidikan setiap akhir tahun pelajaran. ( )
  7. Sekolah perlu melaporkan pelaksanaan RKAS kepada Komite Sekolah dan Orangtua peserta didik setiap akhir tahun pelajaran. ( )

6.3. Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kerja Sekolah berdampak terhadap peningkatan hasil belajar
6.3.2. Sekolah melakukan evaluasi diri terhadap kinerja sekolah secara berkelanjutan untuk melihat dampaknya terhadap peningkatan hasil belajar.

Kekuatan :

  1. Sekolah melakukan evaluasi diri terhadap kinerja sekolah.( )
  2. Sekolah melaksanakan evaluasi proses pembelajaran setiap akhir semester. ( )
  3. Sekolah melaksanakan evaluasi program kerja tahunan / RKAS setiap akhir tahun. ( )
  4. Sekolah menganalisa terhadaphasil evaluasi. ( )
  5. Sekolah menyusun laporan hasil evaluasi diri sekolah. ( )
  6. Sekolah menysun skala prioritas kegiatan dan program tindak lanjut terhadap hasil evaluasi diri sekolah. ( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak melakukan evaluasi diri terhadap kinerja sekolah. ( )
  2. Sekolah tidak melaksanakan evaluasi proses pembelajaran setiap akhir semester. ( )
  3. Sekolah tidak melaksanakan evaluasi program kerja tahunan / RKAS setiap akhir tahun. ( )
  4. Sekolah menganalisa terhadap hasil evaluasi diri sekolah. ( )
  5. Sekolah tidak menyusun laporan hasil evaluasi diri sekolah. ( )
  6. Sekolah tidak menyusun skala prioritas kegiatan dan program tindak lanjut terhadap hasil evaluasi diri sekolah. ( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu melakukan evaluasi diri terhadap kinerja sekolah. ( )
  2. Sekolah perlu melaksanakan evaluasi proses pembelajaran setiap akhir semester. ( )
  3. Sekolah perlu melaksanakan evaluasi program kerja tahunan / RKAS setiap akhir tahun. ( )
  4. Sekolah perlu menganalisa terhadap hasil evaluasi diri sekolah. ( )
  5. Sekolah perlu menyusun laporan hasil evaluasi diri sekolah. ( )
  6. Sekolah perlu menyusun skala prioritas kegiatan dan program tindak lanjut terhadap hasil evaluasi diri sekolah. ( )

6.3. Rencana Pengembangan Sekolah/Rencana Kerja Sekolah berdampak terhadap peningkatan hasil belajar
6.3.3. Sekolah menetapkan prioritas indikator untuk mengukur, menilai kinerja, dan melakukan perbaikan berdasarkan hasil evaluasi diri dengan memfokuskan pada peningkatan hasil belajar.

Kekuatan :

  1. Sekolah kami menyusun indikator keberhasilan kinerja proses pembelajaran.( )
  2. Sekolah menyusun KKM untuk setiap mata pelajaran. ( )
  3. Sekolah mensosialisasikan indikator keberhasilan kinerja proses pembelajaran kepada segenap warga sekolah. ( )
  4. Sekolah melakukan penilaian kinerja proses pembelajaran. ( )
  5. Sekolah melkukan penilaian keberhasilan proses pembelajaran /ketercapaian KKM. ( )
  6. Sekolah melakukan perbaikan kinerja proses pembelajaran. ( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak menyusun indikator keberhasilan kinerja proses pembelajaran.( )
  2. Sekolah tidakmenyusun KKM untuk setiap mata pelajaran. ( )
  3. Sekolah tidak mensosialisasikan indikator keberhasilan kinerja proses pembelajaran kepada segenap warga sekolah. ( )
  4. Sekolah tidak melakukan penilaian kinerja proses pembelajaran. ( )
  5. Sekolah tidak melkukan penilaian keberhasilan proses pembelajaran /ketercapaian KKM. ( )
  6. Sekolah tidak melakukan perbaikan kinerja proses pembelajaran. ( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun indikator keberhasilan kinerja proses pembelajaran.( )
  2. Sekolah perlu menyusun KKM untuk setiap mata pelajaran. ( )
  3. Sekolah perlu mensosialisasikan indikator keberhasilan kinerja proses pembelajaran kepada segenap warga sekolah. ( )
  4. Sekolah perlu melakukan penilaian kinerja proses pembelajaran. ( )
  5. Sekolah perlu melkukan penilaian keberhasilan proses pembelajaran /ketercapaian KKM. ( )
  6. Sekolah perlu melakukan perbaikan kinerja proses pembelajaran. ( )

6.4. Pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid
6.4.1. Sekolah mengelola sistem informasi pengelolaan dengan cara yang efektif, efisien dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kekuatan :

  1. Sekolah memiliki program pengelolaan sistem informasi.( )
  2. Sekolah mengelola Sistim Informasi Manajemen Pendidikan.( )
  3. Komunikasi antar warga sekolah efektif dan efisien. ( )
  4. Sekolah melaksanakan pendataan secara lengkap dan akurat.( )
  5. Sekolah melaporkan data secara lengkap dan akurat.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak memiliki program pengelolaan sistem informasi.( )
  2. Sekolah tidak mengelola Sistim Informasi Manajemen Pendidikan.( )
  3. Komunikasi antar warga sekolah tidak efektif dan efisien. ( )
  4. Sekolah tidak melaksanakan pendataan secara lengkap dan akurat.( )
  5. Sekolah tidak melaporkan data secara lengkap dan akurat.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program pengelolaan sistem informasi.( )
  2. Sekolah perlu mengelola/menyelenggarakan Sistim Informasi Manajemen Pendidikan.( )
  3. Sekolah perlu memfasilitasi Komunikasi antar warga secara efektif dan efisien. ( )
  4. Sekolah perlu melaksanakan pendataan secara lengkap dan akurat.( )
  5. Sekolah perlu melaporkan data secara lengkap dan akurat.( )
6.4. Pengumpulan dan penggunaan data yang handal dan valid
6.4.2. Sekolah menyediakan sistem informasi yang efisien, efektif, dan dapat diakses.

Kekuatan :

  1. Sekolah memiliki fasilitas informasi yang memenuhi standar.( )
  2. Sekolah memiliki petugas untuk melayani permintaan informasi, pemberian informasi, pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sekolah( )
  3. Sekolah mencatat dan didokumentasikan semua informasi dari masyarakat.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah belum memiliki fasilitas informasi yang memenuhi standar.( )
  2. Sekolah tidak memiliki petugas untuk melayani permintaan informasi, pemberian informasi, pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sekolah( )
  3. Sekolah tidak mencatat dan mendokumentasikan semua informasi dari masyarakat.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu mengadakan fasilitas informasi yang memenuhi standar.( )
  1. Sekolah perlu mengangkat petugas untuk melayani permintaan informasi, pemberian informasi, pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan pengelolaan sekolah.( )
  2. Sekolah perlu mencatat dan mendokumentasikan semua informasi dari masyarakat.( )

6.5. Pemberian dukungan dan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan
6.5.1. Sekolah meningkatkan keefektifan kinerja pendidik dan tenaga kependidikan dan pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun program pemberdayaan Pendidik dan Tanaga Kependidikan.( )
  2. Sekolah mendukung kebijakan dinas dalam memberdayakan Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  3. Sekolah menyusun / memiliki deskripsi tugas pokok dan fungsi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  4. Sekolah memfasilitasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan untuk pengembangan profesinya.( )
  5. Sekolah mengevaluasi pelaksanaan program pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan setiap akhir semester.( )
  6. Sekolah tidak menyusun program pemberdayaan Pendidik dan Tanaga Kependidikan.( )
  7. Sekolah tidak mendukung kebijakan dinas dalam memberdayakan Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  8. Sekolah tidak menyusun / memiliki deskripsi tugas pokok dan fungsi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  9. Sekolah tidak memfasilitasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan untuk pengembangan profesinya.( )
  10. Sekolah tidak mengevaluasi pelaksanaan program pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan setiap akhir semester.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program pemberdayaan Pendidik dan Tanaga Kependidikan.( )
  2. Sekolah perlu mendukung kebijakan dinas dalam memberdayakan Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  3. Sekolah perlu menyusun / memiliki deskripsi tugas pokok dan fungsi Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  4. Sekolah perlu memfasilitasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan untuk pengembangan profesinya.( )

-          …..

  1. Sekolah perlu mengevaluasi pelaksanaan program pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan setiap akhir semester.( )

6.5. Pemberian dukungan dan kesempatan pengembangan profesi bagi para pendidik dan tenaga kependidikan
6.5.2. Supervisi dan evaluasi pendidik dan tenaga kependidikan sesuai dengan standar nasional

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun program pengawasan terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan.( )
  2. Sekolah mensosialisasikan program pengawasan kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  3. Komite Sekolah melakukan pemantauan terhadap pengelolaan sekolah.( )
  4. Kepala Sekolah melaksanakan supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik setiap bulan.( )
  5. Pengawas Sekolah melaksanakan supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik setiap bulan.( )
  6. Pengawas Sekolah melaporkan hasil supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik kepada sekolah.( )
  7. Semua pendidik melaporkan hasil evaluasi dan penilaian kepada Kepala Sekolah setiap semester.( )
  8. Semua pendidik melaporkan hasil evaluasi dan penilaian kepada orangtua peserta didik setiap semester.( )
  9. Sekolah tidak menyusun program pengawasan terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan.( )
  10. Sekolah tidak mensosialisasikan program pengawasan kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  11. Komite Sekolah tidak melakukan pemantauan terhadap pengelolaan sekolah.( )
  12. Kepala Sekolah tidak melaksanakan supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik setiap bulan.( )
  13. Pengawas Sekolah tidak melaksanakan supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik setiap bulan.( )
  14. Pengawas Sekolah tidak melaporkan hasil supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik kepada sekolah.( )
  15. Semua pendidik tidak melaporkan hasil evaluasi dan penilaian kepada Kepala Sekolah setiap semester.( )
  16. Semua pendidik tidak melaporkan hasil evaluasi dan penilaian kepada orangtua peserta didik setiap semester.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program pengawasan terhadap Pendidik dan Tenaga Kependidikan yang didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan.( )
  2. Sekolah perlu mensosialisasikan program pengawasan kepada Pendidik dan Tenaga Kependidikan.( )
  3. Komite Sekolah perlu melakukan pemantauan terhadap pengelolaan sekolah.( )
  4. Kepala Sekolah perlu melaksanakan supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik setiap bulan.( )
  5. Pengawas Sekolah perlu melaksanakan supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik setiap bulan.( )
  6. Pengawas Sekolah perlu melaporkan hasil supervisi dan evaluasi pengelolaan akademik kepada sekolah.( )
  7. Semua pendidik perlu melaporkan hasil evaluasi dan penilaian kepada Kepala Sekolah setiap semester.( )
  8. Semua pendidik perlu melaporkan hasil evaluasi dan penilaian kepada orangtua peserta didik setiap semester.( )

6.6. Masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah
6.6.1. Warga sekolah terlibat dalam pengelolaan kegiatan akademis dan nonakademis.

Kekuatan :

1.   Sekolah memiliki program keterlibatan warga sekolah dalam pengelolaan kegiatan akademik dan non akademik.( )

2.   Sekolah melibatkan semua warga sekolah dalam pengelolaan akademik.( )

3.   Sekolah melibatkan semua warga sekolah dalam pengelolaan nonakademik.( )

Kelemahan :

1.   Sekolah tidak memiliki program keterlibatan warga sekolah dalam pengelolaan kegiatan akademik dan non akademik.( )

2.   Sekolah tidak melibatkan semua warga sekolah dalam pengelolaan akademik.( )

3.   Sekolah tidak melibatkan semua warga sekolah dalam pengelolaan nonakademik.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

1.    Sekolah perlu memiliki program keterlibatan warga sekolah dalam pengelolaan kegiatan akademik dan non akademik.( )

2.    Sekolah perlu melibatkan semua warga sekolah dalam pengelolaan akademik.( )

3.    Sekolah perlu melibatkan semua warga sekolah dalam pengelolaan non akademik.( )

6.6. Masyarakat mengambil bagian dalam kehidupan sekolah
6.6.2. Sekolah melibatkan anggota masyarakat khususnya pengelolaan kegiatan nonakademis.

Kekuatan :

  1. 1.   Sekolah memiliki program pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kegiatan non akademik.( )
  2. 2.   Sekolah melibatkan masyarakat dalam kegiatan non akademik.( )
  3. 3.   Sekolah menjalin kemitraan dengan lembaga masyarakat.( )
  4. 1.   Sekolah tidak memiliki program pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kegiatan non akademik.( )
  5. 2.   Sekolah tidak melibatkan masyarakat dalam kegiatan non akademik.( )
  6. 3.   Sekolah tidak menjalin kemitraan dengan lembaga masyarakat.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memiliki program pelibatan masyarakat dalam pengelolaan kegiatan non akademik.( )
  2. Sekolah perlu melibatkan masyarakat dalam kegiatan non akademik.( )
  3. Sekolah perlu menjalin kemitraan dengan lembaga masyarakat.( )

7.STANDAR PEMBIAYAAN

Komponen

Indikator

7.1.  Sekolah merencanakan keuangan sesuai standar 7.1.1.  Anggaran sekolah dirumuskan merujuk Peraturan Pemerintah, pemerintahan provinsi, dan pemerintahan kabupaten/kota

7.1.2.  Perumusan RAPBS melibatkan Komite sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan

7.1.3.  Penyusunan rencana keuangan sekolah dilakukan secara transparan, efisien, dan akuntabel.

7.1.4.  Sekolah membuat pelaporan keuangan kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan.

7.2.  Upaya sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya 7.2.1.  Sekolah memiliki kapasitas untuk mencari dana dengan inisiatifnya sendiri

7.2.2.  Sekolah membangun jaringan kerja dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri setempat.

7.2.3.  Sekolah memelihara hubungan dengan alumni.

7.3.  Sekolah menjamin kesetaraan akses 7.3.1.  Sekolah melayani siswa dari berbagai tingkatan sosial ekonomi termasuk siswa dengan kebutuhan khusus.

7.3.2.  Sekolah melakukan subsidi silang kepada siswa kurang mampu di bidang ekonomi

54

7. STANDAR PEMBIAYAAN
7.1. Sekolah merencanakan keuangan sesuai standar
7.1.1. Anggaran sekolah dirumuskan merujuk Peraturan Pemerintah, pemerintahan provinsi, dan pemerintahan kabupaten/kota

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun RAPBS/ RKAS .( )
  2. RAPBS/RKAS  dirumuskan dengan merujuk pada peraturan yang berlaku.( )
  3. RAPBS / RKAS sekolah kami berisi program kegiatan, sumber dana dan nominalnya,serta pembelanjaan dan nominalnya.( )
  4. Sekolah tidak menyusun RAPBS/ RKAS .( )
  5. RAPBS/RKAS  dirumuskan tidak merujuk pada peraturan yang berlaku.( )
  6. RAPBS / RKAS sekolah kami tidak berisi program kegiatan, sumber dana dan nominalnya,serta pembelanjaan dan nominalnya.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun RAPBS/ RKAS .( )
  2. Sekolah dalam menyusun /merumuskan RAPBS/RKAS  perlu merujuk pada peraturan yang berlaku.( )
  3. Sekolah perlu memasukkan program  program kegiatan, sumber dana dan nominalnya,serta pembelanjaan dan nominalnya ke dalam RAPBS/RAKS.( )

7.1. Sekolah merencanakan keuangan sesuai standar
7.1.2. Perumusan RAPBS melibatkan Komite sekolah dan pemangku kepentingan yang relevan.

Kekuatan :

  1. Sekolah dalam menyusun RAPBS melibatkan Komite Sekolah dan pemangku kepentingan uang relevan.( )
  2. RAPBS sekolah  diketahui/disahkan oleh pemerintah.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah dalam menyusun RAPBS tidak melibatkan Komite Sekolah dan pemangku kepentingan uang relevan.( )
  2. RAPBS sekolah  tidak diketahui/disahkan oleh pemerintah.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah dalam menyusun RAPBS/RKAS perlu melibatkan Komite Sekolah dan pemangku kepentingan uang relevan.( )
  2. RAPBS/RKAS sekolah  perlu diketahui/disahkan oleh pemerintah.( )

7.1.3. Penyusunan rencana keuangan sekolah dilakukan secara transparan, efisien, dan akuntabel.

Kekuatan :

  1. Sekolah mengumumkan  rencana pengelolaan keuangan  kepada pemangku kepentingan.( )
  2. Pengelolaan keuangan sekolah dapat diketahui dengan mudah oleh semua pemangku kepentingan sekolah.( )
  3. Pembelanjaan keuangan sekolah sesuai dengan  rencana anggaran.( )
  4. Sekolah memiliki catatan logistik (uang dan barang) sesuai dengan mata anggaran dan sumber dananya masing-masing,( )
  5. Sekolah melaksanakan  pembukuan keuangan sekolah.( )
  6. Pemeriksaan Buku Kas sekolah dilakukan secara periodik oleh petugas yang berwenang.( )
  7. Setiap transaksi keuangan (penerimaan dan pengeluaran) disertai dengan bukti yang sah.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak mengumumkan  rencana pengelolaan keuangan  kepada pemangku kepentingan.( )
  2. Pengelolaan keuangan sekolah tidak dapat diketahui dengan mudah oleh semua pemangku kepentingan sekolah.( )
  3. Pembelanjaan keuangan sekolah tidak sesuai dengan  rencana anggaran.( )
  4. Sekolah memiliki catatan logistik (uang dan barang) tidak sesuai dengan mata anggaran dan sumber dananya masing-masing,( )
  5. Sekolah belum melaksanakan  pembukuan keuangan sekolah.( )
  6. Pemeriksaan Buku Kas sekolah tidak dilakukan secara periodik oleh petugas yang berwenang.( )
  7. Setiap transaksi keuangan (penerimaan dan pengeluaran) tidak disertai dengan bukti yang sah.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu mengumumkan  rencana pengelolaan keuangan  kepada pemangku kepentingan.( )
  2. Sekolah perlu mempermudah semua  pemangku kepentingan untuyk mengetahui pengelolaan keuangan sekolah.( )
  3. Sekolah perlu menyesuaikanpembelanjaan keuangan sekolah rencana anggaran.( )
  4. Sekolah perlu menyusun catatan logistik (uang dan barang) yang sesuai dengan mata anggaran dan sumber dananya masing-masing,( )
  5. Sekolah perlu melaksanakan  pembukuan keuangan sekolah.( )
  6. Pemeriksaan Buku Kas sekolah perlu dilakukan secara periodik oleh petugas yang berwenang.( )
  7. Sekolah perlu melengkapi setiap transaksi keuangan (penerimaan dan pengeluaran) dengan bukti yang sah.( )

7.1. Sekolah merencanakan keuangan sesuai standar
7.1.4. Sekolah membuat pelaporan keuangan kepada Pemerintah dan pemangku kepentingan.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun laporan pengelolaan keuangan.( )
  2. Sekolah melaporkan pengelolaan keuangan kepada pemerintah.( )
  3. Sekolah melaporkan pengelolaan keuangan kepada warga sekolah.( )
  4. Sekolah melaporkan pengelolaan keuangan kepada masyarakat.( )
  5. Sekolah tidak menyusun laporan pengelolaan keuangan.( )
  6. Sekolah tidak melaporkan pengelolaan keuangan kepada pemerintah.( )
  7. Sekolah tidak melaporkan pengelolaan keuangan kepada warga sekolah.( )
  8. Sekolah tidak melaporkan pengelolaan keuangan kepada masyarakat.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun laporan pengelolaan keuangan.( )
  2. Sekolah perlu melaporkan pengelolaan keuangan kepada pemerintah.( )
  3. Sekolah perlu melaporkan pengelolaan keuangan kepada warga sekolah.( )
  4. Sekolah perlu melaporkan pengelolaan keuangan kepada masyarakat.( )
7.2. Upaya sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya
7.2.1. Sekolah memiliki kapasitas untuk mencari dana dengan inisiatifnya sendiri

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun pengembangan kewirausahaan.( )
  2. Sekolah menyelenggarakan kegiatan kewirausahaan.( )
  3. Sekolah mengidentifikasi sumber dana dan donator.( )
  4. Sekolah menyusun proposal penggalian dana.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak menyusun pengembangan kewirausahaan.( )
  2. Sekolah tidak menyelenggarakan kegiatan kewirausahaan.( )
  3. Sekolah tidak mengidentifikasi sumber dana dan donator.( )
  4. Sekolah tidak menyusun proposal penggalian dana.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun pengembangan kewirausahaan.( )
  2. Sekolah perlu menyelenggarakan kegiatan kewirausahaan.( )
  3. Sekolah perlu mengidentifikasi sumber dana dan donator.( )
  4. Sekolah perlu menyusun proposal penggalian dana.( )

7.2. Upaya sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya
7.2.2. Sekolah membangun jaringan kerja dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri setempat.

Kekuatan :

  1. Sekolah mengidentifikasi Dunia Usaha dan Dunia Industry  yang memiliki dana CSR (Coorporate Social Responsibility) .( )
  2. Sekolah menyusun proposal penggalian dana .( )
  3. Sekolah melakukan kegiatan dengan melibatkan DUDI.( )
  4. Sekolah tidak mengidentifikasi Dunia Usaha dan Dunia Industry  yang memiliki dana CSR (Coorporate Social Responsibility).( )
  5. Sekolah tidak menyusun proposal penggalian dana .( )
  6. Sekolah tidak melakukan kegiatan dengan melibatkan DUDI.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu mengidentifikasi Dunia Usaha dan Dunia Industry  yang memiliki dana CSR (Coorporate Social Responsibility).( )
  2. Sekolah perlu menyusun proposal penggalian dana .( )
  3. Sekolah perlu melakukan kegiatan dengan melibatkan DUDI.( )

7.2. Upaya sekolah untuk mendapatkan tambahan dukungan pembiayaan lainnya
7.2.3. Sekolah memelihara hubungan dengan alumni.

Kekuatan :

  1. Sekolah memiliki data alumni yang lengkap.( )
  2. Sekolah memiliki wadah / organisasi alumni.( )
  3. Sekolah mempunyai program kegiatan yang melibatkan alumni.( )
  4. Sekolah memanfatkan sumberdaya alumni .( )
  5. Sekolah tidak memiliki data alumni yang lengkap.( )
  6. Sekolah tidak memiliki wadah / organisasi alumni.( )
  7. Sekolah tidak mempunyai program kegiatan yang melibatkan alumni.( )
  8. Sekolah tidak memanfatkan sumberdaya alumni .( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu membuat data alumni yang lengkap.( )
  2. Sekolah perlu membuat wadah / organisasi alumni.( )
  3. Sekolah perlu membuat program kegiatan yang melibatkan alumni.( )
  4. Sekolah perlu memanfatkan sumberdaya alumni .( )

7.3. Sekolah menjamin kesetaraan akses
7.3.1. Sekolah melayani siswa dari berbagai tingkatan sosial ekonomi termasuk siswa dengan kebutuhan khusus.

Kekuatan :

  1. Sekolah menerima siswa usia sekolah dari semua  lapisan/tingkatan sosial ekonomi.
  2. Sekolah menerima siswa yang berkebutuhan khusus. (Jika ada yang mendaftar)
  3. Sekolah menerima siswa usia sekolah tidak dari semua  lapisan/tingkatan sosial ekonomi.
  4. Sekolah tidak menerima siswa yang berkebutuhan khusus. (Jika ada yang mendaftar)
  1. Sekolah memberi bantuan kebutuhan perlengkapan sekolah siswa kurang mampu.
  2. Sekolah mengupayakan bantuan beasiswa  untuk anak miskin.

Kelemahan :

  1. Sekolah tidaj memberi bantuan kebutuhan perlengkapan sekolah siswa kurang mampu.
  2. Sekolah tidak mengupayakan bantuan beasiswa  untuk anak miskin.

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menerima siswa usia sekolah dari semua  lapisan/tingkatan sosial ekonomi. ()
  2. (Jika ada yang mendaftar) Sekolah perlu menerima siswa yang berkebutuhan khusus. ()
  3. Sekolah perlu memberi bantuan kebutuhan perlengkapan sekolah siswa kurang mampu. ()
  4. Sekolah perlu mengupayakan bantuan beasiswa  untuk anak miskin. ()

7.3. Sekolah menjamin kesetaraan akses
7.3.2. Sekolah melakukan subsidi silang kepada siswa kurang mampu di bidang ekonomi

Kekuatan :

  1. Sekolah  mengidentifikasi tingkat ekonomi orang tua siswa.
  2. Besar Iuran sekolah disesuaikan dengan kemampuan dan kesanggupan orang tua.
  3. Sekolah membebaskan biaya pendidikan bagi siswa miskin.

Kelemahan :

  1. Sekolah  tidak mengidentifikasi tingkat ekonomi orang tua siswa.
  2. Besar Iuran sekolah tidak disesuaikan dengan kemampuan dan kesanggupan orang tua.
  3. Sekolah tidak membebaskan biaya pendidikan bagi siswa miskin.

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah  perlu mengidentifikasi tingkat ekonomi orang tua siswa.
  2. Besar Iuran sekolah perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kesanggupan orang tua.
  3. Sekolah perlu membebaskan biaya pendidikan bagi siswa miskin.

8.STANDAR PENILAIAN

Komponen

Indikator

8.1.  Sistem penilaian disusun untuk menilai peserta didik baik dalam bidang akademik maupun nonakademik 8.1.1.  Guru menyusun perencanaan penilaian terhadap pencapaian kompetensi peserta didik.

8.1.2.  Guru memberikan informasi kepada peserta didik mengenai kriteria penilaian termasuk Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

8.1.3.  Guru melaksanakan penilaian secara teratur berdasarkan rencana yang telah dibuat.

8.1.4.  Guru menerapkan berbagai teknik, bentuk, dan jenis penilaian untuk mengukur prestasi dan kesulitan belajar peserta didik.

8.2.  Penilaian berdampak pada proses belajar 8.2.1.  Guru memberikan masukan dan komentar mengenai penilaian yang mereka lakukan pada peserta didik.

8.2.2.  Guru menggunakan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.

8.3.  Orangtua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka 8.3.1.  Sekolah melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orangtua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan.

8.3.2.  Sekolah melibatkan orangtua peserta didik dalam meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa.

65

8. STANDAR PENILAIAN
8.1. Sistem penilaian disusun untuk menilai peserta didik baik dalam bidang akademik maupun nonakademik
8.1.1. Guru menyusun perencanaan penilaian terhadap pencapaian kompetensi peserta didik.

Kekuatan :

  1. Semua pendidik menyusun KKM.( )
  2. Semua pendidik menyusun kisi-kisi soal. .( )
  3. Semua pendidik menyusun instrumen penilaian. .( )
  4. Semua pendidik menyusun rubrik penilaian. .( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua pendidik menyusun KKM. .( )
  2. Tidak semua pendidik menyusun kisi-kisi soal. .( )
  3. Tidak semua pendidik menyusun instrumen penilaian. .( )
  4. Tidak semua pendidik menyusun rubrik penilaian. .( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memfasilitasi agar semua pendidik menyusun KKM. .( )
  2. Sekolah perlu memfasilitasi agar semua pendidik menyusun kisi-kisi soal .( )
  3. Sekolah perlu memfasilitasi agar semua pendidik menyusun instrumen penilaian. .( )
  4. Sekolah perlu memfasilitasi agar semua pendidik menyusun rubrik penilaian. .( )

8.1. Sistem penilaian disusun untuk menilai peserta didik baik dalam bidang akademik maupun nonakademik
8.1.2. Guru memberikan informasi kepada peserta didik mengenai kriteria penilaian termasuk Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Kekuatan :

  1. Semua pendidik menginformasikan kopetensi dasar (Indikator) kepada peserta didik.( )
  2. Semua pendidik menginformasikan Kriteria Ketuntasan Minimal kepada peserta didik.( )
  3. Semua pendidik menginformasikan tehnik penilaian kepada peserta didik.( )
  4. Semua pendidik menginformasikan rubrik penilaian kepada peserta didik.( )
  5. Semua pendidik menginformasikan waktu penilaian kepada peserta didik.( )
  6. Tidak semua pendidik menginformasikan kopetensi dasar (Indikator) kepada peserta didik.( )
  7. Tidak semua pendidik menginformasikan Kriteria Ketuntasan Minimal kepada peserta didik.( )
  8. Tidak semua pendidik menginformasikan tehnik penilaian kepada peserta didik.( )
  9. Tidak semua pendidik menginformasikan rubrik penilaian kepada peserta didik.( )
  10. Tidak semua pendidik menginformasikan waktu penilaian kepada peserta didik.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Semua pendidik perlu menginformasikan kopetensi dasar (Indikator) kepada peserta didik.( )
  2. Semua pendidik perlumenginformasikan Kriteria Ketuntasan Minimal kepada peserta didik.( )
  3. Semua pendidik  perlu menginformasikan tehnik penilaian kepada peserta didik.( )
  4. Semua pendidik perlu menginformasikan rubrik penilaian kepada peserta didik.( )
  5. Semua pendidik perlu menginformasikan waktu penilaian kepada peserta didik.( )

8.1. Sistem penilaian disusun untuk menilai peserta didik baik dalam bidang akademik maupun nonakademik
8.1.3. Guru melaksanakan penilaian secara teratur berdasarkan rencana yang telah dibuat.

Kekuatan :

  1. Semua pendidik melaksanakan Ulangan Harian setiap kompetensi dasar.( )
  2. Semua pendidik melaksanakan Ulangan engah emester.( )
  3. Semua pendidik melaksanakan Ulangan Akhir Aemester.( )
  4. Semua pendidik melaksanakan Ulangan Kenaikan Kelas.( )
  5. Sekolah  melaksanakan Ujian Sekolah.( )
  6. Sekolah melaksanakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional.( )
  7. Tidak semua pendidik melaksanakan Ulangan Harian setiap kompetensi dasar.( )
  8. Tidak semua pendidik melaksanakan Ulangan engah emester.( )
  9. Tidak semua pendidik melaksanakan Ulangan Akhir Aemester.( )
  10. Tidak semua pendidik melaksanakan Ulangan Kenaikan Kelas.( )
  11. Sekolah  tidak melaksanakan Ujian Sekolah.( )
  12. Sekolah tidak melaksanakan Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Semua pendidik perlu melaksanakan Ulangan Harian setiap kompetensi dasar.( )
  2. Semua pendidik perlu melaksanakan Ulangan engah emester.( )
  3. Semua pendidik perlu melaksanakan Ulangan Akhir Aemester.( )
  4. Semua pendidik perlu melaksanakan Ulangan Kenaikan Kelas.( )
  5. Sekolah  perlu melaksanakan Ujian Sekolah.( )
  6. Sekolah perlu melaksanakan Ujian Nasional.( )
8.1. Sistem penilaian disusun untuk menilai peserta didik baik dalam bidang akademik maupun nonakademik
8.1.4. Guru menerapkan berbagai teknik, bentuk, dan jenis penilaian untuk mengukur prestasi dan kesulitan belajar peserta didik.

Kekuatan :

  1. Semua pendidik menerapkan tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja.( )
  2. Semua pendidik menerapkan teknik observasi atau pengamatan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.( )
  3. Semua pendidik menerapkan teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dalam berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.

( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua pendidik menerapkan tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja.( )
  2. Tidak semua pendidik menerapkan teknik observasi atau pengamatan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.( )
  3. Tidak semua pendidik menerapkan teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dalam berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Semua pendidik perlu menerapkan tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja.( )
  2. Semua pendidik perlu menerapkan teknik observasi atau pengamatan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran.( )
  3. Semua pendidik perlu menerapkan teknik penugasan baik perseorangan maupun kelompok dalam berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.( )

8.2. Penilaian berdampak pada proses belajar
8.2.1. Guru memberikan masukan dan komentar mengenai penilaian yang mereka lakukan pada peserta didik.

Kekuatan :

  1. Semua pendidik menilai hasil ulangan/tes semua peserta didik.( )
  2. Semua guru memberi umpan balik/komentar yang mendidik terhadap hasil penilaian.( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua pendidik menilai hasil ulangan/tes semua peserta didik.( )
  2. Tidak semua guru memberi umpan balik/komentar yang mendidik terhadap hasil penilaian.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Semua pendidik perlu menilai hasil ulangan/tes semua peserta didik.( )
  2. Semua pendidik perlu memberi umpan balik/komentar yang mendidik terhadap hasil penilaian.( )

8.2. Penilaian berdampak pada proses belajar
8.2.2. Guru menggunakan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran.

Kekuatan :

  1. Semua pendidik menganalisa terhadap semua hasil penilaian.( )
  2. Semua pendidik menyusun program tindak lanjut terhadap hasil analisa terhadap hasil penilaian.( )
  3. Semua pendidik melaksanakan perbaikan dan pengayaan berdasarkan hasil analisis hasil penilaian.( )
  4. Tidak semua pendidik menganalisa terhadap semua hasil penilaian.( )
  5. Tidak semua pendidik menyusun program tindak lanjut terhadap hasil analisa terhadap hasil penilaian.( )
  6. Tidak semua pendidik melaksanakan perbaikan dan pengayaan berdasarkan hasil analisis hasil penilaian.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Semua pendidik perlu menganalisa terhadap semua hasil penilaian.( )
  2. Semua pendidik perlu menyusun program tindak lanjut terhadap hasil analisa terhadap hasil penilaian.( )
  3. Semua pendidik perlu melaksanakan perbaikan dan pengayaan berdasarkan hasil analisis hasil penilaian.( )

8.3. Orangtua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka
8.3.1. Sekolah melaporkan hasil penilaian mata pelajaran untuk semua kelompok mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada orangtua/wali peserta didik dalam bentuk buku laporan pendidikan.

Kekuatan :

  1. Semua pendidik melaporkan hasil penilaian kepada Kepala Sekolah setiap akhir semester.( )
  2. Semua pendidik melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama.( )
  3. Semua pendidik melaporkan hasil penilaian kepribadian kepada guru PKn.( )
  4. Sekolah melaporkan hasil penilaian kepada orangtua peserta didik setiap akhir semester.( )
  5. Sekolah melaporkan hasil penilaian kepada Dinas Pendidikan setiap akhir semester.( )
  6. Sekolah melaporkan hasil kelulusan kepada Dinas Pendidikan.( )
  7. Sekolah menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional dan Ijasah dan menyerahkan kepada orangtua peserta didik.( )
  8. Tidak semua pendidik melaporkan hasil penilaian kepada Kepala Sekolah setiap akhir semester.( )
  9. Tidak semua pendidik melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama.( )
  10. Tidak semua pendidik melaporkan hasil penilaian kepribadian kepada guru PKn.( )
  11. Tidak sekolah melaporkan hasil penilaian kepada orangtua peserta didik setiap akhir semester.( )
  12. Sekolah tidak melaporkan hasil penilaian kepada Dinas Pendidikan setiap akhir semester.( )
  13. Sekolah tidak melaporkan hasil kelulusan kepada Dinas Pendidikan.( )
  14. Sekolah tidak menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional dan Ijasah dan menyerahkan kepada orangtua peserta didik.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Semua pendidik perlu melaporkan hasil penilaian kepada Kepala Sekolah setiap akhir semester.( )
  2. Semua pendidik perlu melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama.( )
  3. Semua pendidik perlu melaporkan hasil penilaian kepribadian kepada guru PKn.( )
  4. Sekolah perlu melaporkan hasil penilaian kepada orangtua peserta didik setiap akhir semester.( )
  5. Sekolah perlu melaporkan hasil penilaian kepada Dinas Pendidikan setiap akhir semester.( )
  6. Sekolah perlu melaporkan hasil kelulusan kepada Dinas Pendidikan.( )
  7. Sekolah perlu menerbitkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional dan Ijasah dan menyerahkan kepada orangtua peserta didik.( )

8.3. Orangtua peserta didik terlibat dalam proses belajar anak mereka
8.3.2. Sekolah melibatkan orangtua peserta didik dalam meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa.

Kekuatan :

  1. Sekolah mensosialisasikan:SK/KD setiap mata pelajaran, KKM setiap mata pelajaran Kriteria kenaikan kelas, Program penilaian, program Remidial dan pengayaan kepada orangtua peserta didik.( )
  2. Sekolah melibatkan orangtua peserta didik dalam penyusunan Kriteria Kelulusan Ujian.( )
  3. Sekolah melibatkan orangtua peserta didk dalam menyediakan fasilitas belajar putra/putrinya.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak mensosialisasikan:SK/KD setiap mata pelajaran, KKM setiap mata pelajaran Kriteria kenaikan kelas, Program penilaian, program Remidial dan pengayaan kepada orangtua peserta didik.( )
  2. Sekolah tidak melibatkan orangtua peserta didik dalam penyusunan Kriteria Kelulusan Ujian.( )
  3. Sekolah tidak melibatkan orangtua peserta didk dalam menyediakan fasilitas belajar putra/putrinya.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu mensosialisasikan:SK/KD setiap mata pelajaran, KKM setiap mata pelajaran Kriteria kenaikan kelas, Program penilaian, program Remidial dan pengayaan kepada orangtua peserta didik.( )
  2. Sekolah perlu melibatkan orangtua peserta didik dalam penyusunan Kriteria Kelulusan Ujian.( )
  3. Sekolah perlu melibatkan orangtua peserta didk dalam menyediakan fasilitas belajar putra/putrinya.( )

Gresik,

Petugas Agregasi

__________________________

AGREGASI LAPORAN MSPD

KECAMATAN … KABUPATEN GRESIK

SEKOLAH

TAHUN 2011

 

 

 

 

 

 

NO

NAMA SEKOLAH

 

NO

NAMA SEKOLAH

1

11

2

12

3

13

 

4

14

 

5

15

 

6

16

 

7

17

 

8

18

 

9

19

 

10

20

 

..

1

  1. 1.      STANDAR ISI

Komponen

Indikator

1.1.       Kurikulum sudah sesuai dan relevan 1.1.1.  Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan menggunakan   panduan yang disusun BSNP.

1.1.2.  Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat, kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran.

1.1.3.  Kurikulum telah menunjukan adanya alokasi waktu, rencana program remedial, dan pengayaan bagi siswa.

1.2.   Sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik 1.2.1.  Sekolah menyediakan layanan bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

1.2.2.  Sekolah menyediakan kegiatan ekstra kurikuler untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

2

1. STANDAR ISI
1.1. Kurikulum sudah sesuai dan relevan
1.1.1. Pengembangan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan menggunakan panduan yang disusun BSNP.

Kekuatan :

  1. Sekolah memiliki Tim Pengembang Kurikulum. ()
  2. Semua anggota Tim Pengembang Kurikulum terlibat dalam penyusunan kurikulum.()
  3. Kurikulum sekolah kami memuat 5 kelompok mata pelajaran.()
  4. Sekolah  mengembangkan kurikulum berdasarkan 7 prinsip pengembangan kurikululum.()
  5. Sekolah melaksanakan kurikulum berdasarkan 7 prinsip pelaksanaan kurikulum.()
  6. Kurikulum sekolah  disusun setiap tahun.()
  7. Kurikulum sekolah disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. ()
 

 

 

 

 

 

 

 

Kelemahan :

  1. Sekolah belum memiliki Tim Pengembang Kurikulum. ()
  2. Semua anggota Tim Pengembang Kurikulum terlibat dalam penyusunan kurikulum.()
  3. Kurikulum sekolah kami belum memuat 5 kelompok mata pelajaran.()
  4. Sekolah  mengembangkan kurikulum belum berdasarkan 7 prinsip pengembangan kurikululum.()
  5. Sekolah melaksanakan kurikulum nelum berdasarkan 7 prinsip pelaksanaan kurikulum.()
  6. Kurikulum sekolah  belum disusun minimal setiap tahun.()
  7. Kurikulum sekolah belum disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. ()
 

 

 

 

 

 

 

 

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu membentuk Tim Pengembang Kurikulum. ( )
  2. Sekolah perlu melibatkan semua anggota Tim Pengembang Kurikulum dalam penyusunan kurikulum. ( )
  3. Sekolah  perlu menyempurnaan Kurikulum memuat 5 kelompok mata pelajaran.( )
  4. Sekolah perlu menggunakan 7 prinsip pengembangan kurikulum dalam menyusun kurikulum.( )
  5. Sekolah perlu melaksanakan kurikulum dengan berpedoman 7 prinsip pelaksanaan kurikulum.( )
  6. Sekolah perlu mereviu Kurikulum setiap tahun. ( )
  7. Sekolah perlu mensosialisasikan Kurikulum setiap tahun pada masyarakat ( )

1.1. Kurikulum sudah sesuai dan relevan

1.1.2. Kurikulum dibuat dengan mempertimbangkan karakter daerah, kebutuhan sosial masyarakat, kondisi budaya, usia peserta didik, dan kebutuhan pembelajaran.

Kekuatan :

  1. Kurikulum sekolah memuat matapelajaran Muatan Lokal. ()
  2. Materi muatan lokal sesuai dengan  kebutuhan daerah, kebbutuhan peserta didik,  dan kebutuhan pembelajaran. ()

Kelemahan :

  1. Kurikulum sekolah belum memuat matapelajaran Muatan Lokal. ()
  2. Materi muatan lokal belum sesuai dengan  kebutuhan daerah, kebbutuhan peserta didik,  dan kebutuhan pembelajaran. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu melengkapi kurikulum dengan matapelajaran Muatan Lokal. ()
  2. Sekolah perlu menyesuaikan materi muatan lokal dengan  kebutuhan daerah, kebbutuhan peserta didik,  dan kebutuhan pembelajaran. ()

1.1. Kurikulum sudah sesuai dan relevan
1.1.3. Kurikulum telah menunjukan adanya alokasi waktu, rencana program remedial, dan pengayaan bagi siswa.

Kekuatan :

  1. Kurikulum  memuat mata pelajaran inti, muatan lokal, dan pengembangan diri.()
  2. Pembelajaran untuk kelas 1, 2, dan 3 melalui pendekatan tematik.()
  3. Pembelajaran untuk kelas 4, 5, dan 6 melalui pendekatan guru kelas.()
  4. Jumlah minggu efektif dalam 1 tahun memenuhi standar()
  5. Alokasi waktu tiap jam pembelajaran sesuai standar()
  6. Jumlah jam pembelajaran perminggu sesuai standar.()
  7. Jumlah jampelajaran  dalam 1 tahun sesuai standar()

Kelemahan :

  1. Kurikulum  belum memuat mata pelajaran inti, muatan lokal, dan pengembangan diri.()
  2. Pembelajaran untuk kelas 1, 2, dan 3 tidak melalui pendekatan tematik.()
  3. Pembelajaran untuk kelas 4, 5, dan 6 tidak melalui pendekatan guru kelas.()
  4. Jumlah minggu efektif dalam 1 tahun delum memenuhi standar()
  5. Alokasi waktu tiap jam pembelajaran belum sesuai standar()
  6. Jumlah jam pembelajaran perminggu belum sesuai standar.()
  7. Jumlah jam pelajaran dalam 1 tahun belum  sesuai standar()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu melengkapi kurikulum  agar memuat mata pelajaran inti, muatan lokal, dan pengembangan diri.()
  2. (KHusus SD/MI) Pembelajaran untuk kelas 1, 2, dan 3 perlu dilakukan melalui pendekatan tematik.()
  3. (Khusus SD/MI) Pembelajaran untuk kelas 4, 5, dan 6 perlu dilakukan melalui pendekatan guru kelas.()
  4. Sekolah perlu menyesuaikan Jumlah minggu efektif dalam 1 tahun.()
  5. Sekolah perlu menyesuaikan alokasi waktu tiap jam pembelajaran.()
  6. Sekolah perlu menyesuaikan jumlah jam pembelajaran perminggu.()
  7. Sekolah perlu menyesuaikan jumlah jam pembelajaran dalam 1 tahun.()

1.2. Sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik
1.2.1. Sekolah menyediakan layanan bimbingan dan konseling untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun program layanan konseling bagi peserta didik.()
  2. Sekolah memberikan layanan konseling kepada semua peserta didik.()
  3. Sekolah menindak lanjuti hasil bimbingan dan konseling.()

Kelemahan :

  1. Sekolah belum menyusun program layanan konseling bagi peserta didik.()
  2. Sekolah memberikan layanan konseling belum kepada semua peserta didik.()
  3. Sekolah belum menindak lanjuti hasil bimbingan dan konseling.()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program layanan konseling bagi peserta didik.()
  2. Sekolah perlu memberikan layanan konseling  kepada semua peserta didik.()
  3. Sekolah perlu menindak lanjuti hasil bimbingan dan konseling.()

1.2. Sekolah menyediakan kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik
1.2.2. Sekolah menyediakan kegiatan ekstra kurikuler untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pribadi peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyusun program kegiatan ekstra kurikuler.()
  2. Sekolah mengadakan kegiatan ekstra kurikuler.()
  3. Sekolah mengadakan kegiatan ekstra kurikuler didasarkan pada bakat dan minat peserta didik.()
  4. Sekolah membuat penilaian kegiatan ekstra kurikuler.()
  5. Sekolah membuat laporan kegiatan ekstra kurikuler.()

Kelemahan :

  1. Sekolah tidak menyusun program kegiatan ekstra kurikuler.()
  2. Sekolah tidak mengadakan kegiatan ekstra kurikuler.()
  3. Sekolah mengadakan kegiatan ekstra kurikuler tidak didasarkan pada bakat dan minat peserta didik.()
  4. Sekolah tidak membuat penilaian kegiatan ekstra kurikuler.()
  5. Sekolah tidak membuat laporan kegiatan ekstra kurikuler.()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program kegiatan ekstra kurikuler. ()
  2. Sekolah perlu menyelenggarakan kegiatan ekstra kurikuler.didasarkan pada bakat dan minat peserta didik. ()
  3. Sekolah perlu membuat penilaian kegiatan ekstra kurikuler. ()
  4. Sekolah perlu  membuat laporan kegiatan ekstra kurikuler. ()

2.STANDAR PROSES

Komponen

Indikator

2.1.  Silabus sudah sesuai/relevan dengan standar 2.1.1.  Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan KTSP.

2.1.2.  Pengembangan Silabus dilakukan guru secara mandiri atau berkelompok.

2.2.  RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik 2.2.1.  Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.

2.2.2.  RPP memperhatikan perbedaan gender, kemampuan awal, tahap intelektual, minat, bakat, motivasi belajar, potensi, kemampuan sosial, emosional, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai-nilai, dan lingkungan peserta didik.

2.3.  Sumber belajar dapat diperoleh dengan mudah dan digunakan secara tepat 2.3.1.  Siswa dapat mengakses buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran dengan mudah.

2.3.2. Guru menggunakan buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran secara tepat dalam pembelajaran untuk membantu dan memotivasi peserta didik.

2.4.  Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi peserta didik 2.4.1.  Para guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang rencana pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang mencakup kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.

2.4.2.  Para peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk melakukan ekplorasi dan elaborasi, serta mendapatkan konfirmasi.

2.5.  Supervisi dan Evaluasi Proses Pembelajaran dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan 2.5.1. Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan pada setiap tahap meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

2.5.2. Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan secara berkala dan berkelanjutan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas.

8

2. STANDAR PROSES
2.1. Silabus sudah sesuai/relevan dengan standar
2.1.1. Silabus dikembangkan berdasarkan Standar Isi (SI), Standar Kompetensi Lulusan (SKL), dan panduan KTSP.

Kekuatan :

  1. Silabus di sekolah  sesuai dengan Strandar Isi.( )
  2. Silabus di sekolah kami sesuai dengan Strandar Kompetensi Lulusan.( )
  3. Silabus di sekolah kami sesuai dengan Panduan Kurikulum.( )
  4. Silabus di sekolah kami memuat semua komponen silabus.( )
  5. Silabus di sekolah kami dikembangkan untuk setiap matapelajaran termasuk muatan lokal.( )

Kelemahan :

  1. Silabus di sekolah kami tidak sesuai dengan Strandar Isi.(3,10 )
  2. Silabus di sekolah kami tidak sesuai dengan Strandar Kompetensi Lulusan.( )
  3. Silabus di sekolah kami tidak sesuai dengan Panduan Kurikulum.( )
  4. Silabus di sekolah tidak kami memuat semua komponen silabus.( )
  5. Silabus di sekolah kami dikembangkan belum untuk setiap matapelajaran termasuk muatan lokal.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyesuaikan silabus dengan Strandar Isi ( )
  2. Sekolah perlu menyesuaikan silabus dengan Standar Kompetensi Lulusan.( )
  3. Sekolah perlu menyesuaikan silabus dengan Panduan Kurikulum ( )
  4. Silabus agar disusun  memuat semua komponen silabus.( )
  5. Silabus agar disusun  dan dikembangkan untuk setiap matapelajaran termasuk muatan lokal ( )

2.1. Silabus sudah sesuai/relevan dengan standar
2.1.2. Pengembangan Silabus dilakukan guru secara mandiri atau berkelompok.

Kekuatan :

  1. Semua guru menyusun silabus secara mandiri. ()
  2. Semua guru memiliki silabus untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Semua guru mereviu silabus setiap tahun.( )

Kelemahan :

  1. Belum semua guru mengembangkan/memiliki silabus untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  2. Belum semua guru mereviu silabus setiap tahun.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memfasilitasi  guru dalam mengembangkan/menyusun silabus secara mandir( )
  2. Sekolah perlu memfasilitasi guru agar semua guru memiliki silabus sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. ()
  3. Sekolah perlu memfasilitasi  guru mereviu silabus setiap tahun. ( )

2.2. RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik
2.2.1. Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) disusun berdasarkan pada prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.

Kekuatan :

  1. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sesuai silabus.( )
  2. Semua guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun guru sesuai dengan prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.( )
  4. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun untuk maksmal 2 kali pertemuan.
  5. Semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran direviu setiap tahun.( )

Kelemahan :

  1. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sesuai silabus.( )
  2. Belum semua guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang disusun guru sesuai dengan prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran.( )
  4. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran disusun untuk maksmal 2 kali pertemuan.
  5. Belum semua Rencana Pelaksanaan Pembelajaran direviu setiap tahun.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyesuaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan silabus.( )
  2. Sekolah perlu memfasilitasi  guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran untuk semua mata pelajaran yang diampu.( )
  3. Sekolah perlu menyesuaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran( )
  4. Sekolah perlu memfasilitasi  guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran maksimal untuk 2 kali pertemuan.( )
  5. Sekolah perlu memfasilitasi  guru mereviu Rencana Pelaksanaan Pembelajaran setiap tahun.( )

2.2. RPP dirancang untuk mencapai pembelajaran efektif dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik
2.2.2. RPP memperhatikan perbedaan gender, kemampuan awal, tahap intelektual, minat, bakat, motivasi belajar, potensi, kemampuan sosial, emosional, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai-nilai, dan lingkungan peserta didik.

Kekuatan :

1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran mengakomodasi perbedaan-perbedaan peserta didik.( )

Kelemahan :

1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran tidak mengakomodasi perbedaan-perbedaan peserta didik.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memfasilitasi guru dalam menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang mengakomodasi perbedaan-perbedaan peserta didik.

( )

2.3. Sumber belajar dapat diperoleh dengan mudah dan digunakan secara tepat
2.3.1. . Siswa dapat mengakses buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran  dengan mudah.

Kekuatan :

  1. Sekolah menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya yang cukup dipergunakan selama pelajaran berlangsung.
  2. Sekolahi menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya dengan mudah untuk dipinjam dan dipakai di luar sekolah dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu dan dapat diperpanjang.
  3. Sekolah menyediakan Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat diakses dengan mudah oleh siswa.

Kelemahan :

  1. Sekolah belum menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya yang cukup dipergunakan selama pelajaran berlangsung.
  2. Sekolah belum menyediakan beberapa buku dan sumber belajar lainnya dengan mudah untuk dipinjam dan dipakai di luar sekolah dalam kurun waktu tidak lebih dari satu minggu dan dapat diperpanjang.
  3. Sekolah belum menyediakan Buku Sekolah Elektronik (BSE) yang dapat diakses dengan mudah oleh siswa.

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyediakan buku-buku yang cukup dipergunakan selama pembelajaran berlangsung . ( )
  2. Sekolah perlu menyediakan sumber belajar lain selain buku yang cukup dipergunakan selama pembelajaran berlangsung. ( )
  3. Sekolah perlu menyediakan buku-buku yang cukup untuk dipinjam dan dipergunakan siswa di luar sekolah. ( )
  4. Sekolah perlu menyediakan sumber belajar lain selain buku yang cukup untuk dipinjam dan dipergunakan siswa di luar sekolah. ( )
  5. Sekolah perlu menyediakan Buku Sekolah Elektronik dalam bentuk softh copy.( )
2.3. Sumber belajar dapat diperoleh dengan mudah dan digunakan secara tepat
2.3.2. Guru menggunakan buku panduan, buku pengayaan, buku referensi, dan sumber belajar lain selain buku pelajaran secara tepat dalam pembelajaran untuk membantu dan memotivasi peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolah kami menentukan buku teks melalui rapat pendidik dan komite sekolah.( )
  2. Buku teks cukup untuk setiap siswa satu buku ditambah pegangan guru untuk semua mata pelajaran.( )
  3. Semua guru menggunakan buku-buku dalam perpustakaan sebagai sumbel belajar dalam proses pembelajaran.( )
  4. Semua guru menggunakan laboratorium IPA sebagai sumber dan alat dalam proses pembelajaran.( )
  5. Semua guru memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Sekolah kami menentukan buku teks tidak melalui rapat pendidik dan komite sekolah.( )
  2. Buku teks tidak cukup untuk setiap siswa satu buku ditambah pegangan guru untuk semua mata pelajaran.( )
  3. Tidak semua guru menggunakan buku-buku dalam perpustakaan sebagai sumbel belajar dalam proses pembelajaran.( )
  4. Tidak semua guru menggunakan laboratorium IPA sebagai sumber dan alat dalam proses pembelajaran.( )
  5. Tidak semua guru memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu melibatkan pendidik dalam menentukan buku teks.( )
  2. Sekolah perlu melibatkan komite sekolah dalam menentukan buku teks.( )
  3. Sekolah perlu menambah buku teks.( )
  1. Sekolah perlu menambah pegangan guru.( )
  1. Sekolah perlu memotivasi guru dalam menggunakan buku-buku dalam perpustakaan sebagai sumbel belajar dalam proses pembelajaran.( )
  1. Sekolah perlu memotivasi guru dalam menggunakan laboratorium IPA sebagai sumber dan alat dalam proses pembelajaran.( )
  1. Sekolah perlu memotivasi guru dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam proses pembelajaran.( )

2.4.  Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi peserta didik
2.4.1. Para guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan yang rencana pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang mencakup kegiatan pendahuluan, inti, dan penutup.

Kekuatan :

  1. Semua guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disiapkan / disusun.( )
  2. Semua guru menggunakan multi metode yang sesuai dengan karakter topik / tema materi sehingga terjadi proses pembelajan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik.( )
  3. Semua guru melaksanakan proses pembelajaran melalui 3 tahapan.( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disiapkan / disusun.( )
  2. Tidak semua guru menggunakan multi metode yang sesuai dengan karakter topik / tema materi sehingga terjadi proses pembelajan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik.( )
  3. Tidak semua guru melaksanakan proses pembelajaran melalui 3 tahapan.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang telah disiapkan / disusun.( )
  2. Sekolah perlu memotivasi guru agar menggunakan multi metode yang sesuai dengan karakter topik / tema materi sehingga terjadi proses pembelajan yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik.( )
  3. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam melaksanakan proses pembelajaran melalui 3 tahapan.( )

15

2.4.  Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, kreatif, menantang dan memotivasi peserta didik
2.4.2. Para peserta didik memperoleh kesempatan yang sama untuk melakukan ekplorasi dan elaborasi, serta mendapatkan konfirmasi.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi dalam proses pembelajaran.( )
  2. Semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan elaborasi dalam proses pembelajaran.( )
  3. Semua peserta didik memperoleh konfirmsasi dalam proses pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi dalam proses pembelajaran.( )
  2. Tidak semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan elaborasi dalam proses pembelajaran.( )
  3. Tidak semua peserta didik memperoleh konfirmsasi dalam proses pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam proses pembelajaran semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan eksplorasi.  ( )
  2. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam proses pembelajaran semua peserta didik memperoleh kesempatan untuk melakukan elaborasi. ( )
  3. Sekolah perlu memotivasi guru agar dalam proses pembelajaran semua peserta didik memperoleh konfirmasi. ( )

16

2.5. Supervisi dan Evaluasi Proses Pembelajaran dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan
2.5.1.   Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan pada setiap tahap meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran.

Kekuatan :

  1. Kepala Sekolah menyusun program supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )
  2. Kepala Sekiolah melaksanakan supervisi dan evaluasi pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran.( )
  3. Kepala Sekolah melaporkan hasil supervisi dan evaluasi kepada pemangku kepentingan.( )
  4. Kepala Sekolah melaksanakan supervisi kepada semua pendidik. ()
  5. Kepala Sekolah melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Kepala Sekolah tidak menyusun program supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )
  2. Kepala Sekiolah tidak melaksanakan supervisi dan evaluasi pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran.( )
  3. Kepala Sekolah tidak melaporkan hasil supervisi dan evaluasi kepada pemangku kepentingan.( )
  4. Kepala Sekolah melaksanakan supervisi belum kepada semua pendidik. ()
  5. Kepala Sekolah tidak melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Kepala Sekolah perlu menyusun program supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )
  2. Kepala Sekiolah perlu melaksanakan supervisi dan evaluasi pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan hasil pembelajaran.( )
  3. Kepala Sekolah perlu melaporkan hasil supervisi dan evaluasi kepada pengawas.( )
  4. Kepala sekolah perlu melaksanakan supervisi dan penilaian kepada semua pendidik, ()
  5. Kepala Sekolah perlu melaksanakan tindak lanjut hasil supervisi dan evaluasi proses pembelajaran.( )
2.5. Supervisi dan Evaluasi Proses Pembelajaran dilaksanakan secara berkala dan berkelanjutan
2.5.2. Supervisi dan evaluasi proses pembelajaran dilakukan secara berkala dan berkelanjutan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas.

Kekuatan :

  1. Kepala Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  2. Kepala Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan.( )
  3. Kepala Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )
  4. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  5. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan. ( )
  6. Pengawas  Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )

Kelemahan :

  1. Kepala Sekolah tidak  melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  2. Kepala Sekolah tidak melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan.( )
  3. Kepala Sekolah tidak melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )
  4. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  5. Pengawas Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan. ( )
  6. Pengawas  Sekolah melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Kepala Sekolah perlu  melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  2. Kepala Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan.( )
  3. Kepala Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )
  4. Pengawas Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran kepada sumua guru.( )
  5. Pengawas Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran setiap bulan. ( )
  6. Pengawas  Sekolah perlu melakukan supervisi dan evaluasi proses pembelajaran secara terus menerus / berkelanjutan.( )

3.STANDAR KOMPETENSI LULUSAN

Komponen

Indikator

 

3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan

3.1.1.  Peserta didik memperlihatkan kemajuan yang lebih baik dalam mencapai target yang ditetapkan SKL.

3.1.2.  Peserta didik memperlihatkan kemajuan sebagai pembelajar yang mandiri.

3.1.3.  Peserta didik memperlihatkan motivasi belajar dan rasa percaya diri yang tinggi.

 

3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat

3.2.1. Sekolah mengembangkan kepribadian peserta didik.

3.2.2. Sekolah mengembangkan keterampilan hidup.

3.2.3. Sekolah mengembangkan nilai-nilai agama, budaya, dan pemahaman atas sikap yang dapat diterima.

19

3. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan
3.1.1. Peserta didik memperlihatkan kemajuan yang lebih baik dalam mencapai target yang ditetapkan SKL.

Kekuatan :

  1. Semua peserta ujian memperoleh nilai ujian sesuai kriteria kelulusan untuk semua mata pelajaran.( )
  2. Semua siswa memiliki nilai raport sesuai standar/KKM  untuk setiap mata pelajaran.( )
  3. Pencapaian nilai rata hasil ulangan peserta didik menunjukkan kenaikan.( )
  4. Pencapaian prestasi akademik (rata-rata nilai ujian) peserta didik mengalami kemajuan dari tahun ke tahun.( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta ujian memperoleh nilai ujian sesuai kriteria kelulusan untuk semua mata pelajaran.( )
  2. Tidak semua siswa memiliki nilai raport sesuai standar/KKM  untuk setiap mata pelajaran.( )
  3. Pencapaian nilai rata hasil ulangan peserta didik tidak menunjukkan kenaikan.( )
  4. Pencapaian prestasi akademik (rata-rata nilai ujian) peserta didik tidak mengalami kemajuan dari tahun ke tahun.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta ujian agar memperoleh nilai ujian sesuai kriteria kelulusan untuk semua mata pelajaran.( )
  2. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta didik agar memiliki nilai raport sesuai standar/KKM  untuk setiap mata pelajaran.

( )

  1. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta didik agar pencapaian nilai rata hasil ulangan peserta didik menunjukkan kenaikan.

()

  1. Sekolah perlu meningkatkan kemampuan peserta agar pencapaian prestasi akademik (rata-rata nilai ujian) peserta didik mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. ()
3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan
3.1.2. Peserta didik memperlihatkan kemajuan sebagai pembelajar yang mandiri.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik selalu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. ()
  2. Semua peserta didik memanfaatkan perpustakaan, laboratorium IPA, lingkungan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  3. Perolehan nilai tugas-tugas setiap  peserta didik selalu menunjukkan peningkatan. ()
  4. (Khusus SMP/SMA) Sekolah memiliki Kelompok Ilmiah Remaja. ()
  5. (Khusus SMP/SMA) Sekolah memiliki Kelompok Belajar Bahasa Asing. ()

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta didik selalu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan kepadanya. ()
  2. Tidak semua peerta didik memanfaatkan perpustakaan, laboratorium IPA, lingkungan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  3. Perolehan nilai tugas-tugas setiap  peserta didik tidak selalu menunjukkan peningkatan. ()
  4. (Khusus SMP/SMA) Sekolah tidak memiliki Kelompok Ilmiah Remaja. ()
  5. (Khusus SMP/SMA) Sekolahtidak  memiliki Kelompok Belajar Bahasa Asing. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Pendidik perlu memotivasi peserta didik agar selalu menyelesaikan tugas-tugas.()
  2. Pendidik perlu memotivasi peerta didik untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  3. Pendidik perlu memotivasi peerta didik untuk memanfaatkan laboratorium sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()
  4. Pendidik perlu memotivasi peerta didik untuk memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dalam menyelesaikan tugas-tugas. ()

10. Pendidik perlu memotivasi peerta didik agar perolehan nilai tugas-tugas setiap  peserta didik  selalu menunjukkan peningkatan. .()

11. (Khusus SMP/SMA) Sekolah perlu membentuk Kelompok Ilmiah Remaja. ()

12. (Khusus SMP/SMA) Sekolah perlu membentuk Kelompok Belajar Bahasa Asing. ()

3.1. Peserta didik dapat mencapai target akademis yang diharapkan
3.1.3. Peserta didik memperlihatkan motivasi belajar dan rasa percaya diri yang tinggi.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik berpengalaman belajar pemanfaatan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. (  )
  2. Semua peserta didik berpengalaman belajar mengekspresikan diri (Pelaksanaan pekan bahasa, pentas seni-budaya, pameran lukisan, dan hasil karya). ( )

Kelemahan :

  1. Tidak semua peserta didik berpengalaman belajar pemanfaatan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. (  )
  2. Tidak semua peserta didik berpengalaman belajar mengekspresikan diri (Pelaksanaan pekan bahasa, pentas seni-budaya, pameran lukisan, dan hasil karya). ( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Pendidik perlu memotivasi peerta didik agar semua peserta didik memiliki pengalaman belajar pemanfaatan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab. ()
  2. Pendidik perlu memotivasi peerta didik agar semua peserta didik memiliki pengalaman belajar mengekspresikan diri. ()

22

3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat
3.2.1. Sekolah mengembangkan kepribadian peserta didik.

Kekuatan :

  1. Sekolahi menyusun program pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  2. Sekolah menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  3. Semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan kepribadian  yang diselenggarakan oleh sekolah.( )
  4. Semua peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.( )
  5. Sekolahi tidak menyusun program pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  6. Sekolah tidak menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  7. Tidak semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan kepribadian  yang diselenggarakan oleh sekolah.( )
  8. Tidak semua peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolahi perlu menyusun program pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  2. Sekolah perlu menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan kepribadian peserta didik.( )
  3. Sekolah  perlu memfasilitasi  semua peserta didik untuk mengikuti kegiatan pengembangan kepribadian yang diselenggarakan oleh sekolah.( )
  4. Sekolah perlu memotivasi semua peserta didik agar setiap peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan sekolah. ()
  5. Sekolah perlu memotivasi semua peserta didik agar setiap peserta didik berkepribadian sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di lingkungan masyarakat. ()
3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat
3.2.2. Sekolah mengembangkan keterampilan hidup.

Kekuatan :

  1. Sekolah kami menyusun program pengembangan ketrampilan hidup.( )
  2. Sekolah kami menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan ketrampilan.( )
  3. Semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan ketrampilan hidup yang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.( )
  4. Semua peserta didik dapat mengembangkan ketrampilan hidup sesuai kebutuhan mereka masing-masing.( )
  5. Sekolah kami tidak menyusun program pengembangan ketrampilan hidup.( )
  6. Sekolah kami tidak menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan ketrampilan.( )
  7. Tidak semua peserta didik mengikuti kegiatan pengembangan ketrampilan hidup yang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka masing-masing.( )
  8. Tidak semua peserta didik dapat mengembangkan ketrampilan hidup sesuai kebutuhan mereka masing-masing.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu menyusun program pengembangan ketrampilan hidup. ( )
  2. Sekolah perlu menyediakan/menyelenggarakan kegiatan pengembangan ketrampilan.( )
  3. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik mengikuti pengembangan ketrampilan hidup yang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal mereka. ()
  4. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik dapat mengembangkan ketrampilan hidup sesuai kebutuhan mereka masing-masing.( )
3.2. Peserta didik dapat mengembangkan potensi penuh mereka sebagai anggota masyarakat
3.2.3. Sekolah mengembangkan nilai-nilai agama, budaya, dan pemahaman atas sikap yang dapat diterima.

Kekuatan :

  1. Semua peserta didik  mengamalkan ajaran agama sesuai dengan agama yang mereka ikuti.( )
  2. Semua beserta didik berperilaku sesuai dengan adatistiadat yang berlaku di lingkungan mereka.( )
  3. Semua peserta didik mematuhi norma/aturan yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat dimana mereka tinggal.( )
  4. Belum semua peserta didik  mengamalkan ajaran agama sesuai dengan agama yang mereka ikuti.( )
  5. Belum semua beserta didik berperilaku sesuai dengan adatistiadat yang berlaku di lingkungan mereka.( )
  6. Belum semua peserta didik mematuhi norma/aturan yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat dimana mereka tinggal.( )

Kelemahan :

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi :

  1. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik  mengamalkan ajaran agama sesuai dengan agama yang mereka ikuti. ( )
  2. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik berperilaku sesuai dengan adatistiadat yang berlaku di lingkungan mereka.( )
  3. Sekolah perlu memfasilitasi semua peserta didik agar setiap peserta didik mematuhi norma/aturan yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat dimana mereka tinggal.( )

4.STANDAR PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Komponen

Indikator

 

4.1. Pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai

4.1.2.  Jumlah pendidik memenuhi standar.

4.1.2.  Jumlah tenaga kependidikan memenuhi standar.

 

4.2. Kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai

4.2.1.  Kualifikasi pendidik memenuhi standar

4.2.2.  Kualifikasi tenaga kependidikan memenuhi standar

 

4.3. Kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai

4.3.1.  Kompetensi pendidik memenuhi standar

4.3.2.  Kompetensi tenaga kependidikan memenuhi standar

4. PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
4.1. Pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.1.1. Jumlah pendidik memenuhi standar.

Kekuatan :

  1. Jumlah pendidik memenuhi kebutuhan pembelajaran.( )

Kelemahan :

  1. Jumlah pendidik tidak memenuhi kebutuhan pembelajaran.( )

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi : (Untuk SD)

  1. Sekolah perlu mengangkat guru kelas :
  • 1 orang guru kelas. ()
  • 2 orang guru kelas. ()
  • 3 orang guru kelas. ()
  1. Sekolah pelrmu mengangkat guru matapelajaran :
  • Guru Pendidikan Agama. ()
  • Guru Jasmani Olahraga dan Kesehatan. ()
  • Guru Seni Budaya dan Kewtrampilan. ()
  • Guru Bahasa Inggris. ()
  • Guru Bahasa Jawa. ()

Rekomendasi : (Untuk SMP)

  1. Sekolah perlu mengangkat Guru Agama. ()
  2. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Kewarganegaran. ()
  3. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Indonesia. ()
  4. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Inggris. ()
  5. Sekolah perlu mengangkat Guru Matematika. ()
  6. Sekolah perlu mengangkat Guru Ilmu Pengetahuan Alam. ()
  7. Sekolah perlu mengangkat Guru Ilmu Pengetahuan Sosial. ()
  8. Sekolah perlu mengangkat Guru Seni Budaya. ()
  9. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. ()
  10. Sekolah perlu mengangkat Guru Tehnologi Informasi dan Komunikasi. ()
  11. Sekolah perlu mengangkat Guru …… ()

Rekomendasi : (Untuk SMA)

  1. Sekolah perlu mengangkat Guru Agama. ()
  2. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Kewarganegaran. ()
  3. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Indonesia. ()
  4. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Inggris. ()
  5. Sekolah perlu mengangkat Guru Matematika. ()
  6. Sekolah perlu mengangkat Guru Fisika. ()
  7. Sekolah perlu mengangkat Guru Biologi. ()
  8. Sekolah perlu mengangkat Guru Kimia. ()
  9. Sekolah perlu mengangkat Guru Sejarah. ()
  10. Sekolah perlu mengangkat Guru Geografi. ()
  11. Sekolah perlu mengangkat Guru Ekonomi. ()
  12. Sekolah perlu mengangkat Guru Sosiologi. ()
  13. Sekolah perlu mengangkat Guru Seni Budaya. ()
  14. Sekolah perlu mengangkat Guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan. ()
  15. Sekolah perlu mengangkat Guru Tehnologi Informasi dan Komunikasi. ()
  16. Sekolah perlu mengangkat Guru Bahasa Asing. ()
  17. Sekolah perlu mengangkat Guru ……… ()

27

4.1. Pemenuhan jumlah pendidik dan tenaga kependidikan sudah memadai
4.1.2. Jumlah tenaga kependidikan memenuhi standar.

Kekuatan :

(Untuk SD)

  1. Sekolah memiliki Tenaga Administrasi .( )
  2. Sekolah memiliki Petugas Perpustakaan.( )
  3. Sekolah memiliki Petugas Laboratorium IPA.( )
  4. Sekolah memiliki Penjaga Sekolah.( )

(Untuk SMP)

  1. Jumlah tenaga administrasi memenuhi standar. ()
  2. Sekolah memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah memiliki laboran IPA. ()
  4. Sekolah memiliki konselor. ()
  5. Jumlah tenaga layanan khusus memenuhi standar. ()
  6. Jumlah kepala urusan memenuhi standar. ()

(Untuk SMA/SMK)

  1. Jumlah tenaga administrasi memenuhi standar. ()
  2. Sekolah memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah memiliki laboran biologi . ()
  4. Sekolah memiliki laboran fisika. ()
  5. Sekolah memiliki laboran  kimia. ()
  6. Sekolah memiliki laboran  komputer. ()
  7. Sekolah memiliki laboran  bahasa. ()
  8. Sekolah memiliki konselor. ()
  9. Jumlah tenaga layanan khusus memenuhi standar. ()
  10. Jumlah kepala urusan memenuhi standar. ()
  11. 11.                (Khusus SMK) Sekolah memiliki kepala bengkel. ()
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelemahan :

(Untuk SD)

  1. Sekolah tidak memiliki Tenaga Administrasi .( )
  2. Sekolah tidak memiliki Petugas Perpustakaan.( )
  3. Sekolah tidak memiliki Petugas Laboratorium IPA.( )
  4. Sekolah tidak memiliki Penjaga Sekolah.( )

(Untuk SMP)

  1. Jumlah tenaga administrasi tidak memenuhi standar. ()
  2. Sekolah tidak memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah tidak memiliki laboran IPA. ()
  4. Sekolah tidak memiliki konselor. ()
  5. Jumlah tenaga layanan khusus tidak memenuhi standar. ()
  6. Jumlah kepala urusan tidak memenuhi standar. ()

(Untuk SMA/SMK)

  1. Jumlah tenaga administrasi tidak memenuhi standar. ()
  2. Sekolah tidak memiliki Pustakawan. ()
  3. Sekolah tidak memiliki laboran biologi . ()
  4. Sekolah tidak memiliki laboran fisika. ()
  5. Sekolah tidak memiliki laboran  kimia. ()
  6. Sekolah memiliki laboran  komputer. ()
  7. Sekolah tidak memiliki laboran  bahasa. ()
  8. Sekolah tidak memiliki konselor. ()
  9. Jumlah tidak tenaga layanan khusus memenuhi standar. ()
  10. Jumlah tidak kepala urusan memenuhi standar. ()
  11. (Khusus SMK) Sekoloah tidak memiliki kepala bengkel. ()

Tahapan Pengembangan

Nomor Sekolah

Jumlah

Tahap Ke – 1

Tahap Ke – 2

Tahap Ke – 3

Tahap Ke – 4

Rekomendasi : (Untuk SD)

  1. Sekolah perlu mengangkat Tenaga Administrasi . ()
  2. Sekolah perlu mengangkat Petugas Perpustakaan. ()</