PEMBELAJARAN MENCERITAKAN KEMBALI ISI CERITA PENDEK

(BAHAN AJAR DIKLAT GURU BAHASA INDONESIA MADRASAH

TSANAWIYAH TINGKAT DASAR)

Oleh: Sukarmi

Abstraksi

Learning of retelling short story is a part of learning speaking. This learning was

benefit for the student especially in directing short story appreciation, in growing

student imagination, and in self-actualization in speaking activity at same time. As a

part of speaking learning, steps in learning of retelling short story also considerated

cognitive aspect and speaking motoric skill. In evaluation tihis teaching learning is

also utilized rubric of speaking learning.

Key words: Pembelajaran berbicara, menceritakan kembali cerita pendek, langkah

pembelajaran, rubrik penilaian.

  1. A.    Latar Belakang

Seorang guru, apalagi guru bahasa Indonesia, pasti pernah membaca sebuah

cerita pendek. Paling tidak untuk kepentingan pembelajaran, seorang guru akan

memilih cerita yang menarik bagi siswanya. Namun tidak menutup kemungkinan

seorang guru bahasa Indonesia adalah penghobi membaca cerita pendek sehingga

suatu ketika guru tersebut ingin menceritakannya kembali cerita itu kepada orang

lain.

Dalam kurikulum KTSP (Standar Isi) menceritakan kembali isi cerita pendek

terdapat pada kelas IX semester 1, yaitu:  6.1 Menceritakan kembali secara lisan isi

cerpen.  Menceritakan kembali  juga merupakan salah satu metode pembelajaran

berbicara. Metode ini digunakan dalam pembelajara berbicara dengan tujuan agar

siswa memiliki kemampuan untuk menceritakan kembali suatu cerita yang

disimaknya dengan bahasa siswa. Metode  ini diharapkan akan menjadikan siswa

terampil berbicara dengan nalar yang baik, mampu menyusun kata menjadi kalimat

runtut dan mengkomunikasikan menjadi cerita.

Sementara itu menurut HB Jassin, cerita pendek adalah cerita fiksi yang habis

dibaca dalam sekali duduk. Unsur-unsur cerita pendek, sama dengan cerita rekaan

yang lain, di antaranya (a) tokoh dan penokohan, (b) alur, (c) latar, (d) tema, (e)

amanat, (f) sudut pandang, (g) dan gaya bahasa, yang semuanya saling berhubungan

sehingga membentuk satu cerita yang utuh.

Panjang pendeknya cerita tidak dapat dijadikan patokan untuk suatu genre.

Cerpen biasanya memiliki alur tunggal, pelaku terbatas (jumlahnya sedikit), dan

mencakup peristiwa yang terbatas pula. Kualitas tokoh dalam cerpen jarang

dikembangkan secara penuh. Karena serba dibatasi, tokoh dalam cerpen biasanya

langsung ditunjukkan karakternya. Artinya, karakter tokoh langsung ditunjukkan

oleh pengarangnya melalui narasi, deskripsi, atau dialog. Di samping itu, cerita

pendek biasanya mencakup rentang waktu cerita yang pendek pula, misalnya

semalam, sehari, seminggu,  sebulan, atau setahun.

Berdasarkan  latar  belakang  tersebut,  penulis  mengambil  topik  pembelajaran

menceritakan  kembali  isi  cerita  pendek.  Adapun  rumusan  masalah  yang  hendak

dijawab dalam masalah ini adalah

Bagaimana pembelajaran menceritakan kembali isi cerita pendek?

Jawaban  atas  pertanyaan  rumusan  masalah  merupakan  tujuan  dari  penulisan

makalah ini.

B.      Menceritakan Kembali Isi Cerpen sebagai bagian dari Pembelajaran Berbicara

1. Hakikat Berbicara

Anton  M.  Moeliono  dkk.(1988:114)  mengatakan  bahwa  berbicara  adalah

berkata,  bercakap,  berbahasa,  melahirkan  pendapat  dengan  perkataan.  Berbicara

merupakan  kemampuan  yang  manusiawi,  dalam  arti,  mengembangkan    ide,  pikiran

atau  gagasan  hanya  bisa  dilakukan  oleh  manusia.  Dalam  kehidupan  sehari-hari

berbicara selalu menjadi sarana komunikasi yang utama pada manusia. Oleh karena itu,

berbicara memegang peranan yang sangat sentral.

Sementara  itu  Mulgrave  (dalam  Tarigan  1981:15)  mengemukakan  berbicara

merupakan  suatu  alat  untuk  mengomunikasikan  gagasan-gagasan  yang  disusun  serta dikembangkan  sesuai  dengan  kebutuhan-kebutuhan  sang  pendengar.  Berbicara

merupakan  instrumen  yang  mengungkapkan  kepada  penyimak  hampir-hampir  secara langsung  apakah  sang  pembicara  memahami  atau  tidak  baik  bahan  pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau  tidak,  pada  saat  dia  mengkomunikasikan  gagasan-gagasannya;  dan  apakah  dia waspada serta antusias atau tidak.  Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa produktif lisan. Keterampilan  berbicara  dikatakan    merupakan  keterampilan  produktif    lisan  karena dalam perwujudannya keterampilan ini  menghasilkan berbagai gagasan melalui lisan. Berbicara  juga  merupakan  anti-tesis  dengan  ketrampilan  menyimak  yang  merupakan ketrampilan  reseptif  lisan.  Berbicara  dan  menyimak  digolongkankan  sebagai komunikasi  lisan.  Keduanya  merupakan  kegiatan  fungsional  bagi  komunikasi  lisan. Melalui  berbicara  orang  menyampaikan  informasi  melalui  ujaran  kepada  orang  lain sementara dengan menyimak seseorang menerima informasi dari orang lain.

2. Tujuan Berbicara

Pada  dasarnya  orang  yang  melakukan  kegiatan  berbicara  adalah  orang  yang

melakukan kegiatan berbahasa. Dapat dikatakan bahwa tujuan utama berbicara adalah

berkomunikasi. Namun demikian, tujuan berbicara dapat dirinci sebagai berikut:

1) Berbicara untuk Menghibur

Menghibur  adalah  membuat  orang  senang  dan  bergembira.  Dalam  hal  ini  seorang  pembicara  menarik  perhatian  pendengar  dengan    cara  yang  menyenangkan,  misalnya humor, spontanitas, kisah-kisah jenaka, dan sebagainya.

2) Berbicara untuk Menginformasikan

Berbicara untuk tujuan menginformasikan dilaksanakan kalau seseorang berkeinginan

untuk  (1)  menerangkan  atau  menjelaskan  sesuatu  proses;  (2)  memberi  atau

menanamkan  pengetahuan;  (3)  menguraikan,  menafsirkan,  atau  mengiterpretasikan

sesuatu hal; (4) menjelaskan kaitan, hubungan, relasi antara benda, hal, atau peristiwa.

3) Berbicara untuk Menstimulasi  Menstimulasi  merupakan  kegiatan  (berbicara)  yang  kompleks.  Ketika  menstimulasi

pendengar pembicara harus pintar merayu atau  mempengaruhi pendengarnya. Hal ini

dapat tercapai jika pembicara benar-benar mengetahri minat, kebutuhan, dan cita-cita

pendengarnya.

4) Berbicara untuk Meyakinkan

Meyakinkan  merupakan  upaya  seseorang  agar  orang  lain  bersikap  tertentu.  Melalui pembicaraan  yang  meyakinkan,  sikap  pendengar  dapat  diubah  misalnya  dari  sikap menolak  menjadi  sikap  menerima.  Melalui  pembicara  yang  terampil  dan  disertai

dengan  bukti,  fakta,  contoh,  dan  ilustrasi  yang  mengena,  sikap  itu  dapat  diubah  dari

menolak menjadi menerima.

5). Berbicara untuk Menggerakkan

Pernahkah Saudara hadir dalam suatu kampanye? Pembicara dalam kampanye adalah

seseorang  yang  pandai  menggerakkan  massa.  Dalam  berbicara  untuk  menggerakkan

diperlukan  pembicara  yang  pandai  berorasi  dan  berkharisma.  Melalui  kepintarannya

berbicara, kelihaiannya membakar emosi, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah

penguasaannya  terhadap  ilmu  –  jiwa  massa,  pembicara  dapat  menggerakkan

pendengarnya.

 3. Pembelajaran Berbicara

Pendekatan  Komunikatif  yang  dianut  dalam  pembelajaran  bahasa  Indonesia

menyarankan  belajar  bahasa  adalah  belajar  berkomunikasi.  Pernyataan  tersebut

berimplikasi  pada  mekanisme  pembelajaran  bahasa  komunikatif.  Sebagaimana  yang

dikatakan  Thompson  (2003:1)  yang  menyatakan  bahwa  komunikasi  merupakan  fitur

mendasar  dari  kehidupan  sosial  dan  bahasa  merupakan  komponen  utamanya.

Pernyataan  Thomson    tersebut  menyuratkan  bahwa  kegiatan  berkomunikasi  tidak  bisa

dilepaskan dengan kegiatan  berbahasa.

Sesuai  dengan  kurikulum  yang  berlaku  (KTSP)  pengembangan  kemampuan

berbicara siswa dibagi menjadi kemampuan berbicara sastra dan kemampuan berbicara

non  sastra.  Kemampuan  berbicara  sastra  adalah  kemampuan  melisankan  karya  sastra

yang  berupa  menuturkan,  membawakan,  dan  membacakan  karya  sastra  (Depdiknas,

2005:5). Di samping itu siswa juga diharapkan terampil menanggapi pembacaan cerpen,

pementasan drama, dan karya sastra secara lisan.

Adapun  kemampuan  berbicara  non  sastra  adalah  kemampuan  mengucapkan

bunyi-bunyi  artikulasi/  mengucapkan  kata-kata  untuk  mengekspresikan,  menyatakan,

menyampaikan  gagasan,  pikiran,  dan  perasaan  (Depdiknas,  2005:  7)  Dalam

membelajarkan  ketrampilan  berbicara  guru  diharapkan  mampu  memamberikan

pembelajaran  yang  sesuai  dengan  mperkembangan  usia  dan  kebutuhan  siswa.

Keberhasilan pembelajaran berbicara tentu terkait dengan berbagai faktor, di antaranya

bagaimana  guru  merumuskan  indikator  dan  tujuan,  mengorganisasikan  bahan,

mengonstruk alat evaluasi, mengemas kegiatan, memilih metode dan teknik yang sesuai,

serta menggunakan sumber dan media pembelajaran.

C.  Pembelajaran Menceritakan Kembali Isi Cerita pendek

Menceritakan kembali isi cerita pendek merupakan pembelajaran berbicara sastra.

Dalam  pembelajaran  tersebut  sesuai  dengan  kompetensi  dasarnya  siswa  diarahkan

untuk  terampil  berbicara  sekaligus  melakukan  apresiasi  sastra.  Terdapat  beberapa  hal

yang  harus  dilakukan  dalam  pembacaan  cerita  pendek,  yaitu  pengenalan  terhadap

karakteristik  cerita  pendek  dan  pengenalan  terhadap  pendengar/  komunikan  dalam

berbicara.  Sebagaimana  dikatakan  oleh  Aminuddin  (1987)  bahwa  untuk  dapat

memahami  sebuah  cerita  pendek  diperlukan  pemahaman-pemahaman  terhadap  tokoh,

alur,  konflik,  setting,  sudut  pandang,  dan  gaya  bahasa.  Sementara  itu  untuk

mengefektifkan  berbicara  Keraf  (1984)  menyarankan  untuk  melakukan  analisis

pendengar.

Untuk  mengetahui  lebih  dalam  tentang  pembelajaran  menceritakan  kembali  isi

cerpen mari kita ikuti petunjuk pelatihan berikut:

  • Tahap Kegiatan 1:

Bacalah    cerpen  di  bawah  ini  dengan  seksama.  Rasakan  suasana  batin  tokoh

yang terlibat di dalamnya.

IBU

Oleh Heriyanto

Permusuhanku  dengan  ibu  mencapai  puncaknya  ketika  ibu  memaksaku

untuk menikahi Tina. Tentu saja aku menolak, karena dengan adanya pemaksaan itu,

ibu  nyata-nyata  belum  memanusiakan  aku.  Aku  masih  dianggapnya  belum  mampu

mandiri. Perlakuan ini amat sulit kutolerir. Apalagi pada dasarnya aku sangat fanatik

terhadap  prinsip-prinsip  yang  kuyakini.  Ancaman  yang  dicetuskan  ibu  kemudian

makin melunturkan rasa hormatku pada ibu.

Tina  sendiri,  gadis  yang  akan  dijodohkan  dengan  aku,  adalah  murid

kesayangan ibu. Muridnya dalam mengaji di surau. Karena selain sangat cerdas dan

cepat  menangkap  pelajaran  yang  diberikan,  Tina  sangat  patuh  terhadap  perintah-

perintah  ibu.  Juga  terhadap  perintah  yang  paling  diktator  sekalipun.  Maka  tidak

heranlah  jika  ibu  menyayanginya    setengah  mati.  Wajah  Tina  sendiri  tidak  dapat

dikatakan  jelek.  Diantara  murid-murid  ibu  yang  lain,  kuakui,  Tina  lah  yang  paling

cantik.  Namun  bila  dibandingkan  dengan  perempuan-perempuan  kota,  aku  tidak

berani mengatakannya.

Semula  pandanganku  terhadap  Tina  biasa-biasa  saja.  Kalau  saja  ia  tidak

terlalu  menurut  pada  ibu,  aku  mungkin  akan  jatuh  cinta  kepadanya.  Sikapnya  yang

amat  sopan  dan  menghormat  pada  siapa  saja  itu  amat menarik  hatiku.  Sewaktu   ia

masih  berusia  sebelas tahun  (saat  itu  usiaku  tigabelas),  sebelum menjadi murid  ibu

aku  sudah  sering  memperhatikannya.  Terutama  di  saat-saat  ia  menimba  di  sumur

kami. Bahkan kalau tidak ada orang aku cenderung ingin menggodanya.

Tetapi  begitu  Tina  menjadi  murid  ibuku  perasaanku  kepadanya  berubah

seratus  delapan  puluh  derajat.  Kurasa  sikapnya  sendiri  yang  membuat  aku  begitu

membencinya.  Kepatuhannya  pada  ibu  yang  amat  membuta  tak  dapat  kuterima.

Apalagi baru satu tahun menjadi murid ibu ia telah berani menggoda aku (tentu ini

kehendak  ibu!).  Aku  jadi  begitu  muak  melihat  tampangnya  sampai  akhirnya

kesabaranku habis akibat ulah Tina yang kurasa sudah melampui batas.

Begini  kisahnya.  Pada  suatu  malam  teman-teman  sekolahku  belajar

kelompok  di  rumah.  Tujuh  orang  jumlah  temanku.  Pada  saat  itulah  tindakan  Tina

tampak  amat  bodoh  dan  konyol.  Di  hadapan  tujuh  orang  temanku  ia  mengaku

sebagai pacarku. Tentu saja ketujuh teman yang semuanya wanita jadi tak enak hati.

Apalagi tindakan Tina betul-betul naïf. Ia tidak mau meningalkan kami untuk belajar

lebih  tenang.  Tina  pun  kumarahi  begitu  teman-temanku  pulang.  Namun  betapa

sakitnya hatiku, ibu malah menyalahkanku. Aku dituduh kekanak-kanakan dan tidak

tahu diri. Sepanjang malam aku dimarahi ibu. Gara-gara Tina.

Diperlakukan  seperti  itu  harga  diriku  bangkit.  Aku  merasa  sudah  mulai

dewasa pada usia enam belas tahun. Malam itu juga sekitar pukul satu dini hari aku

mengemasi  pakaianku.  Tekadku  untuk  meninggalkan  rumah  beserta  penghuninya

tidak dapat dicegah lagi walaupun sebenarnya aku amat mencintai rumahku, warisan

almarhum  bapakku.  Sekedar  uang  transpor  kuambil  dari  lemari  ibu.  Tentu  saja

semua  itu  kulakukan  dengan  sembunyi-sembunyi  dan  dengan  hati  hancur.  Aku

merasa malam itulah puncak kekalahanku terhadap ibu.

Bertahun  tahun  hidup  di  perantauan  aku  mesti  mandiri.  Aku  pun  bekerja

sebagai  pelayan  toko  sekaligus  sebagai  kacung  rumah  tangga  pemilik  toko  agar

perutku  senantiasa  terisi.  Selama  itu  surat-surat  ibu  seringkali  datang  tetapi  tidak

satu  pun  kubalas.  Aku  memang  selalu  ingin  menyakiti  ibu  sejak  hatiku  hancur.

Karena  dari  perbuatan  itu  aku  merasa  kekalahanku  terbalas  sedikit.  Lagi  pula  aku

merasa  tidak  menemukan  apa-apa  dari  surat-surat  itu  walaupun  aku  selalu

membacanya berulangkali.

Mau  tidak  mau  aku  harus  mengakui  kesabaran  ibu.  Walaupun  surat-

suratnya  tidak  berbalas  sama  sekali  tetapi  setiap  bulan  surat  ibu  selalu  datang.

Bahkan sampai dua-tiga kali.

Semula aku tidak tahu pasti apa motivasi ibu mengirim surat-surat yang tak

pernah  kubalas  namun  akhirnya  aku  tahu  pula  bahwa  ternyata  dengan  surat-surat

itu ibu seolah-olah ingin memamerkan keberhasilan-keberhasilannya sepeninggalku.

Ibu sudah kaya sekarang. Dua buah toko berhasil didirikannya. Toko pakaian

dan  toko  barang  elektronik.  Keduanya  terletak  di  plaza  yang  baru  dibangun.

Keduanya  dijalankan  orang  lain.  Ibu  hanya  sebagai  penanam  modal  utamanya  saja.

Ibu pun telah mendirikan sebuah pesantren putri. Muridnya banyak. Tidak terbatas

pada  santri-santri  dalam  kota  saja.  Dari  luar  kota  juga  banyak  yang  meminati

pesantren  ibu.  Ibu  sendiri  yang  memimpin  pesantren  itu.  Beberapa  ustadz  muda

ditempatkan di sana sebagai tenaga pengajar. Ibu sendiri tinggal di rumah desa yang

dulu kutinggalkan.

Dikatakan  pula  bahwa  Tina  –murid  kesayangan  ibu-  adalah  orang  kedua  di

pesantren. Kepandaian Tina sudah setingkat dengan kepandaian ibu. Seringkali Tina

disuruh  mewakili  ibu  dalam  urusan  kepesantrenan.  Bahkan  Tina  dikatakan  sudah

berani  pula  memberi  ceramah.  Kurasa  dalam  menceritakan  Tina  ibu  terlalu

berlebihan.  Misalnya  beliau  tidak  bisa  tidur  bila  Tina  belum  pulang  dari  tugas  yang

dilimpahkannya. Mendengar ini aku jadi geli. Penekanan tentang belum menikahnya

Tina  pada  usia  yang  kedua  puluh  lima  malah  menimbulkan  semacam  antipati

terhadap  ibu  dan  juga  Tina.  Aku  sering  berpikir  apa  gunanya  ibu  mengusik  aku

dengan  surat-surat  yang  sifatnya  mempromosikan  Tina  kepadaku.  Apakah  hal  ini

justru  tidak  merendahkan  harga  diri  Tina?  Ah,  aku  semakin  tidak  dapat  menerima

tindakan-tindakan ibu. Terlebih lagi kegoblokan Tina.

Surat-surat  ibu  masih  juga  datang  ketika  aku  telah  menikah.  Aku  sengaja

tidak memberitahu ibu tentang pernikahanku. Istriku adalah anak tunggal majikanku.

Dia tahu hubunganku dengan ibu tetapi dia tidak mau ambil pusing dengan urusan-

urusan  itu.  istriku  dapat  menerima  alasan-alasan  yang  kukemukakan  untuk  tidak

berkenalan  dengan  mertuanya.  Sebagai  istri  dia  tahu  persis  sifat-sifatku.  Tapi  aku

selalu memberikan surat-surat ibu kepadanya begitu aku selesai membacanya.

Suatu  ketika  surat  ibu  datang  dengan  isi  yang  agak  lain.  Dia  mengharapku

pulang.  Agaknya  dia  merasa  kangen  denganku.  Dikatakannya  pula  Tina  sudah

menikah  dan  diboyong  suaminya.  Ibu  tinggal  sendirian  sekarang.  Ibu  berharap  aku

mau  mewarisi  hartanya  yang  banyak  sebab  akulah  satu-satunya  yang  berhak  atas

harta-harta  ibu.  Kecuali  kalua  ibu  telah  memberikannya  kepada  Tina.  Kurasa  itu

masalah lain.

Terus  terang  saja  aku  tidak  begitu  tertarik  dengan  warisan  ibu.  Aku  sudah

kaya  sekarang.  Apalagi  sejak  meninggalnya  kedua  mertuaku  praktis  aku  dan

istrikulah  yang  menguasai  seluruh  peninggalan  mereka.  Kurasa  kami  berdua  cukup

mampu  untuk  mengelola  dan  mengembangkan  peninggalan  mertuaku  yang  cukup

banyak. Aku justru ingin bersaing dengan dengan ibu dalam mengelola usaha.

Aku tidak tahu persis sejak kapan aku mulai tergantung pada surat-surat ibu.

Aku  baru  menyadarinya  ketika  surat  ibu  tidak  pernah  datang  lagi  dalam  dua  bulan

terakhir ini. Aneh, ketidakdatangan surat ibu agaknya membawa pengaruh tersendiri

bagiku.  Aku  merasa  seakan-akan  kehilangan  sesuatu  yang  amat  berharga  dalam

hidupku.  Aku  rindu  goresan-goresan  tangan  ibu.  Aku  sering  bertanya-tanya  sendiri

apa yang terjadi dengan ibu. Namun hal ini aku jaga agar istriku tidak tahu. Aku malu.

Harga  diriku  terlalu  mahal  untuk  mengakui  kelemahan-kelemahanku.  Sebagai

kompensasinya  aku  sering membaca-baca  kembali  tulisan  ibu  yang  telah kutumpuk

di almari pada saat istriku telah tertidur.

“Kau  melamun  terus  sedari  tadi,  Mas!  Takut  tidak  diterima  ibu?”  goda

istriku.  Dokar  yang  kami  tumpangi  berjalan  kencang  sekali.  Itu  karena  jalanan

menuju  rumah  sudah  beraspal.  Sebelum  kutinggalkan  dulu,  jalanan  belum  sebagus

ini.  Tak  ada  dokar  yang  berjalan  sekencang  sekarang.  Tubuh  kami  berguncang-

guncang. Rambut istriku yang panjang agak kacau tertiup angin. Di atas dokar istriku

nampak  cantik  sekali.  Kecantikan  yang  aneh,  yang  khas  dimiliki  orang-orang

berdarah  campuran.  Sudah  tentu  amat  menarik  perhatian  orang,  termasuk  orang-

orang desaku.

Dokar telah melewati batas desa. Sekitar limapuluh rumah lagi, rumah yang

bertahun-tahun  kutinggalkan  akan  kudapati  lagi.  Tetapi  selama  ini  tak  seorangpun

dapat  kukenali.  Juga  pada  kusir  dokar  ini  yang  menurut  pengakuannya  masih

bertetangga dengan ibu. Agaknya aku betul-betul hilang dari desaku sendiri.

“Masih jauh, Mas?” kesentimentilanku dipecahkan oleh pertanyaan istriku.

“Tidak” jawabku singkat.

Aku masih bingung memikirkan apa yang hendak kulakukan di hadapan ibu

nanti.  Apakah  ibu  masih  mau  menerimaku,  terlebih  lagi  memaafkanku,  atau  malah

makin  membenciku.  Aku  tidak  dapat  membayangkan.  Aku  malah  lupa  sama  sekali

wajah ibu ketika kutinggalkan dahulu.

Rumah  ibu  seperti  yang  kuperkirakan  adalah  rumah  terbagus  di  desa.  Jauh

lebih  bagus  dibandingkan  dengan  rumah  kebanyakan  orang  kota.  Sebuah  antena

parabola  –kurasa  satu-satunya  di  desa  itu-    berdiri  megah.  Halaman  depan  sudah

demikian luasnya. Penuh tanaman bunga. Ada juga pelataran tempat menjemur padi.

Agak  jauh  di  belakang  (seingatku  dulu  di  tempat  itu  ada  sumurnya)  dua  buah  truk

tengah menurunkan muatan. Beberapa pekerja memasukkan muatan-muatan itu ke

gudang. Ibu betul-beetul menjadi jutawan.

Seorang  wanita  setengah  tua  yang  masih  cantik  datang  menyambut  kami

dengan  sorot  mata  tajam  dan  amat  menusuk.  Sorot  dari  balik  kacamata  emas  itu

dengan  cepat  sekali  membuka  luka-luka  lamaku.  Jiwaku  sakit  sekali  karenanya.  Hh,

tampaknya sekali ini pun tidak ada maaf ibu buatku; buat ketidaktahuanku. Secepat

tanganku menowel lengan istriku,secepat itu pula aku berpaling dari tatapan ibu:

“An, ini ibu…berkenalanlah!”

Aku cepat membenahi diri sementara istri dan ibuku saling memperkenalkan

diri. Aku tak ingin kekakuan ini terlihat lebih dalam di mata istriku.

Aku  tidak  begitu  memperhatikan  apa  yang  dibicarakan  oleh  kedua

perempuan itu. Apa pula yang mereka perbuat kemudian aku tidak tahu. Aku hanya

merasa  iri  akan  kepandaian  istriku  memikat  mertuanya.  Dari  cara  berbicara  dan

perlakuan  ibu  terhadap  istriku,  aku  tahu  ibu  sangat  menyayangi  Ana.  Begitu  juga

sebaliknya.  Keduanya  sangat  akrab.  Tak  tampak  kecanggungan  sedikit  pun  pada

tindak masing-masing.

Tak banyak yang kulakukan di rumah ibu. Aku hanya menginap semalam saja.

Tak kuat rasanya tersiksa lebih lama di bawah sorot mata ibu yang tajamnya sering

tidak  tertahankan.  Ana  sebenarnya  ingin  menginap  lebih  lama  lagi  mengingat  baru

kali  itulah  ia  bertemu  dengan  mertuanya.  Tetapi  karena  aku  bersikeras,  Ana  pun

mengalah. Ana memang satu-satunya wanita yang tahu persis segala perangaiku.

Sejak kedatangan kami ke rumah ibu, surat-surat ibu datang lagi seperti dulu.

Bahkan  kadangkala  setiap  minggu  datangnya.  Isi  suratnya  pun  sekarang  lebih

bervariasi.  Sudah  menanyakan  kabar  kami  segala.  Apakah  Ana  sudah  mengandung

atau  belum.  Kalau  sudah  apakah  kami  telah  menyiapkan  nama.  Tapi  satu  hal  yang

betul-betul  tidak  pernah  dilakukan  ibu;  dia  tidak  mau  berkunjung  ke  tempat  kami.

Walaupun Ana telah meminta dengan sangat, ibu tetap menolak.

Ketika lahir anak kami yang pertama Ana menangis sedih. Dia meminta agar

aku  bisa  mengalah  pada  ibu  dengan  meminta  maaf  lebih  dahulu.  Aku  tidak  bisa

memenuhi  permintaan  Ana  sebab  ketika  anak  ketiga  kami  lahir,  sorot  mata  ibu

masih saja terlalu tajam bagiku. Terlalu menusuk. Sinar maaf belum juga kutemukan

di sana. Aku pun terpaksa mengambil sikap yang sama walaupun pada kenyataannya

aku sudah demikian kalah pada ibu.

Aku  tak  tahu  sampai  kapan  hubunganku  dengan  ibu  berjalan  demikian.

Mungkin  selamanya. Mungkin  pula  tidak.  Hanya  yang  jelas  aku  harus menjaga agar

Ana tidak pernah tahu bahwa wanita setengah baya yang menjadi ibuku tak pernah

sekalipun  menyumbangkan  susunya  pada  pembentukan  jiwaku.  Di  antara  kami

memang tidak ada pertalian darah. Ana tidak perlu tahu kalau orang itu hanyalah ibu

tiriku.

Biarlah  surat-surat  ibu  saja  yang  datang  padaku,  aku  akan  membalasnya

dengan  tulus.  Sebab  aku  lebih  merindukan  goresan-goresan  tangan  ibu  daripada

sorot matanya yang tajam menusuk.

(Salam buat teman-teman IKIP Malang Jurusan PBS Indonesia Angkatan 1985)

Nah,  setelah  membaca  cerita  pendek  di  atas,  Saudara  telah  mendapat

gambaran  yang jelas, bukan? Ada empat tokoh  yang ada dalam cerpen itu, yaitu

aku, ibu, ana, dan Tina. Dengan jalinan peristiwa yang tersusun secara datar dapat

diketahui  adanya  konflik  batin  yang  dialami  tokoh.  Di  satu  pihak  ia  membenci

sosok  ibunya  di  pihak  lain  aku  justru  merindukan  kehadiran  ibunya.  Walaupun

hanya ibu tiri. Menurut Saudara apakah tema dan amanat cerita pendek tersebut?

  • Tahap Kegiatan 2:

Menceritakan  kembali  merupakan  salah  satu  jenis  pembelajaran  berbicara

sastra.  Metode  ini  dapat  digunakan  dalam  pembelajara  berbicara  agar  siswa

memiliki kemampuan untuk menceritakan kembali suatu cerita  yang disimaknya

dengan  bahasa  peserta  diklat.  Hal  ini  akan  menjadikan  peserta  diklat    terampil

berbicara dengan nalar yang baik, mampu menyusun kata menjadi kalimat runtut

dan mengkomunikasikan menjadi cerita.

Agar  dapat  menceritakan  kembali  isi  cerpen  dengan  baik  Saudara  perlu

menyusun  kerangka  pokok  cerita.  Kerangka  pokok  cerita  itu  dapat  digunakan

sebagai panduan agar Saudara dapat menceritakan kembali isi cerita secara runtut.

Cerpen “Ibu” sebagaimana Saudara baca dapat dikerangkakan sebagai berikut

1.   Aku mulai merasa benci dengan ibu

2.   Kebencian itu diperparah oleh ulah Tina,

3.   Aku tidak mau menikahi Tina bahkan meninggalkan rumah dengan diam-

diam.

4.   Aku terus berkonflik dengan ibu walaupun ibu telah berkali-kali berkirim

surat kepadaku. Pada saat itu aku juga menikah secara diam-diam.

5.   Isteriku ternyata sangat cocok dengan ibu.

6.   Walaupun  selalu  merindukan  ibu,  aku  tetap  tidak  bisa  berdamai  dengan

ibu.

Demikianlah  kira-kira  membuat  kerangka  cerita  untuk  menceritakan

kembali isi cerpen.

  • Tahap Kegiatan 3:

Carilah  sebuah  cerita  pendek  yang  Saudara  sukai  kemudian

berdasarkan cerita yang Saudara baca buatlah kerangka ceritanya.

  • Tahap Kegiatan 4:

Saudara  sudah  punya  kerangka  cerita  pendek  dan  siap  menceritakan

kembali isi cerita pendek secara lisan. Beberapa diantara peserta pelatihan satu

persatu  dipersilakan  menceritakan  kembali  isi  cerpen  masing-masing.  Jangan

lupa cerita pendek aslinya digandakan dan diberikan kepada teman-teman.

Agar penilaian optimal gunakan lembar pengamatan berikut:

LEMBAR PENGAMATAN MENCERITAKAN KEMBALI

ISI CERPEN SECARA LISAN

NAMA

KAB/KO

NO

:………………………………………………..

: ………………………………………………..

KOMPONEN

1          2

SKOR

3

4

5

1.        Isi cerita sesuai dengan isi cerpen.

2.        Cerita dikisahkankan secara runtut

3.        Bercerita       secara       lancar,       tidak

tersendat-sendat

4.        Gerakan dilakukan secara wajar, tidak

dibuat-buat,       tidak       kaku,      tidak

berlebihan

5.        Ekspresi      wajah      sesuai      dengan

kata/kalimat yang diucapkan

6.        Kata/Kalimatnya  dilafalkan  secara

tepat dan jelas.

7.        Intonasi  bervariasi  sesuai  dengan

suasana yang diceritakan

8.        Menggunakan pilihan kata yang tepat

9.        Menggunakan kalimat yang sederhana

dan komunikatif.

JUMLAH SKOR

Setelah  kegiatan  berakhir,  jumlahkan  skornya  untuk  mengetahui  siapa  yang

memperoleh skor tertinggi untuk diberi penghargaan.

D.  Penutup

Sesuai  dengan  kurikulum  yang  berlaku  (KTSP)  pengembangan  kemampuan

berbicara dibagi menjadi kemampuan berbicara sastra dan kemampuan berbicara non

sastra. Kemampuan berbicara sastra adalah kemampuan melisankan karya sastra yang

berupa  menuturkan,  membawakan,  dan  membacakan  karya  sastra.  Di  samping  itu

dalam  berbicara  sastra  siswa  diharapkan  terampil  menanggapi  cerita  tentang  tokoh

idola,  pembacaan cerpen, pementasan drama, dan karya sastra secara lisan.

Untuk  menentukan  metode/strategi  yang  cocok  dalam  membelajarkan

berbicara sastra, guru harus mengacu Standar  Isi. Semua kompetensi dasar berbicara

sastra  pada  standar  isi  kurikulum  harus  dicocokkan  dengan  metode/strategi.  Jika

metode/strategi  yang  dipilih  sesuai  dan  benar-benar  dapat  mengembangkan

keterampilan  berbicara  setiap  peserta  pelatihan,  maka  pembelajaran  berbicara  akan

disukai  peserta  pelatihan.  Apalagi  jika  widyaiswara  dapat  memvariasikan  kegiatan

pembelajaran  dan  pengelolaan  kelas,  maka  pelatihan  dapat  diharapkan  akan

berlangsung lebih optimal.

Yang perlu kita camkan bersama adalah kenyataan bahwa berbicara  termasuk

berbicara  sastra  tidak  dapat  dilepaskan  dari  kehidupan  sehari-hari.  Sebagai  suatu

ketrampilan  berbahasa,  berbicara  –termasuk  berbicara  sastra-  harus  senantiasa

dilatihkan  agar  kemampuan  komunikasi  (lisan)  kita  tetap  terasah.  Pembicara  yang

baik  adalah  pembicara  yang    banyak  ide  dan  terampil  mengkomunikasikan    idenya.

Oleh  karena  itu,  perbanyaklah  berlatih  dengan  cara  banyak  melakukan  kegiatan

berbicara.  Jangan  pernah  menolak  tugas  untuk  berbicara  kapanpun  dan  di  manapun.

Ada  baiknya  pembicara  banyak  melakukan  kegiatan    membaca,  berpetualangan,

melakukan  pengamatan  terhadap  alam  sekitar,  menghadiri  seminar  atau  pertemuan

ilmiah agar memiliki bahan pembicaraan yang selalu up date.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1984. Pengantar Memahami Unsur-unsur Karya Sastra. Malang: FPBS IKIP

Malang.

Aminuddin  (ed).  2003.  Apresiasi  Sastra.  Modul  Ind  A.12  Bahan  Pelatihan  Terintegrasi

Berbasis  Kompetensi  Guru  Bahasa  Indonesia.  Jakarta:  Dirjen  Pendidikan

Dasar dan Menengah.

Arsjad,  Maidar  G.  dan  Mukti  U.S.  1988.       Pembinaan  Kemampuan  Berbicara  Bahasa

Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Darmawan,  Taufik  (ed).  2003.  Apresiasi  Prosa  Fiksi.  Modul  Ind  A.13  Bahan  Pelatihan

Terintegrasi  Berbasis  Kompetensi  Guru  Bahasa  Indonesia.  Jakarta:  Dirjen

Pendidikan Dasar dan Menengah.

Depdiknas. 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006

tentang Standar Isi. Jakarta.

Depdiknas.  2005.  Bahasa  dan  Sastra  Indonesia  Pengembangan  Keterampilan  Berbicara.

Materi  Pelatihan  Terinttegrasi  Buku  1.  Jakarta:  Dirjen  Pendidikan  Dasar

dan Menengah.

Keraf, Gorys. 1984. Komposisi. Ende: Nusa Indah.

Keraf. Gorys. 1995. Eksposisi. Jakarta: Grasindo.

Kisyani-Laksono.  2004.     Pengembangan  Keterampilan  Berbicara.  Jakarta:  Direktorat

Pendidikan Lanjutan Pertama.

Nurgiyantoro,  Burhan.  1988.  Penilaian  dalam  Pengajaran  Bahasa  dan  Sastra.  Yogyakarta:

BPFE.

O’Malley, J. Michael. 1996.  Authentic Assesment for English Language Learners: Practical

Approaches for Teachers. Addison-Wesley Publishing Company.

Sudjiman, Panuti. 1998. Memahami Cerita Rekaan. Jakarta: Pustaka Jaya.

Suyatno. 2004. Teknik Pembelajaran Bahasa dan Sastra Berdasarkan Kurikulum

Berbasis Kompetensi. Surabaya: SIC.

Syafi’ie, Imam (ed). 1990. Bahasa Indonesia Profesi. Malang: IKIP Malang Press.

Tarigan, HG. 1983. Berbicara sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

Taryono AR. 1999. Berbicara. Malang: FPBS IKIP Malang.

Beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan sebelum tampil

Beberapa hal berikut ini perlu diperhatikan sebelum tampil menceritakan kembali isi cerpen secara lisan.


1. Ekspresi
Kemampuan berekspresi dalam penceritaan cerpen, berupa ekspresi roman muka ketika bercerita yang disesuaikan dengan isi cerita. Ekspresi wajah, sorot mata, senyum, dan sebagainya merupakan unsur-unsur yang akan membantu keberhasilan bercerita.


2. Gestur
Gerak anggota badan juga diperlukan untuk mendukung penyajian lisan ini agar menjadi lebih menarik. Gunakan kedua tangan untuk menghidupkan cerpen yang diceritakan.


3. Bahasa
Salah satu pendukung keberhasilan bercerita adalah bahasa cerita yang mudah dicerna oleh pendengar. Bahasa cerita yang menggelitik akan membuat cerita menarik dengan tetap memperhatikan sikap komunikatif.


4. Kelancaran
Meskipun ketiga unsur di atas telah dipersiapkan dengan baik. Namun, bila tidak didukung kelancaran bercerita, kegiatan bercerita ini pun menjadi gagal.

Disalin dari http://www.bukupr.com/2011/11/menceritakan-kembali-isi-cerpen.html

Temu pisah SM-3T angkatan tahun 2012

Temu pisah SM-3T angkatan tahun 2012

Daftar Kebutuhan Mobiler TA. 2013-2014

Daftar Kebutuhan Mobiler Sekolah
Pada SMP Negeri 2 Rantau Selamat
No. Nama Kebutuhan Jumlah Guru GTT/PNS Jumlah Pegawai PTT/PNS Jumlah Siswa Jumlah Siswa Keseluruhan Jumlah Mobiler yang ada Jumlah kebutuhan Mobiler Keterangan
Siswa Lama Siswa Baru
1. Meja Kursi 20 6 84 60 144 100 44
2. Lemari Kelas 0 4
3. Papan Tulis 3 1
4. Tempat Sampah 0 4
5. Meja Guru Kelas 3 1
6. Kursi Guru Kelas 0 4
7. Meja Kantor Guru 10 10
8. Kursi Kantor Guru 10 10
9. Meja TU 2 4
10. Kursi TU 2 4
11. Lemari Kantor 1 2
12. Lemari Guru 0 2
Mengetahui, Alue Kaul,  11 Juli 2013
Pengawas Pembina Ka. SMPN 2 Rantau Selamat
Supiono, S.Pd, M.Pd Zainuddin, S.Pd
Nip. 19670710 199903 1 004 Nip. 19700301 200012 1 003

995045_207486616071198_986815631_n.jpg

13007_157809847705542_580643854_n1.jpg

27928_130821603737700_283773869_n1.jpg

8475_200848340068359_2077218560_n1.jpg

dsc01632.jpg

BERBAGAI KEGIATAN KEPALA SEKOLAH

BERBAGAI KEGIATAN KEPALA SEKOLAH

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: